Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
First Mission


__ADS_3

Keesokan harinya, kabar tentang duel Riku yang sanggup mengalahkan Gon dan Romeo menyebar luas di Flame Academy. Kabar ini tentu saja mengejutkan. Riku yang awalnya dikenal sebagai seorang yang dekat dengan Lunaris dan penyihir peringkat B ternyata sanggup mengalahkan penyihir peringkat S. Meskipun bukan pertarungan hidup dan mati, hasil itu sudah membuat banyak yang menyadari kalau dia bukanlah orang biasa.


Bersamaan dengan itu, identitas Riku yang sebenarnya juga menyebar. Seorang dari keluarga Kagami dan juga tunangan Lunaris. Ini menjelaskan kenapa hubungan mereka begitu dekat.


Tetapi di saat yang sama ini menimbulkan pertanyaan lain. Seberapa dekat dan sejauh mana hubungan mereka?


Ini bukan suatu yang sulit ditebak mengingat ayahnya bahkan sudah memiliki beberapa anak dan 5 istri di usia sekolah.


Hal positif dari kabar itu adalah banyak pihak yang semula ingin memberikan pelajaran pada Riku, mereka memilih untuk mundur. Bukan karena takut pada kekuatan Riku, tapi pada latar keluarganya.


Keluarga Kagami terlalu terkenal.


Terkenal karena baik pada kawan, tapi kejam pada lawan. Selain itu karena dua orang putri kekaisaran berada di keluarga Kagami, menjadikan keluarga Kagami sama saja dengan membuat masalah dengan keluarga kekaisaran.


Melihat semua hal itu, bukankah tak ada satupun kelemahan Riku?


Ini masih menjadi rahasia, tapi banyak para gadis yang mulai mengadu keberuntungannya dengan berusaha mendekati Riku. Tentu saja siapapun yang memiliki niat ini harus siap dengan berhadapan dengan Lunaris terlebih dahulu.


"Yang menjadi pertanyaan, kenapa kau masih saja di kelas B?" tanya Guy yang mendatangi Riku setelah duduk di bangku sekolah dengan begitu santainya.


"Apa?"


Riku memasang wajah bingung. Baginya ini normal mengingat dia masih murid kelas B.


"Kau sama sekali tak pernah berpikir huh, Guy."


Helen ikut mendekat. Dari semuanya, hanya Helen dan Guy saja yang masih bertingkah seperti biasa padanya.


Untuk murid lain, bahkan Milia, Riku merasakan ada jarak yang membuat canggung.


"Apa maksudmu? Jangan selalu menghinaku!!"


"Haa.. kau tak pernah berpikir, karena itulah tak tahu kalau Riku berhasil menang bukan karena dia seorang penyihir peringkat S, tapi karena teknik yang dia gunakan. Bukankah seperti itu?"


Riku mengangguk membenarkan.


Kekuatan yang dia gunakan untuk melawan Romeo dan Gon tak lebih dari teknik, bukan kekuatannya sebagai penyihir peringkat B.


Tentu saja akan lebih baik jika orang berpikir seperti itu.


Pada kenyataannya, teknik yang dia gunakan adalah teknik untuk melepaskan kekuatan aslinya yang tersegel karena terlalu besar.


Kekuatan Riku memiliki 6 tahap pelepasan. Perjalanan yang dia lakukan selama 3 tahun adalah unuk menguasai kekuatannya itu. Tetapi selama itu dia hanya berhasil menguasai 3 tahap saja.


Salah besar jika berpikir satu tahun adalah waktu yang digunakan untuk menguasai satu tahapan. Bahkan pada kenyataannya Riku menghabiskan 2 tahun untuk menguasai tahap pertama. Untuk tahap kedua sendiri bisa dibilang semacam kebetulan. Dan tahap yang ketiga dia hanya bisa mengendalikannya dalam waktu terbatas.


Sebenarnya Riku ingin lebih lama lagi melakukan perjalanan, tapi karena sebuah surat, dia berada dalam situasi sekarang.


"Daripada membahas aku, Aku lebih penasaran kenapa bu Melisa belum datang juga? Ini sudah lewat jam masuk pelajaran."


"Jangan bilang kau tak membaca pesan di handphone?"


Setelah pulang sekolah Riku mendapatkan hadiah spesial dari Lunaris setelah tindakannya dalam duel. Jangankan membuka pesan handphone, dia bahkan hampir lupa makan malam karena menyantap hal lain yang lebih nikmat.


Tanpa banyak waktu lagi, Riku langsung membuka pesan di handphonenya.


...[Mulai besok, kelas akan kosong selama satu minggu. Gunakan untuk belajar sendiri atau menjalankan misi. Satu minggu lagi aku akan melihat hasil kalian, jadi jangan mencoba ada yang bermalas-malasan]...


"Apa apaan ini?"


Berbeda dengan Riku, Helen dan Guy tak begitu terkejut.


"Sekolah sihir memang mengajarkan tentang sihir, tapi tetap saja para murid memiliki kekuatan dan keahlian yang berbeda. Mustahil menerapkan sebuah standar yang sama. Karena itulah diberlakukan sebuah sistem poin."


"Dan itu adalah sistem poin kontribusi?"


Riku melirik ke nilai poin yang masih angka nol pada handphonenya.


"Tentu saja ini bukan sistem yang sempurna, tapi dengan ini setidaknya pada murid melakukan apapun yang mereka bisa dengan kekuatan dan keahlian yang mereka miliki."


Riku mengingat kembali pertemuannya dengan Lori dan Resla yang tetap melaksanakan misi pemusnahan meskipun itu di luar batas mereka.


"Sebentar lagi mungkin lainnya akan pergi ke Aula Misi untuk mendapatkan misi. Sebagai murid baru mungkin poin kontribusi tak begitu berpengaruh, tapi tak ada salahnya mendapatkan poin dari sekarang." tambah Helen.


"Mungkinkah kalian akan pergi ke Aula Misi?"


Helen mengangguk.


"Kami bertiga berada dalam satu tim untuk menjalankan misi. Kau bisa bergabung jika mau."


"Benar. Dengan kekuatanmu yang melebihi peringkat S, menyelesaikan misi akan mudah."


Seperti biasa Guy begitu bersemangat.


"Bagaimana kalau aku melihat lihat dulu. Tergantung misinya, mungkin kita akan bertarung. Jujur saja itu akan sulit bagi kita." jawab Riku dengan tawa kecil.


"Kenapa?"


Plak!!


"Kenapa kau memukulku sialan!!"


"Aku melakukannya agar berharap kebodohanmu sedikit berkurang. Lupakan, sebaiknya kita segera ke Aula Misi. Jika terlalu lama mungkin kita tak akan dapat misi yang cocok."


Helen pergi dengan wajah kesal. Guy mengikuti tanpa begitu peduli dengan apa yang terjadi padanya karena dia sudah terbiasa. Milia juga ikut menyusul dengan sedikit canggung saat melihat Riku.


Perlahan, Riku bangkit dan mengikuti mereka bertiga dari belakang.


Saat melihat ketiganya begitu akrab dan saling percaya satu sama lain, ada rasa iri dalam hati Riku. Jika dia lebih terbuka dan mudah percaya pada orang lain, mungkin dia akan memiliki teman seperti mereka.


Gedung Aula Misi tak jauh dari gedung utama sekolah, hanya butuh beberapa menit untuk sampai. Riku awalnya berpikir kalau Aula Misi mirip guild Worker, tapi dia tak menyangka Aula Misi lebih luar biasa. Luar biasa dalam artian penuh dengan teknologi sihir.


Layar sihir utama menampilkan berbagai macam misi dengan jumlah mencapai ratusan dan terus berubah seiring waktu. Diambil oleh murid atau tidak. Tingkat kesulitannya dan juga penjelasan singkat mengenai misi.


Resepsionis sekilas terlihat sebagai seorang wanita cantik yang begitu umum ditemui di guild Worker, tapi melihat dengan teliti, mereka adalah automata yang dibuat begitu mirip dengan manusia.


Lalu selain mereka berempat, ada sekitar 500an murid yang juga ingin menjalankan misi. Mengingat luas bangunan dari luar, seharusnya itu mustahil.


(Sihir memang bisa melakukan segalanya)


Riku tak begitu bodoh untuk tahu alasan kenapa bangunan yang tak begitu besar bisa menampung banyak orang.


Teknologi sihir dalam pengendalian luas ruang sebenarnya sudah lama diterapkan dalam berbagai fasilitas umum, jadi ini bukanlah sebuah teknologi baru yang mengejutkan. Hanya saja, 3 tahun yang lalu tak bisa sampai seluas ini, itulah yang membuat Riku terkejut.

__ADS_1


"Untuk kelas B, kita bisa mengambil misi di bagian sana."


Helen menunjuk salah satu sudut yang khusus untuk para murid kelas B atau penyihir peringkat B.


Misi juga dikategorikan dalam berbagai tingkat kesulitan. Dan setelah itu misi akan diberikan pada murid yang memiliki kekuatan setara dengan tingkat kesulitannya.


Tentu saja ini bukan berarti membuat murid tak bisa mengambil misi yang lebih sulit, hanya saja ini jarang terjadi mengingat faktor keamanan.


Keempatnya lalu melihat lihat layar untuk menemukan misi yang cocok untuk mereka. Karena sudah dikategorikan dalam berbagai bagian, maka mudah mencari misi yang diinginkan.


10 menit kemudian mereka kembali berkumpul untuk memutuskan misi apa yang sebaiknya mereka ambil.


"Aku menemukan misi pemusnahan Blue Wolf di hutan Arizon. Ini misi yang cocok untuk kita."


Helen dan dua lainnya melihat detail misi yang dibawa Guy.


Misi pemusnahan serigala yang mengganggu rute perjalanan. Karena Blue Wolf bukan monster yang sulit dikalahkan, sebenarnya bukan masalah untuk mereka.


"Ditolak. Misi itu terlalu jauh. Setidaknya kita harus mengambil misi yang tak butuh waktu lama penyelesaiannya."


Ini karena bu Melisa hanya memberikan waktu satu minggu. Lebih dari itu, sama saja dengan membuat masalah.


Dulu ada murid yang pernah mengambil misi melebihi waktu yang ditentukan, dan murid itu mengalami suatu yang lebih baik tak dibahas.


Helen mengingat betul hal ini, tapi Guy mana mungkin memikirkannya.


Milia lalu menunjukkan misi yang ingin dia ambil. Sebuah misi yang terlihat mudah, yaitu misi menjaga hewan ternak di peternakan.


Helen dan Guy tahu kalau Milia pecinta binatang, jadi misi ini memang begitu cocok dengannya.


"Aku tak akan keberatan jika harus menjaga domba biasa, tapi tidak dengan Bolt Sheep. Dulu aku pernah mengambil misi itu, hasilnya membuatku dirawat selama 4 hari." jawab Guy


Bolt Sheep sebenarnya adalah monster jenis domba yang bisa menyerang menggunakan sihir petir. Karena sifatnya sama seperti domba biasa, jadi tak begitu sulit menjadikan mereka binatang peternakan.


Yang menjadi masalah, Bolt Sheep cukup sensitif pada orang asing. Dan jika tak akrab, mereka akan menyerang.


Mengingat sifat Guy, Bolt Sheep menyerang dirinya bukanlah suatu yang aneh. Yang menjdi masalah, jika mereka menerima misi itu, bukankah itu akan mengundang bencana pada mereka?


"Jika tak ada pembuat ulah di antara kita, aku akan dengan senang hati menerimanya."


Milia hanya terdiam, tapi matanya terlihat begitu sedih. Tak ada yang tahu apakah karena idenya ditolak, atau karena tak bisa merawat domba.


"Lalu bagaimana dengan dirimu. Setidaknya kau menemukan misi yang cocok untuk kita."


"Tentu saja, kau pikir siapa diriku."


Helen menunjukkan misi yang ingin dia ambil. Sebuah misi untuk menjadi bala bantuan Knight dalam sebuah misi penyelidikan.


Misi Knight tak disebutkan, tapi mengingat misi untuk peringkat B, ini bukan misi yang sulit.


"Entah mengapa mencurigakan."


"Aku tak ingin mendengarnya darimu. Setidaknya misi yang aku ambil lebih masuk akal."


"Aku pikir misi yang aku sarankan masuk akal juga. Tch!! Riku, katakan padanya."


"Hm?"


Kenapa dia terlihat dengan argumen mereka berdua?


"Aku hanya menemukan misi yang aku anggap menarik, jadi tak masalah jika tak mau."


Riku lalu menunjukkan detail misi yang dia temukan. Saat melihat detail, mata ketiga lainnya langsung melebar karena terkejut.


""Ini dia!!!""


Entah mengapa, hanya pada saat seperti ini Guy dan Helen bisa sangat kompak. Riku sendiri hanya bisa tersenyum kecut, sedangkan Milia matanya berbinar binar.


Misi : Pengawalan


Syarat dan detail : Murid peringkat B dengan jumlah maksimal 5 dibutuhkan untuk mengawal seseorang ke kota Panese dengan kapal udara. Untuk lebih detail hubungi kontak dalam misi.


Kota Panese berada cukup jauh dan membutuhkan waktu 2 hari perjalanan dengan kapal udara. Pengawalan dibutuhkan karena jalur melewati beberapa hutan dan pegunungan yang dihuni oleh monster ganas.


Meskipun begitu, monster yang ada di jalur didominasi oleh monster darat dan juga tak terlalu kuat. Karena itulah tak aneh jika hanya butuh peringkat B untuk misi ini.


Alasan lain kenapa misi ini langsung saja diterima adalah kota Panese dikenal sebagai kota wisata yang mempesona. Daripada misi, ini lebih mirip perjalanan wisata.


Mereka langsung mendaftarkan misi yang mereka ambil pada automata. Handphone digunakan sebagai tanda pengenal dan juga tanda penerima misi.


Handphone sekolah digunakan dalam semua hal. Riku sekarang mengerti artinya.


Selesai mendaftar, mereka mendapatkan kontak pemberi misi. Helen sebagai ketua tim menghubungi pemberi untuk meminta detail misi lebih lanjut.


"Kita bisa bertemu dengan klien sekarang jika mau. Ada yang keberatan?"


Tak ada yang menolak.


Mereka berempat lalu ke luar sekolah dan pergi ke suatu tempat yang tak begitu jauh dari sekolah. 20 menit berjalan kaki, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Sebuah restoran mewah.


(Sepertinya klien kali ini orang yang berpengaruh)


Riku sudah terbiasa bertemu dengan orang orang berpengaruh. Sebagai seorang yang sering menjalankan misi, seharusnya mereka bertiga juga sudah terbiasa. Setidaknya itu yang Riku pikirkan.


Sayangnya, hanya Helen saja yang bersikap tenang. Guy dan Milia terlihat gugup.


"Ayo."


Mereka masuk. Saat tiba, mereka langsung disambut oleh pelayan yang sepertinya sudah menantikan kehadiran keempatnya.


Mereka lalu dibawa ke tempat yang khusus melayani tamu VIP. Ini membuat semakin gugup.


Sampai di ruangan, mereka menemukan seorang pria tua duduk dengan menikmati secangkir teh. Ada anak kecilĀ  berambut biru duduk berseberangan dengannya menikmati makanan dengan begitu nikmat. Selain itu, ada seorang maid wanita yang berdiri terdiam.


"Tuan Sebas, para tamu anda sudah tiba."


Pria bernama Sebas hanya terdiam dan melirik tajam ke arah mereka berempat. Di saat itulah mereka semua merasakan tekanan besar seperti sebuah gelombang yang menyapu mereka.


Helen, Guy dan Milia berkeringat dingin dan tak bisa bergerak menghadapi tekanan itu. Hanya Riku saja yang masih begitu tenang tanpa terpengaruh.


(Peringkat Master. Aku tak percaya dia klien kami)


Dan tak hanya itu, pria itu ke lebih kuat daripada yang terlihat. Tekanan itu hanya diarahkan pada mereka berempat. Pelayan restoran yang menyambut mereka sama sekali tak terpengaruh meskipun berada di dekat mereka. Itu membuktikan kalau pria itu tak hanya kuat, tapi juga memiliki kendali yang luar biasa.

__ADS_1


"Ho..."


Pria itu tersenyum kecil saat melihat reaksi Riku. Dan sama seperti dirinya, tampaknya Riku juga menganalisa dirinya.


"Terima kasih."


Pelayan menunduk memberi hormat dan setelah itu pergi.


Di saat yang sama tekanan pria tua itu menghilang seolah tak pernah ada sebelumnya. Helen dan lainnya menghela nafas lega karena semuanya sudah berakhir. Tapi satu hal yang mereka sadari, klien kali ini lebih kuat daripada yang mereka kira.


"Maaf karena mengetes kalian. Aku hanya sedikit penasaran."


Pria itu tersenyum penuh keramahan.


"Silahkan duduk. Aku akan menjelaskan detail misi yang kalian ambil."


Tempat itu cukup luas, jadi keempatnya duduk di tempat yang kosong.


"Sebelum itu, perkenalkan. Namaku Sebas. Kepala pelayan dari keluarga Azure. Dia adalah tuan muda, Adam Selias Azure dan maid pribadi tuan muda, Ana."


Ana mengangguk kecil memberi tanda perkenalan, tapi Adam masih saja fokus dengan makanannya. Terlihat tak sopan, tapi semua memaklumi tindakan anak kurang dari 10 tahun itu.


Selain itu, ada semacam sihir yang digunakan di antara mereka dan anak kecil itu. Sebuah sihir senyap suara yang bisa digunakan saat membicarakan suatu yang penting.


(Azure huh...)


Riku mengenal keluarga Azure merupakan salah satu keluarga berpengaruh di kekaisaran. Tetapi mereka berpengaruh bukan karena penyihir kuat terlahir di keluarga mereka, tapi karena keluarga Azure berperan penting dalam jalur perdagangan laut kekaisaran.


Helen dan lainnya semakin gugup mengetahui klien kali ini lebih penting daripada yang mereka duga.


Helen mencoba untuk tenang dan mulai memperkenalkan diri. Diikuti Guy, Milia dan terakhir Riku.


Saat mendengar nama Riku, Sebas membuat ekspresi rumit. Mungkinkah dia tahu kalau Riku adalah salah satu dari keluarga Kagami?


Tapi beberapa saat kemudian Sebas menggelengkan kepalanya.


(Seorang Kagami tak mungkin peringkat B. Itu suatu yang biasa dipikirkan orang lain)


Kebenaran tentang Riku yang memiliki kekuatan setara peringkat S masih belum menyebar luas. Lalu dia jarang menunjukkan wajahnya di publik. Ini bukan suatu yang aneh jika keluarga Azure sama sekali tak mengenalnya.


(Kalau tak salah bibi Yui pernah bercerita kalau dia sering melakukan misi yang berhubungan dengan keluarga Azure.)


Hal itu entah mengapa membuat hubungan keluarga Kagami dan Azure cukup baik, tapi itu tiga tahun yang lalu. Dia tak tahu hubungan yang sebenarnya sekarang.


"Mengenai misi, seperti yang kalian tahu, kami meminta pengawalan perjalanan ke kota Panese dengan kapal udara. Aku yakin kalian sama sekali tak kesulitan dalam misi ini. Jangan kawatir mengenai biaya perjalanan, kami akan menanggung semuanya, bahkan termasuk kembali ke kota Phoenix."


Itu lebih melegakan daripada yang mereka duga.


Tapi tetap saja ada hal yang membuat tak masuk akal.


"Kami tak ada masalah dengan misi itu, tapi bolehkah aku bertanya beberapa hal."


"Silahkan."


"Mengingat kekuatan dan latar belakang keluarga Azure, bukankah lebih baik meminta pengawalan Knight? Kenapa harus kepada sekolah?"


Tak hanya Helen, Riku dan lainnya juga berpikiran sama. Keluarga Azure merupakan salah satu keluarga penting di kekaisaran, tak kan aneh jika dikawal oleh Knight.


"Kami pernah mencoba mengajukan permintaan pada Aula Misi knight, tapi kami diarahkan pada Aula Misi sekolah. Alasannya karena misi kali ini terlalu mudah."


"Itu masuk akal."


Helen mengangguk karena mengerti. Meskipun cara kerja Aula Misi sekolah dan Aula Misi knight sama, tapi Aula Misi knight lebih memprioritaskan misi yang benar benar membutuhkan kekuatan pada knight.


"Selain itu saat ini kekaisaran sedang mempersiapkan sesuatu yang besar dan itu melibatkan para knight. Aku tak memaksakan dan akhirnya membuat permintaan pada Aula Misi sekolah."


Semua sadar kalau meskipun terlihat dari luar kekaisaran tampaknya tak peduli dengan perang, tapi bukan berarti diam saja. Bagaimanapun juga, kekaisaran yang besar adalah target yang tak mungkin dilewatkan.


"Aku rasa tak perlu bertanya lebih lanjut. Kita bisa bahas lebih detail?"


Helen mengangguk dan kemudian pembicaraan tentang detail misi berlanjut.


Satu jam kemudian, Helen dan lainnya pergi dari restoran setelah mengetahui semua detail misi dan mulai bersiap.


Tapi di perjalanan, Riku menghentikan Helen untuk bicara sebentar di salah satu taman.


"Apa kau serius akan melaksanakan misi ini?"


"Bukan hanya kau saja yang curiga dengan misi semudah ini. Aku juga berpikir kalau kita sebaiknya harus membatalkannya." Jawab Helen.


"Tampaknya kau sudah memikirkannya matang matang kah.."


"Terima kasih telah mengingatkan, tapi jika misi ini melebihi batas yang bisa kita tangani, bukan berarti kita akan dalam bahaya besar. ...menurutku."


"Aku juga berpikiran sama, tapi bukan berarti kita bisa percaya sepenuhnya pada klien."


"Ahaha.. kau tampaknya berpengalaman dalam hal seperti ini."


"Aku juga seorang Worker, jadi hal seperti ini sudah biasa. Baiklah, jika kau sudah memutuskan maka aku akan mengikuti sampai misi ini selesai. Lagipula aku yang menyarankan misi ini pada kalian."


Banyak hal yang mencurigakan dalam misi kali ini, tapi bukan berarti misi mereka benar benar berbahaya. Jika membatalkan hanya karena kecurigaan, maka mereka akan rugi besar.


"Aku akan mulai bersiap. Bagaimanapun juga Lunaris cukup sulit ditinggal."


"Apa dia anak kecil?"


Riku memasang wajah rumit.


"Akan lebih baik jika Lunaris anak kecil, dia lebih merepotkan daripada itu."


"Hm?"


Entah mengapa Helen tak begitu percaya dengan apa yang Riku katakan. Bagaimanapun juga sulit membayangkan peringkat pertama di sekolah memiliki sifat seperti itu.


Keesokan harinya.


Riku dan lainnya bertemu di menara jam kecil di tengah taman kota.


"Entah mengapa aku mengerti saat menyebut dia lebih merepotkan daripada anak kecil."


Helen mendesah berat melihat sosok tak terduga menempel pada Riku seperti perangko.


"Ke-kenapa nona Lunaris kau ajak?"

__ADS_1


"Itu cerita yang cukup rumit." jawab Riku dengan nada tak berdaya.


__ADS_2