
Semua orang berkata dia adalah seorang yang spesial.
Lahir dengan sesuatu yang spesial. Mampu menggunakan sesuatu yang spesial. Dan memiliki kedudukan yang spesial.
Tak ada yang membantah kalau dirinya memang orang spesial di dunia ini.
Sayangnya, memiliki semua itu bukan berarti membuat dirinya menjadi orang paling bahagia di dunia ini.
Sejauh yang dia ingat, dia adalah seorang putri. Tetapi semua tahu, penyihir elemen suci terlahir dari orang yang tak memiliki kekuatan sihir.
Tak butuh waktu lama hingga dia sadar kalau dirinya hanyalah orang yang beruntung.
apa ada yang salah dengan itu?
Keberuntungan juga bagian dari kekuatan.
Digabungkan dengan semua yang dia miliki, bukankah itu membuat dia menjadi yang terkuat?
Sayangnya, seperti pepatah bilang, di atas gunung yang tinggi, ada gunung yang lebih tinggi. Sekuat apapun dirinya, masih ada orang yang lebih kuat daripada dirinya.
Di kekaisaran sendiri, orang selalu berkata kalau Leon adalah orang paling kuat. Dia juga eksistensi spesial yang tak hanya memiliki energi sihir terbesar, tapi juga kekuatan perusak terbesar di antara semua Paladin.
Tetapi pepatah tadi juga berlaku pada Leon.
Orang terkuat di kekaisaran sebenarnya adalah kaisar itu sendiri, Sei Yamato.
Sekarang ini kekaisaran damai dan menjadi negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia, karena itulah hanya negara bodoh yang mau berperang dengan kekaisaran. Tetapi bukan berarti tak ada yang mencobanya.
Selama 300 tahun memimpin kekaisaran, Sei Yamato sama sekali tak pernah ikut bertempur dan hanya mengutus para Paladin sehingga tak ada yang tahu seberapa kuat dia.
Tetapi ketika Leon dan Sei bertarung, akan terlihat jelas siapa yang lebih kuat.
Suatu hari, dia bertanya pada Leon sendiri.
-Apa kau sanggup mengalahkan ayah?
"Itu mustahil. Sekuat apapun diriku, ketika aku berhadapan dengannya, diriku bagaikan anak kecil. Bukan hanya karena dia seorang penyihir elemen suci, tapi dia punya kekuatan yang tak manusiawi. Misalnya, aku mungkin bisa menghancurkan 3 gunung sekaligus dengan serangan penuhku, tapi dia bisa menghapuskan seluruh sihir yang ada di kekaisaran jika dia mau."
Meskipun Leon sendiri bisa dibilang eksistensi tak manusiawi, tentu saja dia tak langsung percaya dengan cerita yang bisa dibilang sama sekali tak masuk akal. Tetapi di saat yang sama dia sadar kalau tak ada yang dia ketahui tentang Sei Yamato selain dia seorang kaisar dan ayah angkatnya.
Dimulai dengan rasa penasaran, dia mulai mencari tahu tentang segala yang berhubungan dengan Sei Yamato. Mulai dari latar belakang seorang putra Holy Maiden, permaisuri pertama dan pendiri kekaisaran. Meskipun memiliki ibu terkenal, tak ada yang tahu siapa ayahnya. Hanya saja banyak yang berpikir kalau Sei adalah setengah dewa atau anak dari dewa.
Dia menjadi kaisar saat berusia 15 tahun dan mulai saat itu dia membuat kekaisaran hingga menjadi sekarang ini.
Melihat semua itu sungguh mengagumkan. Dia semakin bangga dan senang karena dia menjadi seorang putri dari sosok yang luar biasa tersebut.
Sayangnya, rasa bangga dan senang itu perlahan berubah menjadi perasaan yang lain.
bagaimana mungkin ini bisa terjadi?
Dia selama ini menganggapnya sebagai orang tua, keluarga. Sejak kapan perasaan itu berubah? Sejak kapan benih itu mulai tumbuh?
Tak hanya hubungan yang menjadi persoalan, tapi juga perbedaan umur yang begitu besar. Jika ada yang tahu hal ini, bukankah dia dianggap orang aneh? Atau orang mesum yang tak tahu batas dan akal sehat?
Pada akhirnya dia memutuskan untuk memendam perasan itu dan menjauhkan semua pemikiran tak masuk akal yang dia rasakan.
Lalu pada suatu hari yang cerah, dia ke ruang kerja kaisar.
"Ayah, apakah kau sedang sibuk?"
Bertanya seperti itu padahal melihat jelas tumpukan dokumen yang hampir segunung mungkin terlihat tak sopan atau menyindir, tapi Sei hanya tersenyum kecil. Sei tahu Victoria tak memiliki niat buruk.
"Tumben sekali kau menemui diriku di jam seperti ini. Biasanya kau menunggu pekerjaanku selesai. Mungkinkah kau memiliki sesuatu yang kau mau?"
Wajah dia memerah merona. Dia mencoba untuk tak melihat wajah Sei karena membuat hatinya berdebar.
"Aku ingin berlatih menggunakan sihir elemen suci. Aku mendengar dari paman Leon kalau ayah adalah penyihir elemen suci terkuat."
"Ahaha.. bocah itu sepertinya masih belum menerima kekalahannya. Aku senang jika dia menyebutku seperti itu."
"Jadi itu benar..."
"Anggap saja seperti itu. Lalu mengenai belajar sihir, ....aku pikir tak ada masalah karena sihir kita memang sedikit unik. Mencari guru cukup susah untuk kita."
Dia langsung tersenyum penuh kebahagiaan.
"Sayangnya tidak bisa sekarang. Dua hari lagi aku baru memiliki waktu luang."
"Begitu..."
"Jangan sedih. Demi putri tercintaku, aku sudah mempercepat jadwalku hingga bisa lebih cepat agar bisa mengajarimu. Yah.. akan berbeda jika ada yang membantu mengerjakan semua dokumen ini."
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku membantumu?"
"Hoho.. itu bukan ide yang buruk. Suatu hari kau memang akan mengurus semua ini."
Mengurus semua ini? Kalimat itu membuatnya langsung membayangkan kehidupan yang akan dia alami bersama Sei.
Hatinya langsung berbunga bunga.
"Victoria? Apa kau jadi membantu?"
"Te-tentu saja. Serahkan semuanya padaku."
Pada akhirnya, dia membantu Sei agar pekerjaannya lebih cepat selesai dan sekaligus belajar tentang pekerjaan seorang kaisar yang tidak sedikit.
Sayangnya...
"Maaf ayah, aku tak pandai dalam urusan matematika. Apalagi anggaran sebuah negara."
".....aku tahu itu."
Dua hari kemudian, dia dan Sei pergi menuju ruang latihan khusus untuk para anggota keluarga kekaisaran.
"Kita langsung mulai saja. Kau serang aku dengan segala yang kau miliki."
"Baik!!"
Meskipun lawannya adalah orang yang dia sayangi, tapi tak ada alasan untuk mengalah. Lagipula jika apa yang dikatakan tentang kaisar itu benar, dia tak perlu kawatir.
Dan itu terbukti dari kekalahan yang dia terima hanya kurang dari satu menit.
"Bagaimana mungkin ayah bisa sekuat ini?"
Tangannya gemetar karena masih belum percaya dengan apa yang terjadi.
Dia menyerang dengan sihir jarak jauh, Sei melawan dengan sihir yang sama. Tetapi serangannya dengan mudah dihapuskan meskipun keduanya pengguna sihir elemen suci.
Mengetahui itu dia beralih menggunakan serangan jarak dekat dengan Longinus, tapi serangannya berhasil dihindari dan ditahan hanya dengan pedang yang terbuat dari energi sihir.
Kemudian yang terjadi bisa ditebak. Dia menjadi mainan Sei.
"Teknik dasar yang kau miliki sudah cukup baik. Sihir yang kau gunakan juga sudah tepat. Sayangnya kau seperti tidak tahu sama sekali tentang arti menjadi pengguna elemen suci."
"Tak tahu menjadi pengguna elemen suci?"
"Benar. Elemen suci dikenal bisa menghapuskan semua yang mengandung sihir, tapi itu tidak benar. Daripada menghapuskan, kekuatan kita lebih tepat jika disebut mengurai dan mengembalikan."
Dia memiringkan kepalanya karena tak mengerti.
"Dunia mengenal sihir kita dengan elemen suci, tapi sebenarnya kita adalah pengguna elemen kosong (void)."
"Eh?"
"Haha.. ini suatu yang wajar jika bingung. Bagaimanapun juga hal ini sangat berbeda dengan yang selama ini kau pelajari dan diketahui di dunia luar. Bagaimana? Apa kau masih mau melanjutkan?"
Dia tak tahu apakah harus menerima kebenaran yang baru saja dia dengar atau tak peduli dan memilih mengabaikan.
Tapi hatinya menunjukkan jalan yang ingin dia pilih...
"Tentu saja!! Mungkin cara berpikir berbeda daripada sebelumnya, tapi itu tak akan mengubah siapa diriku."
Sei tersenyum seolah puas dengan jawaban yang dia berikan.
Kemudian, pelajaran dilanjutkan dengan hal yang lebih mengejutkan lagi.
"Sebelum itu. Kita bahas dulu mengenai penyihir elemen suci (void)."
Penyihir elemen suci dikenal sebagai keturunan yang unik dan berbeda dengan penyihir pada umumnya. Jika penyihir biasa akan terlahir dari seorang penyihir, penyihir elemen suci terlahir dari seorang yang tak memiliki kekuatan sihir.
Karakteristik lainnya adalah setiap generasi hanya akan ada 7 penyihir elemen suci di dunia ini. Tak lebih dan tak kurang. Dan mereka semua adalah wanita.
Apa yang menyebabkan fenomena ini masih diteliti dan menjadi misteri. Tapi banyak yang beranggapan kalau penyihir elemen suci adalah sosok terpilih dan memiliki peran tertentu di dunia.
"Lalu bagaimana dengan ayah?"
Sei langsung memasang wajah rumit.
Penjelasan yang dia berikan berkebalikan dengan kenyataan dan eksistensi dirinya yang seorang lelaki dan seorang penyihir elemen suci.
"Kau salah jika diriku adalah sebuah pengecualian. Ayahku sedikit tak normal. Setiap kali dia memiliki anak, anak yang terlahir akan mewarisi karakteristik ibunya."
__ADS_1
"Tunggu!! Ayahnya ayah?"
"Kau tak berpikir aku terlahir dari batu kan? Yah.. semacam itulah. Kembali ke topik. Ketika penyihir melakukan sihir, mereka mengubah dan memanipulasi energi sihir menjadi fenomena. Itu bisa dibilang sebuah proses dari A ke B, dan B ke C."
"..."
Dia lebih fokus dengan alasan kenapa Sei tak begitu ingin membahas ayahnya, tapi itu tak masalah. Untuk sekarang.
"Victoria. Kau mendengarkan?"
"Tentu saja. Sihir biasa berupa proses dari A sampai C."
"Benar. Proses ini juga berlaku pada kita, hanya saja kita memiliki proses tambahan yaitu, dari C kembali ke A."
Dia mengerti apa yang dijelaskan karena tak begitu jauh berbeda dengan pengertian yang selama ini dia ketahui.
Tetapi-
"Tunggu. Jika kita mengembalikan sihir ke asalnya, kemana semua itu kembali?"
"Semuanya kembali menjadi energi sihir murni dan akhirnya kembali kepada dunia ini. Jika kau paham itu, kau seharusnya tahu apa arti sebenarnya menjadi seorang penyihir elemen suci."
Pada hari itu pelajaran cukup sampai di situ saja.
Latihan itu membuat dia sadar sekuat apa orang yang dia sukai dan seberapa lemah dirinya. Tetapi dia sadar akan sesuatu yang lebih penting.
Penyihir elemen suci berperan mengembalikan energi sihir menjadi murni. Atau bisa juga disebut sebagai tanpa elemen.
Tapi jika seperti itu, bukankah ada kebalikan dari energi sihir murni?
Energi sihir yang ternoda.
-Siapa yang membuatnya?
----
Beberapa hari berlalu sejak saat itu. Dia tak bisa berlatih dengan Sei karena sibuk. Tetapi dia akan kembali menemani setelah pekerjaannya selesai.
Hal itu tentu saja tak begitu membuat dia senang. Tetapi mau bagaimana lagi. Tak ada yang bisa dia perbuat. Yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu.
Kemudian, akhirnya Sei kembali menemaninya berlatih. Sama seperti sebelumnya, dia dan Sei bertarung dan merevisi apa yang kurang.
"Kau tahu apa yang menjadi kesalahanmu dalam pertarungan tadi?"
"Um.. ketika aku berusaha menyerang dengan peluru sihir. Seharusnya itu tak aku lakukan karena percuma."
Mendengar itu Sei mendesah.
"Tidak. Kau tak salah menyerang dengan cara itu. Yang menjadi masalah adalah kau bertarung tanpa menggunakan strategi."
Victoria memiliki bakat dalam seni bertarung, hanya saja dia masih terlalu polos. Serangannya mudah terbaca dan tak begitu memiliki banyak pola serangan.
Itu bukan berarti dia tak ada perkembangan.
"Dalam pertarungan sebelumnya kau seharusnya tahu kalau aku lebih kuat daripada dirimu. Dengan dasar itu, bukankah kau harus menggunakan strategi untuk melawanku?"
"Tapi apa gunanya membuat strategi jika lawanku adalah orang terkuat di kekaisaran?"
Dia selama ini berlatih bertarung dengan Holy Knight. Dia berhasil menang dengan usaha keras dan menggunakan keunggulannya sebagai penyihir elemen suci.
Sayangnya, semua itu tak berlaku pada Sei yang seorang terkuat dan seorang penyihir elemen suci. Meskipun ingin menang, dalam hatinya tahu kalau itu adalah hal yang mustahil.
Sei mendesah.
"Apakah itu cukup untuk menjadi alasan kau berhenti berusaha?"
"Eh?"
Dia tersentak.
"Hanya karena tahu lawanmu lebih kuat, kau akan memilih untuk lari?"
"Ti-tidak. Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin bilang kalau dengan kemampuanku saat ini, apapun yang akan aku lakukan tak akan ada gunanya."
"Lalu untuk apa kita berlatih?"
"!?"
"Bukankah kau ingin berlatih karena ingin menjadi lebih kuat? Apakah tekadmu hanya sampai segini saja?"
"..."
Dia tak bisa membantah. Apa yang dikatakan Sei semuanya benar.
Dia tak memiliki tekad yang cukup untuk menjadi lebih kuat. Alasan dia ingin berlatih hanya ingin menghabiskan waktu dengan Sei dan juga karena rasa penasaran.
"Ayah... Maaf."
"Tidak. Akulah yang harus minta maaf. Aku pikir kau memiliki niat serius untuk berlatih. Tapi sepertinya ini terlalu awal untukmu."
Statusnya sebagai tuan putri menuntut dirinya untuk memiliki tanggung jawab yang besar, tapi dia belum mengerti apa artinya memiliki tanggung jawab sebesar itu.
"Hari ini cukup sampai di sini. Jika kita melanjutkan latihan ini hanya akan percuma."
"..."
"Victoria. Aku akan menemanimu berlatih kapanpun kau mau. Tapi sebelum itu, pikirkanlah apa yang ingin kau lakukan dan apa yang menjadi impianmu. Jika kau tak memiliki sebuah tujuan, kau tak akan pernah melangkah maju."
---
Waktu berlalu dengan cepat sejak terakhir kali dia berlatih dengan Sei. Selama itu pula dia masih bingung dengan apa yang ingin dia lakukan dan tujuan dalam hidupnya.
Lalu pada hari itulah dia mendengar akan segera diadakan pertarungan penyisihan untuk memilih peserta Battle War tahun ini.
Pemenang dalam Battle War akan diberi kesempatan untuk meminta satu hal pada kaisar. Selama masih dalam batas wajar, keinginan apapun akan terpenuhi.
"Keinginan huh..."
"Tumben sekali kau melamun tuan putri."
"Ah.. Arei. Apa kau sudah selesai?"
Seorang gadis duduk di samping Victoria. Gadis itu memiliki rambut pendek dan terlihat lebih mirip seorang lelaki. Tak hanya itu, dia bahkan memakai celana panjang.
Identitas gadis itu adalah pasangan Victoria. Tak hanya mampu menggunakan sihir khusus, tapi juga memiliki keahlian khusus untuk bertarung bersama dengan penyihir elemen suci. Inilah alasan kenapa dia satu satunya yang memenuhi syarat untuk menjadi pasangan Victoria.
Meskipun sekilas terlihat tomboy, tapi Arei memiliki sifat feminim yang hanya akan muncul saat menyangkut orang yang dia cintai.
Sifat yang bertentangan ini membuat Arei memiliki daya tarik yang begitu spesial.
"Aku sudah selesai. Dia hanya minta hadiah apa yang aku minta untuk hari ulang tahunku. Ngomong ngomong, kenapa kau melamun?"
"Seperti biasa kalian sungguh romantis."
"Ahaha.. aku rasa masih di batas wajar."
"Hal yang kau bilang wajar, aku sama sekali tak paham. Bagaimana kau bisa menyebut saling mencintai dengan bermesraan?"
Arei tersenyum kecut mendengar pertanyaan itu, tetapi akhirnya dia paham apa yang membuat tuan putri melamun.
Kemudian, akhirnya Victoria resmi menjadi peserta Battle War. Dia menjadi peserta yang difavoritkan dan akhirnya menjadi pemenang.
Tetapi ketika berbicara tentang keinginan, dia sama sekali belum tahu.
"Arei meminta wilayah baru untuk dikelola. Sungguh, anak seorang pembisnis sungguh memikirkan masa depan. Victoria, sekarang tinggal kau yang belum menyebutkan keinginanmu. Sebagai Ayah dan kaisar, aku berjanji akan memberikan hal yang kau minta."
"Err... Maaf, aku masih bingung."
"Bagaimana kalau aku memberikan saran. Kau bisa meminta wilayah yang akan kau kelola, atau bisa juga rahasia besar yang ingin kau ketahui."
Rahasia yang dimaksud pasti tentang kelahirannya. Victoria memang penasaran, tapi dia tak begitu memikirkannya.
Lagipula dia sudah mencaritahu.
Dia lahir dari keluarga petani sederhana di wilayah pinggir kekaisaran. Hidup sederhana menjadikan mereka begitu peduli dengan orang di sekitar dan dikenal sebagai pasangan yang baik hati.
Tetapi semua itu tak berlangsung lama saat tahu kalau putri mereka lahir dengan kekuatan spesial.
Mereka langsung saja memberikan Victoria pada pihak kekaisaran dengan imbalan berupa uang yang cukup untuk membuat mereka tak perlu bekerja lagi. Tindakan itu sama saja menjual Victoria, karena itulah dia sama sekali tak memiliki rasa kekeluargaan pada mereka.
Baginya keluarga kekaisaran adalah keluarga yang lebih berharga daripada keluarga aslinya.
"Maaf ayah. Aku selama ini selalu berpikir hal apa yang paling aku inginkan. Kekuatan. Kedamaian dunia. Rahasia besar. Jujur saja semua itu menggoda. Hanya saja bagiku itu bukan suatu yang begitu penting karena dapat dilakukan tanpa harus membuat permohonan."
"Kau akhirnya sudah mulai berpikir secara dewasa. Di dunia ini banyak hal yang tak bisa diraih hanya dengan membuat permohonan. Hanya saja saat ini permohonan yang kau minta adalah sebuah hadiah dari perjuangan. Kau juga bisa menyebutnya ini sebagai hasil kerja kerasmu."
Ini tak jauh berbeda dari upah yang dibayarkan setelah bekerja. Hanya saja caranya saja yang berbeda.
"....kalau begitu. Apakah tak apa apa aku meminta hal yang biasa?"
"Tentu saja."
Sebagai tuan putri, Victoria hampir bisa mendapatkan segalanya. Mungkin ini yang menyebabkan dia tak begitu memiliki keinginan besar yang berlebihan.
"Kalau begitu. Aku ingin menjadi seorang pengantin."
"Ya. Suatu saat kau memang akan menikah. Jadi pangeran negara mana yang ingin kau jadikan suami?"
Tanpa menjawab, Victoria menunjuk jarinya ke arah Sei.
"..."
Itulah awal mula dari hubungan yang begitu rumit dan membuat orang paling kuat di kekaisaran menjadi pusing.
__ADS_1
Sei sekilas memang tak memiliki kelemahan, tapi itu salah. Dalam hidupnya selama 300 tahun lebih, hanya ada satu hal yang membuat dia selalu dalam masalah.
Itu adalah urusan dengan wanita.
▪️▪️▪️▪️
Permintaan itu tentu saja tak bisa begitu saja dipenuhi. Selain awal mula hubungan mereka adalah keluarga, ada banyak hal lain yang menjadi masalah jika permintaan itu diwujudkan.
Sebagai tuan putri yang diajari tentang politik dan masalah negara sejak kecil, dia tahu itu bukanlah permintaan yang mudah diwujudkan.
Karena itulah untuk mengimbangi beban dari permintaan tersebut, Sei memberikan syarat untuk memenangkan Battle War sebanyak tiga kali. Barulah dia akan mengabulkan permintaan yang penuh dengan masalah tersebut.
Tentu saja itu tugas yang berat mengingat peserta Battle War sebagian besar adalah penyihir dengan kemampuan abnormal dan bahkan ada yang aneh.
Tetapi itu bukan menjadi alasan untuk Victoria mundur. Dia bahkan merasa menemukan tujuan hidup yang selama ini dia cari.
Lalu dengan usaha kerasnya, dia menjadi juara Battle War untuk kedua kalinya.
Tinggal satu langkah lagi untuk menuju tujuannya. Dia merasa senang dan ingin membahas itu lebih lanjut dengan Sei.
Pada momen itulah dia melihat suatu yang menjadi rahasia besar seorang Sei Yamato. Wujud sebenarnya kaisar yang dikenal tua ternyata adalah seorang pemuda yang begitu manis.
Pada momen itu pula sesuatu bangkit pada diri Victoria. Perasaan itu meluap dan tak bisa terbendung lagi. Perasaan cinta yang selama ini dia tahan akhirnya hancur.
Inilah kelahiran dari Victoria yang menjadi seorang Shotacon.
Tetapi itu bukan berarti masalah mereka selesai. Justru inilah alasan sebenarnya kenapa hubungan Sei dan Victoria tak boleh berlanjut.
"Aku menolak dirimu bukan berarti aku tak bisa melihatmu sebagai seorang wanita. Hanya waktu yang bisa menjawab semua itu. Tetapi seperti yang kau ketahui sendiri. Aku ini bukanlah suatu yang normal."
Ada alasan kenapa Sei Yamato bisa memiliki umur panjang. Yang pertama, dia adalah setengah elf. Umur ras ini lebih panjang dari manusia, tapi tak bisa sepanjang umur elf. Dalam catatan, umur seorang setengah elf tak lebih dari 200 tahun.
Tetapi umur Sei sudah mencapai 300 tahun lebih. Untuk menutupi ketidaknormalan dirinya, dia bahkan menggunakan sihir ilusi untuk menciptakan sosok yang dikenal sebagai pria tua yang sudah mencapai batas usia.
Bahkan hanya dengan melihat wujudnya yang tak lebih tua dari Victoria, Victoria bisa menebak apa yang menyebabkan selama ini Sei tak pernah memiliki seorang kekasih.
"Aku sendiri tak tahu berapa lama akan hidup. 100 tahun, 200, 300 atau bahkan 1000 tahun. Sebagai seorang yang memiliki umur panjang, aku sudah berulang kali mengalami pertemuan dan perpisahan. Dulu aku benci pada orang itu karena selalu berpikir untuk mati, tapi aku akhirnya paham apa yang dia rasakan."
Ini adalah kenyataan tentang orang yang dia sayangi dan cintai.
"Pertemuan dan perpisahan suatu yang selalu terjadi di dunia ini, tapi aku selalu menjadi orang yang ditinggalkan sendirian."
Pada hari itu hati Victoria merasa benar benar tertusuk. Dia hanya ingin mewujudkan keinginan dan rasa cintanya. Tetapi dia lupa satu hal penting, yaitu perasaan Sei.
◼️▪️▪️▪️
Sejak mengetahui kenyataan tentang Sei, Victoria menjadi bingung dengan apa yang dia lakukan.
Dia mencintai Sei sebagai lawan jenis, bukan sebagai keluarga. Karena itulah tak aneh jika dia memiliki keinginan untuk dicintai dan membentuk sebuah keluarga dengan Sei.
Awalnya dia berpikir memenangkan Battle War sebanyak tiga kali adalah sebuah jalan sulit yang harus dia tempuh untuk memenuhi keinginannya itu, tapi dia terlalu naif.
Ini bukan hanya tentang mengubah pandangan Sei terhadap dirinya, tapi juga harus mengubah cara berpikir Sei dan menyelesaikan masalah yang menjadi akar semuanya.
Sejak awal Sei adalah eksistensi yang tak normal di dunia ini. Karena itulah cara normal tidak berlaku untuknya.
Sei bukannya tak ingin mencintai, tapi dia tak bisa mencintai. Dia takut pada dirinya sendiri yang merupakan eksistensi tak normal.
Mengetahui kenyataan itu membuat hati Victoria merasa sakit. Bukan karena tak bisa mengerti apa yang dirasakan Sei, tapi dia merasa sakit karena tak bisa berbuat apapun untuk masalah itu.
--apa yang harus aku lakukan?
Saat melamun sendirian memikirkan jalan yang harus dia ambil, orang yang tak terduga mendekatinya.
"Kakak Victoria apa kau sedang mengalami masalah?"
"Ah.. Riana... Yah.. aku memang sedang dalam masalah."
Riana duduk di samping Victoria.
"Apakah kau tak keberatan jika aku mendengarkan?"
Victoria tahu Riana hanya ingin membuat dia merasa lebih baik. Meskipun tak bisa menyelesaikan masalah, tapi itu akan membuat hati Victoria merasa lebih lega.
"Maaf karena membuatmu cemas. Hanya saja masalah yang aku hadapi ini sedikit tak normal."
"Fufu.. Akhir akhir ini aku mendengar masalah seperti itu. Apa yang terjadi di dunia ini?"
"Ini bukan candaan. Aku serius."
"Aku juga."
Setelah itu mereka terdiam sesaat. Dan kemudian tertawa kecil.
"Kakak, masalah yang kau hadapi ini, mungkinkah ada hubungannya dengan ayah?"
Victoria tak menjawab dan hanya mengangguk kecil.
Suatu hari Riana akan tahu, jadi tahu nanti atau sekarang tak ada bedanya.
"Aku tak tahu mulai sejak kapan, tapi aku tak bisa melihat ayah sebagai keluarga lagi. Aku hanya bisa melihatnya sebagai seorang lawan jenis."
"..."
"Aku tahu, dari sudut pandang orang lain ini mungkin sesuatu yang tak bermoral dan tak masuk akal, tapi itu tak akan mengubah apa yang aku rasakan terhadap ayah. Riana, setelah mendengar ini, apakah kau masih menganggap aku normal?"
Riana kembali tersenyum dengan lembut. Dia tak menunjukkan wajah jijik setelah mendengar semua itu.
"Apa yang aneh dari seorang yang jatuh cinta pada lawan jenis?"
"Itu tak salah, tapi itu tetap saja tak normal bagi orang seperti kita."
Mereka bukan hanya penyihir elemen suci, tapi juga orang paling penting di kekaisaran. Apa jadinya jika orang sepenting mereka menunjukkan sesuatu yang tak bermoral dan tak bermartabat?
"Apakah hanya itu alasannya?"
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Kakak bukanlah orang yang suka memikirkan sesuatu yang rumit. Dirimu yang biasa akan menyelesaikan masalah dengan cara paksa tak peduli apa yang orang lain pikirkan. Kemana kakak yang selama ini aku kenal?"
Meskipun merasa sedikit tertusuk mendengar itu secara langsung, tapi Victoria tak membantah. Dia sadar dirinya seperti apa yang Riana katakan.
"Aku tak kemana mana, hanya saja kali ini aku tak bisa menggunakan cara seperti itu. Masalah ini berada di luar kendaliku. Karena itulah aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan."
Ini masalah yang menyangkut perasaan, karena itulah dia tak bisa menggunakan cara paksa.
Tetapi-
"'Aku akan melakukan apapun demi orang yang aku sayangi. Meskipun itu berarti melawan seluruh dunia'."
"Riana, apa maksudmu?"
"Tidak apa apa. Itu hanyalah perkataan dari orang yang aku kenal. Meskipun itu tak masuk akal. Jika dirinya, aku merasa dia akan benar benar sanggup melakukan itu."
"Dia pasti sudah gila."
"Memang. Tapi apa ada yang salah dengan itu? Demi satu orang dia akan melakukan segalanya. Itu sesuatu yang gila dan tak masuk akal. Hanya saja, aku rasa itu lebih baik daripada harus bingung dengan apa yang perlu dilakukan. Jika rumit, buatlah menjadi mudah. Jika tak ada jalan, buatlah jalan sendiri. Hancurkan dinding yang menghalangi dan kalahkan semua musuh. Aku tak mengatakan semuanya adalah jalan mudah, tapi apakah kau akan menyerah hanya karena semua itu?"
Mendengarkan semua itu, dia ingat kembali dengan apa yang dikatakan Sei.
'Hanya karena kau tahu musuhmu lebih kuat, kau memutuskan untuk lari?'
Dia berpikir sudah menjadi lebih kuat setelah berhasil memenangkan Battle War sebanyak dua kali, tapi pada kenyataannya dia sama sekali belum berubah.
Dia hanyalah seorang pengecut yang berhenti berusaha ketika menemukan jalan buntu.
Benar. Sebelum dia mengubah orang lain, yang pertama kali harus dia ubah adalah dirinya sendiri.
Menurut Sei alasan utama mereka tak bisa bersama adalah perbedaan umur. Jika seperti itu, itu bukanlah sebuah masalah yang sulit.
Di dunia yang penuh dengan sihir ini, sudah menjadi hal biasa untuk penyihir memiliki umur yang lebih tua daripada manusia biasa. Dalam kasus Sei memang sedikit tak normal, tapi itu bukan masalah yang begitu besar jika dipikirkan dengan baik.
"...Ya ampun. Ini lebih mudah daripada yang aku perkirakan. Terima kasih Riana. Aku akan langsung mengatakannya pada ayah. Kali ini aku akan menunjukkan semua tekadku!!"
Tanpa banyak kata lagi, Victoria pergi seperti seekor kelinci.
Riana hanya tersenyum kecil melihat Victoria sudah kembali seperti biasa.
[Kau sungguh orang tua yang pengertian]
Sesosok wanita tiba tiba muncul.
Wanita itu memiliki rambut pirang yang memantulkan cahaya mentari. Mengenakan pakaian serba putih yang indah dengan aura suci yang menyilaukan. Di punggungnya terdapat sepasang sayap putih murni tanpa noda yang siap membawa dia terbang ke langit luas. Lalu sebuah lingkaran cahaya melayang di atas kepala wanita itu sebagai bukti kalau eksistensinya tak bisa disebut sebagai manusia.
"Michael, sudah aku katakan berulang kali untuk tak muncul kecuali aku memanggilmu."
Riana mendesah dalam. Meskipun dia jengkel, tapi dia tak bisa berbuat apapun dengan sifat buruk magic beast miliknya.
[Aku bosan hanya menunggu panggilanmu. Lagipula kau belum lama mengingat kembali kehidupan masa lalumu. Yah.. jika dibandingkan dulu, aku pikir sekarang kau lebih cantik.]
"Aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Hentikan itu. Masalah ini tak sesederhana itu."
[Kau hanya takut karena masih merasa bersalah dengan apa yang kau lakukan padanya.]
"..."
[Satu hal yang pasti, jika aku jadi dirimu, daripada sedih memikirkan apa yang sudah terjadi, aku akan langsung menampar orang itu dengan kekua-]
Belum sempat selesai, Riana mengembalikan Michael.
Dia tahu mungkin apa yang dikatakan Michael seperti sebuah keluhan, tapi Michael adalah bagian dari dirinya. Michael hanya mengatakan apa yang tak ingin dia katakan.
"Ya ampun. Meskipun begitu, aku merasa tak berhak memilikimu lagi. Bagaimanapun juga aku adalah orang yang membunuhmu, .......Kuro."
__ADS_1
Tak ada yang mendengar gumaman Riana yang penuh dengan penyesalan.