Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Battle at Phoenix City V : Lightning Dragon King


__ADS_3

Otome terus berkonsentrasi untuk memecahkan ritual sihir yang saat ini memiliki peran penting dalam pertempuran ini. Dengan kekuatan sejatinya, Eyes of Truth (mata kebenaran) dia bisa melihat formasi bagaikan sebuah rumus matematika. Tak hanya itu saja, matanya bisa melihat kebenaran dari setiap orang.


Meskipun sekilas mirip dengan kemampuan mata Kuro, Eyes of Origin, namun kekuatan mata mereka bagaikan langit dan bumi.


Kemampuan mata Otome bisa dibilang terbatas dan membutuhkan banyak konsentrasi dan energi sihir yang besar. Karena itulah dia tak bisa menggunakannya sembarangan. Tetapi dengan mata itulah dia akhirnya dikenal sebagai Spell Breaker dan menjadi salah satu Knight of Rounds.


Tetapi semua itu saat ini tak penting. Formasi lingkaran sihir yang berusaha dia pecahkan membuat kepalanya seolah ingin meledak.


(Orang yang mampu menciptakan ritual sihir seperti ini tak diragukan lagi seorang jenius. Dia membuat formasi berantai yang akan aktif terus menerus meskipun salah satu formasi sihir dihancurkan. Ini seperti berusaha menghapus gambar yang terus menerus muncul setelah menghapusnya)


Tetapi Otome tahu tak perlu menghapus formasi lingkaran sihir itu. Dia hanya perlu mengubahnya saja seperti sebuah program komputer yang sangat rumit.


(Tak hanya itu, formasi ini tak akan bisa dilihat oleh sembarangan orang kecuali dia memiliki mata sepertiku. Siapa sebenarnya dia?)


Otome sungguh penasaran, tetapi dia juga paham kalau hanya monster yang mampu melakukan semua itu.


Selain semua hal rumit yang harus dia lakukan, dia sadar tak memiliki banyak waktu. Selain pertarungan di atas permukaan semakin sengit, namun juga pengaman yang diciptakan untuk mencegah siapapun berusaha menghapus lingkaran sihir itu sudah mulai berfungsi.


Tanah di sekitarnya tiba tiba membentuk sosok golem dengan ukuran 5 meter. Berkat kedatangan Laila di saat yang tepat, dia tak perlu kawatir dengan mereka karena golem itu akan langsung musnah setelah mereka tercipta.


Dia merasa senang saat muridnya menjadi bertambah kuat. Sayangnya, meskipun lemah, golem itu terus muncul seolah tak terbatas. Otome paham betul sekuat apapun Laila, dia pasti akan mencapai batasnya cepat atau lambat. Dia harus segera memecahkan ritual sihir itu.


(Jika aku membuat kesalahan aku harus mengulanginya dari awal. Apa yang harus aku lakukan agar cepat menghancurkannya?)


Tentu dia sadar terburu buru hanya akan membuat masalah baru. Dia harus mencoba untuk tetap tenang.


Disaat itulah tiba tiba petir menyambar dinding lubang dan menghancurkannya. Bongkahan besar jatuh menuju tepat ke arah Otome.


Jika terus berdiam di tempat, dia tentu akan mati. Tentu kejadian akan berbeda jika dia menghindar atau menggunakan sihir untuk bertahan, tetapi dia memilih untuk tak melakukan apapun. Alasannya-


"Sacred Magic Art "


Dengan sekali serang, bongkahan dinding hancur berkeping keping. Dia tahu memiliki murid yang bisa dia percaya.


(Demi semuanya, aku harus segera menghancurkan ini)


✴️✴️✴️


  -Sementara itu, pertarungan di permukaan telah bertambah pesertanya. Kali ini seorang gadis dan seekor naga besar yang dikenal sebagai Lapis Lazuli, salah satu Dragon King.


Lapis Lazuli merupakan naga dengan kemampuan elemen petir, karena itu pula dia disebut juga naga pengendali badai. Menurut catatan, terakhir dia muncul sekitar 50 tahun yang lalu dalam pertempuran besar. Setelah itu, tak ada yang tahu kemana dan dimana dia pergi.


Tetapi sekarang, dia muncul bersama dengan seorang gadis yang dikenal sebagai salah satu murid Kuryuu Academy. Hal ini tentu membuat orang bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi semua itu saat ini tidaklah penting.


"Lapis, apa kita bisa menang melawan Maria?"


[Aku sudah bilang kalau kesempatan kita untuk menang sangatlah kecil. Aku sungguh tak beruntung memiliki Miko yang bodoh.]


Charlmilia mengabaikan ejekan Lapis. Dia sudah terbiasa dengan itu.


"Yang aku maksud setelah kita menggabungkan kekuatan dengan nyonya Electra dan lainnya. Aku tak cukup bodoh untuk bertarung sendirian melawan Maria."


Setelah menahan serangan besar Maria dengan Divine Slayer milik Lapis, Charlmilia sadar kekuatan Maria seolah tak memiliki batas. Dia cukup beruntung bisa menahan serangan sebelumnya, tapi dia pesimis akan menahan serangan selanjutnya. Karena itulah saat ini satu satunya pilihan hanyalah bekerja sama dengan Electra.


[Aku akan memberimu sebuah saran. Queen hanya bisa dilawan oleh Queen lainnya, tetapi untuk bisa menang melawan True  Queen, kau harus bertarung bersama King atau kau setidaknya harusmenjadi True Queen.]


"..."


Charlmilia paham Lapis ingin mengatakan kalau mereka membutuhkan kekuatan Kuro untuk menang melawan Maria. Tetapi disaat yang sama itu berarti meskipun bekerja sama dengan Electra, kemenangan masih sangatlah kecil.


[Dan jujur saja aku tak ingin melawan seorang yang pernah menjadi True Queen Solaris, itu sama saja menyuruhku untuk bertarung melawan True Dragon King. Apa kau pikir aku akan menang melawan monster seperti itu?]


"Sudahlah, jangan banyak mengeluh. Seperti biasa kau selalu pesimis. Lapis, kita menyerang!"


Charlmilia menggenggam erat dua pedang di tangannya, lalu kemudian dia menerjang maju. Tanah yang menjadi pijakannya hancur setiap kali melangkahkan kakinya. Kecepatan dan kekuatannya kali ini sangat berbeda sebelum dia menghilang.


Tetapi meskipun maju, namun saat ini Maria dilindungi oleh pilar halilintar yang tak mudah ditembus. Tak hanya itu saja, Maria bahkan bisa mengendalikan halilintar itu seperti sebuah cambuk.


Dan itulah yang dilakukan Maria.


Tujuh pilah halilintar berubah menjadi seperti sebuah kepala naga. Lalu semua kepala itu menyerang Charlmilia. Hanya satu serangan saja akan berakibat fatal karena tak hanya terdiri dari sihir elemen petir, namun juga elemen suci. Lalu ditambah elemen besi yang menjadi konduktor alami petir, setiap pilar halilintar memiliki kekuatan yang mampu membelah gunung menjadi dua. Apa yang terjadi jika serangan seperti itu mengenai Charlmilia?


Sadar bahaya pilar halilintar itu, Charlmilia tak memiliki pilihan selain menghindar dengan kecepatannya. Tentu itu tak mudah karena kecepatan cambuk halilintar tak bisa dianggap remeh.


Tetapi setelah membuat kontrak dengan Lapis, Charlmilia memiliki mata kinetik yang cukup cepat sehingga dia melihat gerakan cambuk halilintar seperti hampir berhenti. Matanya saat ini mungkin bisa melihat kecepatan Kuro saat menggunakan teknik terkuatnya, Witch Reaper.


Dia menghindar dan akhirnya tiba di dekat Maria. Disaat yang sama pilar halilintar yang berubah menjadi cambuk bertambah dan menyerangnya membabi buta. Tak memiliki pilihan, Charlmilia menyerang, lebih tepatnya bertahan.


Dia mengalirkan mana ke pedangnya sehingga berubah menjadi pedang plasma, dengan itu dia menangkis cambuk yang datang kepadanya. Tentu serangan yang memiliki kekuatan besar seperti itu tak bisa dia tangkis dengan kekuatanya, karena itulah dia menangkis dan sekaligus menyalurkan serangan ke arah lain. Ini adalah salah satu teknik terbaik Kuro. Meskipun dia hanya meniru, dia mengakui ini teknik yang sangat cocok untuk bertahan dari serangan yang memiliki tenaga besar seperti cambuk halilintar Maria.


Tetapi dia sadar pedangnya tak akan bertahan selamanya jika terus digunakan untuk bertahan dari serangan yang bercampur dengan elemen suci. Dia harus segera menemukan cara lain untuk bertahan. Disaat itulah -


[Menyingkirlah!]


Charlmilia langsung bergerak ke arah lain setelah mendengar peringatan dari Lapis melalui telepati.


[]


Lapis menyemburkan nafas api bercampur dengan elemen petir. Tak seperti semburan naga biasa yang menyebar luas, semburan kali ini bergerak lurus seperti Laser Breath, hanya saja kecepatan dan kekuatannya berkali kali lipat lebih kuat.


Semburan Lapis menghancurkan pilar halilintar seperti sebuah kayu kering, kemudian akhirnya mengarah langsung ke arah Maria. Serangan itu akan menghancurkan manusia menjadi debu dalam sekejap mata, bahkan penyihir tingkat paladin akan terluka parah jika menerima langsung serangan seekor Dragon King, tetapi-


""


Perisai muncul dan serangan Lapis menghilang tanpa sisa. Semua tahu ini hanyalah perisai sederhana yang terbuat dari elemen suci, namun efeknya sangat mengerikan.


[Tch.. Sudah kuduga itu tak akan mempan huh..]


Dengan ekspresi tak senang, Lapis mengepakan sayapnya dan terbang ke langit. Tak berapa lama kemudian Lapis menghilang di antara awan petir.


"Ini buruk.."


Charlmilia akhirnya sadar sekuat apapun serangan yang dia miliki, jika semuanya terbuat dari sihir, serangan itu tak akan memiliki efek sama sekali. Rencana awalnya untuk bertarung jarak dekat menjadi percuma karena kedua pedang di tangannya merupakan magic arm yang dimiliki Byakkura. Tak diragukan lagi senjatanya akan lenyap tak tersisa jika dia beradu pedang dengan Maria.


(Apa yang harus aku lakukan?)


Dia mengerti kenapa Lapis bilang mustahil menang melawan Maria. Terutama seorang yang mengandalkan sihir seperti dirinya. Mungkinkah ini alasan kenapa Kuro diperlukan untuk mengalahkan Maria? Atau karena dia adalah King?


Kemudian dia melirik ke arah Electra dan Arthuria. Keduanya masih tak sadarkan diri, namun jika dilihat dari luar, luka mereka tak terlalu parah.


(Mungkin sebaiknya aku memindahkan mereka terle-)


Saat memikirkan itu, dia melihat sosok yang mengenakan armor keemasan mendekati keduanya. Itu adalah Irho.


(Kalau tidak salah...)


Dengan mengandalkan ingatannya tentang seorang jendral yang dulu dikenal sebagai salah satu yang terkuat, Charlmilia langsung melesat ke arah Irho. Dia hanya butuh waktu dua detik untuk sampai di sana.


Charlmilia sedikit terkejut saat Irho sadar akan kedatangannya. Kecepatan miliknya seharusnya lebih cepat dari kilat, tetapi mata seorang jendral tak bisa diremehkan.


"Maaf, Paman. Apa kau bisa memberikanku sebuah senjata?"


Dia ingat dengan kemampuan yang Irho miliki. Tentu meminta secara tiba tiba bisa dibilang cara yang tak sopan, namun bukan saat yang tepat untuk memikirkan sopan santun.


"Aku bukan gudang berjalan, tetapi aku punya."


Sadar mereka tak punya waktu berbincang, Irho memilihkan salah satu pedang terbaik untuk Charlmilia.


Dari udara kosong sebuah pedang muncul. Tidak, lebih tepat jika sebuah pedang tipis dan runcing yang dikenal sebagai rapier.


"Ambilah. Kurasa ini cocok untukmu."


"..."


Charlmilia menerimanya. Rapier keemasan yang tak hanya terlihat mewah, namun juga dibuat dengan baik. Bahkan saat memegangnya, Charlmilia merasa kalau rapier itu bagian dari tubuhnya sendiri.


"Aku akan meminta komentarmu nanti. Sekarang pergilah. Aku akan merawat mereka berdua. Sepertinya mereka hanya pingsan."


"Aku mengerti. Aku serahkan mereka berdua pada paman."


Dalam sekejap Charlmilia menghilang seperti cara dia datang. Dengan senjata baru di tangannya, Charlmilia melawan Maria dengan kekuatan penuh.


Charlmilia sekali lagi berniat bertarung jarak dekat. Pertama dia harus mendekat, tentu pilar halilintar tak membiarkannya begitu saja. Sekali lagi dia menangkis serangan yang datang, namun kali ini dia tak hanya menangkis.

__ADS_1


Charlmilia menciptakan halilintar di rapier barunya. Seperti yang dia duga, rapier pemberian Irho terbuat dari logam yang sangat baik untuk dipadukan dengan sihir. Dia sekarang seperti memegang magic arm miliknya sendiri.


""


Dia menghantam halilintar dengan halilintar. Serangannya cukup kuat untuk melemparkan halilintar ke arah lain meskipun halilintar itu bercampur dengan elemen suci. Kemudian dia maju. Serangan yang sama dia lakukan hingga akhirnya dia hanya berjarak beberapa meter dari Maria.


"?"


Tetapi disaat itulah Maria mulai bergerak setelah cukup lama berdiam diri. Dia menatap Charlmilia, tidak, lebih tepatnya dia sekarang akhirnya mulai menganggap eksistensi Charlmilia dalam pertempuran itu.


Maria menarik busurnya, sebuah anak panah yang terbuat dari cahaya muncul.


Charlmilia meningkatkan kewaspadaannya karena bisa menebak apa yang akan Maria lakukan selanjutnya, atau mungkin juga tidak.


Tiba tiba Maria kembali melepaskan anak panah ke arah langit. Karena tak seperti serangan besar sebelumnya, Charlmilia tak perlu kawatir dan berusaha mencegahnya.


Tetapi itu sebuah kesalahan fatal.


Saat di langit, anak panah Maria hancur seperti kembang api. Kemudian ribuan anak panah yang menyebar ke semua arah. Dan tak hanya menghujani Charlmilia, namun juga semua yang berada di arena pertempuran.


"Tch...!?"


Dia kawatir dengan Electra dan lainnya, tapi dia tak bisa melakukan apapun untuk mereka. Dia harus fokus dengan serangan yang mengarah padanya.


Dengan meningkatkan konsentrasinya, dia melihat anak panah yang mengarah padanya. Lalu dia menangkis menggunakan rapier. Karena tak terlalu cepat, itu hal yang mudah, tetapi sekali lagi dia tak bisa meremehkan seorang paladin terkuat.


Saat gelombang pertama selesai, Maria menembakan anak panah lainnya satu persatu. Dan kejadian selanjutnya bisa ditebak.


(Katakan semua sihir tingkat tinggi itu dilakukannya seperti bernafas?)


Dia tak tahu apakah itu efek dibangkitkan kembali atau kekuatan asli Maria. Tetapi bukan saatnya memikirkan itu.


Tak punya pilihan lain, sekali lagi Charlmilia menangkis serangan yang datang. Tetapi karena jumlah yang terlalu banyak, dia terkena salah satu panah di bagian armornya. Dalam sekejap armor yang dia pakai menghilang seperti dihapus secara paksa.


"Gawat!?"


Dia sadar jika salah satu anak panah mengenai dirinya, dia akan tamat. Dia tak memiliki pilihan lain selain meningkatkan kekuatannya.


Tubuhnya kini memercikan petir yang dahsyat, kemudian dia bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Ini adalah salah satu magic art milik Electra. Dengan magic art inilah dia disebut sebagai yang tercepat.


Charlmilia bisa menggunakan magic art itu bukanlah suatu yang aneh mengingat Electra adalah mantan Queen dari Lapis Lazuli.


Satu persatu dia menangkis anak panah suci. Tak berapa lama kemudian akhirnya Maria berhenti melepaskan anak panah.


(Ini kesempatanku!)


Dia maju dengan kekuatan penuh ke arah Maria. Rapier senjata yang tak digunakan untuk menebas, jadi dia memilih untuk menusuk dengan kecepatan yang dia miliki. Selain itu hal ini untuk menghindari Maria menggunakan Divine Aegis yang mampu menahan serangan sihir.


Tentu Maria sadar apa yang Charlmilia rencanakan. Dia mengembalikan busurnya menjadi pedang.


(Dia berencana menahan seranganku dengan pedang?)


Itu rencana yang baik, tetapi-


(Storm Dragon Art...)


""


Rapier berputar dengan halilintar yang menggelegar. Itu adalah teknik menusuk, lalu ditambah dengan sihir tingkat tinggi milik Dragon King. Serangan itu memiliki kekuatan penghancur yang cukup untuk menembus pertanahan sihir seorang paladin.


Tentu karena serangan Charlmilia sebagian besar merupakan sihir, Divine Aegis akan mampu menahannya, lebih tepat jika mengurangi kekuatannya. Semua itu sudah diprediksikan Charlmilia, tetapi dia tetap melakukannya.


Anehnya, Maria tak menggunakan sihir pertahanan yang mampu menahan serangan Lapis. Dengan ini serangannya pasti akan menembus Maria. Itulah yang dipikirkannya.


Hingga itu terjadi-


"?!"


Serangan Charlmilia dengan mudahnya ditahan seolah tak memiliki tenaga sama sekali. Memang.  Sesaat sebelum menyentuh Maria, semua sihirnya menghilang. Dragon Valkyrie Gear yang dia kenakan bahkan menghilang dan meninggalkan seragam Kuryuu Academy yang compang camping di berbagai tempat.


Kemudian Charlmilia tersungkur. Seluruh tenaganya menghilang begitu pula dengan seluruh energi sihirnya. Rapier yang dia gunakan bertarung terjatuh dengan suara berat. Dia bahkan kehilangan kekuatan untuk memegangnya.


"Ha..."


"Kenapa ini terjadi?"


Apakah Maria memiliki semacam kekuatan yang menetralkan semua sihir di area tertentu?


Salah.


Saat melihat ke bawah, dia mengerti kenapa dirinya kehilangan semua kekuatannya. Sebuah benda putih menyerupai akar melilit kakinya. Dan perlahan benda itu tumbuh membelit ke pahanya. Setiap kali tumbuh, setiap kali pula Charlmilia kehilangan kekuatannya.


"Ini...?"


Dia tak terlalu berpikir banyak apa yang sebenarnya terjadi. Sisa sisa dari kebenaran masih ada.


Anak panah yang ditembakkan ke seluruh tempat bukan hanya sebagai senjata menyerang Charlmilia, namun juga sebagai sebuah jebakan mematikan. Saat anak panah menancap ke tanah, anak panah tak menghilang dan menyatu dengan permukaan tanah. Setiap anak panah perlahan meleleh dan membentuk jaringan akar sihir elemen suci. Dengan kata lain, saat ini Charlmilia terjebak di tengah jaring laba laba tercantik dan paling berbahaya untuk penyihir seperti dirinya.


[Bodoh, bukan saatnya untuk kagum!?]


Telepati Lapis mengembalikan Charlmilia pada indranya. Dia lupa saat ini dia sedang bertempur.


Sebuah pantulan cahaya melintas di matanya. Itu berasal dari pedang indah milik Maria.


(Ini akhirku?)


Yang terjadi selanjutnya adalah mimpi buruk. Charlmilia tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padanya.


Karena tahu lawannya tak bisa melarikan diri, Maria menebas Charlmilia dengan perlahan. Meskipun Charlmilia bersiap dengan sihir, sihir itu akan dihapus oleh elemen suci.


Tak diragukan lagi ini adalah kematiannya.


Disaat saat terakhir itulah, waktu bagaikan terasa lama. Dia mengingat kembali kenapa dia bisa berada di sana dan bertarung.


Dalam pertarungan melawan Itsuki, dia paham kalau kekuatannya bisa dibilang bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan Leon. Dan itu bukan karena dia hanya penyihir peringkat SSS dan Leon adalah penyihir paladin, namun dia merasa ada alasan lain kenapa dia begitu lemah.


Jika dibandingkan dengan Laila dan Kuro, tentu dia lebih lemah. Tetapi kenapa bisa seperti itu? Apa yang membedakan dirinya dengan mereka berdua?


Jika dibandingkan dengan dirinya, perkembangan keduanya sungguh pesat dan membuat siapapun takjub. Saat pertama kali bertarung melawan Kuro, dia merasa kalau kekuatan mereka bisa dikatakan seimbang. Bahkan tak diragukan lagi kalau Laila lebih lemah darinya.


Tetapi di pertempuran saat melawan Necromancer di Dragonia, dia langsung menghapus pemikiran itu. Keduanya tak melakukan latihan apapun bahkan hanya bertarung dengan kekuatan yang ada pada mereka, namun mereka menunjukkan kekuatan yang tak bisa dibilang sederhana dan lemah.


Apakah ini yang dinamakan potensi?


Atau inilah yang disebut sebagai takdir?


Dia tak tahu itu. Dia tak peduli dengan itu. Yang dia lihat hanyalah tekad kuat untuk terus berjuang tanpa kenal takut tak peduli apakah musuh mereka adalah musuh yang mustahil dikalahkan.


Lalu apa yang berbeda dengan situasinya sekarang dengan situasi saat dulu?


Dia akan kalah. Dia akan mati di sini.


Dia sudah berjanji akan menyatakan perasaannya pada Kuro setelah pertarungan ini selesai, tetapi sepertinya itu tak mungkin terjadi.


(Ah.. Kenapa aku tak melakukannya dari dulu?)


Emosi negatif menghampirinya. Itu adalah sebuah penyesalan. Tetapi disaat yang sama, bukan hanya itu saja yang menghampirinya. Dia juga  merasakan kebencian dan  iri hati. Pada siapa? Tentu pada seorang yang mendapatkan semua yang dia inginkan.


Laila Allein Fortisillein.


Disaat itulah sebuah pertanyaan muncul di kepala Charlmilia.



Jika dia tak ada, dia akan mendapatkan semua yang dia inginkan. Dan yang terpenting, saat ini pasti dialah yang akan berdampingan dengan Kuro.


Ya. Andai saja Laila tak pernah ada di du-



Saat dia hampir tertelan kegelapan, dia sadar. Semua yang muncul di pikirannya semuanya salah.


Dia sadar apa yang lebih penting dari semua pemikiran negatifnya tentang Laila. Hal yang lebih penting itu adalah fakta kalau dia dan Laila sama sama mencintai Kuro.

__ADS_1


Emosi negatif langsung berganti dengan yang baru. Yang lebih kuat. Yang lebih tak mudah goyah. Yang memiliki kekuatan lebih dari apapun di dunia ini.


(Benar. Aku memang membencinya, aku iri dengannya. Namun semua itu karena kami mencintai Kuro)


Dan karena itulah dia tak boleh mati. Ada yang harus dia lakukan apapun yang terjadi.


Dengan tekad baru, dia mengambil rapier dan menahan tebasan Maria.


"Maaf, aku masih ingin hidup!?"


Kekuatan dan tekad baru terlihat dari tatapan mata Charlmilia. Disaat yang sama dia merasa kalau kekuatan yang menghilang kini kembali penuh, bahkan lebih kuat. Bahkan meskipun dia terkekang oleh akar elemen suci, kekuatan itu terus membesar dan meluap.


Kemudian dia sadar, seluruh tubuhnya memancarkan halilintar.


(Kenapa aku masih bisa menggunakan sihir? Tidak. Ini berbeda. Daripada sihir ini...)


Meskipun tak tahu fenomena apa yang terjadi pada tubuhnya, namun dia tahu-


Dia bisa bertarung dengan Maria menggunakan kekuatan itu.


Sayangnya, Maria tak membiarkan Charlmilia menikmati kekuatannya.


Michael muncul dan langsung menebas Charlmilia dari samping. Charlmilia tak bisa menghindar, jadi satu satunya cara adalah dengan menahan serangan. Tapi dengan apa?


Tanpa ragu dia menggunakan halilintar untuk menahan serangan Michael. Dengan elemen suci seharusnya pertahanan Charlmilia percuma saja. Tetapi kenyataan berkata lain.


"..."


Serangan Michael berhasil ditahan. Dia selamat.


Saat sedang bergembira dan paham betul mengenai kekuatannya, Maria sekali lagi menebas Charlmilia dengan kekuatan dan kecepatan yang tak terbayangkan.


Ledakan keras terjadi dan sebuah sosok melesat bagaikan peluru. Bahkan lebih berkali kali lebih cepat.


(Sial.. Aku tak bisa berhenti..)


Tubuh Charlmilia menghantam bangunan dan menembusnya puluhan rumah, tidak, bahkan lebih. Dia akhirnya bisa berhenti setelah menancapkan rapier pada jalan yang terbuat dari batu. Disaat yang sama, dia berhenti tepat sebelum wilayah para bangsawan yang terlindung oleh dinding dan perisai.


"Tch.. Aku tak percaya terlempar sejauh ini. Tetapi..-"


Dia ingat kalau tubuhnya menerima serangan langsung dari pedang Maria, tetapi tubuhnya sama sekali tak terluka.


"Aneh.. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?"


Dia paham kekuatan itu mampu dia gunakan untuk melawan Maria, tapi dia tetap tak mengerti bagaimana kekuatan itu bekerja.


[Aku rasa kau sudah menjadi Queen, tidak, Miko yang sesungguhnya. Dengan ini aku akan memperbarui kontrak kita seperti yang kita sepakati sebelumnya.]


"Lapis.."


[Jangan senang dulu. Kau masih belum bisa menggunakan kekuatan kami. Kau saat ini bahkan hanya bisa menggunakan tak lebih dari 20 persen. Jangan sombong dulu.]


Haha.. Charlmilia tersenyum kecut.


Dia senang karena akhirnya menjadi seorang Queen, tetapi saat diberi tahu hanya bisa menggunakan kekuatan 20 persen dari seorang Queen sungguh membuatnya ingin tertawa.


Tetapi-


(Ini merupakan satu langkah untuk bisa bersama Kuro)


Dengan pemikiran seperti itu, dia mengaktifkan Dragon Valkryie Gear. Tetapi disaat itulah dia sadar ada yang berbeda dengan yang dia pakai sebelumnya.


Selain kekuatan yang dia rasakan bertambah, pola halilintar emas muncul di berbagai armornya. Selain itu ada berupa tambahan seperti sayap yang melayang di punggungnya.


"Ini.."


[Yah.. Nanti kau akan bisa menggunakannya. Tetapi untuk sekarang tidak perlu. Beruntung kau sudah menjauh, dengan ini aku akan menghabisinya.]


"Huh?"


Charlmilia tak memiliki pilihan selain tercengang. Dia bahkan ingin mengatakan apa yang dia lihat hanyalah sebuah ilusi.


Di langit, cahaya kebiruan menghiasi langit yang dipenuhi awan petir. Lalu dalam sekejap awan petir menghilang oleh halilintar besar yang membentuk monster naga yang seluruh tubuhnya terbuat dari halilintar pemusnah sepanjang satu kilometer. Dan di tengahnya, Lapis terbang dengan mulut terbuka lebar seperti menembakan sesuatu.


"Lapis.. Apa yang kau..."


Awan petir menggelegar membengkakkan telinga. Kejadian alam yang luar biasa ini tak hanya terjadi di ibukota Phoenix, namun juga di seluruh dunia.


[Hmph.. Inilah yang terjadi jika Dragon King mulai serius bertarung.]


Tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun apa yang dilakukan Lapis sudah melampaui pemikiran manusia. Energi yang terpancar begitu besar melebihi kemampuan manusia. Dan itu membuat orang bertanya apakah benar benar ada makhluk yang bisa menggunakan energi sebesar itu?


(Jadi inilah kekuatan Dragon King?)


Mereka disebut sebagai yang terkuat bukan karena alasan. Tentu dia pernah melihat kekuatan Shapira dan Ruby saat di Dragonia, tetapi dia sadar. Kekuatan yang mereka tunjukan saat itu masih hanya sebagian kecil.


Menyadari dalam bahaya, Maria membuat perisai berlapis lapis. Michael juga diubah menjadi perisai suci. Ini pertama kalinya Maria serius mempertahankan diri dari serangan lawannya. Tak diragukan lagi serangan Lapis merupakan serangan terdahsyat yang terjadi dalam pertempuran kali ini.


"...ah.. Lapis, tunggu! Apa kau yakin menembakan serangan itu?"


[Jangan kawatir. Kota ini mungkin akan lenyap dari peta, tapi seluruh dunia akan selamat.]


Dugaan Charlmilia benar. Bahkan lebih buruk daripada yang dia bayangkan sebelumnya.


"Aku harus menghentikannya. Dia lebih berbahaya dari Maria."


Tapi bagaimana? Saat memikirkan itu, Lapis sudah menyerang.


[Divine Dragon King Art ]


Cahaya ditembakan bersamaan dengan suara teriakan binatang buas. Naga halilintar menyatu dengan inti serangan dan memberikan pemandangan naga raksasa yang memberikan hukuman suci pada dunia.


Serangan yang mampu menghilangkan kota Phoenix dari peta kini meluncur tanpa ada yang bisa mencegahnya. Kecuali-


""


Sihir pertahanan Maria aktif dan berputar. Serangan Lapis dan pertahanan Maria beradu dan menghancurkan satu sama lain.


Kekuatan yang dahsyat menembus  lima lapis pertahanan bagaikan menusuk kertas, lalu terus terjadi hingga lapisan ke tujuh. Setelah lapisan ke-sepuluh, serangan Lapis perlahan mulai melambat. Sayangnya, pertahanan Maria hanya tersisa beberapa lapis saja.


[Jangan pikir bisa menghentikannya dengan sihir seperti itu.]


Dan kemudian, suatu yang tak dipercaya kembali terjadi. Serangan Lapis memang melambat, namun disaat itulah inti serangan menunjukkan sosok sejatinya.


Sebuah taring raksasa.


[Kau bisa menahan sihir, tapi bisakah kau menahan taring naga yang mampu membunuh dewa?]


Pertahanan Maria hancur dan serangan Lapis tepat mengenai Maria. Ledakan besar terjadi bersamaan dengan halilintar yang membelah daratan.


Gelombang kejut menghancurkan semua yang berada dalam radius 10 kilometer tanpa sisa. Charlmilia bisa bertahan, tetapi semua yang berada di sekitarnya hancur.


Dengan kekuatan sedahsyat itu tak diragukan lagi tak ada yang mungkin selamat. Tetapi-


[Tch.. Kenapa pedang itu ada di tangannya?]


Lapis tak bercanda tentang kekuatan yang mampu menghapus kota Phoenix dari peta. Bahkan serangannya akan mampu membunuh seorang dewa jika terkena secara langsung.


Tetapi jika melihat hasilnya, semua itu terlihat seperti candaan kosong belaka.


Maria masih berdiri. Meskipun salah satu tangannya terputus dan beberapa bagian tubuhnya hancur, namun tak diragukan lagi dia berhasil selamat dan menahan sebagian besar kekuatan serangan Lapis.


Tidak, lebih tepat jika memotongnya menjadi dua. Itu terlihat dari dua kawah besar yang muncul dia antara dirinya.


Tapi bagaimana bisa?


Inti serangan Lapis adalah taringnya sendiri yang memiliki kekuatan membunuh dewa, tapi apakah semudah itu bisa terpotong?


Jawabannya tidak.


-Kecuali dia memiliki senjata yang lebih kuat daripada taring naga.


"..."

__ADS_1


Tanpa sepatah kata, Maria menghunuskan pedang putih ke arah Lapis. Itu merupakan sebuah tantangan kalau pertarungan masih belum selesai.


__ADS_2