
"Kuro, kapan kita sampai? Kau bilang sudah dekat, tapi aku tak melihat kota satupun. ...kau tak berbohong kan?"
"Kita sudah berada di Dragonia. Apa kau tak menyadarinya?"
"Kau seharusnya tahu mana mungkin kami tahu di kegelapan seperti ini. Matamu itu terlalu tajam untuk seorang manusia."
"Apa kau benar benar manusia?"
"........."
Kuro tak menjawab. Entah mengapa pertanyaan itu sering dia dengar akhir akhir ini.
Setelah terbang hampir 12 jam, mereka tiba di Dragonia, tapi karena malam dan gelap, tak ada yang tahu apakah mereka sudah sampai atau tidak.
Meskipun bulan purnama, namun karena awan sedikit mendung, maka tak ada yang bisa melihat dengan jelas.
Kuro dan Laila tak menunggangi Laiko, tapi ikut menunggangi Ruby bersama Charlmilia, Jinn dan Knox.
Sementara Lairo dan Aldest sekarang menaiki Laiko. Berdua.
Setelah semua rahasia terbongkar, Kuro menyuruh Aldest untuk menceritakan yang selama ini terjadi selama dua tahun.
Alasan kenapa Aldest tahu ayah Lairo, Straus Licrofa masih hidup dan kenapa tak kembali ke ibukota. Sekarang yang mereka lakukan hanya bisa menunggu.
"Kita sudah sampai, jika terang seharusnya kita sudah bisa melihat ibukota Drageass, tapi-"
"Kita masih belum melihat cahaya lampu sedikitpun..."
Kuro mengangguk membenarkan kata Laila.
"Mungkin saja Drageass sudah rata dengan tanah he hehee." ucap Charlmilia dengan nada bercanda.
"....kau mungkin benar, tapi aku yakin seharusnya mereka masih bertahan karena ada Dragon King di pihak mereka."
Meskipun sudah satu minggu sejak terjadi serangan besar besaran, Kuro tahu Diana pasti masih sanggup bertahan.
"Hey lihat, mungkinkah itu Drageass?"
Jinn tiba tiba berteriak.
Semuanya melirik ke arah cahaya yang berasal dari sebuah ledakan. Ledakan yang cukup besar sehingga bangunan di sekitar ledakan bisa terlihat jelas.
Tapi jika disebut bangunan, itu tidak cocok karena sudah hancur dan rata dengan tanah.
"Hey... ini lebih buruk dari yang kubayangkan.."
"....."
Tak hanya satu ledakan, tapi puluhan ledakan lainnya tiba tiba muncul membakar semua benda menjadi arang.
Di antara api itu puluhan naga hitam segelap malam meraung dan mengeluarkan Dragon Breath secara membabi buta menghancurkan apapun yang ada di depan mata mereka.
Pemandangan yang mengerikan dan sekaligus menakutkan bagaikan neraka. Itulah yang mereka semua lihat saat ini.
Tapi di antara naga hitam itu, sebuah cahaya kebiruan dan seekor naga biru kehijauan terlihat bertarung dengan salah satu naga hitam.
Dari ukurannya, mereka semua tahu itu adalah Dragon King Class sama seperti Ruby, tapi naga itu terlihat terluka dan kewalahan meskipun menghadapi naga yang setengah kali tubuhnya.
"Ruby, kecepatan penuh!!"
Menyadari Shapira tak bisa bertahan lama, Kuro memerintahkan Ruby untuk terbang lebih cepat.
Semua terkejut karena tiba tiba kecepatan meningkat. Jinn bahkan hampir terjatuh, tapi untunglah dia sempat berpegangan.
Laiko juga menambah kecepatannya dan mengikuti meskipun kecepatan terbangnya tak secepat Ruby.
"Kuro..."
Laila baru pertama kalinya melihat Kuro sepanik itu.
"Maaf, tapi kita harus cepat. Semua dengar!!"
"""..........."""
"Seperti yang kujelaskan, Necrodra hanya bisa dibunuh dengan memenggal kepalanya atau menghancurkan 70% bagian tubuhnya. Kuharap kalian tak ceroboh dan mengikuti kata kataku."
Semuanya hanya tersenyum tipis, tapi mereka menunjukkan semangat bertarung yang besar.
"Aku akan pergi duluan, Laila kau tetap bersama Ruby apapun yang terjadi. Mengerti?"
"Eh?"
Tak berapa lama, mereka sampai di atas ibukota Dragonia, Drageass, tapi mereka dikejutkan oleh pemandangan yang lebih mengerikan daripada yang terlihat.
Puluhan naga menyadari kehadiran Ruby dan menatap ke arah langit. Ada beberapa yang mengepakkan sayapnya dan terbang menyerang Ruby.
Ruby meraung dan langsung mengeluarkan Laser Breath ke arah naga yang terbang ke arah mereka.
Sebagian besar tubuh Necrodra hangus menjadi debu dan musnah.
"Wow.... Itu keren sekali."
"Jinn, ini bukan saatnya melakukan itu. Ada masih banyak Necrodra yang akan datang, jadi bersiaplah!!"
"Hmmp.. kau juga, bodoh!"
Disaat yang sama, Jinn mengaktifkan magic arm miliknya. Sedangkan Kuro berdiri dan memegang Lic dengan erat.
"Semuanya, kuharap kalian tidak mati!"
Kuro melompat meskipun masih berada di ketinggian 300 meter.
Semua terkejut saat Kuro melakukan itu. Terutama Laila.
Kuro meluncur ke bawah seperti elang yang bersiap menerkam mangsanya dengan sebuah pedang.
3 Necodra terbang tepat ke arah Kuro dan menyerang Kuro dengan menggunakan Dragon Breath.
Cahaya dari api yang membara menyebar ke segala arah di udara dan menelan tubuh Kuro.
"Kuro?"
Laila terdiam membeku saat melihat itu dari punggung Ruby. Dia melihat Kuro tertelan api dan mati. Setidaknya itulah yang terlihat.
"Apa kau bodoh, lihat baik baik!"
Charlmilia menyadari Laila sedang panik menyuruh memperhatikan Necrodra yang kini terpenggal kepalanya.
"Eh?"
Tak hanya satu, dua Necrodra lainya juga terpenggal kepalanya secara tiba tiba dalam kurun waktu beberapa detik saja.
Laila lalu melihat cahaya putih di kegelapan yang berasal dari pedang Kuro.
Kuro melayang di udara dan menendang udara untuk bergerak. Disaat yang sama dia menggunakan Accell Art untuk memenggal kepala Necrodra.
Semua yang melihat itu hanya bisa menahan nafas mereka.
"Siapa yang monster disini?" ucap Knox.
Jika Necrodra itu naga yang masih hidup, maka mereka sedang melihat sebuah pembantaian.
Kuro lalu menendang udara untuk bergerak dengan kecepatan tinggi di udara menuju Necrodra yang masih tersisa cukup banyak.
"Kita tak bisa membiarkan dia berpesta sendirian, benarkan?"
Jinn tersenyum tanda memikirkan hal yang sama dengan Charlmilia.
Tiba tiba Charlmilia ikut melompat ke bawah sama seperti Kuro, tapi dia tak terjatuh ke bawah seperti Kuro.
Charlmilia melayang di udara lalu dalam sekejap 2 sayap angin muncul di punggungnya seperti seekor burung.
Laila, Jinn dan Knox hanya bisa melebarkan matanya melihat itu.
"Jangan heran, semua penyihir angin bisa melakukan ini."
Tentu tidak.
Penyihir elemen angin memang bisa mengendalikan angin untuk terbang, tapi menumbuhkan sayap lalu terbang hanya sebagian kecil penyihir angin yang bisa melakukannya.
Tak hanya itu, sebuah pedang tiba tiba muncul di tangan Charlmilia.
Dari bentuknya, pedang itu merupakan pedang yang sama saat Byakko berubah menjadi Byakkura.
Tapi saat ini Charlmilia hanya menciptakan pedangnya saja.
Setelah mempunyai senjata, Charlmilia terbang menuju Necrodra yang letaknya cukup jauh dari Kuro dengan kecepatan tinggi.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Aku tak bisa terbang atau melakukan akrobat seperti Kuro."
"Aku tak tahu apa yang akan kau lakukan, Knox, ....tapi aku tak mau dia selalu mendapatkan bagian terbaik."
Setelah mengatakan itu, Jinn melompat turun seperti sebuah batu yang terjatuh lurus ke bawah.
"............."
".............."
Laila dan Knox tak tahu apakah yang dilakukan Jinn adalah hal keren atau bodoh.
Saat tak diperhatikan, Jinn berhenti di udara. Di bawah kakinya sebuah lingkaran tipis seperti kaca dia gunakan untuk menopang tubuhnya di udara.
Ini salah satu Mana Art yang penyihir manapun bisa melakukannya, tapi tak semua orang bisa mempertahankan tetap di udara seperti Jinn.
Ini adalah salah satu hasil latihan kerasnya setelah mendengar Kuro bisa mendendang udara.
Jika dipikirkan baik baik, menendang udara hanyalah memadatkan udara seperti dinding dan menjadikannya sebuah pijakan di udara. Secara teori itu terdengar mudah, tapi Jinn sadar itu mustahil bagi dirinya.
Lalu dia menciptakan Air Wall yang sama sekali berbeda dengan Kuro.
Dia membuat dinding di kordinat tertentu lalu menggunakannya sebagai pijakan tak seperti Kuro yang menciptakan dinding di saat dia bergerak.
"........."
Jinn mengamati sekitarnya.
Dia melihat Kuro menghabisi Necrodra dengan cara yang kejam dan cepat. Sekarang bahkan hanya tersisa 8 Necrodra.
Tak jauh dari Kuro naga biru muda sedang melawan salah satu Necrodra yang sama seperti Laiko, Holy Demonic Class.
Dengan gerakan yang cepat, Necrodra itu menghindari serangan Shapira dan menyerang menggunakan Dragon Ball.
Ribuan bola api menyerang Shapira di saat yang bersamaan. Sebagian besar mengenai Shapira dan membuat Shapira meraung kesakitan.
Ada seseorang di dekat Shapira yang memakai Dragon Gear berwarna biru dan bersenjatakan tombak biru. Dia juga terlihat kelelahan dan tak bisa bergerak banyak.
Sementara itu, Charlmilia sedang berhadapan dengan seekor Necrodra.
Charlmilia berhasil menghindar serangan Necrodra. Dia bahkan bisa menghindari serangan Dragon Breath dengan terbang lincah di udara.
Dia terlihat kesulitan saat melawan satu Necrodra. Meskipun berhasil menyerang dengan beberapa tebasan, namun luka Necrodra pulih dalam hitungan detik.
"Ini lebih sulit daripada yang kuduga!"
Tapi saat melihat Kuro yang mampu mengalahkan Necrodra dengan mudah, dia sadar alasan kenapa putri Diana meminta bantuan Kuro secara pribadi.
Saat sedang bingung dan kesulitan, dia mendengar suara yang berasal dari atas.
"Sacred magic art ,Armageddon."
Jinn meluncur dengan kecepatan tinggi tepat ke tubuh Necrodra yang sedang bertarung melawan Charlmilia dan menyerang dengan menggunakan sacred magic art miliknya. Tubuh Necrodra hancur dan berhamburan ke segala arah. Yang tersisa hanyalah Jinn yang masih menghantam tanah dan menciptakan kawah.
"Whhaa.... Apa yang terjadi jika kau masuk ke dalam mulut naga?"
"..........."
Dia tak tahu kenapa Charlmilia justru berkomentar seperti itu.
Jinn lalu berdiri memperbaiki postur tubuhnya.
Charlmilia terbang rendah ke sampingnya.
"Apa kau baik baik saja setelah menggunakan itu?"
"Kau pikir siapa diriku? Aku sekarang bisa melakukannya sebanyak tiga kali,.... maksimal."
Meskipun latihan lari terdengar sedikit konyol, Jinn sekarang sudah tahu hasil latihan itu. Tak hanya fisiknya yang bertambah kuat, tapi juga dengan mana-nya.
"Hanya segitu? Kupikir kau bisa melakukannya lebih banyak."
"Aku bukan monster semacam kalian. Bagiku dapat menggunakan 3 kali merupakan kemajuan yang besar."
"Iya iya..., tapi apa kau menyadarinya?"
"....Ya. ...tak ada seorangpun disini."
Mereka hanya bisa melihat reruntuhan dan puing puing bangunan yang hancur dan rata dengan tanah. Banyak bekas terbakar di berbagai tempat sebagai tanda bekas pertarungan.
Mereka sekarang tahu kenapa tak ada cahaya sedikitpun di kota itu.
"Yang tak ku mengerti, kenapa hanya satu naga saja yang bertarung?"
Tak ada naga lain selain naga biru kehijauan yang mereka lihat sejauh ini.
Ini sangat mengejutkan mengingat Dragonia merupakan negara yang memiliki naga paling banyak di dunia.
"Entahlah, tapi sebaiknya kita cepat membantu orang itu. Kurasa dia tak bisa bertahan lebih lama lagi."
Jinn mengangguk. Mereka berdua lalu berlari menuju ke arah Diana dan Shapira.
Sementara itu, Kuro sedang berhadapan dengan 3 Necrodra.
Dia dikepung dari 3 arah dan terjebak.
Nafasnya terengah engah dan dia dapat merasakan tubuhnya seperti terbakar. Dia bisa menggunakan Accell Art untuk menghabisi Necrodra, tapi tubuhnya sudah mencapai batas.
Jika menggunakannya lagi, mungkin tulang di tubuhnya akan patah. Itu sangat buruk jika musuh bertambah lagi.
"..........."
__ADS_1
Dia melirik ke 3 naga yang mengepungnya. Mereka semua adalah Fire Dragon Class yang dibangkitkan kembali. Seperti Laiko, mereka mampu bergerak dengan cepat.
"Tch.."
(Hanya tinggal tiga lagi..)
Dia kebingunan karena dalam kesulitan.
Disaat itulah cahaya kemerahan melesat lurus dari atas dan menghancurkan salah satu Necrodra.
Itu adalah Laser Breath Ruby yang sudah diperkecil. Berkat itu, Kuro tak ikut hangus.
Kuro menoleh ke atas dan tersenyum senang, tapi saat melihat Laila melompat dari punggung Ruby, Kuro panik setengah mati.
Di udara, Laila memunculkan Scarflare. Tidak. Ratusan Scarflare.
Laila lalu memposisikan tangannya seperti memegang sebuah pedang.
Disaat yang sama, ratusan Scarflare bersatu dan menjadi sebuah pedang raksasa.
Itu adalah salah satu sacred magic art Laila, Giganflare yang khusus untuk membunuh makhluk raksasa.
"Hyaaaaa!!'
Laila menebas salah satu Necrodra dengan pedang raksasanya seperti menebas tahu.
Satu Necrodra tersisa.
Ruby mendarat tepat di atas Necrodra dan menindihnya seperti sebuah batu. Tak hanya itu, Ruby menggigit kepala Necrodra hingga putus dan terjatuh ke tanah.
Di atas Ruby, Knox terlihat sedang syok dan hanya berbaring.
Di tempat lain, Diana melawan satu Necrodra bersama Shapira.
Satu Necrodra bisa dibilang bukanlah lawan yang berat, tapi jika dalam kondisi normal dan tak terluka.
Tubuhnya sudah mencapai batas dan sulit digerakkan seperti boneka kayu. Dia juga kesulitan mempertahankan Dragon Gear, tapi berkat Shapira, dia masih bisa mempertahankannya.
"Cepat menyingkir!!"
"Eh?"
Dia terkejut saat tiba tiba sebuah suara seorang gadis terdengar.
Dia menoleh ke atas yang merupakan sumber arah suara.
Diana menemukan seorang gadis (?) yang terbang dengan sebuah bola putih besar yang berada tepat di depannya.
Diana dapat merasakan tekanan mana yang besar dari bola putih itu. Dia kemudian mengerti maksud perkataan gadis yang terbang untuk segera menyingkir.
"Shapira!"
Shapira meraung lalu mendorong tubuh Necrodra ke arah bangunan yang hampir rubuh.
Mengetahui Diana sudah tak berada dalam jangkauan serangan, Charlmilia menembakkan plasma yang memiliki kekuatan setara dengan Laser Breath ke arah Necrodra.
Tubuh Necrodra hancur bersamaan dengan bangunan di belakangnya.
"Haa... ha... ha... ha..."
Diana tersungkur dan hampir tak bisa berdiri, tapi sebelum terjatuh, tangan seseorang memeganginya.
Orang itu adalah Kuro.
"Semuanya sudah berakhir..."
"..ya."
Disaat yang sama Diana melepas Dragon Gear yang menyelimuti tubuhnya.
Wajah cantik dan rambut birunya sekarang terlihat. Cantik. Itulah kesan orang yang pertama kali melihatnya.
Dari timur, cahaya mentari mulai menghapus gelapnya malam dan menggantinya dengan cahaya hangat.
Disaat yang sama, tubuh penuh luka dan memar terlihat di sekujur tubuh Diana. Tak hanya itu, pakaiannya yang merupakan armor tipis hancur di berbagai tempat dan mengekspos tubuh dan kulit putihnya.
Diana tiba tiba langsung memeluk Kuro.
Laila dan Jinn melompat karena terkejut. Laila terlihat ingin langsung memisahkan mereka berdua, tapi dia langsung mengurungkan niatnya saat melihat air menetes deras dari mata Diana.
"Tuan Kuro, ...akhirnya kau datang....juga..."
"Ya. Maaf membuatmu menunggu."
"...tidak. Kau tak perlu minta ..maaf..."
Diana tiba tiba pingsan di pelukan Kuro.
Kuro hanya tersenyum kecil, dan berkata:
"Tampaknya kau sudah bekerja keras selama menunggu kami, Diana. .....Shapira kau juga."
Shapira meraung kecil nada seperti tak berdaya.
Di saat itulah Laiko muncul dan mendarat tak jauh dari mereka.
"Apa yang kami lewatkan?"
Dan orang bodohpun bertanya.
--------------------------
---------
----
Beberapa jam berlalu setelah serangan Necrodra berhasil dihentikan.
Semua sedang beristirahat untuk memulihkan tenaga di bangunan yang masih bisa digunakan.
Kota yang rata dengan tanah kini terlihat dengan jelas. Asap dan api masih terlihat di berbagai tempat masih mengingatkan kejadian tadi malam.
"Ini benar benar mengerikan..."
Jinn sedang melihat pemandangan yang melambangkan kehancuran.
"....sekarang aku mengerti kenapa Kuro melarang kita kesini."
Charlmilia duduk di dekat Jinn sambil makan bekal yang mereka siapkan saat berada di desa klan Blad.
"...dan kurasa serangan seperti tadi malam hanyalah serangan kecil..."
".....Ya."
Mereka berdua melihat ke arah gunung berbentuk kepala naga di selatan Dragonia. Gunung itu bernama Dragon Grave.
Dragon Grave merupakan tempat yang digunakan untuk memakamkan naga yang sudah mati selama 1000 tahun lebih.
Di atas Dragon Grave puluhan hingga ratusan kelelawar terbang mengintari seperti sebuah tawon yang mengerubungi bunga manis. Sayangnya, itu bukan kelelawar, tapi Necrodra.
"Jika semua Necrodra itu menyerang, kita akan langsung mati. Bagaimana ini....?"
"Sudah terlambat untuk kabur. Kau tahu itu kan?"
Satu satunya cara pulang hanyalah dengan menaiki naga lagi atau berjalan, tapi tak ada jaminan tak diserang Necrodra.
Jinn paham hal ini.
"Siapa yang mau kabur? Aku jauh jauh kesini bukan hanya untuk minum teh. Ohh... Kuro, apa tak apa apa kau datang kemari?"
Kuro datang mendekat sambil membawa roti lapis di tangannya.
Dia tak terluka, tapi wajahnya terlihat pucat dan kelelahan.
"Ahh.... aku tak apa apa.... Aku hanya kelelahan saja."
"Lalu bagaimana keadaan tuan putri?"
"....Diana sudah mendingan. Syukurlah Aldest bisa sihir penyembuh seperti Yui. Untung saja kita membawa orang seperti dia."
Meskipun Kuro mengatakan Aldest seperti sebuah barang, tapi mereka berdua setuju dengan Kuro.
"Kuro, apa yang harus kita lakukan? Tetap di tempat ini atau..... pergi ke istana itu?" tanya Charlmilia.
Satu satunya bangunan yang masih utuh hanyalah istana Fafnir yang bahkan bisa dikatakan tak tergores sedikitpun.
Ini wajar karena istana Fafnir memiliki perisai yang cukup kuat untuk menahan serangan Necrodra selama seminggu terakhir.
Itu artinya, istana Fafnir merupakan tempat yang paling aman saat ini. Orang yang masih hidup kemungkinan besar berada di istana.
"Kita bisa pergi kesana kapanpun juga, tapi saat ini kita prioritaskan untuk menunggu mereka berdua pulih. Aku tahu berbahaya di luar sini, tapi kita tak punya pilihan karena situasi disini terlalu aneh."
"Maksudmu tempat ini yang sekarang seperti kota hantu?"
Kuro mengangguk.
"Selain itu meskipun Diana selamat, tak ada yang datang kemari bahkan hanya untuk memeriksa keadaan." tambah Kuro.
"Dengan kata lain kita harus menunggu tuan Putri untuk mengetahui apa yang terjadi kah ... Aku tak suka ini."
Charlimilia lalu makan dengan wajah kesal.
"Ngomong ngomong dulu kau pernah di sini beberapa bulan kan?"
"Ya. Aku bahkan membantu mengalahkan Necromancer, tapi jika diingat lagi, aku benar benar punya kenangan buruk di kota ini."
"Kenangan buruk? Sulit dipercaya kata itu keluar dari mulutmu."
"Jangan bodoh. Semua mempunyai kenangan buruk, bahkan termasuk aku. Oh iya, sambil menunggu dia siuman, Jinn bisakah aku minta tolong kepadamu?"
"Jika ada yang bisa kubantu, katakan saja!"
"Dulu aku pernah mendengar dari Diana kalau di bawah kota ini terdapat terowongan yang menuju istana untuk evakuasi. Aku ingin kau mencarinya. Bisakah kau melakukan itu?"
".....Itu mudah. Serahkan semuanya kepadaku."
"Ya. Terima kasih."
Jinn lalu pergi ke arah istana dengan berjalan kaki.
Dia mengaktifkan nagic arm dan memukul tanah sambil memejamkan tanah.
Dia berkonsentrasi untuk merasakan getaran yang ada di tanah sambil membayangkan informasi yang diterima otaknya.
"Kuro, apakah kita akan pergi ke istana lewat terowongan?"
"Tidak. Aku menyuruh Jinn mencari terowongan hanya untuk memastikan sesuatu. Lagipula kita akan lebih aman jika dekat dengan Ruby dan Shapira."
"Itu benar juga. Ngomong ngomong apa kau dulu ke Dragonia untuk sebuah misi?"
"Kurasa lebih tepat jika tak sengaja datang setelah menjalankan misi di tempat lain."
"Eh? Apa maksudmu?"
"Aku pulang menaiki Ruby, tapi karena terlalu lelah, aku tak tahu kalau Ruby terbang ke Dragonia, tapi yang lebih parah dia menjatuhkanku saat aku sedang tidur pulas."
Charlmilia tak mau membayangkan hal itu.
"Lalu?"
"Aku dipenjara 1 bulan."
"............."
Charlmilia mengerti apa yang dimaksud dengan kenangan buruk, tapi dia menyadari suatu yang aneh.
Dragonia dikenal selalu menyambut baik Dragon Tamer. Kuro yang merupakan Dragon Tamer naga legendaris, seharusnya diperlakukan spesial di Dragonia.
"Bolehkah aku tahu kenapa kau dipenjara?"
"Ohh... aku jatuh di kamar mandi Diana dan yang lebih parah, Diana saat itu sedang mandi."
"............"
Itu sama sekali bukan kenangan buruk.
"Kurasa kau pantas dipenjara seumur hidup."
Charlmilia langsung mendesah.
"Apa maksudmu?"
"Bukan apa apa, tapi kuharap kau masih hidup..."
"Eh?"
Kuro tak mengerti, tapi saat dia merasakan hawa membunuh yang sangat besar di belakangnya, Kuro mengerti apa maksud Charlmilia.
"Mungkinkah dia ada di belakangku...?"
"Dan kurasa aku akan minta penjelasan semua yang terjadi selama kau disini! Kau tak keberatan kan, Sayang~?"
Kuro lalu pergi karena diseret Laila menuju sebuah bangunan yang tak jauh dari tempat mereka.
Charlmilia dapat merasakan tekanan mana Laila yang begitu besar dan menakutkan meskipun berada cukup jauh.
"Kau selalu menyiram api dengan minyak, kurasa itulah yang kau dapat Kuro."
Charlmilia hanya tersenyum kecil.
Saat itulah Jinn kembali dengan wajah rumit yang menandakan sebuah kabar buruk.
"Dimana Kuro?"
"Dia sedang diintrograsi, ....kurasa akan butuh waktu lama."
Jinn merasakan tekanan mana yang besar dan menakutkan. Dia tahu itu adalah tekanan mana Laila. Disaat yang sama dia mengerti maksud Charlmilia.
"Aku pikir juga begitu."
__ADS_1
"Lalu bagaimana hasilnya?"
"Tidak bagus. Aku menemukan 14 terowongan, tapi semuanya runtuh dan tak bisa dilewati. Mungkin sengaja dihancurkan untuk mencegah musuh masuk istana. ......jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Entahlah, tapi aku yakin Kuro pasti sudah mempersiapkan sebuah rencana. Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah menunggu dia selesai diintrograsi oleh Laila."
".............."
Meskipun ini bukan saatnya melakukan hal tak penting, tapi mereka tak punya pilihan lain.
"Untuk sementara waktu, kita akan berjaga bergantian, bagaimana?"
"Baiklah, sebaiknya kau istirahat. Kau tak tidur semalaman kan?"
"Ya. Terima kasih, Jinn."
Charlmilia berdiri lalu melangkahkan kakinya ke dalam bangunan dan meninggalkan Jinn di luar sendirian. Sendirian tak terlalu tepat karena Ruby, Shapira dan Laiko sedang tertidur pulas tak jauh dari bangunan itu.
(Kenapa Necromancer itu tak menyerang? Dengan pasukan Necrodra sebanyak itu, dia dapat menghancurkan tempat ini dengan mudah.)
"........."
Jinn melihat ke arah Dragon Grave yang sekarang diselimuti awan gelap.
Sementara itu, di dalam bangunan, Charlmilia merebahkan tubuhnya di kain yang digunakan untuk alas. Ini sangat tak nyaman, tapi dia saat ini tak ada pilihan.
Dia memejamkan matanya dan tidur.
Tak jauh dari Charlmilia, Knox dan Lairo sedang duduk berdekatan untuk membahas apa yang terjadi semalam.
Lairo tak tahu kekuatan Necrodra yang mereka hadapi semalam, jadi dia meminta Knox untuk menjelaskan semuanya.
"Dengan kata lain, jika tak menggunakan zacred magic art, kita tak bisa menghabisi Necrodra."
Knox mengangguk.
Berbeda dengan Lairo yang terlihat dalam masalah, Knox terlihat sangat tenang.
"Ini sungguh merepotkan.." tambah Lairo.
Sacred magic art merupakan serangan terkuat penyihir. Untuk menggunakan itu, penyihir harus menggunakan hampir semua kekuatannya sehingga penyihir hanya bisa menggunakan satu sampai dua kali. Ini situasi yang buruk mengingat jumlah Necrodra yang terlalu banyak.
"Tapi bocah itu berhasil membunuh Necrodra dengan mudah, benarkan?"
Aldest tiba tiba menyambung setelah mendengar diskusi mereka berdua.
Aldest saat ini sedang duduk di dekat satu satunya tempat tidur yang ada di ruangan itu.
Di atas tempat tidur itu Diana terbaring lemah dan tertidur. Seluruh luka dan lebam di tubuhnya sudah hilang berkat sihir penyembuh Aldest. Armor tipis yang rusak dilepas dari tubuhnya dan hanya menyisakan pakaian bagian dalam.
"Dia memenggal naga dengan mudah. Yahh... kurasa itu wajar karena dia bisa menggunakan Accell Art, tapi kita tidak. .....saat ini yang paling bisa diandalkan hanyalah si Brengsek itu."
"Kenapa kau terlihat membenci dia?"
"Lairo, aku tahu kau pasti saat ini sedang merasa senang dan lega karena tahu ayahmu masih hidup. Apalagi kau juga mempunyai pacar yang sexy dan cantik, jadi biar kukatakan satu hal,-"
"........"
"Aku juga benci kau."
"Eh?"
Apakah dirinya membuat kesalahan?
Lairo tak mengerti kenapa Knox membenci dirinya.
Sementara itu, Aldest hanya tersenyum tipis seperti rubah.
"Lupakan apa yang barus saja kukatakan. Yang terpenting saat ini kita harus memikirkan cara untuk menghadapi Necrodra, tapi sayangnya kita kekurangan informasi."
"Kurang informasi?"
Lairo tahu bahwa Knox adalah tipe seorang yang ahli strategi dalam sebuah pertempuran.
"Mengenai itu, akan kita bahas setelah bocah itu kembali. Terus terang aku juga kurang tahu." jawab Aldest.
"Kalau kita pakai strategi sementara saja. Jika Necrodra menyerang, jangan melawam sendirian, bagaimana?"
"Itu bukan ide buruk. Baiklah."
Setelah memutuskan akan yang mereka lakukan saat Necrodra menyerang, mereka semua beristirahat untuk memulihkan tenaga mereka.
3 jam berlalu, matahari sudah mencapai puncaknya di kota Drageass, tapi tak ada perubahan besar yang terjadi.
Tapi-
".........."
Diana perlahan membuka matanya. Pandangannya awalnya sedikit kabur, tapi perlahan semakin jelas.
Hal yang pertama kali dia lihat adalah atap yang hampir hancur.
Dia sedikit terkejut saat menyadari luka di tubuhnya sudah menghilang dan tak merasakan sakit, tapi dia merasakan tubuhnya masih lemas.
"?"
Dia mendengar suara orang tertidur. Diana lalu menoleh ke arah sekitarnya dan menemukan 4 orang sedang tertidur pulas.
Dua orang dewasa yang sepertinya sepasang kekasih sedang tidur berdekatan. Satu orang lelaki tidur tak jauh dari pasangan itu. Yang terakhir dia melihat seorang pemuda yang memiliki dada besar seperti seorang perempuan.
Dia ingat pemuda itu adalah orang yang telah membantu dirinya mengalahkan Necrodra semalam.
(Setelah itu......)
"Ahh.. Tuan Kuro?"
Diana bangkit dari tempat tidur.
Semua yang menyadari teriakan Diana perlahan membuka matanya dan meihat Diana sudah sadar dan panik.
"Tuan Kuro ...dimana kau?"
Diana menoleh ke semua arah untuk mencari Kuro, tapi semua tahu Kuro tak ada di tempat itu.
Charlmilia mendekat untuk mencoba menenangkan Diana.
"Kuro saat ini berada di luar. Aku yakin dia akan segera datang, jadi tenangkan dirimu, Putri Diana. Lukamu belum sembuh benar..."
".........."
Diana sedikit terkejut saat sadar pemuda yang ada di depannya adalah seorang perempuan. Diana juga mengerti jika mereka tahu siapa dirinya, berarti mereka adalah teman Kuro.
"Baiklah.. aku mengerti. Dan terima kasih karena telah menyelamatkanku, .......tapi bisakah kau panggilkan Tuan Kuro?"
"........tentu."
"Terima kasih.. "
Charlmilia keluar untuk memberi tahu Kuro.
Sambil menunggu, dia melirik ketiga orang yang masih berada di tempat itu.
"Etto.... apa hubungan kalian dengan tuan Kuro?"
"Aku hanya teman sekelasnya, namaku Knox Afdoll. Anda bisa memanggilku Knox, putri Diana."
"Namaku Aldest Devilist. Anda dapat memanggilku Aldest. Sedangkan dia adalah Lairo Licrofa. Kami berdua adalah Knight di kota Areshia."
"Salam kenal. Namaku Diana Fisrta Empiora. Putri pertama kerajaan Dragonia. Satu hal yang ingin kutanyakan, Knox bilang kau teman sekelasnya, mungkinkah tuan Kuro bersekolah?"
"...ya. Apakah ada yang aneh dengan itu?"
Diana menggelengkan kepalanya dan hanya tersenyum kecil.
"Tidak."
Diana tak mengatakan apapun setelah itu.
Tak berapa lama, Kuro datang bersama Laila dan Jinn. Sedangkan Charlmilia tak masuk karena harus berjaga di luar.
"Tuan Kuro!!"
Diana berdiri dan memeluk Kuro.
Laila terkejut dan tak sempat bereaksi.
"Diana, lepaskan! Ini memalukan!"
Kuro berusaha melepas Diana sambil melirik Laila yang sudah memancarkan aura tak menyenangkan.
"Baiklah. Tapi-"
Chuu...
Diana mencium Kuro.
Semua orang membeku kecuali Laila yang langsung mengarahkan Scarflare ke leher Diana.
Diana yang menyadari aura membunuh Laila menjauh dari Kuro.
"Aku tak peduli kau seorang putri atau bukan, tapi menjauh dari Kuro. Dia adalah milikku."
Tapi Diana hanya tersenyum kecil meskipun Laila benar benar akan membunuhnya.
Diana langsung bisa menebak hubungan Laila dengan Kuro. Dan tentu saja kenapa Laila marah.
"Ho... apa salahnya mencium tunanganku?"
".......huh?"
Laila tak bisa berkata apa apa, tapi dia melirik Kuro yang sekarang terlihat panik dan membiru.
"Diana, apa kau tahu perkataanmu tadi bisa membuatku terbunuh?"
Dan Kuro benar. Hawa membunuh terpancar dari Jinn dan Knox.
"Lagipula kita tak pernah bertunangan. Apa kau lupa itu?"
"Aku tidak lupa. Aku bahkan ingat saat Tuan Kuro kabur di hari pertunangan kita."
"........."
"Aku benar benar sedih. Apa kau tahu, tuan Kuro?"
Diana menunjukkan kesedihannya. Dia bahkan terlihat hampir menangis.
"Kuroooo... apa maksud semua ini?"
"Aku tahu kau marah, tapi singkirkan Scarflare dari leherku. Itu berbahaya. Lagipula kau dengar sendiri kan, aku kabur di hari pertunangan kami."
"Kenapa?"
"Karena tentu aku tak menginginkannya. Dan seharusnya kau sudah tahu alasannya."
".........."
Laila menyadari bahwa dirinya terlalu berlebihan dalam hal ini.
Tapi mau bagaimana lagi. Saat Kuro bersama dengan wanita lain, Laila langsung merasakan cemburu yang kadang membuat dirinya hilang kendali.
".........."
Laila mencoba untuk tenang dan menghilangkan Scarflare.
"Kau bilang akan bertunangan dengan Kuro, tapi bukankah seorang putri tak boleh menikah dengan orang biasa?"
Laila menanyakan hal yang sudah menjadi sebuah tradisi atau bahkan bisa dibilang aturan untuk kalangan atas.
Laila bisa menikah dengan Kuro karena dia bukan berasal dari keluarga kerajaan seperti Diana.
"Kau tak tahu apapun rupanya, tapi apa hubunganmu dengan tuan Kuro?"
"Perkenalkan, dia Laila. Calon istriku."
Yang menjawab adalah Kuro.
"Oh.. sudah kuduga dia pacarmu, tuan Kuro."
""......eh?""
Laila dan Kuro dibuat bingung oleh reaksi Diana yang terlihat biasa saja.
"Dengar, aku tahu tuan Kuro memiliki kekasih, tapi aku tak keberatan menjadi yang kedua atau yang ketiga."
"AKU YANG KEBERATAN!!" teriak Laila
"Lagipula wajar saja bangsawan seperti tuan Kuro memilki satu atau dua istri."
Saat mendengar itu, semua langsung melirik ke arah Kuro dengan tatapan penasaran.
"Kuro siapa kau sebenarnya?" tanya Jinn.
"Jangan bodoh. Aku memang bangsawan, tapi di kerajaan Dragonia saja."
"Apa maksudmu?"
"Ruby." jawab Diana "Di Dragonia, pangkat dan derajat seseorang ditentukan dari naga yang bersama atau yang ditakhlukannya."
".........."
Laila mempunyai firasat buruk.
"Dengan kata lain, di Dragonia, tuan Kuro secara otomatis adalah seorang bangsawan yang bahkan memiliki hak untuk menikah dengan seorang putri kerajaan seperti diriku. Apa kau mengerti?"
"..............."
Sebuah kabar buruk menghampiri Laila.
Jika yang dikatakan Diana benar, maka Kuro bahkan mempunyai hak untuk menikahi seorang putri dari kerajaan lain, bahkan memilki hak untuk menikahi Riana.
__ADS_1
"Jangan bilang alasan yang sebenarnya Yui tak datang ke Dragonia adalah-"
Kuro hanya tersenyum kecil sebagai dugaan Laila benar.