Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Tribal Begin


__ADS_3

Guila Drysta merupakan penyihir peringkat SS. Dengan kata lain dia adalah pemilik sihir khusus.


Sihir khusus itu disebut Coordinate. Sebuah sihir yang mampu membuat dia bertelportasi kemanapun di seluruh dunia.


Tak seperti teleportasi biasa yang mengharuskan pengguna membayangkan atau sudah pernah ke tempat itu sebelumnya, Coordinate tak terikat dengan aturan itu. Dengan hanya berbekal peta sederhana, dia langsung bisa pergi ke tempat yang ingin dia tuju.


Dengan kemampuan seperti itu, dia menjadi incaran banyak orang yang menginginkan kekuatannya. Tak peduli apakah itu sebuah individu atau organisasi. Tetapi di saat yang sama banyak orang yang menginginkan kematiannya karena takut kekuatan itu jatuh pada tangan yang salah.


Kekuatan Soul miliknya bangkit saat dia masih muda, lebih tepatnya saat berusia 16 tahun. Sejak saat itu dia terus bersembunyi dan lari untuk bertahan hidup.


Dalam hatinya yang terdalam dia sadar terus berlari tak akan menyelesaikan masalah. Dia ingin meminta bantuan pada seseorang yang bisa memberikannya sebuah tempat yang bisa disebut sebagai rumah.


Tetapi pada siapa dia harus meminta tolong?


Saat itulah dia bertemu dengan seorang pemuda dengan rambut dan mata yang hitam kelam. Bisa dibilang pemuda itu sedikit tak biasa. Apalagi dengan aura yang begitu dingin dan tak bisa dimengerti, wajar saja Guila merasa tak nyaman.


"Aku sedang membuat sebuah pasukan khusus. Aku dengar kau memiliki kekuatan yang menarik."


Pemuda itu tanpa mendengar Guila memberikan sebuah Crystal Age. Dia membaca data yang ada dan di saat yang sama dia dibuat terkejut.


Data itu berisi tentang bentukan sebuah pasukan khusus yang terdiri dari kriminal dan penyihir dengan kemampuan unik seperti dirinya. Yang menarik, meskipun disebut pasukan khusus, namun mereka tak diharuskan melakukan pertempuran atau segala hal yang berbentuk konflik.


Mereka adalah sebuah pasukan yang akan aktif sebagai sebuah kartu truf dalam pertempuran besar saat musuh menyerang.


Dia langsung mengerti apa tujuan pemuda itu. Pemuda itu ingin memanfaatkan kekuatannya sama seperti orang lain.


Tanpa pikir panjang dia langsung menggunakan kekuatannya untuk pergi. Dalam sekejap dia langsung berada di belahan dunia lain. Dengan ini, pemuda itu tak akan bisa menemukannya lagi.


Setidaknya itulah yang harusnya terjadi.


"Aku tak menyangka kau akan segera kabur seperti ini. Sepertinya aku dibenci haha."


"!?"


Guila langsung terkejut. Bagaimanapun juga ini adalah suatu kejadian yang mustahil terjadi.


Pemuda itu masih bisa mengikutinya.


"Bagaimana mungkin kau bis.."


Dia tak bisa menyelesaikan kata katanya saat melihat sebuah mata putih yang menatap langsung ke dalam jiwanya. Mata yang begitu kosong, namun bisa menembus apapun.


"Oh.. aku hanya menggunakan salah satu kekuatanku. Yah meskipun ini cukup menguras tenaga, namun aku tak punya pilihan lain kan?"


Dia tak mengerti apa yang dimaksud ' salah satu kekuatan' , tetapi jika benar, bukankah itu artinya pemuda itu tak butuh kekuatannya?


Tetapi pemuda itu dengan cepat mematahkan pemikiran itu.


"Hmm.. jika kau tak percaya denganku, bagaimana kalau kita membuat sebuah kontrak. Lebih tepatnya Blood Contract. Ini akan lebih memudahkan bagi kita."


Sekali lagi Guila dibuat terkejut. Blood Contract merupakan perjanjian sihir yang mengikat nyawa pelakunya. Jika dia melanggar, pemuda itu akan segera mati.


Tak mengerti kenapa pemuda itu berbuat sejauh itu, akhirnya Guila mencoba untuk mempercayainya. Walau itu hanya sesaat.


Lalu setelah mereka membuat kontrak itu, pekerjaan yang pertama dia lakukan adalah...


"Sekarang kau menjadi pelayan di rumahku."


"Huh?"


Inilah awal Guila mengenal siapa sosok Kuro yang sebenarnya. Dan itu adalah awal dari sebuah emosi yang dia sebut sebagai cinta pertamanya.


♦♦♦


"Kenapa kau tertawa?"


"Tidak. Aku hanya ingat saat pertama kali kita bertemu. Saat itu kau sungguh bocah yang lucu."


Perbedaan umur di antara keduanya cukup lebar, yaitu sekitar 6 tahun.


Guila dengan wajah cantik dan pesona yang dewasa bisa dikatakan merupakan salah satu gadis tercantik di kekaisaran saat ini.


"Sudah 4 tahun berlalu sejak saat itu kah."


"Ya. Dan sudah 3 tahun sejak kita memutuskan untuk menghapus sumpah Blood Contract."


"Apa kau menyesalinya?"


"Ah tidak. Aku tak bermaksud seperti itu. Jika dibandingkan dengan kehidupanku yang dulu, saat ini sungguh menyenangkan."


"Kalau begitu syukurlah. Aku senang jika seperti itu."


Selain mengumpulkan para pemilik kekuatan yang berbahaya dan menarik, Kuro juga berpikir untuk membuat mereka memiliki kehidupan yang lebih baik dengan cara menggunakan kekuatan yang mereka miliki dengan cara yang benar.


Sejauh ini semuanya berjalan lancar karena dia memiliki fasilitas dan jaminan dari Sei.


"Aku belum sempat mengucapkan rasa terima kasihku dengan benar. Jadi aku berpikir untuk membalas semua yang kau lakukan dengan sebuah tindakan."


"Kau terlalu berlebihan."


"Tidak. Asal kau tahu, kami semua memiliki perasaan yang sama terhadapmu. Kami ingin berterima kasih dengan cara kami sendiri. Tetapi jujur saja karena kau terlalu sempurna, jadi kami bingung harus berbuat apa."


Guila tertawa kering. Apa yang dia bilang adalah sebuah kenyataan. Jika ada yang bertanya apa yang dibutuhkan Kuro di dunia ini?


Maka semuanya pasti tak bisa menjawab karena Kuro sudah memiliki apa yang dia butuhkan.


"Jika kalian ingin berterima kasih, kalian cukup dengan hidup tenang dan damai. Itu sudah cukup bagiku. Lalu jika kalian butuh bantuan, aku akan dengan senang hati membantu kalian."


"Haa.. apa benar kau ingin kami seperti itu?"


Jika melihat kenyataan, sebenarnya keinginan Kuro sudah tercapai dengan keadaan yang sekarang.


"Ya. Kalian bisa mencari calon suami dan menikah. Lalu kalian membentuk rumah tangga idaman kalian."


".. itu akan menjadi kehidupan yang indah untuk kami. Kalau begitu apakah kau akan menikahi kami semua?"


Kuro sadar semua wanita di rumahnya memiliki perasaan terhadap dirinya. Karena itulah pernyataan Guila sebenarnya bukanlah hal yang baru.


"Aku akan mati jika melakukan itu. Kau tahu, istriku sangat menyeramkan."


"Aku serius, Shiro."


"Aku tahu. Dan aku minta maaf karena tak bisa melakukan itu."


Guila tak terkejut dengan jawaban yang dia terima. Dia mengerti Kuro hanya mencintai satu orang. Dia dan semua temannya juga sadar mengambil hati Kuro adalah sebuah tindakan yang bisa dikatakan mustahil.


Tetapi di saat yang sama, mereka tak bisa begitu saja menyerah dan memilih untuk memulai hidup baru.


Kekuatan yang mereka miliki adalah salah satu kenapa mereka sulit menjalani kehidupan normal. Satu satunya orang yang bisa mengerti keadaan mereka hanyalah Kuro. Karena itulah saat yang paling membahagiakan adalah saat di sisi Kuro seperti sekarang ini.


Ini mungkin sebuah tindakan yang salah, tetapi itu sudah cukup bagi mereka.


"Tidak apa apa. Selama kau tak membenci kami, kami akan selalu bahagia."


"Terima kasih."


Guila tersenyum senang. Dia mengerti perasaan yang ingin dia sampaikan sampai pada Kuro.


"Jadi... Apakah ini tempat yang ingin kita tuju? Di sini tak ada apapun?"


Guila mengembalikan mereka pada topik utama dan masalah mereka yang sekarang.


Ini adalah hari ketiga mereka pergi ke berbagai tempat di seluruh penjuru dunia untuk mencari sebuah tempat yang hanya diketahui oleh Kuro.


Karena penggunaan Coordinate hanya bisa digunakan 5 kali dalam satu hari, mereka harus menunggu hari selanjutnya untuk pergi ke tempat yang dituju, tetapi pada hari ketiga dan perpindahan yang ke 14 menunjukan hasil nihil.


"...Tidak. Meskipun di sini hanyalah sebuah danau kosong di tengah pegunungan, namun aku bisa merasakan kalau belum lama ini 'tempat itu' muncul di sini. Jika benar, aku bisa melihat ke mana 'tempat itu' sekarang."


Danau yang jernih dengan air yang begitu tenang. Tempat itu bagaikan surga di tengah hutan pegunungan yang lebat. Karena manusia belum menjamah tempat itu, tempat itu masih perawan.


"Kau bilang 'tempat itu' bisa berpindah pindah, tetapi apa yang sebenarnya kau maksud dengan 'tempat itu'? Apakah itu benar benar sebuah tempat?"


Guila tak pernah menanyakan hal itu dengan serius sebelumnya. Dia hanya menuruti keinginan Kuro tanpa tahu kemana dan kenapa mereka pergi. Inilah salah satu bukti kepercayaannya.


"Tentu saja." Jawab Kuro dengan santai. "Dan seperti yang aku bilang sebelumnya, tempat itu spesial karena bisa berpindah tempat."


"Lalu?"


"Tempat itu memiliki suatu yang aku butuhkan."


Guila mendesah berat.


"Kau tahu, saat kau mengatakan hal yang tak secara langsung, itu sungguh menyebalkan. Jangan pikir semua orang akan menerima begitu saja jawabanmu itu."


Kuro tertawa kering. Dia lalu mengambil sebuah peta dari tas kecil yang dia bawa.


"Aku akan menjelaskannya saat kita sampai di sana. Jujur saja kita tak memiliki banyak waktu."


Guila menghela nafas panjang karena sadar percuma saja bertanya lebih lanjut jika Kuro seperti ini.


Sementara itu, Kuro sedang melihat peta yang menunjukan negara lain yang terletak cukup jauh dari tempat mereka.


"Uh..tunggu, aku sepertinya tahu kita akan kemana selanjutnya."


Peta yang ditujukan Kuro menunjukan tempat yang tak bagus untuk dikunjungi.


"Tepat sekali."


♦♦♦


"Sial. Aku tak menyangka 'tempat itu' berada di sana."


Kuro jengkel dengan apa yang dia lihat. Sedangkan Guila lebih terlihat heran karena tak mengerti apa yang dimaksud Kuro.


"Aku tak melihat 'tempat' yang kau maksud, tetapi aku bisa melihat tempat tinggal para Dwarf dari sini."


Setelah menggunakan Coordinate untuk berpindah tempat, mereka tiba di sebuah lembah pegunungan yang tandus. Tempat itu lebih mirip menyerupai grand canyon yang tanpa kehidupan.


Bagi manusia tempat itu juga disebut sebagai lembah kematian karena tingkat bahaya yang tinggi oleh monster ganas seperti Dragonworm.


Tetapi hal ini tak berlaku pada bangsa lain seperti bangsa Dwarf. Tempat ini merupakan surga bagi mereka dan menjadi salah satu tempat tinggal bangsa Dwarf.


Meskipun manusia beranggap bangsa Dwarf adalah bangsa yang hampir punah, namun tempat ini memutarbalikkan anggapan itu.


Mereka adalah bangsa yang tak akur dengan bangsa lain. Jadi mereka memilih untuk memisahkan diri dari bangsa lain.


Dari tempat mereka, keduanya bisa melihat sebuah gerbang besar yang berdiri kokoh di sisi gunung. Dari jauh sudah terlihat kalau gerbang itu dibangun oleh pengrajin yang handal dan terbaik. Lalu di sisi gerbang terdapat patung bangsa Dwarf yang terlihat perkasa dengan tubuh besar dan kekar meskipun lebih pendek dari manusia.


"Aku tak tahu kau mengetahui hal seperti ini."


"Jangan remehkan kekuatan seorang yang bisa berpergian ke seluruh dunia. Yah.. meskipun aku belum memasuki tempat itu secara langsung."


Kuro tersenyum kecil.


"Jangan kawatir. Tujuan kita bukanlah tempat itu, namun di atas sana."


Kuro menunjuk puncak gunung yang menembus awan.


".... Aku tahu apa yang kau pikirkan. Dengan kekuatanku kita bisa sampai di puncak dengan cepat, tetapi kekuatanku sudah mencapai batasnya."


Guila sudah tak bisa menggunakan Coordinate lagi. Jika mereka sekali lagi salah atau tak menemukan apa yang mereka cari, mereka harus menunggu sampai besok.


Hutan lebat masih mending daripada tempat mereka saat ini.


(Sudah aku duga ini tak bagus saat dia menunjukan tempat ini)


Guila hanya bisa mendesah lagi.


"Aku tak bilang akan menggunakan kekuatanmu untuk sampai di sana. Lagipula meskipun kau bisa menggunakan Coordinate, kau tak akan pernah bisa sampai di sana."

__ADS_1


Mengingat sifat Kuro yang memberitahu tanpa alasan yang jelas, maka..


"Apakah karena di sana ada 'tempat itu'?"


Kuro mengangguk.


"Tempat itu memiliki perisai yang membuat tak sembarangan orang bisa melihatnya. Dengan kata lain, meskipun kau sampai ke puncak dengan kekuatanmu, kau tak akan bisa melihatnya atau menemukan tempat itu."


"Baiklah. Aku mengerti. Lalu bagaimana kita ke sana? Kau tak serius ingin mendakinya kan?"


"Kita tak punya pilihan lain. Aku sarankan kau tetap di sini dan menungguku."


Kuro bukannya kawatir Guila tak akan mampu mendaki gunung itu, namun karena penggunaan Coordinate telah menguras energi sihirnya, dia tak bisa bertarung jika ada bahaya muncul.


"Tidak. Aku ikut denganmu."


Kuro tak terkejut dengan keputusan Guila. Dan karena tak ada alasan menolak, maka dia setuju.


Dengan keputusan yang telah dibuat, Kuro menggunakan Ki untuk menendang udara dan terus melompat untuk mencapai puncak gunung. Cara ini digunakan karena lebih cepat jika dibandingkan dengan mendaki seperti biasa.


Alasan lain kenapa Kuro melakukan ini, itu karena dia tak memiliki banyak waktu.


Sementara itu, Guila juga menggunakan cara yang hampir sama. Dengan memadatkan mana, dia menggunakannya sebagai pijakan untuk melompat ke atas. Tetapi berbeda dengan Kuro, dia tak terlalu biasa menggunakan cara ini sehingga dia harus berhati hati. Itu juga yang membuat dia lebih lambat.


Kemudian, setelah 4 jam lebih mereka terus melompat, akhirnya mereka sampai. Sebenarnya Kuro bisa lebih cepat, namun dia menunggu Guila agar tak tertinggal.


"Ha.. lain kali aku akan menunggumu saja. Tetapi di sini benar benar sulit bernafas."


Selain rasa lelah, hal ini juga disebabkan oleh kurangnya kadar oksigen di tempat tinggi.


Tetapi rasa lelah itu langsung menghilang saat Guila melihat pemandangan yang ada di depannya.


"Ini luar biasa."


Dia awalnya berpikir di puncak gunung yang tandus tak ada apapun, namun kenyataan berkata lain.


Sebuah danau dengan permukaan air yang begitu tenang dan dingin. Meskipun terhalang oleh embun, namun dia bisa melihat keindahannya dengan jelas.


"Hm?"


Di saat itulah dia menyadari suatu.


"Aku mulai sadar kalau tempat yang kita kunjungi merupakan tempat yang indah."


14 tempat yang mereka kunjungi memiliki keindahan alam yang luar biasa. Karena ini suatu yang luar biasa, Guila sama sekali tak menyadarinya.


"Tetapi apakah ini tempat yang kau maksud?"


Tanpa menjawab, Kuro melangkahkan kakinya.


Guila mengikutinya.


"Bukan. Tempat itu bukanlah danau yang ada di sini."


Lalu apa? Saat ingin menanyakan itu, Kuro melompat ke atas dan dengan menendang udara, dia menuju ke atas tengah danau.


Guila tak mengerti kenapa Kuro melakukan itu, namun di saat itulah Kuro tiba tiba menghilang lenyap tanpa sisa.


"...Shiro."


Guila mengedipkan matanya dua kali karena tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia kemudian memanggil Kuro beberapa kali, namun tak ada respon.


"...aku tak punya pilihan lain..."


Energi sihirnya sudah berkurang banyak karena menggunakan Coordinate ditambah menggunakan mana untuk pijakan naik gunung. Saat ini dia sudah hampir mencapai batasnya.


Meskipun begitu, dia tetap akan melakukannya.


Dia lalu melompat dan menggunakan mana sebagai pijakan untuk melompat ke tempat yang sama dengan Kuro.


Di saat itulah dia merasakan dirinya menembus sesuatu yang tipis.


"..!?"


Kemudian, pemandangan yang ada di depannya berubah total menjadi sebuah istana megah yang terbuat dari kristal transparan yang begitu indah.


Dia langsung mendarat di lantai yang mengkilap bagai cermin.


"Apa apaan ini..?."


Selain kagum, Guila juga terkejut karena baru pertama kali melihat tempat yang begitu luar biasa. Jika tempat itu benar benar ada, pasti sudah ada semacam legenda atau rumor, tetapi dia sama sekali tak pernah mendengar kalau ada sebuah istana yang begitu luar biasa.


(Berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk membangun semua ini?)


Meskipun apa yang muncul di pikirannya termasuk suatu yang bodoh, namun itu suatu yang normal saat membayangkan siapa dan bagaimana istana kristal itu dibuat.


Selain bahan kualitas nomor satu, Guila juga merasakan energi sihir dari kristal itu. Dengan kata lain, semua kristal itu bukanlah kristal biasa.


"Ah.. ini bukan saatnya memikirkan hal aneh. Aku harus menemukan Shiro"


Dia langsung saja menelusuri lorong indah yang memanjakan mata. Meskipun dia tahu bisa tersesat, namun dia sama sekali tak ragu.


Lalu setelah sekitar setengah jam mencari, dia akhirnya mendapatkan sebuah petunjuk, yaitu sebuah suara pertarungan.


Dengan cepat dia menuju ke sana. Dan dia memang menemukan apa yang dia cari.


"Shiro..."


Dengan senang Guila ingin memeluk Kuro, tetapi Kuro menunjukan wajah yang begitu serius.


"Bodoh, jangan kemari!!"


Tak mengerti apa yang dimaksud, tiba tiba sosok naga kristal menerjang Kuro. Kuro terdorong hingga puluhan meter karena kalah kekuatan.


Guila tak bergerak karena terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, tetapi dengan cepat dia mengerti semuanya.


Kuro saat ini sedang bertarung. Dan dari yang terlihat, itu bukanlah lawan yang mudah.


"Itu ide buruk."


Kuro mendorong naga itu dan menjaga jarak. kemudian dia mendekati Guila dengan posisi bersiap jika ada serangan datang.


"K-kenapa kau melarangku membantumu?"


"Jujur saja kau hanya akan mengganggu. Lagipula naga itu bukanlah naga normal yang bisa kau kalahkan dengan mudah."


Naga kristal meraung keras hingga memecahkan telinga. Lalu naga itu menyerang dengan semburan kristal.


Dengan kelincahannya, Kuro berhasil menghindar sambil menggendong Guila. Ini tindakan yang sulit karena dia membawa dua pedang.


"Aku baru melihat naga seperti itu."


Karena Guila mengenal baik Kuro, maka dia cukup sering melihat naga yang bersama Kuro. Naga bukanlah hal yang aneh baginya, tetapi kini dia harus benar benar mengakui kalau naga yang Kuro lawan bukanlah naga biasa.


"Yah.. ini mungkin pertama kalinya kau melihat golem naga."


"Golem?"


"Mudahnya naga itu semacam penjaga di tempat ini. Biasanya penjaga tempat ini tak akan menyerangku, namun kali ini berbeda. Tch!! Aku tak tahu apa yang dia pikirkan."


Guila tak terlalu mengerti apa yang dimaksud Kuro, namun dia tahu satu hal. Ini bukan pertama kalinya Kuro pergi ke istana ini. Dan jika apa yang dikatakan Kuro benar, Kuro yang biasanya menjadi tamu sekarang dianggap pengganggu atau tamu tak diundang.


"Apa kau bisa mengalahkan golem itu?"


"Itu tak akan mudah. Bagaimanapun juga itu golem yang dibuat oleh Dragon God. Selain itu, golem itu bukan satu satunya."


Golem yang dibuat oleh Dragon God, dengan kata lain Dragon King. Guila mulai paham kalau tempat ini memiliki hubungan dengan status Kuro sebagai King.


Jika benar, maka itu menjelaskan kenapa Kuro banyak tahu dan bisa menemukan tempat ini dengan mudah.


"Jadi apa yang akan kita lakukan?"


Kuro cemberut.


"Bukan kita, namun aku. Kekuatan golem naga itu cukup untuk menghanguskan sebuah kota dalam beberapa menit saja. Itu bukan lawan yang bisa kau hadapi dengan kekuatanmu yang sekarang."


Meskipun Coordinate begitu luar biasa, namun Guila lemah dalam sihir tipe serangan. Kemampuannya bahkan tak lebih kuat dari level penyihir peringkat A.


Jika melihat golem yang begitu luar biasa, dia tak bisa membantu banyak.


Benar. Seperti yang Kuro bilang, dia hanya hambatan.


"..."


"Untuk sekarang kau menjauhlah. Aku mengerti kau ingin membantu, namun aku sudah sering bilang membantu pertarungan bukan hanya satu satunya cara."


Perkataan Kuro telah menyadarkan kembali Guila. Dia sadar apa yang dikatakan Kuro sangatlah tepat.


Setelah Kuro menaruh Guila di tempat yang cukup aman, dia kembali menghadapi golem naga yang sudah tak sabar menyerangnya.


"Ini akan menjadi sulit. Aku pikir ini saat yang tepat untuk menggunakan itu."


Kuro mengganti pedang putihnya dengan pedang hitam berpola putih yang dibuat oleh Fila. Sedangkan tangan yang satunya memegang Lic.


Dia langsung melesat menuju arah golem naga dan gelombang kejut langsung terjadi saat keduanya saling beradu.


Golem naga yang Kuro lawan terbuat dari kristal dewa yang memiliki kekuatan dan konduktivitas terhadap sihir yang luar biasa. Dengan bahan seperti itu, sihir dan kekuatan golem naga itu sangat merusak.


Yang menarik, meskipun kekuatan golem naga itu begitu luar biasa, istana kristal sama sekali tak menerima kerusakan seolah serangan itu hanyalah mainan.


"Tch!!"


Kuro yang spesialis dalam kecepatan sanggup mendaratkan serangan beberapa kali pada tubuh golem naga, tetapi serangan itu tak memberikan dampak berarti. Kemudian, gerakan golem naga yang cukup lincah dan cepat membuat Kuro sulit untuk menyerang bagian vital.


Untuk mengalahkan golem naga itu, Kuro harus menghancurkan bagian inti yang menjadi pusatnya. Dengan matanya, Eyes of Origin menemukan hal itu tidaklah sulit.


Yang menjadi masalah, golem itu cukup cerdas untuk tahu kalau Kuro mengincar bagian inti.


Tak punya pilihan lain, Kuro akan bertarung dengan menggunakan semua kekuatannya.


Dia menyalurkan Ki pada Lic, dan memotong bagian tubuh golem naga dengan mudah. Meskipun terbuat dari kristal dewa, namun itu tak akan ada apa apanya di mata Lic.


Golem naga itu kemudian menyerang balik dengan semburan kristal yang sanggup menghancurkan manusia menjadi daging cincang dalam sekejap mata. Tak seperti sebelumnya, Kuro dengan mudahnya menghindar dan menebas bagian kristal yang datang.


Kuro maju dan bersiap menebas kepala golem naga. Meskipun dia melakukan hal itu, dia tahu tak akan menghancurkan golem naga, tetapi itu bisa memperlambat serangan golem.


"!?"


Setidaknya itulah yang dia harapkan. Kenyataan berkata lain saat golem naga berhasil menghindar dan membuat serangan Kuro tak terlalu dalam.


Kuro menyipitkan matanya. Dia mengerti apa yang baru saja terjadi tidaklah normal. Dia sudah memperhitungkan waktu serangannya sehingga kepala golem naga itu pasti akan terpenggal.


Lalu ditambah dengan pengetahuannya tentang kekuatan golem naga itu, mereka sebenarnya bukanlah lawan yang sulit bagi Kuro selama dia memiliki Lic.


Dengan semua itu, hanya ada satu alasan kenapa golem naga itu berhasil menghindar.


"Cryst, aku tahu kau mengawasiku saat tiba di sini. ....sepertinya kau sangat ingin sekali bertemu denganku sehingga menyambutku dengan sangat meriah."


Kuro tersenyum, namun itu bukan senyuman yang baik.


Semua orang tahu kalau saat ini Kuro sedang marah atau hatinya tak senang.


"Jika tak mau bicara, aku akan menggunakan Authority-ku untuk bertemu denganmu secara langsung. Lalu setelah itu kita akan membicarakan banyak secara tatap muka, bagaimana?"


Gelombang kejut yang luar biasa keluar dari tubuh Kuro. Lantai kristal yang begitu kuat langsung hancur dan begitu pula golem naga yang dia lawan.


Kemudian, pedang Kuro memancarkan cahaya hitam dan putih. Lalu cahaya menyatu menjadi cahaya abu abu yang begitu kuat dan menakutkan. Cahaya itu memancarkan gelombang kejut seperti aliran listrik, di saat yang sama benda yang menyentuh itu langsung musnah tanpa sisa.


"Cryst!!!"

__ADS_1


Dengan pedangnya, dia bersiap menebas apapun yang didepannya.


Tetapi di saat itulah...


[Aku tahu, aku akan datang!!]


Sosok naga kristal sebesar 25 meter muncul di depan Kuro. Ya, dia adalah salah satu Dragon King seperti Ruby.


Meskipun Cryst adalah Dragon King yang sosoknya dipenuhi oleh kristal, namun dia adalah Dragon King yang mewakili elemen es.


[King, aku tahu kau marah. Tapi jangan gunakan keku-]


Sebuah tebasan melewatinya. Dan kemudian dia bisa mendengar suara ledakan keras dari bagian istana kristal di belakangnya. Dia bisa merasakan kerusakan tak hanya terjadi di bagian yang terkena tebasan, namun menembus beberapa bagian yang seharusnya tak bisa ditembus.


Cryst mengerti. Saat ini dia telah membuat marah orang yang salah.


[Aku mengerti. Aku meminta maaf karena membuat golem itu menyerangmu dan menghalangimu, tapi aku tak punya pilihan lain. Tolong jangan arahkan pedang itu, kau tahu itu bisa membunuhku kan?]


Saat ini Dragon King yang dikatakan sebagai makhluk terkuat di dunia bertingkah seperti anak anjing yang memohon. Dia tak punya pilihan lain.


"Tch!! Sepertinya kau tak mengerti kenapa aku marah? Kau sama sekali tak bertindak seperti dewa."


[Aku tahu. Tapi dengarkan dulu penjelasanku kenapa aku melakukannya. Bagaimanapun juga ini adalah perintah dari ibu.]


Mata Kuro terangkat saat mendengar itu. Ibu, dengan kata lain Solaris.


Jika seperti itu, dia tak bisa menyalahkan Cryst.


Kuro menghela nafas dan kemudian membatalkan kekuatan yang dia gunakan untuk mengancam Cryst.


Orang orang mungkin mendengar kalau Demon King Shiroyasha memiliki kekuatan setara 72 Paladin. Itu benar, namun di saat yang sama juga salah.


72 adalah angka jumlah kekuatan Authority yang bisa digunakan oleh Shiroyasha. Di antara 72 kekuatan itu, ada kekuatan yang sanggup mengalahkan Dragon King dengan mudah, atau jika mau bisa menghancurkan mereka dengan mudah.


Alasan kenapa Kuro saat ini tanpa ragu menggunakan kekuatan itu karena selain marah, dia merasa dipersulit oleh tindakan Cryst.


"Cepat katakan. Saat ini aku tak ingin bermain main. Kau tahu sendiri aku tak memiliki waktu untuk itu. Hanya saja aku sungguh terkejut saat aku datang dengan niat meminta bantuan, tapi kau malah menghindar. Jika penjelasanmu tak memuaskanku, aku akan menghancurkan tempat ini tanpa sisa."


Kuro tersenyum, namun matanya tidak.


"Dengan begitu kurasa kalian akan mengerti apa jadinya jika membuat seorang Ayah marah demi anaknya." Lanjut Kuro.


Cryst langsung pucat pasi. Dia tahu saat ini Kuro serius ingin menghancurkan tempat itu.


Meskipun hubungan Kuro dan Dragon King termasuk hubungan yang spesial, namun bukan berarti mereka adalah pihak yang selalu menjadi kawan. Dalam hal ini, Kuro marah karena merasa diperlakukan sebagai orang asing dan dijauhi saat meminta bantuan.


[Aku mengerti. Tapi tolong jangan hancurkan tempat ini. Bagaimanapun juga kau tahu ini adalah tempat untuk memilih calon Queen.]


"Aku tak peduli dengan semua itu. Bagaimanapun juga itu sudah cerita lama. Sekarang apa yang ingin kau katakan."


Kemudian, Cryst menjelaskan kenapa dia mempersulit Kuro.


Beberapa minggu yang lalu Cryst menerima pesan dari Solaris.


Pesan itu mengatakan kalau dalam waktu dekat Kuro akan menemuinya untuk meminta bantuan sebuah benda yang bisa menyegel kekuatan dewa Riku.


Solaris tak ingin hal ini terjadi, jadi dia memerintahkan Cryst untuk menghindar dari Kuro dan melakukan apapun untuk mencegah Kuro bertemu dengannya.


"Aku mengerti kenapa sulit sekali menemukan tempat ini. Jadi seperti itu kah..."


Cryst mengangguk karena tak bisa membantah. Alasan kenapa Kuro sering kali salah tempat bukan karena dia salah perhitungan, namun istana itu lari darinya.


"Lalu kau tahu kenapa Solaris memerintahkan hal seperti itu?"


[Tentu tidak. Aku juga heran kenapa dia memerintahkan hal itu, namun dia tak menjawab pertanyaanku]


Kuro lalu kembali dalam lamunannya. Dia memikirkan kembali semua yang terjadi dan mencoba mencari tahu kenapa hal ini terjadi.


Jika alasan kenapa Solaris tak ingin kekuatan dewa Riku tersegel karena Solaris menyayanginya, itu alasan yang terlalu sepele.


[Tapi aku sudah menduga percuma saja kabur darimu, jadi aku menyiapkan hambatan spesial untukmu. Yah, meskipun itu akan percuma jika kau benar benar serius.]


Itu adalah kenyataan.


"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?"


[Apa maksudmu?]


"Jika kau tahu apa tujuanku datang menemuimu, bukankah kau tahu apa yang aku minta?"


[Aku tahu itu, dan karena itulah aku juga berpikir kalau apa yang kau minta itu terlalu berlebihan. Jika kau tetap menggunakan itu pada putramu, itu artinya kau telah merenggut semua masa depannya. Ini bukanlah tindakan seorang ayah pada anaknya, namun lebih mirip tindakan seorang iblis.]


"Bisakah kau diam. Aku tahu apa yang aku lakukan ini salah, tapi kau salah jika kau menyebut diriku merenggut masa depannya. Justru karena aku ingin dia memiliki masa depan yang cerah, aku melakukan ini. Kalian memang Dragon King, namun kalian tak pernah menjadi orang tua. Kalian tak mengerti apa yang aku rasakan ini."


[...]


Cryst dibuat bungkam. Dia tahu apa yang dilakukan Kuro tindakan kejam, namun dia tahu kalau Kuro juga sadar apa yang dia perbuat bukanlah tindakan yang tepat.


Tetapi Kuro tak akan melakukan sejauh itu kecuali ini satu satunya jalan terakhir.


Lalu jika melihat jenis segel yang digunakan pada Riku, Cryst sadar masalah Riku lebih besar daripada yang terlihat.


[Baiklah. Aku akan memberikannya.]


"Terima-"


[Aku belum selesai. Karena ini juga perintah ibu, aku tak bisa langsung memberikannya. Tetapi kau tahu kan, kami memiliki aturan di mana harus memberikan sesuatu jika orang itu memenuhi syarat tak peduli dia jahat atau tidak. Dengan kata lain..]


"Aku harus mengikuti ujian sialan itu kah..."


[Benar. Dan maaf saja, aku akan meningkatkan kesulitannya. Semoga beruntung.]


Tanpa banyak kata, sosok Cryst menghilang. Sejak awal itu memang bukan tubuh aslinya, jadi dia bisa dengan mudah datang dan pergi.


Sementara itu, Kuro mulai bersiap dengan ujian yang akan dia lakukan. Jujur saja jika dalam kondisi normal, dia akan bisa melakukannya dengan mudah karena dia sering melakukan hal itu.


Tetapi karena Solaris ujian yang dia lalui akan berbeda dari biasanya.


"Ini akan berat. Guila, apa kau mendengarku?"


Saat menoleh ke arah Guila, Kuro dikejutkan oleh pemandangan yang tak dia duga. Guila tersungkur dengan air mata menetes. Tapi yang lebih membuatnya terkejut adalah adanya cairan yang membasahi Guila di bagian bawah.


Dengan semua petunjuk itu, Kuro tak perlu banyak berpikir untuk tahu.


"Ah.. maaf.. seharusnya aku sadar di dunia ini tak ada yang bisa menahan kekuatanku saat aku sedang serius."


"..."


Wajah Guila memerah karena malu bercampur marah. Normalnya orang akan pingsan atau terkejut dengan apa yang terjadi, namun tampaknya Guila mampu bertahan dari semua itu.


Tetapi bukan saatnya memikirkan itu. Ada masalah yang lebih penting yang harus dia pikirkan.


(Aku ingat tempat ini tak ada kamar mandi. Apakah aku harus meminta Cryst untuk membuatkannya satu?)


♦♦♦


Di kota Areshia, saat ini kota sedang ramai oleh dimulainya acara tahunan untuk memilih peserta yang akan mengikuti Battle War nanti.


Pemilihan dan juga sekaligus ujian ini menjadi tontonan yang cukup dinantikan oleh warga kota karena hanya pada saat seperti ini mereka bisa melihat pertarungan antara murid sekolah sihir.


Format ujian Trivia Battle adalah pasangan lawan pasangan lain yang terbagi dalam tiga grub yang persertanya akan diacak. Dengan kata lain, belum tentu kelas satu akan melawan kelas satu, namun juga bisa melawan kelas dua dan tiga.


Pemenang dari setiap grub inilah yang akan menjadi perwakilan Kuryuu Academy di Battle War nanti.


Lalu dengan jumlah murid yang terbilang cukup banyak, jika pasangan ingin menang dan menjadi perwakilan sekolah, mereka setidaknya harus bertarung sebanyak lima kali.


Lokasi ujian terletak di luar kota, lebih tepatnya dekat danau Limph dan hutan Aldea. Arena pertempuran dibangun cukup luas dengan sihir, begitu pula dengan kursi penonton bagi ingin yang melihat pertarungan.


Untuk keamanan, di setiap tempat penonton dipasang sebuah perisai yang cukup kuat untuk menahan serangan semburan naga. Lalu ditambah dengan Knight yang berjaga jaga jika ada suatu yang tak diinginkan terjadi.


Mengingat jumlah pertarungan, ujian ini akan memakan waktu satu minggu ditambah dengan festival yang diadakan oleh penguasa kota Areshia.


Hari ini, ujian pertama dilakukan. Masing masing grub memiliki tempat pertarungan sendiri, jadi penonton harus bisa memilih siapa yang ingin mereka lihat.


Laila masuk dalam grub A dan akan bertanding pada giliran ke empat. Dari pengacakan yang akan menjadi lawannya adalah pasangan kelas 3-4 dengan peringkat untuk pasangan A, dan peringkat setiap penyihir adalah A. Dan keduanya adalah tipe Contractor.


Jika dilihat dari jumlah dan pengalaman, lawan Laila lebih unggul. Dengan dua tipe Contractor yang menjadi pasangan, dengan kata lain Laila dan Kuro akan berhadapan dengan 4 musuh.


Tetapi jika memperhitungkan lawan yang pernah keduanya hadapi sebelumnya, murid sekolah sihir kelas 3 tak ada apa apanya jika dibandingkan dengan Maria yang dikatakan sebagai Paladin terkuat.


Sayangnya, karena informasi detail pertarungan di Dragonia dan ibukota dirahasiakan, maka tak ada yang tahu apa yang pernah Laila lalui.


Dengan semua itu, tak mengherankan jika tak banyak yang memfavoritkan Laila dan Kuro. Tetapi Laila populer karena dia adalah putri Paladin yang begitu cantik (meskipun sudah memiliki anak).


Tetapi mengesampingkan masalah itu, kini ada masalah yang lebih besar.


"Kuro belum kelihatan. Apakah dia bisa datang tepat waktu?"


Di kursi penonton, Charlmilia melihat jalannya pertarungan yang akan segera dimulai.


Karena dia berada di grub B dan giliran bertarungnya sudah selesai dari tadi dengan kemenangan mudah, maka saat ini dia menghabiskan waktu dengan melihat pertarungan lain.


"Aku yakin Kuro akan datang."


Di sampingnya, Fila mengatakan suatu yang seolah akan terjadi.


Meskipun begitu, waktu dimulainya pertarungan hampir tiba, Kuro masih belum muncul juga.


Dalam ujian ini memiliki aturan. Salah satunya adalah ketidakhadiran pasangan yang akan bertarung. Selain nilai minus, mereka juga akan mendapatkan hukuman dari sekolah. Dan yang paling penting adalah tercoretnya mereka dari daftar calon peserta Battle War.


"Ya kau benar. Dia akan datang."


Keyakinan mereka tak pernah mengecewakan mereka sebelumnya. Dan begitu pula keyakinan pada Kuro.


Hitungan mundur terus berjalan. Lalu tinggal satu menit pertarungan akan dimulai, tetapi Kuro masih belum muncul.


Lawan Laila dan Kuro yang melihat kejadian ini tersenyum senang karena mereka merasa akan menang dengan mudah dan tanpa bertarung. Sementara itu, Laila hanya terdiam di tempat tanpa melakukan apapun seolah menunggu seseorang.


Lalu, hitungan mundur kurang dari 10 detik. Di saat itulah lingkaran sihir muncul di dekat Laila. Tak berapa lama kemudian, sosok Kuro dan Guila muncul di dekat Laila dengan kondisi pakaian Guila compang camping seperti terkena sesuatu.


"Aku sudah lama menunggumu. Apa kau mendapatkan apa yang kita butuhkan."


Kuro tersenyum dengan pertanyaan itu.


"Begitulah."


Kuro menunjukan dua lonceng yang dia bawa. Sekilas itu tak jauh berbeda dengan lonceng yang dulu dia berikan pada Laila, tetapi Kuro dan Laila bisa merasakan ada yang berbeda dari lonceng itu.


"Terima kasih. Tapi ngomong ngomong apa yang terjadi padanya?"


Laila melirik Guila yang saat ini mulai menjauh.


"Aku tak melakukan apapun padanya. Percayalah padaku."


Laila mendesah.


"Sepertinya kau memiliki banyak cerita yang harus kau ceritakan padaku. Semuanya, kau mengerti?"


"T-tentu.."


Keduanya lalu fokus pada pertarungan yang akan segera dimulai.


Mungkin karena penonton terkejut dengan apa yang terjadi, hitungan mundur yang harusnya dimulai tak jadi dimulai.


Lalu meskipun dibilang pertarungan, pertarungan dalam ujian ini mengharuskan setiap pasangan untuk melindungi kristal dan menghancurkan kristal lawan.


Setiap pasangan harus membuat keputusan apakah meninggalkan kristal atau membiarkan salah satu menyerang. Tindakan dalam mengambil keputusan inilah yang menjadi inti ujian kali ini.


Dan tentu saja yang kedua adalah kekuatan.

__ADS_1


"Sacred Magic Art [Meteor Cannon Blade]"


Pertarungan dimulai, dan di saat itupula berakhir.


__ADS_2