
"Meskipun bangsawan, tapi bangsawan yang tak memilki hak atau kekuasaan. Jadi kau tak perlu kawatir, nona Laila." ucap Aldest. "Bisa dibilang sebuah bangsawan tingkat rendah."
Aldest berniat menenangkan dua orang gadis yang dikatakan cukup berbahaya jika sedang marah.
Laila melirik ke Kuro untuk memastikan apa yang dikatakan Aldest benar.
"Dia benar. Jadi kau tak perlu kawatir. Jika aku menginginkan kekuasaan, aku pasti akan menikah dengan Diana, tapi aku tak butuh itu."
Diana sedikit cemberut. Sedangkan Laila tersenyum kecil tapi menunjukkan wajah bingung.
Alasan Kuro tak mau menikah selain sudah lebih dulu menyukai Laila, ada satu alasan lain yaitu tak ingin terikat dengan Dragonia.
Bagi Kuro hal seperti itu tak cocok untuk dirinya.
"Aku tak percaya kau mengatakan itu padahal kau mengincar Laila. Dasar brengsek."
"........."
Kuro tak membantah karena apa yang dikatakan Jinn benar.
Tak hanya Jinn, semua orang pasti berpikiran sama dengan Jinn. Kuro mengincar Laila karena menginginkan status menantu paladin terkuat di dunia.
"Jinn, tutup mulutmu. Kau tak tahu apapun!!"
Tak disangka, Laila langsung marah membela Kuro.
"Ta-tapi...."
Sayangnya, tatapan Laila seolah olah mengatakan akan membakar Jinn jika berkata buruk lagi mengenai Kuro.
"Maaf. Aku tak tahu apa yang terjadi di antara kalian..., jadi aku hanya melampiaskan amarah. Sekali lagi, maafkan aku..."
Laila mendesah kecil lalu berkata;
"Baiklah. Asal kau tahu dan beritahu kepada teman temanmu, aku dan Kuro sudah saling kenal sejak 8 bulan yang lalu, jadi kalian jangan mencari masalah dengan mengatakan hal yang tak kalian ketahui kebenarannya!"
""Eh?""
Jinn dan Knox terkejut bersamaan karena baru pertama kali mendengar hal itu.
"Tuan Kuro, benarkah itu?"
Kuro mengangguk.
"Itu berarti, aku hanya terlambat mengenal tuan Kuro, ini ......"
Diana terlihat kecewa mengetahui fakta tentang hubungan dirinya dan Kuro.
Diana dan Kuro saling kenal sekitar 7 bulan lalu setelah kasus Gio Sevarez selesai.
Saat itu Kuro mendapatkan misi di hutan dekat perbatasan Dragonia. Karena dekat dengan hutan Rukia, Kuro memanggil Ruby untuk menjemputnya.
Tak disangka Ruby justru tak mengantar Kuro pulang, tapi mengantar Kuro ke Dragonia.
Kuro yang tertidur pulas dan memakai beban latihan tak bisa berbuat banyak saat dijatuhkan Ruby tepat ke kamar mandi Diana.
Dia dipenjara sekitar satu bulan karena dianggap mata mata atau bahkan orang mesum dan akan segera dihukum mati.
Selama di penjara itulah Kuro tahu kalau Dragonia sedang diserang Necromancer. Itupula alasan kenapa hukuman mati Kuro selalu ditunda.
Kuro lalu keluar penjara dengan paksa. Sejak awal memang dia bisa keluar kapan saja, tapi dia tak mau karena akan langsung mendapat misi jika pulang. Singkatnya dia hanya malas.
Setelah kabur, Kuro membantu melawan Necrodra. Tentu awalnya secara diam diam, tapi ketahuan setelah Ruby juga ikut membantu.
Itulah awal hubungan dari Diana dan Kuro.
Kuro kemudian membutuhkan waktu seminggu untuk mengalahkan Necromancer dan membunuh semua Necrodra.
Saat akan berpisah, tiba tiba Kuro dipaksa bertunangan dengan Diana.
Karena tak mau, akhirnya Kuro kabur dan pergi ke kota Areshia dimana misinya untuk menyamar menjadi murid sekolah sihir dimulai.
"Sudahlah... kita bahas masalah ini kapan kapan. Kita punya hal yang lebih penting. Diana, bisakah kau jelaskan situasi Dragonia saat ini dan ....kenapa kau bertarung sendirian? Meskipun kau bisa menggunakan Dragon Gear seperti aku, aku tahu tindakanmu ini terlalu ceroboh.."
"Maafkan aku. Aku tahu berbahaya, tapi aku tak punya pilihan lain."
Semua sedikit terkejut saat melihat Diana yang bisa dibilang menuruti Kuro dengan mudah.
"Semua Dragon Knight sedang terluka setelah bertarung selama 10 hari lebih.Hanya Shapira dan aku saja yang dapat bertarung, jadi... "
Diana tak melanjutkan karena semua orang sudah mengerti apa yang terjadi selanjutnya.
Setelah mendengar cerita, Kuro hanya mendesah kecil.
"Baiklah, aku mengerti apa yang terjadi. Aku tak akan menyalahkanmu, tapi bisakah kita masuk istana?"
"....ya. Kita bisa masuk kapan saja, tapi apakah mereka semua dapat dipercaya?"
Semua sedikit terkejut mendengar itu, tapi bukan berarti mereka tak mengerti alasan Diana tak percaya dengan orang asing.
Dragonia adalah negara kecil. Itu artinya mereka selalu diincar oleh negara yang lebih besar. Negara besar sering mengincar Dragonia karena menginginkan kekuatan satu satunya di Dragonia, yaitu naga.
"Jangan kawatir, kau dapat mempercayai aku dan Laila. Sedangkan yang lain akan kubunuh dengan tanganku sendiri jika berbuat macam macam."
"Oy... Sebegitukah kau tak mempercayai kami?"
Jinn protes dengan apa yang dikatakan Kuro.
"Jinn, aku tahu kau marah, tapi jika aku menjadi Kuro, aku juga akan melakukan hal yang sama."
"Huh? Apa maksudmu?"
"Kuro baru mengenal kita. Dengan kata lain dia tak tahu bisa mempercayai kita atau tidak. Terutama dua Knight itu. Mereka bisa saja mata mata kekaisaran. Apa kau mengerti?"
"........."
Jinn terdiam dan hanya menggertakan giginya sambil mengepalkan tangannya.
"Jika sudah mengerti. Aku tak perlu menjelaskannya lagi. Sejak awal aku tak mempercayai kalian. Tapi kalian akan kuberikan kesempatan untuk membuktikan bahwa kalian semua bisa dipercaya."
"Kau benar benar iblis." komentar Knox.
"Jadi bisakah kita pergi?"
Diana mengangguk, lalu berjalan keluar. Kuro dan lainnya mengikuti.
"Diana, apakah semua penduduk sudah diungsikan ke tempat yang aman?"
"Ya. Semua penduduk kota diungsikan setelah serangan satu minggu yang lalu. Itu adalah serangan terbesar selama 10 hari terakhir."
"Hoo.."
Kuro menyipitkan matanya seolah olah menyadari sesuatu.
"Itulah alasan kenapa kami kekurangan Dragon Knight. Mereka semua pergi untuk menjaga kota yang digunakan tempat mengungsi."
"Pasti kakakmu yang memerintahkan itu, benarkan?"
"Ya. Kakak Louis yang memerintahkan semua itu."
Kuro tersenyum tipis setelah mendengar itu.
Semua yang mengenal Kuro tahu itu adalah tanda Kuro merencanakan sesuatu yang menakutkan.
Mereka semua keluar dan menemukan Charlmilia sedang duduk sambil mengawasi Dragon Grave.
"Bagaimana sejauh ini?" tanya Kuro.
"Tak ada masalah atau gerakan berarti dari musuh. Um.. maaf, saya belum memperkenalkan diri. Saya Charlmilia Ven Cellvain."
"Salam kenal, Charlmilia. Kau dapat memanggilku Diana. Mari kita pergi ke istana. Tempat itu tempat teraman disini."
Semua menyadari Diana tampaknya lebih ramah terhadap Charlmilia daripada teman Kuro yang lain. Itu mungkin dikarenakan Charlmilia telah menyelamatkan nyawanya.
Mereka semua pergi ke istana Fafnir dengan berjalan kaki melewati puing puing kota. Tentu termasuk para naga yang mengikuti dari belakang.
"Ngomong ngomong siapa Louis?" tanya Laila.
"Dia kakak laki laki putri Diana." jawab Knox "Dia dikenal sebagai salah satu Dragon Tamer terbaik dan ahli stategi yang jenius."
"Aku terkejut kau tahu tentang dirinya."
"Jinn, asal kau tahu. Aku ingin menjadi ahli strategi pertempuran. Wajar aku mengetahui tentang orang hebat seperti dia."
Knox terlihat bersemangat dan serius saat mengatakan ingin menjadi ahli strategi. Ini pertama kalinya Knox mengatakan suatu tentang dirinya.
Sedangkan Kuro,
"Mudahnya Louis adalah pangeran pintar yang akan cepat botak."
"Hee....."
"Jangan langsung percaya dengan apa yang dikatakan Kuro, Laila."
Diana, Jinn dan Knox mengangguk bersamaan setuju dengan perkataan Charlmilia.
"Kenapa kata kataku kalian anggap sebagai godaan iblis? ....kalian pasti tahu, orang pintar pasti cepat botak karena sering berpikir."
"Kurasa kau benar."
"Laila, aku tak mengerti kenapa kau terlalu mudah percaya dengan apa yang dikatakan Kuro."
Mereka sekarang mengerti Laila terlalu polos dan mudah terpengaruh oleh Kuro. Kuro seolah olah virus yang sedikit demi sedikit mempengaruhi Laila. Sayangnya mereka sudah terlambat untuk memisahkan keduanya.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di pintu gerbang istana. Mereka tak bisa masuk begitu saja karena ada sebuah dinding kaca yang merupakan perisai menghalangi mereka semua.
Dari warna dan ketebalan perisai, Kuro dan lainnya tahu perisai itu lebih kuat daripada di kota Areshia.
"Tunggu sebentar. Aku akan menghubungi bawahanku untuk mematikan perisai."
"Aku mengerti." jawab Kuro.
Diana lalu melirik Shapira dan mengangguk.
Diana lalu mengayunkan tangannya dari atas ke bawah. Sebuah layar transparan yang terbuat dari mana atau disebut mana screen muncul di depan Diana. Dari alam layar munculah wajah seorang wanita berusia dua puluhan.
"(Putri Diana, ...syukurlah anda baik baik saja. Kami disini benar benar menyesal karena tak bisa membantu.)"
"Sudahlah, Dora. Kita akan bahas nanti. Yang terpenting cepat buka perisai di pintu gerbang istana. Aku membawa tuan Kuro dan teman temannya."
"( Benarkah itu?)"
Wanita yang bernama Dora langsung terlihat bersemangat. Tak hanya itu sorakan juga terdengar di layar mana.
Kuro lalu mendekat ke Diana dan ikut menatap layar mana.
__ADS_1
"Dora.. bagaimana kabarmu?"
Kuro menyapa dengan nada santai dan akrab.
"Jadi begitu. Cepat buka perisai dan siapkan jamuan untuk tuan Kuro. Lalu jangan lupa siapkan segala keperluan untuk 7 orang."
"(Akan segera saya laksanakan)"
Setelah beberapa saat, perisai di depan mereka perlahan menghilang, tapi hanya sebesar naga bisa lewat.
Kuro dan lainnya perlahan memasuki istana. Ruby dan naga lainya mengikuti dari belakang.
Istana Fafnir sekarang terlihat jelas dan begitupula warna biru muda yang mendominasi istana. Meskipun berada di pintu gerbang, namun mereka masih jauh dari istana karena istana memiliki halaman yang luas.
"Putri Diana, kenapa hanya bagian istana yang dipasangi perisai? Jika memasang perisai di seluruh kota, bukankah dapat memanimalisir kerugian?"
Apa yang ditanyakan Charlmilia masuk akal, tapi-
"Tidak seperti negara lain, kami tak bisa melakukan hal itu."
Mereka semua saat ini berjalan di taman yang merupakan halaman istana. Berbagai bunga yang indah dan berwarna warni tumbuh subur dan menyebarkan aroma wangi, tapi terlihat tak terawat. Lebih tepatnya tak memiliki waktu untuk merawat.
"Apakah karena naga?"
Diana mengangguk.
"Bahkan sebelum Light War, nenek moyang kami sudah hidup berdampingan dengan naga. Bisa dibilang inilah cara hidup kami. Selain itu, naga sensitif terhadap mana dan dapat membuat mereka stress."
"Kau tahu kan naga menyerap mana dari sekitar mereka lalu diubah menjadi energi mana di tubuh mereka?"
Kuro ikut menjelaskan.
Charlmilia menganguk.
"Karena itulah, jika mereka terlalu banyak menyerap mana, energi dalam tubuh mereka tak stabil dan menyebabkan mudah marah. Hal inilah yang menyebabkan naga lebih sering menyendiri di hutan." tambah Kuro.
"Jadi kalian membiarkan kota tak berperisai agar naga bisa pergi kapanpun mereka mau?"
Diana hanya tersenyum keci mengiyakan.
"Kalian menjalani hidup yang berbahaya dan penuh resiko. Pantas kalian sangat sulit percaya dengan negara lain."
Inipula yang menyebabkan banyak negara yang ragu atau berpikir terlebih dahulu sebelum menyerang Dragonia.
Meskipun menguasai untuk mendapatkan kekuatan Dragonia, yaitu naga, namun bukan berarti negara itu akan melakukan sistem yang sama dengan Dragonia.
Mereka sampai di istana. Sebuah pintu gerbang yang mewah dan besar terbuka untuk mereka. Semua perlahan masuk kecuali para naga yang kembali tidur seperti seekor kucing.
Mereka disambut sekitar sepuluh pelayan yang sudah menanti mereka. Mereka semua menuju istana bagian dalam, lebih tepatnya kamar mereka masing masing.
"Kalian mandi terlebih dulu di kamar kalian masing masing. Setelah itu, kalian baru kuajak bertemu dengan keluargaku. Tuan Kuro kau sudah hafal istana ini, jadi kau pasti tahu kamarmu, benarkan?"
Meskipun terdengar tak sopan, namun hal ini menunjukkan seberapa besar Diana percaya dengan Kuro.
"Baiklah. Laila, ayo kita pergi ke kamar kita."
Kuro menggandeng tangan Laila dan mengajak pergi.
"Tuan Kuro kau tak boleh satu kamar dengan Laila. Kalian bukan suami istri."
"Aku setuju dengan putri Diana."
Meskipun Charlmilia ikut protes, namun Laila dan Kuro terlihat tak peduli.
"Jangan kawatir, kami selalu tidur bersama di sekolah. Dan kami juga sering mandi bersama."
Wajah Laila sedikit memerah saat Kuro mengatakan itu.
"Tetap tidak boleh!"
"Aku tak menyangka kalian sudah sejauh itu."
Jinn dan Knox mengangguk bersamaan.
Akhirnya Laila dan Kuro memiliki kamar yang terpisah. Laila satu kamar dengan Charlmilia. Knox dengan Jinn. Sedangkan Aldest dan Lairo satu kamar karena mengaku sepasang suami istri.
Kuro sudah hafal seluk beluk istana Fafnir, jadi dia tak perlu diantar oleh pelayan. Dia masuk salah satu kamar yang luasnya 2 kali lebih besar dari kamar asrama di sekolah. Perabotan kamar dibuat dengan bahan kualitas nomor satu dan merupakan benda mahal.
Kuro langsung menuju kamar mandi setelah meletakkan Lic. Dia melepas bajunya dan berhenti di wastafel.
Wajahnya yang terlihat buruk dan kelelahan terpantul di cermin dengan sempurna. Tak hanya itu, sebuah lingkaran sihir kecil muncul di dada Kuro dan bersinar kelap kelip seperti lampu.
Disaat yang sama, mulut Kuro mengeluarkan darah kental kehitaman. Kuro memuntahkan darah itu le wastafel dan menyiramnya dengan air.
"........."
Kuro sudah terbiasa dengan luka yang dia dapat, tapi bagi sebagian orang, luka Kuro saat ini adalah luka yang sangat menyakitkan.
Ada satu alasan kenapa Kuro tak merasakan sakit, itu karena dia sudah mengalami sakit yang lebih menyakitkan dari lukanya saat ini.
Penyesalan abadi yang tak pernah dia bisa lupakan. Itulah luka Kuro.
Luka Kuro hanyalah efek samping Accell Art. Dia tak ingin menunjukkan ini kepada orang di sekitarnya. Syukurlah Diana memberikan dia kamar yang terpisah.
Kuro lalu menuju bak mandi yang berisi air hangat yang sudah disiapkan sebelumnya.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian yang sudah disiapkan sebelumnya, Kuro pergi ke ruang makan diantar salah satu pelayan wanita.
Kuro membawa Lic di tangan kirinya seperti biasa.
Setelah melewati beberapa lorong, Kuro sampai di ruang makan. Dia terkejut karena sudah banyak yang sampai lebih dulu daripada dirinya.
Diana memakai gaun berwarna biru muda yang cocok dengan rambutnya. Yang terakhir adalah Aldest. Dia memakai gaun hitam yang seksi.
Untuk para lelaki tak banyak perbedaan dalam pakaian, yaitu toxedo.
"Kuro silahkan duduk. Kami sudah lama menunggumu."
"Maaf telah membuatmu menunggu, yang Mulia."
Kuro duduk di kursi yang berdekatan dengan Laila.
Di ujung meja seorang pria tua yang merupakan raja Dragonia duduk. Di kanan raja, Diana duduk dengan anggun. Sedangkan di kiri raja, seorang pemuda yang terlihat tak jauh lebih tua dengan Lairo duduk.
Pemuda itu adalah Louis yang merupakan kakak Diana dan pangeran kedua Dragonia.
Wajahnya yang tampan dan rambutnya yang sedikit gondrong, tapi lurus seperti perempuan memberikan kesan dia adalah pemuda yang luar biasa.
"Oh.. tenang saja. Aku tahu kau selalu lama jika mandi."
"Aku rasa itu bukan pujian, benarkan?"
"Ha ha ha ... kau memang selalu membuatku bisa tertawa. Aku tak salah memilihmu menjadi calon menantuku."
"Ayahh!!"
Diana langsung protes.
Sedangkan Kuro tertawa kering dan berkeringat dingin karena merasakan hawa membunuh di dekatnya.
"Haha ha... pertama tama, aku ingin mengucapkan terma kasih telah menyelamatkan Diana dan juga telah mengalahkan Necrodra yang menyerang tadi malam."
"Anda tak perlu sungkan, lagipula itulah tujuanku kembali ke Dragonia. Tapi, bukan hanya saya yang menyelamatkan Diana, tapi itu juga berkat teman teman saya."
Menyadari maksud perkataan Kuro, sang Raja hanya tersenyum kecil.
"Kau benar. Aku juga harus berterima kasih kepada kalian semua. Berkat kalian, Diana tak terluka parah. Meskipun ini tak seberapa, kuharap kalian menikmatinya."
Di meja, hidangan mewah dan lezat tertata rapi.
Kuro dan lainnya hanya makan makanan sederhana selama perjalanan, jadi makanan di depan mereka bagaikan makanan dari surga.
Mereka semua kemudian makan. Kuro sudah terbiasa makan dengan bangsawan, jadi dia tahu tata cara makan yang sopan.
Hal yang sama juga berlaku kepada Laila, Charlmilia dan Aldest. Sedangkan Lairo, Knox dan Jinn bisa dikatakan sedikit kaku.
Setelah makan selesai, semua pelayan merapikan meja makan dan diperintahkan untuk pergi.
"Maaf karena belum memperkenalkan diriku, tapi kurasa aku tak perlu melakukannya karena aku seorang raja, benarkan?"
Raja yang aneh, tapi perkataannya masuk akal.
"Sudahlah, jangan membuat kami malu, Ayah!"
"Kau jangan terlalu serius, Diana. Ayah memang selalu seperti itu."
Louis mengatakan seolah olah raja memang seperti itu.
"Ehemm... Namaku Draig Fisrta Empiora. Raja ke 56 Dragonia. Seperti yang kalian tahu, selain Diana, di sampingku ini adalah putraku yang kedua Louis Fisrta Empiora. Sayang sekali Cross dan Lionel tak bisa datang karena sibuk."
"Cross dan Lionel? Siapa itu?"
Laila bertanya sambil berbisik.
"Mudahnya mereka kakak laki laki Diana."
"Oh.. begitu rupanya."
Draig melanjutkan.
"Aku juga ingin mengenalkan istri dan putriku yang lain, tapi mereka tak disini. Kalian pasti mengerti apa yang kumaksud."
"Ya, kami mengerti. Di situasi seperti ini, mereka pasti berada di tempat yang lenih aman." jawab Kuro.
"Uhmm.. Baiklah, kita mulai langsung ke intinya saja, kau lebih suka seperti itu kan?"
Kuro hanya tersenyum kecil.
"Sebagai raja, dan sebagai seorang ayah, aku menghargai bantuan kalian, terutama teman teman Kuro yang datang untuk membantu menyelamatkan negeri kami, ......tapi aku minta bisakah kalian kembali ke negri kalian secepatnya?"
Semua mata orang yang berada di tempat itu melebar kecuali Kuro, Diana dan Louis.
"Bisakah kami tahu alasannya? Jika masalah bahaya, itu bukan masalah bagi kami. Kami sudah memutuskan untuk membantu Kuro."
Charlmilia terkejut, tapi dia bisa menahan emosinya.
"Alasan utama adalah itu." jawab Louis "Tapi alasan yang terbesar adalah kami tak butuh kalian."
"Apa maksudmu?"
Protes Jinn.
"Mudahnya mereka tak butuh kekuatan kita. Yahh.. kurasa ini wajar karena secara teknis kita hanyalah murid sekolah sihir."
Draig mengangguk membenarkan penjelasan Knox.
__ADS_1
"Selain itu kami tak selemah itu sehingga harus dibantu oleh murid sekolah. Kami juga tahu kalian sebenarnya cukup kuat dari data pertempuran tadi malam, tapi kalian tak akan beruntung untuk kedua kalinya."
"?! jangan bilang!"
"Ya. Serangan seperti tadi malam hanyalah serangan yang bisa dibilang sangat kecil." tambah Draig.
Apa yang dikatakan Draig sedikit mengejutkan bagi sebagian orang, tapi tidak bagi Kuro. Tapi tak hanya Kuro, Aldest juga tampak tak terlalu terkejut.
"Kalian bilang tak butuh bantuan kami, tapi kenyataannya pada serangan tadi malam kalian tak sanggup menolong satu orang gadis dan hampir membuatnya terbunuh. Jika kalian ingin mengusir kami, kalian harus menggunakan alasan yang lebih baik."
"Aku setuju denganmu, Jinn." tambah Charmilia.
"Mengenai itu, itu adalah salah Diana sendiri karena tak mau mendengar perintah kami."
Diana terlihat murung setelah mendengar perkataan Louis.
"Kami tahu sihir dia meningkat akhir akhir ini dan itu membuat dia tak bisa berpikir jernih. Dan kalian pasti tahu akibatnya kan...?"
"Kakak Louis, aku melaku-"
"Aku tahu, tapi kau adalah adikku yang berharga dan aset berharga negri ini karena Shapira memilihmu. Karena itulah kuharap kau tak melakukan hal ceroboh seperti tadi malam."
"Ta-tapi-"
"Diana, apa yang dikatakan Louis benar. Aku tak ingin kehilangan putriku atau salah satu dari anakku. Kuharap kau mengerti."
"............baik, Ayah."
"Sekarang bolehkah aku bicara?"
Tiba tiba Kuro menyela setelah diam sejak dari tadi.
"Kuro, apa kau ingin mengatakan sesuatu?"
"Ya. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kami, tidak, mereka semua mengerti kalau kalian ingin mengusir mereka secara halus, tapi... mereka adalah teman yang akan membantuku selama aku disini."
"........"
"Kalian bisa menganggap mereka adalah anak buahku, atau pembantuku."
"Singkatnya kau akan bertanggung jawab jika mereka melakukan suatu hal yang mencurigakan?"
"Ya. Alasan ingin mengusir mereka karena takut mereka adalah mata mata yang ingin mengetahui rahasia Dragonia. Apa aku salah?"
".........."
Louis hanya tersenyum kecil.
"Maka ini mudah, kalian cukup mengawasi mereka seharian penuh. Jika mereka menggunakan sihir, aku tak keberatan kalian membunuh mereka. Bagaimana?"
"Kuro, kau..."
"Jinn, sebaiknya kau diam. Apa yang dikatakan Kuro masuk akal. Ini juga cara tercepat dan paling mudah agar mereka percaya dengan kita."
Setelah mendengar penjelasan Knox, Jinn sedikit lebih tenang.
"Tapi tenang saja, jika kalian diserang tanpa alasan yang jelas, bukan Necromancer yang akan menghancurkan Dragonia, tapi aku akan melakukannya dengan tanganku sendiri. Sekarang apakah kita sudah sepakat?"
Draig menyipitkan matanya setelah mendengar perkataan Kuro.
"Apa kau serius akan menghancurkan Dragonia?"
"Ya. Anda tahu tentang diriku, karena itupula Anda ingin aku menikah dengan Diana, benarkan?"
"........."
"Aku tak peduli dengan perang atau dunia akan hancur, tapi jika kalian mengusik orang yang berharga bagiku, aku akan langsung memusnahkannya dengan tanganku sendiri. Tak peduli apakah orang itu raja atau dewa sekalipun. Aku sudah mengatakan hal ini kepada kalian semua, jadi kalian jangan membuatku mengulanginya."
Perkataan Kuro membuat meja makan menjadi hening untuk beberapa saat.
Apa yang dikatakan Kuro sedikit tak masuk akal, tapi mereka semua tahu Kuro tak bercanda.
"Ha haaha.. baiklah. Aku mengerti. Akan kubiarkan temanmu membantu kami, tapi aku ingin mereka menuruti perintah Diana. Jika mereka melakukan suatu, kami akan membunuh mereka, tapi tentu jika kami dapat membuktikan mereka melakukan suatu hal mencurigakan."
"Sebagai gantinya mereka diperlakukan sebaik mungkin. Jujur saja, aku tak ingin mereka pulang menjadi mayat."
"Kau selalu membuatku terkejut, tapi baiklah. Aku setuju. Aku akan memperlakukan mereka dengan baik."
Draig tiba tiba berdiri, Louis mengikutinya.
"Maaf, kami harus pergi untuk membahas strategi untuk melawan Necromancer. Kalian bisa mengobrol dengan Diana jika kalian ingin bertanya sesuatu."
Draig dan Louis kemudian pergi dari ruang makan.
"Diana, semuanya. Ada yang ingin kubicarakan. Bisakah kalian mendengarkanku?"
Semua langsung menatap Kuro yang kini tersenyum tipis bagai iblis.
Sementara itu, Louis dan Draig berjalan bersama menuju salah satu ruangan istana. Mereka masuk ruangan yang merupakan perpustakaan kecil.
Mereka berdua berhenti di depan pojok dinding.
Dari kaki Draig tiba tiba muncul lingkaran sihir yang kemudian menjalar ke dinding. Lalu setelah terdengar suara 'klik', lantai terbuka seperti dan sebuah anak tangga turun ke bawah terlihat.
Draig dan Louis kemudian turun menuruni tangga yang cukup gelap. Tujuan merela adalah ruang bawah tanah istana Fafnir.
Istana Fafnir memiliki banyak ruang bawah tanah. Sebagian besar digunakan untuk mengungsi, tapi tujuan Louis dan Draig adalah tempat rahasia yang hanya beberapa orang saja yang tahu.
"Apa kau sudah mendapatkan data tentang mereka?"
"Ya." jawab Louis. "Seperti yang dikatakan Diana, mereka hanyalah murid sekolah. Sedangkan dua orang dewasa itu adalah Knight kota Areshia."
"Dan...-"
"Yang cukup mengejutkan gadis yang selalu dekat dengan Kuro adalah putri paladin terkuat di Kekaisaran."
Draig menyipitkan matanya setelah mendengar itu.
"Tapi tak perlu kawatir, menurut intelegen kita, dia hanyalah penyihir biasa yang kemampuannya tak terlalu menarik. Selain itu, alasan dia kemari karena dia adalah kekasih Kuro. Dengan kata lain, dia memiliki tujuan yang murni tanpa ada unsur politik."
"Jadi kita tak perlu kawatir dengan dirinya kah....., lalu bagaimana yang lainnya?"
"Yang lainnya hanyalah putri jendral. Kemampuannya cukup bagus. 3 orang laki laki selain Kuro hanyalah bocah biasa saja. Tapi mengenai wanita itu cukup sedikit membuatku kawatir."
"Apa maksudmu?"
"Wanita itu, Aldest Devilist. Dia adalah penyihir yang dijuluki Demon Witch."
"Apa kau tak salah?"
"Ya. Tak salah lagi, tapi karena itulah dia berguna untuk melawan Necromancer. Kuro benar benar membawa orang yang berguna."
".........."
"Lalu apa yang harus kita lakukan terhadap mereka?"
Senyuman langsung menghilang dari wajah Draig.
"Jangan pura pura bodoh! Kita akan memanfaatkan mereka sebaik mungkin. Lagipula kita tak dirugikan apapun dalam hal ini."
"Ku ku..."
Senyuman licik muncul di bibir Louis.
"Tapi kuperingatkan lagi agar tak menyentuh teman Kuro. Kita tak ingin bocah berbahaya itu marah."
"Kenapa Ayah takut dengan bocah itu? Apakah karena Ruby memilihnya? Atau karena ayah takut dengan legenda itu?"
"......"
Draig terdiam dan tak langsung menjawab.
Tapi pertanyaan Louis tepat sasaran.
"Berapa kali kita harus membahas ini? Dan apa kau lupa dengan kekuatan yang Kuro tunjukkan 6 bulan lalu?"
"Dragon Gear kah? Menurutku itu bukanlah suatu yang spesial."
"Ya. Itu tidaklah spesial, tapi kapan terakhir kali kau tahu ada yang menggunakan Dragon Gear?"
"......"
"158 tahun yang lalu, dan tiba tiba ada yang bisa menggunakan Dragon Gear lagi. Itulah yang luar biasa dari Kuro."
"Tapi itu tak cukup memberi alasan untuk takut kepadanya. Lagipula dengan Ayah menyetujui persyaratan Kuro, itu artinya Ayah juga mengakui bahwa tak keberatan Dragonia hancur karena bocah itu. Jujur saja aku tak mengerti pemikiran Ayah."
Draig hanya mendesah kecil.
"Louis, aku tahu kau tak bodoh, tapi sayang kau kurang berpengalaman."
"......."
"Kuro mengancam akan menghancurkan Dragonia karena dia tak ragu melakukan itu. Tapi yang lebih penting adalah dia memilki kekuatan untuk melakukannya."
"Ruby kah?"
"Kau salah."
"Eh?"
"Ruby hanyalah salah satu bidak untuk memanggil kekuatan yang lebih besar. Dragon Gear adalah bukti dia dapat melakukan itu, .....karena itulah aku ingin Diana menikah dengan Kuro."
"Jika Ayah benar, Kuro dapat menggunakan kekuatan legendaris itu? Aku tak menyangka Ayah tega melakukan itu hanya demi kekuatan."
"Aku lebih tak menyangka anakku akan mengatakan seolah olah aku adalah Ayah yang jahat, tapi tak apalah. Itulah yang disebut seorang Ayah."
Louis hanya tersenyum kecil.
Dia tak memuji Draig, tapi juga tak menjelekkan Draig. Hal itu karena dia sudah tahu bahwa seperti itulah yang dinamakan orang tua.
"Jadi, aku cukup melakukan seperti yang sudah disepakati, tapi bagaimana jika mereka tahu tentang ini?"
Mereka sampai di sebuah ruangan yang gelap. Sebuah pintu tiba tiba terbuka dan memancarkan cahaya yang berasal dari dalam ruangan.
"Kenapa kau bertanya? Apa kau bodoh?"
"Baiklah. Aku mengerti."
Mereka memasuki ruangan yang terbuat dari metal. Lantai penuh kabel dan bongkahan besi yang sudah dibentuk.
Di ruangan itu, berbagai kilatan cahaya yang berasal dari mesin dapat membutakan mata yang melihatnya. Banyak orang berpakaian jas lab putih sedang sibuk mengotak atik komputer. Tak hanya itu, jauh di bayangan, tabung kaca berukuran raksasa banyak terlihat meskipun tak terlalu jelas. Banyak kabel yang terhubung dengan tabung itu.
Sepasang mata terbuka dari dalam tabung yang menjadi pertanda sosok di dalam tabung sudah mulai bangkit.
-Sementara itu, setelah Draig dan Louis pergi, Kuro dan lainnya pergi menuju taman istana bersama Diana.
__ADS_1
Setelah memastikan aman, Kuro menolah ke Diana dan berkata;
"Diana, bisakah kau beritahu semua yang kau tahu?"