
3 hari berlalu sejak Battle War selesai, Kuro dan keluarganya sudah kembali ke kota Areshia dengan menggunakan kapal udara yang dipersiapkan khusus.
Kembalinya mereka ke kota Areshia tak begitu banyak yang tahu dan karena itulah mereka hanya mendapatkan sambutan dari orang terdekat, tapi itulah yang mereka butuhkan saat ini.
Itu karena, saat kembali pulang, mereka mendapatkan tambahan dua orang.
"Kau akan segera menjadi bagian keluarga, jadi tak apa apa kau ikut dengan kami, Arisa."
Arisa dan Rim ikut dengan keluarga Kuro. Meskipun dalam Battle War mereka adalah musuh, tapi tak diragukan lagi Arisa adalah seorang yang sudah memiliki buah cinta dari Kuro. Dan jika melihat masalah waktu, bukankah Arisa lebih dulu daripada Laila?
Karena itulah jika Laila menentang atau keberatan Arisa menjadi bagian keluarga (istri kedua), dia akan menjadi wanita yang jahat.
"Aku berencana membesarkan anak ini di tempat yang tenang. Sepertinya itu sudah tak bisa lagi."
Sebagai seorang Queen, Arisa tak akan kesulitan membesarkan anak. Tapi mengingat seorang anak butuh figur seorang ayah, Arisa memutuskan untuk menyetujui permintaan Laila.
Mereka berdua seorang wanita dan seorang ibu, mereka juga harus memikirkan masa depan anak anak mereka.
"Riku akan segera memiliki banyak adik." ucap Laila sambil mengelus perutnya. "Tapi aku tak menyangka kau bisa menggunakan sihir waktu. Setahuku Yamiris tak memiliki Authority yang memungkinkannya."
Kekuatan seorang Queen berkaitan besar dengan kekuatan naga yang mereka kontrak, jadi tak aneh jika Arisa bisa menggunakan kekuatan kegelapan, tapi itu berbeda dengan kekuatan memanipulasi waktu. Itu adalah kekuasaan dari Solaris.
"Kau mungkin tak ingat, tapi itu semua berkat dirimu."
"Apa maksudmu?"
"Aku mungkin muncul di dunia ini 10 tahun yang lalu, tapi sebenarnya aku tiba di dunia ini 400 tahun yang lalu. Tapi saat itu keberadaanku belumlah stabil, jadi aku langsung melompati waktu lagi ke tahun yang berbeda."
"Jika dipikirkan lagi, kekuatanmu untuk meniru kekuatan orang lain tak akan bisa dilakukan jika tak pernah menyentuh lawan. Sanggup meniru kekuatan Clocflare tak mungkin dilakukan jika-"
"Di waktu yang singkat itu kita bertemu dan kau meminjamkanku Clocflare. Bagi seorang yang belum mengerti bagaimana sihir di dunia ini bekerja, itu sedikit aneh bagiku. Tapi berkat kekuatan memanipulasi waktu itulah aku memiliki kekuatan untuk melakukan banyak hal. Salah satunya menahan anak ini."
Meskipun sedikit terdengar kejam dan menyedihkan, Arisa melakukan itu juga agar anak itu hidup dengan figur seorang ayah.
Apa yang dilakukan Arisa hanyalah salah satu contoh apa yang bisa dilakukan seorang ibu jika mereka berniat melindungi buah cinta mereka.
"Aku tetap tak ingat."
Laila lalu melirik ke arah Kuro yang sedang bermain dengan Riku ditemani oleh Lic.
"Sayang sekali, aku sama sekali tak ikut campur dalam masalah itu. Lagipula aku selalu bersamamu, mana mungkin aku tak menyadari keberadaan Arisa."
Kuro baru tahu keberadaan Arisa sebelum Battle War dimulai, jadi tak mungkin dia melakukan sesuatu pada Laila di masa itu.
"Saat itu kau masih menjadi seorang putri raja, kau belum bertemu dengan Shin."
"Jika seperti itu, sepertinya ada alasan kenapa aku tak mengingatnya. Mungkin saat itu aku berpikir kalau kau butuh pedangku, jadi aku meminjamnya."
"Atau kau sudah tahu apa yang akan terjadi di masa depan." tambah Arisa. "Kekuatanmu yang paling merusak dan aneh bukanlah sihir waktumu, tapi Alter Destiny. Akan masuk akal jika apa yang kau lakukan dikarenakan kekuatan itu."
Alter Destiny bekerja secara tak terduga dan tak terkendali, jadi kesimpulan Arisa cukup masuk akal.
"Sayang aku tak memiliki kekuatan itu lagi."
Kuro menarik Authority, sedangkan Laila menarik Alter Destiny. Kedua kekuatan itu adalah suatu yang tak boleh ada di Orladist karena bisa merusak keseimbangan dunia.
"Itu lebih baik daripada kau merusak takdir orang lain lagi seperti yang dilakukan oleh orang itu."
"Benar sekali. Aku penasaran bagaimana kau menyelesaikan masalah dengan mereka bertiga. Itu akan menjadi tontonan menarik."
Arisa dan Laila tersenyum dengan licik seolah akan menemukan tontonan yang menarik.
"Kalian sungguh senang jika aku dalam masalah. Yah.. ini masalah yang aku buat sendiri, jadi aku pantas mendapatkan semua ini."
Mereka bertiga memiliki sifat yang unik, jadi akan sedikit merepotkan menyelesaikan masalah dengan mereka bertiga.
Tapi ini juga merupakan sebuah kesempatan. Dirinya yang sebenarnya memiliki hubungan dengan mereka bertiga (sebagai suami mereka di Garden), tapi di dunia ini mereka masih belum menjalin hubungan serius karena Kuro belum menyentuh mereka.
Berakhir dengan menikahi mereka bertiga, bukanlah masalah besar. Tapi masa depan telah berubah dan membuka jalan baru.
Jika mereka bertiga membenci Kuro atau memiliki perasaan orang lain, itu juga bukanlah masalah.
"Kalian harus cepat akur atau aku akan membencimu."
"Dan mungkin saja mereka bertiga akan menghukum dirimu dengan suatu yang lebih kejam dari hukuman kami."
"..."
Meskipun Laila dan Arisa adalah yang terkuat, tapi mereka bertiga juga memiliki kekuatan yang tak bisa diremehkan. Apalagi Riana yang memiliki kekuatan dan pengalaman tempur sebagai Maria.
Jika berbuat salah, mungkin dia akan mati. Meskipun itu akan sedikit sulit mengingat Kuro memiliki Authority (satu satunya) yang membuatnya hampir abadi.
Return. Selalu ada jalan untuk kembali.
Sebuah Authority yang memiliki kekuatan seperti Reset, tapi lebih banyak kegunaan.
"Ngomong ngomong, kita harus menentukan siapa yang akan tidur dengan Kuro malam ini."
"Aku tak begitu mempermasalahkannya, tapi sudah lama aku tak tidur dengan Shin."
"Kalau begitu malam ini giliranmu?"
"Bagaimana kalau kita berdua saja. Tempat tidur kalian pasti cukup."
"Itu ide yang bagus."
"..."
Para istri Kuro sudah berdiskusi tanpa peduli dengan pendapatnya (seperti biasa). Sepertinya malam ini dia akan diperas sampai kering.
__ADS_1
-+++___
Keesokan harinya, Kuro pergi menuju Kuryuu Academy. Dia langsung pergi ke ruang kepala sekolah.
Di sana, ada seorang wanita yang sudah menunggunya.
"Dulu sekolah ini adalah yang terbaik dan terkuat, tapi kini itu hanyalah sebuah sejarah manis. Aku berpikir dengan menggunakan kekuatan seorang King, sekolah ini bisa terselamatkan, tapi aku tak menyangka kalau niatku itu bagaikan sebuah lelucon dari takdir. Bagaimana pendapatmu tentang ini, Kuro? Atau harus aku panggil Demon King?"
Identitas Kuro yang sebenarnya sudah tersebar luas pada Battle War, tapi berapa banyak yang percaya dengan hal itu?
Pada kenyataannya, meskipun dia bertemu dengan beberapa murid, mereka justru menyapanya dengan menyampaikan rasa iba karena Kuro gagal menjadi pemenang Battle War.
"Itu yang disebut sebagai takdir?"
"Bukankah kau tipe orang yang tak percaya dengan takdir? Kau bahkan memiliki kekuatan untuk membunuh takdir atau nama sesuatu yang menyebalkan itu. Apa kau bisa memberitahu alasan kegagalanku?"
Gagal melindungi orang tercinta dan tempat terakhir yang dia lindungi. Menjadi Paladin, salah satu seorang yang terkuat di dunia masih tak bisa melepaskan dirinya dari kegagalan.
"Sebenarnya aku datang bukan karena ingin membicarakan masalah rumit seperti ini, tapi jika ingin jawaban pertanyaan itu, maka jawaban yang paling tepat adalah karena kau terlalu lemah."
Jika orang lain yang mengatakannya, Electra akan marah, tapi yang mengatakan itu adalah eksistensi terkuat. Jika dibandingkan dengannya, Electra hanyalah setitik debu di matanya.
"Kalau begitu, sejauh mana dan apa yang harus aku lakukan agar menjadi kuat sehingga memiliki kekuatan untuk merubah takdir dengan tanganku sendiri?"
"Itu mustahil."
Entah mengapa Electra tak terkejut dengan itu. Tapi Kuro melanjutkan.
"Jika kau masih manusia."
"...."
Mata Electra melebar.
"Pada kenyataannya, manusia tak memiliki kekuatan untuk menghancurkan takdir. Mereka bisa mengubahnya, tapi mereka tak pernah bisa lolos dari jeratan takdir. Jika kau ingin merubah dan menghancurkan takdir, satu satunya jalan adalah berhenti menjadi manusia."
Kuro adalah salah satu contoh manusia yang berhasil menghancurkan wadah manusia dan menjadi makhluk lain yang disebut sebagai dewa.
Apa yang dia katakan tak lebih dari sebuah pengalaman yang dia dapatkan untuk menyelamatkan Arisa sebagai benih kehancuran dunia.
"Apa aku harus menjadi salah satu anggota Harem milikmu untuk bisa lepas dari sosok manusia?"
"Tolong ampuni aku. Dan jangan gunakan itu sebagai bahan candaan. Sebenarnya kau sudah pernah memiliki kesempatan untuk itu, tapi kau melepaskannya."
"!?"
Melepaskan. Electra terkejut, tapi dia langsung kembali tenang saat tahu 'kesempatan' yang dimaksud.
Membuat kontrak dengan Dragon King membuka jalan untuknya lepas dari ikatan takdir, tapi dia melepaskan kesempatan itu karena takut.
Ya. Takut menjadi makhluk lain selain manusia.
Kuro mengambil surat dan meletakkannya di atas meja.
"Aku kemari untuk memberikan surat keluar dari sekolah. Mulai hari ini, aku dan Laila tak akan bersekolah lagi di Kuryuu Academy."
"..."
Electra kehabisan kata-kata. Dia tahu sekolah segera akan ditutup dan sekolah itu akan berubah menjadi tempat lain. Kehilangan para murid dan guru yang dia kenal.
"Ahaha.. kau masih saja seperti ini.. kau pandai membuat orang marah, Kuro."
"Kita berdua tahu ini akan berakhir seperti ini cepat atau lambat. Sekolah ini sudah kehilangan masa jayanya akibat perang. Jika kau benar benar menyayangi tempat ini, kau harus memikirkan kembali apa yang sebenarnya membuat tempat ini penting. Apakah karena ini sekolah, atau karena tempat ini menjadi sebuah pintu masa depan."
"..."
Dulu kota Limphis adalah salah satu kota paling besar dan makmur. Tetapi karena serangan tiba tiba dari negara tetangga, kota Limphis hancur dan berakhir menjadi sebuah danau besar.
Entah beruntung atau tidak, satu satunya yang masih utuh dari serangan musuh adalah Kuryuu Academy yang saat itu dijadikan tempat pelindung dan satu satunya tempat paling aman.
Tapi keadaan itu tak berlangsung lama karena serangan musuh semakin kuat dan besar. Untuk menghindari korban, seseorang memutuskan untuk melindungi yang berharga baginya meskipun itu akan membuat seluruh dunia tak ingat tentang dirinya.
"..."
Mengingat kembali sosok Ao, seorang King yang menggunakan Last Authority untuk mengalahkan semua musuh.
Pada saat itu, Electra sebagai satu satunya orang yang mengingat sosok Ao bersumpah untuk melindungi sisa yang Ao tinggalkan dengan segala cara.
Karena itulah, meskipun dia seorang Paladin, dia masih mau repot repot untuk menjadi kepala sekolah. Sebuah pekerjaan yang kurang pantas dengan status besarnya.
Awalnya dia berpikir meskipun Kuryuu Academy mulai kehilangan prestasi dan kejayaannya, Kuryuu Academy akan terus ada.
Tapi dia terlalu naif. Waktu mengubah semuanya dan kini sekarang adalah giliran Kuryuu Academy.
Jika sekolah ini ditutup, apa lagi yang tersisa dari Ao?
Dia akhirnya membuat sebuah keputusan meskipun itu menyalahgunakan kewenangannya. Ya. Satu satunya jalan untuk mencegah sekolah ditutup adalah dengan menggunakan peserta yang memiliki kekuatan abnormal.
Siapa lagi kalau bukan King?
Mengingat semua kembali usahanya, Electra sama sekali tak menemukan kesalahan yang membuat dia gagal. Tidak. Lebih tepatnya dia salah karena berpikir kalau semua King itu sama.
Dia tak pernah berpikir kalau Kuro adalah seorang True King. Sang raja dari segala raja.
"Kuro, bisakah kau jawab satu pernyataanku dengan sejujur jujurnya?"
"Tergantung apakah kau pantas tahu atau tidak."
Sungguh jawaban dari seorang yang menjadi dewa tertinggi.
__ADS_1
"Bisakah kau beritahu aku, apa yang terjadi pada Ao setelah menghilang?"
"Itu bukan rahasia besar. Aku rasa kau tak apa apa tahu tentang hal itu."
"..."
Electra senang hingga tak menyembunyikan ekspresinya.
"Ketika seorang King yang aku pilih menghilang, mereka akan kembali ke dalam roda reinkarnasi dan akan terlahir menjadi kehidupan yang baru. Sama seperti jiwa lainnya."
"..."
"Jangan marah dulu. Sekolah ini akan hancur olehmu jika kau benar benar mengamuk."
Kuro mendesah kecil. Dia tak menyangka Electra akan bergitu terobsesi dengan Ao.
"Yang aku sebutkan tadi tidaklah salah. Meskipun mereka menjadi King, itu tak mengubah kenyataan kalau mereka adalah sosok yang sama dengan orang lain. Tapi jika kau berpikir mereka sedikit spesial, kau juga benar."
"Maksudmu?"
"Menjadi King membuat jiwa mereka menyentuh kekuatan ilahi. Hal itu membuat mereka seperti setengah dewa, tapi sudah mati. Untuk menghindari hal yang tak diinginkan, kekuatan ilahi itu harus dihilangkan sebelum mereka bereinkarnasi, lalu sebagai kompensasi pengambilan kekuatan ilahi itu, aku memberi mereka dua pilihan."
Kuro terdiam sesaat, lalu melanjutkan.
"Pertama, mereka akan diberikan hak untuk memiliki ingatan kehidupan sebelumnya dan akan mendapatkan keluarga dengan status yang besar. Tentu saja mereka juga bisa memilih memulai kehidupan yang baru tanpa ingatan sekalipun. Lalu pilihan yang kedua, mereka akan terlahir kembali sebagai malaikat yang akan melayaniku di Garden."
"..."
Electra tahu kalau Kuro adalah seorang dewa dengan wujud manusia, tapi apakah semudah itu menjadi malaikat?
"Ketika kau menyebut melayani, bukan berarti menjadi istrimu atau semacamnya kan?"
Kuro tertawa kecil.
"Pada kenyataannya, ada banyak dewi yang mencoba menjadi istriku, tapi Laila dan lainnya berhasil menahan mereka semua."
"Setelah mendengarnya, aku tak tahu apakah menjadi istrimu adalah hal terbaik atau terburuk di dunia ini."
Itu adalah salah satu alasan Kuro mengubah takdir dan mencari cara untuk mati. Meskipun seperti biasa berakhir dengan kegagalan.
"Lupakan tentang dirimu, aku ingin tahu apa yang dipilih oleh Ao."
Kuro tersenyum dan kemudian menjawab.
"Dia memilih masa depan baru."
"..."
---Setelah menyampaikan urusannya, Kuro keluar dari ruang kepala sekolah. Mulai sekarang dia tak akan menjadi murid Kuryuu Academy lagi dan akhirnya dia bisa fokus menjalankan pekerjaannya.
Sebagai suami dan sebagai seorang orang tua.
Di saat melewati lorong, Kuro berpapasan dengan seorang gadis cantik dengan rambut berwarna pink.
Kuro mengabaikan gadis itu, tapi gadis itu melirik ke arahnya dan berhenti.
"Maaf, tapi apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Kuro menghentikan langkahnya dan berbalik. Sebelum menjawab, dia tersenyum kecil.
"Ini pertemuan pertama kita. Aku yakin wajahku cukup terkenal karena menjadi peserta Battle War beberapa hari yang lalu."
"Begitu.. entah mengapa aku merasa akrab saat melihat wajahmu. Maaf, karena sudah mengganggu."
"Tidak. Sama sekali bukan masalah."
"Kalau begitu aku permisi dulu."
Kuro hanya mengangguk dan melanjutkan langkah kakinya.
"Semoga beruntung dengan keinginanmu untuk menjadi pahlawan, Ao..."
Kuro mengatakan itu dengan nada kecil sehingga hampir tak terdengar oleh telinga.
Gadis berambut pink itu tiba tiba menoleh ke arah belakang karena merasa namanya disebutkan, tapi dia tak menemukan sosok siapa pun.
Gadis itu lalu masuk ke ruang kepala sekolah dan memasang wajah cemberut.
"Nenek, sudah aku duga kau di sini. Bukankah kau berjanji akan mengajariku sihir Lightning Transformation? Kali ini jangan lari lagi dan banyak alasan."
"Aku benar benar sibuk, Aoi. Lagipula, dari semua sihirku, kenapa kau terobsesi dengan sihir yang paling sulit dan berbahaya itu?"
"Tentu saja. Jika aku bisa mengubah tubuhku menjadi petir dan berpergin secepat kilat, bukankah aku bisa menyelamatkan orang yang kesusahan lebih cepat?"
"..."
Mendengar itu Electra terdiam membisu. Dia sudah mendengar alasan itu berulang kali, tapi dia selalu tak memasukannya ke dalam hati.
Tapi pembicaraannya dengan Kuro mengenai Ao membuat Electra ingat dengan suatu yang penting.
"Ao, sekarang kita masih lemah. Tapi jika kita menjadi kuat, apa yang akan kau lakukan dengan kekuatan itu?"
"Tentu saja... menjadi pahlawan yang menjaga keamanan dan menyelamatkan banyak orang."
Mengingat kembali ingatan yang begitu penting membuat Electra sadar apa yang dimaksud dengan 'memilih masa depan baru'.
"Begitu rupanya, selama ini kau sudah berada di sisiku..."
"Nenek, apa yang kau bicarakan? Kau yang selalu pergi ke entah berantah, bukan aku. Kali ini kau tak boleh membuat alasan lagi. Jika kau melakukannya, aku akan membencimu!!!"
__ADS_1
"Ya ampun.. kau memang manja..., Aoi.."