Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Not This Time


__ADS_3

[Dalam kondisi badai salju ini sepertinya kita masih disuguhi oleh pertarungan yang cukup mengejutkan.]


{Ya. Aku menduga akan ada yang menggunakan momen itu untuk menyerang, tapi aku tak menyangka dua orang itu yang melakukannya kufufu..}


[...]


Senyuman sadis yang ditunjukkan oleh putri Norn masih teringat segar di benak orang , jadi banyak yang berpikir untuk tak ingin melihat senyuman itu lagi.


Sayangnya, bagi beberapa orang itu adalah senyuman yang menawan.


[Ehem... Lalu bagaimana menurut putri Norn tentang pertarungan ini? Seperti yang terlihat saat ini pasangan Franco dan Juuno masih mendominasi jalannya pertarungan. Bagi penyihir dengan peringkat A berhasil melakukan semua itu sungguh hal yang luar biasa.]


{Apakah seperti itu? Setelah kita melihat banyak pertarungan luar biasa yang tak ada hubungannya dengan peringkat, apakah masih ada yang berpikir kalau ini adalah masalah peringkat?}


[Maaf jika menyinggung anda. Memang setelah semua yang terjadi, menggunakan peringkat sebagai dasar pertarungan adalah suatu yang kurang tepat.]


{Aku tak marah, hanya saja jika ada yang masih berpikir seperti itu, mereka semua adalah orang bodoh. Pertarungan tak akan dimenangkan hanya dengan sebuah peringkat. Hanya orang yang mau berusahalah yang akan menjadi pemenang.}


Putri Norn mendesah dalam. Itu menunjukkan seberapa besar kekesalan yang dia rasakan.


{Lupakan masalah tadi. Aku juga tak mengatakan kalau apa yang kau katakan tentang masalah peringkat adalah salah. Justru ini adalah bukti lain kalau peringkat bukanlah sebuah penentu jalannya pertarungan.}


Norn melanjutkan.


{Dalam pertarungan kali ini, aku bisa mengatakan kalau faktor yang membuat keduanya unggul tak hanya karena keduanya memiliki pengalaman yang lebih banyak daripada Meika dan Yuko. Semua pasti masih ingat dalam Battle War tahun lalu, keduanya sanggup membuat kakakku terpojok. Jadi ini bukanlah suatu yang mengejutkan.}


[Oh benar. Saat anda menyebutkan hal itu, aku ingat keduanya memang sanggup memojokkan putri Victoria tahun lalu. Tapi bukankah itu karena aturan Battle War?]


{Mungkin, tapi seperti diriku, kakakku adalah penyihir spesial. Cara biasa tak akan mempan padanya. Lalu kakakku pernah mengatakan hal ini, 'jika waktu itu aku bertarung dengan keduanya tanpa adanya aturan, dia pasti akan kalah'. Sekarang, bagaimana cara Meika dan Yuko menghadapi kedua orang yang sanggup membuat monster terpojok?}


▪️◼️▪️


Sebagai penyihir, Meika dan Yuko tak hanya dikenal sebagai penyihir dengan peringkat SS, tapi mereka juga dikenal karena keduanya memiliki latar belakang yang unik.


Meskipun terlihat seperti manusia pada umumnya, Meika adalah seorang darah campuran antara elf dengan manusia.


Sebagai setengah elf, dia memiliki sihir unik yang membuatnya berbeda dengan manusia pada umumnya. Itu membuatnya kuat, tapi di saat yang sama itu membuatnya lemah seperti sekarang ini.


Lalu untuk Yuko sendiri, dia adalah salah satu keturunan dari pendiri aliran pedang Death Phantom.


Mengenal pedang sejak kecil membuat Yuko sanggup menggunakan pedang seperti bagian tubuhnya sendiri. Bahkan hal itu membuatnya sanggup mengalahkan penyihir lainnya hanya dengan mengandalkan kemampuan berpedangnya.


Bakatnya berpedangnya sanggup disamakan dengan Serge atau Kuro. Hanya saja, berbeda dengan keduanya yang menguasai banyak aliran pedang, dia hanya menguasai satu aliran pedang saja.


Mungkin itu membuat dirinya terlihat lebih lemah daripada Kuro atau Serge, tapi dengan hanya menguasai satu aliran pedang, itu membuatnya sanggup menggunakan teknik yang lebih tajam dan mematikan.


Sayangnya, meskipun keduanya memiliki latar yang luar biasa, semua itu tak membantu mereka dalam pertarungan kali ini.


"Jujur saja, jika aku tak memperkuat pertahananku, aku pasti sudah tersingkir. Kau memang pantas mendapatkan gelar Invisible Shooter."


Kondisi Meika sama sekali tak baik. Nafasnya terengah-engah dan banyak menerima lecet dari seluruh tempat.


Dia memegang tangan kirinya yang gemetar dan menahan rasa sakit. Meskipun tak ada luka yang terlihat, tapi itu menunjukkan seberapa besar dampak serangan yang dia terima.


"Terima kasih. Tapi bisakah kau berhenti bermain main? Kita berdua tahu kau tidaklah selemah ini untuk tersingkir hanya dengan serangan semacam itu."


Meika tersenyum. Memang apa yang dikatakan Juuno benar, dia belum serius. Tetapi hal ini juga berlaku pada Juuno yang belum menunjukkan kekuatan yang sebenarnya.


"Kau mungkin benar. Tapi aku memiliki alasan untuk tak menggunakan kekuatanku."


"Bukan tak mau, tapi tak bisa. Benarkan?"


Mendengar itu, Meika menajamkan matanya. Sejauh mana kau tahu?


"Ini bukanlah suatu yang mengejutkan. Kau selama ini jarang sekali menggunakan kekuatanmu. Lalu dengan tingkahmu yang terlihat begitu sombong, kau seolah tak ingin menggunakannya untuk melawan ikan teri. Bahkan dalam babak penyisihan peserta Battle War, kalian hanya mengandalkan kemampuan berpedang Yuko untuk lolos. Itu memang prestasi yang luar biasa, tapi kau tak mungkin bisa membodohi peserta Battle War dengan cara itu."


Mendengar itu Meika sadar selama ini dia terlalu meremehkan peserta peserta lain. Dia lupa kalau peserta Battle War adalah monster.


Hanya dengan sedikit informasi, mereka bisa mengetahui banyak hal yang ingin Meika sembunyikan.


(Jadi inilah alasan kenapa ada waktu untuk menyelidiki peserta lain?)


Babak kedua Battle War memang tak begitu penting bagi sebagian peserta, tapi ada pula yang menggunakan momen itu untuk menambah kesempatan menang walau hanya sedikit.


Juuno dan Franco adalah salah satu tipe peserta seperti itu.


"Dengan hanya memikirkan latar belakang dan elemen sihir yang kau miliki, itu sudah membuat kami memiliki banyak cara untuk melawanmu. Jadi inilah pilihanmu, bertarung atau kalah?"


"..."


Mendengar semua itu, Meika sama sekali tak merasa takut.


Musuh memang sudah tahu banyak hal tentang dirinya. Mereka juga sudah membuat banyak persiapan untuk melawan keduanya hingga dipermalukan seperti sekarang ini.


Lalu kenapa?


Meskipun tahu, bukan berarti mereka tahu semua hal. Dalam hal ini dia merasa tepat karena menyembunyikan banyak informasi.


"Aku tak akan memilih dua pilihan itu. Aku akan mengalahkanmu."


"Selamat mencoba."


Juuno menyerang. Dua tembakan, tiga tembakan, lalu lima tembakan. Semua serangan memiliki kekuatan serangan yang lebih kuat daripada sebelumnya.


Tetapi semua serangan itu ditahan oleh dinding yang tak terlihat.


"Oh.. wahai roh agung sang pemberi kehidupan. Datanglah penuhi panggilanku untuk mengalahkan semua musuhku, Gnome!!!"


Sebuah sosok muncul dari kumpulan tanah liat yang berkumpul. Sosok itu menyerupai boneka tanah liat berukuran 20 cm. Mengenakan jubah dan tongkat kecil. Lalu sebuah wajah lucu muncul di bagian kepala.


Tak diragukan lagi itu adalah spirit.


"Oh... Aku tak menyangka kau membuat kontrak dengan salah satu roh peringkat tinggi."


"Kau sama sekali tak terkejut huh...?"


"Begitulah..."


Sebagai pemilik darah elf, tak aneh jika Meika bisa menggunakan spirit art (sihir roh). Dalam hal ini yang cukup mengejutkan adalah roh peringkat tinggi yang membuat kontrak dengan Meika.


Tetapi...


"Aku mendengar kalau membuat kontrak dengan roh, kalian memiliki semacam kompensasi. Dalam hal ini aku tak tahu kompensasi macam apa yang harus kau bayar, tapi aku bisa yakin itu menjadi salah satu alasan kenapa kau tak begitu ingin menggunakan spirit art."


Tiba tiba wajah Meika memerah merona karena malu. Tentu saja Juuno tak begitu mengerti kenapa Meika tiba tiba seperti itu.


Kemudian, tiba tiba pakaian luar Meika hancur seolah lapuk dimakan oleh usia. Dan tentu saja itu membuat pakaian dalam Meika terekspos.


Pink dengan renda. Hal mengejutkan lainnya, ukurannya lebih besar daripada yang terlihat.


"Wow... Aku tak menyangka berhadapan dengan gadis mesum."


"KAU SALAH, SIALAN!!!"


Teriak Meika dengan air mata berlinang.


▪️◼️▪️

__ADS_1


Sementara itu, Kuro saat ini berburu di tengah badai salju. Mungkin banyak yang berpikir melakukan hal itu di tengah badai salju adalah tindakan bodoh. Tetapi Kuro tak memiliki banyak pilihan.


Sebagai seorang mantan Shadow Knight, dia sudah biasa untuk tak perlu makan selama berhari-hari. Tentu saja ada resiko kekuatan tempur berkurang, tetapi hal seperti itu sangatlah jarang terjadi dengan teknologi sihir sekarang ini.


Tetapi saat ini dia tak sendirian. Selain istrinya, Laila ada tiga orang lainnya yang belum makan sejak Battle War dimulai.


Lalu karena mereka semua telah melewati pertarungan luar biasa, maka tak makan akan membuat pertarungan ke depan menjadi lebih berat.


Mempertimbangkan hal itu, berburu di tengah badai salju adalah satu satunya pilihan. Pada saat seperti ini peserta juga tak begitu melakukan banyak pergerakan.


"Aku pikir ini cukup..."


Kuro telah mendapatkan buruannya yang kelima. Semuanya adalah kelinci dengan bulu seputih salju. Normalnya sulit menemukan mereka, tetapi mata Kuro adalah mata spesial.


Dia lalu kembali ke sebuah rumah kecil hitam yang menyerupai benteng. Meskipun terbuat dari pasir besi, tapi rumah itu diperkuat oleh sihir untuk berjaga jaga jika ada yang mencoba menyerang.


Tak ada pintu di rumah itu. Pintu akan muncul secara otomatis dengan sihir pendeteksi.


"..."


Tetapi meskipun pintu telah muncul. Kenapa Kuro merasa hal buruk akan terjadi jika dia masuk?


Dia menggelengkan kepalanya untuk menjauhkan pikiran buruknya. Di dalam hanya ada istrinya yang berdiskusi tentang calon istri kedua.


Memang itu bukan topik yang enak untuk didengar, apalagi mereka tak begitu mempedulikan pendapatnya. Tetapi bukan berarti hal buruk akan terjadi saat dia masuk.


Sayangnya, pemikiran naifnya salah.


Setelah dia masuk, dia menemukan tiga sosok wanita yang menunjukkan senyuman menakutkan yang lebih menakutkan daripada iblis.


Dia ingin menanyakan dimana Mitra, tetapi dia mengurungkan niat itu.


"Semuanya, aku membawa makan malam. Ayo kita siapkan."


"Bagus. Kami juga berpikir untuk segera menyantap makan malam."


Entah mengapa, bulu kuduk Kuro merinding. Dia bahkan merasakan alarm yang begitu keras dari mereka bertiga.


"Jadi, siapa yang makan dulu?"


Tiba tiba halilintar, pasir besi dan api mengekang tubuh Kuro hingga membuatnya menjadi ulat bulu.


"oh.. sial!!"


Kuro langsung menggunakan Authority untuk menghancurkan kekangan mereka. Dan setelah itu memukul belakang kepala mereka bertiga hingga membuat mereka tak sadarkan diri.


Kuro mendesah dalam setelah melihat mereka tumbang dengan aman


"Maaf Laila, tapi tak akan berjalan sesuai rencanamu kali ini."


Meski memiliki perasaan pads Charlmilia, itu bukan berarti membuatnya ingin menyentuhnya.


Selain itu, Kuro merasa kalau hubungan percintaan bukanlah suatu yang harus diselesaikan dengan cara seperti itu.


▪️◼️▪️


Yuko merasakan tekanan sihir Meika menjadi lebih kuat. Dia tahu ini adalah tanda kalau Meika telah menggunakan kekuatan yang tak ingin dia gunakan kecuali keadaan mendesak.


Ini tak hanya menjadi bukti kalau Meika telah serius, tetapi di saat yang sama itu juga menjadi bukti kalau lawan yang dia hadapi begitu kuat.


Sebagai pasangannya, dia diberitahu keunggulan dan kelemahan dari kekuatan yang dilepaskan oleh Meika. Dalam hati dia merasa itu benar benar kekuatan yang sanggup mengubah jalannya pertempuran. Hanya saja, saat dia tau kelemahan dari kekuatan itu, dia sama sekali tak tahu harus bereaksi seperti apa.


Setiap kali Meika memanggil Gnome, dia akan kehilangan pakaian yang dia kenakan secara acak dan bisa apa saja. Entah apakah itu pakaian luar atau pakaian bagian dalam.


Pernah suatu kejadian di mana Meika kehilangan ****** ********. Syukurlah saat itu mereka berada di tempat latihan tertutup.


Dalam acara Battle War yang dipertunjukkan pada seluruh negeri, kejadian seperti itu akan berakibat fatal. Karena itulah pemanggilan Gnome hanya dilakukan pada saat kondisi benar benar mendesak.


Sebagai pasangan dan teman, Yuko sudah berjanji untuk mencoba melindungi Meika sebaik mungkin. Tetapi hal itu berlaku hanya saat mereka bersama.


Mungkinkah ini hanya kebetulan atau sudah direncanakan?


Apapun alasannya, Yuko tak bisa terus jauh dari Meika. Dia harus segera mengalahkan lawannya sesegera mungkin.


Tetapi-


"Kuhh!!!"


Yuko bisa merasakan tujuh rasa nyeri di bagian tubuhnya. Semua serangan mengenai bagian vital. Jika pertarungan sebenarnya, dia pasti sudah mati.


Entah ini keberuntungan atau bukan, sistem di mana kekalahan hanya berlaku jika Doll telah rusak parah membuat Yuko masih bertahan sejauh ini.


Tetapi itu sama sekali tak membuatnya senang. Bagaimanapun juga dia mengerti kalau dia sudah kalah dalam pertarungan ini.


"Ini bukan saatnya memikirkan keadaan orang lain. Dalam segi kemampuan kalian mungkin lebih unggul, tapi bukan berarti itu membuat kalian menang."


"Aku tahu itu. Dan berhentilah merendah. Kita berdua siapa yang lebih unggul di sini. Kenapa kau tak segera mengalahkanku dan mengakhiri ini?"


"Itu pertanyaan yang bagus. Aku memang berencana melakukannya."


Setelah mengatakan itu, aura Franco tiba tiba membesar. Yuko merasakan tekanan yang lebih berat daripada sebelumnya.


Dalam kondisi di mana dia tak bisa melihat serangan musuh sepenuhnya, memprovokasi adalah tindakan bodoh.


Untuk sekarang dia menggunakan sihir pendeteksi dan instingnya secara penuh. Dia mengkonsentrasikan semuanya pada menghindar.


Kemudian, Yuko memiringkan kepalanya, melompat mundur satu langkah dan berputar lalu memiringkan tubuhnya. Jika melihatnya sekarang, mungkin Yuko terlihat seperti seorang penari yang ahli.


Tetapi pada kenyataannya dia saat ini menghindari serangan tak terlihat.


"Ini mengejutkan... "


"..."


Yuko berkeringat dingin. Meskipun bisa menghindar, tapi dia sama sekali tak memiliki kesempatan untuk menyerang. Situasi seperti ini hanya dia alami saat berhadapan dengan gurunya.


Bagaimana bisa penyihir peringkat A bisa sekuat ini?


Salah. Peringkat A sudah termasuk yang terbaik. Tetapi mereka bukanlah yang terbaik jika dibandingkan dengan peringkat yang lebih tinggi.


Untuk menghadapi Franco satu satunya jalan keluar Yuko adalah menggunakan kekuatan Soul-nya. Tetapi dalam situasi badai salju seperti ini, kekuatannya tidak begitu efektif.


Andai saja badai salju berhenti atau setidaknya angin mulai melambat...


Mungkin doa Yuko tersampaikan atau karena sebuah keberuntungan, cuaca mulai membaik. Salju mulai berhenti turun dan angin mulai berhenti.


Sosok Franco yang tak begitu jelas kini terlihat. Dan tentu saja serangannya.


Dengan suara benturan, Yuko akhirnya menangkis serangan Franco.


"Sepertinya keberuntungan kalian sudah habis. Aku akan membuatmu menyesal karena tak segera menghabisi kami."


Ekspresi Franco sama sekali tak berubah. Hanya saja, raut wajah yang selalu terlihat liar kini menjadi begitu tenang bagai air yang mengalir.


"Sword Creation!!!"


Yuko akhirnya menggunakan sihir Soul miliknya. Kemampuan untuk menciptakan pedang dengan efek sesuai keinginannya.

__ADS_1


Dalam hal ini yang dia ciptakan adalah pedang yang sanggup mengalahkan semua musuh.


10 pedang muncul di udara. Pedang pedang itu bergerak seperti dipegang oleh pendekar pedang yang tak terlihat dan mulai menyerang Franco secara bersamaan.


"Sword Spirit Knight, maju!!!"


Dari berbagai arah pedang menyerang Franco. Yuko juga ikut menyerang dengan kordinasi yang luar biasa seolah dia menyatu dengan semua pedang.


Franco yang selalu terlihat unggul mulai terdesak mundur. Dia mampu menahan beberapa serangan, tetapi itu tak cukup.


Dan mungkin karena keberuntungan sekali lagi berpihak pada Yuko, tiba tiba pijakan Franco lenyap dan akhirnya dia kehilangan keseimbangan.


Tentu saja Yuko tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyerang.


"Dengan ini semuanya berakhir."


Melihat 11 pedang diarahkan padanya, Franco sama sekali tak panik, dia bahkan tak merubah ekspresinya.


Di saat itulah insting Yuko memperingatkan dirinya dengan keras.


Tanpa pikir panjang dia memiringkan badannya. Di saat itulah dia merasakan sesuatu melintas di tempatnya semula. Lalu ledakan keras terjadi di kejauhan.


Apa itu tadi?


Terkejut dengan apa yang terjadi, Yuko menjadi lengah.


(Gawat!?)


Sebagai pendekar pedang, Yuko tahu dalam pertempuran lengah adalah sebuah kekalahan.


Sosok Franco yang semula terjatuh tiba muncul di sampingnya. Atau lebih tepat jika sosok Franco menjadi dua.


"Seperti yang aku katakan, aku akan mengakhiri pertarungan ini, Soul Piercing!!!"


Dengan sekali lihat Yuko tahu, serangan Franco berbeda dengan serangan sebelumnya yang hanya mengandalkan keakuratan dan kecepatan, kali ini energi sihir yang besar terasa dari rapier Franco.


Sihir pertahanan akan percuma dan dampak serangan pasti akan besar. Dan seperti yang Franco bilang, ini adalah akhir baginya.


"Earth Wall!!"


Dinding tanah muncul menghalangi serangan Franco. Tetapi itu tak cukup, serangan Franco dengan mudahnya menembus dinding dan menghancurkannya.


Walau hanya sementara, itu memberikan waktu untuk Yuko menghindar.


"Tch!!"


Untuk pertama kalinya Franco terlihat kesal, tetapi dengan cepat dia pilih dan langsung melanjutkan serangannya.


Yuko tak tinggal diam dan menggunakan Sword Spirit Knight untuk menahan serangan, tetapi mereka semua hancur dengan mudah seperti kaca pecah.


Sekali lagi Yuko dibuat terkejut, tetapi mereka sudah melakukan tugas mereka dengan baik. Yuko berhasil menjaga jarak. Dan tak hanya itu, dia akhirnya bisa kembali berkumpul dengan Meika.


"Terima kasih, nona Meika. Jika tak ada kau, aku sudah tamat."


"Tak masalah. Tetapi melihat dirimu seperti sekarang ini sungguh suatu yang langka."


Yuko tertawa kecut.


"Keluargaku selalu mengatakan aku adalah yang terbaik. Tapi kini aku sadar ternyata masih banyak orang yang lebih baik daripada aku."


"Aku juga. Aku tak menyangka ada orang yang lebih kuat daripada diriku. Atau aku sebut dia lebih licik daripada aku."


Keduanya menatap satu sama lain untuk sesaat, kemudian mengangguk secara bersamaan.


"Gnome!!"


"Sakura!!"


Magic arm dan spirit mengeluarkan aura yang lebih kuat daripada sebelumnya. Bersamaan dengan itu, 2 lingkaran sihir selebar 100 meter muncul di bawah keduanya.


Siapapun bisa melihat kalau keduanya saat ini sedang mempersiapkan sihir tingkat tinggi.


"Sword Creation..."


"Golem Creation..."


Dari lingkaran sihir, munculah sosok pedang dan ksatria tanah liat. Jumlah mereka mencapai ribuan.


"Terciptalah wahai pedang yang mengalahkan semua musuhku!!"


"Terciptalah wahai ksatria yang melampaui semua musuhku!!"


Kedua mata para ksatria bercahaya dan langsung menggenggam pedang yang muncul di depan mereka. Sosok mereka akhirnya sempurna seperti ksatria yang mengabdi pada tuan mereka.


Dengan ini, selesai sudah terciptanya pasukan yang sanggup mengubah jalannya sebuah perang.


""Union Sacred Magic Art, Unlimited Sword Knights!!!"""


▪️◼️▪️


Saat melihat jumlah ksatria tanah liat yang diciptakan oleh sihir kombinasi Yuko dan Meika, Juuno dan Franco tak punya pilihan selain terkejut.


"Mundur?"


"Itu ide yang bagus. Mengalahkan mereka semua hanya dilakukan orang bodoh."


"Kau sudah mengatakan seolah kita akan menang. Yah.. jika kita bertarung serius mungkin kita memang akan menang, tapi ini sungguh merepotkan."


Franco adalah tipe orang yang tenang saat sudah menggenggam pedangnya, tetapi di luar itu dia adalah seorang pembuat ulah. Dan yang paling buruk dari sifatnya dia adalah tipe orang yang tak sabaran.


Pasukan ksatria tanah liat mulai maju menyerang keduanya. Yang pertama mereka lakukan tentu saja lari.


"Mereka lebih cepat daripada yang terlihat. Bagaimana dengan pertahanan?"


Juuno menembak salah satu ksatria. Peluru dengan mudah menembus tubuh, tapi sama tak memiliki pengaruh. Bahkan lubang dengan cepat segera pulih.


Itu bukan suatu yang mengejutkan. Para ksatria itu terbuat dari tanah liat. Serangan kecil tak akan memiliki banyak pengaruh.


(Mereka mengirim 2 per 3 pasukan hanya untuk mengalahkan kami. Ya ampun, mungkinkah kami membuat mereka marah?)


Mungkin itu memang terjadi, tapi tak ada yang tahu alasan sebenarnya.


Tetapi bukan saatnya memikirkan itu sekarang.


"Hey.., Juuno."


"Aku tahu apa yang ingin kau katakan. Memang menepati janji untuk bertarung kembali dengan putri Victoria adalah suatu yang penting bagi kita, tetapi.. -"


"Setelah mereka sampai menggunakan sihir terkuat mereka hanya untuk mengalahkan kita, bukankah itu membuat kita menjadi pengecut jika melarikan diri?"


"Mungkin... Tapi kau benar. Jika kita tak menghadapi keduanya dengan serius, ini hanya akan membuat pertarungan terakhir kita menjadi buruk."


"Tak ada penyesalan."


"Aku akan minta maaf pada putri Victoria karena tak menepati janji."


Keduanya lalu memejamkan mata. Bersamaan itu aura keluar dari tubuh mereka sebagai tanda mereka melepaskan kekuatan.

__ADS_1


""Limit Release!!!""


__ADS_2