
Mungkin akan sedikit bingung, jadi kasih penjelasan sedikit.
Laila ; untuk POV Laila
Alice ; Panggilan Shiro untuk Aliciana
Aliciana ; untuk POV Aliciana
Shiro ; Kuro di era masa lalu
〜(꒪꒳꒪)〜〜(꒪꒳꒪)〜〜(꒪꒳꒪)〜〜(꒪꒳꒪)〜〜(꒪꒳꒪)〜
Laila merasa malu setelah mengingat kembali apa yang dia lakukan tadi pagi dengan Kuro. Tidak, dalam masa ini dia adalah Shiro. Jika memanggil dia dengan sebutan Kuro, itu akan langsung membuat Shiro sadar kalau dirinya bukanlah Aliciana.
Sebenarnya itu bukan masalah. Laila dan Aliciana adalah orang yang sama. Hanya saja Aliciana tak memiliki ingatan sebagai Laila.
Ah... Sial. Aku tak menyangka kehilangan kendali. Ini salah Kuro karena aku tak bermesraan dengan dirinya selama seminggu lebih.
Laila memutuskan kalau ini semua adalah salah Kuro. Ya. Lebih baik seperti itu.
Setelah itu mereka sarapan bersama sebagai sepasang kekasih yang menjalin hubungan baru.
Itulah kenyataannya.
Sudah 2 bulan sejak pertama kali Aliciana bertemu dengan Shiro. Dalam masa itu mereka mengalami banyak hal yang tak dilalui oleh orang lain di dunia ini.
Menghancurkan salah satu rencana kerajaan Eldesa yang mencoba menguasai kota. Membebaskan para sandera dan membunuh salah satu Paladin milik kerajaan Eldesa.
Setelah melalui banyak hal, mereka akhirnya melakukan hal yang menjadi tujuan utama petualangan mereka, yaitu membalas dendam terhadap pengkhianat di kerajaan Hou.
Sayangnya, balas dendam itu bukanlah suatu yang harus dilakukan Aliciana.
Ayahnya, raja kerajaan Hou adalah seorang raja yang memiliki kekuatan meramal masa depan. Dengan sihirnya dia meramal berbagai masalah yang akan datang dan menggunakan kesempatan waktu yang tersisa untuk melakukan pencegahan atau tindakan untuk meminimalisir dampak bencana.
Sebagai raja dia adalah raja yang baik dan dicintai oleh rakyatnya, tapi dia lebih dikenal sebagai seorang ayah daripada raja.
Sebagai putrinya, Aliciana dan saudaranya juga memiliki warisan berupa menggunakan sihir waktu.
Dari semuanya, Aliciana adalah pemilik kekuatan waktu terkuat. Dengan kekuatan sebesar itu, tak aneh jika pihak musuh ingin menghabisinya. Terutama dalam situasi perang seperti ini, kekuatan Aliciana memiliki pengaruh yang begitu besar.
Para pembunuh bayaran dan berbagai usaha dilakukan untuk membunuh Aliciana, tetapi semuanya gagal karena kekuatan sang raja.
Tetapi, hal itu tak berlangsung lama.
Sang raja tahu kalau bencana yang akan datang tak akan bisa dihindari. Dalam bencana itu, dia harus membuat pilihan, negara atau keluarga.
Pilihan yang diambil sang raja bukanlah suatu yang sulit ditebak.
Tentu saja para bawahan raja sudah menduga hal ini. Inilah yang menjadi awal dari pemberontakan yang dilakukan oleh pihak yang menginginkan perang sampai titik darah penghabisan.
Ini bukan suatu yang aneh. Meskipun kekuatan musuh lebih kuat, tapi dengan kekuatan memanipulasi waktu bukanlah suatu yang sulit untuk menang.
Sayangnya, musuh juga sudah melakukan langkah dengan menyusupkan banyak mata mata yang memberikan informasi tentang pemberontakan.
Pada akhirnya, pihak musuh memanfaatkan momen pemberontakan itu untuk menyerang dan akhirnya menghancurkan kerajaan Hou untuk selamanya.
Sebagai seorang tuan putri, Aliciana paham betul kenapa ayahnya disebut mengkhianati rakyatnya sendiri.
Ayahnya tidak memilih bertarung atau melawan balik, tapi dia memilih untuk melindungi keluarganya dari bahaya dan lari meninggalkan rakyatnya untuk menderita dan dibantai.
-lalu apakah ayah dan keluarganya pantas menerima semua perlakuan itu?
-apakah tindakan yang dilakukan ayahnya salah?
Tetapi pertanyaan terbesar adalah-
-apa yang diketahui ayahnya sehingga memilih jalan penuh duri itu?
Sebagai seorang yang memiliki kekuatan meramal masa depan pasti tahu apa yang akan terjadi nanti. Tetapi dia masih saja membuat pilihan yang tak seharusnya dilakukan oleh seorang raja.
Aliciana tak mengerti.
Mengingat semua usaha yang keluarganya lakukan agar dia masih hidup, ini bukanlah suatu yang aneh jika semua ini berhubungan dengan dirinya.
Semua ini adalah salahnya.
Kemarahan, kebencian, ketakutan, rasa perih, kesedihan dan berbagai emosi negatif langsung menghinggapi Aliciana. Hal itu menjadi sebuah pemicu sesuatu yang tak seharusnya dibangunkan.
Kekuatan Aliciana kehilangan kendali dan mengubah apapun di sekitarnya.
Pohon menjadi kering layu. Ada pohon yang kembali menjadi sebuah benih dan menghilang. Ruang dan waktu menjadi kacau dan terdistorsi. Kehidupan yang ada di dekat Aliciana saat itu menjadi sebuah keganjilan yang jauh dari kata kehidupan.
Satu satunya yang masih bisa selamat dan hidup dalam situasi itu hanyalah Shiro. Seorang eksistensi yang misterius dan memiliki kekuatan luar biasa.
Pada momen tak ada sosok bisa menjadi sandaran, sosok Shiro saat itu adalah seorang penyelamat dan di saat yang sama, seorang dewa kematian.
Aliciana meminta belas kasih untuk membunuh dirinya. Bebaskan dirinya dari penderitaan yang dia alami.
Dalam keputusasaan itu, hanya itu saja yang muncul di benak Aliciana.
Tetapi Shiro memberikan jawaban yang berbeda.
Kematian akan terjadi pada setiap makhluk yang hidup, tapi makhluk itu tak berhak menentukan kematiannya.
Sebuah kata kata yang aneh dan sulit dimengerti. Tetapi entah mengapa Aliciana merasa lebih baik.
Petualangan yang sebenarnya akhirnya dimulai sejak saat itu. Sayangnya, itu juga pertanda sebuah akhir.
Akibat lepas kendali itu, Aliciana menerima sebuah dampak balik yang tak terduga oleh siapapun. Bahkan oleh Shiro.
Rambutnya yang biru indah bagaikan langit cerah berubah menjadi hitam kelam. Sayangnya, itu hanyalah sebuah efek kecil yang terlihat oleh mata.
Kekuatan jiwa Aliciana berkurang drastis. Dan bagaikan sebuah wadah bocor, tak ada yang bisa menghentikan hal itu.
Saat tahu kalau Aliciana akan segera mati, entah mengapa sebuah perasaan rumit menghampiri Aliciana.
Aku ingin mati, dan keinginan itu akan segera terkabul. Tetapi kenapa setelah itu aku ingin hidup?
Aliciana tak begitu mengerti, hanya saja dia paham kalau pemikirannya itu adalah salah.
--tetapi, apakah ada cara untuk menghentikan kematiannya?
Dia bertanya pada orang yang mungkin memiliki jawabannya.
Dan Shiro pun menjawab, tapi itu bukan jawaban yang memuaskan.
Bukannya tak ada, tapi tak bisa.
Sebuah jawaban yang pendek, tapi anehnya Aliciana tak membahasnya lebih lanjut lagi.
Dia ingat perjanjiannya dengan Shiro. Shiro akan melakukan apapun demi dirinya selama dia pantas. Jika Shiro tak melakukan sesuatu, itu berarti di mata Shiro, Aliciana masih tak begitu penting.
Jadi apa yang harus dilakukan?
Sebuah ide konyol muncul di benak Aliciana. Mungkin karena putus asa atau menerima kenyataan, dia meminta suatu yang mungkin begitu normal.
Aku ingin menjadi pengantin. Bisakah kau mengabulkan permintaan terakhirku ini?
_____
___
_
"Jadi kemana kita hari ini?"
"Bagaimana kalau kita memancing ikan di danau yang tak jauh dari tempat ini?"
"Hmm... Memancing huh?"
"Apa kau tidak suka?"
Laila menggelengkan kepalanya dan tersenyum tanda dia tak menolak.
"Bukannya tak suka, tapi aku buruk dalam memancing."
Shiro tertawa kecil dan setelah itu dia pergi mengambil alat memancing. Darimana Shiro mendapatkan semua alat itu? Itu suatu yang tak begitu penting untuk dipikirkan.
Shiro atau Kuro, mereka benar benar tak berubah.
Tidak ada yang berubah.
Saat mengingat itu, Laila mengingat kembali tujuannya ke masa lalu, yaitu untuk menghentikan Shiro bunuh diri atau menghilangkan pemikiran untuk bunuh diri.
Untuk melakukan itu, ada banyak hal yang harus Laila pikirkan.
-berapa lama dia mengambil alih tubuh Aliciana?
-bagaimana membujuk Kuro untuk tak ingin mati?
-karena dia di masa lalu, apakah dia harus mengubah masa depan?
Untuk masalah pertama, itu suatu yang tak bisa diprediksi. Jadi melakukannya secepat mungkin adalah hal yang terbaik.
Mungkin saja dia harus memberitahu seluruh kejadian yang akan datang. Dengan itu semuanya akan lebih cepat.
Tetapi mengingat masa lalu Shiro yang begitu kelam, mungkin Shiro akan senang karena tahu bisa mati.
Ide ditolak.
Untuk masalah kedua, itu juga suatu yang sulit. Pengalaman hidup yang Shiro alami membuatnya merasakan suka maupun duka. Nikmat surga dan derita neraka. Bagaimana cara membujuk orang yang sudah mengalami semua itu?
Kepala Laila begitu pusing.
Lalu untuk masalah mengubah kejadian masa lalu, itu bukan sebuah ide buruk, tapi juga bukan sebuah ide yang baik.
Aliciana pernah mencoba mengubah masa lalu seseorang, tapi semuanya mengalami koreksi dari sang penjaga waktu.
Itu belum terjadi, tapi mengetahui itu membuat Laila ragu apakah harus mengubah masa depan. Selain itu resiko yang tak diketahui membuatnya salah mengambil keputusan.
Aku butuh obat sakit kepala sekarang.
Sayangnya, tak ada yang mampu menyembuhkan sakit kepala Laila untuk sekarang.
"Alice, jadi memancing?"
"Tentu."
Kemudian mereka akhirnya pergi ke danau.
Tetapi sebelum itu.
"Alice, karena kau belum pulih sepenuhnya, sebaiknya aku gendong saja."
"..err.. tolong."
Ini memang akan terjadi, jadi Laila tak memiliki alasan untuk menolak.
Tetapi entah mengapa dia begitu jengkel. Di masa depan, Shiro tak begitu romantis seperti ini.
Tidak. Itu salah.
Perlakuan yang Aliciana terima saat ini tak lebih dari sebuah peran suami yang dilakukan oleh Shiro.
Aku akan mengabulkan permintaan itu. Aku akan memperlakukan dirimu seperti seorang suami yang benar benar mencintai istrinya. Kita akan bermesraan setiap hari dan melakukan banyak hal bersama. Dan aku berjanji akan memberikan kenangan terbaik dan terindah yang pernah kau alami.
Tak ada kebohongan dalam perkataan dan perlakuan yang Aliciana terima. Bahkan karena begitu sungguh sungguh, mereka bahkan sering melakukan hubungan yang biasa dilakukan oleh sepasang suami istri.
Aliciana sudah lama mencintai Shiro, karena itulah perlakuan yang dia terima saat ini begitu spesial dan membahagiakan.
Tetapi bukan berarti dia tak mengharapkan suatu saat Shiro benar benar mencintainya dari lubuk hatinya yang paling terdalam.
Karena itulah saat Laila berhasil mendapatkan cinta Shiro dengan tulus di masa depan, kebahagiaan yang dia rasakan begitu luar biasa seperti sebuah mimpi yang menjadi nyata.
"Alice, apa ada yang salah?"
"Bukan apa apa, aku hanya sedang memikirkan sesuatu."
"Tentang apa?"
"Berapa banyak anak yang akan kita miliki?"
Shiro tertawa kecil.
"Jika Tuhan memberi berkah, aku rasa 10 sudah cukup."
"..."
"Apa terlalu banyak?"
Laila menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku juga ingin memiliki 10 anak."
Keheningan lalu memenuhi perjalanan mereka. Keduanya saat itu tahu kalau itu adalah hal yang mustahil.
Meskipun apa yang keduanya pikirkan benar benar berbeda.
Tak berapa lama kemudian mereka akhirnya tiba di sebuah danau yang cukup besar.
Shiro menurunkan Laila dengan pelan dan setelah itu dia mulai menyiapkan alat pancing dan umpan palsu yang menyerupai udang.
Setelah semua siap, dia melempar agak jauh ke tengah.
Laila tak mau kalah dan juga melempar umpan ke tengah dengan sekuat tenaga, tetapi itu tak berhasil.
"Muuu..."
Wajah Laila terlihat kesal. Hal itu membuat Shiro tertawa kecil.
"Kita sedang tak berlomba di sini. Kenapa kau begitu antusias?"
"Aku hanya merasa akan mendapatkan ikan yang lebih besar daripada milikmu."
"Darimana kau tahu?"
"Itu rahasia."
Dalam acara memancing mereka, Laila ingat kalau Aliciana mendapatkan ikan sebesar 3 meter lebih. Tentu saja karena tak memiliki kekuatan, dia hampir tertarik ke danau. Shiro yang sigap membantu akhirnya membuat Aliciana menang.
Kejadian itu terjadi seperti yang ada dalam ingatan Laila. Dia menang dari Shiro untuk pertama kalinya.
"Aku tak percaya benar benar kalah."
"Hehe.. aku sudah bilang kan? Akuilah kehebatanku."
"Ya ya.. kau hebat. Hanya dalam memancing."
"Kau keterlaluan."
Laila memukul Shiro dengan kekuatan penuh, tetapi itu tak memiliki efek.
"Tapi kenapa kau melepaskan ikan itu?"
"Apa kau menyuruhku memakan ikan sebesar itu? Kau pasti bercanda. Aku tahu kau bisa menghabiskan ikan sebesar itu sendirian, tapi tidak denganku."
"Yah.. tidak masalah. Lagipula aku lebih suka daging naga daripada daging ikan."
Di masa depan Shiro memiliki hubungan yang baik dengan naga, tapi tidak dengan masa ini. Baginya naga adalah bahan makanan mewah yang langka.
"Jangan makan mereka. Mereka memiliki peran penting di dunia ini."
"Aku tahu itu. Tetapi di masa sekarang ini, naga tak lebih menjadi sebuah peliharaan. Mereka tak bisa disebut sebagai naga lagi."
Shiro benar.
Di dalam masa perang yang melibatkan seluruh dunia ini, banyak pihak yang mencoba memanfaatkan para naga karena mereka memiliki kekuatan setara penyihir tingkat Master untuk naga yang paling rendah.
Lalu budaya naga akan takluk jika dikalahkan dengan cara tertentu juga membuat mereka mudah dijadikan senjata pasukan perang.
Di masa ini Aliciana belum melihat naga secara langsung, tetapi Laila begitu mengenal mereka.
"Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu terhadap dunia ini?"
"Tidak. Itu di luar kewenanganku. Aku akan melanggar sesuatu yang tak harus dilanggar jika melakukannya."
"Apakah itu lebih penting daripada kedamaian dunia?"
"Bukannya begitu. Perang hanyalah salah satu kejadian yang ada di dunia ini. Perang akan berhenti jika sudah saatnya berhenti."
"Kata katamu seperti seorang yang melihat perang berulang kali saja."
"...memang."
Laila tahu itu, tapi dia tetap menanyakannya.
Baginya ini cukup penting untuk memastikan kalau Shiro benar benar mengalami apa yang Solaris ceritakan.
Di saat mereka membahas kurang penting itulah, mata Laila tiba-tiba tertuju pada sebuah pohon. Lebih tepatnya buah dari pohonnya.
"Ah... Itu...?"
"Buah persik emas kah. Kau tampaknya pandai menemukan sesuatu yang langka."
"Itu memang buah langka, tapi aku tak begitu tertarik. Kau bisa memakannya jika mau."
Dari buku yang Laila baca, buah persik emas mampu meningkatkan energi sihir untuk penyihir elemen api. Disebut juga sebagai buah 100 tahun karena berbuah 100 tahun sekali.
Di masa depan buah persik emas sudah punah. Menemukannya di masa ini cukup menyenangkan, tapi bagi Aliciana yang sudah tak memiliki umur panjang, buah itu tak memiliki arti.
"Buah seperti itu juga tak memiliki arti untukku. Tapi jika kau menginginkan buah, aku memiliki hal yang lebih baik."
"..."
Laila tak begitu bereaksi karena tahu apa yang akan Shiro keluarkan dari ruang entah berantah.
"Ini disebut sebagai Apel Surga. Kau bisa menjadi Paladin dengan makan buah ini."
"Masukkan itu kembali. Kau hanya akan membuat masalah jika ada yang mendengarnya."
Shiro tertawa kecil dan mengembalikan buah apel berwarna pelangi itu.
"Sudahlah. Sebaiknya kita kembali ke rumah. Aku sudah lapar."
"Kau menolak semua tawaranku dan sekarang kau lapar. Apa maumu?"
Laila tertawa kecil sedangkan Shiro mendesah.
♪(┌・。・)┌ヘ( ̄ω ̄ヘ)
3 hari sejak Laila mengambil alih tubuh Aliciana. Selama itu dia hanya melakukan apa yang terjadi dalam ingatannya tanpa melakukan hal lain yang begitu mencolok.
Meskipun sebenarnya apa yang dia lakukan tak begitu memiliki pengaruh dengan orang lain karena hanya ada mereka berdua, lebih baik menghindari masalah di kemudian hari.
Seperti biasa, Laila terbangun dengan tanpa busana. Tidak seperti hari hari kemarin, hari ini dia merasa lebih baik. Tubuhnya juga terasa lebih ringan.
Pada hari ini tubuh Aliciana tampaknya sudah pulih sepenuhnya. Tetapi bukan berarti dia sudah bisa menggunakan sihir.
"Alice, kau sudah bangun?"
Shiro datang, entah mengapa dia tak terlihat seperti biasa.
"Ada apa? Jika masalah sarapan, nanti saja. Aku harus mandi terlebih dahulu."
"Kalau begitu cepatlah. Kita tak memiliki banyak waktu."
".... Aku mengerti."
Sekilas kehidupan mereka begitu damai, tapi sebenarnya mereka menjalani hidup bagai berjalan di atas es danau yang membeku.
Aliciana tak hanya menjadi incaran musuh karena kekuatannya, tapi juga menjadi incaran negara aliansi perlawanan. Kedua pihak itu hanya mencoba memanfaatkan kekuatannya saja, jadi mereka adalah pihak yang ingin Aliciana hindari.
Lalu bagi Shiro sendiri, kekuatannya yang luar biasa dan tak berada dalam pihak manapun juga menjadi incaran kedua belah pihak. Mereka tahu berhasil membawa Shiro ke pihak mereka akan membawa kemenangan. Tentu saja Shiro tak akan berpihak pada manapun mengingat posisinya.
Sekitar 10 menit kemudian, mereka pergi dari rumah yang hanya mereka tinggali beberapa hari.
__ADS_1
Mereka keluar dengan mengenakan jubah untuk menutupi identitas dan juga alat sihir untuk menutupi tekanan sihir. Bagi Shiro membuat tekanan sihirnya seperti orang biasa itu mudah, tapi tidak dengan Laila yang memiliki tekanan sihir yang begitu unik. Meskipun dia dalam keadaan lemah saat ini, tekanan sihirnya masih bisa terpancar.
"Ke mana kita pergi?"
"Entahlah. Selama ini aku hanya mengikuti ke mana kakiku melangkah. Apakah kau punya tujuan tertentu?"
Laila ingat kalau setelah ini mereka akan pergi ke sebuah kota benteng yang dalam waktu dekat akan menjadi lokasi perang selanjutnya.
Sama seperti sebelumnya, mereka akan singgah dan kemudian pergi setelah perang dimulai.
Tetapi bukan itu yang mengganggu pikiran Laila.
(Aneh. Seharusnya mereka menemukan kami lebih lama. Apa yang sebenarnya terjadi?)
Sebuah kejanggalan untuk pertama kalinya terjadi. Ini aneh karena Laila merasa tak melakukan hal yang merubah masa lalu.
"Alice?"
"Tidak. Aku akan mengikuti ke mana langkah kakimu. Lagipula aku adalah istrimu. Sudah menjadi kewajibanku untuk selalu menurutimu."
Shiro hanya tersenyum dan setelah itu dia menggenggam tangan Laila dengan erat.
Perjalanan mereka berlangsung selama dua hari. Selama itu mereka berpapasan dengan para pengungsi perang.
Karena mereka juga mengaku sebagai pengungsi perang, mereka ikut bergabung dalam rombongan.
Sekitar 50 orang akhirnya terkumpul. Mereka bersama sama memasuki sebuah kota benteng yang bernama Folr.
Dalam situasi perang seperti ini penjagaan begitu ketat dan setiap orang yang tak memiliki identitas jelas akan langsung dicurigai sebagai mata mata dan dikurung.
Laila dan Shiro sendiri menggunakan identitas palsu, jadi dengan mudah mereka bisa masuk. Dari rombongan mereka, ada 3 orang yang tak bisa masuk karena tak ada identitas.
Yang membuat hati Laila sedikit tersayat adalah tiga orang itu masih anak anak.
"Kita tak bisa berbuat apa apa untuk mereka."
"Aku tahu itu."
Laila mencoba untuk menjauhkan pikirannya dari apa yang dia lihat. Dia paham, berbeda di masa depan di mana perang besar hampir tak terjadi, masa ini adalah masa di mana darah manusia begitu mudah tercecer.
Lalu meskipun mereka anak anak, tapi bukan berarti tak memiliki taring. Ada waktu di mana anak anak digunakan sebagai kurir sihir penghancur atau dicuci otak untuk menjadi mata mata.
Ini masa yang sulit bagi mereka.
"Meskipun begitu, aku tetap berharap semua ini akan cepat berubah agar mereka memiliki masa depan yang lebih baik." Lanjut Laila.
"Anak anak adalah masa depan. Aku tak begitu setuju dengan kata kata itu."
"Kenapa?"
"Anak anak memang akan menjadi pemimpin masa depan, tapi kita yang hidup di waktu sekarang menentukan jalan apa yang akan mereka ambil. Masa depan bukanlah sebuah beban yang diberikan pada anak anak."
"..."
Sebagai orang tua, Laila mengerti apa yang disampaikan Shiro.
Dia tahu ingin menjadikan Riku seorang yang luar biasa di masa depan, tapi dia juga tak boleh membuat itu sebagai sebuah beban yang Riku pikul.
"Sudahlah, sebaiknya kita cari penginapan dulu. Setelah itu kita bisa jalan jalan."
Laila mengangguk dan mengikuti Shiro.
Tak butuh waktu lama mereka menemukan penginapan. Harga yang diberikan cukup mahal, tapi itu situasi yang tak terelakkan sekarang.
Pajak menjadi tinggi dan biaya hidup melambung. Banyak yang ingin perang segera berakhir, tapi itu bukanlah semudah membalik telapak tangan.
Laila tahu. Perang akan semakin memburuk dan mengubah daratan menjadi lautan darah. Ini adalah masa terkelam sepanjang sejarah Orladist.
"Kita beruntung bisa mendapatkan penginapan. Yah.. aku harap harga sedikit lebih murah."
"Kau masih saja membicarakan uang. Aku sudah mengatakan berulang kali untuk tak perlu memikirkannya. Sudah menjadi tugas suami untuk memenuhi kebutuhan hidup istrinya."
"Kau bisa sombong karena kau memiliki kekuatan aneh. Aku tak tahu apakah harus senang atau sedih memiliki suami sepertimu."
Di masa manapun, Shiro akan menguasai banyak uang. Bagaimana di dunia ini ada orang seperti Shiro?
Bagi Solaris eksistensi Shiro sendiri adalah sebuah keganjilan, mana mungkin Laila bisa mengerti.
"Tapi kau tetap mencintaiku kan?"
"Tentu saja. Aku mencintaimu, Sayang."
Mengatakan secara terang terangan membuat Laila tersipu malu.
Keduanya lalu berciuman mesra. Saling memberikan kasih sayang dan cinta.
"Aku bisa melakukan ini seharian, tapi melakukan itu entah mengapa terasa janggal."
"Itu karena hanya kau manusia di dunia ini yang tak memiliki kegiatan. Lakukan sesuatu yang berguna."
"Tapi kau tak menolak jika aku melakukannya kan?"
Wajah Laila memerah dan sekaligus terkejut.
"T-tentu saja aku mau."
"Lalu bagaimana kalau kita mulai saja?"
Tatapan mata Shiro berubah menjadi sesuatu yang Laila kenal. Mata binatang buas.
"Hentikan. Sudah aku bilang untuk melakukan sesuatu yang lebih berguna. Kenapa kau sama sekali tak mendengarkan?"
Shiro akhirnya kembali normal.
"Hmmm... Melakukan sesuatu yang berguna kah.. ?"
"Aku ingatkan, jangan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan perang. Percuma saja kita datang ke kota ini jika kau melakukan sesuatu yang mencolok."
Percuma. Tatapan dan senyuman yang Shiro perlihatkan adalah tanda dia merencanakan sesuatu.
Tentu saja Laila tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Lalu seperti yang diduga, Shiro melakukan hal yang Laila larang.
Tiga hari kemudian, Laila mendengar kalau ada pembunuhan yang dilakukan oleh sosok misterius.
"Shiro, kenapa kau masih tetap melakukannya? Apa kau ingin dapat masalah?"
"Tenang, lagipula tak ketahuan. Selain itu yang aku bunuh adalah mata mata. Bukankah aku adalah pahlawan?"
"Aku tak bisa membedakan antara pahlawan atau pembunuh. Ya ampun, jika ada masalah, kau harus membereskannya sendiri."
"Dengan senang hati, tuan putri."
"A-Aku tak akan terperdaya oleh rayuanmu. Percuma jika kau ingin aku berhenti marah."
Shiro hanya tersenyum kecil.
Sedangkan Laila tak bisa berkutik jika sudah mendapatkan rayuan gombal yang merupakan senjata andalan Shiro.
---hari itu, seperti biasa Laila dan Shiro pergi melakukan kegiatan bersama layaknya seorang pasangan yang sedang bulan madu.
Tetapi bukan berarti mereka bisa menikmati suasana yang romantis dan indah. Pemandangan yang mereka lihat semakin hari semakin memburuk.
"Pasukan kerajaan Eldesa sudah mendekat. Tempat ini akan menjadi medan perang selanjutnya."
"Para pasukan aliansi perlawanan sudah berkumpul di kota Folr untuk bersiap. Mungkin kita sebaiknya pergi dari kota ini."
Pasukan aliansi perlawanan terdiri dari berbagai negara kecil yang sadar akan dimusnahkan jika tak melawan balik. Dalam perang, pihak yang kalah akan dikuasai oleh sang pemenang, tetapi hal itu tak berlaku dalam perang kali ini.
Dalam invasinya menaklukan tanah Orladist, kerajaan Eldesa tak hanya menyerang saja, tapi juga melakukan pembantaian secara besar besaran.
Sudah seringkali terlihat penduduk yang tak bersalah dibunuh, disiksa dengan kejam. Yang paling beruntung akan dijadikan budak, tetapi itu tak lagi disebut sebagai hidup.
Anehnya, kerajaan Eldesa merupakan salah satu dari 4 negara besar dengan kekuatan militer yang tak begitu kuat di masa lalu. Kekuatan militer mereka meningkat terlalu pesat dan tak masuk akal.
Banyak yang sudah mencoba menemukan rahasia kekuatan mereka, tapi hasilnya nihil.
"Aku mendengar rumor kalau pasukan kerajaan Eldesa dipimpin oleh Paladin. Sepertinya mereka ingin menghancurkan kota ini. Alice, ada apa?"
"...tidak. Bukan apa apa."
Itu bohong. Laila saat ini terkejut karena apa yang terjadi berbeda dengan apa yang dia ingat.
Perang dalam kota Folr seharusnya hanya melibatkan seorang penyihir peringkat Master. Pasukan kerajaan Eldesa mengirim 3 Master, sedangkan aliansi perlawanan mengirim 2 Master.
Pertarungan ini bisa dibilang salah satu yang paling sengit. Kedua belah pihak saling menyerang dan mundur. Tetapi pasukan aliansi perlawanan akhirnya tetap dikalahkan karena kalah jumlah.
Tetapi usaha mereka tidaklah sia sia. Penduduk yang mengungsi akhirnya bisa sampai ke kota selanjutnya dengan aman.
(Kenapa hal ini terjadi lagi? Jika ada perubahan, seharusnya tak sebesar ini karena aku tak melakukan sesuatu yang menyimpang. Mungkinkah ada yang salah dengan ingatanku?)
Laila menggelengkan kepalanya membantah dugaan itu. Semuanya terjadi sama seperti yang ada dalam ingatannya.
Tetapi saat itu dia belum sadar. Ketidaknormalan yang ada pada Shiro bukanlah suatu yang bisa dimengerti hanya dengan ingatan dan pikiran manusia saja.
⁽⁽ଘ( ˊᵕˋ )ଓ⁾⁾⁽⁽ଘ( ˊᵕˋ )ଓ⁾⁾⁽⁽ଘ( ˊᵕˋ )ଓ⁾⁾⁽⁽ଘ( ˊᵕˋ )ଓ⁾⁾ƪ(‾.‾“)┐
7 hari kemudian, perang antara kerajaan Eldesa dan aliansi perlawanan akhirnya terjadi.
Pihak kerajaan Eldesa mengirim 3000 penyihir, sedangkan pasukan aliansi perlawanan tak lebih dari 2000 penyihir.
Dalam segi jumlah pasukan pasukan aliansi perlawanan memang kalah, tapi mereka lebih unggul dalam segi lokasi.
Kota Folr sendiri tak disebut sebagai kota benteng bukan tanpa alasan. Kota ini dikelilingi oleh tembok selebar 10 meter dengan ketinggian 40 meter lebih dan dibangun dengan sihir penguatan.
Kota ini juga dilengkapi dengan sebuah sihir pelindung skala besar. Tak hanya kuat, tapi juga kokoh. Pelindung bahkan dikatakan mampu menahan serangan seorang Paladin.
Semua itu akan dibuktikan dalam perang kali ini.
"Pelindung dalam kota ini tak terlalu buruk, tapi sudah ketinggalan zaman."
Shiro berdiri di atas tembok melihat pasukan kerajaan Eldesa yang sedang membangun kemah.
Di salah satu kemah ada sebuah aura besar yang kemungkinan dimiliki oleh Paladin.
Saat ini Alice sudah meninggalkan kota Folr. Dia tak sendirian. Dengan Authority Copy (jumlah hanyalah ilusi), dia membuat tiruan dirinya untuk membawa Alice pergi dari kota Folr.
Tiruan dirinya memiliki 1 persen kekuatan yang sama dengan dirinya, tapi itu sudah cukup dengan standar kekuatan di dunia ini. Jadi tak ada yang perlu ditakutkan. Tiruannya juga terhubung dengan dirinya, jadi dia langsung tahu jika terjadi sesuatu. Meskipun tak mungkin ada yang bisa mengalahkan tiruannya.
Yang manjadi masalah sekarang, apa yang harus dia lakukan dalam perang kali ini?
(Karena posisiku, aku tak boleh ikut campur terlalu dalam masalah dunia ini. Tetapi karena naga perawan tua itu meminta aku melakukan hal yang diperlukan untuk melindungi Alice, aku rasa akan sedikit ikut campur)
Selain itu, keberadaan Paladin di pihak musuh akan membuat perjalanan Alice tidak aman. Itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk ikut campur.
Sosok Shiro menghilang dari tempatnya berdiri. Dia muncul di salah satu tenda milik Paladin. Dan setelah itu, yang tersisa hanyalah percikan darah.
Setelah itu, perang di kota Folr terjadi seperti apa yang ada dalam ingatan Alice.
༼⁰o⁰;༽
"Alice, minumlah."
Laila menerima segelas air dari Shiro. Dia saat ini berada di tengah perjalanan ke salah satu kota besar 4 negara terkuat. Dia tak sendiri, ada 5000 orang lain yang ikut pergi ke sana.
Jumlah itu hanyalah sedikit jika dibandingkan dengan jumlah yang dibantai dalam perang.
"Terima kasih."
Laila minum dan setelah itu menyandarkan dirinya di pohon.
Air yang dia minum hanyalah air yang diciptakan menggunakan sihir. Tak ada rasa begitu spesial atau manis.
Jika mau sebenarnya dia bisa meminta Shiro membuat minuman yang nikmat, tapi saat melihat rombongan yang bahkan tak makan sepanjang hari, dia merasa itu bukan sebuah tindakan yang pantas.
"Perang semakin memburuk. Ini bukan yang terbaik, tapi beruntung masih ada yang mau menampung mereka."
"Kau mengatakan seolah ini bukan urusanmu. Yah.. aku bisa mengerti alasannya."
Laila tahu identitas Shiro adalah King of Gods, jadi dia memiliki sebuah aturan untuk ikut campur dalam urusan sebuah dunia, terutama dunia milik dewa lain.
Sedangkan sebagai Aliciana, dia tahu Shiro adalah sebuah sosok yang tak bisa dimengerti karena tindakannya yang tak bisa ditebak. Kadang dia menolong, kadang dia mengabaikan. Seperti ada sebuah alasan yang membuatnya seperti itu.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?"
Laila ingat kalau ini adalah saat di mana mereka akan berpisah dengan rombongan pengungsi untuk membuat sebuah rumah kecil di labirin.
Tentu saja itu terdengar konyol mengingat labirin adalah sarang monster, tapi itu tak ada masalah dengan kekuatan Shiro.
Karena tahu apa itulah sebenarnya Laila tak ingin mengubah alur masa lalu, tapi melihat situasi sekarang, dia merasa ingin melakukan sesuatu yang menyimpang.
Ini bisa dibilang sebuah judi karena dia tak tahu apa yang akan dia ubah di masa depan nanti.
"Jika bisa aku ingin melihat mereka sampai di kota Arsena. Setelah itu kita pergi. Bagaimana?"
"....tidak masalah."
Kenapa ada jeda dalam jawaban Shiro?
Ini bukan Shiro yang biasanya.
Karena bukan suatu yang begitu aneh, Laila tak begitu memikirkannya. Tetapi dia tak menyangka, pemikiran naifnya membuatnya menyesal.
Keesokan harinya, rombongan pengungsi dihadapkan dengan sebuah padang rumput yang cukup besar. Tak ada jalan setapak atau petunjuk.
Sekilas itu terlihat aman dan tak ada apapun yang mengancam, tapi itu saat dalam keadaan normal.
Salah satu perwakilan pemimpin pengungsi memberitahukan kalau mereka harus melewati padang rumput itu untuk segera sampai di tujuan. Banyak yang tak senang dengan hal ini karena akan membuat lokasi mereka ketahuan.
Perwakilan itu menjelaskan kalau tak ada banyak pilihan yang bisa mereka ambil. Ada beberapa jalur menuju ke kota Arsena, tapi kebanyakan berbahaya. Apalagi dengan jumlah mereka yang cukup banyak. Lagipula mustahil dengan jumlah sebanyak itu tak ketahuan oleh pihak manapun.
Menyerah karena tak memiliki pilihan, rombongan akhirnya memutuskan untuk melewati padang rumput.
Laila senang karena mereka satu langkah lagi mendekati tujuan, tapi saat dia ingin ikut dengan kelompok yang biasa, Shiro mencegahnya dan mengatakan kalau sebaiknya mereka berada di bagian akhir dan menyusul nanti.
"Senangnya menjadi muda. Dalam situasi apapun kalian tetap mesra."
"Hahah.. aku juga pernah muda, jadi aku mengerti. Kalian tenang saja, kami tak akan mengganggu."
Kelompok yang Laila ikuti mengerti kenapa Laila dan Shiro berada di barisan belakang.
Laila tak begitu bodoh untuk tak mengerti apa yang mereka maksud. Wajahnya langsung merah padam karena malu. Sangat malu.
Tampaknya hubungan mesum mereka sudah menjadi rahasia umum.
Shiro, aku harap kau memberikan penjelasan yang masuk akal. Atau kau tak akan mendapat jatah satu bulan.
Laila lupa kalau Shiro bukanlah Kuro yang akan takluk dengan alasan sederhana.
--2 jam kemudian, rombongan akhirnya tak terlihat lagi. Di saat itulah Shiro mulai bergerak.
Shiro mendekati Laila dan membawanya ke balik pohon besar. Dia lalu mengunci Laila di antara dua tangannya agar tak bisa kabur.
Wajah Laila memerah padam. Dia tak menyangka Shiro akan begitu bernafsu.
Laila mendesah dalam hati, dan kemudian mulai melepas kancing pakaiannya.
"Kau tahu, aku tak akan ke mana mana. Kenapa kau tak bisa menahan diri sebentar saja?"
"..."
Shiro tak menjawab dan hanya memberikan sebuah senyuman kecil.
Di saat itulah Laila merasakan sebuah sihir telah aktif di sekitar mereka. Bukan sihir biasa, tapi sihir tingkat tinggi.
Menggunakan sihir ilusi, sihir bisu, sihir pelindung dan sihir tak terlihat. Seperti biasa kau berlebihan.
Laila merasa lebih tenang dengan sihir sebanyak itu, jadi dia tak perlu kawatir ada yang mengintip perbuatan mereka.
Tapi kenapa ini menjadi sebuah kebiasaan baru? Mereka benar benar pasangan mesum.
Laila mendesah berat saat menyadari hal ini.
Lupakan. Cepat lakukan dan hentikan nafsu binatang buasnya.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka memulai ritual cinta mereka.
---beberapa jam kemudian, mereka akhirnya mulai menyusul rombongan. Laila berada di punggung Shiro dengan penuh wajah kesal.
"Kau masih marah?"
"Tentu saja. Kenapa kau melakukannya sampai aku tak bisa bergerak lagi? Apa kau ingin membunuhku?"
"Kau sudah merasakan surga, kenapa harus mati?"
Laila memerah dan memukul Shiro karena kesal.
Shiro hanya tertawa kecil.
"Lupakan, sebaiknya kita cepat menyusul. Mereka pasti berpikir kita melakukan hal berlebihan."
Memang berlebihan. Tetapi Shiro tak memberikan komentar.
Shiro berlari dengan kecepatan yang cukup tinggi. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya mereka bisa melihat rombongan.
Tetapi aneh. Rombongan sama sekali tak bergerak. Mereka bahkan tak disebut berdiri dan lebih terlihat tumbang. Lalu banyak cairan kehitaman yang berada di sekitar rombongan.
Bau amis mulai tercium. Laila langsung merasakan firasat buruk.
"A-apa yang terjadi?"
Mereka tiba. Laila tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Orang orang yang dia kenal beberapa hari ini kini menjadi tumpukan mayat. Tubuh mereka tercerai berai, organ organ berceceran, tubuh terpotong menjadi beberapa bagian. Dan yang paling mengerikan adalah ekpresi yang mereka semua tunjukkan sebelum akhirnya mati.
Ekpresi penuh keputusasaan dan kebencian. Seolah apa yang terjadi pada mereka bukanlah suatu yang dilakukan oleh manusia.
"Uggghh..."
Laila mual dan ingin muntah. Dia pernah melihat kematian, tapi tidak dengan cara seperti ini.
Baginya ini terlalu sadis dan menyedihkan. Hanya monster yang sanggup melakukan semua ini.
"Kau baik baik saja?"
"..."
Laila menggelengkan kepalanya. Dia tak merasa suatu yang aneh saat melihat Shiro terlihat biasa saja.
Pemandangan seperti ini pasti sudah hal yang biasa baginya.
"Sebaiknya kita pergi dari sini. Mayat mereka akan memancing para monster."
"!?"
Laila terkejut bukan main.
Dalam situasi biasa, hal itu memang suatu yang umum di dunia ini. Tapi Laila tak bisa menyingkirkan perasaan tak nyaman yang muncul sejak tadi.
"Setidaknya lakukan sesuatu terhadap mayat mereka."
Itu bukan suatu yang sulit bagi Shiro. Sayangnya, Shiro hanya diam saja mengabaikan permintaan Laila.
"Kita pergi dari sini."
"Shiro!!"
Laila kesal, tapi Shiro tetap tak goyah dengan keputusannya.
Shiro mengaktifkan sihir teleportasi dan dalam sekejap mereka menghilang dari tempat itu.
Keduanya tiba di depan sebuah gua. Sekilas terlihat gua biasa, tapi Laila tahu kalau itu adalah sebuah mulut labirin.
Kenapa kau membawaku ke tempat ini?
__ADS_1
Laila dibuat terkejut. Bagi Aliciana mungkin ini gua yang kebetulan mereka temukan dalam perjalanan, tapi setelah Shiro membawanya langsung ke tempat itu, Laila menghapus semua pemikiran sebelumnya.
Mereka tak kebetulan menemukan gua itu. Shiro sengaja membawanya ke tempat itu.
Pada saat ini Laila sadar. Sejak awal semuanya sudah dalam rencana Shiro.
Yang menjadi pertanyaan adalah....
"Kenapa?"
"..."
Shiro diam dan menurunkan Laila dari gendongannya.
Dia lalu masuk tanpa memberikan jawaban pada Laila.
"Shiro, tunggu! Tolong jelaskan semuanya padaku!!
Shiro berhenti dan menoleh ke arah belakang.
"Apa yang harus aku jelaskan padamu?"
"..."
Laila ingat kalau saat ini dia bukanlah Laila, tapi Aliciana. Aliciana saat ini tak tahu apapun. Akan terasa janggal jika Laila menuntut penjelasan.
"Untuk sementara kita akan tinggal di tempat ini sampai situasi mereda. Kau tak perlu memikirkan hal yang tak perlu."
"!?"
Perkataan Shiro barusan akhirnya membuat Laila sadar.
Kenangan bahagia yang Aliciana lalui sudah direncanakan oleh Shiro. Dia tak ingin Aliciana memiliki sebuah ingatan buruk, jadi dia membawa Aliciana ke tempat yang membuatnya bahagia di akhir hidupnya yang tinggal sedikit.
Pada saat ini dia juga sadar. Betapa tidak tahunya dirinya tentang dunia luar pada masa ini.
Masa ini dikenal sebagai masa paling gelap di tanah Orladist, tapi sepertinya itu masih belum cukup untuk menggambarkan kejadian sesungguhnya.
Apa yang terjadi pada masa ini?
"Shiro, tunggu!! Aku minta penjelasan tentang apa yang terjadi pada mereka. Kau tak mungkin tak tahu apapun."
Shiro meminta Laila untuk tinggal dan akan menyusul. Tak mungkin Laila tak menyadarinya.
"Itu bukan suatu yang perlu kau pikirkan. Mereka mati karena dibunuh. Apa lagi yang perlu dijelaskan?"
"Jangan balik bertanya! Aku ingin tahu apa yang kau sembunyikan dariku."
Shiro mendesah kecil.
"Kau tahu, aku mencoba untuk tetap sabar menuruti keinginanmu, tapi kau harus tahu batas. Lagipula ini bukan masa di mana kau harus melakukan sesuatu, Laila."
"Aku tak ingin melakukan sesuatu, tapi hanya in-!?"
Apa dia salah dengar?
Seolah tahu apa yang dipikirkan Laila, Shiro melanjutkan.
"Kenapa kau berpikir aku tak akan tahu? Apa aku tak akan mengenali istriku sendiri meskipun penampilan mereka berbeda?"
"...b-bagaimana mungkin...?"
"Sulit menjelaskannya, tapi aku bisa mengakses ingatan diriku di masa depan. Ini bukan suatu yang luar biasa."
Tentu saja tidak. Jangan merendah. Di dunia ini mungkin hanya Shiro saja yang memiliki kekuatan di luar logika seperti itu.
"...jadi kau... tahu semuanya?"
"Begitulah. Jujur saja tahu kapan akan mati sungguh membuatku merasa rumit."
Tapi tak ada ekspresi sedih dari Shiro. Jadi mati bukanlah suatu yang mengagetkan.
"Karena sudah seperti ini, sebaiknya kita bicara di tempat yang lebih tenang."
"..."
Laila tak bisa memberikan balasan. Tapi karena percuma saja menyembunyikan sesuatu dari Shiro, Laila menyerah.
Di saat yang sama dia merasa apa yang dia lakukan untuk mencegah niat Shiro mati ternyata sia sia belaka, tidak. Lebih tepat jika dia sudah gagal bahkan sebelum mencobanya.
Shiro lalu masuk ke gua dan melakukan pembantaian terhadap monster labirin. Dan setelah itu dia membuat sebuah ruangan yang tak kalah dari hotel bintang lima.
"Maaf menunggu."
"Seperti biasa kau cepat sekali melakukan sesuatu yang gila."
Tidak tepat jika disebut seperti itu. Shiro di masa depan butuh persiapan matang untuk melakukan sesuatu, tapi Shiro yang sekarang lebih luar biasa karena memiliki semua kekuatannya.
Laila lalu duduk di tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Dia merasa lelah secara tiba tiba.
"Ada apa yang salah?"
"Kenapa kau masih bertanya? Setelah kau tahu apa yang terjadi, kau sama sekali tak ada niat untuk merubah masa depan kan?"
Shiro menggelengkan kepalanya.
Dia tersenyum kecil, lalu merebahkan tubuhnya di samping Laila.
"Laila, ketika kau melahirkan Riku, apa yang muncul di benakmu?"
Kenapa membahas itu? Tak perlu menanyakan hal itu, pasti Shiro sudah tahu apa yang dia rasakan. Bagaimanapun juga Shiro adalah orang tua Riku.
"Itu adalah salah satu hal yang paling membahagiakan dalam hidupku. Di masa depan aku masih akan memiliki dua lagi."
Shiro tertawa kecil.
"Jika seperti itu, kau seharusnya mengerti kenapa aku tak perlu merubah masa depan."
"Aku masih tak mengerti. Memiliki sebuah keluarga yang utuh adalah impianku. Kenapa kau tak memberiku kesempatan untuk memilikinya. Kau sungguh kejam."
Air mata menetes dari mata Laila.
Setelah ke masa lalu untuk mencegah pemikiran Shiro dan tahu tak bisa merubahnya, dia merasa semua hal yang dia lakukan ini percuma saja.
"Aku tak membantahnya. Tetapi begitulah jalan kehidupan. Ada pertemuan akan ada perpisahan. Kau boleh sedih, tapi tak boleh berlarut dalam kesedihan."
"Bisakah kau diam!! Aku tak peduli lagi dengan omong kosongmu. Jika kau sempat membahas omong kosong, sebaiknya katakan kalau kau akan tetap hidup setelah aku kembali nanti."
"Itu mustahil. Ada alasan kenapa aku harus mati pada saat itu. Kau harus percaya aku melakukannya bukan hanya karena aku ingin mati. Bagaimanapun juga, bukan hanya kau saja yang memiliki keinginan untuk memiliki keluarga utuh."
"..."
Hati Laila sedikit mulai luluh.
Dia mulai memikirkan kembali semua yang terjadi.
Tentang masa lalu Shiro, tentang masa kehidupannya sebagai Demon King dan sosok Kuro yang selama ini dia kenal.
Seluruh kehidupan Shiro bukanlah sebuah kisah yang akan berakhir dalam satu buku. Bahkan kisahnya mungkin cukup mengisi perpustakaan terbesar di dunia.
Dengan semua yang terjadi padanya dan apa yang dia alami, tak mungkin ada sosok yang lebih mengetahui kebenaran tentang dunia selain dirinya.
Tapi kenapa Laila harus memikirkan semua itu? Yang dia inginkan hanyalah cara untuk membuat sebuah keluarga yang utuh dengan Shiro di masa depan nanti.
"Tetapi dengan diriku yang sekarang ini, itu mustahil dilakukan. Sebagai sosok yang menduduki puncak dunia, dunia ini tak mengizinkan aku untuk membuat sebuah keluarga kecil yang utuh."
".....apa maksudmu?"
Apa kau ingin memberikan alasan tak masuk akal lagi? Jika iya, Laila akan langsung memukulnya.
"Semuanya hal di dunia ini memiliki keseimbangan. Semut yang dikenal sebagai sosok lemah dan kecil, menutupi kelemahan mereka dengan jumlah. Pemangsa lebih sedikit daripada yang dimangsa. Ras yang memiliki umur panjang memiliki keturunan lebih sedikit daripada ras dengan umur yang lebih pendek."
"..."
"Sayangnya, semua aturan itu tak berlaku pada eksistensi yang berada dalam puncak seperti dewa. Mereka yang mengatur keseimbangan, bukan keseimbangan yang mengatur mereka. Ini adalah salah satu alasan kenapa aku tak bisa terlalu ikut campur dalam masalah dunia ini."
Laila tahu itu.
Dewa memiliki kekuatan yang sanggup menciptakan dunia atau menghancurkan dunia jika mereka mau, tapi bukan berarti mereka bisa melakukannya karena ingin atau sekedar iseng.
Sebagai ganti kekuatan dan kekuasaan luar biasa yang mereka miliki, eksistensi dewa terikat oleh aturan dan batas yang begitu rumit. Hanya dalam keadaan tertentu saja yang bisa memaksa mereka keluar dari aturan itu.
Tapi apa hubungannya dengan membuat keluarga kecil yang utuh?
Laila larut dalam pikirannya untuk mengerti apa yang ingin Shiro sampaikan. Karena pengalamannya, tak begitu sulit untuk mencerna seluruhnya.
"....Shiro...?"
Air mata Laila langsung berhenti. Dia tak menyangka ada hal yang begitu dasar menjadi penghalang kebahagiaan yang dia impikan.
Karena dia mengenal Shiro sebagai sosok manusia, dia lupa kalau Shiro sebenarnya adalah eksistensi yang berada dalam puncak dewa.
Ya. Hal dasar itu adalah ras mereka.
Karena sanggup melahirkan Riku, Laila tak merasakan suatu yang aneh karena Riku adalah benih cinta mereka berdua. Tapi apa Riku akan terlahir ke dunia ini jika Shiro masih menjadi dewa?
Awalnya Laila mengira sihir God Eraser adalah sihir menghapus dewa, tapi bagaimana jika itu adalah sihir menghapus kekuatan dewa dan merubah dewa menjadi manusia?
Jika benar, itu menjelaskan kenapa perlu 300 tahun lebih untuk mengubah Shiro menjadi sosok Kuro yang Laila kenal.
Untuk kasus kaisar Sei, pasti ada sebuah alasan. Mengingat misteri yang terjadi dalam Light War, tak terasa janggal jika Shiro memiliki anak dari Maria.
Semakin menyadari kebenarannya, semakin sadar kalau Laila ternyata egois. Dia tak pernah melihat sisi dan apa yang Shiro perjuangkan demi membuat sebuah keluarga yang utuh. Meskipun itu tak membuahkan hasil yang diinginkan semua orang.
"Jika kau mengerti, kau tak perlu sedih lagi. Aku mungkin mati, tapi mati sebagai manusia adalah hal yang paling aku inginkan."
Shiro berada di atas Laila dan menaruh jarinya di kening Laila.
Laila bisa menebak apa yang Shiro akan lakukan.
"Tunggu, aku masih-"
"Laila, ini bukanlah masa di mana tempatmu berada. Kau tak perlu memikirkan apa yang terjadi di masa ini. Tataplah masa depan, jangan melihat masa lalu. Saat kau bangun, mungkin kau akan sadar kalau aku sudah tak berada di sisimu."
"..."
"Tapi jangan kau bersedih. Meskipun aku tak berada di sisimu lagi, meskipun kau tak bisa melihatku lagi, aku akan selalu mengawasimu."
Shiro lalu tersenyum. Dan tak berapa lama kemudian, kesadaran Laila menghilang.
^_________^(ノ◕ヮ◕)ノ*.✧(ノ◕ヮ◕)ノ*.✧(ノ◕ヮ◕)ノ*.✧
Laila membuka matanya. Dia melihat ke sekeliling dan menemukan Solaris berdiri tak jauh darinya.
"Berapa lama aku tak sadarkan diri?"
"Hanya sekitar 1 jam." Jawab Solaris dengan senyuman kecil.
"Begitu..."
Laila merasa aneh. Dia tak tahu apa yang dia alami saat mengambil tubuh Aliciana adalah sebuah mimpi atau kenyataan.
Satu hal yang pasti, dia akhirnya menemukan jawaban yang selama ini dia cari.
"Tak ada hal yang berubah kah..."
Laila tak merasakan kehadiran Kuro di dunia ini lagi. Kuro benar benar tak ada niat untuk merubah masa depan.
"Tapi kau tak terlihat begitu sedih. Apa kau sudah menyerah?"
Dengan semua ini, tak ada cara lagi untuk mengembalikan Kuro pada mereka. Normalnya menyerah adalah sebuah jawaban yang benar, tapi itu tak berlaku pada Laila.
Laila lalu bangkit. Dia menatap ke arah Solaris dengan tajam. Tak ada tanda permusuhan, lebih tepat jika tatapan rasa penasaran.
"Kau tahu hal ini sejak awal kan?"
"Sulit menjawabnya. Ini berada di luar kemampuanku."
"Kenapa?"
Laila dibuat bingung. Solaris pasti tahu kalau masa depan tak akan berubah, tapi jawabannya membuat Laila penasaran.
"King adalah eksistensi yang tak bisa ditebak oleh siapapun. Kau pasti mengerti akan hal ini. Karena itulah, masa lalu maupun masa depan yang berhubungan dengan King tak ada yang bisa menebaknya. Dengan kata lain, selama King masih ada dalam ingatanmu, kau masih memiliki kesempatan untuk membawanya kembali."
Mendengar itu Laila tak begitu merasa senang. Mengetahui memiliki kesempatan membawa Kuro kembali memang kabar baik, tapi setelah kembali ke masa lalu dan mengetahui kalau Kuro tak merubah masa depan, Laila harus menemukan cara lain.
Tapi itu juga bukan kabar yang begitu buruk. Memang Kuro tak memiliki niat untuk merubah masa depan, tapi bukan berarti masa depan tak bisa diubah.
Pertanyaannya, bagaimana cara mengubah masa depan tanpa Kuro?
Itu hal yang sulit dilakukan. Sebagai manusia biasa, Laila tak memiliki kekuatan itu meskipun dia memiliki kemampuan memanipulasi waktu.
.....manusia?
Pemikiran tiba tiba itu membuat Laila memiliki sebuah pemikiran bodoh, tetapi dia merasa itu adalah jawaban yang selama ini dia cari.
Selama ini dia salah. Dia selalu berpikir kalau semua masalah akan selesai jika Kuro melakukan sesuatu, tapi bagaimana jika sebenarnya bukan Kuro yang harus melakukan sesuatu?
Semua ini sejak awal bergantung dengan apa yang ingin dia pilih dan lakukan.
"....aku tak percaya kau tak memberitahu kalau ada cara untuk mengembalikan Kuro. Kau sungguh tak tahu malu."
Solaris bisa menebak apa yang Laila pikirkan.
"Sudah aku bilang kalau membuat kontrak denganku bukanlah suatu hal yang merugikan. Bukan salahku kalau kau tak sadar akan hal itu."
Laila mendesah.
Sejak dulu dia tak pernah tahu alasan kenapa Solaris ingin sekali membuat kontrak dengannya. Memang ini menjadi salah satu solusi masalah yang Laila alami, hanya saja dia merasa ada banyak misteri yang tersembunyi.
Lupakan masalah itu. Sebaiknya Laila fokus dengan apa yang harus dia lakukan.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi. Mari kita mulai ritualnya."
Dengan senyuman lebar, Solaris mengangguk senang.
Membuat kontrak dengan Dragon King akan membuat orang itu menjadi Queen yang memiliki kemampuan untuk mengakses kemampuan Dragon King.
Hal ini membuat Queen memiliki kemampuan curang yang luar biasa sehingga mereka juga tak bisa disebut sebagai manusia biasa lagi. Queen tak memiliki batasan apa yang akan mereka lakukan, dan yang paling penting mereka bisa memutus kontrak kapanpun.
Sekilas terdengar hanya ada hal baik saja jika membuat kontrak dengan Dragon King, tetapi ada efek negatif jika menggunakan kekuatan Dragon King secara berlebihan, yaitu Queen akan menjadi naga dan Dragon King selanjutnya.
Sedangkan membuat kontrak dengan True Dragon King memiliki manfaat yang sama dengan Queen yang membuat kontrak dengan Dragon King, hanya saja kemampuan yang bisa mereka gunakan lebih luar biasa dan mengerikan. Dalam hal ini sosok True Queen sudah melebihi sosok manusia dan bisa disebut sebagai setengah dewa. Dan karena alasan itu pula, True Queen tak bisa menggunakan kekuatan mereka secara sembarangan.
Berbeda dengan Queen, True Queen tak bisa memutus kontrak dengan bebas. Kontrak akan berlaku selama mereka masih hidup. Dan karena kekuatan mereka, seorang True Queen bisa hidup lebih dari 5000 tahun dan kemungkinan akan menjadi dewi yang sesungguhnya.
Alasan terakhir itulah yang membuat Laila tanpa ragu membuat kontrak dengan Solaris.
Sedangkan alasan kenapa Maria masih mati muda dan bisa memutus kontrak setelah menjadi True Queen, itu adalah misteri lain dari Light War.
<( ̄︶ ̄)><( ̄︶ ̄)><( ̄︶ ̄)><( ̄︶ ̄)><((ノ◕ヮ◕)ノ*.✧(ノ◕(ノ◕ヮ◕)ノ*.✧(ノ◕ヮ◕)ノ*.✧(ノ◕ヮ◕)ノ*.✧((ㆁωㆁ)(✯ᴗ✯)(☆▽☆)(✯ᴗ✯)(◍•ᴗ•◍)(≧▽≦)(✷‿✷)(◔‿◔)(≧▽≦)
Sebagai sosok yang pernah menjadi manusia, keinginan duniawi menjadi suatu yang begitu akrab dengannya. Bahkan meskipun dia sudah tak membutuhkan semua itu lagi, dia masih saja melakukan hal yang pernah dia lakukan sebagai manusia.
Salah satu hal itu adalah masih saja dia melakukan interaksi pada manusia.
Tentu saja dia tak bisa begitu saja berhubungan langsung. Karena eksistensinya, dia mudah sekali dilupakan. Dia seperti sebuah sosok yang muncul dan menghilang seperti sebuah ilusi di siang hari.
Inilah alasan kenapa meskipun dia sudah berada di Orladist lebih dari 500 tahun, tak ada yang mengenali dirinya atau mengingat sosoknya. Dia bukan dewa dunia itu, tak bisa mengharapkan ada yang memujanya atau menyembahnya.
Lalu pada suatu hari, dia menemukan sosok gadis yang hanyut di sungai. Normalnya dia akan langsung saja mengabaikan orang itu. Hidup atau mati, dia tak peduli. Justru jika peduli, itu akan melanggarnya aturan yang berlaku padanya.
Tetapi dia tak bisa mengabaikan sosok itu.
Dia bisa melihat kapan seseorang akan mati dan berapa lama mereka akan hidup. Tetapi dia tak bisa melihatnya pada gadis itu.
Tak diragukan lagi dia adalah sosok yang spesial.
Dia ingat, ada sebuah kekuatan unik di dunia itu yang disebut sebagai Alter Destiny. Seorang yang memiliki kekuatan itu sanggup mempengaruhi takdir orang di sekitarnya. Hanya saja kekuatan itu tidaklah pasti dan lebih mirip seperti sebuah judi.
Bisa jadi lebih baik, bisa jadi lebih buruk.
Inilah awal pertemuannya dengan sosok gadis yang bernama Aliciana.
Sejak pertemuan itu, mereka akhirnya menjalin sebuah hubungan. Hubungan antara dewa dan manusia tak bisa dibilang sebagai hubungan normal, tetapi dia berusaha sebaik mungkin menjalani hubungan itu.
Anehnya, meskipun tak memiliki keinginan duniawi lagi, semua itu seolah langsung kembali menyergap dirinya saat bersama dengan Aliciana.
Dia tahu, dirinya mulai berubah.
Dan tanpa dia sadari, ternyata dia jatuh cinta pada sosok manusia itu.
Dia tertawa keras dalam hati. Dia senang karena tak menyangka bisa jatuh cinta lagi.
Sayangnya, rasa cintanya tak bisa menyelamatkan sosok orang yang dia cintai itu.
Meskipun begitu, dia tak bersedih. Masih ada kesempatan di masa depan. Keduanya pasti akan bertemu lagi.
Tetapi jika dia masih menjadi dewa, hubungan mereka akan berakhir seperti sekarang ini. Hanya ada satu pilihan yang bisa dia ambil, yaitu berhenti menjadi dewa dan menjadi manusia lagi.
Sayangnya itu bukanlah suatu yang mudah. Sama seperti saat manusia menjadi dewa, proses sebaliknya hampir suatu yang mustahil. Kecuali, dia menciptakan tubuh baru. Tubuh manusia.
Dia tak akan melakukan itu. Keegoisan muncul di hatinya. Dia bahkan tak rela jika tubuh buatan menyentuh orang yang dia cintai itu.
Proses menjadi manusia sungguh panjang, tapi baginya yang menjalani kehidupan tanpa batas, itu bagaikan sekejap mata.
Pertemuan kembali dengan sosok yang dia cintai sungguh aneh dan mengejutkan. Dia berencana menemukan sosoknya terlebih dahulu, tapi yang terjadi kebalikannya.
Pada momen itulah dia membuat sumpah. Apapun yang terjadi, aku akan membuatmu bahagia. Kebahagiaanmu adalah misi terakhir dalam hidupku.
Kehidupan baru dengan Laila dimulai. Kehidupan membahagiakan yang tak pernah dia alami. Kehidupan berat yang dia alami sebelumnya seolah sirna dengan kebahagiaan yang sesaat itu.
Meskipun berbagai konflik muncul dalam perjalanan, itu tak akan menghalanginya.
Lalu pada momen Battle War itulah dia melihat sebuah masa depan yang begitu sulit.
Arisa yang menjadi True Queen adalah eksistensi yang tak bisa dia dan Laila lawan. Meskipun kekuatannya sebagai King pulih sedikit demi sedikit, itu hanyalah ujung dari sebuah gunung es.
Dia tak bisa menang dari salah satu kekasihnya itu. Jika dia tak bisa, siapa yang bisa menang melawan dirinya?
Lalu ditambah dengan rencana Arisa dan Sei untuk membangkitkan kekuatan King sepenuhnya, meneruskan pertarungan bukanlah pilihan yang tepat.
Dia ingin menyerah, tapi Arisa tak membiarkan itu. Arisa terus menekan hingga dia tak bisa menyerah atau maju.
Pada akhirnya, dia tak berbuat banyak kecuali menyerah pada rencana Sei dan Arisa. Kekuatannya sebagai King bangkit sepenuhnya dan dia akhirnya kembali menjadi dewa terkuat, King of Gods.
Kembalinya dia menjadi dewa tentu saja membuat usahanya selama ini menjadi sia sia. Dan tentu saja karena statusnya telah kembali, maka aturan yang sebelumnya menghilang kini kembali membelenggunya.
Pada momen itu pula dia harus berpisah dengan orang yang dia cintai.
Tetapi pada momen itulah kejadian yang tak terduga terjadi.
Laila yang tak menerima perpisahan akhirnya menggunakan kekuatan untuk merubah takdir. Sayangnya, usahanya gagal dan akhirnya merenggut nyawanya dan juga dua buah cintanya yang masih dalam kandungan.
Melihat sosok yang dia cintai menjadi mayat, di saat yang sama dunia Kuro hancur berkeping keping. Dia sedih, marah dan ingin menghancurkan Orladist saat itu juga. Kemarahannya saat ini bisa dibandingkan dengan saat pertama kali melihat Arisa mati untuk pertama kalinya.
Saat itu dia bahkan sanggup menukar jiwanya pada iblis, apa yang bisa dia lakukan setelah menjadi dewa?
Pada momen inilah Solaris dan Yamiris menghetikan Kuro dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki. Tetapi, kekuatan mereka terlalu jauh dari Kuro. Mereka tak bisa menyentuh, apalagi melukainya.
Pertarungan antara mereka hanya beberapa detik, tapi itu sudah menghancurkan Orladist menjadi puing puing. Tak ada kehidupan lagi di Orladist. Sebuah dunia kecil yang indah kini hanya menjadi debu di angkasa.
Tetapi meskipun tak bisa melukai Kuro, usaha Yamiris dan Solaris membuahkan hasil. Kuro kembali tenang dan berpikir secara rasional.
Lalu sebuah keputusan diambil oleh Kuro.
"Sepertinya aku harus mengulanginya lagi."
Pada saat itulah kedua dewa naga terkuat sadar, sejak awal mereka sudah berada dalam kekuatan Kuro yang paling kuat.
Authority Reset.
Dengan senyuman, Kuro mengaktifkan kekuatan yang menjadi simbol dirinya bahkan sebelum menjadi dewa.
"Mari kita mulai kisah baru."
__ADS_1
Bukan hanya Laila saja yang mengulangi dunia demi orang yang mereka cintai.