
Setelah mendengar pertanyaan yang mengejutkan semua orang, Kuro menunduk di depan Clara. Dia lalu tersenyum dengan lembut.
"Clara, apa kau mengerti apa yang baru saja kau katakan?"
Clara menunjuk bibirnya seperti sedang berpikir apa yang dimaksud Kuro.
Sementara itu, meskipun di mata semua orang Kuro adalah seorang lelaki tipe Lady Killer, namun cukup mengejutkan dia mampu menarik perhatian gadis kecil.
Tapi jika diingat lagi, Kuro cukup akrab dengan anak kecil. Bahkan anak kecil itu lebih didominasi oleh anak perempuan.
(Untuk alasan tertentu, aku punya firasat buruk.)
Dan entah mengapa Laila sering merasakan hal itu akhir akhir ini. Dia hanya berharap Kuro tak membangkitkan suatu yang aneh.
"...tentu. Menikah itu artinya aku akan memakai gaun pengantin di gereja bersama kakak."
"Yup, kurasa itu tak terlalu salah. Namun jika kau sudah mengerti tentang hal itu, kau pasti juga mengerti sebelum memakai gaun pengantin, dua orang itu harus saling mencintai. Apakah kau memiliki perasaan itu?"
"...."
Clara terdiam dan melirik ke Lia seperti meminta bantuan.
Tetapi Lia seolah tak terlalu peduli dan seperti membiarkan Clara untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
"..kau tak memiliki cinta yang ku maksud, jadi untuk sekarang kita tak mungkin menikah."
"Tidak bisa?"
"Yup. Meskipun sekarang kau tak mengerti, namun suatu saat kau pasti akan mengerti apa yang ku maksud. Dan kau pasti sudah tahu kakak memang akan menikah, namun akan menikah dengan Laila. Saat ini dialah yang aku cintai."
Clara lalu melirik ke Laila. Dan entah mengapa selain tatapan polos, dia juga menunjukkan tatapan aura penuh persaingan.
(Ini sangat buruk. Saingan bertambah dan kali ini adikku sendiri..)
Ini tak lain lagi adalah sebuah bencana. Bencana besar dan tak terduga. Laila ingin menangis, namun dia menahan diri karena tak mau terlihat menyedihkan di depan adiknya dan semua saingannya.
Tapi saat ini Clara masih berumur 8 tahun. Dia masih kecil. Meskipun kepintarannya di atas rata rata, namun cinta adalah suatu pengalaman yang tak mudah dimengerti meskipun menggunakan rumus. Karena itulah meskipun saat ini di hati Clara timbul rasa cinta atau suka, namun dia masih belum bisa mengekspresikan apa yang dia rasakan.
Sebagai hasil dari itu, kata yang paling dekat dengan cinta, 'pernikahan' adalah suatu yang muncul dari ketidaktahuan atas perasaannya.
"Oh.. benar juga. Kakak dan kak Laila saling mencintai. Wajar kalau kalian akan menikah. Aku senang mengetahui itu."
"Yup."
Laila ikut menerangkan. Jika dia tak melakukannya, dia merasa akan mengarah ke suatu hal yang tak diinginkan.
Laila menunduk di samping Kuro dan menatap wajah polos adiknya.
"Clara, kau akan datang di pernikahanku?"
"Tentu saja aku akan datang. Mana mungkin aku melewatkan pernikahan kalian berdua."
Clara tersenyum dengan tulus. Dia seolah bagai malaikat kecil yang menyilaukan.
"Clara, sudah cukup mengganggu calon kakakmu. Bisakah kau kembali."
Lia memanggil karena merasa sudah cukup dan tak ingin memperkeruh atmosfer yang semakin berat oleh gadis yang sedang jatuh cinta.
"Baik, Mama."
Clara kembali dan duduk di samping Lia.
"Laila, Kuro duduklah. Kalian tak lupa kalau saat ini kita memiliki tamu yang penting."
Benar. Mereka hampir melupakan eksistensi sang putri, Riana.
Laila kemudian duduk di bangku kosong. Laila dan Scarlet duduk berdampingan. Karena perbandingan jumlah lelaki dan perempuan yang terlalu jauh, untuk alasan tertentu atmosfer menjadi aneh.
"Maaf karena tak sopan, putri Riana. Harap maklumi kebiasaan keluarga kami."
"Kuharap jangan terlalu formal, Bibi. Aku sudah mengenal kalian sejak kecil. Bisakah tak terlalu memperlakukan diriku seperti orang asing?"
Tapi Lia tak menunjukkan tanda dia akan menghilangkan sikap formal. Alasannya-
"Putri Riana mungkin kenal dengan keluarga kami, namun saat ini kau adalah tamu. Anda datang sebagai seorang putri kekaisaran dan bukan datang sebagai teman. Jika aku menghilangkan tata krama, aku akan dianggap tak menghormati anggota kekaisaran."
Riana langsung berkeringat dingin.
Lia dikenal suka berbuat seenaknya, namun juga dikenal bertindak tepat disaat yang tepat. Dengan kata lain, dia bisa membedakan saat bermain main dan saatnya untuk serius.
Riana mendesah.
(Aku seharusnya melakukan ini sejak awal.)
"Bibi, aku datang untuk bermain."
Setelah mendengar itu, Lia tersenyum kecil. Senyuman itu seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
"Akhirnya kau mengatakannya, Riana. Kau tahu aku benci bersikap formal. Apa kau senang menyiksaku?"
"Tentu tidak, Bibi. Namun saat ini aku memiliki beberapa hal yang harus kukatakan kepada Kuro dan Laila. Bisa dibilang aku adalah tamu dan disaat yang sama datang untuk bermain. Selain itu aku juga ingin bertemu dengan Clara."
Menyadari namanya disebut, Clara tersenyum dengan penuh kepolosan.
"..kalau begitu sepertinya ini bukan saatnya untuk mengobrol. Kalau begitu aku akan permisi dulu. Clara, Ibu ayo kita belanja."
Tanpa banyak kata, Scarlet berdiri dan di saat yang sama, Lia dan Clara bersiap meninggalkan ruang tamu.
"Semuanya, kami permisi dulu."
Scarlet menunduk sebagai ganti perpisahan.
Tak berapa lama kemudian, di ruang tamu hanya menyisakan Kuro dan para gadis.
".....baiklah, sepertinya Lia dan Scarlet memberikan waktu untuk kita bicara, tapi sebelum itu, .....apa tujuan kalian kemari dan kenapa kalian membawa wanita ini?"
Untuk alasan tertentu, mereka hampir lupa dengan Otome. Mungkinkah hawa kehadirannya memang setipis itu?
💠💠ðŸ’
Meskipun banyak yang ingin dibicarakan, namun yang pertama kali mereka jelaskan adalah alasan awal kenapa mereka semua menemui Kuro dan Laila.
Berawal dari sebuah undangan, mereka bertanya kepada Electra mengenai keberadaan keduanya. Tentu seperti biasa Electra tak langsung menjawab dan hanya menyuruh pergi ke ibukota dengan menggunakan sihir teleportasi.
Ketika mereka tiba di ibukota, mereka terkejut karena Riana sendiri yang menyambut mereka. Lalu setelah menanyakan beberapa hal, akhirnya mereka mengkonfirmasi kalau Kuro dan Laila berada di ibukota dengan tujuan mencari Lic (Izriva).
"Pada akhirnya ini hanyalah lelucon dari nenek itu kah... Aku tak ingin melibatkan orang lain dalam masalah kami, namun dia selalu saja membuat ulah."
Wanita licik tetap akan menjadi wanita licik. Kesan mereka kepada Electra tak akan pernah berubah. Tapi Kuro penasaran mengapa Electra mengirim mereka. Electra pasti tahu Kuro dan Laila pergi ke ibukota bukan untuk bermain.
(Aku tak tahu apa yang dia pikirkan.)
Laila memegang tangan Kuro dan tersenyum.
"Ayolah, jangan marah Kuro. Kita memang membuat keputusan itu, namun bukan berarti mereka akan ikut terlibat. Mereka hanya datang ke pesta lalu kembali, iya kan?"
Laila menatap Charlmilia, Alva dan Alvi, namun tak ada tanda mereka mengiyakan pertanyaan itu.
"Ini kesempatan yang bagus untuk membantu Kuro, benarkan Alvi?" Ucap Alva.
Alvi hanya mengangguk.
"Sedangkan aku memutuskan untuk membantu. Jadi jangan mencoba menolak bantuan kami. Apalagi setelah yang terjadi kepada Kuro, mana mungkin aku diam saja."
Charmilia terang terangan menunjukkan keinginannya untuk terlibat. Dia memang sudah terlibat.
"Aku sangat berterima kasih karena kau telah menyelamatkan Kuro, namun kami tetap berpikir tak bisa melibatkan orang lain dalam masalah ini. Jadi aku minta jangan mencoba membantu kami. Pulanglah setelah urusan kalian selesai hus hus.."
Meskipun mengusir, namun mereka tahu tak ada niat buruk dari Laila.
"Laila, aku mengerti kau tak ingin melibatkan temanmu karena kau tak ingin mereka terluka, namun kuharap kau memikirkan kembali setelah melihat ini."
Riana mengambil sesuatu dari sakunya. Itu adalah semacam kristal. Dari kristal itu muncul gambar orang orang bertopeng yang pernah melawan Kuro.
Karena itu benda sihir, Riana harus berhati hati agar tak menghilangkan efek sihir di kristal itu. Kemampuan untuk mengontrol yang baik diperlukan, dan dia tak terlalu berbakat dalam hal itu. Namun dia berhasil melakukannya.
"Inilah sosok musuh kita saat ini, homunculus. Tidak, kurasa jika ini lebih cocok disebut ciptaan mereka."
"Homunculus?"
"Oh iya ..Aku belum memberitahumu mengenai musuh yang ku lawan. Yang ku lawan bukanlah manusia, namun homunculus. Mereka benar benar menciptakan hal merepotkan."
Mata Laila melebar setelah mendengar itu dari mulut Kuro.
__ADS_1
"Seperti yang dibilang Kuro, homunculus tampaknya menjadi pasukan musuh kali ini. Apa yang akan ku ceritakan ini merupakan rahasia negara, jadi aku ingin semuanya berjanji untuk tak membocorkannya. Tapi aku yakin Kuro sudah tahu, jadi aku rasa aturan ini berlaku kepada kalian saja."
Semua mendengarkan.
"Homunculus pertama kali diciptakan oleh alkemis yang disebut Q. Nama dan identitasnya tak pernah diketahui, namun selain dikenal sebagai jenius, dia juga dikenal sebagai tangan kanan Demon King."
Hmm... kenapa nama orang itu muncul lagi? Apakah ini kebetulan?
"Laila, jangan melamun."
"I-iya.. aku hanya terlalu serius."
Riana melanjutkan.
"Lalu seperti yang bisa kalian tebak, Q menciptakan homunculus untuk berperang dalam Light War dan saat itu jumlah korban tidaklah sedikit."
"Tunggu, aku baru mendengar kalau homunculus ada dalam perang yang terjadi 400 tahun yang lalu?"
Apa yang dikatakan Charlmilia tidak salah. Alva dan Alvi bahkan menunjukkan kebingungan mereka.
Dalam buku sejarah, banyak disebutkan kalau Demon King memiliki pasukan yang mengerikan. Hell Beast, Necrodra, Demon (Iblis), penyihir jahat dan masih banyak lagi seperti monster. Dengan kekuatan besar itulah Demon King hampir menghancurkan dunia.
"Kalian jangan pernah percaya dengan buku sejarah!"
"Kata itu cukup mengejutkan datang dari mulutmu, Laila."
"Ge.- apa maksudmu berkata seperti itu? Apa kau mau ku hukum?"
"Putri Riana, bisakah kau lanjutkan sebelum pasangan itu semakin menebar kemesraan mereka?"
"Kuro, apa kau mendengar itu? Itu adalah kata dari orang yang iri hati."
Charlmilia langsung merasa tertusuk.
"Fufu.. tapi sebagai orang dewasa, aku harus memakluminya. Memilikimu sungguh banyak cobaan.."
"..."
Kuro tak mau berkomentar.
Namun dia tak pernah melihat Laila memprovokasi terlebih dahulu. Jadi mungkin ini adalah sebuah tantangan kepada mereka semua.
Dan tentu saja mereka semua menerima tantangan itu.
Percikan muncul dari mereka berempat. Mereka dengan penuh semangat memperebutkan satu orang pria. Sementara itu, Riana dengan santainya meneguk teh di tengah atmosfer yang penuh permusuhan itu.
Wanita memang menyeramkan.
"...Ehem.. kembali ke topik. Seperti yang dikatakan Laila, buku sejarah yang beredar luas saat ini sebagian besar sudah diubah karena sejarah yang sebenarnya sangatlah berbahaya jika diketahui kebenarannya. Contohnya seperti keberadaan homunculus."
"Tapi bukankah homunculus seperti manusia buatan atau kloning kan? Aku masih tak terlalu mengerti apa bahaya dari itu? Apalagi yang ku lawan bahkan mudah sekali kukalahkan."
Charlmilia masih ingat jelas dengan kemampuan homunculus yang menyerang Kuro di kota Ruigars. Mungkin mereka memiliki kemampuan seperti penyihir elemen suci, namun mereka lambat dan mudah sekali terkena serangan. Dengan kata lain mereka lebih lambat daripada penyihir normal.
"Mereka memang lemah, tapi itu karena lawannya adalah dirimu."
"Apa maksudmu?" tanya Alva.
"Apa yang dikatakan Kuro benar. Mereka lemah karena lawannya adalah Charlmilia. Kelebihan homunculus jika dibandingkan dengan kloning atau manusia buatan lain adalah mereka bisa diciptakan tergantung siapa yang akan mereka lawan."
Charlmilia langsung mengerti maksud dari penjelasan itu.
"Begitu rupanya. Pantas saja mereka lemah. Mereka tak diciptakan untuk melawanku. Tapi mereka pasti tahu Kuro tidaklah lemah, aku yakin percuma saja membuat homunculus untuk melawan Kuro."
Kuro selalu menunjukkan kekuatan yang luar biasa. Dalam pertempuran di Dragonia, Charlmilia ingat betul Kuro menggunakan serangan tingkat tinggi bahkan sihir. Jika ada yang berusaha menebak seberapa besar kekuatan Kuro, mungkin itu adalah salah satu hal mustahil di dunia.
Dengan kata lain, seberapa sering musuh membuat homunculus untuk menandingi kemampuan Kuro, tindakan mereka akan percuma saja.
Setidaknya itulah yang dipikirkan Charlmilia, namun tak ada yang menunjukkan ekspresi tenang. Maklum saja, meskipun dengan kekuatan luar biasa, Kuro hampir mati.
"Masalahnya bukan itu, Charlia. Masalah yang sebenarnya adalah jika musuh tak hanya menciptakan homunculus bukan untuk melawan diriku saja. Selain itu, ada orang 'itu' dalam kelompok mereka.. ha... Laila, jujur saja masalah ini semakin rumit."
"Tenang saja, Kuro. Aku yakin kita bisa melewati semua rintangan dengan kekuatan cinta kita."
Keduanya saling menatap satu sama lain dan menciptakan dunia untuk mereka berdua.
"Laila... aku senang sekali.."
"Aku juga..."
Sayangnya, Kuro dan Laila mengabaikan perkataan Riana. Mereka seolah menutup rapat ruangan yang penuh dengan aura pink.
"...aku rasa percuma mengganggu mereka, tapi putri Riana, jika yang dikatakan Kuro benar, bukankah itu artinya negeri ini dalam bahaya besar?"
"Alva, itulah alasan aku membicarakan hal ini dengan Kuro, bagaimanapun juga dia kunci dari semua masalah ini."
"Bagaimana bisa? Mungkinkah karena Kuro memiliki hubungan dengan Demon King?"
"...itu tak sepenuhnya benar, tapi tak sepenuhnya salah. Hubungannya dengan Demon King memiliki pengaruh yang sangat besar, namun saat ini yang terpenting adalah bukan itu, namun Kuro yang seorang mantan Shadow Knight dan kekasih Laila."
"Aku mengerti hal itu karena kami memiliki pendapat yang sama. Kuro adalah Kuro. Tetapi...-"
Riana lalu mengambil kristal lainnya dan mengaktifkannya. Kali ini muncul gambar seorang pemuda.
Pemuda itu terlihat biasa saja. Tak terlalu tampan atau memiliki sesuatu yang mengesankan sehingga membuat orang tertarik kepadanya. Tapi pemuda itu memiliki rambut hitam dan mata hitam yang mengingatkan mereka kepada Kuro.
"Ada apa dengan dia?"
"Pemuda inilah dalang dari semua kejadian ini."
Charmilia dan lainnya melebarkan matanya.
"Hm? Tunggu Riana, kau sudah tahu siapa dalang dari semua ini?"
Laila akhirnya bisa pergi dari dunianya. Kuro juga kembali fokus ke pembicaraan.
"Saat Izriva diculik, kami sudah melakukan penyelidikan siapa saja yang memiliki niat untuk melakukannya. Pemuda ini adalah salah satu yang paling dicurigai, dan kecurigaan kami ternyata benar. Tak hanya itu, kami juga menemukan fakta kalau pemuda ini terlibat dalam kejahatan lain seperti insiden yang melibatkan White Sun satu tahun yang lalu."
Sekali lagi mereka terkejut, namun kali ini Kuro juga bereaksi seperti terkejut. Ini suatu yang langka bagi Kuro.
"Tapi.. bagaimanapun juga pemuda ini terlihat sangat biasa." Ucap Alvi setelah melihat lebih teliti. "Hey, apa benar dia pelaku dari semua ini?"
Riana justru melirik ke arah Kuro dengan tatapan tipis.
"...Jika dia, aku sangat yakin dia bisa melakukan semua ini."
"...Eh?"
Jawaban Kuro membuat semua orang lebih terkejut.
"Bagaimanapun juga, dia murid terbaikku."
💠💠💠ðŸ’
Sementara itu, di restoran yang terdapat di wilayah elit, Scarlet, Lia dan Clara menikmati makan siang mereka dengan santai. Tak ada pelanggan lain selain mereka karena mereka sudah memesan restoran hanya untuk makan siang.
Tentu hal itu tak membutuhkan biaya yang sedikit, namun bagi keluarga mereka, menyewa restoran mewah hanya beberapa jam bukanlah masalah besar.
Mereka membuat beberapa lapis sihir pelindung sekaligus kedap suara membuat mereka bebas berbicara apapun meskipun itu adalah hal rahasia.
Mereka memang sedang membicarakan itu.
"Clara ....jangan bermain dengan makananmu dan cepat habiskan. Sudah ibu bilang agar tak pilih pilih makanan kan?"
"..Uuu.."
Dengan wajah tak senang, Clara akhirnya menelan sayuran yang tak dia sukai.
Setelah memastikan piring Clara sudah bersih, Lia tersenyum senang. Dia lalu fokus kepada Scarlet yang duduk berseberangan dengannya.
"Ibu kelihatan senang hari ini. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan calon menantu (Kuro)?"
Lia menutup wajahnya dengan kipas untuk menyembunyikan senyumannya.
"Sepertinya aku benar. Tapi apa itu saja alasannya?"
"Entahlah, tapi bagaimana pendapatmu setelah melihat 'dia' secara langsung seorang yang mendapatkan gelar King?"
Tentu Scarlet tak mengatakan Kuro adalah seorang raja (King), namun King merupakan sebutan kepada pemegang dari pedang putih. Pedang putih yang juga disebut sebagai Sword of King dan Sword of Calamity
Sementara itu, Queen merupakan sebutan kepada gadis yang menjadi kekasih King.
Di zaman ini hal itu tak terlalu diketahui dan hanya kisah dongeng yang romantis, namun bagi para pendahulu seperti Scarlet, King dan Queen memiliki arti yang lebih dari itu.
__ADS_1
"Dia menarik. Seperti yang ibu katakan, seorang King memiliki aura yang membuat semua orang mengikutinya. Aku bisa merasakannya dari Kuro, tapi sejauh yang kudengar, bukankah King sebelumnya lebih hebat daripada dia?"
"....aku tak tahu mana yang lebih hebat, namun seorang yang dijuluki King merupakan seorang yang tak memiliki batas. Itulah yang membuat mereka spesial. Tapi kurasa bukan ini yang menjadi masalah kita saat ini. Sepertinya kita harus membicarakan hal ini dengan Leon."
"Ibu, seberapa besar kerusakan 'segel' yang kau buat?"
"Kau menyadarinya kan, lebih parah daripada yang kau perkirakan.... Mungkin tak lama lagi kita akan bertemu dengan 'dia' yang sebenarnya."
💠💠ðŸ’
"Muridmu?"
"Benar. Laila, kau tahu aku memiiki beberapa murid. Yui dan Hana hanyalah salah satu dari mereka. keduanya belajar teknik bertempur dariku, namun aku hanya memperlihatkan dan membuatkan teori bagaimana mereka melakukannya. Selanjutnya tergantung kepada usaha mereka sendiri bagaimana cara mengembangkannya."
Kuro melakukan itu karena setiap orang atau penyihir memiliki cara tersendiri bagaimana bertempur dan menggunakan kekuatan mereka. jika Kuro terlalu ikut campur, dia kawatir akan menghambat mereka.
"Tapi Itsuki sangat berbeda. Dia mempelajari semua teknikku dan mampu menirunya dengan sempurna. Bisa dibilang dia adalah kembaranku."
"Semuanya?"
"Ya. Semuanya.. kecuali beberapa hal seperti kemampuan mataku, dia bisa melakukan semua yang kulakukan. Karena itulah jika dia menginginkan menghancurkan negeri ini, maka dia bisa melakukannya."
Semua tercengang. Bukan karena sadar seberapa kuat musuh mereka, namun sadar apa yang bisa dilakukan Kuro.
Riana mendesah seolah sudah menduga hal ini.
"Kuro memiliki kekuatan untuk menghancurkan negeri ini jika dia mau, karena itulah tak ada yang mau berurusan dengannya. Tapi hal itu juga berlaku sebaliknya. Jika dia bisa menghancurkannya, maka dia juga bisa melindunginya." Tambah Riana.
Dengan kekuatan ratusan naga yang dia taklukan ditambah dengan Dragon King terkuat, maka Kuro ibarat memiliki pasukan pribadi yang seimbang dengan sebuah negara. Tentu ditambah dengan uang yang tak terbatas dan koneksi dari beberapa negara yang bisa dia minta bantuan.
Demon King atau bukan, Kuro tetaplah eksistensi berbahaya.
"Saat ini aku tak terlalu peduli, yang aku inginkan hanya kehidupan normal."
Tapi disaat itulah Laila menunjukkan tatapan tipis dan dingin kepada Kuro.
"...Kuro, jangan bilang alasan kenapa Ayah tak mengatakan apapun tentang hubungan kita adalah.....-"
Sebagai seorang Ayah, Leon pasti akan memberikan sepatah atau dua patah kata. Apalagi calon menantunya salah satu orang paling berbahaya. Dengan alasan itu, menolak Kuro adalah hal mudah.
Tapi sejauh ini Leon hanya diam saja.
"Mungkin seperti itu..."
Laila lalu mendesah dan menaruh tangannya di dahi. Kepalanya pusing dan terkejut karena mengetahui fakta yang mengejutkan.
"Kuro luar biasa mampu membuat Paladin terkuat bertekuk lutut."
"Oey..Alva, kau membuatku terdengar seperti monster."
"""""Kami tak ingin mendengar itu darimu..."""""
"...eh?"
Kuro tak menyangka kelimanya akan kompak.
"Ehem.. yah.. intinya Itsuki mampu melakukan semua yang kulakukan. Tak hanya itu, dia juga memiliki kemampuan berpikir seperti diriku. Itulah yang membuatnya berbahaya."
Kuro harus segera mengganti topik.
"Nama sandi dari Itsuki adalah Black Shadow. Nama itu diambil karena dia mampu meniru semua yang dilakukan oleh orang lain." Lanjut Riana.
Semua kembali terdiam. Meskipun biasa saja, namun Itsuki lebih mengerikan daripada yang terlihat.
Sama seperti gurunya, Kuro.
Alva mengangkat tangannya.
"Aku ingin bertanya, mungkinkah itu kemampuan khususnya? Jika iya, bukankah itu kemampuan yang hampir sama dengan Immortal Witch?"
Meniru sihir orang lain. Itulah sihir Alice atau Immortal Witch. Tentu infomasi itu sebenarnya rahasia, namun Alva dan Alvi memiliki koneksi sehingga mengetahui hal itu. Selain itu, pertempuran di Dragonia menjadi topik utama sampai sekarang ini, tak heran jika kemampuan musuh bisa diketahui.
Meskipun memiliki kemungkinan itu, namun Kuro menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kemampuan Itsuki adalah Steal. Kemampuan yang membuatnya mengetahui logika dari setiap teknik dan menirunya. Dengan kemampuan yang luar biasa itu, maka dia dipilih menjadi salah satu anggota Shadow Knight."
"Jadi saat Kuro bilang dia bisa melakukan semua hal yang bisa kau lakukan itu artinya dia benar benar bisa melakukannya. Tapi jika seperti itu, kenapa dia sekarang menjadi dalang dari semua ini?"
"...itulah yang kami tak ketahui. Menurut data, satu setengah tahun yang lalu dia menjalankan sebuah misi, lalu setelah itu dia dinyatakan menghilang. Tentu karena dia Shadow Knight, maka kepastian kematiannya sangat diperlukan, namun dia menghilang tanpa jejak."
"Dengan kata lain kita tak tahu apakah dia sudah merencanakan semuanya, atau dia memulai rencana ini setelah kejadian itu.. kah.. tapi inti masalah kita adalah apa yang harus kita lakukan kan?"
"Kau benar, Charlia, namun bukan aku yang memutuskan, namun putri itu."
Semua melirik ke arah Riana.
"Dengan memberitahukan semua ini, apa yang kau inginkan, Putri Rakus?"
Sejak awal Kuro dan Riana berada di dua pihak yang berbeda. Tujuan merekapun juga berbeda. Kuro dan Laila hanya ingin mendapatkan Lic kembali. Selain itu, mereka tak peduli dengan lainnya. Di lain pihak, Riana ingin menghentikan rencana Itsuki bagaimanapun caranya.
Riana menunjukkan senyuman tipis.
"Kuro, Laila, aku tak perlu menjelaskan apa yang kuinginkan dari kalian. Yang aku ingin tanyakan adalah apa yang akan kalian lakukan selanjutnya."
Singkatnya 'Ya' atau 'Tidak'.
Memberitahukan semua informasi merupakan tanda atau bisa dibilang permintaan untuk bekerja sama. Kuro dan lainnya sejak awal sadar dan tahu maksud dari Riana.
"Aku tak percaya tuan putri kita tumbuh dengan pesat. Kau benar benar membuatku terkejut."
"Yah.. ada beberapa hal yang terjadi. Mungkin bisa dibilang seperti itu."
Tak hanya Kuro dan Laila, Riana juga berkata suatu perubahan juga terjadi kepadanya. Inilah yang dinamakan suatu proses menuju kedewasaan.
Semua sekarang masuk akal. Riana sudah mempersiapkan semuanya demi hari ini.
"...satu hal yang ingin kutanyakan, apa untungnya kami berdua bekerja sama denganmu?"
"Kupikir kau bisa menebak keuntungan yang kau dapatkan jika bekerja sama dengan pihak pemerintah, Kuro. Apa harus aku panggil Akashi?"
Laila ingin mengatakan sesuatu, namun dia menahan diri. Charlmilia, Alva dan Alvi juga sama. mereka semua sadar saat ini semua keputusan berada di tangan Riana dan Kuro.
Tentu tak ada yang berpikir pembicaraan sederhana akan berakhir dengan sebuah perundingan. Namun inilah bukti kalau masalah yang mereka hadapi tak bisa Kuro selesaikan sendirian.
"Kau mungkin kekuatan dan kekuasaan yang besar. Aku akui kau menjadi seseorang yang tak ingin aku jadikan musuh, namun jangan lupa semua itu masih berada di bawah kendali kami. Intinya kau tak bisa menggunakan tanpa seizin kami. Dan kurasa kau pasti sadar kalau kami mengetahui semua rahasia, termasuk semua orang yang berada di sekitarmu. Contohnya pelayan yang ada di rumahmu."
Mendengar itu, Kuro langsung menyipitkan matanya.
Dia mengerti apa yang dimaksud Riana. Mereka tahu tentang Boris dan semua yang bekerja di bawah perintahnya sebagian merupakan anggota kriminal. Tentu di bawah perintah Kuro, mereka semua sudah berhenti dan menikmati kehidupan mereka sekarang.
Sayangnya, pihak pemerintah tak akan mempedulikan hal itu. Mereka bisa menggunakan alasan untuk menangkap mereka.
Tentu Kuro tak terlalu peduli dengan urusan orang lain, namun dia memiliki ikatan dan alasan kenapa mereka semua berada di samping Kuro selama ini.
"...apa kau ingin mengancamku?"
"Tidak. Jangan salah sangka, aku hanya menambah alasan agar kau bisa lebih mudah mengambil keputusan, Kuro. Aku sudah memutuskan untuk melindungi negeri ini dengan mempertaruhkan semuanya. Bagaimanapun juga, negeri ini adalah impiannya."
Mendengar itu, aura tiba tiba meningkat tajam dari Kuro. Semua bisa merasakan hawa membunuh yang kuat dan tak pernah Kuro keluarkan sebelumnya. Inilah bukti kalau dia sedang marah.
Namun semua itu lenyap seolah hanya ilusi.
"....jangan bilang kau sudah....."
"Ya, itu juga alasan tambahan kenapa aku meminta bantuanmu, King."
Setelah itu, Kuro terdiam seperti memikirkan sesuatu yang rumit. Ini suatu yang jarang Kuro tunjukan sebesar apapun masalahnya.
Ini cukup mengejutkan hanya dengan beberapa perkataan sudah membuat Kuro seperti itu.
"Kuro, kenapa kau bersikeras menolak kerja sama dengan Riana? Aku tahu kau memiliki harga diri yang tinggi, namun aku tak mengerti alasan kenapa kau menolak. Lagipula saat ini aku.."
"Jangan salah sangka, Laila. selama ini mungkin aku bertindak sendirian, namun bukan berarti aku tak pernah meminta bantuan orang lain. Justru karena bantuan orang lainlah aku bisa sampai seperti sekarang ini."
Kuro tak bisa mengurus semua usaha dan bisnisnya sendirian. Dia membiarkan semua pelayan di rumahnya untuk mengurus semuanya, namun semua keputusan masih di tangannya. Inilah bagaimana cara Kuro bisa memiliki uang dalam jumlah yang tak bisa diperhitungkan.
Dengan uang itu dia mencari informasi dengan membayar beberapa informan. Informasi itu tentu tak murah.
"Hanya saja, aku masih tak mengerti kenapa pihak pemerintah ingin bekerja sama dengan kita. Dengan kekuatan mereka, seharusnya mereka bisa lebih cepat menemukan petunjuk untuk menemukan Lic."
Semua menatap Riana dengan tatapan seolah bertanya apakah yang dikatakan Kuro benar, namun Riana masih tak menunjukkan ekspresinya yang tenang.
"Tapi jika pihak pemerintah melakukan segala cara untuk merekrut kita, itu artinya mereka dalam kesulitan atau dalam masalah. Aku benar?"
__ADS_1
"Sayang sekali. Semua yang kau duga salah. Kami sama sekali tak kesulitan atau mengalami masalah dalam menemukan lokasi Izriva. Alasan kenapa kami meminta kerja sama bukanlah meminta kerja sama untuk membantu kami, yang kami minta adalah kerja samamu untuk jangan menganggu kami."
Kuro dan Laila melebarkan matanya.