Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
First


__ADS_3

"Ini hanya perasaanku atau mereka memang sengaja menghindari kita?"


"Apa kita membuat salah?"


Fila dan Charlmilia tidak mengerti kenapa mereka tak bisa bertemu dengan orang yang mereka cari, Alva dan Alvi.


Dengan hasil pertarungan yang memuaskan, Kuro dan lainnya berniat memberikan ucapan selamat, tetapi keduanya menghilang tanpa jejak dari tempat pertarungan.


"Aku pikir bukan itu. Mereka menghindari kita bukan karena kita membuat salah. Aku tak tahu yang lainnya.. hehe.." balas Kuro dengan tawa kecil. "Ini lebih sederhana dari pada itu. Mereka hanya tak ingin bertemu dengan kita."


"Yah.. aku mengerti alasan mereka melakukan ini."


"Mereka menganggap Kuro sebagai rival. Ini bukan tempat yang tepat untuk bertemu. Selain itu pasti ada alasan lain kenapa mereka tak bisa melakukannya."


"Oh.. Jinn, tumben kau mengatakan hal seperti itu." Sindir Kuro. "Intinya jika mereka tak mau bertemu, kita tak bisa memaksa mereka. Bagaimana kalau kita kembali ke sekolah?"


Charlmilia dan lainnya mengangguk tanda setuju.


Kemudian, mereka berjalan bersama sambil mengobrol membahas suatu yang kurang penting.


Lalu sesampainya di depan sekolah, mereka bertemu dengan seorang yang tak mereka duga. Seorang anak kecil berambut putih dengan mata merah membara.


"Lic..."


Kuro sedikit terkejut saat melihat Lic berjalan sendirian dari arah sekolah. Berbeda dengan Kuro, Charlmilia dan Fila langsung saja berlari ke tempat Lic seolah tak tahan untuk bertemu.


"Lic.. apa yang kau lakukan di sini?"


"Lic, apa kau mau minum teh hangat? Aku akan menyiapkannya di asrama."


Keduanya dengan cepat menggunakan rayuan agar Lic mau berada di dekat mereka.


Lic sudah terbiasa dengan hal ini karena setiap kali dia bertemu dengan keduanya, mereka pasti akan berusaha mengambil hatinya.


Lic mengerti ini mungkin salah satu usaha mereka untuk mendekati Kuro. Dia merasa harus menjaga jarak dengan mereka dan waspada jika keduanya merencanakan suatu yang buruk untuk memisahkan Kuro dan Laila. Sebagai anak dia tak bisa membiarkan hal itu terjadi.


Sayangnya, pemikiran Lic semuanya salah. Keduanya terus melakukan hal itu karena tak tahan dengan keimutan Lic.


"Aku hanya mengantar pesan kepada kepala sekolah dari nenek Scarlet. Aku senang dengan tawaran kalian, sayang sekali aku harus menolaknya."


"Kau selalu saja menolaknya. Jangan kawatir, kami tak akan melakukan sesuatu yang buruk. Kami hanya ingin minum teh bersamamu..."


"Kemarin aku membeli teh yang enak. Ini kesempatan yang bagus untuk mencicipinya bersama."


Keduanya tak menyerah meskipun Lic menolak. Bagi Kuro ini satu satunya momen di mana keduanya tak ingin mendapatkan perhatiannya.


"Meskipun begitu, aku tetap menolaknya. Aku ada urusan yang harus aku selesaikan. Aku ada janji untuk menemani Clara bermain."


Setelah mendengar nama adik Laila disebut, ekspresi Fila dan Charmilia berubah. Keduanya sadar kalau saat ini percuma saja merayu Lic lebih lanjut.


Atau tidak.


"Tapi jika kalian mau, kalian bisa menemani kami di ibukota."


Perkataan Lic selanjutnya membuat keduanya terkejut. Ini pertama kalinya keduanya diundang oleh Lic.


(Entah mengapa aku merasakan ada suatu yang ganjal)


Perubahan sifat Lic bagi Kuro suatu yang aneh. Hanya ada satu alasan kenapa dia bisa seperti itu. Yang menjadi masalah adalah-


(Apa yang direncanakan Laila?)


Kuro merasa penasaran dengan hal ini. Tapi untuk sekarang dia tak bisa berbuat apapun.


"Ibukota? Kenapa kita harus ke sana?" Tanya Fila dengan tanda tanya besar di atas kepalanya.


Kuro dan Laila tak memberitahu lainnya kalau mereka hampir setiap hari tidur di ibukota. Selain itu, pintu yang menghubungkan rumah mereka ke ibukota tak selalu aktif.


"Ini akan lebih mudah jika kalian langsung saja ke sana. Tidak apa apa kan, Ayah?"


"Aku pikir bukan masalah."


"Terima kasih. Aku akan segera ke ibukota karena Clara sudah mengunggu. Kakak berdua, jadi ikut?"


"Tentu saja."


"Apa Kuro tak ikut?"


"Tidak. Aku masih ada urusan di sini. Aku akan menyusul kalian nanti."


Karena mengerti percuma saja bertanya urusan Kuro, tak ada yang menanyakannya lebih lanjut. Ini juga menyangkut privasinya.


Fila dan Charlmilia lalu mengikuti Lic dengan berjalan bersama di sampingnya. Arah yang dituju tentu rumah Kuro.


Tetapi sebelum itu, tiba tiba Lic berlari kembali ke arah Kuro.


"Ayah, aku ingat Mama memberitahu untuk menyampaikan kalau hukuman ayah belum selesai. Dia bilang jika ayah tak ada urusan untuk segera pulang. Dia bilang ingin memberikan sebuah kejutan untukmu." Ucap Lic dengan senyuman tulus.


Setelah mengatakan itu, Lic dengan cepat kembali ke tempat semula meninggalkan Kuro yang kini wajahnya membiru seolah mengingat kembali mimpi buruk.


"Kuro, aku tak tahu apa yang dimaksud 'hukuman' yang dibilang Lic, tapi aku mengerti kenapa kau terlihat tak sehat."


Knox menekan pundak Kuro dengan tatapan kasihan. Dia mengerti Laila seorang yang tak akan membiarkan Kuro begitu saja setelah pergi bersama dengan pelayan wanita beberapa hari.


Knox tak tahu detail hukuman Kuro, namun jika melihat kondisi Kuro saat ini, itu pasti bukan suatu yang bagus.


"Aku juga sekarang mengerti. Tampaknya memulai hubungan dengan wanita memiliki banyak masalah." Tambah Jinn.


Meskipun dia sebenarnya tak begitu mengerti karena dia belum pernah jatuh cinta bahkan sampai memiliki istri, namun jika melihat kondisi Kuro, bisa dibilang apa yang dia bayangkan cukup tepat.


"Siscon seperti dirimu tak akan pernah mengerti hubungan antara lelaki dan perempuan. Kenapa kau tak melajang seumur hidupmu?"


"Kenapa kau selalu memanggilku siscon? Apa kau iri karena aku memiliki adik yang tak kalah manis dari Lic? Ah.. jangan bilang kau mengincar adikku?"


Knox tanpa ragu memukul Jinn dengan kekuatan penuh.


"Apa apaan kau? Mau berkelahi?"


"Jika iya? Ini mungkin saat yang tepat untuk menyembuhkan penyakit sisconmu!!"


Percikan terlihat di antara keduanya. Keduanya menunjukan aura permusuhan dan nafsu untuk bertarung.


"..tempat latihan nomor tujuh."


"Aku mengerti."


Tanpa peduli dengan Kuro, keduanya berjalan ke sekolah dengan aura permusuhan yang kuat. Murid lain yang merasakan semangat bertarung keduanya memilih untuk menyingkir dan tak terlibat.


"..."


Sementara itu, Kuro yang ditinggal sendirian hanya bisa menatap langit yang mendung oleh awan dingin.


Dia kemudian tersenyum seolah dia tak mengalami sebuah masalah serius.


(Hadiah apa yang sebaiknya aku belikan untuk Laila?)


Meskipun itu tak menyelesaikan masalahnya, setidaknya itu bisa membuat hati Laila lebih baik. Dengan itu dia berharap hukumannya akan lebih ringan dari biasanya.


♦♦♦


Bayangan cermin memantulkan wajahnya yang begitu cantik bagai bidadari. Dengan make up tipis dan lipstick kemerahan membuat dia lebih sempurna. Tak hanya menawan, setiap lelaki pasti akan langsung jatuh cinta jika melihat penampilannya saat ini.


Tetapi semua itu tak bisa dibandingkan dengan pakaian khusus yang dia siapkan secara spesial.


Semua itu tak lebih dari sebuah senjata yang digunakannya untuk menarik hati seorang yang dia cintai. Tidak, dia sudah mengikatnya. Hanya saja menjaganya untuk tetap terikat lebih sulit daripada saat proses mengikatnya.


"Aku mendapatkan semua pelajaran dari ibu. Semuanya sampai sekarang begitu efektif dan membuat Kuro tak pernah lepas dariku."


Dia adalah pemenang. Dia adalah seorang istri dan seorang ibu yang paling Kuro cintai. Dia tahu itu dan tak ada yang bisa membantah.


Jika ada yang bertanya 'siapa yang paling dicintai Kuro?'. Maka setiap orang pasti akan menyebutkan namanya.


Tetapi meskipun dia mengetahui kenyataan itu dan mempercayainya, di dalam lubuk hatinya yang terdalam muncul sebuah perasaan takut jika suatu saat Kuro akan meninggalkannya.


Itu suatu yang sulit dibayangkan. Dan dia tak mau membayangkannya.

__ADS_1


Tetapi Laila juga tak berpikir naif kalau perasaan seseorang akan selalu sama. Alasan inilah yang membuat dia akan melakukan apapun demi menjaga Kuro agar tetap berada di sisinya.


Apakah dirinya meragukan cinta dan kesetiaan Kuro sehingga muncul pemikiran itu?


Tidak. Takut kehilangan orang yang kau cintai dan takut dia meninggalkanmu adalah suatu yang wajar. Apalagi saat ini Kuro sudah bersamanya.


Jika ada pertemuan, suatu hari pasti akan ada perpisahan. Entah kapan itu terjadi, namun Laila tak ingin terjadi begitu saja.


"....sudah aku duga. Kehidupanku sebagai Alice telah banyak mempengaruhi pemikiranku."


Semua mimpi yang dia alami sejak kecil semuanya kini terlihat jelas. Dia ingat saat bertemu dengan sosok Shiroyasha. Berpetualang dan akhirnya jatuh cinta kepadanya. Dan tentu saja saat berpisah dengannya.


Tetapi sebelum semua itu terjadi, kehidupannya sebagai seorang putri yang kehilangan semuanya begitu menyakitkan. Kedua momen paling menyakitkan dalam kehidupannya sebagai Alice telah membuat Laila merasa takut untuk kehilangan orang yang berharga baginya untuk ketiga kalinya.


(Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Berbeda dengan dahulu, aku memiliki kekuatan sekarang)


Ketika berbicara pada Otome, Laila bukan hanya bertujuan untuk membangkitkan kekuatannya. Dia berpikir dengan kekuatan itu akan membuat dia berhasil mencegah tragedi yang terjadi seperti kasus Lic.


Sekarang dia tahu tak hanya Lic yang bisa menjadi incaran, namun Riku juga berpotensi untuk menjadi incaran orang. Sebagai seorang ibu dia tak bisa membiarkan hal itu terjadi lagi.


"Ini bukan saatnya memikirkan suatu yang belum terjadi." Laila menepuk pipinya dua kali untuk menghilangkan pemikiran negatif yang sekarang sering muncul. "Saat ini aku harus fokus untuk memberikan hukuman pada Kuro."


Dia menyebut itu sebagai 'hukuman', namun hukuman yang Laila berikan hanyalah sebuah hukuman di mana Kuro harus memanjakannya dan tentu saja bermesraan seperti pasangan lainnya. Sayangnya, hukuman ini sering mengarah ke suatu yang lebih karena mereka terlalu bergairah. Dan sekali mereka masuk ke dalam mode itu, tak ada yang bisa menghentikan mereka sampai salah satu dari mereka mengatakan cukup.


Yang menjadi masalah, tak ada niat keduanya untuk melakukannya. Satu satumya yang bisa menghentikan keduanya jika waktu yang sudah ditentukan telah tiba.


"Mu...? Kuro telah datang. Aku harus bersiap."


Merasakan keberadaan Kuro yang mendekat. Laila dengan cepat bersiap dan mengambil alat tambahan agar semuanya sempurna.


♦♦♦


Kuro pulang ke rumahnya di ibukota. Dia disambut oleh pelayan dengan baik.


"Tuan Shiro, apakah itu hadiah untuk nyonya Laila?"


Pelayan itu tersenyum saat melihat benda apa yang dibawa Kuro di tangannya. Itu adalah sebuah bunga mawar yang berwarna putih transparan yang bernama Ice Rose.


Bunga itu cukup langka karena tumbuh dan mekar di waktu tertentu seperti sekarang ini.


"Begitulah. Aku akan pergi ke tempat biasanya. Tolong jangan mengganggu kami kecuali ada urusan penting."


Pelayan itu mengangguk tanda mengerti.


Tempat biasa yang disebut Kuro merupakan ruang dimensi dengan aliran waktu yang berbeda dengan fungsi yang bisa diatur sesuka hati. Sekilas mirip dengan tempat latihan yang Laila dan Yui gunakan, namun ruangan itu digunakan untuk bermesraan bagi keduanya.


Ruangan itu dipasang karena Laila dan Kuro sekarang memiliki Lic dan Riku. Jika ingin bermesraan seperti dulu, mereka tak bisa melakukannya. Dengan cara ini mereka bisa tetap bermesraan sambil tetap menjaga anak mereka.


Kuro mengetuk pintu sebagai tanda dia telah tiba.


Tak ada jawaban dan Kuro langsung masuk. Tetapi dia kembali menutup pintu dengan ekspresi terkejut seolah melihat sebuah ilusi.


(Hm... ?)


Apa dia salah masuk ruangan?


Kuro yakin dia tak salah. Namun saat ini ada suatu yang sangat mengganggunya.


(Laila tampaknya memiliki hobi baru yang tak aku ketahui)


Kuro sekali lagi mencoba masuk. Di saat itulah sebuah bola api langsung terbang ke arahnya. Tentu dia menghindarinya.


"Apakah itu sebuah sambutan yang kau berikan pada suamimu?"


"Guguguu!!!"


Laila mengabaikan Kuro dengan wajah cemberut. Dia terlihat kesal karena tak mendapatkan reaksi yang dia pikirkan.


Wajar saja, persiapan spesial yang dia siapkan ternyata percuma.


"Baiklah, aku minta maaf jika menyinggungmu. Lihat, aku membawakan hadiah untukmu."


Kuro menyodorkan bunga Ice Rose. Dan meskipun sedikit malu malu, namun Laila menerimanya dengan wajah memerah.


Sungguh manis. Kuro tak pernah merasa cukup saat melihat Laila seperti itu. Apalagi itu membuat dia tak tahan untuk menggodanya.


Laila tersenyum dan lalu menaruh bunga itu di sebuah vas.


Ruangan itu seperti kamar pada umumnya. Hanya saja tempat tidur lebih besar dan dengan lampu yang berwarna merah bercampur pink untuk menambah suasana romantis. Tak lupa sebuah sofa dan beberapa alat memasak karena ruangan itu memiliki aliran waktu yang berbeda.


Kuro melirik ke sekeliling dan memperhatikan tak ada masalah berarti.


Tetapi yang menjadi masalah adalah...


"Kenapa kau memakai pakaian seperti itu?"


"Hehe.. kau menyadarinya. Bagaimana pendapatmu? Bukankah ini membuatmu puas? Ini adalah sebuah layanan dariku setelah berkonsultasi dengan ibu. Hehe.. apa ini membuatmu bergairah dan tak sabar untuk menyerangku? Kyaaa!!!"


Meskipun Kuro terlihat tenang, namun hatinya begitu liar seperti binatang buas. Benar. Seperti yang dikatakan Laila, Kuro saat ini hampir tak bisa menahan diri untuk menyerang Laila.


Bagaimana tidak? Biasanya Laila mengenakan gaun seksi dengan bagian tertentu yang terlihat begitu menggoda. Tak hanya memancarkan aura dewasa, namun juga begitu erotis.


Biasanya mereka akan memulai dengan bercanda gurau sambil melakukan hal yang kurang penting selama mereka melakukannya berdua.


Lalu puncaknya adalah saat gairah mereka sudah tak terbendung dan akhirnya mereka melakukannya sampai hasrat mereka terpenuhi.


Tetapi pakaian yang Laila kenakan saat ini membuat Kuro langsung ke tahap puncak dan ingin menyerangnya tanpa menahan diri.


Pakaian maid dengan desain seksi dan minim yang membuat beberapa bagian terekspos. Lalu yang terpenting dari semuanya adalah pakaian itu kadang terlihat transparan saat dilihat dari sudut tertentu.


Sensasi yang tak pernah Kuro rasakan saat ini meluap sehingga membuatnya hampir kehilangan akal. Di saat yang sama ini membuat Kuro sadar sebesar apa usaha Laila demi dirinya.


"Benar. Jika bisa aku akan langsung menggendongmu ke tempat tidur dan menyantap hidangan darimu, tapi bolehkah aku menanyakan satu hal?"


"Usahaku benar benar tak sia sia . Aku sungguh senang. Apa yang ingin kau tanyakan?"


"..kenapa kau membawa cambuk?"


Sayangnya, ada suatu yang membuat Kuro heran. Benda yang Laila bawa membuat dia memikiran suatu yang aneh.


"Ibu bilang setiap lelaki kadang butuh siksaan. Dengan cambuk lelaki juga akan menurutimu. Dia bilang ini adalah rahasia kenapa ayah tak pernah membantah ibu."


"APA KAU PIKIR AKU SEORANG MASOKIS!!!"


Kuro tak bisa menahan diri untuk berteriak protes.


Tapi di saat yang sama sebuah pemikiran aneh muncul.


-Apakah Paladin terkuat seorang masokis?


Tiba tiba sebuah singa besar yang tunduk setelah dilatih menggunakan cambuk langsung muncul di kepalanya.


"Ehh? Kau bukan?"


Entah mengapa gairah Kuro langsung menghilang setelah mengetahui apa yang dipikirkan Laila tentang dirinya. Mungkinkah dia selama ini berpikir seperti itu?


"Jika orang yang berusaha keras hingga titik darah penghabisan kau sebut masokis, setiap orang di dunia ini berarti masokis. Aku tak tahu darimana kau mendapatkan ide itu, tapi terima kasih. Aku bukan orang seperti itu."


"Hmm.. Kalau begitu alat ini tak berguna." Laila membuang cambuknya ke sudut dengan kesal. "Daripada memikirkan hal itu, bagaimana kalau kita melakukan hal biasanya."


"Itu lebih baik daripada permainan yang tak jelas. Tapi apa yang mau kau lakukan terlebih da-"


"Aku mau bantal paha!!"


Laila tampaknya sangat menantikan hal itu. Memang selama ini Kuro terus yang meminta bantal paha.


"Baiklah.. kau memang selalu manja."


"Kyaaa!!"


Kuro langsung saja menggendong Laila ke tempat tidur dan merebahkannya bagai tuan putri.


"..."


"..."

__ADS_1


Keduanya saling menatap satu sama lain dengan penuh cinta dan hasrat. Keduanya lalu berciuman dengan mesra sebelumnya akhirnya Kuro menyodorkan pangkuannya.


Laila tersenyum dan akhirnya menikmati bantal paha dari orang yang tercinta.


"Uehehehe..."


"Kau benar benar manja."


Kuro mengelus kepala Laila dan mengurai rambut Laila dengan lembut. Aroma wangi dari sampo tercium setiap kali Kuro melakukannya.


"...tak boleh?"


"Tentu kau boleh manja kapanpun kau mau."


Keduanya terhening dengan suasana yang begitu tenang dan romantis. Laila sangat menikmati momen seperti ini.


"Kuro..."


"Apakah ada masalah?"


"Tidak. Aku hanya berpikir waktu begitu cepat berlalu. Meskipun hanya beberapa bulan, namun banyak hal yang terjadi. Aku menjadi seorang ibu."


"Yah..."


Keheningan kembali terjadi seolah keduanya menahan diri untuk berkata lebih lanjut.


"Kuro..."


"Ya?"


"Siapa cinta pertamamu?"


"!?"


Kuro terkejut karena tak menyangka Laila akan menanyakan hal itu. Meskipun itu bukan masalah berarti, namun Kuro merasa canggung saat ditanyai oleh istrinya sendiri.


"Maaf, aku tak bermaksud jahat. Hanya saja aku sering berpikir kalau aku itu curang. Aku mengambil kesempatan dan akhirnya mengikatmu. Kadang aku bertanya, jika aku tak melakukannya, apakah aku akan mengalami semua ini sekarang?"


"Kenapa kau berpikir seperti itu? Apa kau menyesalinya?"


"Aku tak pernah menyesali semua ini. Aku justru bahagia. Tetapi bagaimana dengan orang lain yang juga berusaha keras demi cintamu? Apakah kau hanya akan mengabaikan mereka?"


Laila membicarakan usaha keras Charmilia dan lainnya yang tak pernah menyerah meskipun Kuro sudah menjadi miliknya. Memang kekaisaran memperbolehkan poligami, tapi apa hanya itu saja yang membuat mereka bisa sejauh itu?


Usaha mereka bisa dikatakan sungguh tak normal.


"Mungkinkah itu alasan kenapa kau menanyakan tentang siapa yang menjadi cinta pertamaku?"


Laila mengangguk dengan manis dan serius.


"Cinta pertama sangat spesial. Karena aku memiliki ingatan Alice, aku saat ini merasa jatuh cinta pada orang yang sama meskipun kalian berbeda. Mungkin sebagian alasan kenapa aku sangat mencintaimu karena cinta Alice yang begitu besar pada Shiroyasha. Em.. kau tak marah kan?"


Kuro hanya tersenyum dan kembali mengelus kepala Laila seolah itu bukan masalah besar.


"...itu berarti kau hanya jatuh cinta yang kedua kalinya. Jujur saja kita berdua memiliki banyak kesamaan dalam hal ini. Jadi kau pasti tahu apa yang aku rasakan tentang cintaku padamu."


"Ehehe.. kau benar. Tapi aku masih penasaran dengan siapa yang kau cintai pertama kalinya."


"Aku peringatkan, ini bukan kisah yang menyenangkan."


Kuro mulai bercerita tentang kisah cintanya yang pertama.


Dulu, saat dia melakukan pencarian terhadap kebenaran dunia ini, dia bertemu dengan seorang gadis yang sangat spesial. Bukan hanya cantik, namun dia sangat baik dan begitu tulus.


Karena Kuro tertarik, Kuro akhirnya memutuskan untuk mendekati gadis itu dan mengenalnya lebih jauh lagi.


Perlahan dia mulai tahu kebenaran siapa gadis itu. Meskipun terlihat biasa saja, namun gadis itu ternyata memiliki kekuatan spesial yang hanya dimiliki oleh keturunan tertentu.


Dia memiliki kekuatan yang membuat dirinya sembuh dalam hitungan detik. Dengan kata lain, kemampuan regenerasi. Hal ini juga membuat dia dikenal sebagai monster.


Tentu Kuro tak pernah memikirkan hal itu dan terus mendekatinya. Dan akhirnya keduanya jatuh cinta dan menjalin hubungan kekasih.


Hubungan cinta mereka sangat spesial karena ini adalah cinta pertama bagi keduanya. Cinta mereka yang begitu besar akhirnya membuat mereka tak bisa menahan diri dan merekapun melanggar garis batas.


Garis batas yang dilanggar itu adalah awal dari hubungan yang bisa dibilang sedikit ekstrim.


Lalu waktu berlalu. Kuro dan gadis itu bagaikan sepasang pengantin baru yang sangat bahagia.


Sayangnya, kebahagiaan itu tak berlangsung lama karena sebuah masalah muncul. Ada kelompok yang mengincar gadis itu, lebih tepatnya kekuatan yang dimilikinya.


Kuro tak mengerti. Kenapa kekuatan regenerasi menjadi incaran? Di saat itulah Kuro mengetahui kebenaran yang lebih mengejutkan.


Gadis itu bukan hanya memiliki kemampuan regenerasi, namun dia merupakan keturunan terakhir dari sebuah suku yang pernah menyegel makhluk jahat yang sangat kuat. Darahnya memiliki kekuatan untuk melepas segel itu, jadi dia sangat berharga.


Setelah mengetahui kenyataan itu, Kuro memutuskan untuk melindunginya. Bagaimanapun juga dia adalah orang yang dia cintai.


Tetapi setiap kali berhasil mengalahkan musuh, orang baru yang lebih kuat terus berdatangan seolah tanpa henti. Jika seperti ini terus, Kuro akan gagal.


Sadar perbedaan kekuatan, Kuro dan gadis itu memutuskan untuk lari. Tetapi itu percuma karena musuh selalu tahu di mana mereka berada.


Lalu pada suatu hari mereka bertemu dengan musuh yang sangat kuat. Dia bisa dibilang salah satu pemimpin pasukan musuh.


Kuro bertarung dan terus bertarung menggunakan semua yang dia miliki. Tetapi itu tidak cukup. Perbedaan kekuatan mereka terlalu besar.


Musuh itu berhasil mengalahkan Kuro dan berniat menghabisinya dengan serangan penghabisan yang dahsyat.


Kuro berpikir ini adalah akhir hidupnya. Dia kalah dan gagal melindungi orang yang dia cintai.


Tetapi di saat itulah gadis itu menghadang serangan musuh dengan kekuatannya. Tetapi itu tak cukup dan memusnahkan seluruh tubuh gadis itu.


Tujuan musuh gagal karena mereka membutuhkan gadis itu dalam keadaan hidup. Di saat yang sama Kuro gagal dan kehilangan orang yang dia cintai.


Di saat kemarahan dan kebenciannya mencapai puncak, Kuro membangkitkan kekuatannya sebagai King dan membunuh orang yang telah merenggut semuanya darinya.


Meskipun menang, namun Kuro sama sekali tak senang. Dia tak bisa merubah masa lalu di mana dia kehilangan orang yang dia cintai.


Tapi dia ingat, sebelum tubuh gadis itu musnah, dia tersenyum pada Kuro dan berpesan;


'Meskipun tanpa diriku, kau harus tetap hidup. Jangan menjadikan diriku sebagai alasan untuk tak mencintai orang lain'


Sejak saat itulah Kuro bersumpah untuk melakukan apapun demi orang yang dia cintai. Dan sumpah itulah yang membuat Kuro sekarang ini.


"Sudah aku bilang itu bukan kisah yang menyenangkan."


Air mata menetes dari mata Laila. Dia begitu sedih saat membayangkan semua itu terjadi pada orang yang dicintai Kuro.


"Aku memang bersedih saat kehilangan dirinya, namun di saat yang sama aku sadar aku begitu lemah sehingga tak bisa melindungi orang yang aku cintai. Tapi berbeda dengan dulu, saat ini aku tak ragu untuk menggunakan semua yang aku miliki untuk membuatmu bahagia."


Laila mengusap air matanya. Dia sadar kalau tak ada gunanya menyesali hal yang sudah terjadi. Dan seperti dirinya, Kuro juga berpikir kalau saat ini mereka tak ingin mengulangi tragedi untuk kesekian kalinya.


Tetapi dia juga mengerti. Membuat Kuro bahagia juga berarti mewujudkan keinginan gadis itu.


"Dia sungguh gadis yang kuat."


"Ya. Jika dipikirkan lagi, aku pikir dia sudah merencanakan semuanya. Dia tahu tak bisa terus lari. Dengan mengorbankan dirinya, dia akhirnya menutup jalan musuh untuk membangkitkan makhluk itu."


"Aku juga berpikir seperti itu. Tapi makhluk apa yang dimaksud?"


"Entahlah. Mungkin semacam monster yang disegel sebelum zaman Shiroyasha. Aku juga tak tahu banyak."


Lebih tepatnya Kuro tak peduli. Semua itu tak penting karena dia mementingkan untuk melindungi gadis itu daripada mengenal musuh. Itu adalah sebuah kesalahan fatal yang membuat Kuro berubah untuk selalu mencari informasi musuh sebelum bertarung.


"Aku pikir sebaiknya kita mencari buku sejarah kapan kapan."


Kuro mengangguk tanda setuju.


"Oh iya, dari tadi aku tak mendengar nama gadis itu. Kalau boleh tahu, siapa namanya?"


"Kenapa?"


"Bukan apa apa. Aku hanya berpikir mungkin kami akan akrab jika bertemu."


Kuro kembali tersenyum karena berpikir itu pasti akan terjadi.


Lalu Kuropun menyebut salah satu nama orang yang tak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.

__ADS_1


"Nama gadis itu adalah.... Arisa. Arisa Himegami."


__ADS_2