Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Duel


__ADS_3

"Kau pasti tahu kak Kuro adalah orang yang menyiapkan rencana cadangan. Dia juga selalu berpikir 5 langkah kedepan. Karena itulah dia begitu kuat, cerdas dan tak mudah dikalahkan. Kedua pedang ini juga terlahir dari pemikiran kak Kuro yang seperti itu."


"....pedang cadangan kah..."


Pedang Kuro hanya ada satu di dunia. Pedang itu terbuat dari Shirium yang bahkan tak berasal dari dunia mereka. Pedang putih itu juga tak hanya merupakan pedang yang sama yang dipakai Demon King, namun juga disebut sebagai pedang terkuat, Sword of Swords atau Sword of King.


Jika kehilangan pedang itu maka Kuro akan kehilangan senjata utamanya. Ini sangat normal jika orang seperti Kuro akan menyiapkan satu atau dua pedang lagi.


"Ya, tapi kau salah jika berpikir pedang ini sama dengan pedang yang selalu kak Kuro gunakan."


Yui mengalirkan mana miliknya ke salah satu pedang. Pedang itu perlahan berubah menjadi biru. Disaat yang sama Yui mengalirkan Ki ke pedang lainnya. Dan hasilnya pedang itu memancarkan aura putih.


"!"


"Ah.. kak Laila pasti tahu pedang lama kak Kuro mempunyai kemampuan khusus untuk memaksimalkan kekuatan ki, tapi kedua pedang ini lebih dari itu. Kenapa kak Laila tak mencobanya sendiri?"


Yui mengubah postur tubuhnya untuk bersiap bertarung.


Laila ingat itu adalah posisi yang selalu Kuro pakai sebelum bertarung. Kuda kuda yang sempurna dan pedang putih yang bersiap menebas lawan mereka.


"..begitu rupanya... kau sudah merencanakan hal ini sejak awal, Yui."


Yui tersenyum membenarkan.


"Benar sekali. Kak Laila selalu bertarung bersama kak Kuro karena itulah kau tahu betul kekuatan dia seperti apa. Dia lebih kuat daripada orang yang pernah kita lihat, dia berjuang keras lebih keras daripada orang lain yang kita kenal. Karena itulah kita mencintainya, tapi disaat yang sama-"


Yui tiba tiba menghilang dan muncul tepat di depan Laila. tatapan hangat Yui menghilang menjadi tatapan dingin.


"!"


"..kau pasti pernah berpikir 'kenapa aku begitu lemah?' benarkan?"


Yui tanpa ragu menyerang Laila. Cepat, mata Laila bahkan tak bisa mengikuti gerakannya. Tapi dia tahu siapa yang mempunyai gerakan lebih cepat daripada siapapun.


Meskipun matanya tak bisa mengikuti, namun dia berhasil menahannya dengan menciptakan Scarflare di kedua sisi tubuhnya. Semua ini tak bisa dia lakukan jika dia tak tahu pola serangan yang selalu Kuro gunakan.


Lalu dengan Scarflare di tangannya, dia membalas serangan. Tentu berhasilnya Yui menghindar bukanlah suatu yang mengejutkan bagi Laila.


Yui mundur dan kembali menjaga jarak. Saat menyentuh tanah, kakinya begitu halus bagai bulu.


"Aku benar benar terkejut, tidak, kurasa wajar kak Laila bisa melihat seranganku. Kau sudah terbiasa dengan kecepatan kak Kuro."


"Tapi meskipun aku bisa menebaknya, aku tak bisa melakukan serangan secepat itu. Aku juga tahu kalau kau belum sungguh sungguh. Seperti yang kau bilang, aku lemah."


Yui tiba tiba mendesah. Dia terlihat kecewa karena mendengar suatu yang tak dia harapkan.


"Kau bilang ingin melanjutkan pertarungan di antara kita, namun kau membuatku kehilangan semangat. Selain itu aku benci saat mendengar seseorang mengatakan dirinya lemah. Kurasa aku tak perlu turun tangan untuk mengalahkanmu. Aquos, bermain mainlah dengan kak Laila."


Nyaaa!! Kucing kecil muncul dan membalas dengan riang. Kucing itu lalu berlari ke arah Laila dengan kecepatan penuh.


"?"


Meskipun Aquos merupakan magic beast, namun Laila tak merasakan aura membunuh darinya. Ini berbeda dari yang selalu Laila rasakan. Selain itu, Aquos terlihat manis. Dia jadi tak tega melukainya.


Aquos melompat dan bersiap mencakar Laila. Cakarnya bercahaya tanda mana terkumpul di satu titik.


"Sial!"


Laila merasakan bahaya dan menghindar dengan melompat ke samping. Disaat itulah rambutnya terpotong oleh benda tajam yang tak terlihat. Dan setelah itu, dinding di belakang Laila tiba tiba terdapat bekas cakaran yang besar.


Mata Laila melebar karena tak percaya dengan apa yang dia lihat. Serangan dari seekor magic beast berukuran kecil saharusnya tak memiliki kekuatan sebesar itu.


"Ah.. aku lupa bilang. Wujud Aquos yang saat ini di depanmu bukanlah wujudnya yang sebenarnya. Aku hanya lebih suka jika wujud Aquos seperti kucing kecil yang imut..., jadi aku minta jangan tertipu dengan penampilannya."


Laila melebarkan matanya. Dia tahu tipe Contractor bisa mewujudkan magic beast miliknya dengan ukuran tertentu sesuai dengan keinginan mereka, namun sebagai akibatnya kekuatan yang dimiliki magic beast tak akan bisa maksimal.


Tapi Aquos justru kebalikannya. Mungkin ini adalah hasil dari latihan yang dilakukannya bersama dengan Kuro.


Yui tersenyum kecil.


"Magic Art yang kugunakan disebut [Reverse], ini bukan teknik yang spesial. Bukankah ini seperti kekuatanmu, kak Laila?"


Wujud magic arm Laila berjumlah tak terbatas, namun dia hanya bisa menggunakan beberapa saja secara maksimal. Reverse mempunyai prinsip mengunakan sedikit demi sedikit dari kekuatan penuh magic beast dan mengeluarkannya di waktu dan di tempat yang tepat.


Sekilas terlihat mudah, tapi teknik ini lebih sulit dari sihir yang dilakukan oleh peringkat Master.


Laila menghindar serangan Aquos dengan gerakan lincah dan sesekali menyerang. Tubuh kecil dan gerakan yang lebih cepat daripada kucing biasa membuatnya kesulitan. Dia sadar magic beast milik Yui jauh dari normal.


"[Flame Rain]"


Dari langit muncul api yang membentuk seperti anak panah dalam jumlah besar. Anak panah itu terjatuh dengan kecepatan tinggi menyerang Aquos.


Suara ledakan mengikuti. Asap mengepul menutupi pandangan di antara mereka.


"Menyerang dengan jumlah kah... bukan keputusan yang buruk."


Asap menghilang. Aquos terlihat dengan tubuh yang tertembus beberapa anak panah api.


Dia berhasil. Salah satu kelemahan magic beast ialah meskipun tubuh mereka terbuah dari sihir, tapi tubuh mereka tak lebih kuat daripada tubuh yang terbuat dari darah dan daging. Namun bukan berarti tak ada pengecualian, yaitu tipe magic beast dengan tubuh sekeras baja.


"Tapi kau seharusnya tahu kalau aku penyihir berlemen air, dan setiap penyihir air mempunyai sebuah ciri khas yang unik, yaitu mereka hampir semuanya memiliki kemampuan meregenerasi. [Regenerate]"


Dalam sekejap tubuh Aquos kembali seperti semula.


Pertarungan kembali ke titik awal.


"Kuh.. kau benar benar kuat, Yui."


"Terima kasih, namun jika bersungguh sungguh seharusnya kau bisa mengalahkan aku, kak Laila"


"Jangan bercanda. Namun harus aku akui pertarungan ini membuatku bersemangat."


Laila menggunakan Burning Dash untuk mempercepat gerakannya. Dia mempercepat serangannya untuk menghancurkan Aquos.


Tak kalah dengan Laila, Aquos memanfaatkan tubuhnya yang kecil dan menambah kecepatannya untuk menghindari setiap serangan Laila.


Laila tak menyerah. Dia sekali lagi menggunakan Flame Rain untuk menyerang Aquos, tapi Aquos berhasil menghindari serangannya dengan melompat jauh ke belakang. Sayangnya itu sudah diduga Laila. Dia menciptakan beberapa Scarflare di sekitar Aquos dan menyerangnya.


Aquos pun akhirnya musnah setelah terpotong menjadi beberapa bagian.


Setelah mengalahkan Aquos, Laila menghunuskan pedangnya ke arah Yui.


"Yui, apa maksud dari pertarungan ini?"


Jika mereka ingin menentukan siapa yang terkuat, Yui tak perlu menahan diri. Selain itu dengan kemampuan yang ditunjukan pedang cadangan Kuro, seharusnya pertarungan bisa lebih sengit.


"Kenapa kau bertanya? Kau seharusnya sudah tahu kenapa aku tak berminat bertarung denganmu saat ini, kak Laila."


Sekali lagi Aquos muncul di dekat Yui, tapi Aquos tak dalam posisi siaga. Aquos justru naik ke kepala Yui dan tidur.


Sifat dan perilaku magic beast mencerminkan apa yang dipikirkan pemiliknya. Perilaku Aquos menunjukkan tak ada niat bertarung dari Yui.


"...Yui?"


"Kak Laila yang kutemui saat pertama kali bukanlah seperti ini. Dia memang tak terlalu sensitif dengan orang di sekitarnya, namun dia lebih tak sensitif dengan perasaanya sendiri. Dia sedikit bodoh, namun ketika membuat keputusan, dia tak akan pernah menarik keputusannya. Dia seseorang yang pantas disebut aneh karena aku bisa kalah dengannya dalam hal merebut cinta kak Kuro Huuuu... ini menyedihkan."


"Tu-Tunggu sebentar, aku yang kau hina di sini. Bukankah seharusnya aku yang menangis?"


Laila protes, namun Yui mengabaikannya.


"Dan kenapa kau menyebutku aneh? Aku tak seaneh adik yang menyukai kakaknya sendiri (meskipun tak sedarah), tapi aku tak mengerti apa hubungannya dengan pertarungan ini?"


Yui hanya menunjukan tatapan dingin.


"..kau sudah tahu hubungan dengan pertarungan ini. Jika kau tak sadar juga, maka aku dengan senang hati menyadarkanmu dengan paksa."


Tekanan mana Yui meningkat, namun tekanan mananya terasa dingin dan penuh haus darah. Yui serius.


"Bodohnya aku karena berpikir kau akan segera sadar..."


"!"


Yui menghilang. Dalam sekejap Yui muncul di belakang Laila dengan tangan yang bersiap menebas Laila menjadi dua.


Laila tahu tak bisa menghindar, dan dia tahu harus menerima akibatnya.


Darah menyebar ke lantai.


"Ara ra.. kau memang membuatku terkejut, kak Laila"


"Kuh.."


Laila memegangi luka sayatan yang cukup dalam. Darah terus menetes dari lukanya.


(Jika aku tak melakukan itu, aku sudah mati. Yui benar benar ingin membunuhku.)


Laila menancapkan Scarflare ke lantai untuk menopang tubuhnya. Keringat mengalir deras dari tubuhnya dan dia terengah engah karena kelelahan.


"Disaat terakhir kau menggumpulkan mana dalam jumlah besar dalam satu titik untuk menahan tebasanku. Itu bukan keputusan yang salah. ...tapi jika yang kau hadapi merupakan penyihir yang hanya bisa menggunakan sihir saja, mungkin aku tak mungkin bisa melukaimu."


Yui tak hanya cepat, namun dia juga penyihir yang menggunakan ki. Selain itu dia memakai pedang yang bisa memaksimalkan sihir dan ki. Tak diragukan lagi dalam hal kekuatan, Yui lebih unggul.


"Selain itu seharusnya kau tahu apa yang terjadi jika melakukannya. Lihat, kau bahkan sudah merasakan efeknya."


"Tsk.."


Tubuh Laila kelelahan. Tak hanya itu, dia menghabiskan sebagian besar mana miliknya untuk menahan serangan Yui. Sekarang dia tak bisa menggunakan serangan mematikan seperti Sacred Magic Art.


Tidak, meskipun bisa, Sacred Magic Art miliknya tak akan mengenai Yui.


Bisa dibilang sejak awal pertarungan ini lebih menguntungkan Yui karena dia spesialis dalam kecepatan dan teknik seperti Kuro. Yui bukan lawan yang cocok untuk Laila.

__ADS_1


"Heh heh he.. aku bisa menyembuhkan lukamu, tapi kurasa aku akan melakukannya disaat terakhir saja. Aku tak ingin kak Kuro membenciku karena membunuhmu. ...Sekarang sudah cukup istirahatnya. Angkat pedangmu dan bertarunglah. Luka yang kau alami hanya luka gores jika dibandingkan dengan luka yang dialami olehku dan kak Kuro selama ini."


Luka. Laila tahu luka yang dimaksud bukanlah luka sayatan karena sebuah pertarungan. Tapi luka di dalam hati yang tak terlihat oleh mata. Luka yang tak mudah sembuh meskipun menggunakan obat paling mujarap di dunia.


"Kuh.."


Laila mengumpulkan tekadnya dan bangkit. Dia menggunakan semua kekuatan yang tersisa untuk menghunuskan pedangnya dan bertarung.


"..jika luka yang kau maksud adalah luka saat kehilangan orang yang berharga bagimu, maka aku juga pernah mengalaminya. Jadi jangan bilang seolah aku tak paham dengan apa yang kalian rasakan."


"...."


Yui hanya terdiam dan ikut menghunuskan pedangnya. Kali ini dia mengalirkan ki di kedua pedang putih di tangannya.


Dia lebih serius daripada yang sebelumnya.


Laila tahu itu.


Mata yang terpancar dari Yui adalah mata seroang yang sudah mengambil jalan kegelapan. Seorang pembunuh. Dan seorang yang akan mengorbankan segalanya demi tujuan mereka.


Mata yang menyedihkan. Mata yang sama seperti milik Kuro.


(Aku ingin menjadi cahaya bagi kalian semua. Karena itulah aku tak boleh kalah.)


Tapi bagaimana? Dalam segi kekuatan, Laila mungkin lebih unggul, namun sebesar apapun kekuatan yang dia miliki tak akan ada pengaruhnya selama dia tak mengenai Yui.


Dia sudah lama menyadari kelemahannya di pertarungan yang pernah dia lewati.


(Sudah kuduga, cepat atau lambat aku memang harus menggunakan sihir itu... Padahal sebenarnya aku ingin menggunakannya di saat genting saja, namun.. )


Ini saat yang genting. Ini saat yang tepat untuk mengunakannya.


Jika kalah dari adik tirinya, dia bisa dibilang tak pantas bersama Kuro. Itu lebih menusuk dari hinaan apapun yang pernah dia terima.


"Kak Laila, mungkinkah kau sudah mulai serius? Aku bisa melihat itu dari matamu. Hm.hmm.. mungkinkah kau sudah memiliki magic art khusus?"


Laila tersenyum.


"Entahlah, namun sudah kuduga aku tak ingin kalah darimu, Scarflare, Starflare"


Satu persatu muncul Scarflare di sekitar Laila. Jumlahnya terus bertambah hingga mencapai ratusan. Semuanya dalam posisi siaga dan bersiap untuk Laila gunakan.


"Wow.. aku kagum. Kau masih bisa menggunakan semua magic arm milikmu dengan jum- eh?"


Yui sadar kalau tekanan mana Laila sama sekali tak berkurang meskipun mewujudkan Scarflare dalam jumlah besar. Dari sudut pandangnya, ini tak normal. Sangat tak normal.


"Kau tahu Scarflare sedikit unik. Jumlahnya yang mencapai ribuan satu lebih membuatku bisa memanggilnya hingga tak terhingga, tapi bukan hanya itu saja keunikan Scarflare. Bisakah kau menebaknya?"


Tatapan Yui mulai berubah. Dia sadar inilah kekuatan Laila yang sebenarnya.


Mewujudkan sebuah magic arm atau magic beast, itu artinya seorang penyihir menggunakan sebagian besar mana yang dia miliki. Besarnya mana yang dikeluarkan juga tergantung wujud magic arm dan magic beast tersebut.


Inilah yang membuat seorang penyihir hanya bisa mewujudkan magic beast atau magic arm paling banyak 3-5 kali secara berurutan.


Tapi Scarflare merupakan sebuah magic arm yang berjumlah tak terbatas, namun disaat yang sama mereka hanya satu. Dengan kata lain, mewujudkan Scarflare dalam jumlah banyak tak akan terlalu mengurangi jumlah mana Laila. Dia hanya mewujudkan Scarflare satu kali saja.


"Lalu... apa kau akan menyerang dengan semua pedang itu seperti yang kau lakukan terhadap Aquos?"


Aquos di kepala Yui menunjukan tatapan penasaran.


"Haha... kenapa kau tak melihatnya sendiri, ..Yui. [Re:Break]"


"?"


Lima Scarflare perlahan menghilang. Yui masih belum mengerti apa yang terjadi, namun dia merasakan tekanan mana Laila kembali meningkat. Tak hanya itu, berbeda dengan sebelumnya, mana di tubuh Laila juga berubah.


"Yui, kali ini aku akan menggapaimu. Tak hanya dirimu, namun aku juga akan menggapai Kuro. Aku memang belum mengerti apa yang kau maksud, tapi satu hal yang harus kau tahu. Aku akan melindungi apa yang berharga bagiku dengan apa yang kumiliki. [Flame burst]"


Dalam sekejap Laila menghilang. Dia muncul di depan Yui seperti yang Yui lakukan sebelumnya. Ya. Kecepatan Laila meningkat dengan pesat.


Yui menahan  serangan dengan menyilangkan pedang. Tak hanya cepat, tapi juga berat.


(Begitu rupanya. Scarflare yang menghilang bukan karena kehilangan jumlah mana, namun ini justru kebalikannya. Dia meningkatkan mana dalam dirinya dengan mengorbankan Scarflare. Ya ampun, kau sungguh mengerikan, kak Laila.)


Yui kagum karena Laila bisa menggunakan sihir yang tak bisa dilakukan oleh penyihir manapun.


"!"


Satu hal yang mengejutkannya adalah serangan Laila memiliki kekuatan yang lebih kuat dari miliknya.


Yui tersenyum. Dia akhirnya mendapatkan perlawanan yang setara.


Pertarungan kecepatanpun terjadi. Sosok keduanya menghilang dan muncul di berbagai sudut ruang latihan. Mata biasa tak akan bisa mengikuti mereka. Mereka sudah berada di level yang melampaui kata biasa.


Suara pedang beradu dan percikan api terlihat. Dinding penuh goresan dan terbakar oleh api Scarflare.


Mereka terlihat seimbang, namun meskipun seimbang, tak butuh waktu lama hingga keseimbangan mulai runtuh.


"Kuh!"


"Tidak buruk. [Aqua Shadow]"


Wujud Yui tiba tiba menjadi dua. Keduanya menyerang di saat bersamaan.


Laila tahu yang satu merupakan ilusi yang memanfaatkan gerakan berkecepatan tinggi untuk menciptakan sebuah bayangan. Laila harus bisa mengetahui Yui yang asli sebelum serangan Yui mengenainya.


"[Re-Break]"


Tujuh Scarflare kembali menghilang dan disaat yang sama mana Laila kembali bertambah. Dia menggunakan mana yang bertambah untuk menambah kecepatannya dan menyerang dua wujud Yui secara bersamaan.


Salah satu Yui menghilang, sedangkan yang tersisa menahan serangan Laila dengan menyilangkan kedua pedang putih di tangannya. Tapi meskipun berhasil menahan, namun tubuh Yui terdorong ke belakang karena kalah kekuatan.


Tubuh Yui akhirnya terpental ke dinding dan membentur dengan keras.


Untuk pertama kalinya serangan Laila berhasil mengenai Yui. Laila menggapainya.


"Kh!!"


Tapi Laila harus menerima bayaran akibat menggunakan kekuatan yang besar. Darah mengalir deras dari lukanya. Sakit menjalar di seluruh tubuhnya. Tubuhnya berteriak dan seolah bisa hancur kapan saja.


Magic art [Re-Break] yang Laila gunakan merupakan sihir yang mengorbankan magic arm miliknya Scarflare untuk diubah dalam bentuk mana. Mana itu kemudian Laila gunakan untuk menambah mana yang hilang atau untuk menambah kekuatan serangannya.


Re-Break mempunyai prinsip yang sama saat Laila mengorbankan Scarflare untuk membuat Sacred Magic Art [Meteor Cannon Blade], namun dia menggunakannya kepada tubuhnya. Dan hasil dari penggunaan mana dalam jumlah besar itulah yang membuat tubuh Laila seperti sebuah kaca yang rentan rusak.


Dia terlalu awal menggunakannya. Dia tahu tubuhnya belum mampu menahan mana miliknya,-


Tapi dia tak bisa menyerah sebelum mengalahkan Yui.


"Sekali lagi [Re-Break]"


Dia mengorbankan sepuluh Scarflare dan sekali lagi mana Laila meningkat pesat.


Sementara itu, Yui keluar dari dinding yang membelenggunya. Darah keluar dari mulutnya dan dia muntahkan ke lantai.


Serangan Laila cukup kuat untuk melukainya, namun itu bukan luka yang berat.


"...dengan jumlah mana sebesar itu, kau bisa menciptakan magic art apapun yang kau mau. Kau memang pantas mendampingi, kak Kuro. Satu hal yang tak ku mengerti adalah kenapa kau begitu lemah?"


Laila tersenyum kecil.


"Entahlah... mungkin karena sejak kecil aku tak pernah melatih sihirku secara khusus atau melatih tubuhku untuk bisa menguasai ki seperti dirimu. Aku sering meminta orang tuaku untuk mengajariku, namun mereka tak pernah mau. Bahkan kakakku sendiri menolakku. Jujur saja, aku tak mengerti kenapa mereka memperlakukanku seperti itu..."


Yui sadar telah melakukan sebuah kesalahan.


"Jika aku berlatih seperti kalian, mungkinkah aku bisa sekuat kalian? Aku mungkin juga tak akan kehilangan Lic dan berhasil melindunginya. Aku tak akan pernah menjadi beban dalam pertarungan Kuro. Selama ini aku terus memikirkan hal itu."


Kekuatan yang Laila miliki masih bisa dibilang prematur. Tak mengherankan jika semua serangannya memiliki pola serangan yang mudah dibaca dan ditahan. Meskipun serangan Laila mulai lebih bervariasi, namun bagi seorang yang menghabiskan waktunya dalam medan pertempuran kekuatan Laila masih seperti anak yang baru lahir.


Tapi bukan itu yang menjadi masalah...-


"...aku mengerti kak Laila. Kekuatan yang kau miliki saat ini adalah hasil dari kerja kerasmu sendiri. Aku mulai merubah sudut pandangku tentangmu. Kupikir kau hanyalah perayu yang mengandalkan dada besarmu, namun kau benar benar luar biasa."


"Bisakah kau tak menyangkut pautkan dadaku?"


Yui mengabaikan protes Laila.


"...tapi ada satu hal yang harus kau mengerti. Tidak, pertama izinkan aku bertanya kepadamu. Kau pikir kenapa kak Kuro menjadi kuat? Kenapa dia menjadi seperti sekarang ini? Sebagai kekasih yang selalu bersamanya seharusnya kau tahu."


Ya. Dia tahu. Karena itulah dia tak perlu ragu menjawabnya.


"Itu karena Kuro tak ingin kehilangan lagi sesuatu yang berharga baginya. Aku mengerti apa yang dia rasakan setelah aku kehilangan Lic. Meskipun dia hanyalah sebuah spirit, namun aku merasa sedih saat kehilangannya."


"..."


"Bagi kalian yang pernah kehilangan orang yang lebih berharga, keluarga kalian, teman dan orang yang kalian cintai. Jika dibandingkan lukaku, mungkin lukaku tak seberapa. Namun setidaknya tahu bagaimana rasanya untuk tak ingin kehilangan sesuatu yang berharga lagi."


Laila menjawab dengan penuh ketulusan. Dia mengatakan apa yang ada di hatinya tanpa mengurangi satu patah katapun.


"..itukah jawabanmu?" Yui tertawa kecil. "Sayangnya, ...apa kau tahu saat aku menanyakan hal yang sama kepada kak Kuro, apa jawaban yang kudengar?"


Laila mendapatkan firasat buruk.


"'Aku menjadi kuat untuk melindungi apa yang berharga bagiku dan yang tersisa dariku. Mungkin aku akan kehilangan mereka suatu saat nanti, namun selama nafas ini masih ada, aku akan melakukan yang terbaik. Tak peduli apakah aku akan dibenci, ditakuti, dikagumi atau bahkan dipanggil Demon King. Aku akan menerima semua itu dengan senang hati tanpa ada rasa penyesalan.' Kau tahu, setelah mendengar itu, apa yang aku rasakan?"


Tekanan mana Yui meningkat. Di saat yang sama tekanan Yui berubah dari yang sebelumnya.


"Aku tak hanya mengerti kenapa setiap orang ingin menjadi kuat, namun aku juga mengerti pentingnya sebuah pengorbanan. Dari keinginan kuat dan pengorbanan. Itulah wujud dari Cursed Art...."


Tekanan mana Yui semakin besar dan terus membesar. Pedang putih di kedua tangannya penuh dengan aura besar dan tajam. Lantai hancur menjadi kepingan. Udara berhembus kencang bagai badai dengan Yui sebagi pusatnya.


Dia telah menggunakan Cursed Art. Namun Laila tak tahu seperti apa Cursed Art yang dimiliki Yui.

__ADS_1


"Kau bilang kau tak ingin kehilangan yang berharga lagi, maka buktikanlah dengan dengan kekuatanmu. Bertarunglah. Menanglah! Jadilah pemenang yang mampu melindungi orang yang berharga bagimu. Tak peduli apakah itu Cursed Art maupun Sacred Art, semua itu adalah dirimu."


Mata yang penuh dengan tekad. Mata itu tak lagi milik seorang yang penuh kegelapan, namun seorang pejuang.


(Jika aku kalah, aku memang tak pantas berada di sisinya. Terima kasih, Yui. Aku merasa beban di pundakku berkurang.)


Tak ada alasan untuk menahan diri lagi. Dia akan mengerahkan semuanya sekaligus.


"[Re-Break...]"


Satu persatu Scarflare menghilang. Semuanya kembali ke Laila. menjadi sumber kekuatan yang menjawab keinginan Laila.


Perlahan tekanan mana Laila terus meningkat seiring banyaknya Scarflare yang menghilang. Tapi disaat yang sama rasa sakit semakin bertambah.


(Ini tak seberapa jika dibandingkan dengan penderitaan Kuro. Aku tak akan kalah.)


Laila ingat apa yang dikatakan Aldest kenapa Kuro tak segera bangun setelah mengalahkan Lucifer dengan God Reaper.


Tubuh Kuro tak bisa menahan kekuatan besar yang dia pakai. Tapi jika tak memakainya, semua yang berharga baginya akan mati. Demi itu, dia rela menahan rasa sakit bagaikan neraka.


Rasa sakitnya hanya seujung kuku jika dibandingkan dengan luka Kuro.


-dan akhirnya area latihan dipenuhi oleh dua aura besar yang saling beradu satu sama lain.


"...."


"...."


Keduanya membentuk posisi kuda kuda masing masing dan mengerahkan semuanya dalam satu kali serangan.


Lalu dalam sekejap, semuanya terjadi. Keduanya beradu pedang yang terbuat dari tekad dan kekuatan mereka.


Ledakan besar terjadi. Cahaya menelan semuanya dan menghancurkan segalanya. Yang tersisa hanyalah dua sosok terlihat setelah cahaya menghilang.


"..ha.. ha .  Ha....."


"...."


Pakaian mereka compang camping dan hancur. Keduanya bahkan bisa telanjang bulat jika pakaian mereka sedikit lagi hancur.


"....Kau benar benar kuat, kak Laila"


Yui tersenyum dengan puas. Lalu setelah beberapa saat diapun tumbang dengan kedua pedang putih di tangannya.


"....tidak, kau yang lebih kuat, .....Yui"


Tak butuh waktu lama hingga Laila tumbang. Sementara itu perlahan Yui kembali bangkit dengan menggunakan dua pedang putih sebagai tongkat.


Yui mendesah kecil dan memeriksa luka yang dia terima dengan menggunakan ki.


(Beberapa tulangku patah dan tubuhku mengalami stress di semua tempat. Butuh waktu lama untuk kembali pulih seperti semula.)


Setelah memeriksa tubuhnya, dia mendekat ke Laila yang tumbang.


"Jika aku tak membuat kontrak dengan Emera, mungkin aku akan mati menerima serangan tadi. Kak Laila, kau memang yang paling pantas di sisi kak Kuro. ...Aquos."


Sekali lagi magic beast Yui muncul. Namun tak berwujud kucing kecil yang manis, namun lebih menyerupai singa betina dengan garis di tubuhnya. Di berbagai tempat tubuh Aquos dipenuhi oleh aura biru yang menyerupai air bergerak.


"Kumohon sembuhkan dia."


Aura biru keluar dari mulut Aquos menuju tubuh Laila yang tergeletak. Itu adalah magic art yang disebut Breath of Life


Perlahan luka dan memar di tubuh Laila menghilang. Menyembuhkan luka merupakan kemampuan yang dimiliki sebagian besar penyihir air. Namun Yui telah membuat kontrak dengan Dragon King, hal itu membuatnya memiliki kemampuan menyembuhkan lebih baik dari penyihir biasa.


Dengan kemampuannya, menyembuhkan luka Laila yang cukup parah merupakan hal kecil.


"!?"


Tapi sesuatu tiba tiba terjadi.


Tubuh Laila perlahan bangkit seperti mayat hidup. Dari tubuhnya terpancar aura hitam yang menakutkan.


Aura itu terus bertambah dan membesar. Aquos yang menyadari dalam bahaya akhirnya menuju sisi Yui dan mendampinginya.


"Kak Laila?"


Tanpa dia sadari, tubuhnya melangkah ke belakang dengan sendirinya. Itu adalah ketakutan yang sudah lama tak dia rasakan kecuali saat melihat Kuro marah kepadanya.


"..A...ku... aa..kan me...na..ng.."


"?!"


Tatapan laila menjadi kosong, namun bukan itu yang mengejutkan Yui.


Mata Laila berubah menjadi hitam kelam. Tak hanya itu, rambut emasnya juga perlahan menjadi hitam kelam seperti kegelapan.


(Gawat gawat. Apa yang sebenarnya terjadi? Tekanan mana ini bukanlah tekanan mana biasa.)


Yui berkeringat dingin. Dia merasakan adanya bahaya jika hal ini terus di biarkan.


"Scar....flare..."


Scarflare muncul menuruti panggilan tuannya. Namun tak seperti Scarflare yang berwarna merah terang seperti api yang membara, Scarflare di tangannya berwarna hitam kelam yang memancarkan aura hitam menakutkan.


Wujud Scarflare yang berubah juga merupakan firasat buruk yang menjadi kenyataan.


"Tak ada pilihan lain. [Aqua Breath]"


Aquos menembakan serangan sihir ke arah Laila. Tapi sebelum menyentuh Laila, sebuah Scarflare menghalanginya dan menahan serangan Yui. Tidak, daripada menahan, lebih tepat jika menetralkan.


"Apa?"


Dan yang membuat Yui terkejut, Scarflare yang menahan serangannya berubah menjadi biru dan memancarkan aura yang sama.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Laila mungkin tak sadar, namun kekuatan yang dia tunjukkan begitu mengerikan.


"Kuh.. aku harus menghentikannya sebelum semua ini lebih gawat."


"Kau tak perlu melakukannya, Yui."


Tak disangka, Kuro muncul di depannya dan menghadang Laila.


Seperti biasa Kuro datang tiba tiba seperti hantu. Tidak, dia pembunuh. Datang tiba tiba suatu yang wajar.


"Aku yang akan menanganinya. Tunggu di situ dan jangan bergerak."


Perlahan Kuro mendekati Laila yang penuh dengan aura kegelapan.


Scarflare hitam muncul di udara dan menyerang Kuro. Dengan gerakan minimal, Kuro menghindari semuanya dengan mudah. Wajar jika Kuro bisa melakukannya, namun yang tak wajar adalah Laila akan menyerang orang yang dia cintai.


Tak diragukan lagi, Laila sudah kehilangan kendali. Dan hanya ada satu orang yang bisa menghentikannya.


"Laila, sudah cukup."


Kuro akhirnya sampai dan memeluk Laila dengan erat. Scarflare tak membiarkannya dan berniat menyerang Kuro dari berbagai sudut, namun tiba tiba semua Scarflare menghilang.


"Ku...ro, apakah... aku suda..h ...mela...-"


"Ya. Aku tahu kau melakukan hal yang terbaik lebih dari siapapun. Beristirahatlah."


Laila menatap Kuro dan tersenyum. Disaat itulah Laila kembali seperti semula. Berambut emas dan memiliki mata bagai ruby yang indah.


Lailapun akhirnya tertidur pulas di pelukan Kuro.


".....kak Kuro, sebenarnya.. apa yang terjadi dengan kak Laila....?"


"..jujur saja, Yui. Aku tak tahu..."


💠💠💠


Kegelapan yang hanya terlihat. Cahaya kecil datang dari celah jendela yang hancur memperlihatkan mayat mayat yang penuh dengan noda darah dan hancur.


Seorang pria tua duduk di salah satu bangku yang masih tersisa dengan santainya sambil melihat sebuah buku catatan kecil. Beberapa nama tertulis dan di antaranya sebuah coretan tanda pekerjaan sudah terlaksana.


"...disini juga tidak kah... Tuan muda pasti akan memarahiku jika tak menghasilkan sesuatu."


Boris mengambil pena di sakunya dan mencoret nama terakhir di daftarnya.


Dia mendesah dalam. Dia kecewa karena meskipun bekerja keras dan membunuh banyak orang, namun dia tak menemukan apa yang dia cari.


Dia lalu berdiri dan berniat keluar dari tempat yang memuakkan itu. Namun disaat itulah ada sebuah benda yang menarik perhatian Boris. Apa lagi pengalamannya membuat dirinya tahu kalau sesuatu yang terlihat bukan berarti menunjukkan hal yang sebenarnya.


"Hologram kah... aku tak menyangka hal sederhana itu bisa menipuku."


Sebuah cipratan darah memenuhi dinding, namun ada beberapa cipratan yang menghilang. Keanehan yang bisa ditemukan dengan mudah.


Boris mendekat dan menghancurkan dinding palsu dengan pukulan ringan. Seperti yang dia duga, itu sebuah pintu tersembunyi.


Dia lalu menelusurinya dan menemukan beberapa ruangan. Seperti kebanyakan organisasi pada umumnya, mereka memiliki ruang untuk berkumpul. Tapi organisasi yang Boris hancurkan saat ini adalah organisasi agama yang memuja sang Holy Maiden Maria.


Organisasi yang memuja Holy Maiden Maria cukup banyak di kekaisaran Houou. Sebagian besar merupakan organisasi yang bertujuan baik, namun ada juga yang menjadi kelompok ekstrim sehingga menimbulkan keresahan.


Organisasi itu hanyalah salah satunya.


"?"


Boris membuka pintu dan melihat apa yang di dalamnya. Dia melihat sebuah patung yang menyerupai Holy Maiden Maria di tengah altar pemujaan.


Tapi dia menemukan suatu yang lebih menarik perhatiannya, yaitu sebuah lukisan di dinding ruangan.

__ADS_1


".....ini kan....."


Dia seorang pembunuh kejam. Jarang ada yang membuat dirinya takut, namun apa yang dia lihat melebihi sebuah kematian.


__ADS_2