
"Jangan bohong!!! Honda tak mungkin melakukan itu!!!"
Fila ingat betul siapa sosok yang menjadi pelayan keluarganya itu. Tak hanya lemah lembut dan memiliki rasa pengabdian yang besar, dia juga adalah salah satu orang yang tak pernah melihat Fila sebagai sosok monster.
Tak hanya Fila, ayah dan ibunya juga begitu mempercayai Honda. Sulit dipercaya orang seperti itu terlibat dalam kasus kematian ibu Fila.
Tetapi Kuro hanya terdiam membisu tanpa menunjukkan tanda kebohongan.
Mengingat siapa Kuro, seorang mantan Shadow Knight dan hubungannya dengan kaisar Sei, maka apa yang dia katakan tak mungkin salah.
Sadar akan hal itu, air mata langsung menetes dari mata Fila. Dia bingung dan seluruh emosinya bercampur aduk hingga dia sendiri tak tahu apa yang dia rasakan saat ini.
Apakah dia harus marah atau benci pada Honda?
"Semua orang memiliki sisi gelap yang tak ingin mereka tunjukkan pada orang lain. Meskipun itu pada orang paling dekat dengan mereka. Kau paling mengerti masalah ini."
"...apa kau ingin bilang Honda sudah lama merencanakan hal itu?"
"Entahlah... Tapi apakah itu pertanyaan yang harus kau tanyakan? Bukankah kau sama sekali tak mengenal dia?"
"!?"
Kuro tersenyum, sementara itu Fila tersentak karena sadar apa yang dikatakan Kuro tepat sasaran.
Meskipun dia mengenal sosok Honda yang begitu baik, apakah itu adalah sosok aslinya?
Bagaimana jika semua itu hanyalah sosok palsu yang ingin Honda perlihatkan untuk mendapatkan kepercayaan dari keluarga Fila?
Apakah yang dia tahu tentang Honda semuanya itu benar?
"Sekarang yang terpenting, setelah kau mengetahui hal ini, apa yang kau rasakan karena tahu telah membunuh Honda? Apa kau senang karena berhasil membunuh pelaku dan bukan orang baik yang selama ini kau pikirkan?"
"..."
"Dan karena Airs adalah salah satu keluarganya, bukanlah dia pantas mendapatkan hukuman yang sama? Sekarang dia tak berdaya, kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Daripada bersembunyi di sini, bukankah lebih baik membalaskan semua yang dia lakukan padamu?"
"..."
Perkataan Kuro bagaikan bisikan iblis yang menyeret seseorang ke dalam kegelapan. Dia mengulurkan tangannya untuk mengajak Fila melakukan hal yang pantas sebagai seorang korban.
(Benar. Jika dipikirkan kembali, keluargaku adalah korban. Kenapa aku harus bersembunyi hanya karena dunia menyebutku monster?)
Jika dipikirkan kembali, apa yang dia lakukan adalah suatu yang bodoh.
(Monster atau tidak itu sama sekali tak masalah. Aku hanya tak bisa mengendalikan kekuatanku. Hanya karena itu aku terus bersembunyi...)
Di balik rasa sedih, marah dan benci, dia menemukan jawaban dari hal yang membuat hatinya tak nyaman selama ini.
(Kuro benar, seharusnya aku...)
"!?"
Mata Fila melebar karena menyadari kesalahannya.
Ini bukan masalah balas dendam atau masalah siapa yang menjadi korban. Ini juga bukan masalah dirinya monster atau bukan.
Yang paling penting saat ini adalah..
(Apa yang akan aku lakukan ke depan...)
"..."
Fila menatap Kuro dengan penuh perhatian.
Kuro hanya tersenyum sambil mengangguk seperti tahu apa yang di pikiran Fila saat ini.
"Kau sadar?"
"..."
"Monster atau tidak, semua itu tidak penting. Semua itu hanyalah anggapan orang lain terhadap diri kita. Yang terpenting adalah kita menganggap apa diri kita sendiri. Jika kau menganggap dirimu monster, maka kau akan menjadi monster. Tapi, satu hal Fila.."
Kuro menyentuh pipi Fila dengan lembut.
"Mana mungkin ada monster secantik dan semanis dirimu."
Pipi Fila langsung merah merona karena tak menyangka Kuro akan mengatakan hal itu di situasi seperti ini.
"Jika kau menganggap dirimu monster hanya karena tak bisa mengendalikan sihirmu, seharusnya kau bisa melihat seorang yang lebih tak bisa mengendalikan kekuatannya."
Kuro tertawa kecil mengingat seseorang.
(Laila...)
Fila ingat karena kekuatan Laila yang tak stabil, kekuatannya bahkan disegel oleh orang tuanya sejak kecil.
Apa yang dialami Laila dan Fila sangatlah mirip, yang membedakan adalah cara orang tua mereka mengatasi masalah itu.
Laila disegel, sedangkan Fila dibiarkan.
Jika dipikirkan kembali, bukankah itu terasa aneh?
(Kenapa aku tak menyadari hal ini sejak dulu...?)
Orang tuanya membiarkan Fila bukan karena tak cinta atau merasa kekuatan Fila tidaklah berbahaya, tetapi karena mereka percaya Fila akan mengendalikan kekuatan itu suatu hari nanti.
"Fila... Kau pasti sadar, kau tidaklah sendirian. Bahkan jika dirimu monster, kau masih memiliki teman yang juga bisa disebut seorang monster."
Laila dan Charmilia hanyalah salah satu contoh dari murid sekolah sihir yang memiliki kekuatan monster.
"Jika kau marah pada seseorang, jika kau merasa balas dendam itu diperlukan, maka kami dengan senang hati ikut mengotori tangan kami."
"Kuro.."
"Sekarang, di antara semua pilihan itu, mana yang kau akan pilih?"
Awalnya Fila merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan, tetapi dia tahu tak perlu berpikir untuk mengetahui jawabannya.
"Aku pikir, pertama aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan dengan tak peduli apa yang orang lain pikirkan tentangku." Ucap Fila dengan senyuman.
Kuro juga ikut tersenyum karena senang akhirnya Fila bisa jujur dengan dirinya sendiri.
"Karena itulah..."
Dan dalam momen itulah dia tanpa ragu memberikan ciuman mesra pada Kuro untuk pertama kalinya.
Bersamaan dengan itu, kegelapan yang menyelimuti keduanya hancur seperti kaca pecah.
Setelah menghilang, tentu saja semua yang berada di tempat itu bisa melihat apa yang keduanya lakukan.
"Kenapa aku tahu ini akan terjadi?"
Laila hanya bisa mendesah dalam.
💠💠ðŸ’
[Aku tak percaya melihat ini. Dia sudah memiliki istri yang cantik, tapi dia tanpa ragu mencium orang lain tepat di depan istrinya. Tak diragukan lagi dia adalah musuh para wanita.]
__ADS_1
Sang komentator tak bisa menyembunyikan rasa jengkelnya terhadap Kuro. Tak hanya dia, bahkan banyak para penonton lelaki yang memberi kutukan pada Kuro dengan apa yang dia lakukan.
[Putri Norn, apakah benar orang ini menjadi tunangan putri Riana? Hm... Putri Norn?]
{Ah.. maaf. Aku benar benar terkejut dengan semua yang terjadi.}
[Aku mengerti apa yang anda rasakan. Pasti anda tak memaafkan orang seperti dia menjadi calon suami putri Ria-]
{Ya ampun, sejak dulu dia tanpa ragu mengincar orang di sekitarnya. Padahal dia sudah berjanji hanya akan menjadi milikku seorang. Dia benar benar ingin aku hukum kufufufu..}
Sebuah senyuman tipis penuh kesadisan muncul di bibir Norn. Entah apa yang dia pikirkan saat ini, tapi aura yang keluar darinya bukanlah suatu yang menyenangkan.
Satu hal pasti, semua tahu kalau Kuro ternyata sudah menancapkan taringnya pada putri Norn tanpa ada yang mengetahui.
💠💠ðŸ’
"Aku pernah membaca laporan tentang misi penyusupan sekolah khusus perempuan yang ditempati Norn oleh Kuro. Tampaknya seluruh laporan itu ternyata palsu. Sungguh, kenapa aku tak menyadari hal ini..? Aku gagal sebagai seorang ayah.."
"Kau tak gagal. Hanya saja kau benar benar naif. Lagipula kau tahu siapa dia kan..."
""Harem King..""
Keduanya tahu hal ini tak begitu mengejutkan, tapi tetap saja ini membuat kepala mereka pusing.
💠💠ðŸ’
Setelah itu, Kuro dan lainnya berkumpul di sebuah rumah yang dibuat dengan sihir membentuk besi milik Fila. Lalu untuk menghindari udara dingin, Laila menggunakan sihirnya untuk memanaskan udara di sekitar untuk membuat tubuh mereka tetap hangat.
Meskipun saat ini Battle War masih berlanjut, tapi tak ada salahnya beristirahat walau hanya sejenak.
Tetapi karena beberapa hal yang mengejutkan terjadi, aura penuh persaingan memenuhi udara sehingga ruangan terasa lebih panas daripada seharusnya.
Mitra yang tahu hubungan di antara mereka semua berkeringat dingin. Dia sebenarnya memilih pergi daripada melihat semua itu.
Sayangnya karena badai salju yang terjadi tiba tiba, dia tak bisa pergi begitu saja.
"Karena satu masalah telah selesai, sebaiknya kita bahas masalah selanjutnya."
Laila membuka topik.
Masalah tentang Airs telah selesai, tapi melupakannya begitu cepat cukup membuat orang terkejut.
Catatan tambahan, Airs sudah tereliminasi dan tubuhnya sudah kembali ke tempat panitia. Entah hukuman apa yang menantinya, tapi tak ada yang peduli.
"Ini masalah tentang siapa yang berhak menjadi istri kedua Kuro." Sambung Charmilia.
"Yah.. melihat apa yang dia lakukan padamu, aku yakin kau sulit mendapatkan suami, Charl"
"Hey, jangan bilang seolah aku akan menjadi perawan selamanya. Yah.. ini bukan masalah ciuman di depan publik saja, tapi tapi..."
Siapapun memiliki pemikiran yang sama. Charmilia begitu manis saat ini.
"Aku mengerti apa yang kalian berdua inginkan, tapi aku sudah pernah bilang. Jika kalian ingin menjadi istri Kuro, cobalah untuk merebut hati dia."
"Kau bisa berkata seperti itu karena kau sudah menjadi nomor satu. Jangan berkata dengan sombong seperti itu. Jujur saja itu membuatku jengkel."
"Aku setuju dengan Charl. Kau terlalu menggunakan kekuasanmu sebagai istri sah."
"Jika kalian banyak protes, aku akan menutup pintu untuk istri kedua."
""Tolong maafkan kami!!""
Melihat keduanya begitu patuh, Kuro langsung tertawa kecut.
Sejak kapan keduanya tunduk pada Laila? Inikah kekuatan seorang istri sah?
Mitra entah mengapa begitu lelah melihat perubahan pada temannya itu.
💠💠ðŸ’
Sementara Laila dan lainnya berdebat masalah yang tak begitu penting (?), ada peserta yang masih melakukan pergerakan menyerang dengan memanfaatkan badai salju sekarang ini.
Peserta itu adalah Franco dan Juuno, peserta dari Kuryuu Academy.
Target mereka adalah salah satu peserta dari Seiryuu Academy. Meika dan Yuko. Salah satu peserta yang memiliki julukan Rose Sword Maiden.
Jika dibandingkan dengan keduanya yang sudah berpengalaman mengikuti Battle War sebanyak 3 kali, Meika dan Yuko merupakan murid kelas satu yang memiliki kekuatan di atas rata rata.
Informasi yang keduanya miliki tentang mereka cukup sedikit, bahkan mereka hanya bisa menemukan wujud nama sihir Yuko saja, yaitu sebuah pedang katana berwarna merah.
Dengan informasi yang sedikit itu, menyerang keduanya sebenarnya pilihan yang cukup buruk untuk dilakukan.
Tetapi mereka punya alasan kenapa tetap melakukannya. Kepercayaan diri dan memiliki cara untuk menang.
"Sepertinya kita kedatangan tamu yang tak diundang."
"Anda benar, Nona Meika. Berani sekali mereka mengganggu acara minum teh anda."
Meika dan Yuko sedang menikmati teh di dalam rumah salju yang mereka buat. Meskipun terlihat santai, tapi Franco dan Juuno sadar mereka tak memberikan celah.
"Tapi mereka benar benar bodoh. Kenapa mereka menyerang secara terang terangan seperti ini? Mungkinkah otak mereka sudah membeku?"
"Aku setuju dengan anda. Seorang yang memiliki otak pasti menyerang dengan memanfaatkan situasi sekarang ini."
Benar. Cara Franco dan Juuno bisa dibilang cukup bodoh dan ceroboh karena menyerang secara terang terangan.
"Sebagai junior mereka benar benar meremehkan kita."
"Mau bagaimana lagi, aku juga berpikir ini adalah cara bodoh."
Tapi itu bukan menjadi alasan untuk keduanya berhenti. Keduanya memanggil nama sihir mereka sebagai siap tanda untuk bertarung.
"Camelia!!"
Sebuah rapier muncul di tangan Franco. Tak hanya indah, tapi juga memiliki hiasan berbentuk bunga di gagang.
Tak lupa, Juuno memanggil nama sihirnya.
"Horzig!!!"
Senjata api tipe lama muncul di tangan Juuno. Sekilas senjata api itu terlihat biasa saja, tapi semua tahu itu hanyalah penampilan luarnya.
Yang pertama kali bergerak adalah Franco. Dia melesat dan menebas tempat mereka bersantai. Tak ada ledakan, hanya terdengar sebuah suara kecil dari benda yang terbelah menjadi beberapa bagian. Itu adalah bukti seberapa cepat serangan yang dilancarkan Franco.
Tentu saja serangan seperti itu tak cukup. Yuko dan Meika berhasil menghindar dan memberikan serangan balasan.
"Sakura!!"
Setelah memanggil nama sihirnya, Yuko melesat ke arah Franco dengan kecepatan penuh.
Sebagai murid kelas satu, Yuko dikatakan salah satu murid dengan kemampuan berpedang yang abnormal. Semua itu tak lepas dari hasil latihan yang dia lalui di sebuah dojo dengan aliran pedang yang cukup terkenal, yaitu aliran pedang Death Phantom.
Aliran Death Phantom sendiri terkenal dengan teknik pedang ilusi dan juga teknik serangan mematikan. Bahkan aliran pedang ini sering disebut sebagai aliran pedang pembunuh.
Kuro dan Serge juga menguasai teknik dari aliran pedang Death Phantom hingga mengubahnya menjadi tahap menakutkan, tetapi Yuko menguasai teknik aliran pedang Death Phantom hingga ke tahap seolah menjadi bagian tubuhnya sendiri. Dia bahkan bisa menggunakan setiap teknik seolah bernafas. Hal itu membuatnya sanggup mengalahkan pesaingnya saat babak penyisihan peserta bahkan tanpa harus menggunakan sihir tingkat tinggi.
Tak diragukan lagi, dalam hal bakat teknik pedang, kemampuan Yuko bisa dibilang nomor satu.
__ADS_1
Tetapi-
"!?"
Semua serangannya belum cukup untuk menembus pertahanan Franco.
Ini sungguh mengejutkan. Dari data yang Yuko kumpulkan tentang kemampuan Franco dan Juuno, kemampuan keduanya seharusnya tak sekuat ini. Bahkan semua bisa melihat kemampuan Yuko lebih baik. Tetapi apa yang baru saja terjadi membantah semua itu.
"Tch!!"
Sebuah serangan mengenai pipi Yuko. Jika tak karena efek Doll, serangan itu pasti sudah merubah wajah cantiknya.
Yuko berusaha membalas, tetapi serangannya berhasil dikembalikan dengan beberapa tebasan mengenai tubuhnya.
Yuko lalu menjaga jarak.
Dia mengamati Franco yang tak terlihat begitu serius memegang gagang rapier miliknya, tetapi dia sama sekali tak menemukan celah di balik sikat santainya.
"Kau tahu, jujur saja aku tak suka disebut sebagai orang bodoh. Dalam situasi seperti ini, siapa yang lebih pantas disebut bodoh?"
💠💠ðŸ’
Sementara itu, Juuno berhadapan dengan Meika. Dia melakukan serangan berupa beberapa kali tembakan, tetapi semua itu dihindari dengan begitu mudah oleh Meika.
Tak hanya dengan gerakan yang cepat, tapi juga begitu anggun bagai seorang penari di atas panggung. Bahkan dalam situasi badai salju seperti ini, itu tak mengurangi kemampuan Meika untuk menghindar.
Sekilas itu terlihat hanya mengandalkan kemampuan fisiknya saja, tetapi apa yang dilakukan Meika tak bisa dilakukan tanpa menggunakan sihir penguatan dan sihir meringankan tubuh.
Lalu meskipun serangan Juuno terlihat sederhana, tetapi setiap tembakan memiliki keakuratan tingkat tinggi yang tak bisa diremehkan.
Meika seolah menari, tetapi pada kenyataannya dia benar benar dibuat menari oleh Juuno.
"Ini sungguh menyebalkan!"
Raut wajah Meika sangat berbeda jika dibandingkan dengan pada saat awal pertarungan. Wajah yang begitu percaya diri tergantikan oleh wajah jengkel yang kurang pantas diperlihatkan oleh gadis cantik seperti dirinya.
Melihat itu, Juuno tersenyum kecil seolah menikmati apa yang diperlihatkan oleh Meika.
"Ini masih belum seberapa, tetapi kenapa kau sudah kerepotan, Nona Meika?'
"Tch!!"
Juuno memanggil dengan penghormatan bukan tanpa alasan. Meika adalah seorang putri orang penting dan cukup spesial di antara anak bangsawan.
Meskipun terlihat seperti anak normal, tetapi Meika adalah seorang darah campuran antar elf dan manusia.
Di kekaisaran sendiri ada beberapa elf yang tinggal dan menjadi orang penting. Sebagian besar adalah perwakilan diplomatik antara kekaisaran dengan negara elf.
Di antara elf itu, ada beberapa yang menikah dengan manusia. Dan Meika adalah putri dari salah satu elf itu.
"Nona Meika, kenapa kau tak memanggil nama sihirmu? Dengan itu seharusnya kau bisa keluar dari situasi ini. Atau kau begitu senangnya bisa menari di depanku?"
Pemanggilan nama sihir sekilas terlihat hanya mewujudkan nama sihir mereka menjadi magic arm dan magic beast, tetapi hal ini lebih dari itu. Dengan dipanggilnya nama sihir, itu menjadi tanda pelepasan kekuatan penyihir sepenuhnya.
Tak hanya mempercepat aliran sihir dalam tubuh, memanggil nama sihir juga berfungsi memperkuat tubuh penyihir.
Meskipun saat ini Meika bisa terus menghindar dengan sihir penguatan, tapi itu belum cukup.
"Tidak. Aku rasa itu tidak tepat. Daripada kau tak memanggil sihirmu, lebih tepat jika kau tak bisa melakukannya. Aku salah?"
"..."
Meika tak menjawab, tapi semuanya sudah jelas dengan itu.
Tentu saja jika mau Meika bisa membantah atau mengalihkan arah pembicaraan, tetapi semua itu percuma dengan keadaan sekarang.
Dan kemudian Meika menyadarinya.
(Jangan bilang dia menyerang secara terang terangan hanya untuk mengkonfirmasi hal itu?)
Awalnya Meika berpikir itu hanyalah tindakan konyol, tapi jika itu benar...
"Kami mencaritahu semua hal tentang peserta yang kami ketahui. Sebagai seorang yang memiliki kemampuan biasa seperti kami, apa yang bisa dilakukan oleh kami terbatas. Di antara banyak peserta, kalian berdua adalah salah satu yang menarik perhatian kami."
"Jadi begitu, sejak awal kalian mengincar kami."
"Tidak juga. Seperti yang aku bilang, kalian hanya menarik perhatian kami."
"..."
Sekali lagi Meika dibuat jengkel.
Dia merasa kemampuannya dan Yuko adalah salah satu yang terbaik, tapi apa yang dikatakan Juuno seolah mereka hanyalah penyihir biasa.
"Baiklah, karena semuanya sudah jelas. Aku rasa sudah saatnya untuk serius. Trans Arm!!"
Horzig bertransformasi menjadi senjata api berlaras panjang. Lalu ada semacam hiasan berbentuk sayap kecil tumbuh di bagian atas senjata.
"Invisible Bullet!!"
Juuno menekan pelatuk, tetapi tak ada satupun peluru yang ditembakkan.
Kemudian, tubuh Meika terpental.
"Guhh!!!"
Untuk sesaat Meika tak tahu apa yang terjadi. Dia merasakan tubuhnya terhantam banyak peluru secara bersamaan.
Tubuhnya terlempar ke belakang dengan keras hingga membentur tanah salju beberapa kali sebelum akhirnya berhenti setelah menyeimbangkan tubuhnya.
"Impact!!"
Tanpa pikir panjang Meika menghindar, lalu tempatnya semula meledak oleh sesuatu yang tak terlihat.
"Kuh!!"
Tetapi itu tak cukup. Setelah berhasil menghindar, dia merasakan tubuhnya tertembus sesuatu di bagian kaki. Lalu tangan, perut, pundak, bahkan payudaranya.
Meskipun dia berusaha menghindar, ia tetap menerima serangan dari arah yang tak terlihat. Tak hanya itu, badai salju juga membuat Meika sulit mengetahui keberadaan Juuno sekarang.
(Dia menggunakan ledakan tadi untuk mengalihkan perhatianku. Dia lalu memanfaatkan kesempatan itu untuk bersembunyi dan menyerang)
Sungguh taktik yang licik, tapi tak ada kata licik dalam pertempuran, yang ada adalah menang dan kalah.
Meika menerima serangan beberapa kali dan tak bisa melakukan apapun untuk menghentikannya. Satu satunya yang bisa dia lakukan adalah memperkuat sihir pertahanan untuk meminimalisir dampak serangan.
Sayangnya, Juuno tak memberikan kesempatan itu.
"Impact!!"
Berbeda serangan sebelumnya, serangan kali ini lebih cepat dan lebih kuat. Bahkan meskipun Meika sudah memperkuat pertahanannya, serangan itu akan tetap memiliki dampak fatal.
Tetapi, karena kekuatan serangan lebih besar daripada sebelumnya, Meika bisa merasakan arah serangan.
Dia mencoba menghindar, tapi semuanya sudah terlambat.
Ledakan keras terjadi di tengah badai salju.
__ADS_1