
Tanpa tahu apa yang baru saja terjadi, tiba tiba pandangannya berubah seperti sebuah benda yang jatuh ke tanah. Dia bisa melihat tubuhnya tanpa kepala dengan darah segar menyembur bagaikan air mancur pertanda kehidupan telah menghilang.
Rasa sakit tiba tiba menyerang, tetapi dia tak bisa berteriak. Dia bahkan sudah tak bisa merasakan bagian bawah tubuhnya.
-ahh.. jadi inilah akhirnya?
"!?"
Saat menerima kematiannya, dia tersadarkan dari sebuah ilusi kematiannya.
Dia berkeringat dingin. Tubuhnya bergetar seolah tak memiliki tenaga. Nafasnya terengah-engah. Longinus yang menjadi bagian hidupnya kini terasa berat.
Lalu pada akhirnya, dia mulai tumbang.
Tetapi di saat itulah dia ditahan oleh sebuah tangan kecil yang hangat.
"Tuan putri, bertahanlah. Kau tak boleh kalah."
Kondisi Merlin tak jauh berbeda darinya. Tubuhnya gemetar seolah sudah tak memiliki tenaga lagi. Tetapi wajah pucatnya tak bisa disembunyikan.
"....terima kasih... Apa itu barusan...?"
Dia menguatkan tenaganya dan mencoba untuk bangkit. Dia menepuk pipinya untuk menyadarkan dirinya kembali dari ilusi kematian.
"Itu hanyalah hasrat membunuh yang dia keluarkan. Jujur, baru pertama kalinya aku merasakan hasrat sebesar dan segelap ini."
Merlin juga mulai bangkit. Tatapan matanya mulai kembali penuh dengan cahaya penuh harapan. Tetapi tubuhnya masih belum pulih dari rasa takut akan kematian.
"..."
Victoria memfokuskan semua konsentrasinya pada sosok yang muncul di depan mereka.
Dia bisa merasakan kalau sosok di depannya ini sangat jauh berbeda dengan sosok yang dia kenal dan ketahui.
Sosok Kuro saat ini begitu gelap dan dingin melebihi semua yang pernah dia rasakan. Aura kematian begitu melekat dengan tubuhnya. Dia bahkan bisa melihat bayangan kematian di sekitar tubuh Kuro.
Dia tahu kalau Kuro menjadi bagian dari Shadow Knight. Pasukan sisi gelap kekaisaran. Selama di sana Kuro menjadi pembunuh berdarah dingin yang tak peduli dengan siapa targetnya. Apakah itu anak anak, wanita atau orang yang lanjut usia. Semua akan dia singkirkan.
Mengingat semua latar belakang itu, tak mengherankan jika Kuro memiliki aura kematian yang cocok membuatnya disebut sebagai Reaper (dewa kematian).
Tetapi sosok yang berada di depan mereka saat ini melebihi semua itu.
"....siapa kau sebenarnya?"
"Bukankah aku baru saja memperkenalkan diri?"
Victoria ingat, tapi dia tak ingin mendengar itu.
"Yah.. semua itu tak penting."
Kuro bertepuk tangan.
"Selamat karena berhasil bertahan dari hasrat membunuh yang aku keluarkan. Berbeda dengan peserta lainnya, kalian lulus."
"A...pa ... maksudmu?"
Victoria tak mengerti. Lebih tepat jika tak ingin mengerti. Jika dia mengerti, itu hanya akan menjadi mimpi buruk.
Tetapi kenyataan suatu yang tak bisa diubah hanya dengan berharap.
Satu persatu pengumuman terdengar tanda peserta Battle War yang tersisa telah tersingkir. Hanya ada beberapa nama yang belum disebutkan.
Yang tersisa dalam Battle War hanyalah Kuro, Laila, Fila, Charlmilia, Arisa, Rim, Victoria dan Merlin.
"Apa yang baru saja kau lakukan!!! Jawab aku!!"
Berbeda dengan Victoria yang masih bingung, Merlin begitu kesal penuh amarah. Dia pasti sadar kalau semua dampak akan dialihkan pada Doll, jadi tak ada yang perlu dicemaskan teman temannya menerima luka.
Hanya saja mengingat apa yang baru saja mereka alami, bukan hanya dampak fisik saja yang mungkin mereka terima.
Tetapi ada satu hal yang janggal.
--bagaimana Kuro melakukannya padahal dia berada di depan mereka?
"Aku hanya memberikan sedikit dorongan."
Kuro tersenyum. Senyuman dingin dan begitu tajam bagaikan perwujudan iblis.
"Tetapi aku rasa ini bukan saatnya mengkhawatirkan kondisi mereka. Sebaiknya kalian pikirkan situasi kalian saat ini."
"...Kuh!!"
Kuro benar. Ini bukan saatnya memikirkan situasi orang lain. Lagipula pihak kekaisaran pasti sudah menyiapkan tim khusus untuk menangani jika ada masalah.
"Karena aku tak ingin menghabiskan waktu, jadi langsung saja. Aku akan memberikan kalian dua pilihan. Pertama, kalian berdua mundur dari pertempuran ini. Dengan begitu kalian tak akan perlu merasakan sakit. Aku bisa menjamin rasa sakit itu melebihi apa yang baru saja kalian rasakan."
"..."
"..."
"Dan pilihan kedua, aku rasa tak perlu menjelaskannya. Kita bertarung di sini dan tentu saja.. aku akan menjamin kalian akan merasakan teror melebihi kematian kalian."
Kuro sekali lagi mengeluarkan hasrat membunuh. Kali ini lebih kuat daripada sebelumnya.
Berbeda dengan sebelumnya yang membuat mereka melihat kematian mereka sendiri, kali ini mereka dibuat melihat pasukan kematian menyerang mereka. Jumlah mereka ribuan. Dan semuanya maju mencabik cabik tubuh mereka sedikit demi sedikit.
Tubuh kenbali keduanya tumbang dengan tubuh penuh gemetar.
Dan itu membuat mereka merasakan apa itu yang dinamakan keputusasaan. Dan itu membuat keduanya sadar siapa lawan mereka kali ini.
"...dia ...bukan... manusia..."
Hanya dengan hasrat membunuh saja sudah seperti ini. Bagaimana keduanya bisa mengalahkan Kuro?
Dia pernah berpikir kalau mustahil bisa menang melawan kaisar Sei, tetapi semua itu tak sebanding dengan apa yang dia rasakan sekarang.
"Putri...?"
Bertarung atau mundur?
Dengan lawan yang mustahil menang, mundur adalah pilihan yang tepat. Dengan lawan sekuat ini, bukan suatu yang aneh akan kalah. Tak akan ada yang menghinanya atau perlu malu.
Bagaimanapun juga lawan mereka adalah seorang yang mustahil dikalahkan.
--lalu bagaimana dengan impiannya?
--apa dia harus menyerah?
"Jangan.. bercanda !!!"
Sampai kapan dia harus mengulangi kesalahan yang sama. Dia sudah menyerah sebelum bertarung.
Dia berpikir sudah berubah, tapi pada kenyataannya dia masih sama seperti dulu.
"Siapa yang akan menyerah hanya karena ucapanmu? Apa kau pikir aku, kami sama sekali tak memiliki hal yang diperjuangkan dalam Battle War kali ini? Jangan sombong!!!"
Merlin terdiam karena tak menyangka Victoria sanggup mengatakan hal seperti itu.
"Meskipun aku benci mengakuinya, tapi aku setuju dengan apa yang dikatakan tuan putri. Aku akui kau kuat, tapi bukan berarti kami akan mengalah begitu saja hanya karena kau memerintahkannya. Memangnya siapa dirimu memerintahkan kami seenaknya?"
Kuro tersenyum seolah senang dengan jawaban mereka.
"...baiklah. Aku akan menganggap kalian memilih pilihan kedua. ...dan seperti janjiku, aku akan membuat kalian menyesal karena memilih pilihan itu."
Sebuah pedang katana hitam muncul di tangan Kuro. Pedang itu tak hanya memancarkan aura kegelapan, tapi juga mengeluarkan aura kematian.
Merlin dan Victoria juga mulai bergerak. Merlin menciptakan pedang sihir dari mana, sedangkan Victoria menggenggam erat Longinus.
Kedua belah pihak bergerak maju dan saling beradu senjata mereka masing masing. Dari segi jumlah pemenangnya adalah Victoria dan Merlin, tetapi hasilnya berkata lain.
Kecepatan, teknik, kemampuan senjata. Kuro melampaui keduanya dan memaksa mengakui kalau mereka masih belum apa apa.
"Dark Wave!!"
Kuro menebas udara. Lalu ratusan tebasan kegelapan mengarah keduanya dengan kecepatan yang tak terduga. Tak ada kesempatan untuk membuat pertahanan. Yang bisa mereka lakukan hanya mengandalkan insting dan indera keenam.
"Reflect!!"
"Holy Prison!!"
Elemen kegelapan masih menjadi misteri dan tak banyak hal yang diketahui dari itu. Menggunakan sihir pertahanan untuk bertahan bukan pilihan yang buruk, tapi itu juga pilihan yang tepat.
Ini sebuah judi.
Dan hasilnya, ...mereka memenangkannya.
Merlin berhasil memantulkan serangan. Sedangkan Victoria dengan mudahnya menghapus serangan.
Hasil yang tak terduga ini membuat keduanya terkejut. Tetapi mereka tak memiliki waktu untuk memikirkannya.
"!?"
Kuro tiba tiba menghilang dan muncul di titik buta mereka. Dia menyerang dengan hasrat membunuh yang kuat dan tak kenal ampun.
"Reflect!!"
Tetapi serangan Kuro berhasil ditahan hanya dengan ujung jari. Dan sama seperti yang terjadi dengan Victoria, tubuh Kuro terpental jauh ke belakang dengan keras.
__ADS_1
Gelombang kejut yang terjadi menjadi bukti seberapa kuat serangan Kuro. Apa yang terjadi jika Kuro berhasil menyerang dengan kekuatan seperti itu?
"Aku harap bisa menyelesaikannya dengan itu, tapi sepertinya itu terlalu naif.."
"...aku tak begitu terkejut dengan itu. Hanya saja.. "
"...ya... Seperti kita duga, dia bukan Kuro."
Sosok Kuro (?) terlihat tanpa ada luka sedikitpun. Dia kembali mendekati mereka dengan aura yang masih begitu mengancam.
"Katakan siapa kau dan tunjukkan wujudmu yang sesungguhnya!!! Jangan nodai orang itu dengan perbuatan burukmu!!!"
Victoria kali ini benar benar marah.
Dia memang tak begitu mengenal Kuro, tapi dia tahu sosoknya tak seburuk yang ada di depannya saat ini.
"...sepertinya aku terlalu memberikan banyak petunjuk. Sudah tak ada gunanya menggunakan wujud ini."
Dengan api hitam yang membakar wujud Kuro, sosok sesungguhnya akhirnya mulai terlihat.
Seorang gadis dengan rambut pirang emas sebahu dengan pita merah yang manis. Wajahnya terlihat begitu polos, tetapi itu tak bisa menyembunyikan aura menyeramkan dari senyumannya.
"Kau..."
Gadis itu tersenyum.
"Kita memang belum pernah bertemu secara langsung, tuan putri."
Gadis itu mengangkat roknya seperti sebuah sapaan seorang putri bangsawan.
"Namaku adalah Rim Himegami. Salam kenal."
"....Himegami..."
Itu adalah nama belakang yang sama dengan Arisa. Dari itu bisa ditebak kalau Rim memiliki hubungan keluarga dengan Arisa.
Sayangnya itu tak menjadi sebuah petunjuk karena Arisa maupun Rim adalah orang dengan latar belakang yang tak jelas. Bahkan dengan koneksi dan wewenang tuan putri, Victoria tak bisa mengetahui informasi tentang keduanya.
Dan karena tak ada masalah dan ada yang menjamin identitas mereka, maka tak aneh untuk mengikuti Battle War.
Tetapi jika semua yang terjadi dalam Battle War tahun ini memiliki sebuah tujuan dan rencana, maka tak aneh jika Rim maupun Arisa memiliki hubungan dengan semua yang terjadi di Battle War tahun ini.
Yang menjadi masalah adalah orang yang menjamin identitas keduanya. Orang itu adalah ...Sei Yamato.
(Sejauh itulah kau tak ingin aku menang, Sei?)
Sebuah perasaan marah tiba tiba muncul di benak Victoria. Dia tahu ini hanyalah sebuah imajinasi dari pikiran yang berlebihan, tapi dia tak bisa menghilangkan perasaan itu dari hatinya.
"Aku dan Arisa adalah sebuah keluarga. Aku menyayanginya hingga sanggup melakukan apapun untuknya. Ya. Demi dirinya aku bahkan akan melawan dunia. Itulah tekadku sebagai seorang yang pernah diselamatkan."
Aura Rim tiba tiba berubah menjadi lebih berbahaya.
"Jadi kau melawan kami hanya karena dia memerintahkanmu? Sungguh kasihan. Kau tak lebih dari sebuah boneka yang dimanfaatkan olehnya saja."
"Aku sama sekali tak peduli apa yang ingin kau katakan, dada papan!!"
"!?"
"Satu hal yang pasti, dimanfaatkan atau tidak. Semua itu tak penting bagiku. Jika kau ingin membuatku ragu dengan Arisa, sebaiknya kau hentikan. Apapun yang kau lakukan, tak ada gunanya."
Gadis yang ada di hadapan mereka tak normal. Cara normal dan biasa tak akan berpengaruh padanya. Hanya satu hal yang mampu menghentikan gadis itu.
Itu adalah dengan kekerasan.
"Jadi bagaimana dengan ronde kedua kita?"
Katana hitam kembali muncul di tangan Rim. Dan itu menjadi tanda babak kedua telah dimulai.
◼️▪️▪️
Sementara itu, keberadaan Fafnir yang semula menjadi sorotan kini menjadi udara kosong.
Niat bertarung yang ingin dia luapkan tiba tiba menghilang karena rasa takut pada sosok majikannya.
Tentu saja setelah melihat yang terjadi, dia tahu kalau sosok tuannya itu wujud palsu.
Tetapi sebagai pelayan (peliharaan), dia memiliki sebuah ikatan yang sanggup mengenali tuannya di manapun dan kapanpun. Tak mungkin dia bisa tertipu dengan mudahnya.
Dengan kata lain, ada sebuah kekuatan besar yang sanggup mengelabuhi dirinya. Karena pernah dipanggil ke Orladist, dia tahu betul siapa saja yang memiliki kekuatan itu.
Dia lalu mendesah.
[...memang bagus bertarung, tapi aku lebih sayang dengan nyawaku. Lagipula aku tak ingin terlibat dengan masalah dunia ini.]
Sekali lagi Fafnir mendesah.
Dia lalu memulai ritual sihir pembalik yang membalik proses pemanggilan. Dengan kekuatannya sebagai salah satu naga terkuat, itu suatu yang mudah.
Pada saat itu Fafnir tak tahu, tapi setelah beberapa menit kepergiannya. Tempat itu tak ada yang tersisa kecuali bongkahan.
◼️▪️▪️
Dari segi jumlah, Victoria dan Merlin masih menang. Tetapi sama seperti sebelumnya, keduanya adalah pihak yang terpojok.
Meskipun Rim sudah tak menggunakan wujud Kuro lagi, tapi kekuatan yang digunakannya adalah nyata. Dia bisa bergerak bagaikan berteleportasi dan menyerang dari titik buta dengan mudah.
Tidak. Lebih tepat jika kekuatannya memang berteleportasi.
Sihir jarak dekat maupun jarak jauh tak begitu banyak berguna. Dengan mudahnya Rim berhasil menghindar dan memanfaatkan momen itu menyerang.
Keduanya sejauh ini masih belum tumbang karena saling memunggungi dan melindungi satu sama lain dengan sihir pertahanan mereka.
"...ini sungguh memuakkan..."
Ini pertama kalinya Victoria merasa tak berguna. Apapun yang dia lakukan tak membuatnya menemukan jalan untuk menang.
"Aku mengerti perasaanmu, tapi kita memang berada dalam situasi yang gawat."
"Apa kau tak memiliki ide?"
"Jika dalam keadaan biasa, aku bisa melakukan sesuatu."
Sebagian energi sihirnya sudah digunakan untuk ritual pemanggilan. Dia masih bisa bertahan sejauh ini karena menggunakan kekuatan Soul dan juga menggunakan energi sihir yang tersisa untuk memperkuat tubuhnya saja. Lalu sisanya adalah keahliannya sendiri.
"Jika ada yang bisa melakukan sesuatu, orang itu adalah kau, tuan putri. Aku yakin kau masih belum serius."
"..."
Dia memang masih memiliki beberapa sihir yang bisa dia gunakan. Lalu sebagai penyihir suci, dia memiliki kesempatan untuk bisa mengalahkan Rim.
Masalah terbesar saat ini adalah kemampuan Rim yang mampu berpindah tempat dalam sekejap. Tak peduli sekuat apa sihir yang dia gunakan, itu tak akan berguna jika tak mengenai target.
"Reflect!!"
Sekali lagi Merlin berhasil menahan serangan Rim.
Rim kembali menghilang dan setelah muncul, energi sihir mulai meningkat dari tubuhnya.
"Dia mulai serius rupanya."
Rim menghentak tanah dengan salah satu kakinya dan mengalirkan energi sihir.
"Earth Spears!!!"
Ratusan tombak menyerang mereka. Merlin bersiap dengan sihirnya. Victoria juga bersiap bertahan dengan Longinus.
Serangan yang mudah dibaca dan ditebak. Dan karena serangan tak terlalu cepat, serangan Rim mudah dihindari atau ditahan.
(...tunggu!!)
Merlin tiba tiba mendorong Victoria. Lalu dengan sihir yang tersisa, dia mendorong tubuhnya ke belakang. Hanya saja, karena melakukan gerakan yang tiba tiba, dia menerima serangan di bagian kaki.
"Merlin!!!"
"Kuh!! Tenang. Hanya kesemutan saja."
"Syukurlah. Tapi kenapa kau melakukan hal itu? Aku bisa menahan serangannya."
Merlin menggelengkan kepalanya.
"Sihir barusan berbeda dengan sihir biasa. Aku salah?"
Rim tersenyum.
"Aku tak menyangka ada yang langsung menyadarinya dengan sekali lihat. Maaf saja, aku tak akan menjelaskannya."
Sekali lagi energi sihir Rim meningkat pertanda Rim menggunakan sihir kembali. Tetapi berbeda dengan sebelumnya, apa yang dilakukan Rim membuat keduanya harus membuang semua logika yang mereka miliki.
Ratusan tombak es mulai terbentuk di sekitar Rim. Di saat yang sama bola bola terbuat dari petir juga tercipta.
"T-tiga elemen?"
Bukan suatu yang aneh jika seorang penyihir peringkat tinggi bisa menggunakan dua atau tiga elemen. Tetapi semua memiliki keterbatasan dan juga elemen yang bisa digunakan merupakan elemen yang mendekati elemen utama.
Apa yang dilakukan Rim dengan berhasil menggunakan dua elemen yang bertentangan telah mengubah semua konsep umum tentang sihir yang ada.
"Kalian terlalu naif jika aku hanya bisa melakukan itu."
__ADS_1
Kali ini tombak angin, tombak tanah dan panah api diciptakan Rim dengan target mereka berdua.
"Element Burst!!!"
Semua sihir ditembakkan ke arah keduanya secara bertubi tubi. Tak hanya itu, Rim juga melakukan teleportasi dan menyerang dari arah yang berbeda dengan serangan kombinasi berbagai macam elemen.
"Jangan bertahan!! Usahakan untuk menghindar!!"
"Aku berusaha!!"
Lebih mudah mengatakan daripada dilakukan. Apa yang bisa mereka lakukan hanyalah berusaha sekuat tenaga untuk bertahan. Sayangnya, semua usaha mereka sia sia dengan kemenangan telak Rim.
"Kalian tak tahu kapan untuk menyerah..."
Merlin dan Victoria tumbang. Meskipun tak mengalami luka, tapi bisa dijamin Doll mereka mengalami kerusakan berat setelah menerima serangan tadi.
"Apa...kami harus menyerah karena itu?"
"Tentu saja tidak. Hahaha.. justru setelah menerima seranganmu, sekarang aku yakin dengan semua dugaanku."
Keduanya lalu bangkit. Tak ada putus asa dari ekspresi keduanya. Justru yang terlihat adalah senyuman lebar.
Terutama dari Merlin. Dia sudah seperti seorang maniak.
"Awalnya aku menduga kalau kau memiliki kekuatan untuk menciptakan berbagai elemen, tapi itu salah. Sihir yang kau gunakan sebenarnya berbeda dengan sihir di dunia ini. Benarkan?"
"Entahlah.."
Rim tersenyum seolah tak menyangkal.
"Sihir di dunia ini adalah 'membuat'. Sedangkan sihir yang kau gunakan adalah 'mengubah'. Tak aneh jika kau bisa menggunakan banyak elemen sekaligus. Tak hanya itu, kau bahkan bisa menggunakan sihir ruang yang tak terikat dengan elemen sihir di dunia ini. Karena itulah sihir elemen suci tak begitu memiliki pengaruh terhadap sihirmu."
Sihir dasar di Orladist adalah membuat elemen dari energi sihir. Karena itulah sihir memiliki 8 elemen sihir. Sihir di luar elemen itu disebut sebagai sihir khusus atau juga disebut Soul.
Rim yang mampu menggunakan sihir teleportasi (ruang) akan terlihat sebagai seorang yang telah membangkitkan sihir khusus (Soul). Tetapi di situlah letak kebohongan terbesar.
Rim mengubah energi sihir menjadi elemen. Karena tak berdasarkan konsep sihir di Orladist, sihir yang bisa dia lakukan lebih bervariasi. Tetapi sebagai gantinya Rim tak bisa menggunakan magic arm atau magic beast.
"Aku baru tahu ada yang bisa menggunakan sihir di luar sistem dunia ini?"
"...kau salah tuan putri. Kita semua tahu kalau ada satu eksistensi di dunia ini yang bisa menggunakan semua elemen."
Mendengar itu, Victoria tahu siapa yang disebut.
"Benar. Demon King Shiroyasha. Legenda selalu menyebut dia adalah satu satunya orang yang bisa menggunakan elemen kegelapan dan semua elemen sihir. Tapi bagaimana jika semua itu salah? Bagaimana jika dia sebenarnya adalah pengguna sihir dengan konsep yang berbeda dengan sihir di dunia kita?"
"..."
Shiroyasha juga disebut sebagai seorang yang berasal dari dunia lain. Tak aneh jika dia menggunakan sihir dengan konsep yang berbeda.
Tapi kenapa tak ada yang berpikir seperti ini sebelumnya?
"Hahaha... Meskipun semua yang kau katakan itu benar. Apakah itu menyelesaikan semua masalah kalian?"
"Tidak. Hanya saja, meskipun sihir yang kau gunakan berbeda atau tidak, kau memiliki kelemahan yang sama dengan sihir yang ada di dunia ini."
"Apa maksu-!?"
Belum selesai, Rim dikejutkan oleh cahaya putih yang berasal dari sekitarnya. Semua cahaya sihir itu seperti sebuah kubah dengan diameter 50 meter.
Di saat yang sama dia merasakan kalau energi sihirnya berkurang drastis. Atau lebih tepat jika dia mulai tak bisa menggunakan sihir lagi.
Dia tak sulit menemukan pelaku dari semua itu. Dia adalah satu satunya pengguna elemen suci di tempat itu.
"...Holy World."
Sebuah sihir yang mengubah semuanya menjadi elemen suci. Dengan kata lain, sihir elemen suci yang disebarkan ke dalam area luas.
Tak hanya memiliki efek menyegel sihir orang lain, sihir ini membuat Victoria menyerap energi sihir murni ke dalam tubuhnya dan mengubahnya menjadi kekuatan.
Rim lalu terjatuh ke tanah. Semua sihir yang dia ciptakan menghilang menjadi cahaya.
"Kau mungkin bisa menggunakan sihir ruang, tapi di tempat ini semua sihir yang kau gunakan tak berguna. Meskipun itu menggunakan konsep yang sama atau tidak. .... Kau lengah karena sudah merasa menang dari kami."
"...tch!!"
Tetapi meskipun terpojok. Senyuman tak menghilang dari Rim.
"Tapi bagaimana bisa?"
Itulah pernyataan terbesar. Holy World memang sihir yang luar biasa, tapi tak mungkin bisa dilakukan secara mendadak. Apalagi dengan area seluas itu.
"Ini sebenarnya sihir yang aku persiapkan untuk mengalahkan Fafnir. Bagaimanapun juga aku tak mungkin mengalahkannya dengan sihir biasa."
Sebelum Rim tiba, Victoria memang kewalahan menghadapi Fafnir. Jika diingat siapa Victoria, sangat aneh dia bisa dipojokkan dengan mudah.
(Begitu rupanya....)
Holy World bukanlah sihir yang bisa digunakan dengan bebas seperti sihir pada umumnya. Pertama Victoria membutuhkan benih yang menjadi titik koordinat. Sekilas, ini seperti sebuah menciptakan kerangka sebuah ruang.
Saat semua selesai, Victoria menghubungkan semua titik itu menjadi sebuah ruang yang terbuat dari elemen suci. Itulah identitas sebenarnya dari Holy World.
Melihat situasinya, Rim seperti berada di dalam sebuah sangkar burung. Untuk sekarang Victoria hanya bisa membuat ruang Holy World seluas 1 kilometer. Hanya saja semakin luas area Holy World, semakin lama pula persiapannya.
"Ini memang di luar dugaanku. Aku rasa main main cukup sampai di sini."
"Jangan membual. Kau sudah tak bisa menggunakan sihir ruangmu lagi. Kesempatanmu untuk menang adalah nol."
"Merlin. Cukup. Sebaiknya aku akhiri saja semua ini."
Victoria mendekat dan bersiap dengan Longinus. Energi sihir mulai terkumpul pada Longinus pertanda akan menyerang.
"Aku masih tak tahu tujuanmu yang sebenarnya. Sayangnya, aku rasa itu tak penting lagi."
Rim hanya tersenyum kecil.
Victoria mengangkat Longinus ke atas dan melakukan serangan penghabisan.
"Holy Slicer!!"
Semuanya berubah menjadi putih. Ledakan keras membelah daratan dan menerbangkan semua yang menjadi jalur serangan itu.
Dengan serangan itu seharusnya cukup untuk mengalahkan Rim, tapi pengumuman tanda Rim kalah tak terdengar. Tetapi semua itu berganti dengan sesuatu yang lain.
Krak!!
"!?"
Asal muasal suara itu membuat Victoria dan Merlin terkejut. Bagaimana tidak? Suara itu berasal dari Longinus yang ditahan dengan cengkraman tangan kecil Rim.
Rim kembali tersenyum dan memperkuat cengkeramannya. Bagian Longinus dengan mudah hancur seperti kayu kering.
Sadar dalam bahaya Victoria menarik mundur Longinus dan menjaga jarak.
Bagaimana mungkin ini terjadi?
Di dalam area Holy World, penyihir tak hanya tak bisa menggunakan sihir, tapi juga energi sihirnya akan menghilang dan akhirnya penyihir selain Victoria akan mengalami kondisi Mana Zero.
Victoria mengabaikan kondisi Merlin karena sejak awal dia memang sudah mencapai batas. Tetapi jika tidak melakukan ini, mereka tak akan bisa mengalahkan Rim.
Yang menjadi masalah sekarang adalah tak hanya bangkit, Rim terlihat menjadi lebih kuat.
Dulu Victoria akan bingung dengan apa yang terjadi pada Rim. Tetapi untuk sekarang dia tahu eksistensi kekuatan lain selain sihir.
"...Kau bisa menggunakan ki rupanya?"
"Ya. Terima kasih padamu. Akhirnya aku bisa menggunakan kekuatan ini."
Aura putih meluap dari tubuh Rim. Aura itu semakin kuat dan padat hingga memberikan tekanan yang tak kalah berat daripada sebelumnya.
Tiba tiba Rim menghilang. Tidak. Lebih tepat dia bergerak dengan cepat seperti menghilang.
"Gah!!!"
Merlin menerima tendangan tepat di bagian perut hingga tubuhnya terpental. Dia berhenti setelah terlempar sejauh 20 meter. Tubuhnya perlahan menjadi partikel cahaya dan akhirnya menghilang.
Tanda pengumuman Merlin tersingkir dari Battle War terdengar.
"Kau sungguh dingin. Kau sama sekali tak mencoba menolongnya."
"Aku hanya merasa kalau lebih baik dia kembali. Lagipula tak akan menarik jika ada pengganggu."
Itu bohong. Victoria tak bisa melihat gerakan Rim yang begitu cepat itu.
Untuk menghadapi kecepatan bagai dewa pengguna ki seperti inilah dia mempelajari teknik Brain Burst. Hanya saja karena itu memakan sebagian besar konsentrasinya, dia jarang menggunakannya kecuali di situasi mendesak.
Seperti sekarang ini.
(Brain Burst)
Tak hanya itu, dia juga membuat perisai sihir beberapa lapis.
(Seorang pengguna ki memiliki ciri khas. Kekuatan dan kecepatan mereka akan meningkat pesan. Dan tak hanya itu, pertahanan mereka juga akan meningkat.)
Dengan dirinya yang biasa, dia tak akan bisa menang melawan Rim. Tetapi kali ini dia lebih unggul karena berada dalam area Holy World.
"Jadi bisa kita mulai?"
__ADS_1
"Harusnya aku yang bertanya apakah persiapanmu sudah selesai."
Keduanya akhirnya memulai ronde ketiga. Dan terakhir.