
Deon Dfira. Dia seorang jendral dan merupakan Dragon Tamer. Dia juga penyihir tipe User peringkat S.
Prestasi dalam pertempuran bisa dibilang luar biasa sehingga membuat dia menjadi salah satu prajurit terbaik di Dragonia. Tak heran jika banyak yang menghormati dan takut kepada dirinya.
Selain bertempur, yang membuat dia dihormati adalah kecintaannya terhadap naga. Sebegitu besar kecintaannya bahkan membuat dia menjadi panutan Dragon Tamer muda lainnya.
Pada suatu hari, Deon bersama istri dan dua anaknya pergi ke danau dekat gunung tak jauh dari ibukota Drageass bersama naganya yang bernama Jina.
Jina adalah naga jenis Holy Demonic Class yang cukup langka dan lebih kuat dari jenis naga lainnya. Tak mengherankan jika hal ini membuat Deon dikenal sebagai salah satu Dragon Tamer terkuat.
Pada hari itu, Deon sedang libur dari tugasnya. Dia tak menyia nyiakan kesempatan langka itu untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Tak ada yang tahu pasti apa yang terjadi pada hari itu, tapi pada hari itu, itulah hari terakhir Deon berkumpul bersama dengan keluarganya dan Jina.
Hanya Deon yang selamat dan kembali hidup hidup. Jina dan keluarga Deon tewas mengenaskan bahkan tubuh mereka tercabik cabik oleh monster.
Setelah kejadian itu, Deon menghilang. Tak ada kabar dan dimana dia berada, tapi-
Sekitar 8 bulan yang lalu, Deon kembali dengan naga hitam yang merupakan Necrodra. Pada hari itupula status penyihir peringkat S Deon berubah menjadi SS karena telah membangkitkan kekuatan [Soul].
Deon menggunakan kekuatan barunya untuk membangkitkan naga yang sudah mati untuk menyerang ibukota Drageass.
Tak ada yang tahu kenapa Deon melakukan hal ini, tapi kini dia menjadi orang yang harus dibunuh karena membangkitkan kekuatan terlarang untuk membangkitkan naga.
"Itu saja yang kutahu mengenai Deon. Selanjutnya yang terjadi kurasa kalian sudah tahu."
Knox dan Jinn mengangguk tanda mengerti.
Deon Dfira adalah musuh mereka kali ini. Kuro meminta Diana memberi tahu ke semua orang agar tahu siapa yang akan mereka lawan.
"Mantan Jendral kah, musuh kali ini benar benar merepotkan."
Jinn mengeluh sambil merebahkan tubuhnya di rerumputan.
Mereka berada di taman yang ditumbuhi pohon cukup rindang. Bisa dibilang tempat itu sangatlah cocok untuk bersantai.
Mereka semua sudah berganti pakaian seperti yang mereka pakai saat datang. Tentu setelah dicuci oleh pelayan istana.
"Kalau boleh tahu, monster apa yang menyerang keluarga Deon? Mungkin itu bisa menjadi petunjuk mengapa Deon menyerang." tanya Charlmilia.
"Dugaan sementara monster yang menyerang keluarga Deon adalah naga."
"Eh?"
"Sayangnya kami tak tahu persis naga apa yang menyerang keluarga Deon. Sampai sekarang keberadaan naga misterius itu juga masih misteri."
"Itu aneh. Lalu apakah ada penyerangan lagi setelah itu?"
Diana mengangguk membenarkan.
"Naga misterius itu menyerang naga lainnya, tapi kali ini tak ada korban manusia. Dan alasan kenapa kami tak tahu identitas naga itu sampai sekarang karena tak ada tanda yang cocok dengan naga yang ada selama ini."
"....maksudmu kemungkinan naga misterius ini adalah naga jenis baru?"
"Kemungkinan itu besar. Lagipula naga jenis baru bukanlah suatu yang aneh karena naga mampu berevolusi dengan cukup cepat."
Salah satu kasus naga yang berevolusi adalah naga yang ditemui Kuro. Naga air berevolusi menjadi naga es kristal yang puluhan kali lebih kuat dari naga normal. Kasus ini cukup langka, jadi naga jenis baru juga langka.
Charlmilia menoleh ke arah Kuro yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Diana, kenapa kau tak memberi tahu hal ini sebelumnya?"
"Eh? Kuro, kau tak tahu?" tanya Laila.
Kuro mengangguk.
"Kalian tak perlu heran. Tuan Kuro hanya membantu mengalahkan Deon. Dia tak tahu apapun dan tak ada hubungannya dengan hal ini."
Jinn, Knox, Laila dan Charlmilia mendesah bersamaan.
"Ada apa dengan kalian?"
"Kuro, aku tahu kau acuh dengan masalah yang ada di depanmu, tapi kali ini kau sudah keterlaluan." ucap Laila.
"Kalian jangan menyalahkan Kuro." sahut Aldest. "Kuro tak ikut campur karena tak bisa melakukannya. Selain itu, Kuro masih termasuk pasukan Kekaisaran. Jika dia mencari tahu, dia akan dianggap mata mata. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap hubungan Dragonia dengan Kekaisaran."
Mereka berempat hanya terbengong setelah mendengar penjelasan Aldest.
Tetapi mengingat siapa Kuro, seharusnya Kuro tak mungkin diam saja. Atau mungkin dia pura pura tak tahu?
"Aku terkejut kau membela Kuro, Aldest."
"Lairo dan kalian semua harus tahu bahwa kami sebagai.. hmm... mudahnya pasukan khusus harus berhati hati dalam bertindak. Terutama saat di negeri lain seperti sekarang ini. Jika kalian tak berhati hati, kita akan menyebabkan sebuah perang yang terjadi antara dua negara. Dan kurasa kita tak ingin itu terjadi fufu fu..."
Semua orang kecuali Kuro pucat pasi dan membiru. Tapi mereka bersyukur karena Aldest memberi tahu mereka sebelum mereka membuat masalah.
"Aku benar benar tak menyukai ini." ucap Jinn dengan nada kesal. "Pertama kita diusir dan sekarang jika kita bergerak sembarangan, itu akan meniadi penyebab perang. Ini sama sekali tak lucu."
"Aku setuju, tapi apakah tak apa apa kita bersantai seperti ini?" tanya Knox.
"Jangan kawatir. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk bersantai." jawab Kuro. "Lagipula ketika mereka bilang tak butuh bantuan kita, apa kalian pikir mereka bercanda?"
Semua tampak bingung, namun perkataan Kuro masuk akal.
Kuro menoleh ke arah Diana.
Diana mengangguk tanda mengerti maksud Kuro.
"Semuanya, coba perhatikan sekeliling kalian."
Semua menuruti Diana.
Disaat itulah di beberapa bagian taman terbelah seperti sebuah pintu. Dari pintu itu munculah meriam raksasa yang terlihat berteknologi tinggi mengarah ke luar perisai.
"Senjata pertahanan kah?"
Knox cukup terkesan setelah melihat meriam yang cukup besar.
Senjata pertahanan sebenarnya bukanlah hal yang baru, tapi senjata pertahanan jarang dipasang karena dianggap kurang efisien dan kurang maksimal dalam menghadapi musuh.
"Itu adalah sistem pertahanan istana ini, meriam Anti Dragon. Meriam itu akan secara otomatis menyerang Necrodra yang mendekati perisai dari dalam. Lagipula perisai memang kuat dari luar, tapi kita bisa menyerang dari dalam."
"Singkatnya kita bisa menyerang mereka, tapi mereka tak bisa menyerang kita. Ini mengagumkan."
Kali ini Knox benar benar terkesan.
"Ini adalah salah satu strategi dari kakak Louis. Dengan ini kita tak perlu kawatir meskipun ada Necrodra yang menyerang."
"Tapi kenapa sistem pertahanan ini tak aktif semalam?" tanya Jinn. "Mungkinkah ini alasan kau pergi sendirian melawan para Necrodra?"
"Y-ya begitulah. Sistem pertahanan tiba tiba mati dan membuat semua Dragon Knight terjebak di dalam ruang bawah tanah dan tak bisa keluar. Hanya Shapira saja yang berada diluar karena itulah.. maa... kalian sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya .."
"Sudahlah..." tiba tiba Kuro berdiri. "Kalian sekarang bisa tenang kan?"
"Kuro, kau mau kemana?"
"Aku ingin pergi ke suatu tempat. Laila, jika kau ingin pergi, ku ingin selalu pergi bersama Charlia atau Diana. Apa kau mengerti?"
"Eh?"
Saat masih terkejut, Kuro mengabaikan Laila dan pergi ke luar istana dengan membawa Lic di tangannya.
Semuanya tak mengerti apa yang ada di pikiran Kuro, tapi-
"Apakah tak apa apa Kuro pergi berkeliaran sendirian?"
"Tuan Kuro akan baik baik saja. Cepat atau lambat dia pasti akan kembali. Ngomong ngomong apa ada lagi yang ingin kalian tanyakan?"
"Bolehkah kami pergi sendirian seperti Kuro?" tanya Knox. "Terus terang aku ingin melakukan sesuatu sendirian."
Jinn melirik Knox karena curiga.
"Aku juga ingin melakukan hal yang sama."
Jinn akhirnya ikut ikutan Knox dan Kuro.
"Tak apa apa, tapi kuharap kalian tak melakukan aneh aneh. Kalian tak lupa kalau sedang kami awasi kan?"
"Tentu saja." Knox berdiri begitu juga Jinn. "Aku pergi dulu."
"Aku juga pergi."
Mereka berdua kemudian pergi secara terpisah. Jinn ke luar istana seperti Kuro. Sedangkan Knox sedang menuju ke dalam istana. Kemungkinan besar dia sedang menuju kamarnya.
"Apa benar tak apa apa membiarkan mereka bebas pergi sendiri sendiri?"
Charlmilia merasa kawatir karena situasi semakin aneh dan rumit.
"Selama mereka tak melebihi batas, mereka akan baik baik saja. Lagipula kami akan membunuh kalian jika kalian melakukan hal yang kami larang."
"Aku lebih kawatir kenapa kau bisa mengatakan itu sambil tersenyum? Apa kau ikut ikutan Kuro?"
Diana hanya tersenyum. Tak berusaha membantah atau membalas. Sekilas hal ini membuat mereka berpikir Diana telah tertular virus dari Kuro. Virus yang menakutkan.
"Oh iya, bisakah kami tahu tempat danau keluarga Deon dibantai?" tanya Aldest.
"Kenapa ingin tahu?"
"Aku ingin melakukan penyelidikan bersama Lairo. ...secara pribadi dan rahasia.."
Aldest mengatakan itu dengan senyuman tipis dan melirik ke arah Lairo. Lairo yang menyadari itu langsung bergidik dan mendapat firasat buruk.
Diana mengerti maksud Aldest.
"Danau itu berada 15 km arah selatan. Kuharap anda bisa bersenang senang."
"Kenapa kau yang bersemangat? Tapi jangan kawatir, aku memang akan bersenang senang fufu fu..."
Lairo semakin bergidik dan membiru.
"Lairo, ayo kita pergi bersenang senang!"
"......"
Lairo menggelengkan kepalanya dan mencoba kabur, tapi sebuah sabit besar yang muncul entah darimana mencegah Lairo pergi.
"Kenapa kau selalu melakukan ini?"
Tak hanya sabit, sebuah tangan yang menyeramkan tanpa darah dan daging mencengkeram kerah belakang Lairo dan menyeret Lairo menuju luar istana.
"Kami pergi dulu.. fu fufu...."
__ADS_1
Mereka berduapun pergi ke luar istana. Setelah beberapa saat, Laiko terbang ke udara dan dua orang terlihat menungganginya.
Laiko terbang menuju arah selatan dan tak terlihat lagi setelah beberapa saat.
"Dia menyeramkan. Lebih menyeramkan daripada dirimu, Laila."
Laila dan Diana mengangguk karena juga berpikiran sama.
"Kurasa aku mengerti kenapa dia dipanggil Demon Witch."
""Eh?""
Laila dan Charlmilia menatap Diana karena terkejut dengan apa yang baru mereka dengar.
"Apa kau baru saja bilang Aldest adalah Demon Witch?"
"Kuharap apa yang kau katakan salah, Diana."
"Kenapa kalian tak tahu? Bukankah alasan Aldest ikut karena dia adalah Demon Witch?"
Menyadari Diana tak bercanda, Laila dan Charlmilia berwajah pucat dan membiru seperti Lairo.
Demon Witch sangat terkenal. Bahkan lebih terkenal daripada Witch Reaper (Kuro). Jika Kuro terkenal karena membantai 200 Knight, Aldest terkenal karena cara dia membunuh musuhnya.
Singkatnya Aldest dikenal sadis dan suka bersenang senang terlebih dulu sebelum benar benar membunuh musuhnya. Bahkan ada rumor yang mengatakan musuhnya lebih sering memilih bunuh diri daripada harus berhadapan dengan Aldest.
"Sekarang aku mengerti kenapa Lairo takut dengan Aldest meskipun mereka teman masa kecil." ucap Laila
"Dan kurasa Lairo lebih tahu sifat Aldest daripada orang lain. Aku tak sanggup membayangkan apa yang menanti Lairo setelah mereka menikah."
Mereka berdua hanya bisa mendoakan Lairo.
"Ngomong ngomong, kenapa kita tak pergi?"
Tawaran Diana membuat Charlmilia dan Laila sedikit terkejut.
"Pergi? Pergi kemana?"
"Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan tentang tuan Kuro. Terutama kau, Laila."
"Eh?"
"Kenapa kau terkejut? Laila adalah calon istri Kuro, jadi kurasa Laila adalah orang yang paling mengenal Kuro. Apa aku salah?"
Laila terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Diana.
"Ba-baiklah, tapi bisakah kita pindah tempat untuk mengobrol?"
Diana tak menjawab, namun hanya tersenyum senang seolah sudah menanti Laila akan menanyakan itu.
"Aku sekarang yakin kau sudah tertular oleh Kuro, putri Diana."
"Kenapa kau berkata seperti itu? Tuan Kuro selalu bilang tempat terbaik untuk berbicara adalah berendam di pemandian air panas sambil telanjang. Dan kurasa itu benar. Kita bisa mengobrol dengan tenang dan santai seperti ini."
Mereka bertiga saat ini berada di pemandian air panas istana. Meskipun di dalam ruangan, namun dibuat dengan baik dan banyak pohon buatan sehingga seperti berada di luar ruangan.
Pemandian air panas ini tak pernah ada sebelumnya, namun setelah Kuro datang dan pergi, barulah tempat itu dibuat.
Mereka bertiga bersandar di pinggir kolam tanpa sehelai benang menutupi tubuh mereka. Kulit putih dan lekuk tubuh mereka terekpos dengan jelas, tapi karena hanya ada perempuan, tak ada alasan untuk menyembunyikannya.
Sayangnya, hal ini membuat Laila sedikit kesal karena menyadari dari 3 orang, dada miliknyalah yang paling kecil.
Jika Tuhan dibilang tak adil, maka itu benar karena gadis yang tomboy justru memiliki dada paling besar.
"Laila, kau pasti sudah mandi bersama Kuro di pemandian air panas, benarkan?"
Tak jauh dari Laila, Charlmilia bersandar sambil memejamkan matanya dengan santai.
"Jangan membuatku mengingat hal yang tak ingin kuingat. Aku memang pernah melakukannya, tapi ada wanita lain yang bersama kami. Apa kalian percaya mereka bahkan sangat lengket... Uggg... mengingat itu sudah membuatku kesal."
"Laila, jangan lampiaskan amarahmu kepada kami."
Secara tidak sadar, amarah Laila telah membuat air panas menjadi lebih panas.
"Ah.. maaf. Aku tak sengaja. aha haha.."
"Yah.. sudahlah. Ini pertama kalinya aku berendam seperti ini. Aku tak menyangka ini sungguh nikmat. Aku sekarang mengerti kenapa Kuro suka berendam air panas."
"Dia hanya suka melihat tubuh gadis yang sedang mandi. Apa kau tak sadar kalau dia sebenarnya hanya mesum?"
"Mesum? Kurasa hal itu wajar saja. Mana ada laki laki yang tak suka melihat tubuh gadis telanjang? Atau... kau lebih suka Kuro lebih tertarik dengan lelaki?"
Laila langsung membayangkan apa yang dimaksud Charlmilia.
Wajah Laila langsung merah padam dan menggelengkan kepalanya untuk menjauhkan bayangan itu.
"Aku harap itu tak pernah terjadi. Tak pernah!"
"Aha haha.. benar. Lebih gawat jika Kuro tak tertarik dengan tubuh gadis cantik seperti kita."
"Yeahh.. tapi kuharap dia tak terlalu sering merayu gadis yang baru saja dia temui. Apa dia tak memikirkan perasaanku? Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya."
"..........."
Charlmila hanya tersenyum kecil. Dia mengerti apa yang dimaksud Laila, tapi itu tak ada hubungannya dengan dirinya. ...belum.
"Oh iya, putri Diana kau ingin menanyakan sesuatu, tepatnya ingin menanyakan apa?"
"Bukan hal yang penting, tapi pertanyaanku mungkin penting bagimu, Laila."
"Ha?"
"Kau akan menikah dengan tuan Kuro cepat atau lambat. Tidak, kurasa kalian akan cepat menikah karena sudah melalukan 'itu', benarkan?"
Wajah Laila merah padam karena mengerti apa yang Diana maksud. Itu bukanlah suatu yang ingin dia bahas dengan lawan cintanya.
"Ba-bagaimana kau bisa tahu kami sering melakukannya?"
"Laila yang baru saja mengatakannya. Jujur saja aku sedikit terkejut mendengarnya."
"Guh..."
Wajah Laila semakin memerah. Satu hal yang dia patut syukuri, sekarang dia tahu orang seperti apa Diana itu. Dan itu sedikit membuatnya repot.
"Jangan bilang kalian melakukannya bahkan saat perjalanan kemari?" tanya Charlmilia.
Laila tak menjawab, tapi menoleh ke arah lain dengan wajah merah padam. Itu sudah membuat Charlmilia tahu jawaban pertanyaannya tadi.
"Sudah kuduga. Pantas saja kalian selalu menghilang saat sedang beristirahat."
"Hubungan kalian sudah melewati batas wajar."
Diana dan Charlmilia mengangguk bersamaan karena mempunyai pendapat yang sama.
"Su-sudahlah. Ya-yang terpenting apa hubungannya pernikahan kami dengan pertanyaanmu?"
Hanya itulah cara yang terbaik untuk mengganti topik yang mulai semakin aneh dan pribadi.
"Yang ingin kutanyakan adalah setelah kalian menikah, apa yang akan kau lakukan jika tuan Kuro mempunyai istri lain selain dirimu?"
"..................huh?"
Pertanyaan yang tak terduga. Tak hanya Laila, Charlmilia bahkan ikut terkejut.
"Hmm... tapi aku juga penasaran. Kuro bisa dibilang terlalu populer di antara para gadis. Kurasa hal ini harus cepat kau pikirkan sebelum kalian menikah. Tidak. Kurasa kau harus menanyakan hal ini kepada Kuro secepatnya."
Laila terdiam, tapi mengerti maksud mereka berdua. Hal ini juga cepat atau lambat harus dia pikirkan agar tak menjadi masalah di kemudian hari.
Peraturan yang memperbolehkan poligami membuat tak jarang lelaki kaya atau bangsawan memilki lebih dari satu istri. Ini suatu yang Laila kurang tahu karena ayahnya hanya memiliki satu istri. Tidak, tepatnya ayahnya tak mungkin mempunyai istri lagi karena takut dengan ibunya.
Ayah Laila dulu populer sama seperti Kuro dan kakaknya. Situasi seperti ini pasti juga pernah dirasakan ibunya. Tapi Laila tak pernah menyangka akan mengalami hal ini.
"Bo-bolehkah aku tahu kenapa kau menanyakan ini?"
"Yahh.. tentu saja aku mungkin akulah yang akan menjadi istri kedua tuan Kuro. Jadi bagaimana menurutmu?"
"Sebelum itu terjadi kau harus melewati 5 gadis lain, jadi kau mungkin akan menjadi istri yang keenam atau bahkan ketujuh fufu fu..."
"Huh?"
Pembicaraan mereka semakin aneh dan membuat Laila bingung, tapi 5-6 gadis yang dimaksud Charlmilia, Laila tahu siapa mereka.
"Charlmilia juga menyukai tuan Kuro kan, ayo kita berusaha bersama."
"Ya. Kita berusaha bersama."
"Tunggu dulu. Kau juga menyukai Kuro? Ini baru pertama kalinya aku mendengar hal ini?"
"Yah, itu wajar karena aku tak terlalu agresif seperti kau dan gadis di Kuryuu Academy. Bagiku ini masih belum saatnya karena situasi cukup rumit, benarkan?"
"HEEEEEEEEEEEHHHHHHHH?!!!"
Laila berteriak dengan sekuat tenaga karena terkejut. Sangat terkejut. Bagaimanapun juga situasi ini sungguh hal yang tak dia duga.
Charmilia dan Diana hanya tertawa kecil melihat reaksi Laila yang sudah mereka tebak sebelumnya.
"Sudahlah, kau tak perlu kawatir. Lagipula kami tak akan merebut Kuro darimu. Kami hanya ingin ikut merasakan kebahagian yang kau rasakan saat bersama Kuro."
"Inilah alasan kenapa aku menanyakan hal ini. Cepat atau lambat Laila akan dihadapkan pilihan ini."
".................kalian ini membuatku pusing, tapi-"
Hal ini tak bisa Laila putuskan sendiri. Mereka memang mencintai Kuro, tapi bagaimana perasaan Kuro terhadap mereka?
Sejauh ini yang Laila tahu hanyalah Kuro mencintai dirinya. Dia mempercayai itu dan Kuro sudah membuktikannya. Inilah alasan Laila sedikit demi sedikit mulai memaklumi kepopuleran Kuro, tapi bukan berarti dia bisa sabar jika Kuro melakukan hal yang melewati batas.
"Kurasa kalian harus menanyakan hal ini lebih dulu kepada Kuro, benarkan?"
Laila yang tersenyum senang membuat Charlmilia dan Diana ikut tersenyum karena paham apa yang ingin disampaikan Laila.
"Semuanya terserah kepada Kuro kah..? Hm.. tapi apa yang kau lakukan jika Kuro ingin menikah lagi."
"Tentu aku akan melakukan sesuatu, tapi kurasa ini bukan saatnya memikirkan hal ini."
"Ya. Laila benar.."
"Aku lebih penasaran bagaimana putri Diana bisa jatuh cinta kepada Kuro. Mungkinkah karena dia mengintipmu mandi?"
Wajah Diana memerah.
"Da-darima kalian tahu mengenai hal itu?"
__ADS_1
"Anggap saja itu adalah hak istimewaku sebagai calon istri Kuro."
"Kau hanya mengintrograsinya berjam jam. Kurasa kau tak bisa menyebutnya hak istimewa."
"He hehe.."
Tapi Diana hanya tersenyum setelah menyadari kalau hal yang dilakukan Laila adalah suatu yang wajar.
"Jika ditanya bagaimana bisa jatuh cinta, itu pertanyaan yang sulit karena jatuh cinta tak bisa ditebak, tapi jawabannya mungkin karena aku penasaran dengannya."
"Penasaran?"
"Itu suatu yang aneh." komentar Charlmilia.
"Normalnya orang yang mengintip putri kerajaan mandi pasti akan dihukum mati, tapi aku mencegahnya karena aku ingin tahu tentang tuan Kuro."
"Maksudmu ingin tahu apakah dia mata mata atau bukan?"
Dugaan Charlmilia masuk akal, tapi Diana menggelengkan kepalanya.
"Apa kalian tahu? Saat kecil sampai sekarang, aku kadang kadang bermimpi tentang seorang sepasang kekasih. Sang gadis sangat cantik bagai bidadari, tapi entah mengapa lelaki yang berada di mimpiku mirip dengan tuan Kuro. Aku ingin menanyakan mengenai hal ini. Aku bahkan berpikir mimpi itu adalah petunjuk bahwa tuan Kuro adalah calon suamiku.... um ada apa dengan kalian berdua?"
Tiba tiba Charlmilia dan Laila terdiam seolah olah mendengar suatu yang mengejutkan.
"Ti-tidak apa apa. Hanya saja aku penasaran apakah orang yang ada di mimpimu berambut putih dan bermata putih?"
"Nama sang gadis adalah Alice." tambah Laila.
...........................................
Keheningan terjadi cukup lama, namun mereka semua paham satu hal.
Charlmilia mendesah.
"Aku tak menyangka kita memiliki mimpi yang sama."
"Aku lebih terkejut karena baru tahu tak hanya aku saja yang memiliki mimpi aneh itu."
".........aku tak menyangka kalian berdua juga mempunyai mimpi yang sama denganku."
Mereka bertiga lalu tertawa bersamaan, tapi keheningan langsung terjadi sekali lagi.
"Ada yang bisa memberikan penjelasan?" tanya Laila. "Terus terang aku tak tahu apapun mengenai hal ini."
"Aku juga sama."
"Jika kalian berdua penasaran, aku bisa memberi tahu, tapi mungkin kalian berdua lebih terkejut daripada aku."
"Serius?"
"Kau tak bercanda kan, putri Diana?"
Diana mengangguk. Setelah itu dia berdiri dan membuat Charlmilia dan Laila bingung.
"Kita pergi ke kamarku. Semua penyelidikanku tentang 'Alice's memories' ada disana."
"Alice's memories?"
Banyak pertanyaan di benak Laila. Charlmilia juga sama. Mereka berduapun akhirnya ikut berdiri dan mengikuti Diana.
Mungkin dengan begitu, mereka akan sedikit tahu petunjuk tentang mimpi itu dan siapa sebenarnya pemuda di mimpi mereka.
Aliciana Vyrl Vermillia atau Alice. Seorang putri dan keturunan terakhir kerajaan Hou. Dia dikenal baik hati dan juga dikenal sebagai salah satu penyihir paling berbahaya di zamannya karena membangkitkan sihir terlarang yaitu memanipulasi waktu.
Dia hidup disaat sebelum ada penyihir yang disebut sebagai Demon King. Itu adalah era peperangan masih terjadi antara negara dan bisa dibilang era peperangan.
Kerajaan Hou tak bisa bertahan dan kalah. Apalagi terjadi pengkhianatan yang membuat raja, ayah dan keluarga Alice tewas.
Sendirian dan tak memilki teman, Alice bertekad untuk membalas dendam atas kematian keluarganya.
Tapi meskipun bisa memanipulasi waktu, Alice dikenal cukup lemah sehingga keinginannya untuk membalas dendam kandas.
Beruntunglah berkat pemuda misterius yang dikenal dengan nama 'Shiroyasha', dia berhasil membalaskan dendamnya. Bahkan mampu menghancurkan negaranya sendiri.
Hal ini karena 'Shiroyasha' merupakan penyihir yang kuat dan dapat disamakan dengan penyihir peringkat paladin pada zanan ini.
Selain kuat, Shiroyasha dikenal sebagai penyihir misterius karena tak ada yang tahu pasti darimana dia berasal. Ada yang mengatakan dia berasal dari benua lain, tapi tak ada yang tahu pasti kebenarannya.
Setelah membalaskan dendamnya, Alice dan Shiroyasha menghilang bagai tertelan bumi. Tak ada yang tahu keberadaan mereka selama beberapa tahun.
Meskipun terjadi peperangan, namun mereka tetap tak menunjukkan diri. Banyak negara yang ingin menjadikan Shiroyasha sebagai tentaranya, tapi mereka tak menemukannya.
Suatu hari, munculah penyihir misterius yang kini disebut sebagai Demon King.
Dengan kekuatan yang maha dahsyat bagai dewa, Demon King menghancurkan dunia dengan elemen kegelapannya. Tapi yang membuat Demon King terkenal adalah memakai pedang katana putih yang sama dengan milik Shiroyasha.
Hal ini tentu membuat orang berpikir Demon King adalah Shiroyasha, tapi hal ini dibantah karena meskipun kuat, elemen sihir Shiroyasha adalah elemen angin dan bukan kegelapan.
Hal inilah yang membuat orang berpikir bahwa Shiroyasha mati di tangan Demon King, atau Shiroyasha menggunakan sihir terlarang untuk menjadikan dirinya Demon King.
Tak ada yang tahu pasti.
Tapi beberapa tahun setelah Demon King dikalahkan, ingatan tentang Alice dan Shiroyasha saat bersama menyebar ke dalam ingatan para penyihir gadis muda melalui mimpi.
Mimpi itulah yang disebut Alice's Memories.
"Aku terkejut kau menyelidikinya sampai sejauh ini." ucap Laila setelah membaca buku yang berisi data mengenai Alice's Memories. "Dengan kata lain, mimpi kita bertiga adalah kejadian saat mereka menghilang. Ahh... ini sungguh romantis dan membuatku iri..."
"Tapi apa hubungannya Shiroyasha dengan Kuro? Mungkinkah Shiroyasha adalah nenek moyang Kuro?"
Tak ada yang berani langsung menjawab karena kemungkinan itu kecil, tapi bukan nol.
"Tapi jika itu benar, berarti Kuro keturunan Demon King?"
"Laila, apa kau bodoh? Jika Kuro keturunan Demon King, pasti dia penyihir yang lebih kuat daripada kita. Kau pasti tahu alasanya kan?"
Kekuatan sihir dipengaruhi garis keturunan. Jika Kuro keturunan Demon King yang merupakan penyihir terkuat sepanjang masa, seharusnya Kuro adalah seorang penyihir dan bukan seorang Utnin.
"Ini semakin rumit."
"Ya. Kau benar, tapi meskipun bukan penyihir, kekuatan Kuro tak bisa dianggap remeh. Keturunan Demon King atau bukan, bagiku Kuro tetaplah Kuro."
"Tapi hal ini membuatku mengerti alasan kenapa Kuro mesum. Dia tak jauh berbeda dengan nenek moyangnya."
Diana dan Charlmilia mengangguk bersamaan sekaligus mendesah.
"Ngomong ngomong apa yang dilakukan tuan Kuro sekarang?"
"Entahlah. Tapi selama dia tak merayu gadis, aku akan membiarkannya."
"Jika aku menjadi dirimu, aku akan membuat Kuro kapok dengan sebuah ledakan yang besar."
Booooommmm!!
Ledakan besarpun terjadi. Mereka bahkan dapat merasakan tanah bergetar.
"Ya. Ledakan besar seperti itu pasti membuat Kuro kapok. Eh?"
Ledakan besar terjadi lagi dan lagi. Tanah juga terguncang cukup keras sehingga mereka merasakan seperti sebuah gempa bumi.
Merasakan suatu yang tak wajar, Diana langsung menggunakan sihir komunikasi. Sebuah layar mana muncul di depannya dan wajah wanita bernama Dora sedang panikpun terlihat.
"(Putri Diana... syukurlah anda aman.)"
"Dora, katakan apa yang terjadi! Mungkinkah sebuah serangan?"
"(Ya. Kita diserang oleh 100 Necrodra kali ini!)"
Mereka bertiga hanya bisa melebarkan matanya.
Di saat yang sama, pintu logam besar terbuka dari tanah sekitar kota Drageass. Meriam raksasa muncul di berbagai tempat dan mengarah ke langit yang kini berubah menjadi hitam oleh ratusan Necrodra.
Tak hanya meriam, satu persatu naga bersama Dragon Knight muncul dari tanah dan terbang di udara untuk bersiap bertarung.
Di ruang kontrol, Louis dan Draig sedang melihat kondisi luar kota melalui layar mana yang besar dan berjumlah banyak.
"Yang Mulia, kami mendeteksi tekanan mana yang besar dari salah satu Necrodra."
Mendengar laporan anak buahnya, Draig menaruh tangan di dagunya sambil tersenyum.
"Hmm... dia akhirnya menyerang dengan tangannya sendiri kah."
"Ayah..."
"Aku tahu. Kita hanya akan menggunakan 'itu' jika terpaksa."
Louis hanya tersenyum tipis.
Di tempat lain, sebuah bayangan hitam melompat terlihat bergerak dengan cepat di antara pepohonan.
Bayangan itu berasal dari seorang yang dikenal sebagai Shadow. Tujuan dia adalah untuk mengambil suatu yang berharga di Dragonia. Ini adalah taktik yang sama seperti saat berada di kota Areshia yaitu menggunakan serangan besar besaran untuk mengalihkan perhatian.
Tiba tiba dia berhenti. Berhenti karena dia melihat seorang pemuda berambut hitam sedang berdiri di depan sebuah pohon yang berusia ratusan tahun.
Di sekitar pohon itu berbagai bunga warna warni tumbuh subur dan indah bagai surga kecil di tengah hutan.
"............"
Kuro membuka matanya. Membuka mata yang kini salah satunya berubah menjadi warna putih. Tak hanya itu, dari mata putihnya air mata darah mengalir deras bagai sungai.
Di atas Kuro, banyak bayangan gelap lewat dengan kecepatan tinggi menuju kota Drageass. Kuro tahu apa yang terbang itu, tapi dia masih terdiam di tempat dan tak peduli.
Di atas salah satu Necrodra, seorang pria kekar yang tubuhnya kini dipenuhi polah hitam menyeramkan yang merupakan Deon Dfira membuka matanya karena menyadari keberadaan Kuro di bawahnya.
Yang tak dia mengerti, kenapa Kuro diam saja?
Deon tak ingin memikirkannya. Bagi dia, jika Kuro menghalangi, dia hanya perlu membunuhnya. Sayangnya, pedang yang berada di tangannya bereaksi terhadap Kuro.
".........mari kita mulai... pertarungan untuk menentukan nasib dunia ini, King!"
Deon tak tahu kenapa dia berkata seperti itu. Tapi dia tahu Skullia Cristal yang kini sudah hampir menguasai tubuhnya tampaknya mempunyai keinginan tertentu yang dia tak mengerti.
Deon mengangkat pedangnya ke atas. Lalu kristal hitam keunguan bersinar terang menyebar ke segala arah bagai sinar mentari hitam.
"Aku memanggil kalian para naga yang berasal dari kematian untuk membantuku menghancurkan!"
Satu persatu Necrodra bangkit dari tanah. Sebagian besar terbang, tapi ada yang berjalan menuju ke kota Drageass.
Jumlah Necrodra kini sekitar 250an. Dan ini merupakan awal pertempuran terakhir untuk menentukan nasib dunia.
.......mungkin.
__ADS_1