
"Aku harap bisa melihat tontonan menarik, tetapi tak aku sangka akan mendapatkan tontonan membosankan. Aku tak punya alasan untuk berada di tempat ini lagi."
"Tunggu aku, Knox. Aku tak mau sendirian berada di sini."
Knox dan Jinn pergi dari tempat menonton arena. Pengawal yang berada di dekat mereka langsung mengikuti karena tak ingin keduanya memasuki tempat yang dilarang.
Satu hal yang pasti, keduanya pergi dengan wajah kecewa.
"Melihat pertarungan ini, aku mengerti kenapa mereka tak puas." komentar Laila. "Kuro, bagaimana menurutmu?"
"..Tidak buruk. Hanya saja Victoria benar benar seorang yang jenius. Dia membuat keputusan untuk mengakhiri pertarungan tepat sebelum terdesak oleh teknik Anak Elang. Yah.. Bagaimanapun juga jika pertarungan berlangsung lebih lama, tak diragukan lagi Anak Elang itu akan menang. Dia melihat kenyataan itu dan menghancurkannya. Sungguh orang yang luar biasa."
Kuro menunjukan senyuman lebar yang menunjukan tanda dia senang dengan apa yang terjadi.
Setelah melihat pertarungan tadi, siapa yang tak bersemangat.
"Selain itu putri Victoria juga berhasil mengurangi kekuatan yang bisa dia tunjukan pada kita. Dia juga membuat keputusan itu karena dia tak ingin mengalami kerugian di masa depan nanti."
Kuro mengangguk tanda setuju.
"Dia pasti sadar setelah melihat apa yang bisa kita lakukan di dalam pertempuran sebelumnya. Jika dia ingin menang untuk ketiga kalinya, wajar jika dia ingin menyembunyikan banyak hal dari kita. Selain itu, aku yakin dia ingin memberikan kita sebuah kejutan."
"Jika dia kalah dari kakak, dia akan kehilangan kesempatan itu. Satu hal yang tak aku sangka, ternyata kakakbenar benar menyukai putri Victoria"
"Tetapi dia ditolak mentah-mentah. Kau mendapatkan simpatiku, Anak Elang."
Kuro memejamkan matanya dengan ekpresi seperti seorang yang sedang berduka.
"Kuro.."
"Aku tahu. Kita harus berterima kasih padanya karena membuat kita mengerti siapa yang akan kita lawan nanti. Bagaimana kalau kita mendekat?"
"..."
Tanpa banyak kata, Laila hanya tersenyum dan mengangguk tanda mengiyakan.
Dia memberi tanda pada Lic untuk pergi.
"Lic, mari kita hibur pamanmu."
"Un.."
Lic mengangguk dengan penuh senyuman.
Sementara itu, setelah ketiganya pergi, Charlmilia masih berada di tempatnya. Dia masih mencoba menganalisa apa yang terjadi dalam pertarungan.
Tetapi seberapa keras dia mencoba, dia masih belum bisa mengerti. Alasannya tentu karena dia sama sekali tak bisa melihat teknik yang keduanya gunakan.
Dia mengerti beberapa karena mendengar penjelasan dari Kuro, tetapi bagaimana jika dia yang berada dalam posisi bertarung?
Kecepatan yang tak bisa terlihat oleh mata biasa dan mata yang bisa melihat semuanya dalam gerakan lambat.
Teknik yang mengorbankan Magic Arm, tetapi sebagai gantinya memiliki kecepatan hampir setara dengan kecepatan cahaya.
Teknik yang menyedot sihir lawan dan diubah menjadi kekuatannya sendiri.
Perisai yang menahan semua serangan.
Teknik di atas hanyalah beberapa teknik yang terlihat di dalam pertarungan singkat ini. Meskipun begitu, dia paham semua teknik itu bukanlah teknik yang bisa dipelajari dengan mudah meskipun mereka adalah seorang jenius.
Dia tahu Victoria berlatih keras setiap hari sehingga dia dijuluki Berserker Princess atau Holy Berserker. Sepintas itu bukan julukan yang manis, tetapi itu adalah bukti kekuatan Victoria.
Sedangkan Arthuria, beberapa tahun sebelum pertunangan dia dengan Victoria diputus, keduanya pernah bertarung. Dan hasilnya sama seperti sekarang ini, dia kalah telak.
Meskipun banyak yang bilang keduanya adalah pasangan serasi dan sama sama disebut jenius, tetapi jika bertanya siapa yang lebih kuat, maka jawabannya sudah jelas.
Setelah itu Arthuria memutuskan untuk putus sekolah dan mengelilingi dunia untuk bisa menjadi lebih kuat. Dan seperti yang terlihat, dia bisa membuat Victoria menggunakan trump card yang Victoria simpan untuk nanti. Dan jika apa yang dibilang Kuro benar, maka kemungkinan Arthuria menjadi pemenang cukup besar.
Tetapi dia dikalahkan oleh keputusan Victoria.
Setelah melihat semua itu, Charlmilia akhirnya paham kekuatan bukan hanya berbentuk sihir yang kuat atau Dragon Gear. Dengan strategi dan keputusan yang tepat, seseorang bisa mengalahkan orang yang lebih kuat darinya.
(Jika dibadingkan dengan diriku, aku...)
Charlmilia tahu dia semakin kuat setelah berhasil menggunakan Dragon Gear dan membuat kontrak dengan Lapis Lazuli, tetapi dia sadar kekuatannya hanya sampai sebatas itu.
Laila kuat, tetapi dia tak membuat kontrak dengan Dragon King atau bahkan menggunakan Dragon Gear. Dia menggunakan semua yang dia miliki sehingga dia bisa bertarung dan mengalahkan Maria.
Jika melihat semua kenyataan itu, bukankah itu artinya dia adalah yang terlemah di antara mereka semua?
"..."
Dia mengepalkan tangannya dengan erat hingga membuat kukunya melukai tangannya. Rasa sakit itu tak begitu berarti jika dibandingkan dengan kenyataan yang ada di depan matanya.
________________
________
___
Keesokan harinya, setelah sarapan dengan anggota keluarga barunya, dia pergi menuju tempat latihan yang digunakan Arthuria dan Victoria bertarung.
Tanda pertarungan tak terlihat karena sudah diperbaiki dengan menggunakan sihir.
Tujuan ke tempat itu tentu saja untuk berlatih.
Meskipun dia berstatus seorang putri kaisar, namun dia belum dibebankan oleh kewajiban atau tugas seorang putri sebelum dia diangkat resmi di depan penduduk, karena itulah dia hanya memiliki waktu sedikit sebelum semua itu tiba.
Sudah beberapa hari dia tak menggunakan sihir karena masih dalam masa pemulihan. Entah mengapa, dia merasa bergairah dan tak sabar menyempurnakan teknik yang dia kuasai.
Pertama yang dia coba adalah memanggil Byakko.
Setelah Byakko muncul dengan raungan keras. Charlmilia tersenyum lebar karena Byakko dalam kondisi sempurna.
Tujuan dia memanggil Byakko bukan karena ingin berlatih mengendalikannya atau mencoba teknik baru, tetapi karena dia membutuhkan lawan tanding.
Untuk lebih sempurna, dia mereinkarnasi Byakko menjadi Byakkura.
Sama seperti sebelumnya, Byakkura terlihat sempurna. Kilatan menyambar dengan penuh semangat seolah tak sabar ingin berlatih.
"..."
Tetapi saat melihat itu, Charlmilia tak punya pilihan selain menggigit bibir bawahnya.
Berbeda dengan dulu, dia saat ini hanya bisa menggunakan satu elemen saja, yaitu petir. Hal ini terjadi karena menjadi syarat agar bisa membuat kontrak dengan Lapis.
Memang benar dia menjadi lebih kuat dari sebelumnya, tetapi dia sekarang harus berpikir keras untuk bisa memaksimalkan kekuatan barunya.
"Tak ada gunanya menyesali ini."
Dia tak menyesal, hanya saja dia merasa rindu dengan Magic Art yang dia bisa gunakan sebelumnya.
Dia menepuk kedua pipinya untuk menghilangkan pemikiran itu.
"Sekarang bukan saatnya memikirkan itu. Aku harus mencoba apa yang bisa aku lakukan sekarang."
Dia lalu berkonsentrasi dan memikirkan kembali sensasi saat menggunakan Dragon Gear. Yang dia coba saat ini adalah Dragon Gear tipe Valkryie yang memiliki kekuatan paling besar.
Setelah dia merasakan sensasi tubuhnya memakai sebuah armor dan bersamaan dengan itu kekuatannya meningkat, dia membuka matanya.
Tetapi-
"...kenapa wujud ini?"
Dragon Gear yang dia kenakan adalah Dragon Gear tipe pertama. Tipe armor berat.
Merasa ada yang salah, dia mencoba mengubahnya menjadi tipe kedua, tipe armor ringan yang memberikan kecepatan. Dia berhasil, tetapi saat mencoba tipe yang dia inginkan,-
Dia gagal.
Pada akhirnya dia berlatih dengan menggunakan dua tipe Dragon Gear untuk berlatih tanding dengan Byakkura. Hasilnya adalah Byakkura menjadi pemenang 8 dari 10 pertarungan.
Dia akhirnya mengerti, Dragon Gear ternyata tak sekuat yang dia kira.
Lelah karena berlatih, akhirnya dia paham karakteristik dua tipe Dragon Gear yang bisa dia gunakan.
Dari penampilannya saja sudah bisa terlihat jelas kelebihan dan kelemahannya, tetapi dia tak menyangka Dragon Gear tak jauh berbeda dengan armor biasa.
Dia terlentang di lantai dan melihat ke atap yang berwarna abu abu.
"Bagaimanapun juga ini aneh. Kenapa saat Kuro menggunakan Dragon Gear dia terlihat begitu kuat?"
Tak hanya kuat, namun hasil bisa terlihat dengan jelas kalau kekuatan Kuro meningkat pesat. Karena itulah dia bisa menang melawan musuh.
"Mungkinkah karena dia sudah terbiasa menggunakannya?"
__ADS_1
Alasan masuk akal, tetapi dia menggelengkan kepalanya karena menyangkal ide itu. Perasaanya mengatakan kalau ada faktor lain kenapa Kuro bisa sejauh itu.
Saat sedang memikirkan itu, dia mendengar langkah kaki yang mendekat. Dia melirik dan melihat Riana datang ke arahnya.
"Aku tak melihatmu saat makan siang. Ternyata kau ada di sini, kak Charlmilia"
"Riana, sudah aku bilang untuk tak memanggilku seperti itu."
Riana hanya tersenyum.
Meskipun seumuran, namun Charlmilia lebih tua beberapa bulan. Karena inilah Charlmilia menjadi kakak. Sayangnya, karena hubungan di masa lalu, nama panggilan Charlmilia bagaikan sebuah candaan dari Riana.
"Kenapa? Bukankah kita sekarang saudara? Selain itu kau seorang putri. Meskipun kita setara, namun tak mungkin memanggil tanpa tanda hormat."
"Tolong ampuni aku untuk masalah itu. Setidaknya jangan memanggilku seperti itu saat kita berdua."
"..fufu...entahlah.."
"..."
Entah mengapa, Charlmilia mulai mengerti sisi buruk Riana.
"Oh iya, ngomong ngomong, kenapa kau datang kemari?"
"Sudah aku bilang karena aku tak menemukanmu di meja makan, aku datang kemari. Yah.. Tentu ada alasan lain kenapa aku menemuimu."
"Hm..?"
_____________________
__________
___
"Apa ini sebuah cara penyiksaan batin terbaru?"
"Tidak. Pakaian itu sangat pantas denganmu, kak Charlmilia."
Setelah menjemput Charmilia, Riana mengajaknya ke tempat ganti pakaian. Tentu sebelum itu dia harus mandi karena banyak mengeluarkan keringat.
Dengan bantuan beberapa pelayan, Riana akhirnya memiliki kesempatan untuk membuat Charlmilia berganti pakaian dengan pakaian yang dikenakan seorang putri kaisar .
Sejauh ini pakaian putri kaisar memiliki desain yang tak jauh beda dari pakaian seorang bangsawan. Hanya saja perbedaan yang paling jelas adalah dari bahan dan sihir yang tertanam pada pakaian.
Salah satu yang paling umum adalah memiliki sistem sihir pertahanan otomatis yang akan menyala saat terancam bahaya. Lainnya seperti tak bisa dibakar dan berbagai macam sihir yang membuat pakaian mereka tak jauh berbeda dari sebuah tank.
Setelah berganti pakaian, Riana mengajak Charlmilia pergi dengan kereta kuda. Tentu beserta para Holy Knight yang bertugas mengawal anggota kekaisaran.
Lalu setelah sekitar 30 menit, akhirnya mereka turun.
Lokasi mereka turun adalah pusat kota yang begitu ramai oleh penduduk ibukota.
Karena masyarakat terbiasa dengan kehadiran Riana, maka wajar jika mereka menyambut baik Riana. Tetapi kali ini mereka tertarik karena suatu yang lain. Itu adalah Charlmilia.
Selain kecantikannya meningkat pesat berkat make up yang tipis dan menunjukkan pesona aslinya, hal itu juga didukung oleh pakaian dan gaya rambut yang begitu feminim. Tetapi yang paling jelas mungkin ukuran dadanya yang membuat terlihat bisa tumpah kapan saja.
Meskipun begitu, dia tak kehilangan kewibawaannya sebagai seorang bangsawan tingkat tinggi.
"Err.. Kalau boleh tahu, kenapa kita kemari?"
"Kita tak punya tujuan khusus dan hanya jalan jalan saja. Karena sebentar lagi kau akan menjadi keluargaku, maka wajar jika harus memperkenalkan dirimu pada penduduk. Karena kau dari keluarga bangsawan, maka aku yakin banyak yang sudah mengetahui dirimu."
Dengan senyuman, Riana mulai melangkahkan kakinya.
Charlmilia mengikutinya. Lalu bersamaan dengan itu, suara pembicaraan dari para penduduk mulai terdengar di berbagai tempat.
Hal ini membuat Charlmilia tak nyaman, namun sekarang dia mengerti kalau menjadi seorang putri berarti menjadi pusat perhatian.
Dia mencoba menahan diri dan tetap tenang, tetapi saat ada yang memotret dirinya dengan ponsel, dia akhirnya sadar kalau sudah terlambat untuk mundur.
Pada akhirnya, dia memutuskan untuk melakukan hal yang tak membuat Riana dan keluarga kekaisaran malu.
Setelah berjalan jalan cukup lama, Charlmilia paham kenapa Riana mengajaknya. Ini bukan hanya karena Riana ingin memberitahukan kalau dirinya akan menjadi keluarganya secara tidak langsung pada masyarakat, namun juga karena ingin menunjukan pada dirinya kalau menjadi seorang putri tidaklah semudah yang diperkirakan.
Sesekali keduanya berhenti dan memperhatikan kondisi sekitar. Tak hanya itu, mereka kadang memasuki toko untuk bertanya beberapa hal seperti dampak pertarungan pada bisnis dan keuangan masyarakat.
Karena program yang dilakukan pemerintah cukup sukses, masyarakat cukup puas dengan keadaan yang sekarang. Tetapi bukan berarti tak harus ditingkatkan.
Untuk alasan inilah Riana sesekali pergi untuk melihat keadaan ibukota. Dia juga kadang pergi ke wilayah lain untuk melihat kondisi di sana. Hanya saja karena situasi cukup berbahaya, dia jarang melakukan itu.
"...Terima kasih."
Charlmilia tanpa ragu menggigit apel yang diberikan oleh penjual buah. Tentu dia memakannya setelah diperiksa oleh Holy Knight.
"Mu?! Ini manis dan lebih segar daripada yang biasa aku makan."
"Aku mendengar apel jenis itu memang jarang dan meskipun musim berbuah, namun tak semuanya bisa menjadi apel yang baik."
"Jika seperti itu, kenapa harganya begitu murah?"
Harga yang ditawarkan sama dengan harga apel yang berada di toko lain. Dengan sekali lihat kalau apel yang mereka makan memiliki kualitas yang lebih baik.
"Itulah yang aku coba cari tahu. Penduduk di wilayah terpencil biasanya tak peduli dengan perbedaan harga. Yang penting barang dagangan mereka laku. Kak Charlmilia, kau pikir kenapa hal itu bisa terjadi?"
"...Bukankah karena mereka tak tahu?"
"Kenapa mereka tak tahu?"
"..."
Charlmilia ingin menjawab, tetapi dia menahannya.
"Seperti yang kau pikirkan, mereka tak tahu karena tak memiliki kesempatan untuk tahu. Mudahnya mereka tak memiliki kesempatan untuk belajar. KakCharlmilia-, apa kau tahu, 68 persen anak anak di negeri ini tak memiliki kesempatan untuk belajar di sekolah. Hal inilah yang menyebabkan negeri ini sulit maju meskipun program pemerintahan berjalan dengan baik. Selain itu, pemerintah mencoba mencarikan pengajar yang bisa mengajar anak anak di wilayah terpencil, sayangnya jumlah mereka terbatas."
"..."
Sambil berjalan, mereka bicara. Karena topik penting, Holy Knight mengaktifkan sihir isolasi agar tak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Di saat itulah sesekali mereka melihat anak anak dengan pakaian kumuh yang melihat mereka dari atap dengan tatapan penuh penasaran.
"Mereka anak anak yang berasal dari panti asuhan di dekat sini. Seperti yang kau lihat, meskipun pemerintah memberikan bantuan, namun masih banyak saja yang tak bisa mendapatkan pendidikan yang pantas."
"..."
"Faktor lainnya adalah banyak yang berpikir kalau pendidikan bukanlah hal penting. Maklum saja, saat ini banyak pekerjaan yang tak membutuhkan pendidikan khusus."
Petualang, tukang bangunan, dan petani hanyalah beberapa contoh pekerjaan yang tak membutuhkan pendidikan khusus. Pekerjaan pekerjaan itu bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kekuatan dan pengalaman.
"Pertanyaannya adalah, apa yang terjadi jika pekerjaan yang tak membutuhkan pengetahuan khusus itu dilakukan oleh ahli atau orang yang memiliki pengetahuan?"
Senyuman lebar muncul di bibir Riana. Dia seolah membayangkan apa yang dia ucapkan menjadi kenyataan.
Itu hanyalah mimpi, tetapi mimpi yang indah.
"Contohnya, petualang merupakan pekerjaan yang membutuhkan keahlian bertempur. Tetapi jika dibandingkan dengan pekerjaan lain, itu adalah pekerjaan yang memiliki risiko kematian paling tinggi. Sayangnya, bukan itu saja yang menjadikan pekerjaan itu berbahaya. Penipuan, perampokan, pembunuhan oleh petualang lain merupakan suatu yang umum. Sayangnya, pihak Guild atau pemerintah tak bisa berbuat banyak. Kami saat ini bekerja sama dengan pihak Guild untuk membuat sekolah khusus untuk petualang pemula. Dengan ini kami berharap tingkat kematian mulai berkurang. "
Setelah menjelaskan panjang lebar, Riana mendesah berat. Tetapi dia kemudian tersenyum seolah semua yang dia simpan dalam hati mulai berkurang.
Melihat itu, Charlmilia ikut tersenyum senang.
"Riana kau memang seorang putri sejati. Aku tak tahu apakah bisa menjadi seperti dirimu."
Charlmilia merasa kagum dengan pemikiran Riana yang begitu dewasa. Semua yang dia katakan adalah sebuah bukti kalau Riana benar benar peduli dengan rakyat Kekaisaran Houou.
Tidak, lebih tepatnya masa depan Kekaisaran Houou.
"Kau tak usah menjadi seperti diriku. Kau cukup menjadi diri sendiri dan memikirkan apa yang ingin kau lakukan."
"..."
"Aku melakukan ini bukan hanya karena merasa ini adalah sebuah kewajiban, namun juga karena kepuasan diri. Sama seperti yang Kuro bilang, aku menjadi sombong karena merasa memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan apapun yang aku mau. Tetapi bukan berarti aku merasa apa yang kulakukan salah."
"...Kuro-kun?"
Charlmilia tak mengerti kenapa nama Kuro muncul. Namun itu adalah bukti kalau Kuro memiliki banyak pengaruh dalam pemikiran Riana.
"Ah.. Lupakan. Dia hanya memberikan beberapa saran. Kak Charlmilia, mari kita pergi ke tempat itu. Di sana aku tahu kedai Crepe yang enak."
"...baik."
Kemudian, setelah memberi Crepe di kedai langganan Riana, mereka menikmatinya di bawah pohon yang daunnya mulai berguguran.
Dua orang putri sedang menikmati Crepe dikelilingi oleh Holy Knight. Ini menjadi pemandangan tersendiri bagi para penduduk yang kebetulan melintas atau melihat mereka.
Jalan jalan diselesaikan dengan mengunjungi panti asuhan yang berada di dekat wilayah yang mereka kunjungi. Setelah dirasa cukup, mereka memutuskan untuk mengakhiri kegiatan hari ini.
__ADS_1
Malam mulai tiba dan langit mulai gelap. Lampu lampu di jalan kota mulai hidup bersamaan dengan kehidupan malam yang baru saja dimulai.
"Bagaimana kalau kita makan malam di restoran yang aku tahu?"
"Hm? Bukankah kita sebaiknya makan di istana saja?"
Alasan Charlmilia menanyakan itu bukan hanya karena makan di istana lebih aman, namun juga karena ingin mengakrabkan diri dengan kaisar dan Victoria.
"Jika kau mengkhawatirkan ayah dan kak Victoria, mereka tak bisa makan bersama kita. Daripada makan di tempat membosankan, bukankah lebih baik makan di tempat yang ramai?"
"Tapi apakah tidak apa apa?"
"Tidak apa apa. Kau tak perlu kawatir dengan racun dalam makanan atau semacamnya. Pemilik restoran itu seorang yang tak membiarkan hal seperti itu ada dalam masakan di restorannya."
"Kau sepertinya sangat percaya dengan orang itu. Baiklah. Aku tak punya alasan untuk menolak."
Sekitar 10 menit kemudian, mereka tiba di restoran besar dan begitu unik. Kenapa? Jika dibandingkan dengan restoran umumnya, semua bangunan terbuat dari kayu. Selain itu, desain restoran juga bisa dibilang tak biasa.
"Bukankah tempat ini.."
"KakCharlmilia sudah tahu, kalau begitu aku tak perlu menjelaskan. Maklum saja, tempat ini cukup terkenal."
Restoran itu bernama Himawari. Sekilas dalam bahasa Kekaisaran Houou nama itu sama sekali tak memiliki arti yang jelas. Tetapi dijelaskan kalau nama itu berarti bunga matahari. Selain nama yang unik, namun juga bangunan yang dibuat dengan budaya yang berbeda. Sekilas, restoran itu merupakan cabang dari restoran suatu negara.
Riana dan Charlmilia tak sabar untuk makan. Salah satu Holy Knight sudah diperintahkan untuk memesan tempat sebelum mereka tiba, sayangnya keduanya mendapatkan berita yang cukup mengejutkan.
"Seluruh tempat sudah penuh?"
"Benar, putri Riana. Sebagian besar tempat sudah disewa oleh sebuah keluarga besar. Sedangkan sisanya sudah ditempati. Aku sudah menjelaskan situasi kalau Anda ingin makan di tempat ini, jadi aku sudah meminta untuk menghubungi pemiliknya sekarang."
Mendengar tindakan salah satu Holy Knight, Riana bukannya senang, namun justru marah.
"Aku sudah bilang jangan menggunakan status untuk menekan orang lain. Sudah berapa kali aku memberitahu kalian tentang hal ini? Sepertinya kalian tak pernah bisa belajar."
"Tapi Put-"
"Aku tak mau alasan. Aku sungguh malu dengan hal ini. Sebaiknya aku minta maaf dan pergi ke tempat lain."
"..."
Holy Knight menunduk karena tak bisa membantah perkataan Riana.
Riana memang sudah terkenal seperti itu, wajar jika dia marah. Tetapi Holy Knight tak ingin mengecewakan tuan mereka. Jadi dia tak bisa sepenuhnya disalahkan.
"Hm?"
Saat Charmilia masuk mengikuti Riana, dia melihat seorang pemuda yang lewat di sudut ruangan. Dia berambut putih dan mengenakan topeng yang menutupi sebagian wajahnya.
Dari bentuk tubuh dan gaya rambut, Charlmilia langsung mengingat seseorang.
"Kuro?"
"Kak Charlmilia, apa ada yang salah?"
"Tidak. Bukan apa apa."
Kemungkinan Kuro berada di tempat seperti itu ada. Namun tak mungkin Kuro sendirian dan memakai topeng. Kecuali Kuro menjadi Shiro lagi.
Kemudian mereka menuju tempat resepsionis. Keduanya berniat meminta maaf atas perbuatan yang dilakukan Holy Knight.
Tetapi-
"Maafkan kami karena tak memiliki tempat untuk Anda, putri Riana-. Tetapi jangan kawatir. Saat ini kebetulan pemilik tempat ini sedang berada di sini. Kami sedang mencoba mengusahakannya."
"Honda ada di sini?"
"Tidak. Honda- hanyalah orang yang mengurus tempat ini. Sedangkan pemilik asli tempat ini adalah orang lain."
"Ini baru pertama kalinya aku mendengar hal ini."
Riana terlihat kesal. Ini wajar karena dia terlihat seperti orang yang dibohongi.
Charlmilia hanya tersenyum kecut.
Tak berapa lama menunggu, suara langkah kaki terdengar. Keduanya menoleh ke arah suara dan tak bisa menahan diri untuk tak terkejut.
"Maaf, tetapi aku sudah menyewa tempat ini. Tapi mengingat siapa kalian berdua, aku pikir tak apa apa membiarkan kalian menempati beberapa ruangan."
Hanya ada satu orang yang bisa berbicara tak sopan pada putri kaisar.
"Kuro?"
"Kenapa kau?"
"Tentu saja, aku adalah pemilik tempat ini."
Untuk alasan tertentu, mereka merasakan deja vu. Tetapi mengingat siapa Kuro, ini sangat wajar?
Riana mendesah dalam dan terlihat menahan sesuatu yang berat.
"Pemilik tempat ini huh? Tak heran jika kau bisa menyewa seluruh tempat ini."
"Begitulah. Aku tak ingin ada yang mengganggu acara keluarga besar kami."
"Keluarga besar?"
"Ah.. Kau tahu, kami saat ini sedang mencoba menghibur Anak Elang yang putus cinta. Sayangnya aku pikir tak berjalan sesuai harapan kami."
Kuro memasang wajah rumit.
"Apa ada masalah?"
"Tidak juga. Hm? Ngomong ngomong, daripada kalian makan di tempat yang berbeda, kenapa tak bergabung dengan kami?"
"Tidak. Kami tak ingin mengganggu acara keluarga kalian."
Ketika menyebut keluarga, Riana dan Charlmilia paham kalau saat ini Kuro ingin menghabiskan waktu dengan Laila dan anak anak mereka.
"Tidak apa apa. Lagipula kakak kalian juga bergabung dengan kami. Bertambah satu atau dua orang lagi bukan masalah."
""Huh?""
Kemudian, setelah pergi menuju tempat yang digunakan Kuro.
"Ayolah, Arthur. Kau mungkin kalah dari pertarungan, tetapi aku tahu kau tak mungkin lemah dalam hal ini."
"Tch! Akan aku tunjukan kalau aku akan menang. Lagipula ini bukanlah permainan yang membutuhkan kekuatan monstermu."
"Kalau begitu jangan kalah."
Victoria sedang bertanding catur dengan Arthuria. Saat ini Victoria lebih unggul.
"Riku, jangan tidur. Ayo main sama kakek.."
"Dia baru berusia 1 tahun. Jangan ganggu dia. Kenapa kau tak main dengan Lic?"
"Dia sedang berada di ruangan lain bersama Clara. Aku pikir tak baik mengganggu mereka."
"Jika kau bisa berpikir seperti itu, jangan mengganggu cucumu."
"Lia.. Ini tak adil."
Leon dan Lia saling berebut cucu mereka. Sedangkan Lic dan Clara tak terlihat.
"Jadi seperti itu. Untuk menggunakan api biru, aku bisa menambah oksigen dalam apiku. Tapi bagaimana melakukannya?"
"Itu suatu yang harus kau temukan sendiri. Ini termasuk curang karena memberitahumu sebuah petunjuk."
"Iya iya. Tetapi jika mengingat apa yang aku pelajari dari Solaris, aku merasa apa yang dia ajarkan tak begitu berguna."
"Kau hanya belajar menggunakan kekuatan unik pedangmu. Aku pikir itu tidak percuma."
Laila dan Scarlet sedang berdiskusi membicarakan Magic Art. Meskipun umur keduanya berbeda jauh, namun keduanya terlihat seperti ibu ibu yang menggosip di siang hari.
"Ah.. Kuro, kau kembali? Sepertinya kau membawa Riana dan Charlmilia untuk bergabung dengan kita."
"Apa kau keberatan?"
"Tidak. Lagipula kita tak mungkin menolak permintaan para tuan putri, benarkan?"
"..."
"..."
Meskipun tak menolak, namun ucapan Laila sudah menunjukan kalau keduanya adalah pengganggu.
__ADS_1