Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Witch Reaper


__ADS_3

Laila terkejut dan kehabisan kata katanya.


Wajah dan telinganya merah padam karena malu dan tak menyangka semua orang akan melihat celana dalamnya. Laila lalu dengan cepat menutup roknya dan menoleh ke arah Yui.


Tapi Yui sudah tak ada di sampingnya dan sudah berada di samping Jinn. Yui bahkan berpura pura tak melihat Laila.


""Wanita mesum!!!""


Tanpa Laila sadari, Alva dan Alvi mengutuk Laila dari tempat mereka.


Dengan wajah memerah bagai tomat matang, Laila langsung kembali ke tempat dia menonton.


"Yui, kenapa kau melakukan itu?"


Laila bahkan hampir menangis. Ini merupakan salah satu kejadian paling memalukan dalam hidupnya.


Yui menoleh ke arah Laila dengan wajah polos, lalu berkata:


"Kak Laila apa maksudmu? Jika kau ingin menyalahkan, salahkan angin yang meniup rokmu."


"Angin tak mungkin melakukan itu, Yui!"


"Sudahlah, yang terpenting kita berhasil menyadarkan kak Kuro."


"Eh?"


Laila menoleh ke arena. Yui benar, dia melihat Kuro sudah sadar. Dan dia masih mengeluarkan darah, tapi darah sekarang keluar dari hidungnya.


"Yui...."


"?"


Kuro memberikan jempolnya kepada Yui sebagai tanda dia senang.


Yui membalas dengan jempolan dan senyuman manis. Mereka kompak.


"Laila," Ucap Jinn tiba tiba. " Tadi itu sacred magic art yang dahsyat!"


Jinn menoleh sambil memberikan jempolnya. Tak hanya itu, dari lubang hidung Jinn keluar darah yang lebih deras. Dia akhirnya tumbang setelah beberapa detik kemudian.


".........?"


Laila hanya terdiam melihat itu. Namun dia menyadari dia telah melakukan hal mencemarkan nama baik keluarganya.


"Mereka semua benar benar mesum dan lemah. Aku tak menyangka mereka semua pingsan gara gara melihat celana dalammu."


Meskipun terlihat tenang, dari hidung Knox juga keluar darah meskipun tak deras. Tapi pada akhirnya dia juga pingsan.


Sebenarnya tak hanya mereka berdua yang pingsan. Lelaki yang menonton semua mengalami hal yang sama. Mimisan dan banyak yang pingsan.


Ini adalah salah satu kemampuan baru Laila (mungkin) yang dikenal gadis paling cantik di kelas 1.


"................"


Wajah Laila sekali lagi memerah dan memegangi roknya agar kejadian tak terulang lagi. Dia lalu kembali melihat Kuro yang sekarang berdiri dengan bantuan pedangnya.


Ini wajar mengingat kesadaran Kuro kembali dan begitu pula rasa sakit yang berkali kali lipat.


Kuro dapat merasakan sekitar 7-8 tulangnya retak dan bisa saja patah jika terlalu memaksakan diri lagi. Beberapa organ dalamnya juga mengalami beberapa luka. Tapi yang paling parah adalah akibat kehabisan darah sehingga kepalanya terasa sangat pusing dan pandangannya kabur.


"Aku mendengar kau itu mesum, tapi aku tak menyangka kau benar benar mesum, Kuro."


Satu satunya yang tak mimisan hanyalah Charl.


Semua gadis yang menonton berteriak histeris dan memuji Charl. Itulah laki laki sejati.


"..... Itu wa.... jar karena aku la....ki laki... Charl... Yang ane....h bukan..kah diri..mu...?"


"Hmmph .. aku sudah mempunyai orang yang kucintai, jadi aku tak akan tertarik kepada orang lain. Itu saja."


"..............."


"Hey Kuro. Aku tahu kau tak akan menyerah, ....karena itu ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu. Apa alasanmu bertarung?"


"................."


Kuro terdiam. Bukannya dia tak ingin menjawab, tapi dia tak bisa menjawab. Pandangannya kabur dan kepalanya pusing. Dia bahkan bisa tumbang kapan saja.


Meskipun begitu, dia tetap berdiri dengan tegak dan menunjukkan tekadnya.


"Alasan bertarung kah......"


"........"


Disaat itulah senyuman tipis muncul di bibir Kuro.


Di tempat lain Electra dan Riana memperhatikan pertarungan mereka dengan seksama. Riana terkejut Kuro dapat bertarung seimbang melawan Charl, tapi ada sesuatu yang lebih membuat dia tertarik.


"Begitu rupanya. Itulah alasan kenapa Bibi Electra menyebut pedang Kuro adalah pedang Demon King yang asli. Kekuatan pedang itu luar biasa."


"Anda benar, tapi anda juga salah."


"Maksudmu?"


"Sebenarnya Kuro dapat memotong Shield lima lapis bahkan tanpa menggunakan pedang itu."


"Eh?"


"Anda tahu Shadow Knight berada di dalam bawah perintahku kan? Kuro pernah bergabung selama satu tahun lebih dan tentu saja bertarung dengan anggota Shadow Knight lainnya. Dalam pertarungan itu dia jarang menggunakan pedang itu. Bahkan dia hanya menggunakan pedang Magilium biasa, tapi dia masih tetap bisa memotong Shield dengan mudah."


Singkatnya kemampuan Kuro juga luar biasa bahkan tanpa pedang putih.


"Tapi seperti yang anda tahu pedang Magilium tak cukup kuat jika tak ditambahkan sihir, jadi dalam setiap pertarungan dia pasti akan mematahkan pedangnya. ....Jujur saja aku cukup dibuat repot karena pekerjaan Shadow Knight adalah mata mata dan mengumpulkan informasi. Pedang putih Kuro akan langsung menarik perhatian karena terlalu mencolok."


".........."


"Untuk mengatasi masalah itu aku membuatkan pedang lain dari bahan bukan Magilium bahkan lebih kuat dan ditempa oleh pembuat pedang terbaik, tapi apa kau tahu yang terjadi?"


".........."


"Semua pedang itu patah karena tak bisa menahan kekuatan teknik pedang Kuro."


Riana langsung berkeringat dingin. Namun disaat yang sama dia penasaran dengan kemampuan Kuro.


Kenapa semua pedang itu bisa patah?


"Aneh, jika pedang dari bahan terbaik, pasti tak akan mudah patah meskipun melawan penyihir, selain itu aku yakin anda juga pasti menambah bahan anti sihir untuk mengurangi tekanan pada pedang. Dengan kata lain Kuro pasti punya teknik pedang yang terlalu kuat dan membebani setiap pedang yang dia pakai. Kemampuan blade a rt seperti itu......"


"Fu fufu.. Itulah kenapa aku menyebut tak ada yang menyamai Kuro."


"Anda benar, tapi ini........"


"Kenapa tak lihat saja data Kuro, anda pasti akan lebih terkejut lagi."


"Eh..."


Riana terkejut. Disaat itulah Electra langsung menghancurkan Cristal Sect di tangannya. Setelah itu munculah banyak panel cahaya yang melayang memenuhi ruangan.


Panel itu berjumpah puluhan dan semua panel itu berisi data Kuro yang sebenarnya.


Bagi Riana, untuk pertama kalinya dia melihat data sebanyak itu untuk satu orang. Hal ini wajar mengingat data sebanyak itu seharusnya data untuk puluhan orang.


"...Hmm.... ini....."


Dari semua data, ada satu data yang membuat dia tertarik, yaitu data daftar nama. Nama para gadis yang berjumlah ratusan.


(Dia playboy.)


Itulah yang dipikirkan Riana, tapi dia sadar setelah melihat daftar nama dengan teliti, dia menyadari kalau semua nama itu adalah orang penting.


"........................."


Electra hanya tersenyum tipis saat melihat Riana membaca data Kuro.


Meskipun itu rahasia, namun sebagian adalah hasil penelitiannya sendiri. Sebenarnya Electra masih belum percaya bahwa seseorang seperti Kuro ada di dunia ini, tapi ini bukan pertama kalinya dia menemukan seseorang seperti Kuro.


Arthuria. Dialah satu satunya eksistensi yang banyak memiliki kesamaan dengan Kuro.


Sementara itu di tempat lain, seorang gadis mulai bangkit dan tak tertarik kepada pertarungan Kuro dan Charl lagi.


"Tuan putri?"


Lelaki yang memakai armor tebal sedikit terkejut, tapi dia mengerti alasan gadis itu pergi.


"Aku kira pertarungan akan lebih menarik, tapi tetap saja membosankan."


"............."


"Kenapa kau memandangku seperti itu? Kau juga bisa menebak hasil pertarungan ini kan?"


".....Witch Reaper akan menang, bena-"


"Kenapa kau mendukung dia? Dia akan kalah. Apa kau lupa kata kataku selama ini?"


"Tidak. Aku sama sekali tak lupa. Hanya saja..."


"Kalau begitu jangan membuatku mengulanginya. 'Menang dan kalah sudah ditakdirkan bahkan sebelum pertarungan dimulai. Yang lemah akan kalah dan yang kuat akan menjadi pemenang. Itulah hukum yang berlaku di dunia ini'."


"...Maafkan aku, tuan Putri"


Lelaki beramor itu langsung menundukkan kepalanya. Sementara gadis itu dengan angkuh berjalan keluar dari ruangan itu.


Tujuan gadis itu adalah arena latihan yang 10 kali lebih besar yang digunakan Kuro dan Charl bertanding. Di tempat itulah sekitar 70 murid bersiap menghadapi gadis itu.


"....Fu fu.."


Gadis itu hanya tersenyum tipis saat melihat lawan latihannya yang sebagian besar merupakan penyihir peringkat S.


Ditambah dengan jumlah magic beast, jumlah musuhnya kini 100 orang lebih. Meskipun begitu, gadis itu tetap bertarung dengan senyuman sadis.


Kembali ke duel.


"Alasanku bertarung? ...kenapa kau menanyakan hal bodoh seperti itu?"


".........."


"Aku bertarung karena aku ingin. Itu saja."


Demi keegoisannya. Itulah alasan Kuro bertarung selama ini.


Dia tak peduli dengan apa yang terjadi di dunia ini. Dia bertarung jika harus bertarung. Tidak kurang dan tidak lebih.


"Bukankah kau bertarung untuk membuktikan cintamu?"


"Hm? Itu lucu. Aku tak perlu melakukan hal yang merepotkan seperti itu. Dia sudah tahu aku mencintai dia, jadi kenapa aku harus membuktikannya?"


Disaat itulah Kuro melirik Laila dengan tatapan yang sama saat duel belum dimulai. Tatapan yang menyedihkan dan penuh kekecewaaan.


"Jadi bukankah tak ada alasan bertarung? Kenapa kau tak mengalah saja?"


Mendengar itu, Kuro tersenyum bagai iblis yang menyeramkan.


"Menyerah? Kenapa aku harus menyerah?"


"Kau ini benar benar merepotkan. Jika kau menyerah, duel ini akan berakhir dan kau tak per-"


"Apa kau ingin aku menyerahkannya?"


".......Ya. Kau pintar."


Tapi Kuro tak akan melakukan itu. Dia punya alasan yang kuat untuk tak kalah dari Charl.


"Sayang sekali, tapi aku tak akan menyerahkannya. Apa kau lupa siapa aku?"


Kuro adalah Witch Reaper yang dikenal membunuh 200 knight, tapi-


"Aku tak lupa itu, Witch Reaper."


"Ha ha.. aku pikir sudah tak ada yang perlu dibicarakan lagi di antara kita Charl. Tidak, itu bukan nama aslimu kan?"


"...........Tch!"


Untuk pertama kalinya, Charl terlihat kesal dan marah.


Byakkura yang sejak tadi terdiam tiba tiba bergerak dan menyerang Kuro dengan tebasan horizontal.


Dengan kekuatan yang tersisa, Kuro menangkis dengan tebasan horizontal, tapi dia langsung terpental ke dinding perisai.

__ADS_1


"?!"


Charl terkejut saat menyadari Kuro tersenyum tipis sebelum tubuhnya membentur dinding.


Kuro mengumpulkan tenaga yang hampir sudah tak tersisa dan mencoba bangkit. Tubuhnya gemetar dan berlumuran darah, tapi dia berhasil bangkit dengan menyandarkan tubuhnya ke perisai.


Disaat itulah Kuro menatap langit yang sudah semakin gelap.


(Ini gawat, jika seperti ini terus ...aku.......)


Kuro sadar harus mengakhiri pertarungan ini secepatnya.


Tapi dia tak memiliki banyak tenaga lagi. Selain itu dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


(  Tampaknya aku terpaksa harus menggunakannya.)


Kuro tersenyum tipis lalu memandang Charl yang terlihat marah.


"Charl..... sayang sekali kau terpaksa harus kalah."


"? Apa maksudmu?"


"Kau sudah tak banyak memiliki mana jadi kau pasti menyimpannya untuk menggunakan sacred magic art, benarkan?"


"..........."


"Aku sebenarnya juga memiliki sesuatu semacam itu. Mudahnya sebuah trump card. Jadi kenapa kita tak akhiri saja dengan serangan terkuat kita?"


Mendengar ide yang gila, Charl tersenyum.


"Apa kau tahu apa yang kau katakan? Jika aku menggunakan kekuatan penuh, kau akan mati. Kau pasti tak sebodoh itukan?"


"Jangan kawatir. Akulah pemenang dalam duel ini. Lagipula aku Witch Reaper."


"Jangan bercanda di situasi seperti ini! Aku menahan diri agar tak membunuhmu dan sekarang kau meminta aku menggunakan kekuatan penuhku? Dengar, jika aku menggunakan kekuatan penuhku, kemungkinan kau selamat dari kematian hanyalah 1%. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkanmu."


Itu benar dan masuk akal bagi sebagian besar orang, tapi bagi Kuro itu-


"Keajaiban? Aku tak butuh itu."


Kuro menegakkan badannya lalu berdiri dengan tegak.


"Aku tak percaya dengan keajaiban, karena keajaiban hanya bisa dibuat dengan kekuatan sendiri. Itulah prinsip hidupku."


"Kata kata yang bagus. Aku pernah mendengar itu sebelumnya, tapi aku tak percaya mendengar itu darimu."


"Sudahlah. Kita akhiri saja. Aku akan menggunakan kekuatan terakhirku dalam serangan selanjutnya. Dan disaat itulah kau kalah dan menjadi pecundang."


"Yang menjadi pecundang adalah kau!!"


"Kita lihat saja nanti, pengecut."


Charl terlihat marah dan mulai kehabisan kesabarannya.


Sementara Kuro tersenyum tipis karena berhasil memprovokasi Charl.


"Aku bukan peng-"


"Pengecut tetaplah pengecut. Apa kau berpikir bisa memenangkan Battle War dengan kemampuanmu saat ini?"


".......!!?."


Charl langsung mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya.


Dia tahu Battle War merupakan pertarungan yang tak hanya mengandalkan kekuatan saja. Meskipun dia seorang Divine Contractor dan peringkat SSS namun di dalam Battle War semua itu tak berarti.


Itulah alasan kenapa dia harus menjadikan Laila pasangannya dalam Battle War nanti.


"Charl, buktikan kau pantas mendampingi Laila dengan cara mengalahkanku. Jika tidak, aku tak bisa merelakannya."


"............Eh?"


"Tapi kekuatanmu yang sekarang tidak cukup untuk mengalahkanku, jadi menyerahlah!"


"............"


Charl terdiam sesaat, namun dia tersenyum lalu tertawa dengan keras.


Jadi ini adalah sebuah tes?


"Bwa ha hahahahaha... Berhentilah bercanda Kuro. Hahaha... Apa kau lupa situasimu saat ini? Kau ini benar benar bodoh!"


Semua yang menonton duel ini berpikiran sama dengan Charl. Kuro akan kalah.


Kemampuan Kuro untuk terus bangkit memang luar biasa dan sekaligus gila, namun mengingat keadaan Kuro saat ini, untuk menang melawan Charl adalah mustahil.


"Tidak. kak Kuro tidaklah bodoh. Dia akan menang."


"Kenapa kau bersikeras mengatakan itu?" Ucap Knox setelah bangkit. "Aku tahu kau membelanya karena kau adiknya, tapi apa kau tak bisa melihat kenyataan yang ada di depan matamu?"


"Knox, kaulah yang tak bisa melihat kenyataan."


Tiba tiba Jinn juga bangkit, namun darah masih nenetes dari hidungnya.


"Apa maksudmu?"


Knox mulai terlihat kesal dengan perkataan Jinn. Dia tak mengerti kenapa Jinn dan Yui selalu mengatakan Kuro akan menang.


"Baiklah. Aku mengerti. Aku akan menang melawanmu dan membuktikan bahwa aku pantas menjadi partner Laila, Bodoh!! Jangan salahkan jika kau mati, tapi mungkin dengan mati, kebodohanmu bisa menghilang!"


"?!"


Mata Laila melebar saat Charl memutuskan untuk menggunakan sacred magic srt untuk mengakhiri duel ini.


"Tch!"


Otome hanya bisa menunjukkan ekspresi kesal saat tak bisa menghubungi Electra dengan sihir komunikasi.


Dia ingin membatalkan duel antara Charl dan Kuro karena bisa dibilang duel mereka sudah melebihi batas dan melanggar aturan. Tapi yang terpenting adalah dia tak ingin muridnya mati.


Sistem duel bisa dibatalkan oleh para guru, tapi kali ini Otome tak bisa membatalkannya. Satu satunya yang bisa melakukan semua ini hanyalah Electra.


(Bu Electra, apa yang sedang kau pikirkan?) 


Otome tidak tahu, tapi dia tahu jika duel ini terus berlanjut, hal buruk akan segera terjadi.


"Aku senang mendengar itu, Charl."


Sekilas tatapan Kuro terlihat kosong seperti tadi, tapi kali ini benar benar berbeda. Tekanan dan hawa membunuh yang besar terasa dari tatapan Kuro.


Tapi yang lebih mengejutkan adalah matanya yang perlahan mulai berubah warna menjadi putih.


"?!"


Tak disangka, Charl melangkah mundur dengan sendirinya.


Untuk pertama kali dalam hidupnya melihat tatapan iblis dan haus darah seperti itu. Tatapan mata yang sanggup membuat orang akan langsung melihat dewa kematian (Reaper) di depan mereka.


Sementara itu, Laila terkejut karena alasan yang lain. Kenapa Kuro memiliki mata yang sama dengan pemuda di mimpinya?


Eyes of Origin. Mata yang sanggup melihat segala kebenaran di dunia ini.


Kuro, siapa kau sebenarnya?


"Kak Kuro .....bunuh dia!!"


"""?!"""


Yui tiba tiba mengatakan hal yang menyeramkan dan senyuman tipis yang menakutkan.


Mereka berdua kini seolah olah menunjukkan kekuatan dan sisi gelap dari klan yang paling ditakuti, klan Blad.


Aura mencekam juga mulai terasa dalam duel yang menjadi tanda pertarungan akan segera berakhir.


Angin kencang tiba tiba berhembus bersamaan dengan petir yang memecah ketenangan.


Itu adalah tanda sang dewa kematian mulai menunjukkan kekuatannya yang sebenarnya.


---++


"Hmmm...?"


Riana  tertarik kepada data Kuro yang menunjukkan status kekuatannya.


Normalnya data akan menunjukkan status kecepatan, kekuatan, tekhnik, daya tahan dan sebagainya. Data itulah yang nantinya akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan ranking seorang penyihir maupun non penyihir.


Tapi data di panel menunjukkan [UKNOWN].


"Bibi Electra, kenapa data Kuro semuanya kosong?"


Riana bertanya mengenai keanehan data itu.


"Ahhh... aku sengaja tak mengisinya."


"Eh? Kenapa?""


"Tentu saja karena percuma saja mengisinya. Data terlalu cepat berubah, jadi aku memutuskan tak mengisinya."


"..........."


"Learn adalah kemampuan untuk mengubah pengalaman menjadi kekuatan. Itulah alasan kenapa dia begitu kuat. Dia berkeliling dunia dan melawan petarung di seluruh dunia, lalu menciptakan blade art yang mampu membunuh penyihir seperti kita. Bukankah itu luar biasa?"


Riana sekarang mengerti alasan kenapa Kuro begitu kuat sehingga mampu menjadi Dragon Tamer.


Riana mengangguk tanda setuju.


"Tapi Learn tak hanya itu. Coba lihat data itu!"


Riana melihat data di panel lainnya. Panel itu berisi data tentang anggota Shadow Knight, tapi ada juga data dua orang gadis kembar, Alva dan Alvi.


"Ini kan....?"


"Itu adalah kemampuan Learn yang lain. Kuro mampu membuat kemampuan orang disekitarnya meningkat dengan pesat. Anda bisa melihat data si kembar itukan?"


"Sekarang mereka peringkat A. Padahal belum lama ini peringkat C. Peningkatan mereka terlalu cepat dan abnormal."


"Ya. Meskipun itu bukan peringkat resmi, namun data itu akurat. Tapi yang lebih misterius dari Kuro adalah kemampuan matanya?"


"Mata?"


"Aku pernah melihat sekali saat mata Kuro berubah warna. Awalnya aku mengira itu sejenis mata sihir, tapi itu bukan salah satu dari mata sihir yang aku kenal."


"..."


Eksistensi Kuro semakin menjadi misteri.


Pada akhirnya Electra mendesah seolah menyerah.


Seorang Paladin berhasil dibuat pusing hanya dengan eksistensinya saja. Kuro sungguh menyeramkan.


Di saat itulah Riana semakin tertarik dan akhirnya melihat data lain tentang Kuro.


Data itu berupa misi yang sudah diselesaikan Kuro.


Misi juga dibedakan dalam beberapa peringkat. Tingkat yang memiliki kesulitan tertinggi diberi peringkat S, dan hampir semua misi yang diselesaikan Kuro adalah peringkat S.


"Jika Kuro dapat menyelesaikan semua misi ini, bukankah dia sebenarnya memiliki kekuatan setara dengan penyihir peringkat.....--"


Electra hanya tersenyum tipis. Dia tak membantah perkataan Riana yang menyadari kekuatan Kuro yang sebenarnya jika Kuro seorang penyihir.


Itulah yang membuktikan seberapa penting eksistensi Kuro di dunia ini.


Di saat yang sama, di arena duel.


Angin tiba tiba berhembus kencang menerbangkan dedauan. Rambut Kuro dan Charl tertiup angin dengan kencang dan berantakan.


Meskipun perisai bisa menahan sihir, namun sebenarnya tembus terhadap angin.


"Kuro, kumohon jangan mati, jujur saja aku tak mau dibenci Laila."


Charl tersenyum senang. Dia tak terlihat ragu untuk menggunakan kekuatan dia yang sebenarnya kepada seluruh yang menonton duel mereka.


Dia akan membuktikan kekuatannya dengan cara membunuh Kuro dan memenangkan duel ini.


"Kita tunjukkan kekuatan kita yang sebenarnya, BYAKKURAAA!!"


Roooaaaaaarrrrrr...

__ADS_1


Merespon keinginan Charl, Byakkura meraung dengan keras. Raungannya cukup keras untuk membuat penonton menutup telinganya.


Sedangkan Kuro, dia hanya tersenyum  dan menghunuskan pedangnya ke samping. Meskipun terluka parah, namun Kuro masih memberikan tekanan yang kuat dan berbahaya.


Dia akan selamat dari serangan Charl, itulah cara dia untuk membuktikan bahwa dia adalah Witch Reaper. Satu satunya Witch Reaper.


Tak kalah dengan Kuro, tekanan Charl juga meningkat.


Disaat itulah dua pedang Byakkura bersinar lalu munculah garis merah di seluruh pedang. Pedang Byakkura lalu hancur seperti gelas menjadi puluhan kepingan.


Byakkura telah membuang pedangnya.


Tapi itu bukan tanda dia menyerah, itu adalah tanda serangan yang sebenarnya baru dimulai.


Potongan pedang tak jatuh ke bawah dan melayang menjadi dua lingkaran di depan Byakkura. Lingkaran itu bercahaya lalu lingkaran sihir muncul.


Di tengah lingkaran sihir muncul cahaya putih yang semakin membesar.


Disaat yang sama, aliran angin di sekitar mereka menjadi aneh.


"Begitu rupanya, kau menciptakan plasma kah. Itu serangan yang kuat, tapi-"


"Tch..."


Kuro langsung tahu kelemahan sacred magic art Charl dengan hanya sekali lihat. Hal itu membuat Charl terlihat kesal.


"Jangan kawatir, aku tak akan kabur. Serang aku dengan segala yang kau punya, Charl."


"Kuh.."


Charl benar benar dibuat kesal oleh Kuro.


Semua sacred magic art memiliki kelemahan yang sama. Semakin kuat dan rumit sacred magic art, semakin lama pula pengaktifan sacred magic art.


Selain itu untuk mengontrol proses pengaktifan membutuhkan konsentrasi dan 'mana' yang berjumlah tak sedikit.


Dalam hal ini, penyihir tipe Contractor sedikit lebih unggul jika dibandingkan tipe User karena tugas mengontrol dapat dibagi dengan magic beast.


Jika Kuro menyerang saat Charl sedang mengumpulkan kekuatan, Kuro akan menang.


Inilah salah satu alasan kenapa sekolah sihir memberlakukan sistem berpasangan. Selain untuk melatih kerja sama dengan penyihir yang berbeda, berpasangan adalah salah satu cara untuk mengatasi kelemahan masing masing tipe penyihir.


Sayangnya hal ini tak berlaku kepada penyihir peringkat Master yang menguasai Limit Break atau Breaker.


"Aku tak menyangka duel ini terus dilanjutkan. Apa yang dipikirkan Otome?"


Knox hanya bisa memberikan komentar sambil melihat plasma yang semakin membesar membentuk meriam.


Serangan Charl adalah tipe jarak jauh seperti meriam dengan kekuatan yang setara Laser Breath naga Holy Demonic Class. Itu adalah kekuatan yang tak cocok digunakan didalam ruangan sempit.


Tapi Charl tak punya pilihan lain. Dia harus melakukan ini.


"Tenang saja. Kuro tetaplah menjadi pemenang."


"Diam kau. Kenapa kau mengatakan Kuro akan menang, Jinn? Apa kau takut kalah taruhan?"


"Tentu tidak. Aku tahu Kuro adalah Witch Reaper. Karena itulah dia akan menang. Kau terlalu fokus kepada logika, karena itulah kau tak bisa melihat kenyataan apa yang ada di depanmu."


"............"


Jinn benar. Knox selalu bertindak atas dasar logika. Itulah alasan kenapa dia sulit menerima kenyataan Kuro adalah Witch Reaper.


"Seperti yang Yui bilang, Kuro dalam kondisi terlemah, tapi dia masih sanggup melawan Charl yang merupakan penyihir SSS yang puluhan kali lebih kuat dari kita. Apa kau belum sadar juga?"


"?!"


Mata Knox melebar karena terkejut, tapi disaat yang sama dia sadar kalau perkataan Jinn benar.


"Selain itu, Kuro berhasil menang melawan 200 orang Knight. Meskipun itu kejadian dua tahun yang lalu, namun kau harus menyadari kalau kekuatan Kuro pasti sudah meningkat pesat sejak saat itu. Dan apa kau lupa kalau dia akan mengggunakan Trump Card. Trump Card Witch Reaper..., aku benar benar ingin melihatnya."


Wajah Knox langsung pucat pasi. Dia berkeringat dingin lalu menoleh ke arah Yui yang fokus melihat duel.


"Knox, kau bilang orang yang membunuh 200 Knight dua tahun yang lalu adalah seorang penyihir peringkat Master atau Paladin. Ku ku... Sekarang ingin bertanya kepadamu, jika seorang penyihir, kak Kuro akan mendapatkan peringkat apa?"


"?!"


Disaat Knox panik dan tak percaya dengan kenyataan yang dia ketahui, sacred magic art Charl sudah mencapai kekuatan penuh.


Bola putih sebesar dua meter dengan cahaya seperti tentakel yang berputar searah jarum jam tepat berada di depan Byakkura.


Bola putih itu juga memberikan cahaya yang membuat menarik perhatian orang dari luar sekolah karena dapat cahaya putih bersinar dari Kuryuu Academy.


Sementara bagi murid sekolah Kuryuu Academy, tekanan mana yang kuat dan besar terasa hingga seluruh sekolah dan menjadikan duel itu semakin memiliki banyak penonton.


"Terimalah ini!! sacred magic art, Plasma Cannon Breath"


Roooooaaarrrrrrr.


Byakkura meraung dan menembakkan cahaya putih lurus ke arah Kuro dengan kecepatan melebihi kecepatan suara.


"Kuro!!"


Laila berteriak meneriakkan nama Kuro saat melihat Plasma Cannon Breath melaju ke arah Kuro. Sekuat apapun Kuro, dia tak mungkin selamat dari serangan itu.


Tapi-


Tanpa ada orang yang menyadari, Kuro tersenyum tipis tepat sebelum Plasma Cannon Breath menerjang tubuhnya.


"Accell Blade Art----"


Sesaat sebelum menyentuh Kuro, Plasma Cannon Breath tiba tiba mulai mengecil dan akhirnya musnah tanpa sisa.


"Magic Eater Blade!!"


Tubuh Kuro masih utuh, tapi yang membuat orang terkejut adalah bagaimana bisa serangan Charl menghilang?


Seluruh penonton menjadi hening. Apa mungkin Charl membatalkan serangannya sebelum menyentuh Kuro? Tapi itu tak mungkin, serangan Charl adalah tipe yang tak bisa dibatalkan begitu saja.


Berbeda dengan lainnya, Laila tak begitu peduli dengan apa yang terjadi pada serangan Charl. Tapi dia lebih peduli dengan keadaan Kuro yang masih bisa selamat.


Di saat itulah dia menyadari. Ada aura putih yang menyelimuti tubuh Kuro dan juga pedang pedang putihnya.


Aura putih itu adalah aura yang sama dengan aura yang dikeluarkan Yui saat menghadapi Laila. Satu hal yang pasti, itu bukanlah 'mana' yang merupakan sumber sihir.


"Knox, apa sekarang kau mengerti peringkat yang didapat kak Kuro jika seorang penyihir. Kak Kuro adalah satu satunya orang biasa dengan peringkat--"


""Master""


""?!""


Tak hanya Knox, disaat yang sama mata Riana melebar setelah mengetahui kemampuan Kuro yang sesungguhnya.


Orang biasa dengan peringkat Master. Itulah Kuro.


Dia adalah eksistensi yang seharusnya tak ada di dunia ini. Kuro adalah Irregular.


Dan seluruh orang yang menonton duel itu kini mengetahuinya.


"Mustahil, bagaimana bisa-"


Charl hanya bisa melebarkan matanya saat melihat Kuro masih utuh. Dia bahkan melangkah mundur dengan sendirinya.


"Magic Eater Blade adalah Blade art yang menyerap semua sihir yang berelemen angin dan api. Jangan kau pikir hanya kau saja yang bisa memanipulasi angin disini, Charl."


Charl menyadari maksud Kuro. Plasma dia ciptakan dengan mengendalikan angin. Kuro pasti melakukan hal yang sebaliknya, yaitu menyerap angin dengan bantuan pedangnya. Tapi kapan? Tidak, tepatnya apa dia cukup waktu untuk melakukan itu?


Charl tak mengerti. Dia panik dan mulai tak bisa berpikir dengan tenang.


"By-Byakkura!!"


Sekarang dia tak punya banyak 'mana' yang tersisa, jadi dia hanya bisa melakukan serangan jarak dekat.


Tapi-


"Maaf, Char. Sekarang adalah giliranku menunjukkan kemampuan arti dari nama Witch Reaper yang sesungguhnya."


"?!"


Charl langsung melebarkan matanya. Dia mengerti Kuro akan menggunakan trump card-nya.


Tapi dia tak boleh kalah, jadi-


"Byakkura, Wind Ball!"


Byakkura menyerang Kuro menggunakan puluhan bola angin yang ditembakkan dari mulutnya.


(Seperti sacred magic art, trump card dia pasti membutuhkan banyak waktu. Selain itu dia telah menangkis Plasma Cannon Breath, aku yakin dia butuh lebih lama untuk menggunakan trump card. Itulah kesempatanku.)


Pemikiran Charl tidak salah, tapi-


"?!"


Bola angin hanya mengenai dinding perisai dan Kuro tiba tiba lenyap.


Charl langsung menoleh ke semua arah, tapi dia tak menemukan sosok Kuro.


"Charl, terima kasih telah menunjukkan serangan terkuatmu."


"?!"


Tak hanya Charl, semua orang terkejut saat melihat Kuro berada di atas perisai dengan posisi terbalik. Tak hanya itu, dia bahkan mengambil posisi kuda kuda sebagai tanda dia akan menggunakan blade art.


"Sebagai gantinya, akan kutunjukkan kekuatan yang kugunakan untuk membunuh knight dua tahun yang lalu."


Disaat yang sama aura putih di tubuh Kuro meningkat dan berubah menjadi merah karena bercampur darah.


Dan-


"Cursed blade art--"


Setelah mengatakan itu, sosok Kuro tiba tiba lenyap bagai tertelan bumi.


Satu detik kemudian, Kuro tiba tiba muncul dengan aura yang sudah menghilang dengan pedang yang sudah siap disarungkan.


"...Witch Reaper!"


Apa yang terjadi?


Semua orang menanyakan hal yang sama. Tapi Kuro hanya terdiam dan menyarungkan pedangnya dengan santai.


"Kak Kuro menang."


"Yeah!"


""?""


Yui dan Jinn terlihat senang, sementara Laila dan Knox hanya terbengong. Semua terbengong dan menjadi sunyi. Mereka semua tak tahu harus bereaksi apa dan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Sementara itu di atas arena.


"Apakah itu serangan terkuatmu? Menghilang dan muncul lagi?"


Kuro menoleh ke arah Charl dan menjawab,


"....Tentu tidak. Sayang sekali aku tak bisa membunuhmu, Charl. Tidak, kurasa aku harus memanggilmu.... Charlia. Benarkan?"


"?! Ke-kenapa kau bi- ?"


Charl terkejut bukan main saat Kuro memanggil dirinya Charlia. Dia berusaha menunjuk Kuro, tapi dia tak bisa menggerakkan tangannya.


Disaat yang sama, dia akhirnya menyadari kalau tangannya sudah terpotong dan mengeluarkan darah dalam jumlah yang besar.


Sayangnya itu baru awal. Charl kini terjatuh ke lantai karena dua tangan dan dua kakinya kini terpotong tanpa dia sadari.


"Gaaaaaaaaahhhh!!"


Teriakan terdengar di arena memecah keheningan, tapi lebih banyak penonton gadis yang berteriak histeris.


Kini sekitar arena duel menjadi berisik oleh teriakan, tapi bukan itu saja kejutan Kuro sang Witch Reaper.


Byakkura tiba tiba terpotong menjadi puluhan bagian dan perlahan menghilang. Disaat yang sama lantai arena duel hancur terpotong seperti bekas puluhan tebasan.


Dan yang paling mengejutkan adalah perisai yang hancur berjatuhan seperti kepingan kaca dan menghilang perlahan menjadi partikel.


Keheningan langsung tercipta saat mereka melihat kejadian itu di depan mata mereka.


Inikah kekuatan seorang Witch Reaper?

__ADS_1


Kekuatan yang sanggup membunuh seseorang tanpa sadar sudah terbunuh?


Pada momen itu semua yang menonton duel sadar. Di dekat mereka, ...ada dewa kematian.


__ADS_2