Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Parents Love


__ADS_3

"Kuro... Kau memang..."


"Maaf.."


Hanya maaf yang bisa keluar dari mulut Kuro, tetapi bagi Charlmilia itu suatu yang tak bisa dia terima.


Entah mengapa dia justru tersenyum. Rasa sedih yang awalnya muncul saat mendengar perkataan Kuro tentang dirinya menghilang tergantikan oleh suatu yang lain. Sebuah emosi negatif yang dinamakan kekecewaan.


"...Tidak. Kau tak perlu meminta maaf. Justru aku yang seharusnya meminta maaf. Aku tahu kau bahagia dengan Laila, tetapi aku justru ingin merusak kebahagiaan kalian. Jujur saja aku sadar kalau ternyata diriku seorang wanita jal*ng."


"Charlia.. kau bukanlah..."


"Kuro."


Charlmilia tak membiarkan Kuro bicara lebih lanjut.


"Aku tahu kau hanya mencintai Laila, tetapi kau sungguh kejam. Memang benar aku akan kecewa dan sedih setelah mendengar penolakanmu, tetapi kau pikir apakah aku wanita murahan yang bisa kau dapatkan dengan memberikan sebuah harapan palsu?"


"T-Tidak. Aku hanya ing-"


"Kuro, kau memang kejam. Kau memberikanku kesempatan untuk berharap, namun di saat yang sama kau menutupinya dengan sebuah kebohongan kejam. Kenapa kau bilang akan menghilang dari dunia ini?"


Meskipun marah, namun nada yang keluar dari Charlmilia menunjukan dia sedang sedih.


"Maaf..."


"Kenapa kau hanya meminta maaf? Kuro yang aku kenal tak akan meminta maaf semudah ini. Selain itu dia bukanlah orang yang akan menyerah pada takdir. Dia akan melawannya hingga takdir berubah menuju ke arah yang lebih baik."


"..."


"Tetapi saat ini aku tahu, Kuro yang ada di depanku sudah menyerah dengan takdir. Tidak, sejak awal kau sudah menyerah dengan takdirmu sendiri. Kuro, kemana dirimu yang selama ini aku kenal? Kuro yang aku cintai kini sudah tak ada lagi."


Kuro hanya terdiam dengan wajah rumit. Dia mengepalkan tangannya dengan erat tanpa mencoba membantah atau menyangkal.


Dia mengerti apa yang ingin Charlmilia coba katakan, tetapi-


"Kuro, maaf. Kau bukanlah Kuro yang aku cintai. Karena itulah aku pikir diriku yang salah karena menyatakan cinta pada seorang yang berbeda."


Charlmilia menunduk memberi hormat.


"Sekali lagi maafkan aku. Aku senang kita bisa bersenang senang bersama walau hanya waktu singkat. Tetapi aku berjanji, selama Kuro yang aku cintai tak kembali, aku tak akan menyatakan cintaku atau berusaha merebut hatimu. Sampai nanti, Kuro. Tolong sampaikan salamku pada Laila, Riku dan Lic."


Tanpa mengatakan lebih banyak, Charlmilia pergi meninggalkan Kuro yang terdiam mematung tanpa bisa berkata kata.


"..."


Saat melihat Charlmilia pergi dan tak terlihat lagi di balik pintu, Kuro sadar semua yang dikatakan Charlmilia memang benar.


Dia bukan dirinya yang dulu. Seorang yang menentang takdir.


(Meskipun begitu, kadang ada takdir yang tak bisa diubah)


Takdir bagaikan benang yang memiliki awal dan akhir. Entah benang itu akan kusut atau tersambung dengan benang lain atau bahkan terputus di tengah jalan, benang takdir hanya memiliki satu ujung.


Takdir Kuro sudah mendekati ujungnya. Dia mengerti hal itu dan tak berusaha mengubahnya lagi.


(Mungkin kali ini aku akan benar benar bisa beristirahat, tetapi...)


Saat mengingat nasibnya sebagai King, dia juga ingat dengan Laila dan kedua anaknya.


Dia tahu tak punya banyak waktu lagi. Entah itu 10 tahun atau bahkan kurang, saat mengetahui akan mati dan meninggalkan orang yang dicintainya membuat Kuro sadar tak ingin mati dengan cepat.


(Apakah pilihanku ini benar?)


Saat melihat langit penuh bintang, dia bertanya pada seorang yang mungkin mengetahui jawabannya.


(Jika kau berada di sisiku, aku tak akan kebingungan seperti ini. Aku ingin segera menyusul dirimu, tetapi aku juga tak ingin meninggalkan mereka)


Sebuah kenangan indah terlintas di ingatan  Kuro. Ingatan itu bisa dikatakan sebagai ingatan terindah yang memberikan kekuatan agar dia tak tertelan kegelapan sepenuhnya.


Tetapi kenangan indah itu juga sebuah racun yang mematikan.


(Mengingat dirimu, aku yakin kau akan berkata 'lakukan apa yang menurut hatimu benar', tetapi ...)


"Saat ini aku sudah tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Selain itu sudah terlambat untuk memilih kedua hal itu."


Dalam ingatannya, terlintas wajah seseorang.


Seorang yang pernah berada di posisi Laila saat ini.


Seorang yang disebut sebagai cinta pertama.


....dan penyesalan yang pertama.


♦♦♦


Setelah meninggalkan Kuro, air mata Charlmilia sekali lagi menetes karena sudah tak terbendung. Tidak, kali ini lebih deras.


Dengan cepat dia berlari ke bawah dan segera menjauh untuk menyembunyikan kesedihannya.


Dia tahu Kuro tak berbohong, karena itulah dia paham seorang yang dia cintai tak memiliki banyak waktu. Dan itu artinya dia tak akan bisa menjadi yang kedua atau bahkan yang ketiga.


Ini begitu menyedihkan.


Tahu akan mati dan akan menghilang seolah tak pernah ada. Itu lebih buruk daripada kematian itu sendiri.


(Tetapi kenapa kau seolah menerima itu, Kuro..?)


Kuro mungkin berpikir ini akan membuat Laila tak akan bersedih, tetapi Charlmilia tahu apa yang dipikirkannya itu salah.


Kuro pasti tahu kekuatan cinta. Karena itulah meskipun Kuro menghilang atau seolah tak pernah ada, namun Laila tak mungkin akan melupakannya. Apalagi Laila adalah seorang yang spesial.


Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana cara untuk menyelamatkan Kuro. Bagaimana cara untuk menghentikan Kuro menghilang?


(Tidak. Jika dipikirkan lagi aku tak tahu apapun tentang King)


Dia juga masih belum tahu apa itu sebenarnya Queen dan kebenaran di balik gelar Queen yang dia terima.


(Saat membuat kontrak, Lapis juga tak pernah menyuruhku untuk melakukan sesuatu secara spesifik. Dia bahkan hanya mengatakan agar aku melakukan apapun sesuai hatiku hingga saat 'itu' tiba. Hm.. Apa artinya?)


Saat ini dia sedang bersedih, namun  dia sadar jika terus bersedih tak akan  membuat Kuro selamat.


Dia menghentikan tangisannya dan langsung memikirkan langkah yang harus dia ambil.


(Tunggu dulu. Sebelum itu, mungkinkah aku harus memberi tahu Laila tentang masalah ini?)


Charlmilia​ menggelengkan kepalanya menyangkal ide itu. Dia sadar memberitahu Laila mungkin  akan langsung mendapatkan bantuan, tetapi apakah itu yang terbaik?


Dia juga tak tahu Laila sudah tahu atau tidak. Bahkan jika dipikirkan, kemungkinan Laila tak tahu adalah nol.


Atau bahkan sebaliknya?


Tetapi jika tahu seharusnya Laila sudah bertindak.


(Intinya aku harus bertanya untuk memastikannya. Yang menjadi masalah adalah apa yang Laila lakukan setelah tahu hal ini?)


Pada akhirnya dia dipusingkan oleh keputusan untuk memberi tahu Laila atau tidak.


Tetapi dalam situasi seperti ini, memberi tahu Laila mungkin  akan mengacaukan kebahagiaan keluarga mereka.


"Sial!!"


Sekali lagi dia marah pada Kuro.


(Dia sadar aku tak bisa memberi tahu siapapun, karena itulah dia tak ragu memberi tahu rahasianya)


Pada akhirnya dia harus melakukannya sendirian.


Tetapi dia tak tahu darimana harus memulai.


Dia memeras otaknya mencoba untuk mencari tahu bagaimana dan apa yang harus dia lakukan.


Tetapi dia tak bisa menemukannya karena konsentrasinya kacau oleh kesedihan yang dia rasakan.


(Tidak bisa. Aku tak menemukan apapun. Selain itu bukti keberadaan King akan menghilang setelah peran mereka selesai. Mana mungkin ada yang tersi- tunggu dulu..)


Jika menghilang sepenuhnya, bagaimana dengan  rumor dan sejarah?


Dia ingat kalau bukti seorang King adalah pedang putih dan Authority, jika melihat sejarah, bukankah seorang yang memiliki tanda itu adalah Demon King Shiroyasha?


Shiroyasha adalah seorang King?


"..."


Ketika menyadari itu, banyak misteri mulai tersambung menjadi satu kebenaran. Dia sekarang mengerti kenapa Kuro disebut sebagai pewaris Demon King, tetapi bagaimana jika Kuro disebut seperti itu karena dia adalah King?


Bagaimana jika rumor itu, sejarah itu hanya menutupi kebenaran dari seorang King?


Semakin memikirkan itu, semakin banyak kebenaran terkuak.


Tetapi di saat yang sama juga menimbulkan pertanyaan lainnya.


"Apa yang membedakan Shiroyasha dan King yang sekarang?"


Jika dia sama seperti King yang sekarang, seharusnya tak ada bukti Shiroyasha ada di dunia ini, tetapi kenyataan berkata lain.


Shiroyasha adalah seorang tokoh jahat dalam sejarah.


"Sepertinya aku masih kehilangan satu bagian kepingan yang hilang. Tetapi jika Shiroyasha eksis, berarti ada hal yang membuatnya seperti itu. Tidak, lebih tepat jika ada yang masih ingat tentang dia. Tetapi siapa?"


Ketika membicarakan Light War, maka yang langsung terlintas adalah kisah kepahlawanan Maria yang memimpin pasukan untuk mengalahkan Shiroyasha. Tetapi apakah hanya itu saja?


Selain kisah kepahlawanan, kisah itu juga menceritakan tentang kerja sama antara berbagai golongan dan bersatu tak peduli asal dan perbedaan mereka. Lalu kisah itu juga menceritakan awal terciptanya kekaisaran Houou. Jika melihat itu, kisah Shiroyasha tak lebih dari karakter jahat, tetapi-


(Banyak yang beranggapan kalau jika Shiroyasha tak pernah muncul, maka dunia ini sudah hancur oleh peperangan. Karena itulah Shiroyasha merupakan karakter jahat dan juga sekaligus baik)


Tetapi itu tak penting. Yang Charlmilia pikirkan saat ini adalah mencari kepingan yang hilang antara kisah itu dengan masalahnya saat ini.


"Shiroyasha dan Maria. King dan Queen. King dan True Queen... Queen..?"


Dia ingat Lapis pernah menyebut Maria adalah mantan True Queen, kalau begitu bukankah Maria sama seperti dirinya saat ini?


(Jika dugaanku benar, kemungkinan yang masih ingat adalah Queen. Maklum saja, secara garis besar mereka hampir sama)


Charlmilia senang karena menemukan petunjuk. Tetapi dia juga menemukan masalah lain.


(Jika seperti itu, aku harus bertanya pada Queen atau setidaknya mantan Queen. Siapa yang aku ta-ah...)

__ADS_1


Saat itu dia langsung ingin menampar dirinya sendiri karena tak menyadari kesalahannya.


"Electra."


Selama ini dia selalu bersama dengan orang yang mungkin tahu mengenai kebenarannya. Kenapa kebenaran begitu dekat namun dia tak mengetahuinya?


Di saat sudah menemukan apa yang harus dia lakukan, dia sampai di bawah menara.


Saat keluar dia sudah disambut oleh Holy Knight. Seperti yang dia duga, mereka semua mengawasinya dari jauh.


"Apakah kereta sudah siap? Aku ingin pulang."


"Kami segera memanggilkan kereta untuk anda, tuan Putri."


Jawaban Holy Knight membuatnya senang. Tak berapa lama kemudian kereta khusus untuk anggota kekaisaran telah datang.


Charlmilia tanpa ragu masuk dan memerintahkan untuk segera pulang.


(Aku harus segera menghubungi Electra. Aku tak tahu apakah dia mau bercerita atau tidak, namun jika aku jelaskan situasi Kuro, aku yakin dia akan mau bekerja sama)


"Ah.. sebelum itu aku harus bersiap untuk proses pengangkatanku menjadi tuan putri... Sepertinya aku tak akan memil-hm?"


Saat itulah dia sadar, jalan yang terlihat di jendela berbeda dengan yang dia ingat.


"Kenapa kita tak melewati jalan yang menuju istana?"


Ada sebuah sihir yang memungkinkan Charlmilia​ bisa berkomunikasi dengan kusir, tetapi kusir tak menjawab dan terus melaju. Normalnya itu tak mungkin dilakukan karena dianggap lancang.


"!?"


Dia langsung sadar dalam masalah besar.


Dia mengaktifkan sihir penguat tubuh dan mencoba mengeluarkan diri dari kereta, tetapi saat dia memukul pintu, serangannya tak berhasil dan justru merasa sakit.


"...apa yang terjadi?"


Dia tahu merasa sakit bukan karena pintu itu yang terlalu kuat, namun sihirnya tiba tiba  lenyap.


"Sihirku menghilang?"


Saat sadar apa yang terjadi, dia melihat semacam asap merah yang keluar dari celah sempit kereta.


"..uh?"


Dia langsung merasa pusing dan lemas seolah semua tenaganya pergi dari tubuhnya.


Tak berapa lama kemudian, kesadarannya menghilang dan tertelan kegelapan.


♦♦♦


Tak tahu kapan waktu berlalu, Charlmilia membuka matanya. Dia masih merasa pusing dan lemas, namun setelah beberapa saat, dia sadar sepenuhnya dan bisa melihat jelas.


Apa yang terlihat di depan matanya adalah sebuah bangunan yang tertinggal dan tua. Bisa dibilang bangunan itu akan segera dirobohkan.


"..kenapa aku bisa di si-!?"


Tetapi saat mengawatirkan itu, dia sadar posisi dirinya saat ini.


"Kenapa dan  bagaimana ini bisa terjadi?"


Kedua tangannya terikat di dinding dengan menggantung seperti tahanan penjara. Tangannya terluka, tetapi dia tak peduli dengan itu.


"Oh.. kau lebih cepat sadar daripada yang aku duga. Tch.. sudahlah, ini justru semakin menyenangkan."


Seorang pria datang dengan senyuman menjijikan. Penampilannya selain jelek dan tak terurus, dia juga terlihat seperti orang yang tak tidur berhari hari.


Dari penampilannya, sudah bisa ditebak kalau dia adalah orang dibalik semua ini.


"Siapa kau dan apa maumu? Kau tahu apa arti perbuatanmu pa-"


"Diam!"


"Kyahh!!"


Sebuah cambukan mengenai dirinya. Bajunya langsung sobek dan menunjukan bagian yang tertutupi.


Meskipun pakaiannya terbuat dari bahan untuk menghilangkan tekanan sihir, namun tak memiliki kekuatan untuk menahan sihir. Karena itulah cambuk itu bisa mengenai tubuhnya.


"Kau sepertinya cukup pintar mengenai situasimu saat ini. Jangan membuatku marah hingga aku harus membuatmu diam dengan paksa. Yah.. tapi ini bukan masalah!"


Sekali lagi pria itu mencambuk Charlmilia. Dia ingin berteriak, tetapi dia menahan diri. Dia paham jika melakukannya akan membuat pria itu semakin senang.


"Hoho.. aku ingin tahu sampai kapan kau bisa menahan itu.."


Pria itu mendekat dan mencengkeram dagu Charlmilia. Wajahnya mendekat dan menunjukan tatapan yang penuh emosi dan dendam.


"Setidaknya aku harus menahan  diri sampai tamu utama tiba."


"!?"


Pria itu melepaskan Charlmilia dan menghilangkan cambuk yang merupakan Magic Arm miliknya.


Setelah itu dia bersandar di dinding sambil merokok.


Melihat gerak gerik dan perkataan pria itu, Charlmilia paham kalau saat ini dia menjadi semacam umpan untuk memancing seseorang.


"Katakan siapa yang menyuruh semua ini?"


"....kau tak usah banyak tanya. Aku tak peduli dengan urusan mereka, yang menjadi urusanku saat ini adalah bagaimana cara membunuh dia dengan tanganku sendiri. Dan tentu sebelum itu aku harus membuatnya merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang berharga baginya."


"..."


Pria itu tak diragukan lagi adalah seorang yang terjerumus dalam dendam.


Charlmilia terlibat dengan orang yang paling merepotkan di dunia.


"Yah.. kau akan segera mengerti, bagaimanapun juga kau adalah karakter utama dalam hal ini."


"!?"


Charlmilia semakin merasakan firasat buruk. Tetapi seolah tak peduli lagi dengan Charlmilia, pria itu melangkahkan kakinya pergi.


Setelah pria itu tak terlihat, Charlmilia kembali merenung untuk memikirkan apa yang harus dia lakukan. Tetapi yang terpenting dari itu adalah kondisi tubuhnya saat ini.


(Aku masih tak  bisa menggunakan sihir. Mungkin karena gas yang aku hirup tadi)


Dengan ini dia sadar percuma memberontak. Di saat itulah dia melihat ke luar dari jendela yang pecah.


Kondisi yang gelap dan tanpa keramaian membuatnya yakin saat ini dia berada di bangunan yang cukup jauh di pusat kota. Yang menjadi masalah adalah apa tujuan sebenarnya pria itu.


Dia mengerti pria akan balas dendam, tetapi bagaimana dan pada siapa masih belum jelas.


Saat kebingungan oleh pertanyaan itu, dia mendengar langkah kaki yang mendekat. Matanya langsung melebar karena tak menyangka siapa yang datang.


Seorang pria berambut pirang dengan mata biru. Tubuhnya kekar dan memiliki energi sihirnya yang besar.


"A-Ayah.. kenapa kau ada di sini?"


Ya. Orang itu adalah ayah Charlmilia, Magil Ven Cellvain.


Saat melihat putrinya, Magil langsung kawatir dan mendekat ke Charlmilia. Dia langsung saja berusaha menghancurkan rantai yang mengikat tubuhnya.


"Apakah butuh alasan untuk seorang ayah menyelamatkan putrinya sendiri?"


"!?"


Charlmilia tak punya pilihan  selain terkejut. Nada bicara dan sikap yang ditunjukkan Magil sangat berbeda dari sosok yang dia kenal selama ini.


Dia bahkan sempat berpikir sosok yang di depannya palsu, tetapi mungkin karena ikatan ayah dan anak, dia tahu kalau sosok di depannya adalah ayahnya.


"Kau sekarang bebas. Ayo kita cepat pergi dari sini. Aku yakin kita akan kerepotan jika musuh semakin banyak."


Karena lemas, Magil langsung berusaha memapah Charlmilia di pundaknya. Tetapi saat ini ada yang menggangu Charlmilia.


"Tunggu, ayah. Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?"


"Itu tak penting."


"Jawab aku!!"


Magil menyerah.


"Aku menerima pesan dari seseorang yang mengatakan kalau kau sedang dalam bahaya. Kau sepertinya berhasil diculik oleh organisasi anti pemerintah. Tenang saja, Knight akan segera tiba di tempat ini dan mengurus mereka."


"....!?"


Saat mendengar itu, Charlmilia langsung pucat pasi.


Sekarang dia mengerti semuanya. Target balas dendam pria itu adalah-


"Ayah.."


Sebelum selesai, sebuah granat mendarat di bawah kaki Magil. Tak hanya satu, namun dua.


Magil langsung mengaktifkan sihir pertahanan, tetapi setelah meledak, yang terlihat adalah asap merah.


"Ini..."


Dugaan Magil tepat. Itu adalah gas yang sama yang digunakan untuk menangkap Charlmilia.


Kekuatan menghilang dari tubuh Magil, lalu dia tersungkur karena lemas.


"Hoo.. lebih kuat daripada yang aku duga.."


Pria itu kembali muncul dengan wajah puas penuh ekstasi.


"Sudah lama tak bertemu, jendral Magil."


"Kau..."


Pria itu mengambil senjata api dari sakunya dan langsung menembak kaki Magil.


"Gaaah!"


"Ayah!!"


Charlmilia panik melihat situasi yang tak pernah terbayangkan olehnya. Ayah yang kuat dan angkuh, kini terlihat seperti seorang yang tak berdaya.

__ADS_1


Pria itu tiba tiba menarik rambut Charlmilia dan melemparnya menjauh.


Tubuhnya membentur lantai dengan keras dan membuat tubuhnya lecet di berbagai tempat. Sayangnya, saat ini dia tak peduli dengan itu.


Sekali lagi suara tembakan terdengar dan peluru menembus tubuh Magil. Tangan, kaki, bahu, dan bahkan perutnya tertembus oleh peluru sehingga darah menetes bagai sungai.


"Rasa sakit yang kau rasakan masih tak sebanding dengan yang aku rasakan. Jangan pikir aku hanya akan melakukannya sejauh ini. Aku akan membuatmu mengerti bagaimana rasanya kehilangan putrimu."


"...Will-lem... Hentikan.."


Pria itu tak menggubris Magil dan mendekat ke Charlmilia. Dia memunculkan Magic Arm berupa cambuk dan langsung saja mencambuk Charlmilia berkali kali.


Teriakan menggema dari Charlmilia yang tak bisa menahan rasa sakit. Pakaiannya kini hancur hingga membuat bagian tubuhnya terlihat jelas.


"Willem!!!!"


Meskipun tubuhnya penuh luka parah, Magil  tak bisa berdiam diri melihat putrinya terluka. Dia bangkit dan langsung berusaha menghajar Willem, tetapi dengan mudahnya Willem menendang Magil hingga terjatuh dengan keras.


"Tunggulah sebentar, jendral Magil yang terhormat. Aku masih belum selesai. Hm.."


Senyuman tiba tiba muncul di bibir Willem.


"Oh benar.. besok dia akan menjadi tuan putri. Jendral Magil, bukankah ini hebat? Sekali lagi kau berhasil.."


"Willem... Jika kau berani menyentuh dia, aku akan..."


Tetapi Willem semakin tersenyum lebar. Dia benar benar menikmati ekspresi Magil.


"Benar. Daripada aku membunuh putrimu, aku pikir cara itu terlalu mudah. Bagaimana kalau aku buat lebih menarik. Kalian para bangsawan selalu menjaga kesucian kalian... Apa yang terjadi jika dia kehilangan itu?"


"WILLEEEEMMMMM!!!!"


Dengan penuh amarah, Magil sekali lagi bangkit dan menyerang Willem. Apapun yang terjadi dia tak boleh membiarkan hal itu terjadi pada putrinya.


Jika Charlmilia kehilangan kesuciannya, itu sama saja lebih buruk dari kematian itu sendiri. Dia tak boleh membuat Charlmilia merasakan hal itu.


Tetapi dengan cambuknya Willem mengikat tubuh Magil.


Magil sekali lagi terjatuh dan tak bisa melakukan  apapun.


Melihat itu Willem tersenyum puas. Dia menjambak rambut Charlmilia dan menunjukannya tepat di depan Magil.


Lalu di saat itulah dia merobek bagian pakaian Charlmilia yang tersisa. Tak ada yang bisa mencegah hal itu terjadi.


Air mata mengalir deras dari Charlmilia. Dia sedih dengan apa yang menimpa dirinya, namun dia lebih bersedih dengan apa yang menimpa ayahnya.


Orang tua yang selama ini dia benci karena perlakuan  mereka padanya kini terluka dan melakukan apapun demi dirinya.


Dia mengerti selama ini telah salah mengerti mereka. Jika bisa dia ingin segera meminta maaf, tetapi apa yang bisa dia perbuat saat ini?


Dengan air mata menetes, dia memanggil satu satunya orang yang terlintas di pikirannya.


"Kuro... Tolong aku..!"


"Sudah terlambat untuk itu. Apa kau pikir aku tak berjaga jaga deng-"


Sebelum selesai menyelesaikan kata katanya, pria itu berhenti saat melihat sosok pemuda berambut putih tiba tiba muncul dengan pedang katana yang sudah terhunus.


Saat melihat tatapan matanya yang berwarna putih, pria itu sadar saat ini dia berhadapan dengan dewa kematian.


Tetapi sebelum itu, dia sudah kehilangan kepalanya.


"Charlia, maaf aku terlambat."


♦♦♦


Setelah itu, Holy Knight berdatangan dengan  membawa pakaian ganti dan obat. Serta tak lupa dengan  penyihir yang memiliki kemampuan sihir penyembuh.


Karena terluka parah, Magil harus dibawa ke rumah sakit dan menjalani operasi pengangkatan peluru yang berada di tubuhnya.


Peluru yang digunakan Willem merupakan peluru anticrystal, karena itulah selama belum diambil, dia akan sulit pulih.


"Apa tak apa apa kau tak segera pulang ke istana?"


Berbeda dengan Magil, Charlmilia bisa dipulihkan dengan cepat. Hanya saja dia masih tak bisa menggunakan sihir.


Gas merah yang dia hirup merupakan anticrystal yang sudah dimodifikasi. Tak heran jika energi sihir dalam tubuhnya menjadi tak stabil. Syukurlah dia tak butuh waktu lama hingga bisa menggunakan sihir kembali.


"Ya. Sebentar lagi. Sebelum itu aku harus berterima kasih padamu. Jika kau terlambat, mungkin aku akan membunuh diriku sendiri jika itu menimpaku."


Kasus pemerkosaan tidaklah jarang, hanya saja jika orang penting seperti Charlmilia menjadi korbannya, itu hanya akan membuat seluruh keluarganya malu. Selain  itu dia akan menjadi tuan putri, dia juga akan membuat malu keluarga kekaisaran. Tak heran jika dia memilih mati.


"Charlia, jangan membicarakan kematian dengan mudah. Kehidupan bukanlah suatu yang bisa dibuat permainan."


"Lalu bagaimana dengan dirimu? Kau seorang yang menerima takdir kematian, bukankah kau bermain main dengan kematian?"


Kuro tak menjawab dan tersenyum.


"Jika saatnya, aku yakin kau akan tahu. Sampai saat itu tiba, aku pikir kau harus melakukan suatu yang lebih penting. Bagaimanapun juga, tak ada orang tua yang tak sayang dengan anaknya."


Sadar apa yang dimaksud Kuro, Charlmilia tersenyum.


"Ya kau benar. Tetapi izinkan aku bertanya satu hal. Kuro, apa kau ingin  menghilang dan meninggalkan Laila dan dua anakmu?"


"Jawabannya tentu tidak. Bukankah aku sudah bilang?"


Sekali lagi Charlmilia tersenyum.


Dia akhirnya tahu apa yang menjadi tujuan dalam hidupnya. Tetapi sebelum itu, dia harus mengurus suatu yang tak kalah penting.


Hubungan antara dirinya dan orang tuanya.


♦♦♦


Keesokan paginya, upacara pengangkatan Charlmilia telah dipersiapkan sejak pagi hari. Meskipun upacara besar, upacara pengangkatan dilakukan di aula utama istana. Hanya orang orang penting dan jendral yang bisa melihat secara langsung upacara pengangkatan. Sedangkan untuk masyarakat umum, upacara pengangkatan akan disiarkan langsung ke seluruh negeri.


Tetapi sebelum acara dimulai, Charlmilia pergi ke rumah sakit militer yang dikhususkan untuk mengurus penjabat penting. Di sinilah dia menjenguk ayahnya yang masih terluka parah. Syukurlah operasi pengambilan peluru berjalan sukses dan tinggal menunggu pemulihan.


"Ayah..."


"Maaf, karena diriku kau jadi mengalami hal yang buruk."


Seorang yang angkuh dan dikenal sebagai seorang yang ambisius kini tergeletak tak berdaya. Sekuat apapun Magil, ini adalah bukti dia adalah manusia.


Manusia yang melakukan apapun demi seorang yang dia sayangi.


"Tidak ayah. Semua ini salahku karena aku tak lebih berhati hati."


Kereta yang biasa dinaiki Charlmilia ternyata diganti dengan yang palsu. Karena penampilan sangat mirip, maka tak ada yang langsung menyadarinya.


Tetapi bukan hanya itu saja yang menjadi masalah dalam kasus ini. Kasus kali ini juga membuat muka Holy Knight tertampar dengan keras. Tugas mereka adalah menjaga anggota kekaisaran, tetapi mereka tak bisa mencegah hal itu terjadi pada Charlmilia.


Karena masalah ini, Sei akan merombak Holy Knight agar kejadian serupa tak terjadi di masa depan.


"...tidak. Jika aku bisa mencegah tragedi yang menimpa Willem, dia tak akan melakukan ini padamu."


Alasan kenapa Willem menaruh dendam pada Magil merupakan buntut panjang dari masalah yang terjadi beberapa tahun yang lalu.


Saat itu, Magil dan Knight yang menjaga kota sedang mengejar buronan  tingkat S. Karena musuh sangat berbahaya, maka dibuat rencana matang agar dia tak bisa meloloskan diri.


Sayangnya, karena salah memperkirakan kekuatan musuh, orang itu berhasil melarikan diri.


Buronan  itu tak bisa lari jauh, namun dia kabur ke keramaian dan menyandera seorang gadis kecil.


Gadis kecil itulah putri Willem.


"Karena kami, putri Willem tewas karena keparat itu melakukan bunuh diri. Itu adalah kasus paling menyakitkan dalam hidupku."


Magil menunduk dengan wajah suram. Rasa bersalah yang dia rasakan semakin bertambah karena Willem kini mati karena dirinya.


"Meskipun begitu, aku harap ayah tak berhenti berjuang. Kita memang tak bisa mengubah masa lalu, namun bisa memperbaiki kesalahan di masa depan."


"..."


Magil tak bisa berkata kata karena tak menyangka Charlmilia akan berkata seperti itu. Dia sadar Charlmilia telah menjadi dewasa tanpa dia sadari.


"Maaf ayah, sepertinya sudah waktunya."


Magil melihat ke arah jam. Upacara pengangkatan tak lama lagi akan segera dimulai.


"....Kau tak boleh terlambat."


Charlmilia berdiri dan mulai pergi, tetapi dia berhenti sebelum keluar.


"Ayah... Bagaimana menurutmu tentang apa yang aku lakukan ini?"


Menjadi keluarga kaisar berarti memutus hubungan dengan keluarga Magil. Hal itu membuat Charlmilia ragu dengan apa yang dia pilih.


"Sebagai orang tua aku hanya bisa mendukungmu."


"..!?"


"Kau sudah dewasa dan berhak memutuskan jalan yang kau ambil untuk masa depanmu. Selain itu kami tahu, dengan menjadi seorang putri, kau akan bisa memiliki masa depan yang lebih baik. Tak ada yang lebih membahagiakan orang tua daripada saat melihat putra dan putri mereka tumbuh menjadi seorang yang membanggakan. Meskipun kau memutus hubungan kita, tetapi izinkan aku tetap memanggilmu putriku. Hanya itu saja yang aku minta."


"....begitu."


Tanpa banyak kata, Charlmilia pergi dari ruangan Magil.


Saat keluar dia disambut oleh Holy Knight yang mengawalnya. Di saat itulah dia tiba tiba mengeluarkan air mata.


"Putri Charlmilia?"


"Bukan apa apa. Ini hanyalah masalah kecil."


Charlmilia menangis bukan karena sedih, namun bahagia. Dia sekarang akhirnya mengerti apa yang dilakukan  kedua orang tuanya demi masa depannya.


Dia diperintahkan belajar dengan giat agar memiliki pengetahuan yang cukup untuk menghadapi masalah. Dia diperintahkan untuk berlatih karena kedua orang tuanya tahu tak bisa melindunginya setiap saat.


Meskipun keras, namun semua itu dilakukan karena mereka mencintainya.


(Aku bahagia menjadi putri kalian. Karena itulah sekarang giliranku untuk mencapai jalan yang aku pilih dan membuat kalian bangga telah melahirkanku ke dunia)


Upacara pengangkatan tuan putri berjalan dengan baik tanpa ada halangan. Selain upacara yang meriah, hal yang menarik lainnya adalah tuan putri yang hadir terlihat bagai bidadari yang turun dari surga. Hal ini menambah kemeriahan upacara.


Masyarakat bersorak ramai karena ikut bahagia dan senang menyambut Charlmilia sebagai tuan putri baru.


Pesta pengangkatan dilakukan selama satu hari penuh di seluruh ibukota. Meskipun ini bukan pertama kalinya, namun ini adalah sebuah sejarah baru yang akan tertulis di buku sejarah yang akan dibaca oleh generasi masa depan.

__ADS_1


__ADS_2