Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
True Identity


__ADS_3

Keesokan harinya, Kuro masih belum masuk sekolah. Keberadaannya yang mencolok karena dia eksistensi unik membuat banyak yang bertanya tanya kemana dia pergi. Tapi tak ada satupun yang tahu di mana dia. Bahkan termasuk pacarnya.


Alvi, Alva dan Laila sudah berulang kali mengirim pesan dan berusaha menghubungi dia, tapi tetap tak ada balasan. Meskipun menyambung dan pesan terkirim, tapi tak pernah ada balasan dari Kuro.


Laila pernah bertanya kepada Otome mengenai Kuro, tapi dia menjawab tak tahu apapun. Ini tidak biasa mengingat murid diwajibkan memberi kabar jika tak masuk sekolah untuk beberapa hari.


Hal inilah yang membuat mereka berpikir Kuro sakit, tapi Kuro tak memiliki kerabat atau teman di kota ini, jadi mereka tak tahu keadaan Kuro saat ini.


Hari ini pelajaran teori ditambah PR yang lumayan banyak dari Otome. Cara mengajar Otome bisa dibilang sedikit unik dari guru lainnya. Jika hari ini teori, maka besok adalah lari mengelilingi danau. Kadang dia juga membahas tema yang sedikit mengejutkan seperti kemarin.


Jam makan siang, Laila, Alva dan Alvi makan bersama di kantin sekolah. Jika dulu Laila biasa dibuatkan bekal oleh ibunya, selama di Kuryuu Academy Laila selalu makan di kantin.


Seminggu yang lalu dia makan sendirian, tapi kali ini dia makan bersama Alvi dan Alva. Hubungan mereka bertiga semakin akrab sejak latihan dua hari yang lalu.


Di hari yang sama terdengar kabar kalau Charl berhasil menang duel melawan 3 orang kelas 2 dengan hanya menggunakan ilmu bela diri dan elemen art. Ini menjadi berita heboh bagi sebagian orang, tapi bagi Laila, ini hanya berita tak penting.


Jika dibandingkan dengan apa yang bisa Kuro lakukan dengan tangan kosong, apa yang dilakukan Charl begitu biasa sebagai seorang penyihir peringkat S.


Laila sadar tujuan Charl melakukan ini adalah untuk menarik perhatiannya.


Malampun tiba. Laila duduk di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


Ponsel miliknya merupakan ponsel yang dibelikan Shiro di kencan pertamanya. Sampai sekarang dia masih merawat ponsel itu dengan baik.


"........"


Laila terdiam melamun sesekali ingat dengan kencan mereka. Dia melihat layar ponsel yang menunjukkan kontak telepon Kuro.


Tanpa sadar jadinya menyentuh tombol 'panggil'.


(Kenapa aku melakukan ini? Aku yakin dia tak menjawabnya.)


Meskipun begitu, dia tak memutus panggilan dan membiarkannya di atas selimut. Dia merebahkan tubuhnya ke bantal dan mendesah.


"Apakah usahaku selama ini sia sia? Apakah Kuro memang bukan Shiro?"


Selama seminggu lebih dia mencari tahu kebenaran tentang Kuro.


Sejak awal pertemuannya dengan Kuro di lorong, Laila sudah melakukan upaya untuk mencaritahu siapa Kuro sebenarnya. Tapi entah alasan apa, informasi mengenai Kuro sulit sekali didapat.


Karena itulah saat dia menerima data mengenai Kuro dari Crystal Age, dia begitu bersemangat karena menemukan petunjuk. Satu satunya petunjuk mengenai kesamaan Shiro dan Kuro adalah mereka berdua bukan penyihir.


Ya. Alasan kenapa saat di atap mall Laila memberikan janji akan menjadi pacar juga merupakan salah satu cara untuk mencari tahu apakah Kuro adalah Shiro.


Setelah menghabiskan waktu dan mengenal lebih baik, dia menemukan kesamaan lainnya antara keduanya. Satu hal yang membuat Laila terkejut, entah mengapa jika dibandingkan dengan Shiro, Kuro lebih agresif dan tak kenal takut.


Apa ada orang di dunia ini yang berani mencium putri Paladin terkuat secara paksa selain Kuro?


Semua tindakan Kuro membuat Laila bingung. Apakah dia mencintai dirinya atau hanya sebatas menggoda saja?


Dia sama sekali tak mengerti apa yang Kuro pikiran. Karena itulah, yang pertama kali Laila harus lakukan adalah memastikan identitas Kuro.


Apakah dia Shiro? Atau hanya seorang yang mirip?


"?"


Saat memikirkan itu, Laila mendengar suara aneh. Suara itu berasal dari meja milik Kuro, tepatnya laci meja Kuro.


Tapi Laila sadar itu bukanlah suara, tapi sebuah getaran.


"?! Jangan bilang kalau.."


Laila melirik ponselnya dan melihat ponselnya masih terus memanggil Kuro. Dan hanya ada satu benda yang bergetar sebagai tanda panggilan masuk.


Laila langsung bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah meja Kuro yang kosong. Dia membuka laci yang menjadi sumber getaran. Dan yang dia temukan adalah ....sebuah ponsel.


"Shiro?"


Ponsel itu milik Kuro, tapi memiliki model yang sama dengan miliknya. Hal ini tentu saja karena Kuro dan Laila membeli model yang sama di Lotus Mall 7 bulan yang lalu.


Saat mengetahui fakta Kuro ternyata Shiro, kaki Laila lemas dan tak bisa berdiri. Dia tersungkur ke lantai saat mengambil ponsel milik Kuro.


Sayangnya, itu masih belum membuktikan Kuro adalah Shiro karena ponsel banyak yang sama, tapi ada satu hal lagi bukti pasti yang membuktikan Kuro adalah Shiro.


".........Jika benar kau adalah Shiro, maka...itu pasti ada di ponsel ini."


Laila dengan ujung jarinya menekan sebuah menu. Dan di menu itulah dia menemukan sebuah foto dan satu satunya foto di ponsel itu yaitu foto saat mereka berkencan. Lebih tepatnya foto saat dia dan Shiro mendapatkan hadiah boneka.


Foto itu diambil dengan menggunakan ponsel Shiro dan yang memotret adalah penjaga permainan darts. Bisa dibilang foto itu adalah kenang kenangan dan bukti bahwa mereka pernah berkencan. Laila bahkan juga memiliki foto itu.


"Tapi kenapa kau tak pernah memberi tahuku...Shiro...?"


Tanpa alasan yang jelas, air mata Laila mengalir dengan deras.


"Apakah karena kau masih menolak keberadaan takdir?"


Jika masih, kenapa kau melakukan semua hal itu hanya demi untukku?


Laila akhirnya mendapatkan jawaban yang dia inginkan selama ini, tapi mengetahui jawabannya bukan berarti membuat hubungan mereka menjadi lebih baik.


\=\=¬¬¬


3 hari berlalu tanpa kehadiran Kuro di kelas 1-2.


Entah mengapa Laila lebih terlihat senang hari ini. Itu cukup membuat seisi kelas bertanya tanya apa yang terjadi dengan Laila.


Hari ini seharusnya berlari mengelilingi danau Limph, tapi entah mengapa pelajaran hari ini adalah pelajaran bebas.


Otome tak berada di kelas sejak jam pelajaran pertama, tapi dia menitipkan pesan "jika ingin mengelilingi danau dia mempersilahkan.".


Tentu saja tak ada orang bodoh yang mau melakukan itu. Atau ternyata ada.


Tak disangka 5 laki laki di kelas 1-2 sudah berkeliling danau Limph.


Sedangkan kabar terbaru dari Charl adalah sekarang dia memiliki 2 anak buah. Meskipun mereka dari kelas lain, namun tak ada yang terlalu peduli dengan dia.


Jam sekolah berakhir lebih awal tanpa ada hal spesial yang terjadi.


Laila merasa senang hari ini, tapi dia juga merasa kesal karena Charl belum menyerah mengajaknya menjadi pasangannya.


Charl memang pantang menyerah dan..... mesum. Kenapa? Jika menjadikan Charl pasangan tetapnya, mereka berdua akan tidur di ruangan yang sama selama 3 tahun.


Terus terang ini membuat Laila pusing.


".......Kurasa aku butuh sesuatu yang menyegarkan."


Tapi apa?


Dia tak tahu apa, tapi dia tahu harus mencari kemana.


Laila sekarang berjalan menuju timur kota Areshia. Tujuan dia kali ini adalah daerah pertokoan bernama Antique.


Seperti namanya, toko di daerah itu lebih didominasi barang barang antik dan unik. Lampu hias, patung batu, patung kayu, hiasan dinding, lukisan dan berbagai macam benda antik lainnya.


"Kenapa aku kemari?"


Laila tak mengerti kenapa kakinya mengantar dia ke tempat itu. Entah mengapa hal ini lumayan sering terjadi.


"Tak apalah... kurasa aku akan menemukan sesuatu yang menarik disini."


Laila menyemangati dirinya. Meskipun dia kurang tahu mengenai benda benda antik dan unik atau eksotis, tapi tak ada salahnya mencari benda semacam itu.


Di pertokoan itu terdapat panggung bundar yang berada di tengah daerah pertokoan. Panggung itu digunakan sebagai tempat lelang barang antik yang diadakan dua kali seminggu.


Hari ini bahkan ada lelang, jadi pertokoan lebih sedikit ramai dari biasanya. Laila bahkan melihat beberapa murid Kuryuuu Academy berada di pertokoan ini.


"Um?"


Laila sekarang berada di toko aksesoris. Gelang, kalung, anting, jepit rambut dengan desain unik dijual ditoko itu. Tapi yang membuat dia tertarik adalah gantungan lonceng berwarna perak.


Ini mengingatkan Laila kepada Kuro.


(Kenapa pikiranku tak bisa menjauh darinya.)


Laila kemudian pergi menuju keluar toko setelah membeli 3 jepit rambut. Satu untuknya dan 2 lainnya untuk Alva dan Alvi.


Laila keluar dari toko. Setelah keluar dari toko, tiba tiba dia mendengar suara lonceng.


Cringgg....

__ADS_1


"Tak mungkin dia ada dis- Eh?"


Tapi suara lonceng yang dia dengar tak berasal dari dalam toko, tapi berasal dari arah kanannya.


Secara otomatis Laila menoleh ke samping kanan.


Dan diapun melihat sosok Kuro sedang dikerumuni oleh beberapa orang.


"... Kadang aku merasa kesal kepada takdir."


Diapun mendesah dalam. Dia tak menyangka bertemu Kuro di tempat ini. Tunggu dulu, kenapa dia ada di tempat seperti ini?


Setelah melihat ke arah Kuro lagi, Laila menyadari Kuro saat ini membawa suatu benda yang cukup besar di pundak kanannya. Laila tak tahu benda apa itu karena tertutupi kain putih, tapi Laila tahu sekarang kenapa dia dikerumuni banyak orang.


Laila hanya bisa melihat Kuro berjalan ke panggung sambil membawa benda di pundaknya.


Dia sekarang mengantri menunggu giliran untuk menjual benda yang dia bawa.


"............."


Laila terdiam untuk beberapa saat. Dia sedang berpikir reaksi apa yang cocok dalam situasi seperti ini.


Marah atau .....


"Kurasa sebaiknya aku melihat terlebih dahulu..."


Setelah memutuskan apa yang dia lakukan, Laila duduk di sebuah kursi yang berada di depan sebuah toko. Dari tempat itu, dia bisa melihat dengan jelas proses lelang.


"...Baiklah terjual. 1 juta Yold untuk lukisan berusia 200 tahun. Sekarang apa barang yang dijual kali ini?"


Seorang lelaki yang memimpin lelang menoleh ke arah Kuro.


Kuro mengetahui sekarang adalah gilirannya menjual barangnya.


"Ohh... Kuro, apa yang kau jual kali ini?"


"Yahh... lihat saja sendiri."


Mendengar itu, Laila menunduk lemas. Dia tak menyangka ini bukan pertama kalinya Kuro berjualan di perlelangan.


Kuro dengan perlahan menaruh barangnya di panggung dan membuka kain putih yang menutupinya.


Setelah terbuka, semuanya terdiam karena mengagumi benda yang Kuro bawa yaitu sebuah pahatan patung dari kayu.


Patung itu adalah patung seorang gadis cantik yang telanjang. Dua sayap ada di punggungnya, sayangnya salah satu sayap tak ada atau patah. Ya. Itu adalah patung seorang malaikat jatuh.


Patung yang detail dan terlihat hidup membuat siapapun terpana melihatnya.


Satu satunya komentar Laila mengenai patung itu adalah...


"Mesum..."


Ya. Hanya orang mesum yang menjual patung telanjang.


"Woow... kau selalu membawa benda benda yang luar biasa Kuro. Tapi kenapa hari ini... patung?"


"Yahh... aku hanya disuruh menjualkannya saja."


"Hmmm... begitu rupanya. Jadi berapa harga patung yang indah itu?"


Mendengar itu, Kuro memasang senyuman tipis, lalu berkata:


"Murah. Hanya 100 juta Yold."


""""......................""""


Dalam sekejap, perlelangan menjadi hening.


".........."


Laila bahkan juga ikut terdiam mendengar harga patung kayu yang bisa dibilang sangat mahal. Meskipun sebenarnya Laila tahu harga itu pantas untuk patung yang dijual Kuro, tapi kebanyakan pasti ragu karena itu baru harga awal.


"Ya ampun. Kenapa dia tak pernah berhenti membuat masalah?"


Laila terus memandangi proses perlelangan yang tiba tiba menjadi ramai.


Dia menaruh dagunya di kedua tangannya, tapi disaat itulah datang seorang lelaki yang lumayan gendut berdiri di dekat Laila.


"Nona, apakah pemuda yang menjual patung itu adalah temanmu?"


Laki laki itu pasti tahu dari seragam yang Laila dan Kuro.


"Ya, begitulah. Tepatnya dia pacarku. Apakah ada masalah tuan?"


"Ah.. tidak. Aku hanya penasaran."


"?"


Sementara itu di perlelangan.


"Kuro, bukankah itu harga yang mahal untuk harga permulaan?"


"Tidak. Aku akan menjual patung ini 100 juta, jadi siapa yang ingin membelinya akan langsung kuberikan. Tapi aku ingin 100 juta dalam bentuk tunai."


"Hmmm... begitu rupanya, jadi itulah harga patung itu. Tapi kenapa harus tunai? Apa temanmu butuh uang dengan cepat?"


"Kau pintar jika sudah berurusan dengan uang, Foxl. Tapi kau tidak salah. Aku ingin beritahu kepada kalian agar sedikit berminat membelinya. Jika kalian menjual patung ini di ibukota atau kota besar lain, aku jamin kalian bisa mendapatkan 500 juta lebih. Dan jika perkataanku tak terbukti, aku akan mengembalikan uang kalian 2 kali lipat. Bagaimana?"


Kuro mengatakan itu dengan senyuman penuh percaya diri. Tentu saja itu tak membuat orang langsung begitu saja mengeluarkan uangnya karena omongan dari murid sekolah sihir.


"Wooow... Apa kalian masih ragu membeli patung Kuro yang mungkin satu satunya di dunia?"


Foxl ikut menawarkan. Meskipun dia terkenal, tapi banyak yang berpikir tindakan itu kurang pantas. Berapa banyak komisi yang didapat dari penjualan patung dengan harga gila itu? Semua ini pasti sudah direncanakan.


Hasilnya bisa ditebak. Tak ada yang berani membayar patung itu.


"Aku akan membayar patung itu 1 Milyar Yold!"


"?!"


Tak disangka dari belakang kerumunan seorang pria sedikit gendut berteriak membeli patung Kuro.


Yang membuat Kuro terkejut adalah pria itu bersama Laila dan beberapa pengawal.


Pria itu berjalan pelan mendekati panggung. Kerumunan orang langsung memberikan jalan kepada pria kaya itu.


Setelah sampai di depan panggung, pria itu mengamati patung Kuro dengan teliti sambil mengangguk beberapa kali.


"Ternyata benar. Patung ini karya terbaru pemahat Roku Migaka. Apa aku salah bocah?"


"""?!"""


Seluruh orang melebarkan matanya saat mendengar nama yang terkenal di dunia seni.


Laila bahkan tahu nama itu.


"Roku Mikaga pematung yang sampai sekarang hanya membuat 5 patung. Semua patungnya tak bisa ditiru dan bagaikan hidup meskipun dari kayu. Dan harga patung karyanya yang paling mahal 100 Milyar. Aku sedikit ragu saat mendengar harga patung ini, tapi tak salah lagi patung ini karya Roku Mikaga. Apakah kau kenal dengan dia bocah?"


"Ya begitulah. Tapi aku terkejut anda dapat mengenali patung ini, mungkinkah anda-"


"Aku mempunyai 3 patung dari 5 yang ada di dunia. Jadi aku bisa tahu patung yang kau jual ini asli, tapi setelah kupikir pikir apa benar kau menjual patung ini dengan harga semurah itu?"


"Dia ingin menjual patungnya dengan harga 100 juta saja. Tapi jika dijual dengan harga lebih, aku rasa dia sama sekali tak keberatan."


Transaksi antara dua pihak dalam sekejap langsung selesai.


Banyak orang yang terlihat kecewa. Jika mereka sadar kalau patung itu adalah karya terbaru dari Roku Mikaga, mereka semua akan untung besar. Sayang, tak ada obat untuk penyesalan.


Selesai menjual patung, Kuro berniat pergi, tapi pria itu menghentikan Kuro dengan alasan ingin membicarakan sesuatu.


Kuro berpikir sejenak sebelum akhirnya mau. Laila yang tak memikw kegiatan akhirnya ikut.


Tak berapa lama kemudian Laila, Kuro dan pria itu sekarang berada di sebuah restoran mewah yang berada cukup dekat dengan daerah pertokoan.


Tak ada pelanggan selain mereka karena seluruh restoran sudah dipesan oleh pria kaya itu.


Kuro dan Laila duduk berdampingan, sementara pria itu duduk sendirian berseberangan dengan mereka.


Pengawal pria itu berpencar di berbagai sudut restoran untuk mengamankan jika terjadi sesuatu. Dari aura yang mereka keluarkan, para pengawal itu setidaknya seorang penyihir peringkat A.

__ADS_1


"Maaf aku tak membawa uang tunai, jadi aku mohon bersabar untuk mengambil uang di bank wilayah lain. Sebelum itu, aku akan memperkenalkan diri, namaku Rich Man Heave."


"?!"


Mata Laila melebar saat mengetahui identitas pria itu. Pria itu ternyata salah satu orang paling terkaya di kekaisaran ini. Tapi dia bukan bangsawan.


Selain itu dia juga dikenal suka mengumpulkan berbagai benda antik dari seluruh dunia.


"Namaku Kuro Kagami, dia adalah Laila pacarku dan sekaligus partnerku."


"......."


Laila menunduk sebagai tanda hormat. Saat ini sebut sebagai pacar bukanlah suatu yang memalukan bagi Laila.


"Senang berkenalan dengan kalian berdua. Tapi benarkah kau orang yang tahu keberadaan Roku? Terus terang aku hanya berurusan dengan dia?"


"Aku mengerti, tapi jika ingin bertemu Roku, anda harus menyampaikannya dulu kepadaku. Setelah itu aku akan menyampaikannya kepada Roku. Anda tahu dia adalah orang yang sedikit merepotkan."


"Hmmmm......."


Rich sedang berpikir. Tapi dia bukanlah orang bodoh. Jika menghubungi Roku hanya bisa dilakukan melalui Kuro, maka dia harus memperlakukan pemuda itu lebih baik.


Disaat itulah pelayan datang membawa makanan mewah ke meja mereka.


Pelayan itu menaruh pesanan, setelah selesai pelayan lalu pergi.


"Aku tak punya pilihan lain kah? Baiklah akan kuceritakan kenapa aku mencari Roku. Sudahlah cepat nikmati, aku akan memberi tahu setelah selesai makan."


Kuro dan Laila akhirnya makan bersama dengan Rich. Enak. Itulah rasa makanan mereka, tapi porsi yang tak terlalu banyak membuat Kuro masih lapar.


Setelah selesai makan, Rich menatap Kuro dengan tatapan serius.


"Sebenarnya aku ingin menyampaikan ini langsung kepada Roku, tapi tak apalah. Lagipula ini bukan rahasia. Aku mencari tuan Roku karena aku ingin membuatkan patung untukku."


"Dengan kata lain, anda ingin memesan patung, tapi-"


"Ya. Roku tak pernah menerima pesanan. Karena itulah sampai sekarang dia hanya berkarya 5 patung. Meskipun begitu, aku tetap ingin dia membuatkan patung berapapun harga yang harus kubayar."


Mendengar itu, Kuro paham kalau Rich akan melakukan apapun agar Roku mau membuatkan dia patung.


"Bolehkah aku tahu patung yang kau minta?"


Rich tiba tiba mengambil sesuatu di sakunya. Itu adalah Cristal Age.


Setelah menekan Cristal Age, munculah gambar seorang wanita cantik dan sexy.


"Dia adalah satu satunya istriku. Minggu depan adalah ulang tahunnya, jadi aku ingin menghadiahkan sesuatu yang paling spesial. Meskipun aku penggemar Roku, tapi istriku lebih mengagumi Roku."


"Jadi anda ingin membuatkan patung dengan model istri anda kah?"


Rich mengangguk.


"Ya. Sekarang apa yang akan kau lakukan. Apa kau akan menghubungi Roku untuk meminta pendapatnya?"


Rich terlihat cemas dan berharap. Dia begitu mencintai istrinya dan ingin melihatnya bahagia.


"Tidak."


"?!"


Wajah Rich langsung dipenuhi amarah setelah mendengar kata Kuro.


"Kuro..."


Laila bahkan tak mengerti alasan kenapa Kuro berkata tidak.


"Tenang. Daripada aku menyampaikannya, kenapa kita tak menemuinya secara langsung?"


""Eh??""


Rich dan Laila dengan kompak terkejut.


30 menit kemudian mereka bertiga berada di tengah hutan di timur kota Areshia, hutan Aldea.


Tak jauh dari mereka kereta kuda yang digunakan mengantar mereka ke hutan. Beberapa pengawal kut untuk mengawal Rich.


Mereka sekarang berjalan sedikit memasuki hutan menelusuri jalan kecil.


"Kuro, aku tak tahu kalau Roku tinggal sedekat ini." tanya Laila.


Rich bahkan mengangguk setuju dengan Laila.


"Kau tidak berbohongkan? Terus terang aku akan menyuruh anak buahku langsung membunuhmu jika kau mempermainkanku."


"Ugg..."


Laila tersenyum pahit. Dia mengerti alasan Rich bisa berbuat sejauh itu.


"Anda tak usah kawatir. Memang Roku tak tinggal di hutan ini, namun aku bisa menjamin dia akan membuatkan patung untukmu."


"Eh? Apa maksudmu?"


"Bocah... jangan bilang kau..."


Rich mengerti maksud Kuro. Bahkan dia sudah curiga sejak mengetahui nama Kuro.


"Yuup. Karena itulah kita kesini untuk mencari bahan yang cocok dan spesial."


"Hooo..."


Rich tersenyum senang, sementara Laila masih tak terlalu mengerti.


Sekarang mereka sampai di kumpulan pohon besar yang bernama Eve. Pohon Eve itu sebesar 2 meter dan setinggi 20 meter lebih. Meskipun subur, tapi ada beberapa pohon yang sudah mati.


Kuro berjalan menuju pohon mati dan mengamati dengan seksama.


Sementara Rich dan Laila mengamati Kuro dari jarak yang sedikit jauh.


"Nona Laila, kau benar benar beruntung mempunyai pacar seperti dia."


"Eh? Apa maksud tuan?"


"Dia adalah orang paling terkenal di dunia seni, bukankah kau beruntung?"


"Paling terkenal? Dia? Jangan bilang kalau dia?"


"Apa Nona Laila belum sadar juga? Kuro jika dibalik suku katanya menjadi Roku. Dunia seni pasti akan kacau jika mengetahui Roku adalah bocah. Kuku..."


"............"


Laila hanya terdiam dan menelan ludah. Dia hari ini mengetahui satu lagi sisi Kuro.


Crinng...


Suara lonceng terdengar saat Kuro menarik pedang dari sarungnya.


Dengan kecepatan abnormal, dia menebang pohon Eve yang mati. Pohon itu tumbang dan menghantam tanah.


Laila dan Rich bahkan dapat merasakan tanah bergetar bagai gempa bumi.


Setelah menebang pohon Eve, Kuro dengan cepat memotong bagian bawah pohon sebesar 2,5 meter dan membawanya ke depan Laila.


Berat kayu itu pasti ratusan kilo, tapi Kuro dapat mengangkatnya hanya dengan satu tangan.


Kuro lalu menoleh ke arah Laila dan Rich yang terbengong.


"Tuan Rich, bisakah anda sedikit memberi tahuku sifat atau kesukaan istri anda?"


"Hmmm... Dia tenang dan baik hati. Dia juga menyukai musik klasik, tapi kenapa kau menanyakan itu?"


"Tentu agar patung sesuai dengan selera istri tuan."


"Hooo... ya kau benar juga, tapi apa yang kau gunakan untuk memahat kayu. Kau pasti tak menggunakan pedang itu kan ha ha ha ha..."


Rich tertawa keras karena menemukan seuatu yang lucu. Bagaimana tidak, mustahil membuat patung dengan sebuah pedang.


"Ohhh.... Anda benar sekali."


"Eh?"

__ADS_1


Rich langsung terdiam.


"Memang membuat patung dengan sebuah pedang adalah mustahil, tapi tidak mustahil bagiku... Fu fu.."


__ADS_2