Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
23. Wake Up


__ADS_3

Kepalan Jinn dan Kuro saling beradu.


Angin berhembus kencang dari pukulan mereka sebagai bukti kekuatan pukulan mereka begitu kuat. Jika melihat keduanya adalah dua penyihir tipe kekuatan yang beradu pukulan, itu suatu yang wajar. Tapi Kuro bisa melakukan itu sebagai orang biasa tak hanya mengejutkan, tapi juga menimbulkan pertanyaan baru.


--Apa benar kau manusia?


Mengambil kesempatan saat Kuro menghadapi Jinn, Ishi menyerang dari arah samping sambil menggunakan magis art [Leap].


Ishi mengayunkan rapier miliknya tepat ke arah Kuro dari samping kiri dengan kecepatan penuh. Dalam segi teknik menggunakan rapier, kemampuan Ishi bisa dibilang cukup baik, jadi dia bisa memberikan bantuan dengan waktu dan cara yang tepat.


Sedikit lagi serangan Ishi mengenai bahu Kuro, tapi seolah bisa melihat dari punggungnya, Kuro mampu menghindar dengan jarak setipis kertas.


Kuro melompat mundur beberapa meter, lalu dia salto ke samping dan ke berbagai arah untuk menghindari serangan bulu pisau Frea.


Bulu pisau Frea menancap di tanah dan beberapa saat kemudian menghilang menjadi partikel kecil.


"..."


Mata Kuro tak melewatkan fenomena itu. Sepertinya Seta sudah kehabisan banyak energi sihir, jadi dia menggunakan serangan yang tak begitu mematikan dan hanya melakukan serangan dukungan.


Ishi yang sudah bersiap di posisi menyerang Kuro.


Serangan Ishi kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Hal itu ditandai dengan cahaya biru yang bersinar dari rapier milik Ishi.


Ishi menggunakan magic art Blue Slash. Rapier miliknya menyerang Kuro dengan 6 tusukan dengan kecepatan tinggi hampir di saat yang bersamaan.


Tapi Kuro bisa menghindari serangan Ishi dengan menggerakkan badannya seminimal mungkin seolah dia bisa melihat serangan Ishi.


"?!"


Mata Ishi terbuka lebar saat melihat Kuro berhasil menghindari serangannya dengan mudah. Ini baru pertama kalinya Ishi melihat ada orang yang mampu melakukannya.


Cahaya rapier Ishi menghilang setelah magic art tak aktif. Mengambil kesempatan itu, Kuro melakukan serangan balik.


"!!"


Ishi dikejutkan oleh sosok yang tiba tiba menghilang, namun dia lebih terkejut lagi saat Kuro sudah di depannya dengan jarak beberapa centimeter dari tubuhnya. Tak hanya itu, Kuro juga sudah bersiap memukul Ishi dengan kekuatan penuh.


(Gawat!!)


Ishi tak bisa menggunakan rapiernya karena jarak Kuro yang terlalu dekat dan kecepatan Kuro yang abnormal. Sebuah serangan telak. Ishi bersiap dengan rasa sakit yang menantinya.


Tapi rasa sakit yang dinantikan tak kunjung datang.


Ishi bingung, tapi saat melihat Kuro tiba tiba melompat mundur sambil salto beberapa kali. Kuro ternyata menghindari serangan Seta.


Puluhan bulu pisau menancap di tanah, tapi kali ini tak langsung menghilang. Itu adalah tanda kalau serangan itu berbeda dari sebelumnya.


Kuro tak bisa santai. Dari atas, Jinn sudah bersiap dengan serangan kejutan.


Boommm!!


Serangan Jinn meleset dan akhirnya mengenai tanah tempat Kuro berdiri. Tanah berhamburan dan debu berterbangan menutupi Jinn dan Kuro, setelah itu, dua sosok manusia melompat berlawanan arah keluar dari kumpulan debu itu.


Jinn melompat dekat Ishi. Sedangkan Seta berdiri tak jauh dari mereka berdua.


Angin tiba tiba berhembus kencang dan menerbangkan debu dalam sekejap. Kini mereka bisa melihat lawan mereka masing masing dengan jelas. Sementara itu Frea masih terbang berputar putar di ketinggian 10 meter.


"Ishi... Kau tak apa apa?"


"Ya, aku hanya terkejut saja. Seta terima kasih telah menolongku."


Seta hanya tersenyum tipis dan melambaikan tangannya sebagai pengganti 'Itu sudah seharusnya'.


"Sial, apa yang harus kita lakukan untuk menggadapinya? Terus terang kombinasi kecepatan dan kekuatan miliknya sungguh merepotkan."


"Yah. Aku tahu itu...?!."


Mata Ishi terbuka lebar saat melihat ada noda aneh di seragam Kuro, lebih tepatnya di bahu Kuro.


Noda merah dan sebuah seragam yang sobek karena terkena benda tajam.


"Jinn, tampaknya seranganku berhasil mengenainya."


"Ya aku tahu, tapi yang menjadi masalah adalah kenapa Kuro bisa terluka?"


Mereka berdua menunjukkan wajah cemas. Mereka saat ini takut kalau firasat mereka benar.


"Kenapa kalian memasang wajah seperti itu?" ucap Kuro dengan nada santai. "Ini hanya luka kecil, jadi tak masalah. Ayo cepat kita lanjutkan lagi."


"""........."""


Mereka bertiga terdiam dan tak ada yang berani menerima tantangan Kuro. Mereka bahkan sudah seperti kehilangan semangat.


"Heii.. ayolah. Kenapa kalian tiba tiba seperti ini? Bukankah sebelumnya kalian sangat bersemangat?"


"......."


Kuro mencoba memprovokasi mereka, namun mereka masih terdiam.


Hal itu membuat Kuro mendesah dan menunjukkan wajah jengkel. Dia tahu apa yang menyebabkan kenapa mereka seperti itu.


"Ya ampun, hanya karena luka kecil seperti ini, kalian sudah tak mau bertarung. Kalian sungguh mengecewakan!"


"Huuh... bukannya kami tak ingin bertarung, tapi kenapa kau bisa terluka?"


Pertanyaan Jinn hanya membuat Kuro semakin jengkel.


"Bukankah aku terluka karena serangan dia (Ishi), apa kau buta?"


"Bukan itu yang kumaksud. Kenapa kau bisa terluka? Bukankah seharusnya serangan kita akan diubah menjadi serangan psikis?"


"Apa yang selama ini kau pelajari di sekolah? Bukankah seharusnya kalian sudah tahu?! Sudahlah, ayo cepat kita lanjutkan!"


"?!" "Sial!!


Tiba tiba Kuro berlari ke arah mereka berdua dengan tangan yang sudah dikepalkan.


Sayangnya Ishi dan Jinn masih belum berniat bertarung. Masih ada hal yang mereka perlu pastikan terlebih dahulu.


Karena itulah Jinn dengan cepat memukul tanah dengan tangan kanannya.


Setelah beberapa saat, dinding terbuat dari tanah muncul dan menghalangi Kuro.


Kuro berhenti dan bersiap berlari ke samping, namun dia melihat dinding lainnya muncul dan menghalanginya. Bahkan di atas juga muncul.


Lalu seluruh pandangan Kuro menjadi gelap. Dia terkurung dalam sebuah kotak sebesar 2 x 2 meter yang terbuat dari dinding tanah.


"Kalian benar benar tak ingin bertarung? Baiklah, kita akan bicara sebentar."


Jinn dan Ishi sedikit merasa lega karena akhirnya Kuro mau bicara.


"Kuro, kenapa kau melakukan semua ini? Sejak awal seharusnya aku, tidak, kami semua menyadari bahwa serangan kami tak akan diubah menjadi serangan psikis, dan seharusnya kau juga sudah tahu itu, tapi kenapa kau tetap melawan kami?"


"Apakah tiket itu lebih berharga dari nyawamu?" tambah Jinn.


".........."


Jinn dan Ishi berkata dengan nada serius, namun Kuro hanya terdiam. Dia sedang bersandar di dinding tanah.


Seragam sekolah mereka merupakan salah satu dari alat sihir. Dan semua orang tahu alat sihir menggunakan energi 'mana'.


Seragam sekolah menyerap sedikit mana dari tubuh mereka, karena itulah seragam mereka bisa merubah serangan sihir menjadi serangan psikis.


Sayangnya itu tidak berlaku kepada Kuro yang bukan penyihir.


Dengan kata lain, seragam Kuro termasuk alat sihir, tapi saat dikenakan Kuro seragam itu hanya menjadi seragam biasa.


Inilah alasan kenapa Jinn, Ishi serta Seta ragu untuk menyerang Kuro lagi. Kuro memang kuat, tapi dia tetaplah bukan penyihir.


Sudah menjadi pengetahuan umum kalau bukan penyihir tak akan bisa menang melawan penyihir. Meskipun ini adalah pertarungan, tapi tak ada yang memiliki niat untuk bertarung sampai ada yang terluka parah.


"Kuro, sebaiknya kita hentikan ini. Kau tak perlu mempertaruhkan nyawamu. Jujur saja aku menganggap pertarungan kita hanya sebagai latihan sebelum Tribal, namun jika seper- "


"Hahaha ha... jangan membuatku tertawa, Jinn!"


"?"


"Menghentikan pertarungan? Jangan bercanda!! Aku punya alasan untuk mempertaruhkan nyawaku di sini dan kalian membalasku dengan berkata seperti itu. Kalian benar benar membuatku muak!!"


"""........."""


Kemarahan terdengar dari nada Kuro, namun mereka bertiga hanya terdiam. Mereka bukannya tak tahu alasan kenapa Kuro marah, namun pertarungan yang mempertaruhkan nyawa benar benar membuat mereka kehilangan semangat bertarung.


Sebenci bencinya mereka terhadap Kuro, mereka tetaplah teman sekelas.


"Ohhh... begitu rupanya, kalian belum pernah membunuh orang? ha ha... kalian benar benar bocah yang masih minum susu dari ibu kalian. Kenapa tak berhenti saja menjadi penyihir!!"


"Kauu!!"


Jinn mulai marah, namun Ishi menghentikannya Jinn dengan menarik seragamnya dan menggelengkan kepalanya.


Jinn hanya bisa mendesah dalam karena apa yang dikatakan Kuro memang benar. Mereka bertiga belum membunuh seorangpun.


"Ha ha... kalian sungguh naif."


Dalam hal ini, Jinn hanya bisa menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya dengan keras karena menahan amarah.


"Lalu bagaimana dengan kau?" tanya Ishi. "Kau sudah pernah membunuh orang sebelumnya?"


"Tentu saja sudah. Aku bahkan sudah tak bisa menghitung orang yang kubunuh dengan tanganku ini."


"""?!"""


Mata mereka bertiga terbuka lebar karena mendengar perkataan omong kosong Kuro.


Ya. Omong kosong karena tak ada orang yang percaya dengan ucapan Kuro, tapi-


Bagaimana jika tidak?


"Dengar, aku beri tahu sedikit tentang diriku, mungkin kalian akan bersemangat lagi setelah mendengar ini."


"""........"""


"Aku tinggal di hutan Rukia dan hidup bersama klan Blad, tentu kalian tahu apa artinya kan? Ya, aku selama ini sudah mengalami banyak pertarungan entah apakah lawanku itu monster ataupun penyihir, tapi aku selamat dari semua pertarungan itu meskipun aku bukan seorang penyihir."


"Itu wajar karena kau memiliki kekuatan abnormal, bodoh!"


"Ya itu mungkin benar, tapi dalam pertarungan itu aku selalu mempertaruhkan nyawaku, jadi tak ada alasan untuk berhenti melawanku."


"......"


"Itulah yang dinamakan pertarungan nyata. Dan aku yakin cepat atau lambat kalian akan bertarung dengan mempertaruhkan nyawa kalian, ... Disaat itulah kalian harus menentukan apakah dibunuh atau membunuh. Selain itu, mungkin saja kalian akan dihadapkan dengan situasi membunuh 100 orang musuh untuk menyelamatkan satu nyawa. Jadi apa yang akan kalian lakukan dalam situasi seperti itu?"


Tak ada yang menjawab Kuro. Mereka hanya bisa membayangkan kejadian itu suatu saat nanti.


"Sudahlah, aku tak akan membahas itu, tapi aku hanya ingin memberi tahu, tidak, aku yakin kalian pasti sudah menyadari bahwa cepat atau lambat kalian akan berhadapan dengan situasi semacam itu, benarkan? Tapi tak ada dari kalian yang menyangka akan menghadapi situasi seperti itu di sekolah, karena itulah aku bilang kalian masih naif."


"""........ """


"Di dunia ini kita tak tahu apa yang terjadi di masa depan, mungkin saja 5 menit kemudian ada musuh yang menyerang dan membunuh kalian....."


"Huhh, kau juga jangan bercanda, Kuro!"


"Jinn, kauu."


Jinn mulai kehilangan kesabaran dan marah. Wajahnya memerah dan tatapannya menjadi tajam.


Dia benar benar marah karena menyadari bahwa apa yang dikatakan Kuro semua benar.


"Brengsek, kau jangan sok tahu. Sebagai penyihir aku tahu bahwa suatu saat kita akan menghadapi musuh dan mempertaruhkan nyawa apakah untuk mempertahankan diri atau melindungi orang yang berharga, mungkin saja kita suatu saat akan menjadi musuh, tapi semua itu tak ada hubungannya dengan situasi saat ini."


"........"

__ADS_1


Sekarang giliran Kuro yang terdiam oleh perkataan Jinn.


"Aku akan bertarung melawanmu, tapi sebelum itu, apa alasanmu untuk mendapatkan tiket itu hingga harus mempertaruhkan nyawamu? Jujur saja kau orang terlalu bodoh karena melakukan semua ini demi hanya sebuah tiket makan malam. Lagipula kalian berpacaran karena hanya sebuah janji, benarkan?"


"Jinn, kau tak mengerti apapun rupanya."


".....Apa maksudmu?"


"Aku melakukan semua ini karena aku sudah berjanji untuk mendapatkanya. Ya, kau mungkin benar kalau aku bodoh, jujur saja uang bukan masalah bagiku. Aku bisa saja mengajak makan malam tanpa harus mendapatkan tiket itu, tapi kau lupa satu hal yang penting!!"


"Uh?"


"Seorang gadis akan lebih senang ketika mendapatkan sesuatu dengan kerja keras dan kekuatan sendiri. Selain itu kita bisa membuktikan keseriusan kita untuk merebut hatinya. ha ha ha........"


"""....."""


Mereka terdiam oleh penjelasan konyol Kuro.


Selain itu, perkataan Kuro membuktikan bahwa dia melakukan semua ini demi seorang gadis, dan gadis itu adalah Laila.


Tapi, hal itu juga menjelaskan bahwa-


"Hei Kuro, jangan bilang kalau kau serius menyukai Laila?" ucap Ishi.


Dia sekarang mengerti kenapa Kuro melakukan semua ini.


Demi cinta.


Hanya itu.


"Tentu aku serius menyukai, tidak, aku mencintai dia. Kalian bilang aku dan dia berpacaran karena janji, maka aku cukup mengubahnya menjadi cinta. Dan untuk itulah aku memerlukan tiketnya. Apa kalian mengerti?"


Mereka bertiga tak menyangka akan mendengar pengakuan cinta dari mulut Kuro secara langsung. Ini mengubah semuanya.


Sebagai anggota GSPFL tentu saja mereka juga mengharapkan posisi yang sama dengan Kuro saat ini. Bahkan alasan sebenarnya mereka menghalangi Kuro adalah karena iri.


Pacar palsu atau bukan, berlandaskan janji atau tidak, mereka harus mengakui kalau posisi Kuro suatu yang spesial di mata Laila.


"Ha ha ha... Kau benar benar bodoh rupanya. Aku baru pertama kalinya melihat orang sebodoh kau. Baiklah, aku akan bertarung denganmu."


"Aku juga akan serius." tambah Ishi.


Ishi kemudian memposisikan pedangnya untuk bertarung.


Sementaran itu Seta menunjukkan tatapan serius sekali lagi sebagai tanda siap bertarung.


Setelah mengetahui alasan konyol Kuro melakukan semua ini, maka tak ada alasan lagi untuk tak bertarung.


Meskipun mereka tahu Kuro bisa saja mati, namun mereka tahu bahwa Kuro tidak akan mati dengan mudah.


Selain itu, mereka juga menghormati tekad Kuro. Meskipun dia bodoh, dia benar benar serius ketika menginkan sesuatu.


"Yoshh.. kita akan lanjutkan per-"


"Maaf, aku ingin bertarung denganmu, tapi semuanya sudah berakhir."


"hmmmm.....jangan bilang kalau-"


Kuro bisa menebak maksud Jinn.


"Eh?"


Yang terkejut adalah Ishi.


Dia sama sekali tak mengerti perkataan Jinn. Dia terdiam dengan tatapan bingung.


Bommm.


Tiba tiba terdengar suara benturan dari dinding yang mengurung Kuro. Tapi tak ada retakan di dinding meskipun Kuro memukulnya dengan kekuatan monster miliknya.


Bomm... bommm...


Kuro memukulnya lagi dan lagi, tapi tak mampu menghancurkan dinding yang mengurungnya. Bahkan dinding tak mengalami retak.


Tapi dia tidak panik, dia justru tersenyum.


"Begitu rupanya, dinding ini bukan hanya dinding biasa."


"Ya kau benar." jawab Jinn. "Dinding itu kubuat dari bagian terkeras tanah dan memadatkannya, singkatnya dinding tanah itu bagaikan dinding logam yang kuat. Selain itu kau pasti tak menyadari bahwa dinding itu semakin menyempit kan?"


Kotak yang mengurung Kuro sekarang mengecil menjadi 1,30 m dan tinggi masih sama, yaitu 2 meter.


Tinggi tetap sama mungkin karena tinggi Kuro 180 cm, Jinn tak ingin membuat Kuro menunduk. Selain itu, jika dia melakukannya, Kuro akan menyadari kalau kotak semakin mengecil.


"........ ini teknik yang bagus, tampaknya kau berhasil mengetahui kelemahanku.. Aku benar benar terkesan."


Meskipun dalam kondisi terjepit, Kuro tak kehilangan ketenangannya. Itu sudah menjadi sifatnya.


Sementara itu Ishi tampaknya masih bingung dengan apa yang terjadi.


"Kelemahan?"


"Ishi, kau seharusnya menyadari bahwa semua serangan Kuro mempunyai kesamaan, yaitu dia mengandalkan kecepatan. Dia selalu berlari atau bergerak cepat bukan tanpa alasan. Dia berlari untuk memperkuat efek serangannya. Dengan kata lain, dia kuat karena dia cepat."


Dan karena itulah Jinn mengurung Kuro dalam dinding yang sudah diperkuat.


Jika tak bisa bergerak cepat, maka kekuatan Kuro akan berkurang. Tampaknya kemampuan Jinn dalam menganalisa kemampuan lawannya cukup bagus.


Ishi mengerti dan diam diam mengagumi kepintaran Jinn dalam membuat strategi, tidak. Ini bukan strategi.


Ini adalah inisiatif berdasarkan insting.


"Ha ha... aku benar benar senang karena akhirnya menemukan lawan yang menarik. Dinding ini pasti bukan rencana bodoh Knox kan?"


Jinn hanya tersenyum.


"Ya, ini adalah magic rt yang kusiapkan untuk Tribal dan Battle War nanti. Sebenarnya aku tak berniat menggunakannya kepadamu, tapi ini juga kesempatan yang bagus untuk mengujinya."


" .....terima kasih telah memberikan kesempatan ini padaku."


"Tapi, apa kau lupa kalau aku juga akan mulai serius?"


"Apa maksudmu? Meskipun kau bilang begitu kau tak akan ma-"


BOOOOOMMMM!!


"!?"


Jinn langsung terbengong saat dinding tanahnya hancur berkeping keping. Kepingan dinding itu bahkan ada yang melesat di samping kepalanya.


Lalu sosok Kuro muncul dari dalam kotak yang sedikit tertutupi debu.


"!!"


Di saat itulah dia merasakan aura mencekam dari Kuro.


Hal itu membuat dia melangkah mundur dengan sendirinya. Kedua tangannya tanpa alasan yang jelas gemetar dengan sendirinya.


Dia merasa takut.


"........"


Tanpa sepatah kata, Kuro tiba tiba berlari menuju ke arah Jinn dengan kecepatan lebih cepat daripada sebelumnya.


Ishi mengetahui Kuro benar benar serius dari tatapannya yang tajam bagai iblis.


Dia menggunakan magic art Leap dan menghadapi Kuro dari depan. Dia menebas Kuro yang berlari ke arahnya, tapi sekali lagi tebasannya berhasil dihindari.


"Eh?"


Tapi ada hal yang membuat Ishi lebih terkejut.


Kuro melewati dirinya begitu saja dan tampak tak peduli. Bahkan Kuro tak menatap Ishi seolah dia tak menganggap Ishi.


Ya. Target dia bukan Ishi.


Saat ini Kuro berlari menuju Jinn yang terdiam.


"Jinn, sadarlah!!"


Seta berteriak karena menyadari bahwa Jinn sedang syok karena tekniknya berhasil dihancurkan dengan mudah.


Itu sangat wajar. Sebagai pasangannya, Seta tahu bahwa membutuhkan waktu lama untuk menyempurnakan teknik itu, tapi kekuatan Kuro dengan mudah menghancurkannya.


"......?!"


Kuro menyadari Seta menyerangnya lagi menggunakan Wing Blade. Dia lalu bergerak zig zag dan melompat mundur untuk menghindari serangan Seta.


Sekali lagi puluhan bulu menancap di tanah dan tak mengenai target.


"Kh..."


Seta menggertakkan giginya saat melihat Kuro menghindari serangannya, tapi di saat itulah dia melihat benda mengkilap di tangan Kuro.


(Itu kan??)


"Sial!!"


Itu adalah bulu Frea yang menancap di tanah dan digunakan untuk menyerang Kuro sebelumnya, tapi kapan dia mengambil bulu itu?


Saat ini ada 6 bulu pisau Wing Blade di tangan Kuro. Masing masing 3 di tangan kiri dan tangan.Lalu dengan cepat dia melemparnya ke arah targetnya, yaitu Frea yang terbang di udara.


Bulu itu mengenai sayap Frea dan membuat Frea menghilang menjadi partikel kecil, namun itu hanya 4 bulu.


Di saat yang sama Kuro juga melempar ke arah Jinn, namun Jinn menangkisnya dengan gauntletnya.


Jinn sudah sadar. Tapi dia juga dikejutkan oleh hal lain. Bulu yang dilemparkan Kuro memiliki kekuatan yang lebih besar daripada yang terlihat. Mustahil hanya mengandalkan kecepatan.


Ada sesuatu yang menjadi rahasia kenapa Kuro bisa sekuat ini meskipun dia bukan penyihir.


Tapi Kuro tak membiarkan Jinn untuk berpikir.


Dia memukul Jinn dengan tepat ke arah perut. Di saat itulah dua lapis lingkaran sihir muncul tepat di perut Jinn yang menjadi target Kuro.


Jinn menggunakan magic art Shield yang melindungi seluruh tubuhnya, tapi-


Kraaaakkk...kraak..


Pukulan Kuro menghancurkan lapisan lingkaran sihir pertama dan lingkaran sihir kedua berhasil menahan pukulan Kuro, tapi tubuh Jinn langsung terlempar ke belakang setelah menahan serangan Kuro.


Jinn berputar dan terseret beberapa meter dan akhirnya berhenti.


Dia hampir kehilangan kesadarannya karena mengalami rasa sakit yang cukup parah.


"Khh... Dia benar benar berniat membunuhku."


Atau dia tahu kalau Jinn akan berhasil menahan serangannya.


Tapi Jinn meragukan itu karena Kuro benar benar memancarkan aura membunuh yang sangat kuat. Jinn baru pertama kalinya melihat dan menemukan orang dengan niat membunuh seperti Kuro


(Itukah kekuatan dan kegelapan yang dimiliki orang yang terlahir di medan pertempuran?)


Jinn dan Kuro hidup di dunia yang berbeda. Karena itulah dia tak tahu kenapa dan bagaimana seseorang bisa seperti Kuro.


Kejam, kuat, tanpa kenal takut dan ragu.


Inilah perbedaan antara Kuro dan teman temannya.


"Guhh..Siall!"


Jinn mencoba bangkit lagi. Memang kekuatan Kuro membuatnya terpental, namun tampaknya luka di tubuhnya tak terlalu parah.


Sementara itu, Kuro masih bertarung melawan Ishi.

__ADS_1


"[Water Snake]"


Ishi berdiri di atas air di pinggir danau. Di bawah kakinya ada lingkaran sihir yang menjadi tanda dia sedang menggunakan element art agar mampu berdiri di atas air.


Tapi di saat yang sama di menancapkan rapier miliknya ke air dan menciptakan puluhan ular yang terbuat dari air.


Puluhan ular air itu merayap dan menyerang Kuro dari segala arah.


".........."


Tanpa sepatah kata, Kuro berputar dan menendang semua ular Ishi dan hancur kembali menjadi air.


"Tch!!"


Mengetahui serangannya tak berguna, Ishi melompat menggunakan magic art Leap menuju ke arah Kuro.


Kuro juga berlari ke arah Ishi.


""


Gerakan Kuro tiba tiba menjadi lebih cepat dan seolah olah tak terlihat. Lalu 6 Kuro muncul dan menyerang Ishi.


"Apa?!"


Ishi terkejut karena Kuro tiba tiba menjadi 6 dan menyerangnya dari depan.


Shadow Turn merupakan teknik membuat bayangan dengan teknik kecepatan yang bertujuan untuk membingungkan musuh.


Ishi mengetahui kelima Kuro lainnya hanyalah bayangan, tapi mana Kuro yang asli?


Lalu dia tersenyum.


"Jika tak tahu yang asli, maka tinggal serang semuanya. Sacred magic art Infinite Slash.


Ishi kali ini menusuk semua Kuro dengan 32 serangan di saat hampir bersamaan.


Dan berkat sacred magic art, Ishi berhasil menyerang keenam bayangan, tapi semua itu palsu.


"Ishi, AWAS!!"


Seta yang sudah tak berdaya berteriak untuk memperingatkan Ishi.


Di saat itulah Ishi menyadari bahwa Kuro sudah berada di sampingnya.


"Gu ahhh!!"


Kuro menyerang Ishi dengan lututnya di bagian perut. Itu serangan yang tak terlalu kuat, namun cukup untuk membuat Ishi kehilangan kesadaran sesaat.


Lalu mengambil kesempatan itu, Kuro merebut rapier milik Ishi dan melemparnya ke arah Seta dengan kecepatan tinggi.


"?!"


Seta tak sempat menghindar dan rapier itu menusuk tepat ke dadanya.


Untung saja serangan itu hanya berdampak pada psikis. Hal itulah yang membuat Seta tak terbunuh, tapi dia akhirnya pingsan karena tak bisa menahan rasa sakit.


"Kauuu!!"


Ishi menatap Kuro dengan tatapan kebencian. Dia tak senang saat senjatanya digunakan untuk melukai Seta.


Tapi Kuro hanya terdiam dengan tatapan dingin.


Hal itu membuat Ishi semakin marah dan akhirnya memukul Kuro.


"?!"


Ishi terkejut saat Kuro menerima pukulannya.


"Kau?"


Ishi lalu memukul Kuro lagi dan lagi tepat di wajahnya hingga mulut Kuro mengeluarkan darah.


Tapi Kuro tak melawan balik atau menghindar.


"?!"


Lalu tiba tiba Kuro menangkap kepalan tangan Ishi dan meludahkan darahnya ke tanah.


Ishi dapat merasakan kekuatan cengkraman Kuro. Dia bahkan tak bisa menarik tangannya dan melepaskan diri.


"Apa kau marah?"


"Eh?"


"Apa kau marah saat aku melempar pedangmu ke arah Seta? Kau ini benar benar naif!"


Lalu sekarang giliran Kuro yang menghajar Ishi. Dia memukul Ishi tepat di bagian perut, tentu dengan kekuatan yang tak terlalu kuat agar dia tak segera pingsan.


"Ugh!!"


"Kau marah hanya karena itu? Kau seharusnya bersyukur karena aku tak membunuhnya."


Kuro benar benar serius. Jika dia mau, dia bahkan mengincar kepala yang tak dilindungi oleh seragam sekolah.


Lalu Kuro menendang, memukul dan menendangnya lagi. Sampai akhirnya Ishi tak berdaya.


"Di luar sana banyak orang yang lebih kuat dan mungkin akan tanpa ragu membunuh temanmu, keluargamu atau kekasihmu, dan di saat itu terjadi, apa yang akan kau lakukan?"


"......."


Ishi terdiam bukan karena tak mau menjawab, dia tak bisa menjawab. Wajahnya babak belur dan tubuhnya sudah lemas tak berdaya lagi.


"Jika tak mau itu terjadi, jadilah lebih kuat, setidaknya cukup kuat untuk melukaiku!"


Setelah mengatakan itu, Kuro melepas Ishi dan menjatuhkannya ke tanah seperti barang yang sudah tak dibutuhkan lagi.


Lalu tatapan tajam Kuro menghilang dan dia kembali ke kondisi semula.


Setelah melihat semua kekacauan yang dibuat olehnya, Kuro hanya bisa mendesah dalam. Dan untuk pertama kalinya nafasnya terengah engah.


Itu pertanda dia terlalu banyak menggunakan tenaga.


(Kurasa aku harus pergi....)


Setelah itu Kuro memutuskan untuk meninggalkan mereka bertiga dan melanjutkan larinya.


"Kurasa kau memang sedikit berbeda, Jinn."


Tapi sebelum pergi, dia menoleh ke arah Jinn yang sudah bangkit dan berdiri.


Tatapan Jinn menunjukkan wajah serius dan pantang menyerah.


"Akhirnya kau bisa menunjukkan sesuatu yang bagus."


"Ha... ha.... dasar monster."


"........"


"Tapi berkat kau mataku sudah terbuka."


Di saat bersamaan, lima lingkaran sihir berbagai ukuran muncul di gauntlet kanan Jinn dan berputar putar.


"Hooo..."


Kuro yang melihat itu hanya tersenyum, lalu mundur beberapa meter dari Ishi.


Dia tahu kalau Jinn akan menggunakan sacred magic art.


"Ya, berkat kau aku telah membuat keputusan untuk tak membiarkan sahabatku mati di depanku."


Kali ini Jinn mengeluarkan aura membunuh yang kuat.


Jinn sudah terlahir kembali berkat Kuro.


"Tampaknya kau sudah tahu maksudku, karena itulah keluarkan semua kemampuanmu! Aku tak akan menghindar dan menerima seranganmu, Jinn. ..Dan akan kutunjukkan seberapa lemah dirimu!!"


"Tch! Jangan sombong hanya karena kau kuat, Kuro."


"?"


Mata Kuro melebar saat gauntlet kanan Jinn bertransformasi menjadi lebih besar dan memancarkan cahaya keperakan. Selain itu lingkaran sihir di tangannya berubah warna dan berputar lebih cepat.


Namun Kuro tak takut dan hanya tersenyum.


"Tampaknya kau akan menggunakan semua kekuatanmu di serangan itu."


"Ya dan aku senang saat kau bilang tak akan menghindar, apa kau tak menarik ucapanmu? Kurasa ini masih belum terlambat."


Lalu tanah disekitar Jinn hancur dan terangkat ke atas. Aura Jinn juga semakin kuat.


"Tidak. Aku tak perlu menghindar. Lagipula aku berniat menunjukkan kekuatanku yang sebenarnya kepadamu. Kau pasti juga penasaran kenapa aku bisa menghancurkan dindingmu dengan mudah?"


"Kau mau bilang kalau belum serius menghadapi kami? Jangan membual, Kuro!"


Itu pemikiran normal mengingat kekuatan yang ditunjukkan Kuro. Meskipun kecepatan Kuro lebih cepat dari magic art Leap dan kekuatannya setara dengan pukulan Jinn, tidak, atau bahkan lebih kuat, namun semua itu masih normal di dunia para penyihir.


Kuro berhasil mengalahkan mereka karena pandai menggunakan benda di sekitarnya dan pandai mengkombinasikan kecepatannya. Ini masih normal.


Tapi Kuro bilang kalau dia belum serius?


Itu akan menjadi mimpi buruk jika menjadi kenyataan.


"Tidak. Jika kau menyebut lari, menghindar dan memukul itu serius, maka kau benar benar lucu!"


"Tch..."


Kuro benar. Itulah yang membuat Jinn marah.


"Sudahlah, sebaiknya kita buktikan saja ucapanmu, Kuro. Jika kau benar benar sekuat yang kau katakan, maka kau pasti bisa selamat setelah menerima seranganku!"


Kuro hanya tersenyum dan mengepalkan tangan kanannya. Lalu dia berlari maju ke arah Jinn.


Jinn juga berlari ke arah Kuro dengan kepalan gauntlet yang bersinar dan di penuhi oleh lingkaran sihir. Kaki Jinn tenggelam ke tanah setiap kali melangkah sebagai bukti kekuatan dan tekadnya.


5 meter. 3 meter dan akhirnya 1 meter.


Mereka berdua beradu pukulan untuk menentukan siapa yang lebih kuat.


"Sacred magic art Armageddon"


KABOOOOOOOOOOMMMMM!!!


Jinn menggunakan serangan terkuat miliknya. Ledakan besar terjadi.


Ini adalah ledakan terbesar dan terkuat yang terjadi dalam latihan ini.


Tanah hancur, gumpalan debu membumbung tinggi seperti asap kebakaran dan menyebar ke segala arah.


Setelah beberapa saat, bayangan seseorang terlihat dari kumpulan debu.


Itu adalah Kuro.


Sementara itu Jinn di belakangnya sedang menunduk dan hampir tersungkur karena pukulannya membuat kawah 15 meter lebih, tapi tanah di pijakan Kuro masih utuh.


"....Jadi itukah kekuatanmu yang sebenarnya?"


Jinn akhirnya tumbang ke tanah karena kehabisan tenaga, tapi tak hanya itu, Kuro sebenarnya juga memberikan serangan beberapa kali dengan kecepatan di luar batas mata Jinn.


"Bisa dibikang semacam itu. Berbanggalah, kau mungkin satu satunya yang bisa melihat itu dalam keadaan hidup"


Tidak. Bukan karena Jinn yang kuat, tapi karena Kuro membiarkannya hidup.


Jinn sadar, jika Kuro benar benar serius menggunakan kekuatannya, membunuh seluruh murid kelas 1-2 suatu yang mudah.

__ADS_1


"Kau benar benar Monster."


Setelah itu, mata Jinn tertutup.


__ADS_2