Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Liar


__ADS_3

Kuro menoleh ke arah Otome. Dia tak peduli kepanikan apa yang terjadi di sekitarnya saat ini. Ini wajar bagi Kuro.


Mata putihnya kembali ke semula. Hitam melebihi gelapnya malam.


"Otome, kenapa diam saja?"


"...Eh?"


"Aku menghancurkan perisai agar kau cepat mengobati Charlia, jadi cepat lakukan atau Charlia bisa mati."


"...Um."


Menyadari maksud Kuro, Otome langsung melompat naik ke arena diikuti 3 Healer.


Saat melihat kondisi Charl yang mengenaskan, Otome menelan ludah karena tak membayangkan Kuro bisa begitu tega melakukan itu pada Charl, tapi bagi Kuro, sang Witch Reaper, ini pasti suatu yang biasa baginya.


Meskipun begitu, Otome bisa melihat kalau luka yang ada pada Charl hanya terlihat sadis saja. Tangan dan kakinya memang terpotong, tapi potongan begitu diperhitungkan sehingga membuat luka tak memberikan dampak jangka panjang.


Orang yang sanggup melakukan semua itu tak diragukan lagi seorang monster.


Tiga orang Healer dengan cepat mencoba menyambung tangan dan kaki. Mereka cukup terkejut luka lebih mudah sembuh daripada yang diperkirakan.


Kuro tiba tiba melangkah mendekati Charl.


Charl sadar Kuro mendekat dan melirik Kuro dengan mata setengah terbuka.


"SIALAN, BERANINYA KAU MELAKUKAN ITU KEPADA TUAN CHARL!?"


Anak buah Charl  berusaha naik ke atas arena. Mereka berdua sadar tak akan menang melawan Kuro, tapi itu bukti bahwa mereka setia kepada Charl.


Melihat dua orang mendekat, Kuro hanya tersenyum tipis dan berkata,


"Laiko!"


BOOOMMMM!!!!!


Tiba tiba sebuah benda besar jatuh di atas arena dan menimbulkan ledakan dan debu tak jauh dari Kuro.


Semua orang terkejut. Apakah itu kemampuan (kejutan) Kuro yang lain?


Pertanyaan mereka terkawab saat debu mulai menghilang dan sepasang mata merah terlihat. Sayap seperti kelelawar terbentang dan akhirnya menunjukkan sosok yang jatuh.


Roooooooaaaaarrr!!


Itu adalah naga. Naga hitam yang menyerang kota 2 minggu yang lalu kini ada di atas arena duel.


Laiko meraung dengan keras memecah keheningan. Semua orang yang menonton kini terlihat panik dan pucat lebih dari sebelumnya.


Mereka tak menyangka naga yang menyerang kota kini muncul dihadapan mereka. Banyak yang kabur dari arena duel karena takut.


"Wooooww... itu naga yang manis, kak Kuro."


Satu satunya yang terlihat senang hanyalah Yui. Matanya bahkan berbinar binar.


Sementara itu Knox, Jinn dan Laila hanya bisa terbengong saat melihat semua kejutan dari Kuro. Mereka ingin panik seperti kebanyakan orang, tapi mereka sudah mulai terbiasa dengan kejutan Kuro, hanya saja kali ini benar benar membuat mereka tak tahu harus merespon apa.


Kedahsyatan kekuatan yang mampu memotong perisai dengan mudah ditambah dengan naga Holy Demonic Dragon Class.


Siapa yang tak terkejut dengan semua itu?


"Otome, jangan kawatir! Kau lanjutkan saja, naga itu tak akan mengganggu."


Dengan wajah panik dan tak percaya, Otome dan 3 Healer lainnya melanjutkan pengobatan Charl.


"Oh iya, untuk menyambung tangan dan kaki Charlia, kau bisa menggunakan ini."


Dengan senyuman, Kuro merogoh sakunya dan melemparkan botol kecil kepada Otome.


Otome menangkap dengan tangan kanannya.


"? Ini kan..."


Otome terkejut saat menyadari botol yang diberikan Kuro adalah air mata Phoenix yang langka dan mahal.


Bagaimana orang biasa seperti Kuro bisa mendapatkan benda seperti itu seperti mendapatkan permen?


"Kalau begitu sudah diputuskan aku yang menjadi pemenang, benarkan Charlia?"


"........Ughh...."


Charl masih sadar dan mendengar semua perkataan Kuro. Dia kalah, itulah inti ucapan Kuro.


Disaat itulah rambut pirang Charl bersinar dan perlahan berubah menjadi panjang. Tak hanya itu, dada Charl tiba tiba membesar. Kini Charl berubah dari tampan menjadi gadis yang cantik jelita.


Charl tak tahu kenapa Kuro memanggilnya dengan sebutan Charlia, tapi dia tahu hanya ada satu orang di dunia yang memanggilnya dengan nama itu.


"Ya..., aku kalah, Shiro."


Suara Charlia juga berubah menjadi lemah lembut dan merdu. Dia kini berubah menjadi 100% gadis.


"Aku minta maaf, Charlia, tapi kau ingat dulu yang aku katakan? 'Aku akan melakukan apapun demi orang yang berharga bagiku. Aku bahkan rela menjadikan dunia musuhku.' Itulah alasan aku bertarung selama ini."


"Yeah. aku ta-hu i....tu.. Shi....ro..."


Setelah mengatakan itu, Charl pingsan, tapi dia pingsan dengan senyuman indah.


Berkat air mata Phoenix kaki dan tangan Charl sudah tersambung seperti semula. Sekarang yang diperlukan hanyalah pemulihan.


Otome dan ketiga Healer lainnya akhirnya bisa bernafas lega.


Meskipun ini duel yang paling berbahaya yang pernah terjadi, namun semua berakhir dengan baik.


"Kuro, mau kemana kau?"


Otome terkejut saat Kuro tiba tiba mendekat ke Laiko.


Kuro lalu memandang ke semua orang yang menonton pertarungan sampai akhir dan berkata,


"Satu hal yang kalian harus tahu, Laila adalah milikku, jika ingin merebut dia, aku akan dengan senang hati mengirim kalian ke neraka. Ingat itu baik baik."


Seperti yang Kuro duga, tak ada yang merespon Kuro. Bahkan mereka semua ketakutan, tapi Kuro tak hanya mengatakan itu kepada penonton yang ada di dekat arena duel, tapi juga kepada orang yang diam diam menonton duel mereka.


"Dia benar benar melakukannya. Dasar pembuat onar."


"........."


Electra hanya tersenyum kecut melihat semua yang dilakukan Kuro. Dia tak menyangka Kuro akan menyatakan perang dan menyatakan bahwa Laila adalah miliknya seorang.


Sementara itu Riana tak tahu harus merespon apa, tapi dia merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Iri?


Dia tak tahu.


"........................"


Sementara itu, Laila hanya bisa terdiam bagai mayat dengan wajah merah padam. Dia tak bergerak sedikitpun saat melihat dan Kuro mengatakan hal yang memalukan. Sangat memalukan.


Meskipun begitu, dia merasa senang Kuro mengatakan semua itu.


"Haaa... dia melakukannya."


"Aku tahu kak Kuro akan mampu berbuat sejauh itu, tapi....... siapa gadis ituuuu?"


Yui langsung terlihat panik dan air mata mengalir. Dia terkejut saat Charl berubah menjadi wanita cantik. Dan yang lebih buruk, gadis itu memiliki hubungan dengan Kuro.


"Knox!"


Jinn berteriak kepada Knox yang bisa dibilang seorang informan. Jadi dia pasti tahu hal ini.


"Iya iya. Nama asli Charl adalah Charmilia Ven Cellvain. Putri pertama jendral Magil ven Cellvain. Kemampuan kalian sudah mengetahuinya, jadi aku tak perlu memberitahu kalian. Dia tomboi, sangat tomboi karena itulah dia suka Cross Dressing. Sekian."


"".......""


WTF! Itulah yang ada dipikiran Yui dan Jinn saat mendengar itu.


"Itulah alasan aku memberi tahu kalian untuk menjaga jarak dari dia. Meskipun gadis, dia tak ragu atau malu masuk toilet laki laki."


Sekarang Jinn ingat kalau Charl (Charlmilia) memang benar benar seperti laki laki normal. Itulah yang membuat semua laki laki di kelas tak curiga.


Selain itu, mereka juga tak menyelidiki Charl, jadi itu sudah wajar.


"Begitu rupanya, karena itulah dia selalu pergi saat berganti pakaian."


Jinn sekarang mengerti bahwa Charlmilia adalah 100% gadis. Gadis yang sedikit aneh.


Tapi dia juga menyadari satu hal-


"Knox, ....kau tahu apa yang ada di pikiranku."


"Tentu saja. Aku masih terima dengan kekalahanku berduel, tapi entah mengapa kali ini aku benar benar merasa kalah telak..."


"Aku juga berpikir sama. Dia Witch Reaper yang jahat kan, dan kita orang yang baik, tapi...... kenapa dia yang selalu mendapat gadis cantik. Aku tak terimaaaa."


Air mata mengalir deras dari mata Jinn dan Knox. Untuk pertama kalinya mereka benar benar dikalahkan secara fisik dan mental.


"Harem Reaper BRENGSEKKK!!"


"Harem Reaper?"


Yui keheranan saat mendengar julukan aneh dan bisa dibilang lucu. Tapi dalam pikiran Yui,


(Itu bukan julukan yang buruk.)


Itu bahkan julukan yang sangat sesuai terhadap Kuro.


Sementara itu Laila masih terdiam membeku dengan wajah merah padam. Bahkan kini mengeluarkan asap.


"Apa dia selalu seperti itu?"


"Hm? ... Yeah... Laila memang seperti itu." jawab Jinn dengan air mata mengalir.


"Dia terlalu polos, benarkan?"


Knox dan Jinn mengangguk bersamaan tanda setuju.


Itulah alasan kenapa mereka mengidolakan Laila. Dia cantik dan pandai bertarung disaat sedang serius, tapi dia bisa sangat polos dan lugu seperti anak kecil.


"..?!"

__ADS_1


Yui melirik ke arena saat menyadari Kuro pergi melalui tangga lain tanpa sepatah katapun.


(Kak Kuro?)


Yui langsung tahu kenapa Kuro terlihat seperti itu.


"?!"


Yui tiba tiba dikejutkan oleh Laila yang tiba tiba berlari ke arah Kuro.


Laila menunjukkan ekspresi senang dan senyuman yang manis. Aura pink juga terpancar darinya.


"Kurooo!!"


Laila berteriak memanggil nama Kuro dengan ceria sambil melambaikan tangannya.


".............."


Tapi Kuro terus berjalan dan mengabaikan Laila yang berlari ke arahnya.


Laila tak menyadari keanehan itu dan terus berlari mendekat ke arah Kuro.


Dia ingin segera memeluk Kuro, tapi yang paling penting dia ingin memberi tahu Kuro bahwa kini dia tahu jawaban pertanyaan Kuro.


'Aku juga mencintaimu.'


Laila tahu Kuro pasti akan langsung mencium dirinya atau bahkan melakukan hal yang lebih setelah dia mengatakan itu, tapi dia akan menerima semua itu. Itu karena dia mencintai Kuro.


"Kurooo!"


Laila langsung bersiap memeluk Kuro dari belakang dengan kedua tangannya, tapi-


"?!"


Yang Laila dapatkan adalah sebuah pedang yang sudah berada tepat di lehernya. Pedang putih Kuro bahkan sudah mengiris kulit Laila hingga membuat darah mengalir.


Jika Laila tak berhenti di saat yang tepat, dia akan mati.


Kenapa?


Itulah yang ingin ditanyakan Laila, namun dia mengurungkan niatnya saat melihat tatapan Kuro yang tajam dan haus darah. Tatapannya bahkan lebih menakutkan daripada saat bertanding dengan Charl.


Setelah melihat mata itu, Laila tak bisa bergerak dan tersungkur. Setelah itu, dia melihat Kuro mengayunkan pedangnya tanpa ragu tepat ke arah Laila.


Kepala Laila terpenggal dan jatuh ke tanah dan akhirnya mati. Kenapa?


Air mata mengalir, namun berkat itu Laila sadar semua itu hanyalah ilusi.


"?!"


Pedang Kuro masih berada di leher Laila dan tak bergerak.


"Kuro... kenapa?"


"Kenapa?"


Kuro tersenyum tipis lalu menyarungkan pedangnya.


"Huh.. seharusnya kau bersyukur aku tak membunuhmu."


"........"


Laila hanya bisa melebarkan matanya. Dia tak percaya Kuro akan mengatakan hal yang begitu kejam.


"Sekarang menyingkirlah dariku. Melihatmu saja sudah membuatku muak."


Laila terdiam dan melangkah mundur. Dia hanya bisa melihat Kuro berbalik dan perlahan pergi.


Tapi dia tiba tiba berhenti dan menoleh ke arah belakang dengan tatapan yang menakutkan.


"Oh iya, satu hal lagi. Hubungan palsu kita akhiri sampai disini saja. Meskipun sebentar, aku benar benar senang,... Laila"


Kuro menyipitkan matanya lalu pergi mengabaikan Laila yang terdiam mematung. Wajahnya terlihat terkejut, pucat pasi dan menyedihkan.


Semua yang melihat itu tak percaya dengan apa yang terjadi dan mereka dengar, tapi mereka satu hal yang pasti,


Kuro telah mencampakkan Laila.


"..............."


Air mata mengalir deras bagai sungai. Harapan dan kebahagiaannya langsung musnah dalam sekejap.


Kenapa?


Pertanyaan itu terus berada di pikiran Laila dan tak mau pergi.


Laila tiba tiba menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya. Wajahnya terlihat merah karena marah dan air mata terus berlinang.


Menyedihkan. Itulah Laila saat ini.


Disaat yang sama, hujan tiba tiba turun dengan deras membasahi semua yang ada di daratan. Hal itu juga menjadi saksi perpisahan mereka berdua.


Laila melangkahkan kakinya untuk mengejar Kuro. Dia harus menamparnya untuk membuat hatinya lega dan meminta penjelasan.


Tapi-


"?!"


"Apa kau tak mendengar kata kak Kuro?"


"...Yui..."


Satu hal yang membuat Laila terkejut, Yui juga mengeluarkan hawa membunuh yang kuat. Bahkan tangan kirinya sudah bersiap mengambil belati.


"Sebaiknya kau berhenti, kak Kuro mungkin akan benar benar membunuhmu jika kau mendekat."


".........."


Meskipun begitu, Laila ingin pergi dan meminta semua penjelasan semua ini. Ada banyak hal yang tidak dia mengerti.


"Jangan membuatku mengulangi perkataanku. Aku bisa saja mematahkan kedua kakimu jika kau tetap berusaha untuk pergi."


Yui serius.


Laila tahu itu dan akhirnya mulai sedikit tenang.


Dia menyadari Kuro dan Yui yang dia kenal sekarang sudah tak ada lagi. Semuanya menghilang setelah duel ini berakhir.


"Begitu rupanya. Huh... karena kau terlalu polos, kau mudah ditipu oleh kak Kuro Ku ku.. pantas dia senang saat berada disini."


"Eh?"


"Sadarlah kak Kuro tak pernah serius kepadamu. Atau apa kau berpikir kalau kak Kuro hanya bisa mendapatkan gadis selevel dirimu? Kau pasti tahu kak Kuro bisa dengan mudah mendapatkan wanita lain seperti putri Riana dengan mudah. Jadi sadarlah dengan posisimu."


"............"


Setelah mengatakan itu, Yui melepas tangan Laila dan berjalan menuju ke arah Kuro pergi.


Laila hanya terdiam membisu.


Dia tak percaya dengan semua yang dikatakan Yui, tapi dia sadar jika yang dikatakan Yui benar.


['Aku senang meskipun hubungan kita hanya berlandaskan janji, tidak kurasa memang itulah yang terbaik']


Laila ingat dengan apa yang dikatakan Kuro kemarin. Awalnya dia tak tahu apa maksud Kuro, tapi sekarang dia tahu apa artinya.


Sejak awal semua yang dikatakan Kuro adalah bohong.


"....Pembohong."


Laila hanya bisa terdiam menangis di tengah hujan yang menutupi air matanya.


Tak ada yang berani mendekat atau menghibur Laila. Mereka semua tahu kalau Kuro adalah orang brengsek yang hanya mempermainkan Laila.


Tapi mereka tak bisa ikut campur urusan pribadi mereka berdua.


"Laila..."


Riana hanya bisa melihat dari ruang kepala sekolah.


Dia tak tahu apa yang Laila rasakan, jadi dia tak tahu harus berbuat apa untuk menolong Laila.


"Jangan khawatir. Untuk sementara biarkan Laila berpikir sendirian dan menenangkan diri. Kita tak bisa berbuat apa apa untuk mereka saat ini."


"......Eh?"


"Anda akan mengerti jika sudah merasakan yang namanya jatuh cinta."


"Ugh.."


Perkataan Electra benar benar menusuk Riana.


Dia belum pernah jatuh cinta. Dia tak membutuhkan cinta dan dia tak diizinkan jatuh cinta. Itulah nasib keluarga kekaisaran sejak dulu.


Riana tahu itu dan karena itulah dia tak akan jatuh cinta.


"Kalau begitu, apa sebenarnya kekuatan Kuro?"


Untuk mengalihkan perhatian, Riana mengganti topik.


"Ahh... aku menyebutnya Accel Art."


"Accel Art? Akselerasi? Bukankah itu sesuatu yang umum dan semua penyihir bisa melakukannya?"


"Anda tidak salah, tapi Accel Art Kuro memiliki level yang berbeda dengan akselerasi biasa. Anda tahu kelemahan semua penyihir di dunia ini?"


"......Tentu saja. Kita adalah manusia."


Manusia yang memiliki kekuatan lebih dari manusia biasa, itulah penyihir.


Tapi mereka tetaplah manusia. Mereka bisa terluka, tua, dan akhirnya mati. Meskipun bisa menggunakan sihir untuk memperpanjang umur, namun pada akhirnya tak ada yang abadi.


Itulah alasan penyihir terkuat di dunia Demon King mati. Demon King adalah manusia.


"Ya. Karena itulah kita masih memerlukan waktu untuk mengaktifkan kekuatan yang disebut Sihir. Accel Art Kuro adalah satu satunya kekuatan yang memanfaatkan kelemahan itu dengan sempurna."


"Eh?"

__ADS_1


"Mudahnya, untuk menciptakan listrik aku membutuhkan waktu 0,5 detik, tapi bagaimana jika kau bisa membunuh musuhmu dalam waktu 0,5 detik itu? Itulah Accel Art. Itulah kenapa dia selalu mematahkan pedang bahkan yang terbuat dari logam terkuat. Dan itulah yang membuat Kuro seorang Witch Reaper.."


Tak hanya peringkat Master, Kuro juga merupakan musuh terburuk bagi penyihir. Itulah kekuatan Witch Reaper yang sesungguhnya.


💠💠💠


Di tempat lain, Kuro berjalan di jalan sempit dan sepi. Tak ada orang disekitarnya.


Darah terus mengalir di seluruh tubuh Kuro disaat dia berjalan dan basah kuyup karena hujan.


"Apa kak Kuro yakin ini yang terbaik? Jujur saja aku lebih senang jika kak Laila dan kak Kuro tetap bersama."


Kuro berhenti saat melihat Yui berdiri di depannya sambil bersandar dinding.


Pandangan Kuro kabur, tapi dia masih bisa mendengar dengan normal.


"Yahh... Inilah yang terbaik. Kau tahu aku tak bisa melibatkannya lebih dar- gaahh.."


Kuro tiba tiba tersungkur dan mengeluarkan darah kehitaman dari mulutnya. Darah itu menunjukkan tanda bahwa lukanya sudah parah. Bahkan lebih parah dari Charlmilia.


"Kak Kuro!"


Yui langsung mendekat dengan wajah panik.


Yui langsung menyentuh tubuh Kuro dengan tangannya yang diselimuti aura putih. Yui memejamkan matanya dan aura putih itu langsung mengalir ke seluruh tubuh Kuro.


"?!"


Mata Yui melebar. Dia terkejut saat menyadari luka yang diterima Kuro setelah duel tadi.


(Ini gawat. 14 tulang patah dan beberapa organ penting mengalami luka cukup dalam. Meskipun aku menggunakan sihir penyembuh dan air mata Phoenix, kak Kuro butuh waktu lama untuk pulih.)


"Gu..ah..."


Kuro mengeluarkan darah lagi dari mulutnya. Kali ini dia merasakan kekuatan menghilang dari tubuhnya.


Kesadarannya memudar dan berubah menjadi gelap. Kuro akhirnya pingsan dengan luka di seluruh tubuhnya.


"Tch... Sial. "


Yui menggertakkan giginya lalu menoleh ke semua arah. Dia mengendus udara dan mencari bau Kuro di udara untuk menemukan asrama. Meskipun bau sedikit tak tercium akibat hujan, namun dia dapat mencium sedikit bau Kuro dari bangunan tak jauh dari tempatnya.


(Bangunan itu kah..)


Beruntung mereka tak jauh dari asrama, jadi Yui bisa cepat membawa Kuro.


"kak Kuro bertahanlah, aku sekarang akan mengobati- ?!.. Kenapa kau kemari?"


Yui menoleh ke arah Laila yang datang dari belakang mereka.


Dan Laila tampaknya mendengar semua pembicaraan mereka.


(Tch... kenapa harus disaat seperti ini.)


Yui hanya bisa menahan amarah saat melihat Laila yang memasang wajah sedih dan khawatir.


Beberapa menit sebelumnya.


"...Pembohong."


Laila terdiam di tengah hujan.


Dia tak mengerti kenapa Kuro mencampakkannya.


Tapi dia merasa kalau ada suatu yang aneh.


Kenapa tiba tiba Kuro mencampakkannya? Kenapa sekarang? Apa dia membuat kesalahan? Jika membuat kesalahan, dia akan minta maaf, tapi dia tak mengerti.


"?!"


Laila tiba tiba menyadari kesalahannya.


"Aku sama sekali tak mengerti Kuro."


Laila tak tahu apapun tentang Kuro. Yang dia tahu hanyalah Kuro memiliki banyak kejutan dan kuat. Hanya itu.


Dia bahkan tak mencari tahu tentang Kuro.


Itulah alasan kenapa dia bisa membuat kesalahan terbesar. Tapi apa kesalahan itu?


Dia tak tahu. Lagi. Dia tak tahu apapun.


Setelah itu, Laila mencoba mengingat semua yang terjadi selama ini. Dia berharap bisa menemukan kesalahannya. Dengan begitu dia bisa meminta maaf.


Kenapa dia harus meminta maaf setelah dicampakkan dan dibuang?


Jawabannya sudah jelas, itu karena dia mencintai Kuro.


Dia mengerti rasanya hampir kehilangan Kuro saat Charmilia menyerang Kuro dengan Plasma Cannon Breath, karena itulah dia tak ingin merasakan hal itu lagi.


Dia mengingat pertemuan pertamanya. Kuro menyebut dirinya pembunuh. Pertemuan kedua dan ketiga Kuro menyebut dirinya mata mata. Pertemuan keempat Kuro mengatakan sedang mencari sesuatu di perpustakaan. Pertemuan kelima mereka berkencan dan mencari informasi pembunuh.


Dan di pertemuan keenam, Kuro melawan Gio dengan pedang. Di pertarungan itu Laila hampir mati.


"?!"


Dia langsung mengusap air matanya. Dia tak tahu apakah dugaannya benar, tapi jika benar, maka-


Laila bangkit dan mencari Kuro. Dia tak peduli apakah Yui akan mematahkan kakinya. Yang terpenting saat ini adalah dia harus memastikan dan meminta penjelasan.


Dia akan minta maaf dan jika dugaan dia salah, dia akan menerima putus dari Kuro.


Laila berlari ke semua tempat yang kemungkinan dilewati Kuro di tengah hujan. Dia tak peduli akan sakit karena mempunyai hal yang lebih penting.


Sambil mencari, dia juga mengingat perkataan Kuro.


'Aku mencintaimu, karena itulah aku menolak cinta Alva dan Alvi.' Tentu saja termasuk 269 gadis lainnya.


Saat itu Laila tahu Kuro tak berbohong.


Dia juga ingat kejadian di kantin kalau Kuro akan memberi tahu semuanya kepadanya. Itu juga bukan bohong.


'Aku akan melakukan apapun demi orang yang berharga bagiku.'. Kuro bahkan rela berpisah dengan Laila.


Dan yang terakhir, 'Hubungan mereka saat ini adalah yang terbaik.' Tak berlandaskan cinta. Dengan kata lain tak ada yang tersakiti saat berpisah.


(Sejak awal dia memang ingin putus denganku.)


Dia sekarang tahu.


Dia sekarang tahu kenapa Kuro mengatakan hal memalukan lalu putus dengannya, itu karena,


Kuro mencintai dirinya.


"?"


Laila  berhenti saat melihat darah yang bercampur air hujan. Darah itu cukup banyak sehingga tak langsung hilang terkena air hujan.


Laila langsung mengikuti jejak darah itu dan menemukan Kuro. Disaat itulah dia mendengar pembicaraan Yui dengan Kuro.


(Dia melakukan semua itu demi melindungiku.)


Ya. Kuro melakukannya demi melindunginya.


Kuro adalah Witch Reaper yang memiliki banyak musuh. Dan musuh pasti akan tahu dia mencintai Laila dan akan mengincar Laila.


Satu satunya cara untuk mencegah itu adalah dengan menunjukkan semua kemampuan Kuro sang Witch Reaper.


"?!"


Laila terkejut saat Kuro pingsan dengan darah mengalir dari tubuhnya.


Disaat itulah dia memberanikan diri untuk muncul.


Di tempat lain.


"...tuan putri...."


Pemuda dengan pelindung baja lengkap masuk ruang latihan untuk mencari partnernya dan sekaligus tuannya.


"Ada apa mencariku? Kau tahu aku sedang sibuk berlatih untuk Battle War nanti kan? Hm? Mungkinkah ada hubungan duel antara Charlmilia dan Witch Reaper tadi?"


Gadis itu tahu karena pemuda itu membawa ponselnya. Tampaknya pemuda itu merekam duel itu dan ingin menunjukkannya kepada gadis itu.


"Anda benar, duel itu dime-"


"Charlmilia kan? Aku tahu dia pasti menang karena aku pernah bertarung melawannya. Ku Ku..."


"Tidak. Anda salah. Witch Reaper yang menang."


Saat mendengar itu, gadis cantik itu terkejut. Dia tak menduga prediksinya salah.


Gadis itu tahu kalau Charlmilia penyihir peringkat SSS, jadi seharusnya tak mudah dikalahkan.


"Berikan itu padaku."


Pemuda itu  memberikan ponselnya kepada gadis itu.


Gadis itu menonton rekaman duel hingga selesai. Setelah itu, senyuman tipis dan senang muncul di bibir gadis itu.


"Akhirnya aku menemukannya."


Kraaakkk. Gadis itu tersenyum senang dan menghancurkan ponsel dengan cengkeramannya.


"Aku akhirnya menemukan lawan yang cukup kuat. Fu fu fu hua ha ha ha ha..."


Gadis itu tertawa puas dan senang untuk pertama kalinya.


Dia akhirnya menemukan seseorang yang cukup kuat sebagai lawan. Setelah melihat rekaman itu, gadis itu langsung memutuskan untuk menjadikan Kuro sebagai lawannya.


Tak jauh darinya, 70 murid tergeletak penuh luka memar. Seragam mereka sobek di berbagai tempat. Mereka semua kalah oleh gadis itu.


"Tuan Putri, itu ponselku."


"........."


Gadis itu langsung terdiam membisu saat menyadari kalau menghancurkan ponsel orang lain.

__ADS_1


"Tuan PUTRI, SUDAH KUBILANG UNTUK TAK MENGHANCURKAN PONSELKU. BERAPA KALI AKU HARUS MENGATAKAN INI?"


Gadis itu langsung menciut oleh teriakan pemuda itu. Ini bukanlah pertama kalinya dia menghancurkan ponsel orang lain. Sebagai seorang putri, dia seharusnya tak boleh melakukan itu.


__ADS_2