Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Duel


__ADS_3

Seseorang pernah berkata, 'hidup kadang tak bisa ditebak, tapi itulah yang membuat hidup memiliki arti'.


Riku sendiri tak begitu setuju karena baginya, jalan kehidupan yang tak bisa ditebak hanya membuat hidup lebih menarik, bukan membuat memiliki arti.


Tapi apakah sesuatu yang tak bisa ditebak itu harus terjadi setiap saat?


Sepertinya ada yang senang kalau Riku menjalani hidup tanpa bisa ditebak.


"Tapi apa maksudmu dengan ada hubungannya denganku?"


"Ya. Apa maksudnya?" Tambah Helen yang merasa aneh dengan penjelasan Melisa.


Melisa membuat wajah rumit, lalu dia mendesah dalam.


"Bukan rahasia lagi kalau Riku memiliki hubungan dengan Lunaris."


Saat mengatakan itu, niat membunuh terasa dari para murid. Terutama dari kelas Riku.


Riku tersenyum kecut karena niat membunuh itu sama sekali tak disembunyikan. Mungkin ini alasan kenapa hanya tiga orang saja yang dekat dengannya?


"Tadi pagi Lunaris datang ke kantor memberikan saran 'bagaimana kalau lawan duel latihan kali ini adalah kelas S?' Sebenarnya aku ingin menolak, tapi karena menarik, jadi aku terima."


"Jadi itu salahmu?"


"Jangan melempar kesalahan pada orang lain."


" Ya ya... Meskipun aku ingin membunuh kepa*at karena dekat dengan nona Lunaris, tapi kali ini dia tak salah. Kenapa kau selalu membuat kami dalam masalah?"


Para murid langsung protes. Meskipun ada beberapa hal yang sebaiknya tak perlu diutarakan.


"Diam!!!"


Kelas membisu.


"Aku beritahu, meskipun peringkat S sangat jarang, tapi bukan berarti mereka tak ada. Mungkin lebih banyak daripada yang kalian duga. Bertarung melawan peringkat A saja hanya akan membuat kalian menjadi tumpul."


Perkataan Melisa ada benarnya, jadi tak ada yang membantah.


"Tapi aku harus akui, penyihir peringkat S memang spesial. Jika kalian berhadapan satu lawan satu, aku pastikan kalian menjadi debu dalam beberapa menit. Maaf, beberapa detik."


Bisakah berhenti membuat lelucon yang berbahaya?


"Karena itulah, dalam duel kali ini, kelas kita akan membuat tim. Tiga orang dari kalian akan berhadapan dengan salah satu murid peringkat S. Dengan itu setidaknya kalian akan lebih lama bertahan."


Mendengar itu para murid menjadi senang.


Dari sudut pandang orang lain mungkin ini terdengar tak adil, tapi itulah perbedaan antara peringkat S dengan peringkat B. Bahkan meskipun membuat tim, belum tentu itu membuat kedua belah pihak setara.


"Baiklah, kalian buatlah tim. Usahakan membuat tim dengan keseimbangan yang baik."


Beberapa menit kemudian, tim dari kelas 1-B terbentuk. Hanya saja ada satu murid yang tampaknya tak mendapatkan satu pun tim.


Siapa lagi kalau murid itu bukan Riku.


(Aku tahu ada hal aneh dalam latih tanding kali ini, tapi ini keterlaluan...)


Riku mendesah. Dia tahu kalau jumlah murid di kelas sedikit menyimpang jika dibuat tim yang terdiri dari tiga orang, tapi tampaknya tim memang sudah terbentuk sejak awal.


Bagi dirinya yang murid pindahan, mana mungkin langsung mendapatkan anggota tim. Terutama dari kelas yang membencinya.


(Aku ingin pulang)


Riku ingin kabur, tapi seperti biasa, itu mustahil.


Kemudian, duel latihan dimulai. Berbeda dengan kelas biasa, kelas S hanya terdiri dari 20 murid per kelas. Jumlah itu sangat sedikit jika dibandingkan dengan kelas biasa yang bisa mencapai 100 murid per kelas.


Tak aneh dalam duel kali ini para murid kelas S tak hanya terdiri dari kelas 1, tapi juga terdiri dari kelas 2 dan 3. Itu juga menjelaskan kenapa ada Aura, Saria dan Lunaris.


Sejak pertarungan pertama, bisa terlihat jelas kalau perbedaan kekuatan antara penyihir peringkat S dan peringkat B. Bahkan seringkali tekanan sihir yang dikeluarkan oleh satu peringkat S mengungguli tiga peringkat B.


Tak hanya dari tekanan sihir, dari teknik senjata, kekuatan sihir, pengendalian arm dan beast, murid kelas S mengungguli semua hal itu dari kelas B. Hasil duel bisa ditebak dengan mudah, dari 10 duel, tak ada satupun kelas B yang menang.


"Bagaimana menurutmu?"


Helen mendekat dan bertanya pada Riku yang sedang mengamati duel.


Kelas S adalah pemuda berkacamata yang memiliki kesan seorang kutu buku, tapi kesan itu akan langsung tergantikan oleh beast yang dia miliki. Seekor serigala emas sebesar 5 meter.


Tak hanya itu, pemuda itu juga menggunakan senjata menyerupai cakar.


Pihak kelas B sendiri terdiri dari dua User dan seorang Contractor dengan arm berupa pedang dan panah. Untuk beast berwujud ular sepanjang 3 meter. Kecil untuk ukuran beast, tapi memiliki serangan racun yang cukup mematikan.


"Posisi tim kelas B sebenarnya tak seburuk kelihatannya. Beast itu terlihat kuat dan mengancam, tapi sebenarnya kekuatan terbesarnya ada pada kelincahan, jika bisa menahan gerakan atau mengalihkan perhatian, para murid kelas B bisa menyerang."


"Tapi bukankah dia memiliki teknik yang luar biasa. Aku bisa melihat kalau teknik dia tidaklah setengah setengah."

__ADS_1


Di mata orang lain teknik murid kelas S itu sudah luar biasa, tapi di mata Riku terlihat biasa saja.


"Memang, tapi dia memiliki kelemahan besar. Senjata itu memiliki jangkauan terbatas. Pihak kita yang memiliki pemanah akan diunggulkan."


Bukan Riku saja yang menyadari hal ini, tapi juga tim kelas B. Mereka memanfaatkan celah dengan sempurna dan menyerang dengan panah dari titik buta.


Sayangnya, serangan itu berhasil ditahan dengan beast. Tak hanya digunakan untuk menyerang, beast juga bisa digunakan menjadi perisai daging, itulah salah satu keunggulan Contractor.


"Jika tak bisa mengatasi beast terlebih dahulu, kelas kita tak akan bisa menyerang. Ini cukup sulit. Kalah lagi kah. Murid kelas S memang monster."


Seiring berjalannya waktu, duel memasuki tahap akhir dan menunjukkan pemenangnya. Sekali lagi kelas S.


Para murid kelas 1-B yang awalnya percaya sanggup melawan balik, kini mulai terlihat putus asa. Moral mereka semakin menurun akibat kekalahan telak.


(Tim 3 orang peringkat B adalah susunan yang biasa dalam Knight saat menghadapi penyihir peringkat S. Jadi sebenarnya bukan mustahil kami menang)


Tapi kenapa masih kalah telak?


Kekalahan ini membuat Riku bingung. Apa yang membedakan kedua belah pihak hingga sejauh ini selain peringkat?


Saat mengamati dua belah pihak, Riku akhirnya sadar satu hal. Sejak awal teman sekelasnya tak ada niat untuk menang. Bagi mereka kalah dari penyihir peringkat S adalah suatu yang biasa. Tak ada yang perlu malu dengan hal ini.


Menyadari hal ini Riku merasa jengkel.


"Baiklah, siapa yang akan maju selanjutnya?"


Melisa memberi tanda pada tim selanjutnya untuk siap duel. Saat tim selanjutnya bersiap maju, mereka semua berhenti karena di arena sudah ada sosok yang mendahului mereka.


"Si bodoh itu. Apa yang dia lakukan?"


Guy tak menyangka Riku akan mendahului tim dari kelas. Banyak yang tak menyukai Riku karena hubungannya dengan Lunaris, tapi bertarung melawan penyihir peringkat S sendirian adalah tindakan ceroboh. Dan bodoh.


Guy mencoba ikut ke arena karena tak ingin Riku bertarung sendirian, tapi Helen menghentikannya.


"Kenapa kau menghalangiku?"


"Ini adalah kesempatan yang bagus untuk melihat kemampuan Riku. Jika Riku adalah orang yang kita kira, dia tidaklah lemah."


"Apa kau masih berpikir kalau Riku adalah orang itu?"


Orang itu. Orang yang dikenal sebagai jenius sejak kecil dan juga merupakan tunangan dari Lunaris.


Mengingat kedekatan Riku dengan Lunaris, sosok Riku tak diragukan lagi adalah orang itu, tapi ada kemungkinan kalau dia bukan.


Saat keduanya sedang ribut memutuskan, Melisa mengkonfirmasi pada Riku tentang keputusannya. Dia bahkan memberikan kesempatan untuk menunggu teman sekelas yang bergabung dengannya untuk melawan kelas S.


"Tidak masalah. Aku bisa menghadapinya sendiri. Lagipula duel akan cepat berakhir."


Riku mengatakan itu dengan senyuman. Meskipun begitu, dia tak melepaskan matanya dari lawannya. Seorang pemuda berambut merah dengan mata yang menyerupai api berkobar.


"Sial. Aku tahu dia berada di kelas S, tapi aku tak menyangka dia akan melawan Riku."


Sosok lawan Riku cukup terkenal di sekolah. Tak hanya karena dia memiliki peringkat S, tapi juga memiliki peringkat tinggi di sekolah. Dia juga memiliki latar belakang yang tak kalah luar biasa.


Di mata orang lain, lawan Riku kali ini tak diragukan lagi seorang tokoh utama dalam cerita.


"Amarios!!!"


Pemuda itu memanggil arm berwujud pedang besar dengan api yang berkobar hebat. Panas terasa hingga ke luar arena . Bersamaan dengan itu, tekanan sihir pemuda itu menjadi begitu kuat dan berat.


Semua itu adalah bukti kalau di antara murid kelas S, dia adalah sosok yang spesial.


Anehnya tatapan mata pemuda itu penuh dengan permusuhan seolah ingin mencincang Riku menjadi ribuan bagian.


(Aku tak pernah bertemu dengannya. Jadi tak mungkin aku memiliki masalah dengannya, ... kecuali...)


Melirik Lunaris yang tersenyum penuh kebahagiaan, tebakannya sepertinya benar.


(Sungguh, cinta memang membuat orang buta. Tapi malaikat yang menggoda lebih banyak membuat orang buta)


Jika orang lain tahu apa yang sudah dia perbuat dengan Lunaris, apa ada yang membiarkannya hidup?


Jangankan pemuda itu, dia tak akan bersekolah lagi jika ada yang tahu apa yang sudah dia perbuat dengan Lunaris.


"Kedua pihak bersiap!"


Melisa memberi aba aba. Lawan Riku sudah sejak tadi bersiap setelah memanggil arm miliknya. Sedangkan Riku masih terlihat santai dengan pedang yang masih tersarung.


Melihat situasi ini, pasti banyak yang berpikir kalau Riku akan menarik pedangnya saat duel dimulai, tapi Riku tak akan melakukan itu.


Hanya tiga orang murid kelas S yang tahu akan hal ini.


"Mulai!!"


Lawan Riku bersiap melesat ke arah Riku dengan tebasan besar penuh dengan kekuatan penghancur, tapi sosok Riku tiba tiba menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


Sesaat kemudian, dia merasakan sesuatu menyentuh lehernya. Itu adalah ujung sarung pedang Riku.


"Menyerahlah, kau sudah mati dalam pertarungan ini."


"..."


Tak hanya lawan Riku, tapi seluruh murid di tempat itu terdiam mematung karena tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Jangan bercanda!! Siapa yang sudah mati!!"


Lawan Riku tak mau mengakui kekalahannya dan kembali menyerang, tapi sama seperti sebelumnya, tiba tiba lehernya sudah dihunus oleh ujung sarung pedang Riku.


"Kematian yang kedua!!"


"Tch!!!"


Sekali lagi lawan Riku tak mau mengakui kekalahannya dan menyerang Riku.


"Mana mungkin aku kalah dari peringkat B sepertimu!! Flame Blaze!!"


Badai api keluar dari pedang lawan Riku dan menelan sosok Riku sepenuhnya. Lawan Riku mengira sudah menang, tapi sama seperti sebelumnya sebuah ujung sarung pedang kembali berada di leher.


"Terus terang, jika aku serius, mungkin akhir duel ini akan lebih menyakitkan."


"Kuh!!! Aku kalah...!!"


Meskipun terlihat tak terima dengan kekalahannya, tapi pemuda itu menyerah. Dia mengerti, jika dia bersikeras tetap melawan Riku, itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.


Kalah dari peringkat B memang buruk, tapi tak ada yang lebih buruk selain dikira sebagai seorang pecundang yang tak mau kalah.


"Pemenangnya Riku."


Melisa masih terlihat bersikap tenang, tapi keterkejutan tak bisa dia sembunyikan dari matanya.


Apa yang dilakukan Riku tak lebih dari bergerak dengan cepat. Tapi bukan cepat secara sembarangan. Ada teknik khusus yang digunakan dan teknik itu khusus untuk para pembunuh yang sudah terlatih.


"Apa ada yang mau melawanku?"


Para murid kelas S terlihat ragu. Bagaimanapun juga apa yang baru saja mereka lihat melebihi batas perkiraan. Mengingat begitu mudahnya Riku mengalahkan pemuda tadi, bagaimana dengan mereka?


Tiba tiba seorag pemuda melompat ke arena hingga membuat lantai hancur. Berbeda dengan pemuda sebelumnya, pemuda itu memiliki tubuh yang kekar. Setiap otot di tubuhnya begitu menonjol menunjukkan kekuatan besar. Selain itu, aura yang keluar dari pemuda itu begitu kuat dan menekan.


"Namaku Romeo Yujineto. Sebagai murid kelas 3 aku baru pertama kalinya melihat seorang yang bisa menggunakan teknik Langkah Kilat dengan mudahnya."


"Terima kasih atas pujiannya. Teknik Langkah Kilat bukanlah teknik yang sulit, jadi aku rasa itu bukan suatu yang harus dilebihkan."


Romeo tersenyum lebar. Dia lalu tertawa puas.


"Haha.. aku tahu kau berusaha untuk tak mencolok, tapi itu percuma. Dalam waktu dekat pasti seluruh sekolah akan tahu kau berhasil mengalahkan Gon dengan tanpa usaha. Percuma saja ingin menyembunyikan kekuatanmu."


Jadi namanya adalah Gon. Riku sepertinya pernah mendengar itu dari Helen.


(Ah.... Aku ingat. Kalau tak salah Gon adalah peringkat ke 5 di sekolah)


Helen memberitahukan nama nama yang harus dia hindari (waspadai) di sekolah karena tak ingin ada masalah dengan mereka. Para pemilik peringkat tinggi tak hanya memiliki kekuatan di atas rata rata para murid, tapi juga memiliki latar belakang yang tak bisa diremehkan.


Bagi para murid peringkat B, sudah menjadi suatu hal yang wajar jika mustahil mengalahkan mereka, apalagi ingin membuat masalah.


Kesimpulannya, mau tidak mau, Riku harus mengakui kalau dia telah melakukan sesuatu yang dianggap mustahil oleh sebagian besar orang.


(Lupakan. Mustahil mundur sekarang)


Riku menggelengkan kepala. Dia mulai fokus dengan sosok yang akan menjadi lawannya.


Romeo Yujineto murid dengan peringkat nomor 7. Meskipun lebih rendah daripada Gon, bukan berarti Romeo lebih lemah. Bahkan jika diadu, Romeo akan dengan mudah mengalahkan Gon.


Tetapi karena peringkat tak hanya ditentukan oleh kekuatan, maka tak aneh jika dia lebih rendah.


"Sepertinya memang seperti itu. Jadi apakah tujuanmu untuk membalas dendam?"


"Jangan perlakukan dia seolah sudah mati. Memang jika dalam pertarungan nyata, dia pasti sudah mati."


"Hey aku bisa mendengar kalian. Jangan remehkan aku!!!"


Keduanya mengabaikan protes Gon dari pinggir arena.


"Aku hanya ingin duel denganmu, apa itu tidak cukup?"


"Tidak. Lagipula kita berdiri di arena ini memang untuk berduel. Jadi... Bisa kita mulai saja?"


"Aku senang kau mengerti!!"


Mengetahui kedua petarung telah siap, Melisa memulai memberikan aba aba.


"Kedua pihak bersiap, ...mulai!!"

__ADS_1


__ADS_2