Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Leaving to Dragonia


__ADS_3

Laila melihat Kuro yang saat ini duduk di kepala Ruby sambil melihat dua bulan yang menerangi malam dari bawah pohon.


Cahaya terang bersamaan dengan udara yang cukup dingin berhembus membuat tubuh kedinginan dan membuat ingin segera tidur dengan selimut yamg hangat.


Tapi, malam ini entah mengapa Laila merasakan suatu yang lebih dingin. Itu adalah rasa cemas dan takut.


Roooarr..


Ruby meraung kecil.


"Aku tahu Ruby, besok kita akan melakukan perjalanan panjang, jadi tidurlah. Aku disini menemanimu, jadi jangan kawatir."


Kuro mengelus sisik naga sekaligus ibu keduanya dengan lemah lembut seperti mengelus anjing.


Kuro menyadari hawa keberadaan seseorang dan tahu orang itu adalah kekasihnya.


"Ahh... Laila, apa yang kau lakukan disana? Kenapa kau tak kemari dan menemaniku?"


Kuro menoleh ke arah Laila yang hanya melihat dirinya dari kejauhan.


Dia tak tahu apa yang dipikirkan Laila saat ini, tapi dia tahu Laila bertingkah aneh setelah mendengar keputusan bahwa dia akan tetap pergi ke Dragonia.


Tak hanya bertingkah aneh, Laila juga tampak murung.


"............."


Laila hanya terdiam dan tak bergerak. Dia masih merasa cemas saat mengingat kejadian tadi sore di penyimpanan bawah tanah.


-Beberapa jam sebelumnya.


"Bolehkah aku tahu alasan kau melarangku? Terus terang aku tak tahu alasan kau melarangku."


"Apa kau bodoh? Ahhh.. aku lupa kau memang bodoh. Aku melarangmu tentu karena kau akan mati jika kau pergi kesana."


"......."


"Aku tahu tetap akan pergi meskipun aku memaksamu tinggal, tapi kali ini aku akan tetap melarangmu. Aku tak mau kau mati demi negara lain."


Alasan Electra masuk akal mengingat Dragonia negara lain. Hubungan Kekaisaran Houou sebenarnya cukup dekat. Tentu Kekaisaran tanpa ragu akan mengirim bantuan jika diminta.


Inilah masalahnya.


Putri Dragonia, Diana hanya meminta bantuan Kuro. Itupun melalui surat pribadi.


"Bagaimana kau bisa seegois itu? Kau sadar Dragonia akan hancur karena kesalahanmu? Apa kau ingin lari dari tanggung jawabmu?"


Kuro langsung marah dan tak mengerti. Tidak mengerti kenapa Electra saat ini bertingkah seperti anak kecil.


Biasanya Electra akan tanpa ragu memerintahkan Kuro dalam misi yang berbahaya untuk dirinya, tapi kenapa sekarang Electra melarang dia pergi?


"Jangan membicarakan tentang tanggung jawab kepadaku. Aku tahu telah melakukan kesalahan karena membiarkan Shadow mencuri Skullia Crystal dan Grimoire of Truth, tapi...."


".........."


Electra tahu kesalahannya telah membuat seluruh dunia dalam bahaya. Dia tak akan lari dan bertanggung jawab.


Tapi itu lain ceritanya.


"....tapi pikirkan baik baik! Jika kau pergi, kau mungkin saja akan mati. Musuh kali ini seratus kali lebih kuat daripada 6 bulan yang lalu. Kau saat ini juga tak ada bedanya dengan manusia biasa. Apa kau yakin bisa menang? Kau pasti juga sadar jika kau pergi, kau mungkin akan mati. Apa kau tak ingin melamar Laila? Jawab aku! Apa kau memilih mati atau memilih hidup?"


Kuro terdiam dan melirik ke orang yang dia cintai, Laila.


Laila terdiam, tapi Laila menunjukkan ekspresi apa yang dikatakan Electra ada benarnya.


Kuro menyadari telah membuat Laila kawatir, lagipula siapa yang tak kawatir saat mengetahui orang yang dicintainya pergi untuk mengantar nyawa?


Tak hanya Laila, Yui juga menunjukkan ekspresi yang sama.


Kuro mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya dengan keras.


Tapi setelah beberapa saat, Kuro tersenyum.


"Ahh... Aku senang jika kau sampai mengkawatirkan aku seperti itu, tapi aku tetap akan pergi."


Semua melebarkan matanya mendengar Kuro tetap akan tetap pergi kecuali Aldest. Dia tak peduli Kuro pergi atau tidak.


"Aku pergi dan akan kembali. Lagipula, apa kau pikir aku sebegitu lemah sehingga tak bisa mengalahkan 'dia'? Kau tak berpikir aku akan kalah kan?"


"Kuro, pikirk-"


"Hentikan. Aku sudah memberikan jawabanku. Aku akan pergi, menang, hidup dan kembali. Apa kau pikir aku mati semudah itu, nenek? Dengar, aku tak akan mati sebelum melamar Laila."


Electra terdiam, tak lama kemudian tersenyum tipis senang. Dia sudah menduga Kuro akan menjawab seperti itu, jadi dia tak terlalu terkejut.


Sedangkan Laila, wajahnya memerah karena merasa malu, tapi dia kemudian menyadari sesuatu. Kenapa Kuro sangat ingin pergi?


Saat mengingat itu, Laila merasakan suatu yang menyakitkan. Akhir akhir ini dia sering merasakan hal itu. Terutama saat melihat keakraban Kuro dengan gadis lain.


Awalnya dia tak mengerti, tapi dia akhirnya menyadari apa yang dia rasakan.


(Aku cemburu....)


Apa itu salah? Tidak. Itu suatu yang wajar dan bukti kalau dia hanya ingin memiliki Kuro seorang.


"Laila?"


"Aku hanya sedang memikirkan sesuatu."


Lalia kemudian merangkak naik ke atas Ruby dan duduk di samping Kuro. Tanpa sepatah kata, Laila menyandarkan dirinya ke bahu Kuro dengan pelan.


Laila sebenarnya sedikit ragu saat menaiki Ruby, tapi Ruby sepertinya tak menunjukkan reaksi keberatan sama sekali.


"Kenapa kau belum tidur? Kau tahu ini sudah tengah malam kan?"


"Aku tak bisa tidur."


"Mungkinkah kau mau aku menemanimu dan memelukmu bagai guling?"


Laila terdiam tak menjawab, tapi setelah beberapa saat, dia berkata:


"Un.. aku memang menginginkan itu. Aku ingin melarangmu pergi dan tetap di sisiku, tapi aku tahu kau tetap akan pergi, benarkan?"


".........."


"Itulah kenapa, setidaknya aku ingin tahu kenapa kau bersikeras pergi. Kau tak keberatan memberi tahuku kan?"


Kuro menyadari telah membuat Laila kawatir dan sedih.


Kuro menatap langit malam yang sedikit gelap karena cahaya bulan tertutup awan, tapi awan cepat pergi dan membuat cahaya terang kembali.


Saat itulah Kuro mendekap tubuh Laila dengan erat dan mendekatkan tubuh Laila.


Aroma harum dan kehangatan tubuh Laila terasa saat tubuh Kuro bersentuhan dengan Laila.


Chiirinnn...


Suara lonceng terdengar membuat Kuro sadar Laila telah memakai hadiah pemberiannya.


"Kau memakainya?"


"Ummm."


Laila mengangkat tangan kirinya ke atas dan memperlihatkan gelang keperakan yang memantulkan cahaya bulan.


Gelang dengan desain yang indah dan berhiaskan sebuah lonceng kecil. Laila tahu lonceng di gelangnya merupakan salah satu lonceng di pedang Kuro.


Sekarang dia tahu kenapa ada dua lonceng. Itu lucu, tapi sekaligus romantis.


"Aku tak mungkin tak memakai pemberianmu, .....hanya saja aku tak menyangka kau memberikanku lonceng. Fufu.. kau pikir siapa diriku, seekor kucing?"


"Ku ku... tentu saja tidak. Lonceng itu sebagai tanda kau adalah orang yang paling berharga bagiku. Tak ada yang lain dan tak tergantikan. Itulah kau."


"..........."


"Aku pergi dan kembali ke sisimu. Aku berjanji."


Laila hanya tersenyum kecil.


"Aku tahu itu. Tapi kau masih tak menjawab pertanyaanku. Kenapa kau pergi? Dan apa hubunganmu yang sebenarnya dengan putri Diana?"


"Kenapa pertanyaanmu menjadi dua?"


Laila tersenyum kecil dan menjulurkan lidahnya seperti mengejek.


"he he..."


"Kau ini....." Kuro mendesah kecil dan tersenyum. "Alasan aku pergi kah.... Jika kau menanyakan itu, kurasa karena aku harus bertanggung jawab terhadap Diana."


"...............Huh?"


Itu adalah alasan yang tak di duga Laila.


Disaat yang sama, perasaan tak menyenangkan dan marah langsung menghampiri Laila.


Laila dengan cepat mencengkeram kerah baju Kuro dan langsung mendorong Kuro hingga membentur sisik Ruby yang keras. Tak hanya itu, Laila dengan cepat menaiki dan menindih tubuh Kuro agar tak bergerak.


Tak ada perlawanan. Tidak. Kuro tak ingin melawan dan justru menunjukkan wajah bingung.


Tentu ditambah dengan rasa sakit saat kepalanya membentur sisik Ruby yang sekeras batu.


"Uhmm... Laila? Apa yang kau lakukan?"


"Kuro. Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang sudah kau lakukan terhadap wanita j*lang yang bernama Diana itu?"


"Wanita j*lang? Hey..."


"Katakan sejujurnya apa hubunganmu dengan wanita j-lang itu sehingga kau harus bertanggung jawab? Apa kau pikir aku tak tahu isi surat dari wanita j*lang itu? Kuro, katakan.. mungkinkah kau sudah melakukan 'itu' dengan dia?"


"..............."


Setelah berpikir, akhirnya Kuro mengerti kenapa Laila bertingkah aneh dan bertanya hal yang tak jelas.


Kuro tersenyum lalu tertawa kecil.


"Fufu fu... Laila, apa kau pikir aku melakukan 'itu' dengan Diana sehingga harus bertanggung jawab?"


"Eh?"


"Fu fufuu... aku tahu kau cemburuan, tapi kau salah paham. Fufu fu..."


"..........?"


Laila mulai meregangkan cengkramannya.


"Yang aku maksud dengan tanggung jawab adalah ....akulah yang membiarkan Necromancer itu hidup."


"Eh? Apa mak-"


Saat itulah Laila menyadari maksud dari tanggung jawab Kuro.


"Ya. Karena aku membiarkan Necromancer itu hidup, sekarang Dragonia dalam bahaya dan akan hancur. Ini adalah dosa dan kesalahanku karena terlalu naif."


".........."


"Kupikir setelah Necromancer itu menggunakan Lost Art, Necromancer itu tak akan kembali lagi. Kau boleh tertawa jika kau mau. .....Witch Reaper membiarkan musuhnya hidup dan sekarang musuhnya kembali dengan kekuatan seratus kali lipat. Ini sungguh lucu, benarkan?"


Laila hanya terdiam dan melepas kerah Kuro.


Dia menyadari Kuro pasti sedang menyalahkan dirinya sendiri. Karena itulah meskipun sekarang dia sangat lemah dan mungkin akan mati, Kuro harus menyelesaikan masalah yang dibuatnya dan bertanggung jawab.


Setelah mengetahui semua itu, beban di pundak Laila langsung menghilang.


"Aku tak akan tertawa. Pengampunan yang kau berikan merupakan suatu hal yang patut ditiru. Kau tak usah menyalahkan dirimu."


"Tapi karena aku-"


"Yang bersalah adalah Necromancer itu karena telah memanfaatkan kesempatan kedua yang kau berikan."


"Ta- ?!"


Jari Laila menutup bibir Kuro agar tak bicara lagi.


"Karena itulah, aku akan pergi bersamamu!"


Dengan senyuman bagai bidadari, Laila akhirnya mengatakan apa yang akan dia lakukan. Dia sudah memutuskan.


"Tidak tidak tidak. Terlalu berbahaya. Musuh kali ini bukanlah level Gio Sevarez. Musuh kali ini adalah naga.. tak hanya itu, musuh kemungkinan besar sama dengan penyihir pering-"


Setelah mencari alasan untuk menolak dan mencegah Laila pergi, Kuro akhirnya menyerah setelah melihat senyuman tipis yang menakutkan dari Laila.


Senyuman itu langsung membuat Kuro sadar kalau Laila mempunyai tujuan lain selain mengalahkan Necromancer.


"Kau punya alasan lain untuk melarangku ikut? Asal kau tahu, aku tetap ikut apapun yang terjadi."


Kuro hanya bisa mendesah berat.


Dia tahu jika Laila sudah memutuskan, maka tak ada yang bisa mencegahnya. Hal ini juga terjadi saat melawan Gio Sevarez 7 bulan yang lalu.


Mungkin inilah kebiasaan buruk Laila.

__ADS_1


"Baiklah, tapi jangan bertindak gegabah dan ikuti perkataanku."


"Terima kasih."


"Satu hal lagi."


"?"


"Bisakah kau pergi dariku, posisi seperti ini agak berbahaya bagiku."


Kuro pemuda sehat dan normal. Jadi ini wajar. Apalagi Laila adalah kekasihnya yang pasti tak akan keberatan jika dia melakukan hal mesum. Tidak. Dia sudah melakukannya.


Laila tak terlalu mengerti, tapi setelah beberapa saat dia menyadari maksud Kuro.


Wajah Laila memerah, tapi disaat yang sama, dia menunjukkan senyuman nakal yang menggoda.


"Ara... mungkinkah kau ini ...."


"Jika kau sudah tahu, cepat pergi atau..."


"Menyerangku? Kau sudah melakukannya beberapa kali. Sekarang tak ada gunanya mengatakan itu.. Fu fu..."


Laila bertingkah seperti Succubus yang menggoda setiap pria. Kebiasaan buruk Laila yang lain, atau sisi lainnya?


"Itu memang be-"


Kuro berhenti karena tiba tiba Laila mendekatkan wajahnya.


Sangat dekat sehingga Kuro dapat merasakan hembusan nafas dan melihat mata merah membara yang sanggup menghipnotis dirinya.


"............"


"............"


Mereka berdua mendekatkan bibir mereka dan hendak berciuman.


Mereka berciuman untuk membuktikan cinta mereka kepada orang yang mereka cintai, tapi-


"Kalian berdua, bisakah kalian tak melakukan hal itu di tempat umum?"


""?!""


Sebuah suara mengejutkan mereka sehingga mereka gagal berciuman.


Dan karena terkejut, Kuro dan Laila akhirnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari kepala Ruby membentur tanah dari ketinggian beberapa meter.


Punyuuu....


Satu satunya hal baik dari hal ini adalah Kuro terjatuh di bantal empuk dan kenyal. Tentu saja bantal itu adalah dada Laila.


"Ya ampun. Kalian ini benar benar pasangan bodoh."


""Kami tak ingin mendengar itu darimu.""


Riana terkejut saat mengetahui Kuro dan Laila benar benar kompak.


Mereka sepasang kekasih. Ini normal, benarkan?


-----------------------------


-------


-


Keesokan harinya, Kuro terbangun dari tempat tidurnya di kamar asrama. Dia merasakan dirinya dipeluk oleh Laila yang masih tertidur lelap bagai anak kecil.


Kuro hanya tersenyum kecil. Dia lalu melihat ke sekeliling dan melihat cahaya terang menyinari kamar dan membuat seluruh isi ruangan.


"................"


Dia akhirnya menyadari, saat ini sudah sudah tak bisa disebut pagi.


"Aaahhh...."


Dia terdiam untuk beberapa detik lalu dengan cepat bangun dan menggoyang goyangkan tubuh Laila untuk membangunkannya.


"Laila, Laila... bangun!"


"Hmmm....mmmm."


Mata Laila terbuka setengah. Dia masih terlihat mengantuk dan kelelahan.


Tapi dia harus tetap membangunkan Laila karena mereka hari ini akan pergi ke Dragonia.


"Laila, bangun. Jika kau tak bangun, aku akan pergi tanpa dirimu."


".....Ummm?"


Tampaknya Laila belum menyadari maksud Kuro dan kembali menutup matanya.


"Lima me- ?!"


Laila membuka matanya lebar karena sadar maksud Kuro. Dia dengan cepat bangun dan menunjukkan piyama sexy yang selalu dia pakai.


"Dasar tukang tidur. Cepat cuci mukamu dan ganti pakaian, kita sudah jauh dari waktu yang kita tentukan."


Setelah mengatakan itu, Kuro pergi ke kamar mandi dengan hanya memakai celana dalam.


Mereka sekarang tak ragu tidur bersama seperti pengantin baru. Meskipun sedikit berlebihan, siapa yang peduli?


Dia mencuci muka beberapa kali agar rasa kantuk benar benar menghilang.


"Kenapa kau tak bangun pagi seperti yang biasa kau lakukan?"


Laila datang ke sampingnya dan ikut mencuci wajahnya. Berbeda dengan Kuro, Laila masih terlihat mengantuk. Rambutnya juga banyak yang kusut dan berantakan.


"Itu salahmu. Aku bermaksud terjaga hingga pagi, tapi kau mengajakku tidur meskipun sudah lewat tengah malam."


"Ahhh.... mau bagaimana lagi. Aku ingin tidur bersamamu karena aku tak bisa tidur. Tapi....."


Laila melirik Kuro dengan senyuman nakal.


Meskipun tak melihat secara langsung, Kuro dapat melihat senyuman nakal Laila dari pantulan bayangan di cermin.


"...kau senang kan?"


"........"


Tanpa sepatah kata, Kuro mendekat dan mencium Laila.


Laila sedikit terkejut, tapi dia tak menolak dan ikut membalas ciuman Kuro.


"Un.."


Laila mengangguk dengan wajah memerah.


Setelah berganti pakaian, mereka berdua menuju ke tempat Ruby, Laiko dan Rubya.


Kuro memakai kaos hitam dan celana jeans hitam. Serba hitam itulah gaya Kuro. Di tangan kirinya pedang katana kesayanganya, Lic digenggam dengan erat. Sekarang hanya ada satu lonceng yang menghiasi pedang itu.


Sementara itu, Laila memakai seragam Kuryuu Academy. Sekilas dia tak berbeda dengan biasanya, tapi yang berbeda hanyalah bando dan gelang yang kini menjadi aksesorisnya. Tak lupa cincin Dragonblood Gear yang tak bisa dilepas.


Tapi tak hanya cincin itu, ternyata gelang pemberian Kuro tak bisa dilepas. Awalnya Laila merasa aneh, tapi dia akhirnya tak peduli.


Laila sebenarnya ingin memakai pakaian biasa seperti Kuro, tapi Kuro melarang karena pakaian biasa tak akan bisa mengubah serangan sihir menjadi serangan psikis.


Kuro hanya kawatir dan itu juga demi keselamatan Laila.


Kuro dan Laila berjalan menuju halaman tempat Ruby dan lainnya menunggu. Dia cukup terkejut banyak murid yang melihat dari kejauhan.


Tapi ini normal mengingat mereka bisa melihat pemandangan yang tak bisa mereka lihat setiap hari.


"............."


Kuro sampai dan menemukan orang yang akan menemani mereka ke Dragonia.


Aldest, Yui, dan satu orang pemuda yang tak dia kenal.


Kuro menebak pemuda yang bersama Aldest merupakan bawahannya atau kekasihnya. Terserah. Dia tak peduli.


Ini adalah keputusan Electra sebagai syarat mengijinkan Kuro pergi ke Dragonia.


Tapi dia tak menyangka bisa melihat orang yang tak disangka berada disana, Riana. Tidak. Riana juga ada disana untuk mengantar mereka. Orang yang tak disangka adalah Jinn dan Knox.


Mereka tak takut dan justru mendekati Ruby dengan tatapan penasaran.


"Apa yang kalian lakukan disini?"


"Kami cuma melihat lihat. Jadi abaikan kami dan lanjutkan apa yang kalian lakukan."


"..........."


Mereka menyebalkan.


Kuro mendesah dan membiarkan mereka melihat lihat seperti penonton museum.


Dia lalu fokus terhadap Aldest yang memakai pakaian sexy dan mengekspos sebagian besar kulitnya.


(Apakah tak apa apa komandan Knight berpakaian seperti itu?)


Dia penasaran, tapi dia tak punya waktu memikirkan itu dan tak ingin memikirkan itu saat merasakan hawa membunuh dari sampingnya.


Dia lebih penasaran dengan pemuda yang kini menghampiri dirinya.


Sebagai catatan, pemuda itu memakai pakaian biasa seperti Kuro. Yui sedang duduk di kepala Ruby. Sementara Riana hanya terdiam di tempat masih mengawasi.


"Namaku Lairo Licrofa. Salam kenal. Meskipun sedikit merepotkan, aku akan ikut dengan kalian."


Pemuda yang bernama Lairo mengulurkan tangannya dan Kuro menerima uluran tangan dari pemuda itu.


"Licrofa kah... Salam kenal. Aku-"


"Aku tahu. Kau Kuro Kagami, Witch Reaper dan King Of Sword."


Kuro tersenyum. Dia merasa terkesan karena tampaknya pemuda itu mencari tahu tentang dirinya.


Pemuda yang bernama Lairo memancarkan aura hangat dan terlihat orang baik.


"Aku senang kau mengenalku, tapi bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Bertanya? Ahh... silahkan."


"Apa kau baik baik saja dengan ini?"


Lairo sedikit terkejut.


"Apa maksudmu?"


"Aku adalah seorang yang membunuh ayahmu. Dan kau sekarang akan membantuku. Membantu orang yang membunuh ayahmu. Apa kau yakin dengan itu?"


Laila melebarkan matanya karena terkejut. Di saat yang sama perkataan Kuro membuat Jinn dan Knox tertarik.


Sedangkan Yui, dia hanya duduk di kepala Ruby dan tak berbuat apapun.


Reaksi Lairo, tentu dapat ditebak. Dia juga melebarkan matanya karena terkejut. Dia juga mengepalkan tangannya seperti menahan amarah.


"Kuro? Mungkinkah..."


"Ayahku adalah salah satu Knight yang diperintah menyerang desa klan Blad dua tahun yang lalu."


Yang menjawab adalah Lairo dengan wajah penuh amarah. Aura hangat juga berubah menjadi aura permusuhan.


"Tapi aku terkejut kau mengingat nama ayahku, Witch Reaper."


Hawa membunuh terpancar dari Lairo.


Kuro yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum santai.


"Jangan memanggilku dengan nama itu. Tentu saja aku ingat ayahmu. Dia penyihir yang cukup merepotkan." Kuro menoleh ke arah Laila. "Laila, ayo.!"


"Eh?"


Kuro tanpa kata melewati Lairo dan berjalan menuju Riana. Sedangkan Laila mengikutinya dari samping.


Tapi sebelum sampai, Kuro berhenti.


"Oh.. mungkin kau tak tahu, tapi jika kau ingin balas dendam, mungkin ini adalah kesempatanmu karena saat ini aku sedang lemah, Lairo."


".........."


Lairo hanya mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya karena menahan amarahnya.


Dia tak tahu Kuro saat ini sedang lemah, tapi kenapa Kuro memberi tahu dirinya? Apa Kuro menginginkan Lairo membalas dendam atas kematian ayahnya?


Sementara itu, Kuro hanya tersenyum bagai iblis dan berjalan menghampiri Riana.


"Kuro, kenapa kau melakukam itu?"


"Aku cuma menyapa? Apa salahnya dengan itu?"

__ADS_1


Secara teknis Kuro memang melakukan itu, tapi Laila tak mengerti apa yang ada di pikiran Kuro dan akhirnya hanya bisa mendesah dalam.


Mencari musuh sebelum mereka pergi. Apa Kuro ingin cepat mati sebelum sampai ke Dragonia?


"Kuro, Laila. Kalian akhirnya datang juga."


Riana menghampiri Kuro dan Laila. Dia memakai gaun putih yang cocok dengan rambutnya.


"Maaf kami terlambat."


"Tidak. Kami juga baru sampai."


Yui melompat turun tepat di samping Kuro.


"Hup... ."


"Yui, apa kau melakukan perintahku kemarin?"


"Tentu saja."


Yui mengambil sesuatu dari tas kecil miliknya dan memberikannya kepada Kuro.


Benda itu semacam kotak sepanjang 16 cm dan ada semacam tali yang digunakan untuk membawa kotak itu.


Kuro membuka untuk melihat isinya. Dia lalu tersenyum puas.


"Penyihir besi terbaik memang bisa membuat benda berkualitas."


Kuro memuji karena keluarga Fila sanggup memenuhi pesanannya berupa jarum panjang yang terbuat dari Magilium.


"Aku tak menyangka kau benar memesan senjata semacam itu."


"Kenapa kau marah? Cemburu?"


"Guh.."


Wajah Laila memerah dan langsung menoleh ke arah lain.


"Si-siapa yang cemburu?"


Kuro hanya tersenyum.


"Kuro. Aku juga memberikan ini padamu."


Kali ini Riana memberikan kotak hitam yang panjang seperti kotak yang diberikan Yui, tapi ukurannya lebih kecil.


Kuro menerima kotak itu dan memasukkan kotak kecil ke dalam kotak yang diberikan Yui.


"Terima kasih."


"Kuro, kau tahu kalau kau hanya memiliki satu kesempatan, jadi jangan sampai gagal."


"Aku tahu. Aku akan menggunakannya sebaik mungkin."


Kuro lalu mengikat kotak itu ke pinggangnya seperti sebuah tas kecil.


Dia melihat ke sekeliling dan tersenyum senang. Tersenyum senang karena persiapan mereka sudah beres.


"Baiklah, kita akan berangkat. Tapi sebelum itu... kenapa kau ada disini? Dan kenapa dengan penampilanmu itu?"


Laila dan Yui langsung melirik orang yang Kuro tunjuk.


"Ahaha... tentu karena aku akan ikut."


Orang itu adalah Charlmilia.


Dia juga berpakaian seragam Kuryuu Academy, tapi seragam laki laki. Rambutnya juga pendek seperti sebelumnya, tapi yang membedakan dengan penampilan sebelumnya adalah bagian dada.


Pemuda berdada besar. Itulah kesan saat melihat Charlmilia.


"Aku tak tahu dadamu sebesar itu, Charlia, tapi tetap tidak. Kami bukan pergi untuk bermain ma- ouch.."


Laila tiba tiba mencubit Kuro. Dia pasti cemburu atau tak senang karena Kuro melakukan pelecehan seksual.


Atau.... dia iri dengan dada Charlmilia yang lebih besar dari miliknya?


"Aku tahu itu." Charlmilia datang mendekat ke samping Riana. "Tapi aku akan ikut. Aku tak mungkin menyia nyiakan kesempatan untuk bersenang senang."


Gadis itu ternyata menganggap perjalanan mereka untuk bersenang senang. Itulah yang Kuro pikirkan.


"Kami ke Dragonia bukan untuk bermai-"


"Iya iya. Aku tahu. Kau pergi karena diminta wanita ja*ang itu kan? Karena itulah aku akan tetap pergi meskipun aku harus mengikatmu!"


"Hey itu kalimatku."


Kuro menyerah menghadapi Charlmilia dan akhirnya mendesah dalam.


"Kak Kuro benar benar lemah terhadap perempuan."


"Aku tak ingin mendengar itu, Yui."


"Ya. Aku juga baru menyadarinya."


Laila mengangguk dan mendesah tanda setuju.


"Kenapa kau juga ikut ikutan?"


"Sudahlah..., tapi kalian benar benar akrab? Apa yang terjadi selama aku di rumah sakit?"


"Ada banyak hal yang terjadi."


"Ya. Banyak hal yang terjadi."


"..........?"


Charmilia hanya memasang wajah bingung, tapi dia sadar ada sesuatu yang terjadi di antara Kuro dan Laila.


"Charlmilia, jika kau pergi, pastikan kau memberi tahu ayahmu?!"


"Terima kasih sarannya, tapi..... siapa kau?"


................................................


Semuanya terdiam dan tak tahu harus berkomentar apa.


Ini sesuatu yang tak dipercaya.


"Dia putri Riana."


"Ooooo.... huh? Apa kau bilang? Riana tak mungkin memiliki dada sebesar itu. Aku yakin gadis ini penipu."


Seperti Laila, Charmilia sudah mengenal Riana sejak kecil. Meskipun jarang bertemu, tapi mereka masih tetap berhubungan.


"Hmmm... aku pikir kau juga benar."


"Hey... Kalian mengenal dia kan?"


Wajah Riana entah mengapa memerah.


Tapi tiba tiba Riana jongkok dan menggaruk garuk tanah rerumputan. Ada kata kata kecil yang keluar dari mulut Riana seperti kutukan, tapi mereka semua tak tahu apa yang di ucapkan Riana.


Situasi semakin kacau.


Kuro menyadari itu dan ingin melakukan sesuatu, tapi apa?


"Inilah Riana yang ku kenal. Jika murung dia akan melakukan itu."


"Yup. Aku setuju."


"Kalian berdua kejam sekali."


Kuropun mendesah lagi.


Dia tak ingin situasi semakin rumit dan akhirnya memutuskan untuk segera berangkat.


"Sebaiknya kita segera berangkat. Dragonia mungkin kacau sekarang ini."


Semuanya menunjukkan tatapan serius tanda mengerti, kecuali Riana yang masih menggaruk garuk tanah.


"Hoy.. sampai kapan kau seperti itu, Putri Rakus? Yui, kau juga ikut atau pulang?"


"Aku pulang saja. Aku tak ingin merepotkan."


Kuro mengangguk senang mendengar jawaban Yui.


"Kuro, apa maksudnya itu?"


"Kita akan melewati Hutan Rukia, karena itulah aku berniat pulang sebentar sekaligus beristirahat."


"Ahh.. begitu rupanya."


"Kalau begitu, selain aku dan Laila akan terbang menunggangi Ruby. Aku yakin Ruby cukup untuk kalian bertiga."


Tiba tiba Charlmilia mengangkat tangannya.


"Apa ada pertanyaan?"


"Yup."


"Cepat katakan!"


"Pertama, kau yakin naga itu tak menjatuhkan kami?"


"Tidak. Tapi kalian akan jatuh jika tak berpegangan karena kita akan terbang dengan kecepatan tinggi."


"Ohh.. Kedua. Bisakah kita mengajak mereka berdua?"


Sekarang mau apa lagi gadis ini?


Charlmilia melirik ke arah Jinn dan Knox yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Aku sudah tak peduli lagi siapa yang ikut."


Kuro awalnya berniat pergi sendirian. Tapi Electra menyuruh Aldest bersamanya ke Dragonia.


Setelah itu, Laila, Lairo dan Charlmilia. Satu dua orang lagi tak akan membuat situasi semakin rumit.


"Bagus, kalau begitu aku akan mengajak mereka."


Charlmilia pergi dan berbicara dengan Jinn dan Knox.


Kuro tak tahu bagaimana cara Charlmilia membujuk Jinn dan Knox, tapi dia berhasil. Tampaknya Charmilia mengatakan suatu hal yang membuat Jinn dan Knox langsung bersemangat.


Dan mereka berdua bahkan sudah menaiki Ruby.


"Mereka bersemangat sekali, benarkan?"


Charlmilia kembali dan berbicara dengan Kuro.


"Aku tak tahu kau punya sihir memanipulasi pikiran pria."


"Hey.. aku hanya mengatakan hal kecil. Keputusan tetap ada di tangan mereka."


".........."


Dia benar.


Setelah penundaan yang cukup lama dan tak penting, mereka akhirnya berangkat.


Aldest, Lairo, Jinn, Knox dan Charlmilia menaiki punggung Ruby.


Ruby adalah naga raksasa sebesar 25 meter. 5 orang menungganginya bukanlah masalah.


Kuro dan Laila menunggangi Laiko. Sementara Yui menunggangi Rubya.


ROOOOOAAARRR....


Bersamaan dengan raungan yang memecah telinga, mereka semua pergi ke Dragonia melewati perisai yang dimatikan sementara.


"Laila... jaga dirimu..!!"


Riana hanya bisa melihat kepergian mereka.


"Putri.."


"Aku tahu... situasi lebih buruk daripada yang terlihat, benarkan?"


Electra menghampiri Riana dengan wajah rumit.


"Ya. Perjalanan mereka mungkin lebih berbahaya dari yang mereka pikirkan."


"Apa kau yakin Kuro akan menang?"


"Entahlah. Aku bukan Tuhan, tapi jawabanku adalah mereka akan menang."


"Bagaimana bisa?"


"Tentu karena aku percaya, putri."

__ADS_1


".....ya. Anda benar. Mereka harus menang atau dunia ini akan berakhir..."


__ADS_2