Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
The Tragedy


__ADS_3

Disebutkan dalam sejarah, Cursed Arm pertama kali dibuat dalam masa perang antara Paladin untuk merebutkan tanah Orladist yang kehilangan tuan.


Dari banyak Cursed Arm yang dibuat, ada 13 Cursed Arm yang dikatakan sebagai yang paling berbahaya dan memiliki kekuatan paling perusak.


Salah satu contoh dari Cursed Arm itu adalah Skullia Crystal. Pengguna Cursed Arm ini akan memiliki kekuatan untuk memanipulasi dimensi dan memanggil Hell Beast dari dunia lain.


Contoh lain dari Cursed Arm terkuat adalah Dainsleif yang memungkinkan penggunanya memiliki kekuatan untuk memanipulasi jiwa seseorang. Entah apakah itu memindahkan sampai menghancurkannya juga bisa dilakukan.


Tetapi di antara semua Cursed Arm, ada tiga Cursed Arm yang disebut sebagai yang paling spesial.


Cursed Arm True Ascalon atau juga disebut sebagai Dragon God Slayer. Memiliki kemampuan untuk membunuh Dragon King dan para naga. Karena dianggap terlalu berbahaya dan dianggap bisa merusak keseimbangan dunia, True Ascalon sudah dihancurkan oleh Holy Maiden.


Cursed Arm yang kedua adalah Black Darkness. Memiliki kemampuan untuk menggunakan kekuatan kegelapan sama seperti Demon King. Keberadaan Black Darkness sampai sekarang tak ada yang mengetahui. Tetapi banyak yang menyebutkan kalau Black Darkness adalah nama lain senjata yang digunakan oleh Demon King. Pedang yang juga disebut Sword of King.


Dan terakhir adalah Eyes of Balor. Pengguna Eyes of Balor akan mampu mengendalikan orang lain dengan bebas dan leluasa. Bahkan seorang Paladin tak akan bisa lolos dari Cursed Arm ini.


Dalam Paladin War, pengguna Eyes of Balor akan dengan mudah memenangkan pertarungan. Sayangnya, harga yang harus dibayar untuk menggunakan Eyes of Balor tidaklah murah seperti kebanyakan Cursed Arm lainnya.


Tetapi ada hal lain yang menjadi alasan kenapa Eyes of Balor menjadi salah satu yang berbahaya.


"Sejauh mana kau sudah mengendalikan anak itu, Black?"


Airs tersenyum lebar penuh ekstasi.


"Hanya kau yang memanggilku dengan nama itu, King. Maaf saja, aku tak mengendalikan anak ini. Akan tak seru jika aku melakukannya."


"..."


Itu adalah kebohongan besar. Dengan menjawab pertanyaan Kuro, itu sudah menjadi bukti kuat kalau Airs sudah kehilangan tubuh dan pikirannya.


Berbeda dengan Dainsleif dan Skullia Crystal, efek samping dari Eyes of Balor adalah gabungan antara kedua Cursed Arm itu.


Ada roh jahat yang tersegel dalam Cursed Arm. Roh itu mengambil alih pikiran dan juga memakan jiwa penggunanya secara perlahan.


Menggunakan Eyes of Balor secara otomatis membuat penggunanya mati (meskipun mereka tak menyadarinya). Dengan kata lain, tak ada cara untuk menyelamatkan Airs.


"..."


Kuro menghela nafas, dan dia tiba tiba menghilang.


Kemudian terjadi gelombang kejut dari sosok Kuro dan Pandora yang saling beradu pedang tepat di depan Airs.


(Dia melindunginya?)


Kuro berniat mengalahkan Airs sebelum Black mengambil alih Airs sepenuhnya, tetapi sepertinya Pandora tak membiarkan hal itu.


Mungkinkah Airs mengendalikan Pandora?


Kuro menggunakan matanya untuk mencari tahu. Dia memang menemukan sebuah sihir pengendali terhubung pada Fila, tapi dia tak menemukannya pada Pandora.


"Iron Asura!"


Tangan Pandora menjadi enam dengan senjata. Dengan itu dia membalas serangan Kuro hingga membuat tubuhnya terdorong dengan keras ke belakang.


Pasir besi di belakang Kuro berubah menjadi tentakel dan berusaha menangkap Kuro, tapi Kuro sudah melihat itu. Dia menebas dengan pedang hitam dan di saat yang sama menyerang dengan pedang putih ke arah Pandora.


Pandora terkejut dan langsung dalam posisi bertahan, tetapi menghadapi kekuatan kegelapan yang menelan apapun dengan cara seperti itu adalah kesalahan fatal. Tubuh Pandora yang terkena serangan menghilang seolah tak pernah ada.


Pandora dengan cepat meregenerasi tubuhnya. Sedangkan Kuro kembali menyerang setelah berhasil mendarat.


Target Kuro adalah Airs. Tetapi seperti sebelumnya, Pandora kembali menghalangi.


Inilah yang diincar Kuro. Dia menambahkan kekuatan kegelapan pada pedangnya dan menyerang Pandora hingga melenyapkannya.


Tak ada halangan lagi. Kuro menyerang Airs.


"!?"


Tetapi kenyataan kembali membuat Kuro terkejut saat Pandora kembali muncul dan menahan serangan Kuro.


"Kenapa kau melindunginya?"


Kuro menebas Pandora. Sekali, dua kali, tiga kali bahkan berkali kali. Setiap tebasan menghapuskan keberadaan Pandora, tetapi Pandora selalu kembali.


"Itu bukan urusanmu!!"


"Kalau begitu diamlah!!!


Mata Kuro untuk sesaat bercahaya. Itu adalah tanda dia menggunakan Authority. Dalam situasi ini, yang dia pilih adalah Dominator.


Tubuh Pandora langsung tak bisa bergerak. Bahkan dia tak bisa menggunakan sihir dan hanya bisa memasang wajah kesal.


Kekuatan Dominator adalah pengendali seperti kemampuan Eyes of Balor. Authority ini menjadi dasar yang digunakan Kuro saat menggunakan magic arm milik orang lain.


Sayangnya, meskipun memiliki kemampuan yang luar biasa, Kuro tak bisa menggunakan kekuatan Dominator sepenuhnya. Dia bisa mengekang Pandora, tapi itu hanya berlaku sesaat.


"Tak ada yang menghalangi lagi. Ini saatnya mengakhiri ini, Black."


"Memang dalam kekuatan tempur aku akan kalah. Apalagi tubuh ini sama sekali tak berguna."


Airs tersenyum lebar seolah sama sekali tak takut.


"Tapi sudah aku bilang. Aku sama sekali tak mengendalikan tubuh ini. Dan kau pasti ingat, jika seorang menggunakan Cursed Arm, mereka adalah seorang yang memiliki tujuan yang ingin diraih meskipun mengorbankan nyawanya. King, apa kau tahu tujuan dari anak ini?"


"..."


Kuro tak peduli dengan omong kosong Airs. Dia menyerang dan mengincar bagian vital dengan niat menghabisinya.


Berkat efek Doll, semua serangan memang dialihkan, tetapi itu tak akan berguna pada kekuatan kegelapan miliknya. Mungkin dia akan mendapatkan masalah setelah Battle War selesai, tapi dia tak peduli mengingat bahaya yang ditimbulkan dari Eyes of Balor.


Tetapi sebelum pedang menyentuh tubuh Airs, tiba tiba Airs menghilang menjadi asap dan Kuro mengenai udara kosong.


"..."


Dalam sekejap pemandangan di sekitar Kuro langsung berubah. Dari hutan pasir besi penuh dengan salju berganti dengan sebuah rumah mewah dengan halaman luas.


Pepohonan tertata begitu rapi bersamaan dengan bunga bunga terawat yang penuh dengan kehidupan.


Bagi yang tak memiliki kekuatan mata, mereka pasti langsung berpikir ini adalah sebuah ilusi. Tetapi pada kenyataannya, pemandangan yang terjadi saat ini adalah hasil dari kekuatan pengubahan.


Lebih tepat jika disebut Airs merubah seluruh hutan pasir besi menjadi rumah mewah.


Pertanyaannya, rumah siapa itu?


"!?"


Saat itulah seorang gadis kecil berlarian di halaman. Dia sedang bermain dengan pelayan pria paruh baya yang terlihat begitu ramah.


Kebahagian terpancar dari keduanya. Ada sebuah kasih sayang yang terlihat jelas meskipun tak terlihat oleh mata.

__ADS_1


Secara tak sadar Kuro tersenyum kecil melihat pemandangan yang indah ini, tetapi senyumannya itu perlahan berganti dengan senyuman masam.


Pemandangan yang mengharukan itu berubah saat sang gadis tak sengaja akan terjatuh. Di saat itulah tiba tiba pasir pasir besi entah muncul dari mana melindungi gadis kecil itu.


Pria itu terlihat khawatir dan mencoba mendekat, tapi di saat itulah pasir pasir besi itu menyerang pria itu hingga membuatnya terlempar dengan keras.


Gadis itu langsung mencoba mendekat untuk menolong, tapi dia berhenti karena sadar itu hanya akan membuat pria paruh baya itu terluka lagi.


"Untuk apa kau menunjukkan semua ini padaku?"


Kuro mengatakan itu dengan nada datar seolah sama sekali tak tertarik.


Memang.


"Aku tak pernah ingin menunjukkan ini padamu, tapi ini adalah cara anak ini membalas dendam. Yah.. karena ini sudah menjadi kontrak, aku tak punya pilihan selain memperlihatkan pertunjukan ini."


Airs menjawab, tapi sosoknya sama sekali tak terlihat. Dia bagaikan seorang yang berada di balik panggung.


"Sungguh cara yang membosankan."


"Mungkin, tapi bagi orang lain tidak seperti itu. Kau sudah menyadarinya kan?"


"..."


Pemandangan kembali berganti. Gadis kecil itu mulai tumbuh dan kecantikannya mulai terlihat memanjakan orang di sekitarnya.


Tetapi semua itu bukan menjadi alasan untuk orang orang mendekatinya. Justru mereka semakin menjauh karena bersamaan dengan itu, sosok cantik itu semakin menjadi seorang monster yang bersembunyi di balik wajah cantik.


Pasir pasir besi yang selalu melindunginya semakin tak terkendali. Bahkan pelayan yang berada di rumah itu satu persatu mulai berhenti karena takut terluka.


Perlahan, gadis itu mulai menutup hatinya pada orang lain. Dia akhirnya tak percaya pada orang lain maupun pada dirinya sendiri.


Dunia yang penuh dengan warna kini menjadi abu abu.


Lalu pada suatu hari, gadis kecil itu berbicara pada seseorang. Tetapi seseorang itu bukanlah manusia atau sosok hewan, tapi sebuah kotak hitam yang tidak memiliki nyawa.


Hal ini mengubah semuanya. Dari sesosok monster, kini berubah menjadi sosok orang aneh yang menakutkan.


Meskipun begitu, masih ada yang berpihak pada gadis itu. Orang tua dan salah satu pelayan yang masih setia pada keluarga mereka.


Mereka semua adalah cahaya dan harapan yang masih tersisa dari hidupnya.


Meskipun gadis itu kadang melukai mereka, mereka semua hanya tersenyum dan berkata semua akan baik baik saja.


"Dari sini akan dimulai kah .."


"Seperti itulah..."


Pemandangan kembali berganti.


Suatu hari, rumah mereka kedatangan beberapa Knight yang ingin bertemu dengan orang tuanya. Karena kedatangan para Knight suatu yang sering terjadi, hal ini sudah menjadi hal yang biasa di rumah itu.


Meskipun begitu, itu tak membuat gadis itu dekat dengan mereka. Justru karena dulu dia pernah melukai Knight secara tak sengaja, gadis itu menutup hati pada mereka.


Gadis itu bermain sendirian di halaman ditemani oleh sebuah kubus hitam yang melayang di udara kosong. Meskipun tak ada teman, dia terlihat begitu bahagia.


Tetapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama.


Tiba tiba sebuah ledakan keras terjadi dari arah dalam rumah. Gadis itu gemetar ketakutan, tetapi dia ingat kalau ledakan itu berasal dari tempat ibunya berada.


Dengan tubuh gemetar, dia melangkahkan kakinya ke tempat ibunya. Dia yakin dengan kekuatan ibunya, dia pasti akan baik baik saja. Dia percaya itu.


Tetapi apa yang dia lihat adalah kebalikan dari suatu yang dia harapkan. Dia menemukan ibunya tergeletak di lantai dengan sebuah pedang menusuk dadanya dan darah berceceran memenuhi penjuru.


Tak perlu banyak berpikir, semua tahu apa yang terjadi di sana. Ibunya tercinta, cahayanya dibunuh oleh Knight itu.


Di saat itulah sesuatu di dalam hati gadis kecil itu rusak.


Gadis itu lalu berteriak penuh histeris. Kesedihan, kemarahan, kekecewaan, keputusasaan bercampur menjadi satu membentuk kegelapan.


Para Knight menyadari kehadiran dan ketidaknormalan gadis itu lalu berusaha membunuhnya.


Di saat itulah seorang pelayan berusaha melindunginya. Tetapi semua itu sia sia belaka. Para Knight itu tak menggubris dan langsung saja mengincar gadis kecil itu.


Kemudian semuanya berubah menjadi gelap tertelan kegelapan.


Perlahan cahaya kembali datang memperlihatkan semua yang terjadi.


Pasir pasir besi memenuhi seluruh tempat membentuk hutan menyeramkan dengan penuh aura kegelapan. Para Knight yang menyerang menjadi santapan pasir besi. Tubuh mereka tercerai berai tak berbentuk lagi. Bahkan pelayan yang melindungi gadis kecil itu juga tak berbeda.


Hanya ada gadis itu. Menangis, sendirian karena orang yang berharga baginya telah tiada pergi untuk selamanya.


Semua pemandangan itu kemudian menghilang dan kembali ke hutan pasir besi di mana Pandora masih sama sekali tak bergerak. Tetapi untuk pertama kalinya bayangan muncul di wajahnya.


"..."


Kuro hanya terdiam. Dia tak terlihat peduli atau terkejut.


Semua bisa melihat kalau apa yang baru saja Airs perlihatkan adalah kejadian yang disebut sebagai salah satu tragedi paling menyedihkan di kekaisaran.


Sebagai mantan Shadow Knight, kebenaran mengenai tragedi ini sesuatu yang sudah Kuro pelajari dan ketahui.


Lalu dia ingat sesuatu hal yang cukup penting.


".... Mungkinkah kau..?"


"Kau sudah tahu hal ini. Orang yang sanggup melakukan segalanya untuk balas dendam adalah orang yang kehilangan segalanya."


Mereka berpikir karena sudah kehilangan semuanya, maka tak apa apa kehilangan apa yang tersisa. Meskipun itu adalah jiwa mereka.


Sebagai orang yang berada di jalan yang sama, Kuro bisa mengerti apa yang Airs lakukan.


Tetapi-


"Jika semua yang kau lakukan ini adalah caramu untuk balas dendam, kau melakukan satu kesalahan besar."


Kuro menghunuskan pedangnya ke samping. Aura kegelapan yang semula menyelimuti pedang berubah menjadi lebih padat dan menyatu hingga menjadikan pedang putih Kuro menjadi pedang hitam kelam.


Pedang kegelapan.


"Fila sudah menjadi seorang yang berharga bagiku. Dan kau berusaha melukainya. Itu sudah cukup menjadi alasan untuk menghancurkanmu beserta dengan benda bodoh yang kau pakai."


💠💠💠


[Putri Norn, mungkinkah apa yang kami lihat itu adalah...]


{...}


Norn tak bisa menjawab.

__ADS_1


Pemandangan yang diperlihatkan pada Kuro juga bisa terlihat jelas oleh semua penonton yang menyaksikan Battle War. Dengan kata lain, semua orang tahu kebenaran tentang tragedi yang menimpa keluarga Irho.


Tetapi bukan itu yang menjadi masalah utama.


(Dia ingin menunjukkan kalau Fila adalah monster. Ini sungguh cara balas dendam yang keji.)


Kejadian itu tak begitu berbeda dengan kejadian yang diberitakan pada publik. Tak mengherankan jika banyak yang menaruh simpati pada keluarga Irho sampai sekarang ini.


Tetapi dengan diperlihatkannya tadi, simpati itu mungkin akan berubah menjadi ketakutan.


Lalu bukti nyata dari kejadian itu juga terlihat dalam Battle War kali ini. Jadi, meskipun Kuro bisa mengalahkan Airs, itu tak akan banyak mengubah hasil yang diterima oleh Fila.


(Masalah lain yang tak kalah penting adalah bagaimana bisa anak itu menggunakan Eyes of Balor?)


Norn melirik ke arah kaisar.


(Dalam kasus Skullia Crystal yang dulu, ayah membiarkan Cursed Arm itu diambil oleh pihak musuh dengan tujuan untuk mendapatkan pengaruh dan hutang budi dari Dragonia, tapi ini tak bisa dibandingkan dengan masalah itu)


Kekuatan Eyes of Balor tak bisa dibandingkan dengan Skullia Crystal. Bahkan sebuah negara akan mudah hancur jika Cursed Arm itu disalahgunakan.


Sebagai seorang yang mementingkan kepentingan rakyat lebih dari siapapun, tak mungkin kaisar akan membiarkan Eyes of Balor begitu saja.


(Dengan kata lain ada pihak ketiga yang memperoleh Eyes of Balor dan menyuruh anak itu menggunakannya. Ini sungguh keterlaluan)


Norn mengklik lidahnya karena dia merasa kesal dan marah.


Tetapi dengan cepat dia kembali tenang. Sekarang yang lebih penting adalah mengatasi masalah ini.


{Maaf, aku sedikit melamun. Aku juga terkejut dengan apa yang sebenarnya terjadi}


[Kalau begitu itu benar?]


Norn mengangguk.


{Aku tak bisa mengatakan hal lebih, tapi kejadiannya memang seperti itu. Saat itu, ada pihak yang menggunakan ramuan sihir untuk berubah wujud menjadi kenalan keluarga jendral Irho. Dan memanfaatkan orang dalam, mereka berhasil balas dendam}


Kasus yang dialami jendral Irho dan keluarganya bisa dibilang cukup jarang terjadi di kekaisaran. Bahkan banyak yang berpikir hanya orang bodoh yang ingin melakukan usaha tersebut.


Tetapi selain banyak musuh, banyak pihak yang berusaha menjatuhkan jendral Irho, tak aneh jika ada sebuah celah yang dimanfaatkan musuh untuk balas dendam.


[Lalu kenapa Airs ingin menunjukkan semua ini pada kita? Apakah dia ingin menunjukkan tragedi itu agar semua orang tahu?]


{Tidak. Dari kejadian ini aku bisa menebak kalau Airs adalah salah satu anggota keluarga yang menjadi korban dalam insiden itu}


[Mungkinkah salah satu Kni-?!]


{Seperti yang kau pikirkan, dia adalah seorang yang memiliki hubungan keluarga dengan pelayan di rumah jendral Irho. Lalu alasan kenapa dia melakukan semua ini, tentu saja seperti yang kau lihat.}


[....]


Tak perlu berkata lagi, semua sudah tahu apa yang ingin Norn sampaikan.


{Yang membunuh pelayan itu adalah Fila}


💠💠💠


Meskipun mereka teman baik, tapi tak ada alasan untuk saling mengalah. Itulah situasi yang terjadi pada Laila dan Mitra saat ini.


Setelah menunjukkan niat bertarung, tak ada alasan bagi Laila untuk menahan diri.


Dia bersiap bertarung dengan menghunuskan Scarflare ke arah Mitra, tetapi di saat itulah hutan pasir besi berubah menjadi rumah mewah. Dan keduanya melihat semua pemandangan yang menyedihkan itu.


"Sudah aku duga kah.."


"Apa maksudmu?"


"Kau tahu aku cukup ahli dalam sihir tipe sensorik. Sejak Battle War dimulai, aku merasakan suatu yang tak menyenangkan. Awalnya aku berpikir itu berasal dari suamimu, tapi ini mengubah semuanya."


"Kalau begitu ini menjadi alasan tambahan untuk tak melakukan ini sekarang."


Laila melesat ke arah Kuro dan mengabaikan Mitra.


Mitra melihat itu hanya mendesah. Dia menggunakan sihir pengekang Ice Rope untuk menghentikan Laila, tapi Laila dengan mudahnya menghindar.


Mitra lalu menggunakan sihir yang sedikit lebih besar. Dinding es sepanjang 50 meter berbentuk setengah lingkaran dengan tinggi 10 meter.


Mitra berharap itu akan menghentikan Laila, tapi harapan itu sia sia saat Laila dengan mudahnya melompat setinggi 20 meter dan terbang dengan sayap pedang.


"..."


Mitra mendesah dalam hati dan sekaligus kagum, tapi dia harus segera menghentikan Laila atau semuanya terlambat.


Tak punya pilihan, Mitra menggunakan sihir yang tak ingin dia gunakan.


"Leviathan!!"


Naga es sebesar 25meter muncul dan menghentikan Laila dari depan. Meskipun besar, Leviathan cukup lincah hingga bisa menyusul dan menghadang Laila.


"Bisakah kau tenang. Justru jika kau ke sana, itu akan menyusahkan suamimu."


"..apa maksudmu?"


Laila akhirnya mendengarkan. Laila lalu turun dan mendekati Mitra.


"Jika yang digunakan Airs adalah Cursed Arm seperti yang aku pikirkan, ada kemungkinan dia bisa mengendalikan orang di sekitarnya. Kau mengerti maksudku?"


" ..."


Itu adalah suatu hal yang paling tak diharapkan. Sekuat apapun Kuro, dia tak akan mungkin melawan Laila. Orang yang paling berharga bagi Kuro saat ini.


Meskipun berat, Laila harus mengakui kalau dia berhutang pada Mitra.


"Tenang saja, meskipun memiliki kemampuan luar biasa, setiap Cursed Arm memiliki ciri khas yang sama. Seberapa besar kekuatan yang muncul tergantung potensi penggunanya. Jadi aku pikir Airs tak akan memiliki banyak pengaruh. Hanya saja, mendekat mungkin bukan pilihan yang tepat untuk sekarang ini."


"...tapi mengingat kejadian di Dragonia, ada kemungkinan kalau Cursed Arm akan bangkit sepenuhnya walau hanya sementara."


"!?"


"Kau tak mempermasalahkan itu?"


Keseriusan terlihat dari tatapan Laila di balik perkataannya yang begitu tenang.


"Jika benar, itu justru menjadi alasan tambahan untuk tak mendekat. Jika dia bangkit, tak hanya dirimu, tapi juga seluruh murid di pulau ini akan menjadi musuh suamimu. Apa kau mengerti?"


"..."


Laila menggigit bibir bawahnya. Dia sadar ini situasi yang sulit.


Di saat itulah ia ingat kembali siapa suaminya. Itu membuat hatinya lebih baik.

__ADS_1


"Meskipun begitu, aku percaya Kuro akan bisa menyelesaikan semua ini. Lagipula, dia adalah seorang yang pernah dipanggil sebagai Demon King."


"..."


__ADS_2