
"Aku tahu kau membenciku dan ingin membunuhku, tapi jangan libatkan orang lain. Lagipula aku sudah bilang kalau aku tak berniat benar benar melakukannya."
"Sayang sekali, aku tak pernah menganggap ucapanmu hanya sebuah candaan."
"......?"
Kuro duduk di samping Otome dan memungut jarum yang digunakan untuk menyerang Otome. Setelah itu, dia mengambil ikan dan makan lagi.
Melihat suasana yang tiba tiba menjadi tidak enak, Otome akhirnya menyadari bahwa meskipun terlihat akrab, mereka sebenarnya saling membenci, atau Kuro membenci Electra.
Dan disaat yang sama, Otome sedikit lega mengetahui target Kuro bukanlah dirinya tapi Electra, tapi kenapa menyerang dirinya?
"Kenapa kau masih menyimpan dendam kepadaku, lagipula jika aku tak melakukannya, kau tak mungkin mau bekerja kepadaku."
"Tch.."
Kuro sekarang mengabaikan Electra. Dia bahkan tak mau menatap Electra.
Menyadari itu, Electra hanya bisa mendesah dalam. Dia juga terlihat murung.
"Kuro, kenapa kau ingin membunuh Nyonya Electra? Aku tahu kau kuat, tapi kau tahu mustahil mengalahkan dia."
Meskipun Otome bisa menebak yang membuat ulah adalah Electra, namun dia tetap penasaran apa yang menyebabkan Kuro membenci Electra.
Dia bahkan lupa kalau hampir terbunuh oleh muridnya.
"Apa kau menyuruhku menyukai orang yang berniat menghancurkan desaku dan membunuh semua keluargaku? Otome, kau pasti sudah gila."
"Eh? Apa maksudmu?"
"Sudahlah, kau sudah tahu alasan kenapa aku membenci nenek itu, jadi jangan membuatku marah. Memikirkan perbuatan nenek itu sudah cukup membuatku ingin membunuhnya saat ini juga, atau .. kau mau mengganti menjadi pelampiasanku?"
"Tidak, terima kasih tawarannya. "
Ini baru pertama kalinya Otome melihat Kuro begitu terlihat menakutkan. Selain itu, tatapannya juga terlihat serius dan dingin.
Electra pasti membuat kesalahan yang tak bisa dimaafkan oleh Kuro.
"Guuu... sudah kubilang aku tak berniat melakukannya, itu hanya alasanku agar kau mau bekerja untukku. Umm... ada apa Otome?"
"Tidak, aku hanya penasaran apa yang Anda lakukan?"
"Aku cuma bilang, jika tak mau bekerja kepadaku, aku akan menghancurkan desa klan Blad. Hanya itu."
"..............Begitu rupanya. Kuro, aku tak akan menghalangi untuk membunuh Nyonya Electra. Aku juga akan mendukungmu."
"Otome kenapa kau berkata seperti itu? Kau sungguh kejam."
Meskipun sekarang Electra bertingkah imut dan manis, Otome tak tepengaruh.
Otome hanya bisa mendesah dan menggelengkan kepalanya.
Sebagai salah satu Paladin, Electra mempunyai kekuatan sihir yang luar biasa, karena itu menghancurkan sebuah desa kecil seperti desa klan Blad hal yang mudah bagi Electra.
Tapi Otome merasa Kuro marah karena alasan lain.
"Itu karena ulah Anda sendiri. Aku pasti juga ingin membunuhmu jika kau mau menghancurkan tempat asalku. Karena itulah aku memilih mendukung Kuro."
"Guuu, tapi aku hanya ingin menakut nakuti Kuro saja. Itu salah Kuro karena tak mau bekerja kepadaku."
"Sebegitukah kau menginkan Kuro? Ya ampun, aku tak percaya Anda bisa melakukan hal sekeji itu demi lelaki muda."
"".......................Eh?""
Kuro dan Electra langsung terdiam saat mendengar ucapan Otome.
Lalu mereka akhirnya tertawa dengan keras. Mereka bahkan sampai memegangi perut mereka karena merasa sakit.
"Ap-apanya yang lucu?"
"Otome, apa kau belum menyadari kenapa aku menginginkan Kuro?"
".......?"
Otome justru memiringkan kepalanya.
"Menginginkan pemuda? Kau sungguh lucu. hmm.. mungkin itu keinginanmu yang terdalam karena tak memiliki pacar?"
Wajah Otome langsung memerah. Dia marah setelah mendengar perkataan Kuro dan merasa dipermainkan oleh dua iblis.
Di saat itulah muncul ide untuk membalas Kuro dan sekaligus menunjukkan bahwa dia tak bisa dipermainkan.
"Sudahlah, aku sebenarnya tak membenci nenek itu, tapi aku hanya merasa jengkel saat nenek itu berniat menghancurkan desaku. Ya, aku pikir bukan ide yang buruk bekerja kepadanya, tapi aku tak bisa terlalu lama meninggalkan desa."
"Karena itulah aku menjamin keselamatan seluruh klan Blad. Aku bahkan mengirim anak buahku yang terpercaya untuk membantu mereka dan memberi kabar jika hal buruk terjadi." tambah Electra
Dengan kata lain, semuanya hanya akting?
Otome benar benar dipermainkan oleh mereka berdua.
"Lalu kenapa kau mengincar kepalaku?"
"Aku hanya mengetes saja. Hanya itu. Yah.. meskipun kau mengecewakan sebagai guru karena tak mampu menyadari seranganku, tapi tak apalah."
Sekarang Otome sudah tak bisa menahan amarahnya lagi.
Tak hanya dipermainkan, tapi dia juga direndahkan.
Dia tak terima diperlakukan seperti itu oleh mereka berdua.
"Kuro."
Tiba tiba Otome memegang kedua pipi Kuro dan menatap tajam ke arah mata Kuro.
"Otome, henti- Ahh... "
Tapi peringatan Electra tak didengarkan Otome.
Dia sedang marah dan tak peduli kepada Electra.
Karena itulah, Otome menggunakan Succubus Art untuk membuat Kuro jatuh cinta kepadanya.
Sihir khusus Otome mirip hipnotis, tapi bukan hipnotis biasa. Dia bisa memanipulasi pikiran lelaki yang terkena sihirnya dan membuat lelaki itu menuruti permitaan Otome seperti budak.
Selain itu, meskipun tak terlalu mengenal Kuro, Otome menyadari bahwa Kuro akan melakukan apapun demi orang yang dia sayangi.
(Dengan begini, aku bisa membalas mereka berdua.)
"Kuro, jatuh cintalah kepadaku!"
Setelah mengatakan itu, mata Otome bersinar dan lingkaran sihir muncul di pupil Otome. Lingkaran sihir itu berwarna pink dan berputar di pupil Otome.
Meskipun kuat, sihir khusus Otome hanya bisa dilakukan jika saling menatap mata.
Tak hanya bisa membuat jatuh cinta, sihir Otome juga memungkinkan Otome melihat ingatan orang yang terkena sihirnya.
"................"
Kuro terdiam untuk sesaat. Tatapannya juga sedikit kosong.
"Apa aku berhasil?"
Otome merasa penasaran. Tapi belum pernah ada yang bisa lolos dari sihirnya. Dengan kata lain, Kuro sudah jatuh cinta kepada Otome.
Tentu saja Otome bisa menetralkan sihirnya kapanpun jika dia mau, tapi dia belum puas jika belum membalas Kuro.
Sementara itu, Electra hanya bisa mendesah dalam dan entah mengapa dia sedikit menjauh dari Otome.
"Fu fu..."
Karena merasa Kuro sudah jatuh cinta kepadanya, Otome juga ingin melihat ingatan Kuro karena penasaran.
Dia berkonsentrasi dan mencoba melihat ingatan Kuro.
Otome melihat apa yang pernah dilakukan Kuro. Membunuh, cara dia berlatih, orang orang dari klan Blad. Dan dia juga melihat seorang gadis cantik mati di depan Kuro. Dan masih banyak lagi.
Lalu setelah beberapa saat, Otome tiba tiba mengeluarkan air mata tanpa dia sadari.
"Kuro...kau..."
"Otome, apa kau tahu pepatah 'kadang rasa ingin tahu bisa membunuhmu.'"
"Eh? Ughhh..."
Otome terkejut karena Kuro ternyata tak terpengaruh sihirnya, dan Otome dikejutkan lagi oleh tangan Kuro yang mencengkeram lehernya dengan kekuatan luar biasa.
Tak hanya mencengkeram leher Otome, Kuro lalu mengangkat tubuh Otome hingga ke atas.
"Guhh..."
Otome merasakan sakit di lehernya dan hampir tak bisa bernafas. Dia meronta agar bisa lolos, tapi percuma.
Karena itulah dia mencoba menggunakan sihir untuk bisa lolos dari Kuro, tapi-
"Kuharap kau tak melakukan itu, aku bisa tanpa sengaja mematahkan lehermu."
".........."
Otome akhirnya mengurungkan niatnya. Dia menatap Electra yang tampaknya tak peduli dan justru makan ikan dengan santai.
Electra seolah olah mengatakan "Sudah kubilang kan?!".
"Sekarang aku punya dua pilihan untukmu, Otome. Pertama, jangan beritahu siapapun tentang apa yang kau lihat dan jadikan itu rahasiamu seumur hidup."
"........"
"Kedua, aku membunuhmu disini agar kau tak bisa menceritakan kepada orang lain, tapi jujur itu akan membuatku repot, jadi pilih keputusanmu. Berkediplah satu kali untuk pilihan pertama dan berkediplah dua kali untuk pilihan kedua!"
Merasa tak punya pilihan lain, akhirnya Otome berkedip satu kali. Dia memilih pilihan pertama karena tahu Kuro serius berniat membunuh dia kali ini dan yang lebih buruk, tampaknya Electra tak berusaha menghentikan Kuro.
Setelah itu, Kuro tersenyum tipis dan melepaskan Otome.
"Cough...Cough..."
Otome terjatuh. Dia akhirnya bisa bernafas lega dan memegangi lehernya yang terasa sakit. Bahkan ada bekas merah dari cengkraman Kuro.
Sementara itu, Kuro kembali duduk dan menoleh ke arah Electra.
"Kau bisa menghilangkan ingatan Otome kan? Cepat lakukan itu."
"Heh?"
__ADS_1
Mata Otome langsung melebar. Dia bingung.
"Nyonya Electra, aku tak tahu kau memiliki sihir seperti itu?"
"Memang tidak, tapi aku bisa menghapus ingatan seseorang dengan menyengat mereka, tapi sayangnya mereka semua kebanyakan mati dan kalau masih hidup mereka akan menjadi mayat hidup."
Electra mengatakan itu dengan nada santai. Hal itu membuat Otome tersenyum kecut dan sekaligus ngeri.
Dia tak ingin Electra melakukan itu kepadanya.
"Yahh.... tapi kau beruntung karena biasanya Kuro akan langsung membunuh orang yang mencoba mengintip ingatannya. Jadi bersyukurlah karena belum mati. Fufu.... tapi kenapa kau harus membunuh orang yang mengintip masa lalumu, apakah begitu rahasia sehingga kau membunuh mereka?"
"Tidak juga. Sebenarnya banyak yang mengetahui masa laluku, tapi disaat Otome mengintip masa laluku, aku juga akan kembali mengingatnya, hal itulah yang membuatku marah, benarkan Otome?"
"I-iya."
Meskipun Kuro mengatakan itu sambil tersenyum, Otome tak bisa tenang.
Dia hampir mati dua kali.
Dan akhirnya dia mengerti kenapa Electra menginkan Kuro bekerja kepadanya.
Jika Kuro tetap di hutan Rukia, ada kemungkinan orang dari pihak musuh yang mengetahui kekuatan Kuro. Dan jika mereka Kuro bekerja untuk mereka, itu akan menjadi masalah besar.
Hal ini karena saat ini kekuatan Kuro masih tak diketahui.
Keputusan Electra tidaklah salah menjadikan Kuro anak buahnya.
"Uhhmm.. tampaknya aku harus segera pergi."
""...?""
Kuro kemudian menoleh ke arah lain. Dia melihat 5 orang datang mendekat sambil membawa peralatan barbeque.
"Baiklah, tapi sebelum kau pergi, tangkapkan beberapa ikan. Itu mudah kan."
Electra tersenyum kecil. Lalu mengarahkan ibu jarinya ke arah danau.
"Tentu saja. Demi Kuro, aku akan melakukan apapun."
Setelah itu, munculah lingkaran sihir kecil dari ujung jari Electra. Lalu dari lingkaran sihir itu muncul puluhan petir yang tepat mengarah ke danau.
Tapi tak terjadi apapun.
"Terima kasih."
Electra lalu berubah menjadi kilat dan menghilang.
Itulah ciri khas Electra, datang tiba tiba dan pergi tiba tiba. Dia mirip hantu.
Setelah memastikan Electra sudah pergi, Kuro lalu menoleh ke arah Otome dan berkata:
"Otome, sisanya kuserahkan padamu. Kumpulkan ikannya, kita akan berpesta setelah semuanya datang."
"Huh?"
Otome tak terlalu mengerti.
Setelah mengatakan itu, Kuro pergi ke bawah pohon yang rindang sambil membawa pedangnya dan bersandar untuk tidur siang.
Beberapa detik kemudian, Kuro sudah tertidur.
"Cepatnya!!"
Otome dikejutkan oleh kecepatan tidur Kuro, tapi dia juga mengerti kenapa Kuro seperti itu.
(Dia pasti kelelahan kah? Itu wajar tubuhnya pasti sudah mencapai batas karena mengeluarkan kekuatan sepert itu.)
Otome tersenyum tipis.
Dia sekarang sedikit mengerti tentang Kuro.
Alasan kenapa dia bisa begitu kejam, kenapa dia bisa tersenyum, dan kenapa dia bisa begitu kuat.
Dan alasan kenapa dia tak ragu membunuh meskipun yang dia bunuh adalah gurunya sendiri. Ini menyedihkan.
"Baiklah, sekarang apa yang harus kulakukan?"
Otome tersenyum pahit saat melihat ke tengah danau.
Puluhan Rellfish muncul dan mengambang bagai mayat, tapi semua ikan itu belum mati, mereka hanya pingsan.
Tak hanya Otome, staf yang bekerja untuk Kuryuu Academy juga tersenyum pahit karena akhirnya mereka mengerti kenapa disuruh membawa peralatan barbeque.
Di saat yang sama, Jinn, Ishi dan Seta sedang beristirahat di bawah pohon untuk memulihkan tenaga mereka.
Waktu tak terbatas membuat mereka bisa melakukan ini.
"Heii...kalian sudah menyadari kekuatan dan kelemahan Kuro?"
"Yeaaahh.."
"........."
Ishi dan Seta mengangguk senang. Meskipun mereka kalah, namun sekarang mengerti kemampuan dan kelemahan Kuro.
Mereka suatu saat mungkin akan berhadapan lagi dengan Kuro di Tribal jadi latihan ini tidaklah percuma. Walaupun mereka kalah telak saat ini.
Yang menjadi masalah adalah kepintaran Kuro dalam mengambil kesempatan menyerang, yaitu setelah mereka semua menggunakan magic art.
Dengan kata lain kekuatan Kuro sebenarnya hanyalah menghindari serangan lalu menyerang balik saat terjadi jeda akibat menggunakan magic art
Mereka menyadari ini setelah mengingat kembali pertarungan saat melawan Kuro.
"Sayangnya, aku rasa tak hanya itu saja kemampuan Kuro."
"Yahh.. aku setuju." sambung Ishi. "Dia mampu menghindari sacred magic art-ku. Dia pasti memiliki mata yang tajam seperti elang."
"Aku juga berpikir seperti itu." tambah Seta. "Yah mungkin itulah yang menyebabkan serangan kita tidak mengenainya."
"........... "
Jinn terdiam. Dia tak mau bilang apa yang dia ketahui tentang kekuatan sebenarnya yang dimiliki Kuro.
Kekuatan Kuro tak hanya sebatas menghindar dan menyerang balik. Kekuatan Kuro lebih mengerikan daripada yang mereka duga.
"Jinn... ada apa?"
"Ahh.. tidak. Aku hanya ingat kalau Kuro membawa pedang kan? Apa kalian tahu keahlian berpedang Kuro?"
"".............................""
Ishi dan Seta terdiam karena akhirnya menyadari satu hal sederhana yang mereka lupakan.
Kuro selama ini selalu membawa pedang. Dengan kata lain, Kuro adalah seorang yang menguasai teknik pedang.
Tapi mereka belum pernah melihat Kuro menggunakan pedangnya. Jadi kesimpulannya adalah Kuro belum menggunakan kekuatan penuh saat bertarung melawan mereka bertiga.
Menyadari Kuro lebih kuat dari yang mereka duga sebelumnya, mereka bertiga mendesah dalam bersamaan.
"Haa.. bagaimana cara mengalahkan monster seperti dia? Jika dugaanku benar, kekuatan Kuro setara dengan Laila atau bahkan lebih kuat."
Jinn mulai menggerutu. Tapi disaat yang sama, mereka juga menyadari jika mereka menjadi pasangan tetap, mungkin tak ada yang bisa mengalahkan Laila dan Kuro.
Memikirkan kemungkinan itu membuat mereka menunduk lemas.
"Jika kita tak bisa mengalahkan mereka dengan kekuatan, maka kita cukup mengalahkan dengan kecerdikan."
"Tumben kau bisa berkata seperti itu, Seta."
Seta terlihat tak senang ketika mendengar itu dari Ishi. Dia merasa diremehkan.
"Yah.. berkat Kuro aku menyadari kelemahanku. Dan bukankah ini kesempatan yang bagus untuk mengatasi kelemahan kita?"
Jinn dan Ishi tersenyum tanda setuju dengan perkataan Seta.
Mereka menyadari satu kelemahan yang sama, yaitu terlalu mengandalkan sihir dalam pertarungan.
Dengan kata lain, jika kemampuan fisik mereka meningkat atau setidak memiliki teknik seperti Kuro, mereka akan menjadi lebih kuat.
"Baiklah, sudah diputuskan kita akan melakukan latihan khusus. Begitu kan?"
"Yeaahh.. aku akan mengajak Ash untuk ikut bergabung."
Ishi tampaknya ingin partnernya juga menjadi lebih kuat.
Dan setelah selesai berdiskusi, mereka melihat 5 orang gadis berlari ke arah mereka.
Tentu saja mereka berlima adalah kelompok Laila, Serriv, Alva, Alvi, dan Delia.
"Ahhh... indahnya.."
"Ya aku setuju."
"Hentikan tatapan menjijikkan kalian berdua.!!"
Jinn tak senang saat melihat Ishi dan Seta terjerumus ke dalam kemaksiatan.
Mau bagaimana lagi, Jinn sebenarnya tahu apa yang mereka rasakan karena dia juga lelaki normal yang tertarik dengan para gadis.
Tak hanya satu, tapi 5 gadis cantik yang mendekat.
Wajah mereka bertiga memerah saat melihat dua benda berayun ke atas dan kebawah setiap kali mereka berlima berlari.
"Sudahlah, kau juga menatap mereka seperti kami, jadi diam kau, mesum!"
"Huhh.. apa katamu? Mau berkelahi?"
"Baiklah.. jika itu yang kau mau. Ayo maju!!"
Ishi dan Jinn mulai berkelahi untuk alasan yang tidak jelas.
Seta hanya bisa mendesah dalam melihat duo mesum yang bersiap memulai pertarungan baru.
Untung saja mereka berdua hanya saling menatap karena mereka sama sama kelelahan.
"Ya ampun, apa yang kalian lakukan?"
Serriv mengeluh saat melihat Jinn dan Ishi sedang bertengkar tanpa alasan yang jelas.
Mereka berdua bahkan tak menyadari kelompok Laila sudah tiba di dekat mereka.
__ADS_1
"Jadi apa yang terjadi disini?"
Laila tersenyum kecut saat melihat sekitar mereka.
Kawah selebar 15 meter, puluhan kawah kecil, tanah basah karena air es dan beberapa bongkahan es yang sedang mencair karena panas. Sekilas mirip terjadi sebuah badai di tempat mereka saat ini.
"Ini hanya bekas pertarungan. Sedikit memalukan, tapi kami kalah dari Kuro hehe.."
"............"
Laila terdiam. Dia tahu Kuro kuat, tapi ini lebih dari yang dia bayangkan.
Sementara Alvi dan Alva tersenyum karena mereka tampaknya sudah menduga kalau Kuro akan menang.
"Ha ha.. kalian pasti juga menyadari kalau Kuro belum serius melawan kalian kan? Ya itu wajar karena kami berdua juga belum pernah mengalahkan Kuro meskipun kami menggunakan kekuatan penuh."
"Betul sekali."
Si kembar terlihat antusias saat membicarakan Kuro.
Bagaimanapun mereka berdua adalah teman berlatih Kuro, jadi wajar kalau mereka tahu seberapa kuat Kuro.
"Ya begitulah. Hal itu juga membuat aku sadar masih lemah dan mengetahui bahwa masih banyak orang kuat di luar sana. Satu hal yang ingin ku ketahui adalah, bagaimana pendapat kalian berdua tentang Kuro?"
"eh?"
Laila sedikit terkejut saat Jinn menanyakan itu kepada Alva dan Alvi.
Dan tampaknya mereka berdua menyadari maksud pertanyaan Jinn karena mereka bertiga adalah orang yang mengetahui kekuatan Kuro.
"Sejujurnya kami tak tahu bagaimana harus mengatakannya, kami tahu Kuro kuat, tapi entah mengapa kadang kami merasakan suatu yang menyedihkan saat melihat Kuro bertarung. Ya. Kuro kuat, tapi disaat yang sama dia juga begitu menyedihkan. Kira kira begitu pendapat kami, benarkan kak Alva?"
Alva mengangguk, sementara itu Jinn tersenyum tipis karena dia memiliki pendapat yang sama dengan mereka berdua.
Setelah itu, kelompok Laila melanjutkan lari mereka dan meninggalkan Jinn, Ishi dan Seta.
"..........."
Sambil berlari, entah mengapa Laila tampak murung sejak berpisah dengan kelompok Jinn.
Dia masih memikirkan perkataan Alvi.
Kuro begitu kuat, tapi disaat yang sama begitu menyedihkan.
Apa artinya?
"Hei. apa yang sedang kau pikirkan?"
Serriv mencoba mengajak bicara Laila yang tampak murung. Serriv menyenggol bahu Laila, tapi Laila tak terlalu mempedulikan Serriv.
"....Bukan apa apa.."
Jawaban Laila membuat Serriv mendesah. Dia hanya tak tahan ketika suasana di sekitarnya menjadi tidak enak.
"Hei.. Laila, bukankah sudah saatnya kau beritahu kami tentang sejauh mana hubungan kau dan Kuro!"
"Eh? Sejauh mana? Apa maksudmu?"
"Tentu saja apakah kalian sudah berciuman, berkencan, atau melakukan 'itu' fufu.."
Menyadari maksud pertanyaan Serriv, wajah Laila memerah padam.
Dia memang pernah berciuman dengan Kuro, tapi dia tak mungkin mengatakan itu di depan 3 orang gadis yang menyukai Kuro.
Serriv tampaknya sangat menikmati saat menggoda Laila.
"Hei Serriv, kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Y-ya.. kenapa kau menanyakan itu?"
Seperti dugaannya, Alva dan Alvi langsung panik. Wajah mereka berdua juga memerah. Tentu saja Dellia juga, tapi dia masih diam seperti biasa.
"Fufu. aku hanya bercanda, umm tidak, aku hanya penasaran."
"huh?"
"Apa kalian tak menyadari sesuatu yang aneh antara hubungan Kuro dan Laila?"
""...........?""
Alva dan Alvi memasang wajah bengong.
"Kuro mencintai Laila, tapi kita tahu bahwa Kuro jarang bertemu dengan Laila di sekolah. Menurutku, Kuro bukanlah orang yang mudah jatuh cinta seperti kalian berdua, dengan kata lain....."
"Kuro dan Laila pernah bertemu sebelum memasuki Kuryuu Academy? Apa itu yang kau maksud? umm hei.... apa maksudmu dengan mudah jatuh cinta?"
"Tapi perkataan Serriv tidak salah. Kuro yang kita kenal tak mudah jatuh cinta. Dia juga bukan orang yang jatuh cinta kepada Laila hanya karena dia seorang putri paladin dan memiliki wajah yang cantik."
Dan mereka bertigapun akhirnya mencium suatu yang tidak beres di antara mereka berdua.
Aneh. Hubungan mereka terlalu aneh dan mencurigakan.
Apakah sebenarnya selama ini mereka hanya berpura pura tak saling mengenal?
""Ji~~""
"Hei... hentikan tatapan kalian berdua. Aku dan Kuro bertemu pertama kali di sekolah."
"Tapi tetap saja ini masih terasa janggal. Apakah kau pernah bertemu, tidak, kurasa mungkin kau sudah lupa pernah bertemu dengan Kuro. Hmmm.. coba ingat kembali...., kau pasti pernah bertemu dengannya walau hanya sekali, lelaki aneh seperti Kuro pasti mudah diingat."
"Meskipun kau bilang begitu.. "
Serriv benar.
Kuro mencintai Laila, tapi mereka jarang bertemu.
Berbeda dengan Laila yang penasaran karena Kuro mirip dengan lelaki berambut putih di mimpinya, Kuro seharusnya tak mungkin jatuh cinta kepada Laila hanya karena dia berwajah cantik.
Karena Laila kuat?
Itu tidak mungkin. Kuro sudah cukup kuat, jadi pasti bukan itu alasannya.
Karena dia putri seorang paladin?
Orang normal pasti akan takut dan bukan menjadikan alasan jatuh cinta. Apalagi ayah Laila adalah paladin terkuat. Lelaki pasti akan berpikir 2000 kali sebelum mencoba mendekati Laila.
Jika mereka berani macam macam dengan Laila, ayah Laila pasti tak tinggal diam.
Tapi Kuro adalah orang yang tak kenal ragu dan takut untuk mencium Laila meskipun dia seorang putri paladin.
Jatuh cinta pada pandangan pertama?
Ini adalah alasan yang paling tidak masuk akal.
Alasan ini tak cukup kuat untuk mendekati Laila. Selain itu, Kuro bukanlah orang yang mudah jatuh cinta. Menurut Alva dan Alvi
Lalu apa alasannya?
Kadang orang mengatakan jatuh cinta tak butuh alasan. Tapi apa itu cukup untuk jatuh cinta?
Kesimpulannya Kuro dan Laila pasti pernah bertemu sebelumnya.
Hanya ini jawabannya, tapi Laila tak ingat dengan Kuro.
Meskipun dia mengakui bahwa dia tak merasa asing dengan Kuro, namun Laila merasa hal itu karena dia sering bermimpi tentang lelaki 'itu'.
"........"
Tak ada pilihan lain. Laila mencoba mengingat apakah dia pernah bertemu dengan Kuro sebelumnya.
"........hmmm?"
Laila tak bisa ingat. Ketika mencoba mengingatnya, justru bayangan lelaki 'itu' yang muncul. Mungkin hal ini karena mereka mirip.
"Ada apa?"
"Tidak. Aku tetap tak mengingat pernah bertemu dengan Kuro."
"Hmm.. aneh. Kalau begitu coba ingat apakah kau pernah bertemu dengan orang yang memiliki kemiripan dengan Kuro. Suara, tinggi badan, sifat, cara dia bicara. Kau mengerti?"
"Ha ha..."
Meskipun mengerti maksud Serriv, Laila hanya tersenyum kecut ketika mendengar perintah Serriv. Meskipun kedengaran sulit, tapi tak ada salahnya mencoba.
Setelah memutuskan untuk mencoba, Laila memejamkan matanya untuk berkonsentrasi.
Tapi dia kesulitan menemukan orang yang mirip Kuro dalam ingatannya.
"Cobalah lebih keras. Kali ini tingkatkan konsentrasimu!"
"Heii..."
Meskipun itu perintah egois, namun tak ada salahnya mencoba lebih keras.
Laila menutup matanya lagi sambil berlari. Meskipun sedikit berbahaya, namun pasti akan baik baik saja jika terjatuh. Dia juga percaya kalau Serriv akan menolongnya jika terjadi sesuatu.
(.............. eh... dia?)
Setelah berkonsentrasi cukup lama. Akhirnya Laila menemukan seseorang yang memiliki kemiripan dengan Kuro.
Tapi ingatannya masih sedikit kabur. Wajahnya orang yang pernah dia temui juga tak terlihat.
Tapi bukan karena Laila tak ingat, tapi orang yang dia temui itu memakai topeng yang menutupi sebagian wajahnya.
Itu adalah pertemuan Laila dengan lelaki misterius yang terjadi setahun yang Lalu.
"Laila!"
"Laila, Awas!!"
"eh?"
Mendengar peringatan Serriv dan Alvi. Laila langsung membuka matanya.
Tapi sudah terlambat.
Bamm!
Laila menabrak dinding batu hingga terjatuh. Matanya berputar dan lecet di beberapa bagian kepala.
"Ahhhhh......"
__ADS_1
Serriv dan ketiga lainnya hanya terdiam saat melihat Laila pingsan karena menabrak dinding batu yang diciptakan oleh Ken dan Knox untuk menjebak Kuro. Akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat sampai Laila sadar kembali.