
"Solaris, bisa aku bicara denganmu sebentar?"
Tak ada siapapun di depan Kuro. Itu bukan masalah karena sejak awal yang dia ajak bicara bukanlah orang, tapi suatu yang lain.
Tanpa ada yang tahu, waktu berhenti. Suara pertempuran yang terdengar hingga ke bawah tanah kini tak terdengar. Sunyi dan begitu tenang.
Hanya Kuro saja yang tak terpengaruh oleh kekuatan yang sanggup menghentikan laut waktu dunia.
[Kau selalu memanggil orang seenaknya. Kapan kau akan memperbaiki sifatmu itu?]
Sosok seorang wanita berambut emas dengan mata biru indah muncul di belakang Kuro dengan punggung saling berhadapan.
Tak perlu menganalisa, mata biasa sudah bisa melihat kalau sosok wanita itu bukanlah sosok biasa. Sosok yang suci dan murni.
Wajar saja, wanita itu sebenarnya merupakan salah satu True Dragon King yang mengatur tanah Orladist. Sang Administrator.
Tetapi meskipun berhadapan dengan sosok suci itu, Kuro tak menunjukkan rasa hormat atau takut. Tidak, lebih tepatnya dia tak perlu melakukannya.
Itu karena dia adalah King. Lebih tepatnya jika dia Kuro telah bengkit menjadi King sepenuhnya.
"Aku memanggilmu bukan untuk mendengar keluhanmu. Tetapi kenapa kau menggunakan sosok wanita?"
True Dragon King dikenal memiliki wujud naga sebesar gunung, bahkan lebih besar lagi. Sosok yang muncul di dekat Kuro hanyalah sosok buatan yang bertujuan untuk memudahkan berkomunikasi.
Menurut legenda, sang True Dragon King kadang turun ke dunia dengan menggunakan wujud manusia. Ini hanyalah contoh nyata dari legenda itu. Sayangnya, saat ini legenda itu sudah dilupakan.
[Aku memiliki alasan tersendiri. Yah.. Nanti kau juga akan tahu. Jika penasaran, kenapa kau tak bertanya pada Queen yang kau pilih?]
"Laila?"
[Jangan bilang dia belum memberi tahumu? Ya ampun, kalian benar benar menyukai kejutan.]
Kuro mendesah saat melihat tingkah Solaris yang seperti orang tua. Dia memang tua karena tak ada yang tahu umurnya.
"Baiklah, aku akan menanyakannya nanti. Aku hampir lupa, aku memanggilmu untuk meminta tolong."
Solaris tersenyum kecil.
[Apa itu ada hubungannya dengan dia?]
Solaris menunjuk mayat Itsuki yang hampir menghilang menjadi debu. Itu wajar karena efek samping menggunakan Dainsleif begitu merusak tubuh dan jiwa penggunanya. Jika Solaris tak menghentikan waktu, saat ini eksistensi Itsuki benar benar sudah menghilang.
"Aku minta kau memperbaiki jiwanya dan mengembalikan dia ke dalam roda reinkarnasi. Itu suatu yang mudah kau lakukan kan?"
[Fumu.. Itu memang mudah. Tetapi apa ini benar benar harus kau lakukan?]
"Apa kau menolak?"
[Bukan itu maksudku. Kau tahu, siapapun yang menggunakan Cursed Arm akan mendapatkan hukuman besar dengan jiwa mereka dihancurkan. Ini sudah menjadi aturan lama. Meskipun ini permintaan darimu, namun apakah dia pantas mendapatkan pengampunan?]
Itu bukanlah hukum yang tertulis, namun itu sebuah aturan lama yang dibuat sejak Cursed Arm tercipta. Tentu Kuro tahu itu, karena itulah dia paham kalau permintaannya suatu yang melanggar aturan.
Tetapi-
"Aku pikir dia berhak mendapatkan kesempatan kedua. Bagaimanapun juga aku kagum dengan keinginan kuatnya."
Kuro tersenyum sambil melihat pedang taring naga yang patah. Normalnya Cursed Arm memotong pedang taring Dragon King adalah suatu yang mustahil dilakukan.
Tetapi kenyataan berkata lain. Dengan kata lain ada semacam kekuatan yang membuat itu terjadi.
Tentu Kuro tahu apa kekuatan itu. Bagaimanapun juga itu kekuatan yang sama dengan yang dia miliki. Sebuah kekuatan yang disebut Destiny Slayer.
Tapi Itsuki sanggup menggunakan kekuatan itu di saat terakhir hidupnya. Entah apakah itu sebuah kebetulan atau keberuntungan, tak ada yang tahu.
[Fumu, baiklah. Jika itu yang ingin kau lakukan. Tetapi seharusnya kau tahu, jika kau membuat orang lain berada di jalan yang sama dengan dirimu, kau sama saja menyuruh mereka untuk masuk ke neraka abadi.]
"Aku sudah lama tahu itu."
Solaris hanya tersenyum kecil. Lalu aura muncul dari tubuhnya. Kemudian membuka tangannya seperti menerima sesuatu.
Sebuah cahaya muncul di telapak tangannya. Itu adalah jiwa Itsuki. Setelah beberapa saat, cahaya semakin membesar dan akhirnya membentuk sebuah obor kecil berwarna gelap, tapi sesaat kemudian berwarna menjadi putih murni.
[Bocah kecil ini sungguh tak beruntung. Aku akan mereinkarnasikan dia di sebuah keluarga yang baik. Tentu masa depannya bergantung pada dirinya sendiri.]
Bagai seorang ibu, Solaris mengantar jiwa Itsuki yang terbang melayang ke udara. Setelah beberapa saat, jiwa Itsuki menghilang.
"Terima kasih, Solaris."
[Bukan apa apa. Hanya saja sebagai gantinya, aku memintamu untuk membujuk Laila membuat kontrak denganku.]
Mata Kuro melebar karena mendengar suatu yang tak dia duga.
"Dia tidak melakukannya?"
Ini sangat mengejutkan. Alasan Kuro tak mempermasalahkan pertemuan Laila dengan Solaris adalah agar Laila membuat kontrak dengannya.
Tetapi jika mengingat siapa Laila, maka itu suatu yang wajar. Lebih tepat jika Laila pasti akan menolaknya.
"Fufu.. Laila.. Kau benar benar.."
[Itu bukan suatu yang pantas ditertawakan. Bagaimanapun juga dia adalah calon Queen terbaik yang pernah aku kenal. Tidak, karena aku tahu siapa dia sebenarnya maka aku tahu dia adalah orang yang tepat menjadi True Light Queen selanjutnya.]
"Fufufu ..Tetapi dia menolaknya."
[Ini baru pertama kalinya ada yang menolak tawaranku dua kali.]
Solaris mendesah.
[Tetapi mungkin aku harus memaksanya kali ini. Bagaimanapun juga kekuatan yang dia miliki terlalu besar dimiliki oleh seorang manusia. Jika dia salah menggunakannya, dia akan lebih berbahaya daripada Shiroyasha.]
"Itu sungguh lelucon yang tak lucu. Tetapi menjadi True Light Queen membuatnya tak bisa menjalani kehidupan normal. Yah.. Bukannya aku tak paham kenapa kau bersikeras. Tenang saja, aku akan menyampaikan pesanmu. Tetapi semua keputusan ada padanya."
[Aku mengerti.]
Tanpa banyak kata, Solaris menghilang bersamaan dengan waktu yang telah kembali berjalan.
Kuro tersenyum senang lalu melirik mayat Itsuki yang menghilang sepenuhnya.
(Maaf. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu.)
Kuro kemudian mengambil Dainsleif yang tergeletak di lantai. Saat menyentuhnya, manusia biasa pasti akan menerima kutukan yang membuatnya mati atau kehilangan kendali.
Namun di tangan Kuro, Dainsleif bagaikan seorang anak yang penurut.
Disaat itulah dia mendengar suara langkah kaki dari arah lorong. Setelah beberapa saat, dia melihat sosok Aldest dan lainnya.
Yui saat ini berada di gendongan Aldest tertidur dengan lelap. Wajar saja, untuk memulihkan Kuro lebih cepat, Yui menggunakan Dragon Gate yang memungkinkan seorang Queen memanggil Dragon King.
Dengan bantuan Dragon King, pemulihan Kuro bisa terjadi lebih cepat, tapi itu membuat stamina Yui terkuras.
Otome membawa sebuah pedang yang berada di dalam bola cahaya. Itu adalah salah satu magic arm milik Hana yang diambil dari lingkaran sihir yang berhasil dia analisa. Meskipun ingin mengembalikan magic arm itu pada Hana, namun karena hanya setengah saja, maka itu tindakan mustahil.
Sedangkan Knox, Amira dan Jinn menjadi pengawal mereka semua.
"Aku sudah bilang untuk segera pergi dari sini, tetapi kenapa kalian belum melakukannya? Pertarungan ini sudah melebihi batas kalian semua. Apa kalian sungguh bodoh?"
"Kau memang tak pernah bisa menjaga mulut kotormu itu." jawab Knox. "Kami kemari bukan karena kami tak peduli dengan nyawa kami. Hanya saja menurutku ini adalah tempat teraman di ibukota."
"Jika masalah mengenai monster yang berada di labirin ini, itu bukan masalah besar. Tetapi di atas sana mungkin lebih berbahaya dari sini. Jika memilih mana yang lebih baik, tentu di sini lebih aman."
Perkataan Aldest bukanlah tanpa dasar. Selain monster, dinding labirin merupakan pelindung alami yang mampu beregenerasi dengan cepat. Tak hanya itu, meskipun mereka mengungsi ke permukaan, jika pertarungan lebih dahsyat terjadi, maka tak ada tempat aman lagi di ibukota. Bahkan di istana yang memiliki perlindungan khusus.
"Selain itu jika kami berada di sini, kami bisa mendukung pertarungan di atas sana meskipun secara tak langsung."
Kali ini Otome menambahkan. Dia sudah memiliki bukti dengan magic arm yang dimiliki oleh Hana. Jika dia tak berhasil, mungkin Maria akan terus memiliki sumber energi tak terbatas.
Tak banyak yang tahu apa yang berhasil dilakukan Otome telah merubah alur pertarungan. Jika dia gagal atau lebih lama sedikit, Charlmilia tak akan bisa menyerang Maria dengan Divine Spear of Indura.
"Baiklah, aku mengerti apa yang kalian inginkan. Jangan mencari banyak alasan yang membuatku jengkel. Yang terpenting saat ini adalah kalian bisa menjaga Yui untukku."
"Serahkan pada kami." jawab Knox.
__ADS_1
Kuro tersenyum lalu dia berbalik menuju tempat pertarungan.
"Tunggu!"
Tiba tiba Jinn menghentikan Kuro.
"Aku benci memikirkan hal rumit seperti ini. Tetapi bisakah kau beritahu kami apa yang sebenarnya terjadi?"
Semuanya menatap Jinn dengan ekspresi seolah berkata 'kau sudah melakukannya'.
Bagaimanapun juga mereka paham kalau apa yang terjadi saat ini merupakan suatu yang sudah di luar pemikiran akal manusia.
Bahkan saat pertarungan di Dragonia, Knox dan lainnya bisa selamat juga bisa dibilang suatu yang tak normal mengingat mereka hanyalah kelas satu murid sekolah sihir.
Tetapi semua itu terlihat biasa saja bagi seorang yang bernama Kuro.
Apa yang sebenarnya membuat dia seperti itu? Apa yang sudah dia ketahui? Tidak, lebih tepat apa yang sudah dia lalui sehingga kejadian gila seperti sekarang ini seperti sebuah sarapan di pagi hari?
Mereka semua menahan diri untuk bertanya. Tetapi ada satu orang bodoh dengan otak otot yang menanyakan itu tanpa pikir panjang.
Mereka semua tahu saat ini Kuro bisa menghabisi siapa saja yang membuatnya tak senang. Mereka hanya bisa berharap kalau pertanyaan Jinn tak memancing amarah Kuro.
Syukurlah, Kuro hanya tersenyum dan menjawab:
"Itu suatu yang harus kau lihat dan temukan sendiri jawabannya."
Lalu kemudian Kuro menghilang bagaikan menggunakan sihir teleportasi.
"Entah mengapa aku tahu kau akan menjawab seperti itu."
_____________
_______
__
Pertarungan antara Arthuria dan Lucifer bisa dibilang menjadi pertarungan paling sengit di antara tiga pertarungan yang terjadi.
Lucifer dengan kemampuan memanipulasi dimensi membuatnya mampu menghindari segala serangan fisik maupun sihir. Bahkan jika dia tak bisa, dia akan melakukan teleportasi ke tempat lain dan menyerang lawan dengan memanfaatkan titik buta lawan.
Menghindar dari serangan Lucifer bisa dibilang sulit dan hampir mustahil, tetapi Arthuria bisa melakukannya.
Alasannya bukan karena dia mampu merespon serangan lawan atau bisa mengetahui di mana Lucifer akan menyerang, namun dia bertahan dengan menggunakan elemen suci yang sudah mengalami peningkatan kekuatan.
Jika dia tak memakai Dragon Phoenix Gear, saat ini mungkin dia akan kalah hanya kurang dari 3 detik. Tetapi dia berhasil bertahan lebih dari lima menit meskipun dia tak memiliki kesempatan untuk mengambil nafas.
Wajar saja, Lucifer yang saat ini dia lawan adalah magic beast, bukanlah Lucifer yang sesungguhnya. Jika Lucifer yang sesungguhnya akan kehabisan energi sihir dan berpikir untuk menyusun strategi, maka Lucifer saat ini hanya merespon perintah sederhana dari Maria. Sebagai ganti kelemahan itu, dia memiliki energi sihir yang sangat besar.
Arthuria tak paham apakah ini sebuah keberuntungan atau sebuah kemalangan. Tetapi satu hal yang pasti, bertarung dengan sekuat tenaga adalah hal yang terbaik bisa dia lakukan.
(Aku hanya bisa percaya dengan mereka berdua.)
Saat ini Arthuria tahu tak mungkin bisa menang melawan Lucifer. Meskipun terlihat kalau dia bisa menghindari serangan dan menyerang balik, namun jika dihitung menggunakan presentase, maka serangan Arthuria bisa dihitung dengan mudah.
Selain itu, mengalahkan magic beast bukanlah sebuah keputusan tepat karena tak ada jaminan kalau magic beast akan diciptakan kembali. Jika itu terjadi, maka Arthuria akan dirugikan.
Satu satunya hal yang bisa dia lakukan hanyalah mengulur waktu hingga Laila mengalahkan Maria.
Saat itulah perhatiannya teralihkan dan tentu saja hal itu dimanfaatkan Lucifer dengan sempurna.
Dari celah yang terbuka, Lucifer menembakkan tebasan pedang yang sanggup memotong dimensi. Dengan memfokuskan elemen suci, Arthuria akan bisa menghapus serangannya, tetapi dia sadar, pertahanannya akan terlambat kurang dari 0,01 detik. Dalam waktu sesingkat itu, Arthuria akan menjadi daging cincang.
Tetapi di saat itulah cahaya hitam menelan tebasan pedang Lucifer dan menghapusnya, tidak, lebih tepat menelannya.
"Akan mati hanya karena serangan sepele, kau sungguh mengecewakanku."
"Aku tak ingin mendengar seorang telat datang ke pesta."
Pelaku dari orang yang menyelamatkan Arthuria adalah Kuro.
Tentu dia tak datang dengan tanpa mengenakan apapun. Dengan armor merah membara dan dua pedang berwarna putih dan hitam, dia terbang memunggungi Arthuria.
"Ini memang sebuah pesta. Pesta kematian."
Saat Electra menghancurkan satu, maka dari lubang dimensi muncul lagi dengan cepat. Syukurlah Electra menghabisi mereka dengan mudah, tetapi jika terus seperti ini situasi tak akan lebih baik.
Tentu mereka juga harus fokus dengan lubang dimensi yang semakin membesar. Mereka hanya punya waktu sedikit untuk mengalahkan Maria dan Lucifer.
"Apa kau punya saran untuk segera mengakhirinya?"
"Entahlah. Namun aku percaya dengan Laila. Tentu aku akan memprioritaskan keselamatan dia daripada kau. Jika dia dalam bahaya, aku menjadikanmu perisai daging."
Mendengar itu, Arthuria tersenyum.
"Kalau begitu kita memiliki pemikiran yang sama."
"Mendengar aku memiliki pemikiran yang sama denganmu sungguh membuatku jengkel. Yah.. Kita lihat siapa yang akan pergi ke neraka terlebih dahulu."
"Haha..ha.."
"Ahaha...ha.."
Setelah tertawa kering dengan kompak, keduanya terdiam.
""Pergilah ke neraka terlebih dahulu, Kepa*at!!""
Mereka benar-benar memiliki pemikiran yang sama.
Kemudian pertarungan menjadi lebih sengit karena dua lawan satu.
Seperti sebelumnya, Lucifer memanfaatkan celah yang kosong untuk menyerang. Namun kali ini celah itu terisi oleh bantuan Kuro. Lucifer akhirnya tak punya pilihan selain bertarung jarak dekat.
Menyadari hal ini, Kuro dan Arthuria bekerja sama dengan baik untuk bertahan, sedangkan satunya menyerang. Dan terus terjadi hingga akhirnya, untuk pertama kalinya Arthuria melukai Lucifer.
"Bagus, jika seperti ini terus, kita akan menang."
Meskipun tak senang, Arthuria harus mengakui kalau dia berhasil karena bantuan Kuro. Meskipun itu hanyalah sebuah luka kecil.
"Aku benar benar tak mengerti bagaimana kau melakukannya, tetapi jangan berhenti."
Arthuria menambahkan pujian, tetapi Kuro hanya terdiam membisu.
Saat merasa ada yang aneh, Arthuria mengkonsentrasikan pandangannya pada Kuro, disaat itulah dia sadar kalau Kuro teralihkan oleh suatu yang lain.
Itu adalah tindakan fatal, namun karena Lucifer berhenti menyerang, itu merupakan kesempatan. Tentu mereka harus tetap waspada jika Lucifer tiba tiba menyerang seperti sebelumnya.
"...apa yang sebenarnya terjadi?"
Sayangnya, Arthuria akhirnya melupakan saat ini dia bertarung dengan Lucifer. Alasannya, tentu karena ada yang lebih penting daripada bertarung dengannya.
Alasan Lucifer berhenti menyerang karena pengendali telah berhenti bergerak.
Namun ini bukan karena Laila berhasil mengalahkannya, namun karena suatu yang lain.
Tubuh Maria kini dipenuhi oleh aura hitam yang terus membesar hingga membentuk sebuah bola.
[Aarrrrrghhhhh!!]
Bersamaan dengan teriakan menyakitkan, Maria menghempaskan bola hitam itu ke semua arah.
"Sial!"
Dari tempatnya Arthuria bisa merasakan kalau bola itu dipenuhi oleh energi yang besar dan mengerikan. Apa yang terjadi jika itu menyebar?
Jawabannya tentu sebuah mimpi buruk.
Dalam radius 1 kilometer dengan pusat Maria, semuanya tertelan kegelapan.
____________
______
__ADS_1
__
"Uh.. Apa yang terjadi?"
Saat membuka matanya, Arthuria menemukan dirinya berada di suatu tempat yang gelap tanpa ada cahaya sekecilpun. Satu satunya cahaya yang dia lihat adalah cahaya yang berasal dari dalam tubuhnya.
(Sepertinya Dragon Phoenix Gear melindungiku. Tetapi apa yang sebenarnya terjadi?)
Dia masih ingat jelas apa yang terjadi sebelum tertelan kegelapan.
Kegelapan menelan semuanya dan akhirnya dia tak sadarkan diri untuk beberapa saat. Tidak, lebih tepat jika dia tak tahu berapa lama dia tak sadarkan diri. Pengertian waktu tak bisa dia perkirakan saat berada di sana.
(Sebaiknya aku mencoba mencari Laila dan Kuro.)
Pertama, yang dia lakukan adalah mencoba menggunakan telepati. Meskipun Kuro tak bisa, namun setelah menggunakan Dragon Gear, Kuro pasti memiliki hubungan dengan Dragon Gear lainnya. Dengan kata lain Arthuria bisa mencari keduanya.
Tetapi setelah cukup lama mencoba, dia tak menerima respon.
Pada akhirnya dia memutuskan untuk mencari dengan cara terbang. Dia tak tahu depan belakang, atau kiri kanan. Yang dia lakukan hanya terus mencari.
(Seberapa luas kegelapan ini?)
Dia paham kegelapan yang menelannya bukanlah kegelapan biasa. Jika dia terlalu lama berada di sana, dia tak tahu apakah akan tertelan kegelapan atau tidak.
"...?"
Pada akhirnya dia menemukan sosok lainnya. Sosok itu menyerupai sebuah bayangan hitam yang membentuk wujud manusia.
Tentu Arthuria sedikit ragu untuk mendekat. Namun dia akhirnya memberanikan diri.
Tak disangka, sosok itu ternyata Kuro.
"Akhirnya kau datang juga, anak ayam. Apa kau ingin membuat orang repot?"
"..."
Arthuria tak ingin membalas lelucon menyakitkan Kuro. Saat ini ada yang lebih penting daripada itu.
"...kenapa kau terlihat santai di kegelapan ini?"
Berbeda dengan dirinya yang dilindungi oleh armor suci, Kuro sama sekali tak dilindungi oleh sesuatu. Bahkan Dragon Gear yang dia kenakan kini berubah menjadi hitam kelam.
Benda yang bercahaya dari Kuro hanyalah rambut dan matanya saja yang berwarna putih. Sedangkan yang lainnya berubah menjadi hitam kelam. Bahkan termasuk pedang taring naganya.
"Kau tak usah terlalu memikirkannya. Yang terpenting kita harus berkumpul dengan Laila terlebih dahulu untuk menyelesaikan masalah ini."
"...baiklah. Tapi kau tahu dia di mana?"
Arthuria menyerah untuk mencari tahu. Namun bukannya dia tak tahu kalau kemungkinan ini terjadi karena Kuro mampu menggunakan Darkness Art.
"Dia dekat. Lagipula kegelapan ini hanya sebesar satu kilometer. Electra tak berada di sini karena dia sempat menghindar, jadi jangan mengharapkan dia akan membantu."
"Apa kau tahu karena memiliki mata itu?"
Satu satunya yang menjelaskan kenapa Kuro mampu mengetahui semua itu adalah Eyes of Origin.
"Semacam itulah. Sebaiknya kita jangan terlalu lama mengobrol. Bagaimanapun juga kita tak tahu sampai kapan kau bisa bertahan di kegelapan ini."
"..."
Arthuria harus mengakui apa yang dikatakan Kuro benar. Jadi dia tak memiliki niat untuk menentang.
Elemen kegelapan saat ini merupakan suatu yang tabu, karena itulah tak ada pengetahuan yang tertinggal. Hal ini membuat tak ada yang tahu sifat dari elemen kegelapan itu tersendiri.
Dengan kata lain, berbuat ceroboh hanya akan membuat Arthuria dalam masalah besar.
Keduanya lalu terbang menuju suatu tempat. Karena hanya Kuro yang mampu melihat dengan baik, maka Arthuria mengikutinya dari belakang.
Tanpa ada yang tahu waktu berlalu, akhirnya keduanya bisa melihat sebuah cahaya di tengah kegelapan. Sebuah cahaya warna warni yang berkelap-kelip. Di tengah cahaya, Laila terlihat sudah menunggu kedatangan mereka.
(Indahnya..)
Meskipun dia seorang siscon, namun kali ini dia tak memiliki pilihan selain kagum. Bagaimanapun juga saat ini Laila bagaikan sebuah lampu terang di tengah kegelapan.
"Baiklah, karena sudah berkumpul. Kita akan mengalahkan Maria dan menyelesaikan semua masalah ini." ucap Laila dengan penuh semangat.
"Apa kau punya rencana?" tanya Arthuria.
"Tentu aku punya. Tetapi yang menjadi masalah aku ragu menggunakan cara ini karena terlalu beresiko pada jiwa Maria."
"Mengenai masalah itu, serahkan padaku. Aku sudah menduga kalau kita membutuhkan kekuatan pedang ini."
Kuro menunjukan Dainsleif pada Laila.
Tentu Laila terkejut karena Kuro menggunakan Cursed Arm, tetapi itu hanya sebentar. Bagaimanapun juga sudah terlambat terkejut jika mengetahui siapa Kuro.
"Baiklah. Aku serahkan masalah pemisahan jiwa Maria padamu."
Laila lalu melirik ke arah Arthuria.
"Kakak, kali ini aku ingin memintamu mengalihkan perhatian Maria. Saat mempersiapkan segel, aku tak bisa diganggu dan membutuhkan konsentrasi yang besar."
Mendengar itu, Arthuria justru menunjukkan ekspresi bingung.
"Tunggu sebentar. Aku tak mengerti apa yang kalian bicarakan. Dan bagaimana kalian berdua tahu tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu."
"Tentu karena kekuatan cinta."
"Tentu karena kekuatan cinta."
"Sungguh, aku ingin sekali menghajar kalian. Bisakah kalian serius?"
Laila dan Kuro mendesah dalam secara bersamaan. Keduanya seolah berkata kalau Arthuria adalah orang bodoh.
"Aku akan menjelaskan agar otak burung seperti diriu bisa mengerti. Pertama, saat Itsuki menghidupkan kembali Maria, dia juga melepaskan segel yang ada pada Lic. Dengan cara ini mereka ingin mengembalikan kekuatan sejati Maria. Yah meskipun itu tak cukup karena sejauh ini Maria hanya membangkitkan kekuatan sekitar 30 persen saja."
"..."
Arthuria tak bisa berkata kata apa lagi. 30 persen saja sudah sedahsyat ini, bagaimana jika sudah kekuatan penuh?
(Tunggu. Bagaimana bisa hanya 30 persen?)
Seperti tahu apa yang dipikirkan Arthuria, Kuro melanjutkan.
"Ini wajar karena Maria adalah seorang True Light Queen, karena saat ini dia sudah tak mendapatkan perlindungan suci dari Solaris, maka kekuatannya tentu berkurang drastis. Tetapi yang menjadi masalah bukan itu, yang menjadi masalah adalah saat Itsuki melepaskan segel Lic, dia juga melepaskan segel pedangku. Inilah yang membuat kita dalam situasi seperti ini."
"Untuk mengatasi masalah ini, aku mendapatkan perlindungan suci dari Solaris, lebih tepatnya sihir penyegel untuk Lic. Karena ini segel yang sangat kuat, aku yakin bisa juga untuk menyegel pedang Kuro. Kita beruntung Lic menyatu dengan pedang Kuro. Oh.. Iya, kapan kau akan menjelaskan tentang segel itu?"
Bersamaan dengan senyuman, tekanan berat keluar dari Laila.
"Setelah semua ini selesai. Bagaimanapun juga aku tak menyangka segel itu akan terlepas dengan mudah."
"Seperti biasa kau selalu membuat ulah hmmph!!"
"Baiklah, jangan menunjukan kemesraan kalian. Sebagian besar aku sudah mengerti. Karena segel terlalu kuat, kau takut jiwa Maria akan ikut tersegel. Karena itulah aku menjadi perisai daging agar dia bisa menebas Maria. Hanya satu pertanyaan ku, di kegelapan ini apa jiwa Maria akan baik baik saja?"
"Tentu tidak. Saat aku menebasnya untuk memindahkan jiwanya, disaat yang sama aku akan melindungi jiwanya. Jika perlu aku akan menaruh jiwanya pada tubuhku."
"Bukankah itu terlalu beresiko?"
"Tentu saja. Tetapi jika kita tak mengambil resiko, maka kita tak akan menyelesaikan masalah ini."
Atmosfer menjadi berat, tetapi mereka mengerti apa yang dimaksud Kuro. Jika tak bersiap berkorban, mereka tak akan menyelamatkan siapapun.
"Kalau kau sudah memutuskan, aku akan mendukungmu. Tetapi berjanjilah kau harus berhenti membuatku cemas. Bagaimanapun juga aku memiliki alasan agar tak ingin kau terluka."
Kuro tersenyum.
"Aku berjanji."
"Kapan kita mulai rencananya?"
__ADS_1
Si pengganggu tak tahan jika melihat keduanya.
"Tentu sekarang."