Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Partner


__ADS_3

Suara dari hantaman palu terdengar dengan irama bagikan sebuah musik yang merdu. Bara api panas merah membara menyala tak jauh dari musik itu.


Setelah memalu beberapa kali, besi yang sudah membentuk pedang dikembalikan ke bara api. Proses ini terus diulangi berkali kali hingga membentuk senjata yang diinginkan.


“Ayah, saatnya beristirahat.”


“Aku mengerti.”


Irho mengusap keringat yang membasahi tubuh kekarnya. Tubuhnya penuh luka bakar dan bekas hitam dari bara bukan hal yang baru baginya.


Semua itu tak lebih dari bukti kerja kerasnya untuk menciptakan senjata. Tidak, lebih tepat jika sebuah alat.


Baginya pedang yang dia buat tak lebih dari sebuah alat. Entah alat itu berubah menjadi senjata atau alat untuk melindungi, semua itu tergantung pada yang menggunakannya.


Tentu sebagai seorang pandai besi, mengetahui alat yang dia buat digunakan untuk melukai orang lain bukanlah hal yang menyenangkan.


Dengan memilih orang yang tepat, dia berharap bisa mengurangi alat yang digunakan sebagai senjata berkurang, namun saat ini masih menjadi sebuah harapan belaka.


Lalu jika dia tak ingin melihat itu, kenapa dia masih membuat alat? Bukankah sebaiknya berhenti dan melakukan hal lain?


Sayangnya, hal ini tidaklah sesederhana itu.


Selama ada yang memulai konflik, senjata akan selalu tercipta. Tak peduli apakah senjata itu berupa pedang atau sebuah kata manis. Dengan kata lain, dia membuat alat atau tidak, semua itu tidak akan berpengaruh kecuali pengguna berhenti mengubah alat menjadi senjata.


“Oh.. ini lebih menyegarkan daripada biasanya. Mungkinkah teh baru?”


“Benar. Aku membeli teh yang kebetulan sedang promosi kemarin. Setelah aku coba, ternyata itu lebih enak dari teh yang biasa.”


“Begitu..”


Irho melanjutkan meneguk teh yang dibuatkan oleh anaknya dengan penuh cinta.


Saat itulah dia mengingat kembali masa lalunya. Lebih tepatnya mengingat seorang yang sudah tak bersamanya lagi.


(Flair, jika kau masih di sini, kau pasti akan bangga melihat putrimu yang tumbuh semakin dewasa. Dia juga sangat mirip denganmu)


Tak hanya penampilan, namun sikap dan tingkah laku semakin mirip dengan mendiang ibunya. Dan yang paling mirip mungkin adalah proporsi tubuhnya yang begitu seksi dan elegan.


Tetapi saat mengingat itu, dia juga menyadari satu hal. Perubahan itu terjadi karena saat ini Fila sedang jatuh cinta seseorang.


Suatu yang kuat, namun di saat yang sama juga begitu rapuh.


“Ayah, apa kau tahu? Kuro dan Laila sudah pulang.”


“...ya. Aku tahu.”


Perasan Irho menjadi tak senang. Dia langsung terbayang wajah seseorang yang tak dia sukai.


Di saat itu pula dia ingat semua kejadian yang terjadi di ibukota. Lebih tepatnya saat pertarungan melawan Maria.


Meskipun dia sudah lama tak bertarung, namun bukan berarti kekuatanya menurun. Hanya saja untuk melawan penyihir elemen suci membutuhkan cara rumit untuk melawan mereka. Hal itulah yang membuat dia tak bisa menggunakan kekuatan penuh, tetapi jika melihat apa yang bisa dilakukan Laila dan Kuro, dia harus berpikir kembali kalau dia sudah harus pensiun.


Tetapi yang menjadi masalah bukan itu.


Kekuatan yang mereka gunakan sangatlah tidak biasa. Bahkan kekuatan yang mereka pakai bukanlah kekuatan yang dimiliki oleh manusia.


(Darkness Art, aku masih tak menyangka bisa melihat kekuatan itu secara langsung)


Siapapun pasti mendengar mitos tentang kekuatan itu, tetapi kenyataannya sungguh berbeda. Kekuatan itu adalah kekuatan yang seharusnya dihapus dari dunia ini.


Tetapi dia tak menyangkal tanpa kekuatan itu mereka tak bisa mengalahkan Maria. Kekuatan yang dulu menghancurkan dunia kini digunakan untuk menyelamatkan dunia.


Semua ini tak berbeda dari alat yang dia ciptakan.


“Ayah.. kenapa melamun?”


“Tidak, hanya saja aku mengingat sesuatu. Oh iya, kau sudah menyelesaikan pedang yang dia pesan. Bagaimana menurutmu?”


Irho melirik ke arah pedang katana yang tersarung rapi di pojokan. Sekilas itu terlihat pedang biasa yang tak memiliki kekuatan spesial, tetapi karena Irho tahu bagaimana pedang itu dibuat, tak diragukan lagi itu adalah pedang yang memiliki kualitas sama seperti pedang terbaiknya. Tidak, mengingat kekuatan yang dimiliki Fila, pedang itu lebih baik daripada pedang yang selama ini dia ciptakan.


Irho merasa senang dan bangga, namun di saat yang sama dia merasa was was. Kekuatan Fila memang luar biasa, tetapi juga sangat berbahaya jika salah digunakan.


“Apakah maksud Ayah karena Lic sudah kembali pedang itu tak diperlukan lagi?”


“Semacam itulah.”


Kuro awalnya memesan pedang itu untuk menggantikan Lic, karena itulah saat pedangnya sudah kembali, seharusnya pedang pesanan Kuro sudah tak dibutuhkan lagi.


Tetapi Fila hanya tersenyum.


“Kuro bukanlah orang yang seperti itu. Aku yakin dia tak membuang suatu yang dia miliki dengan mudah. Digunakan atau tidak, itu adalah hak Kuro. Yang terpenting bagi kita adalah membuat pesanan mereka sebaik mungkin dengan melakukan yang terbaik. Benarkan?"


"..."


Irho hanya tersenyum. Dia mengerti karena dia seorang pandai besi dan seorang penjual.


"Hanya saja aku lebih memikirkan apakah buatanku akan memuaskan Kuro atau tidak."


"Aku tahu kau sudah membuatnya sebaik mungkin, jadi jangan mengkhawatirkannya. Yah jika dia melakukannya mungkin aku akan menamparnya dengan kapakku."


"Ayah.."


"Aku hanya bercanda."


Tentu Irho benar benar akan melakukannya jika Kuro berani berbuat yang macam macam, tetapi mana mungkin dia memberitahukan hal itu.


Di saat itulah mereka mendengar suara lonceng tanda pembeli datang.


"Ayah, aku lihat dulu."


Fila pergi menuju bagian depan toko. Saat itulah dia terkejut dengan siapa yang datang.


"Sudah lama tak bertemu, Fila."


Seorang gadis berambut pirang datang. Dia memakai pakaian lengan panjang yang menutup bagian tubuhnya. Meskipun begitu, hal itu tak mengurangi kecantikannya.


Dua orang wanita bersama dengan gadis itu. Dari aura keduanya, bisa terlihat kalau keduanya merupakan orang yang kuat.


"Lama tak bertemu, Charlmilia. Selamat karena kau menjadi seorang putri."


"Terima kasih."


Karena pengangkatan disebar luaskan, maka tak heran jika Fila mengetahuinya.


"Jadi sekarang aku harus memanggilmu tuan putri Charlmilia?"


"Ugh.. tolong panggil aku seperti biasanya. Jujur saja aku masih merasa aneh dengan panggilan itu."


Fila tersenyum.


"Kalau begitu baiklah. Ngomong ngomong siapa mereka?"


"Mereka hanyalah pengawalku. Yang satu ini Gemini, sedangkan dia Sagita. Mereka berdua adalah Holy Knight."


"Begitu.."


Fila tak merasa begitu terkejut. Bagaimanapun juga wajar Charlmilia akan dikawal oleh Holy Knight mengingat dirinya sekarang seorang tuan putri.


"Perkenalkan, namaku Gemini."


Gemini seorang wanita sekitar 20 tahunan dengan rambut sebahu. Entah mengapa dia terlihat kaku.


"Sagita, salam kenal."


Sagita seorang wanita yang terlihat seperti anak kecil, namun sebenarnya sudah berusia 25 tahun lebih. Karena wajahnya yang seperti itu, membuat dia cukup terkenal di kalangan Holy Knight.


Meskipun menggemaskan, namun keduanya merupakan penyihir dengan peringkat SS dan SSS. Membuat masalah dengan keduanya merupakan kesalahan fatal.


"Sebenarnya aku tak butuh pengawal, tetapi Ayah memaksaku."


"Aku berpikir kau salah jika terlalu mengandalkan kekuatanmu sendiri, tuan putri."


"Fila.. kenapa kau ikut ikutan dengan mereka? Yah itu bukan masalah besar."


Fufufu.. Fila tertawa cekikikan seolah menggoda Charlmilia.


"Baiklah, aku langsung ke intinya saja. Aku kemari karena ingin meminta tolong padamu. Tolong jadi partnerku di Batle War nanti."

__ADS_1


"Hm?"


♦♦♦


Kembali ke hari sebelumnya.


Setelah diangkat menjadi tuan putri, Charlmilia ingin segera kembali ke kota Areshia. Tetapi Sei tak mengizinkannya karena masih banyak hal yang harus diselesaikan.


Sei bilang Charlmilia bisa kembali setelah semuanya selesai. Masalah bukan hanya tentang apa yang dia lakukan setelah menjadi tuan putri, namun juga masalah tentang pertemuan dengan bangsawan dari seluruh negeri.


Pada pertemuan inilah Charlmilia bertemu dengan banyak bangsawan yang tak pernah dia kenal sebelumnya. Yang menarik, kebanyakan dari mereka menanyakan tentang hubungan asmaranya.


Tentu Charlmilia tahu betul kalau mereka semua hanya menginginkan posisinya sebagai tuan putri, jadi Charlmilia merasa jengkel dengan mereka semua. Syukurlah dia bisa menahan diri sehingga masih bisa berperilaku sopan. Di saat inilah etika yang dia pelajari sebagai putri jenderal diperlukan.


Kemudian, setelah bertemu dengan bangsawan, Charlmilia diminta mempelajari aturan tentang apa saja yang boleh dia lakukan dan yang tak boleh dilakukan. Maklum saja, menjadi tuan putri memiliki tanggung jawab yang besar. Untuk alasan tertentu dia merasa kalau Sei lebih kejam daripada ayah kandungnya.


Setelah semua itu, Charlmilia akhirnya diperbolehkan kembali ke kota Areshia, tetapi dengan dikawal oleh Holy Knight yang dipilih oleh Sei. Mengingat insiden sebelum pelantikan, Charlmilia tak bisa menolak hal ini.


Charlmilia kembali ke kota Areshia menggunakan sihir teleportasi yang dia gunakan sebelumnya saat menyusul Kuro dan Laila. Tentu hal ini bisa dilakukan dengan kerja sama Electra.


Saat bertemu dengan Electra inilah Charlmilia teringat dengan keputusan yang dia ambil dengan masalah Kuro.


Dengan cepat dan terburu buru, dia ingin sekali bertanya pada Electra, namun itu tak semudah yang terlihat.


"Aku tak tahu apa maksudmu dengan King akan menghilang. Apa kau yakin Kuro tak berbohong?"


Charlmilia tak menyangka Electra akan lebih sulit diajak bekerja sama daripada yang dia kira. Tetapi itu tak membuat dia menyerah. Bagaimanapun juga Electra satu satunya harapannya.


"Aku tahu kapan orang akan berbohong dan kapan orang akan berkata jujur. Di mataku, saat ini kaulah yang berbohong, Electra."


"..."


Electra tak menjawab dan hanya terdiam membisu.


"Aku tak tahu apa yang terjadi padamu, namun jika kau dulu seorang Queen sepertiku, kau pasti tahu apa yang aku rasakan dan apa yang akan terjadi nanti. Aku mohon, aku tak tahu siapa lagi yang harus aku tanyai mengenai masalah ini."


Electra menatap tajam mata Charlmilia. Mungkin karena dia tahu Charlmilia meminta dengan tulus, dia tak tahan menyimpan rahasia.


Pada akhirnya Electra mau bicara. Tetapi dengan syarat dia juga harus merahasiakan apapun yang dia dengar.


Sebelum itu, keduanya pindah ke ruangan khusus yang memiliki sihir pelindung untuk mencegah orang lain mendengar pembicaraan mereka.


"Electra.."


"Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan, tetapi sebelum itu aku ingin menanyakan sesuatu. Setelah tahu apa yang akan terjadi, apa yang akan kau lakukan? Meskipun kau berhasil melakukan sesuatu, itu tak akan menjamin kau akan bisa bersama Kuro."


Mendengar itu, Charlmilia tersenyum.


"Aku senang ternyata bertanya pada orang yang tepat. Dengan begini aku tahu bisa melakukan sesuatu."


Sayangnya, Electra sama sekali tak terlihat senang. Tekanan berat justru terlihat.


"....jangan senang dulu. Yang aku beritahukan padamu bukanlah hal yang bisa menolong Kuro."


"Meskipun begitu, anda pasti memiliki alasan untuk memberitahuku. Apa aku salah?"


Electra tak menjawab dan tersenyum seolah tebakan Charlmilia tepat.


"Entahlah, semuanya tergantung padamu."


Atmosfer yang berat perlahan mulai menjadi ringan.


"Baiklah, sebelum aku memberitahumu. Aku ingin bertanya apa yang kau ketahui tentang sejarah penciptaan dunia?"


Charlmilia bingung karena tak menyangka akan membahas sesuatu di luar topik.


"Setahuku itu adalah kisah tentang dua dewa yang memutuskan untuk menciptakan dunia. Untuk mengatur dunia itu, kedua dewa itu melahirkan tujuh dewi yang kini dikenal sebagai Tujuh Pilar Dewi. Tujuh Pilar Dewi inilah yang sekarang menjadi penyembahan utama agama di seluruh dunia."


Electra mengangguk apa yang dikatakan Charlmilia tak salah meskipun hanya intinya saja.


"Jika kau tahu hal itu, pernahkah kau memikirkan kenapa Tujuh Pilar Dewi dilarang di negeri ini?"


"!?"


Perkataan Electra membuat Charlmilia sadar tentang kenyataan yang sederhana. Meskipun kekaisaran Houou negeri terbesar di tanah Orladist, namun agama yang menyembah Tujuh Pilar Dewi sangatlah dilarang. Bahkan jika ada yang sengaja menyebarkan atau menjadi penganut ajaran itu, orang itu akan langsung dihukum mati.


Dengan aturan yang seperti inilah tak mengherankan jika kekaisaran Houou dikenal sebagai negara yang tak tahu agama.


Charlmilia berhasil menahan diri. Itu wajar mengingat dia tak tahu betul tentang Tujuh Pilar Dewi.


" ....jika benar begitu, apa hubungannya dengan semua ini?"


"Sabarlah. Pembicaraan yang sebenarnya kita mulai sekarang."


Electra terdiam sesaat lalu melanjutkan.


"Sejarah yang sebenarnya seperti ini. Dahulu kala, dua dewa terkuat terus bertarung tanpa ada pemenangnya. Maklum saja, dari segi kekuatan mereka sangat seimbang. Kita sebut saja mereka Dewa Putih dan Dewa Hitam."


Karena kekuatan seimbang, setiap kali mereka bertarung tak akan ada pemenang dan tak akan ada yang kalah. Dewa Putih dan Dewa Hitam sadar kalau apa yang mereka lakukan merupakan hal yang sia sia. Yang menarik, mereka menyadari setelah bertarung tanpa ada yang bisa menghitungnya.


Sang Dewa Hitam pun bertanya. 'Jika tak bertarung apa yang mereka lakukan?'.


Sang Dewa Putih menjawab kalau Dewa Dewi di dunia lain (dimensi lain) menciptakan dunia dan mengaturnya. Bagaimana kalau kita melakukan hal yang sama?


Dewa Hitam setuju dan akhirnya kedua dewapun memutuskan menciptakan sebuah dunia. Dunia para naga.


Untuk mengatur dunia ini, kedua melahirkan Dewa lain yang memiliki sebagian kecil kekuatan keduanya. Dewa Dewa yang terlahir inilah yang dikenal sebagai Dragon King.


"Jadi mereka adalah..."


"Benar, karena itulah mereka juga disebut sebagai Dragon God."


Dengan Dragon King mengatur dunia para naga, naga yang hidup di dunia yang diciptakan oleh Dewa Hitam dan Putih hidup dengan tenang sehingga jumlah mereka berlipat ganda dengan mudah dan akhirnya dunia itu menjadi dunia para naga yang sesungguhnya.


Sayangnya, setelah sekian lama waktu berlalu, Dewa Hitam dan Putih sadar jika dibandingkan dengan dunia yang diciptakan dewa lain, dunia mereka tak berkembang sama sekali.


Wajar saja, meskipun naga makhluk yang cerdas dan kuat, namun mereka tak memiliki niat untuk menjadi lebih baik selama mereka tak terusik. Selain itu makanan mereka tak berkurang karena monster berlipat ganda dengan cepat. Tak mengherankan jika tanah Orladist disebut sebagai surga bagi para naga.


Dewa Putih lalu memberi saran 'Kenapa kita tak menambah penghuni dunia kita?'


Sekali lagi Dewa Hitam setuju dan meminta dewa di dimensi lain untuk bersedia memindahkan sebagian kecil penghuni dunia itu ke dunia mereka.


Dari sinilah awal berbagai macam ras mulai hidup di Orladist.


"Manusia merupakan ras yang paling muda dan lemah di antara semua ras yang diundang. Mereka dengan mudahnya mati dan tak bisa bertahan hidup karena terlalu lemah. Untuk mengatasi masalah ini, Dewa Putih dan Hitam memutuskan untuk mengajarkan manusia sebuah kekuatan agar bisa melindungi diri sendiri."


"Jangan bilang itu adalah..."


Charlmilia dengan mudah bisa menebak apa yang dikatakan Electra selanjutnya.


"Benar. Kekuatan itu adalah sihir. Dan orang yang pertama kali mempelajari sihir adalah orang yang sekarang ini disebut Queen."


Kejutan yang diberikan Electra secara terus menerus membuat Charlmilia tak bisa berkata apa apa.


Tetapi dia tak menyangka kalau eksistensi Queen akan sepenting itu.


"Kau pasti sadar, kekuatan yang kita miliki sebagai penyihir tak jauh berbeda dengan Dragon Gear. Bahkan aku bisa bilang kalau sihir yang sekarang ini sebenarnya tak lebih dari versi lemah dari Dragon Gear. Mengesampingkan masalah itu, aku masih belum tahu sejak kapan nama Queen mulai disebut, namun aku menduga hal itu karena kebanyakan Queen menjadi sebuah pemimpin negara atau seorang yang menemukan negara baru di dunia ini."


Magic Arm dan Magic Beast tak lebih dari tiruan kekuatan dari Dragon King. Hal ini terasa masuk akal jika memikirkan kembali kekuatan yang dimiliki seorang Paladin. Semakin besar kekuatan penyihir, kekuatan mereka akan semakin mendekati kekuatan Dragon King.


"Sekarang masalah utamanya muncul. Jika Queen adalah penerus dari seorang yang mempelajari sihir, lalu apa itu King?"


"..."


Sekali lagi Charlmilia dibuat bungkam. Dia mengerti tentang King dan Queen, namun setelah mendengar kisah itu, Charlmilia harus kembali memikirkan kedua hal itu.


Baginya Queen masih tak berubah. Hanya saja jika dulu mereka adalah orang pertama yang mempelajari sihir, sekarang seorang yang memiliki peran berbeda.


Yang menjadi masalah adalah King.


Kisah yang diceritakan Electra sama sekali tak menyebut King. Eksistensi seolah mereka tak pernah ada.


"Seperti yang kau pikirkan, King merupakan eksistensi yang tak seharusnya ada di dunia ini."


"!?"


"Sebenarnya aku tak ingin memberitahumu tentang hal ini, namun ini adalah alasan kenapa tak ada yang bisa kau lakukan untuk menolong Kuro."

__ADS_1


Perkataan Electra mengembalikan Charlmilia pada kesadarannya.


"Jadi apa kau ingin bilang kalau aku harus menyerah?"


"Aku tak ingin bilang begitu, hanya saja tak ada yang bisa kita lakukan."


"Electra, kenapa kau sud-"


Brak! Electra menggebrak meja hingga menjadi dua. Dia terlihat kesal dengan wajah rumit. Satu hal yang pasti, dia terlihat sedih.


"Siapa bilang aku menyerah, Br*ngsek. Justru karena aku tak menyerah, maka aku bisa memberitahumu semua itu. Jangan kau pikir hanya dirimu saja yang tak ingin kehilangan seseorang yang berharga bagimu."


"... Electra."


Ini adalah pertama kalinya Charlmilia melihat Electra terlihat begitu sedih dan putus asa. Ini sama sekali bukanlah Electra yang dikenal selalu ceria.


"50 tahun yang lalu, aku memiliki sahabat seorang King. Jangan salah paham, meskipun dia King, namun dia seorang wanita, Ao Kagami. Kau pasti bisa menebak apa hubungannya dia dengan Kuro."


"Apa kau mau bilang dia adalah ibu Kuro?"


Jika melihat dari segi waktu dan nama keluarga, kemungkinan itu ada. Tetapi Electra menggelengkan kepalanya.


"Aku tak tahu. Aomenghilang tepat di depan mataku. Karena itulah aku yakin dia bukanlah ibu Kuro. Tetapi dari situlah aku tahu saat bertemu dengan Kuro beberapa tahun yang lalu, aku tahu dia seorang King."


"..."


Sekarang semuanya masuk akal. Electra bukan hanya tertarik karena Kuro berani membantai 200 Knight, namun karena alasan yang lebih pribadi.


Kuro pasti mengingatkannya pada temannya.


"Sebagai Queen, ingatan tentang King masih ada. Hal ini juga berlaku pada Queen lainnya. Sayangnya, ini bagaikan sebuah siksaan yang menyiksa kami seumur hidup. Meskipun begitu, bagi kami ini adalah sebuah kenangan yang berharga. Karena itulah kami tak bisa melupakannya dan memilih untuk mengingatnya seumur hidup."


Charlmilia tersenyum senang. Dia mengerti kenapa Electra melakukan itu.


"Itu sangat menyentuh. Aku ingin mena-tunggu dulu. Kami?"


"Ya. Selain aku, ada dua Queen lainnya. Yang satu Scarlet dan satunya Evelin."


"..."


Charlmilia benar benar terkejut. Dia tahu Scarlet adalah nenek Laila. Sedangkan Evelin adalah Paladin yang dikenal sebagai Ice Queen. Dia sekarang mengerti julukan itu bukan hanya sebuah gelar kosong.


"Evelin masih belum menerima kepergian Ao, karena itulah dia sekarang selalu berpergian. Aku harap dia segera bisa menerima kenyataan."


"....King yang bersamamu pasti sangat baik."


"Begitulah. Satu satunya yang mirip dari keduanya adalah sifat yang akan melakukan segalanya demi orang yang mereka sayangi. Mungkin ini adalah semacam ciri khas mereka."


"Karena itulah tak ada yang ingin mereka menghilang. Electra, jika kau tahu bisa mencegah hal itu lagi, apa yang kau lakukan?"


"Sudah aku bilang aku tak tahu."


"..."


Entah mengapa pembicaraan mereka sebelumnya seolah sia sia belaka.


"Mau bagaimana lagi. Meskipun kita ingin mencegah mereka menghilang, namun kita bahkan tak tahu kenapa mereka ada. Jika kita tak mengetahui hal itu terlebih dahulu, kita tak mungkin bisa menghentikan kutukan itu."


"..."


"Selain itu Kuro merupakan King yang sangat berbeda dengan pendahulunya. Aku yakin ini lebih sulit daripada saat aku ingin menghentikan Ao."


Bisakah kau berhenti mengatakan hal yang membuatku terkejut? Charlmilia ingin mengatakan itu, namun dia menahannya.


Electra sama sekali tak bersalah. Dia justru luar biasa karena berhasil menyadari hal itu.


"Hm? ...Berbeda? Apa maksudmu?"


"Yah.. kau tahu, meskipun dia seorang King, namun dia sangat lemah jika dibandingkan Ao. Mungkin kau tak tahu, Ao adalah seorang Paladin yang bisa menggunakan dua elemen sekaligus. Dalam segi kekuatan, dia dua kali lipat lebih kuat daripada Leon."


"..."


Entah mengapa Charlmilia langsung merasa pusing hanya mendengar ada orang yang lebih kuat daripada Leon.


Electra tersenyum karena mengerti apa yang Charlmilia pikirkan saat ini.


"Meskipun tak ada jejak eksistensinya, namun aku tak mungkin berbohong jika menyangkut Ao. Saat bertarung dia tak perlu menggunakan salah satu Authority-nya. Aku yakin King yang dulu pasti memiliki kekuatan yang lebih dahsyat daripada Ao. Karena itulah Kuro lemah. Sangat lemah. Aku bahkan sempat dia adalah penipu. Haha.."


"..."


"Tetapi seperti yang kau lihat sendiri, dia bisa melakukan hal yang tak terpikirkan oleh siapapun. Itu adalah bukti paling besar kalau dia adalah seorang King."


"..."


"Sayangnya, meskipun aku mencoba mencari tahu tentang King, namun aku masih tak tahu kenapa mereka ada dan kenapa mereka harus menghilang. Aku bahkan mencoba mencari hal itu di berbagai macam buku sejarah, namun itu masih belum cukup."


"..."


"Kenapa kau terdiam?"


"Tidak. Aku hanya berpikir, jika kita bisa kembali ke masa lalu. Bukankah kita bisa mencegah hal itu?"


"Ah...mungkinkah kau mendapatkan ide itu dari Laila?"


"Begitulah. Ketika berbicara mengenai tak normal, bukankah Laila juga?"


Electra sama sekali tak membantah hal itu.


Kuro aneh karena yang paling lemah, namun Laila kebalikannya karena mampu memanipulasi takdir dan waktu.


"Aku pikir itu ide bagus, tetapi sayang sekali itu tak mungkin bisa terjadi."


"Mungkinkah karena sihir itu tak bi-"


"Kau salah. Kita memiliki penyihir yang mampu melakukan itu, jadi sihir pergi ke masa lalu bukanlah hal mustahil. Ini rahasia, tetapi aku pernah mencobanya."


"..."


Suasana menjadi lebih ringan dan cerah setelah keduanya berdiskusi dan mencoba menemukan jalan keluar dari masalah mereka.


Tetapi semua itu berubah saat Electra menyebut hal yang sangat berbahaya.


"Electra, kau tahu resiko hal itu kan?"


"Tentu, tetapi jangan kau pikir itu hal yang mudah. Yah intinya aku selalu gagal karena alasan yang masih belum jelas."


Charlmilia mendesah karena lega hal buruk tak terjadi.


"Kembali ke masalah, lupakan tentang masalah pergi ke masa lalu. Entah mengapa aku merasa itu ide yang sangat buruk."


"Kita jadikan itu ide terakhir."


Keduanya mengangguk secara bersamaan.


"Sebelum itu, kita harus menemukan kenapa King ada. Jika kita tak menemukan itu, semuanya akan terasa lebih sulit. Oh iya, selain sifat dan kekuatan mereka, apa yang sama dari King di zamanmu, Electra?"


"Aku sudah memikirkan hal itu, tetapi aku tak menemukan hal yang mencolok. Hal yang mencolok sudah aku sebutkan sebelumnya. Kuro terlalu lemah. Dan yang paling buruk mungkin ini pertama kalinya King yang tak bisa menggunakan sihir."


"Kita kembali ke awal kah. Kalau begitu aku ganti pertanyaannya. Apa yang menyebabkan King menghilang?"


Jika tak menemukan sebab awal, maka cukup mengganti prespektif.


"Aku mengerti maksudmu. Tetapi aku masih belum tahu pasti kenapa mereka menghilang. Ao tak menunjukan tanda aneh atau sesuatu yang mencurigakan. Saat itu dia mengajak kami ke suatu tempat dan memberitahukan kalau perannya sudah usai. Saat mengingat itu aku ingin sekali menamparnya."


Charlmilia tertawa karena jarang melihat sisi Electra yang terlihat jengkel.


"Intinya kita masih belum menemukan petunjuk berarti. Karena itulah aku bilang kau masih belum bisa melakukan apapun."


"..."


"Tetapi bukan berarti aku menyuruh dirimu untuk menyerah. Kau harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat seperti kami."


"Electra..."


"Baiklah, lupakan masalah itu. Sebelum memikirkan masalah itu, bukankah kau harus memikirkan nasibmu sendiri?"


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Apa kau lupa kau belum memiliki pasangan?"


".....ah.."


__ADS_2