
"Ugh.. Guha.."
Ini sudah kesekian kali Itsuki memuntahkan darah merah hitam kental. Ini adalah bukti seberapa berat luka yang dia terima. Tak hanya luka dalam, namun juga luka luar yang masih terasa sakit meskipun dia sudah memulihkan diri.
"Aagh.. Gah..!!"
Sekali lagi dia memuntahkan darah hitam kental. Dia masih ingat benar bagaimana bisa dia mengalami luka separah itu.
(Inikah yang disebut kekuatan kegelapan?)
Dia sudah pulih, tetapi sensasi dari setiap serangan yang dia terima dan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh masih teringat jelas di tubuhnya. Dia bahkan tak bisa berhenti gemetar dan bangkit.
Rasa takut, kebencian, kemarahan, kedengkian, semua emosi gelap seolah merasuk ke seluruh setiap sel tubuhnya.
Tak hanya itu, kekuatan itu seolah membuat dirinya mulai tertelan oleh kegelapan yang sama.
(Jika aku tak kabur, aku akan mengalami hal lebih buruk daripada kematian?)
Tak diragukan lagi, itulah yang akan dia alami jika tak bersiap siap.
"!?"
Disaat itulah dia merasakan tekanan sihir yang kuat dari sebuah sudut. Kemudian dia hanya melihat kilatan besar.
Gawat. Itulah yang dia pikirkan. Meskipun tak melihat dengan jelas, namun dia sadar itu adalah sebuah serangan. Dalam kondisinya saat ini, dia tak akan mampu bertahan apalagi menghindar. Tetapi disaat itulah serangan tiba tiba menghilang.
"..."
Untuk alasan tertentu, dia tahu apa yang terjadi.
Dia lalu melihat ke arah cahaya yang ada di dekatnya. Itu adalah cahaya dari seorang malaikat.
Melihat sosok di dekatnya, dalam hati Itsuki tak bisa menahan kebahagiaannya. Dia akhirnya berhasil membangkitkan sosok yang akan mampu mengabulkan impiannya.
Tetapi apakah dia dalam kendali Itsuki? Saat sedang memikirkan itu, dia merasakan sebuah hubungan antara dirinya dan Holy Maiden.
(Begitu rupanya...)
Meskipun sosok di dekatnya merupakan Holy Maiden, kini sosok itu adalah bonekanya.
Dia ingin tertawa dengan keras agar semua orang tahu dia telah berhasil mendapatkan kekuatan yang tak akan bisa dikalahkan oleh apapun. Meskipun oleh Demon King sendiri.
Di atap, dia melihat percikan kilat yang berasal dari seorang gadis kecil. Di sampingnya terdapat pria tua kekar yang bagaikan seorang kesatria.
"Paladin Electra huh.. Dia mulai bergerak.."
Itu suatu yang wajar. Mana mungkin pihak pemerintah akan diam saja saat ibu kaisar mereka dibangkitkan.
Tetapi, apapun yang mereka lakukan. Semuanya sia sia belaka.
"Maria, bunuh wanita ja*ang itu!!"
Kemudian muncul sosok malaikat cantik dengan 8 sayap di belakang Maria. Itu adalah wujud magic beast Maria yang bernama . Seperti Maria, Michael membawa sebuah pedang yang memancarkan aura suci.
Lalu tiba tiba Michael menghilang dan muncul di belakang Electra seperti berteleportasi. Tanpa ragu Michael menebas Electra dan Irho.
Ledakan besar menjadi isyarat pertarungan telah dimulai.
๐ ๐ ๐
"Salah satu Archangels memang luar biasa, tetapi dia terlalu meremehkan kami, benarkan Irho?"
"Ini masih belum apa apanya."
Irho menahan serangan Michael dengan kapaknya. Bangunan yang dia gunakan untuk berpijak akan segera hancur karena tak bisa menahan dua kekuatan yang saling beradu.
"Haaaa!!"
Mendorong dengan kekuatan penuh, Irho melompat dari bangunan dan mendarat di jendela bangunan terdekat. Tetapi Michael sudah menunggunya di tempat itu dengan serangan yang sama.
Kilatan cahaya menyambar ke berbagai arah, tak berapa lama kemudian bangunan hancur terpotong menjadi ribuan keping. Penyihir akan langsung mati jika terkena serangan itu, tetapi sosok Irho tak ada.
Sosok bayangan muncul di belakang Michael. Itu adalah sosok Irho, tetapi tak seperti sebelumnya, dia mengganti senjatanya dengan palu perang.
Itu bukan berarti Irho memiliki banyak magic arm, hanya saja dia memang memiliki banyak senjata yang dia simpan di dimensi lain. Dengan mudah dia bisa mengganti senjata yang dia inginkan.
Dengan teriakan, Irho menyerang.
"Haha.. Lumayan!!"
Michael menahan dengan menggunakan sayapnya. Lalu sayap lainnya berubah menjadi bilah pedang yang terbang ke arah Irho.
Semua serangan mengenai tubuh Irho hingga menghempaskannya ke salah satu bangunan. Kemudian Michael menoleh ke arah lain untuk mencari target selanjutnya.
Tentu Electra tahu apa yang terjadi pada Irho, tetapi Electra masih terdiam tak bergerak seolah mengabaikannya. Dia bukan berarti tak peduli dengan Michael, tetapi lawan dia bukanlah sang magic beast.
"Jangan terlalu senang dulu, merpati busuk!"
Sosok Irho muncul dan terlihat masih segar bugar. Tetapi tak hanya itu, kali ini sosok Irho muncul dengan menggunakan pelindung lengkap berwarna emas. Itu bukanlah wujud dari magic gear miliknya, tetapi sebuah pelindung yang terbuat dari orichalcum. Logam sihir terkuat di dunia.
Irho melompat ke udara dan sekali lagi bertarung dengan Michael. Irho tanpa kesulitan mengayunkan palu sebesar tubuhnya, sedangkan Michael menggunakan pedang menyerupai sebuah salib besar. Lalu keduanya kembali bertarung tanpa peduli dengan sekitarnya.
Sementara itu, Electra hanya terdiam di tempat dengan tatapan fokus ke arah Maria. Saat ini dia tak memiliki kesempatan untuk memperhatikan hal lain seperti Michael yang berusaha menyerangnya.
Holy Maiden Maria, sosok yang dikenal sebagai Paladin terkuat sepanjang masa. Sosok magic beast miliknya sudah menunjukan kekuatan itu, tetapi Electra tahu betul kalau Maria masih bermain main.
Dalam bertarung melawan pengguna elemen suci, penyihir biasa seperti Electra akan dirugikan. Tetapi bukan berarti dia tak bisa melakukan sesuatu.
"..."
Kilatan menyambar semakin besar dari tubuhnya. Kilatan itu menyambar bangunan di sekitarnya bagaikan sebuah badai petir. Orang biasa akan langsung mati jika terkena salah satu dari kilatan tersebut.
Tak berapa lama kemudian, awan hitam tiba tiba datang ke langit ibukota Phoenix. Cahaya merah tertutupi oleh awan sehingga membuat kota semakin gelap.
Awan awan itu perlahan dipenuhi oleh kilatan kecil. Perlahan tapi pasti, kilat semakin besar dan menjadi jadi seperti sebuah badai petir.
Berikutnya, salah satu bangunan tertinggi tiba tiba tersambar oleh petir dan hancur menjadi bongkahan.
Electra kemudian tersenyum.
""
Satu persatu kilat menyambar menghancurkan bangunan kota, lalu kilat terbesar muncul dan menargetkan Maria sebagai sasarannya. Kilat lainnya menyerang hingga berulang ulang. Orang pasti berpikir itu suatu kejadian alam yang luar biasa karena petir menyambar di tempat yang sama berkali kali.
Tetapi itu bukanlah kejadian alami, tetapi hal yang dilakukan oleh Electra dengan sihirnya.
"Bagaimanapun juga aku adalah mantan Lighting Queen. Aku akan marah jika menganggap mudah mengalahkanku. ...Tetapi sudah kuduga serangan seperti itu masih belum cukup kah..."
Sosok Maria masih baik baik saja. Perisai tipis menjadi dinding penghalang serangan Electra. Melihat itu, Electra sama sekali tak kecewa. Justru dengan tindakan itu membuat Electra yakin dengan serangannya.
Sekali lagi Electra menyerang dengan serangan yang sama. Kilat menyambar bagaikan sebuah badai yang menghancurkan segalanya.
Electra tiba tiba menghilang. Dia muncul di dekat Maria dengan tubuh yang sebagian besar berubah menjadi petir. Lalu dengan pedang Orichalcum, dia menyerang titik buta Maria.
Serangan Electra ditahan dengan dinding perisai, namun retakan terdengar dan serangan itupun menusuk tubuh Maria.
"..."
Tak ada satupun darah menetes dari lukanya. Electra tak terkejut dengan itu, bagaimanapun sosok di depannya bukanlah manusia. Kemudian dia mengalirkan sihirnya ke pedang dan mendorong tubuh Maria hingga terlempar dari tempatnya.
Tubuh Maria melesat bagai sebuah peluru. Menembus dinding dan menghancurkan rumah mewah.
Kemudian, Electra melirik sosok Itsuki yang masih tak berdaya.
"Kau sungguh menyedihkan."
"..."
Setelah mengatakan itu, Electra berubah menjadi kilat dan kembali bertempur melawan Holy Maiden.
Kilat menyambar, ledakan keras bagai bom, bangunan hancur, satu persatu sihir tingkat tinggi muncul dalam pertarungan antara Electra dan Maria.
Tak ada yang bisa melihat jalannya pertarungan karena gerakan mereka yang lebih cepat dari suara, tidak, bahkan lebih cepat lagi. Saat melihat ke arah pertempuran, maka yang tersisa hanyalah puing puing.
Electra menggunakan sambaran petir untuk menyerang Maria, tetapi Maria mampu bergerak lebih cepat dari serangan Electra. Hal yang sama juga berlaku pada Maria. Maria menyerang dengan tebasan pedang, tetapi Electra dengan mudahnya menghindar.
Pertempuran seperti itu terus berlangsung hingga beberapa menit. Tetapi bagi yang melakukannya mungkin terasa berjam jam.
Kemudian, kedua sosok muncul di jarak lima puluh meter di atas puing puing bangunan.
Electra terlihat kehabisan nafas. Nafasnya terengah-engah dan tubuhnya penuh luka lecet. Pedang yang dia gunakan tumpul dan retak di berbagai tempat seperti habis beradu dengan pedang yang lebih kuat.
Sementara itu, berkebalikan dengan Electra. Maria masih terlihat kosong tanpa ekspresi. Tubuhnya terlihat seperti habis menerjang sebuah badai besar.
Melihat sosok Maria, Electra hanya bisa tersenyum kecut.
"Aku sudah habis habisan, tetapi kau masih terlihat segar bugar. Dibangkitkan atau tidak, kau memang mengerikan."
Tentu Electra masih memiliki banyak kartu untuk dimainkan, tetapi untuk melawan Maria kebanyakan kartu miliknya tak berguna. Salah satu dari kartu itu adalah Avatar. Salah satu alasan kenapa seorang penyihir disebut sebagai Paladin.
__ADS_1
Sayangnya, sama seperti magic gear, Avatar merupakan kekuatan perwujudan dari sihir. Jika dia menggunakannya, itu sama saja bunuh diri.
Sejauh ini pilihan Electra hanya bisa menggunakan sihirnya untuk menambah kecepatan, kekuatan dan daya konsentrasinya. Kemudian, dia hanya bisa mengandalkan teknik bertarungnya saja.
(Sungguh. Aku berharap ada yang bisa membantuku melawan monster ini.)
Electra sudah mengalami banyak pertarungan, tetapi untuk pertama kalinya dia berpikir ingin sekali mendapatkan sebuah pertolongan.
Tetapi-
"[Analisa sihir elemen petir selesai. Memulai proses penggabungan dengan elemen suci ....selesai. Tak ada masalah ditemukan. Holy Thunder Mode.]"
Tubuh Maria kini dipenuhi oleh petir putih seperti dirinya. Tak hanya itu, tekanan energi sihir meningkat tajam.
Sekali lagi Electra hanya bisa tertawa pahit saat melihat musuhnya berevolusi tepat di depannya.
Kekuatan Maria ditambah dengan Izriva. Inilah kombinasi terburuk dan terkuat yang mampu mengalahkan Demon King.
Maria mengangkat pedangnya dengan kedua tangannya. Aura putih bersamaan dengan petir membesar di pedang itu.
"Sial!"
Dengan cepat, Electra mengubah tubuhnya menjadi petir. Tetapi musuh lebih cepat.
""
Maria tanpa ragu mengayunkan pedangnya ke Electra. Cahaya putih dengan petir kebiruan sebesar 3 meter melesat bagai peluru membelah kegelapan kota.
๐ ๐ ๐
"Ini bukan pertarungan yang aku bisa tangani."
Arthuria menggaruk belakang kepalanya setelah melihat cahaya membelah kota.
Setelah dia berpisah dengan Laila dan lainnya, dia berharap bisa membantu siapapun yang akan bertarung melawan Maria. Tetapi saat dia keluar lubang, dia hampir tersambar petir.
Agar selamat, dia memasuki gedung yang cukup kokoh dan melihat proses pertarungan. Lalu dia menunggu saat yang tepat untuk bergabung. Tetapi semua rencana itu gagal setelah melihat pertarungan antara Electra dan Maria yang bisa dibilang di luar akal sehat manusia.
Dia tak menyangka mantan jendral Irho ikut bergabung. Dia beruntung memiliki kesempatan untuk melihat legenda bertarung.
Arthuria mendesah dalam.
(Ini bukan saatnya kagum dengan mereka. Tentu ini pertarungan yang jarang terjadi, jadi aku harus menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin.)
Arthuria berkeinginan untuk menjadi yang terkuat, bahkan lebih kuat dari ayahnya. Tetapi saat ini dia masih belum bisa menggunakan kekuatan Avatar yang menjadi simbol seorang Paladin.
Tentu dia tak putus asa. Dia masih muda dan itu artinya jalan dia masih panjang.
Salah satu usahanya untuk mencapai hal itu adalah dengan berkeliling dunia. Dalam perjalannya dia mendapatkan hal hal baru yang tak dia ketahui, namun itu belum cukup untuk membuat dirinya bisa menggunakan Avatar.
"Aku harus melakukan sesuatu... Ah sial!?"
Arthuria pergi dengan kecepatan penuh dari tempat persembunyiannya. Sebuah cahaya menelan tempat itu hingga hancur tak tersisa.
"Dia menemukanku kah.."
Tatapan mata Maria melihat ke arahnya. Sadar dalam masalah, Arthuria hanya tersenyum tipis.
"Saatnya menunjukan kekuatanku. Jika aku terus bersembunyi, aku akan menjadi ayam goreng."
Aura kuning emas dan putih keluar dari Arthuria. Bersamaan dengan itu, kekuatan sihir Arthuria meningkat pesat.
""
Burung Phoenix muncul di udara. Tak seperti yang muncul saat berada di labirin, kali ini Suzaku lebih besar puluhan kali lipat dan memancarkan cahaya karisma.
Suzaku kemudian terbang menuju ke arah Arthuria seolah berusaha memangsanya. Tetapi sosok Suzaku menghilang dan membentuk sebuah pelindung emas dan putih dengan simbol burung Phoenix di dadanya.
"Phoenix Gear "
Pedang Arthuria, Excaliburn juga berubah menjadi pedang emas dan putih.
"Mari kita mulai. Aku ingin tahu sejauh mana kekuatan Holy Maiden."
Sayap api muncul di punggung Arthuria. Dia kemudian terbang menuju ke arah Maria. Tentu Maria tak diam saja melihat Arthuria mendekat.
Sekali lagi Maria mengangkat pedangnya ke atas dan bersiap menggunakan .
"Terlalu lambat!"
Tujuh bola api muncul di sekitar Arthuria. Bola api itu berubah menjadi tombak api dan melesat ke arah Maria. Tetapi tombak api itu tak menargetkan Maria, tetapi tanah di sekitar Maria.
""
Tujuh tombak api beresonansi, lalu meledak secara bersamaan. Ledakan itu bisa dibilang ledakan paling besar di dalam pertempuran itu.
Tetapi itu tak cukup menghentikan Maria. Cahaya melesat ke arah Arthuria dari balik ledakan besar. Arthuria tak memiliki pilihan selain menghindar. Lalu setelah dekat, dia beradu pedang dengan Maria.
Sama seperti saat bertarung dengan Electra, Maria menunjukkan kekuatan, kecepatan dan teknik berpedang yang indah dan mematikan. Arthuria bahkan tak bisa mengikuti beberapa gerakan dan hal itu membuat beberapa bagian pelindungnya hancur. Syukurlah dia tak mengalami luka serius.
"Tch!?"
Arthuria mundur mengambil jarak, kemudian dia mengaktifkan jebakan yang dia buat.
Lingkaran sihir muncul di bawah kaki Maria, tetapi Maria dengan cepat menancapkan pedangnya sehingga sihir Arthuria tak aktif. Ini adalah salah satu kemampuan sihir elemen suci.
Mengetahui gagal, Arthuria kembali menyerang dengan beradu pedang. Kedua pedang saling beradu sehingga menghasilkan gelombang kejut yang mampu menghancurkan benda di sekitar mereka.
Disaat itulah, kilatan biru muncul dan pedang yang beradu bertambah.
"Aku akan marah jika kalian melupakanku."
Electra telah kembali. Kali ini dua lawan satu.
Bersamaan dengan kedatangannya, halilintar menghantam Maria bagaikan sebuah hukuman dari Tuhan.
๐ ๐ ๐
Pertama kali sebuah pedang menusuk jantung. Kedua kepala terpenggal. Ketiga tertabrak kendaraan. Keempat kejatuhan puing bangunan. Kelima dibunuh oleh perampok. Keenam terkena peluru nyasar. Ketujuh terkena sakit jantung. Kedelapan .. Kesembilan.. Kesepuluh..
Kesebelas..
Keseratus..
Keseribu...
Kesejuta..
...tak ada yang tahu sampai mana kejadian itu terus berulang.
Seorang gadis mati tepat di depan matanya. Gadis itu bukanlah gadis asing yang tak dia kenal, namun satu satunya gadis yang paling dia cintai.
Tetapi kenapa, sebanyak apapun dia kembali ke masa lalu untuk merubah masa depan, dia tak pernah bisa merubah kematian orang yang dia cintai.
Inikah yang disebut takdir?
Tidak. Dia tak bisa menerimanya. Tak akan pernah.
Tak akan pernah meskipun dunia menginginkanย kematian gadis yang dia cintai, dia akan terus menentangnya.
Setiap kali melihat pemandangan orang yang dia cintai mati, dia merasakan sebuah neraka. Dia merasa sakit, tersiksa, putus asa, bahkan seiring dengan waktu dia mulai rusak.
Saat dia gagal menyelamatkannya, dia sering berpikir 'ah.. Gagal lagi. Selanjutnya pasti bisa..'.
Dia berpikir seperti itu agar tak pernah menyerah, tetapi itu adalah sebuah racun yang lebih mematikan daripada kematian itu sendiri.
Sayangnya, dia tak menyadari itu.
Perlahan tapi pasti, racun mematikan itu memakan jiwanya. Dia tak peduli lagi dengan kehidupan. Asalkan dia berhasil menyelamatkannya, semua akan kembali seperti sedia kala. Itulah masa depan yang tertanam di otaknya.
Di saat itulah dia menjadi monster terburuk yang pernah ada di dunia. Bahkan lebih buruk daripada iblis yang dikenal sebagai perwujudan keburukan.
Tetapi di penghujung perjalanannya, dia sadar. Bagaimana jika konsep dunia parallel itu benar?
Saat dia kembali ke masa lalu, dia hanya pergi ke dunia lain yang memiliki garis waktu yang berbeda. Bagaimana jika seorang yang berusaha dia selamatkan sudah mati? Apakah gadis yang muncul nanti orang yang sama dengan kekasihnya?
Dia tak tahu. Dan tak ingin tahu itu.
Yang terpenting baginya adalah mencoba dan terus mencoba tanpa kenal kata menyerah.
Tubuhnya terpotong, tercabik cabik, tertusuk, patah, hancur, bahkan dia sudah tak bisa membedakan lagi apakah dia benar manusia atau sebuah iblis.
"Hentikan!"
Tetapi dia terus menentang takdir. Dia sudah tak peduli lagi.
"Hentikan! Hentikan! Hentikan!"
Akhirnya kegelapan menelan seluruh jiwanya.
__ADS_1
"HENTIKAAAANNN!!!"
Otome bangun dari mimpi buruknya. Tetapi itu tak cukup membuat dia bisa menghela nafas walau sesaat.
Meskipun inderanya telah kembali, namun semua penglihatan terburuk masih teringat jelas di pikirannya.
Siapa pemuda itu dan kenapa dia terus berjuang meskipun yang dia lalui adalah jalan menuju neraka?
Bagaimana orang itu bisa bertahan setelah melalui semua itu?
Benar. Orang itu hanyalah monster. Tak ada manusia yang akan bisa melaluinya selain berubah menjadi monster.
"..."
Tetapi meskipun monster, Otome sangat kasihan padanya. Untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan, dia melakukan semua itu meskipun harus mengulangi kesalahan yang tak terhingga.
Bagaimana bisa dia sekuat itu?
Seseorang pasti akan menyerah setelah mencoba tiga kali, tetapi dia tak pernah menyerah. Otome tak tahu ujung dari mimpi buruk yang selalu membuatnya terpuruk, tetapi dia berharap kisah itu berakhir dengan kebahagiaan.
"..."
Tanpa alasan yang jelas. Dia tersenyum. Senyuman yang buruk mengingat wajahnya saat ini bagaikan sebuah mayat hidup.
Dia melihat ke sekeliling.
"..?!"
Lalu dia sadar, dia ternyata belum bangun dari mimpi buruk itu.
Sekelilingnya hanya ada kegelapan tanpa cahaya sedikitpun. Dia juga tak memiliki pijakan dan seolah melayang di udara. Dia tak tahu apakah itu masih sebuah mimpi atau sebuah kenyataan. Tetapi satu pertanyaan muncul di kepalanya.
ย -dimana dia saat ini?
Lalu sebuah benda muncul. Itu adalah mata sebesar rumah mewah seorang bangsawan. Tetapi bukan ukuran yang membuat Otome terkejut, namun mata emas reptil membuat Otome langsung bergidik dan ketakutan menjalar di seluruh tubuhnya. Dia tak bisa berpikir apalagi bergerak. Yang dia bisaย lakukan hanya terdiam.
Mata itu bergerak seperti mencari sesuatu.
Lalu tatapan mata itu fokus ke arahnya. Otome berkeringat dingin dan berpikir dia akan mati.
[Ya ampun, sepertinya dia masih saja melakukan kebiasaan buruknya. Dia masih sangat menyukai hal yang berbau rahasia.]
Sebuah suara terdengar langsung di pikirannya. Itu adalah komunikasi semacam telepati.
[Kau benar benar beruntung bisa bertahan sejauh ini. Orang biasa akan memilih bunuh diri setelah melihat mimpi buruk itu.]
Otome terkejut karena suara itu tahu apa yang dia lihat.
[Ini suatu hal yang mudah bagi dewa sepertiku. Sekali lagi aku ucapkan kau benar benar beruntung gadis muda]
"Dewa?!"
Otowe tak punya pilihan selain terkejut.
[Bisa dibilang aku adalah dewa, tetapi ada pula yang menyebutku iblis. Jadi semua itu terserah padamu. Lagipula aku sama sekali tak peduli d yang kalian pikirkan tentang kami.]
"..."
[Baiklah, kita langsung saja ke urusan utama. Aku bicara denganmu karena aku ingin kau melakukan sesuatu. Tentu tak gratis, jika kau mau, aku akan menghilangkan kutukan yangย ada padamu.]
"...Kutukan? Bagaimana bisa dan kapan aku menerima kutukan?"
Otome seorang penyihir yang ahli dalam sihir kuno dan kutukan. Otome tak mungkin melewatkan hal seperti itu terjadi padanya.
[Aku tak peduli dengan keingintahuanmu. Bagaimanapun juga seharusnya kau sadar keingintahuan bisa membunuh kalian. Kalian para manusia selalu melakukan ini.]
"?!"
[Sepertinya kau sadar apa yang aku maksud. Sekarang pilihlah, apa kau ingin terus mengalami mimpi buruk seumur hidupmu hingga kau mati, atau kau bersedia membantu salah satu temanku?]
Sekali lagi Otome penasaran. Apakah yang berbicara dengannya adalah seorang dewa atau iblis? Tetapi ada yang lebih membuatnya penasaran. Siapa yang dia panggil teman?
"...Kenapa harus aku?"
[Kau pernah mendengar tentang 'jika kau masih perawan sampai 30 tahun, kau akan menjadi orang suci'. Anggap saja seperti itu.]
"Jangan bercanda! Aku memang perawan, tetapi aku masih 27 tahun. Aku tak setua itu!"
Dia tak peduli apakah lawan bicaranya iblis atau dewa, yang terpenting dia tak direndahkan.
[Bagi kami umur hanyalah sebuah konsep. Itu tak mengubah kenyataan yang ada.]
"Apa yang kau maksud kenyataan aku masih perawan?"
[....]
"Jawab aku sialan!"
Dia tak peduli lagi. Kenapa semua orang membahas topik itu?
[Bagi kami orang yang masih suci sangat berharga. Kau seharusnya bangga dengan itu!]
"Aku pernah mendengar kalau pengikut yang masih suci memang penting dalam sebuah agama, tetapi itu semua tak ada hubungannya denganku. Bisakah kau berhenti membicarakan itu?"
[Kau sepertinya calon Miko yang bagus, tetapi kau masih memiliki banyak kekurangan. Sayang sekali kau harus dicoret dari daftar. Jangan kecewa. Ngomong ngomong soal Miko, ini membuatku ingat sesuatu. Solaris sialan itu, kenapa dia selalu mendapatkan Miko yang terbaik? Hey, bukankah itu tak adil? Yah, meskipun Miko milikku saat ini tak akan kalah dengan gadis itu he he..]
"..."
Kenapa sekarang dia mendengar keluhan dewa itu?
Tetapi-
"Apa yang kau maksud dengan Miko?"
[Tentu seorang yang mewakili kami di dunia kalian. Selain itu seorang Miko juga berperan menghubungkan kami dengan manusia. Mereka adalah gadis gadis yang terpilih.]
Disaat itulah sosok mata lainnya muncul. Perlahan mata itu memiliki wajah, sepasang taring dan tanduk. Sisik sisik hitam kelam menyelimuti seluruh tubuhnya, dua sayap membentang hingga beberapa kilometer dan ekor besar yang mampu membelah lautan.
Tak diragukan lagi, itu adalah sosok naga. Tetapi ukurannya membuat orang berpikir 1000 kali apakah makhluk itu benar benar ada.
[Gadis gadis terpilih itu sekarang memiliki nama lain. Kalian menyebut mereka dengan sebutan..]
"..."
[...Queen]
๐ ๐ ๐
"Knox, aku menemukan sesuatu. Di balik dinding ini ada semacam ruang rahasia."
"Aku sudah tahu itu. Mundurlah, aku akan menghancurkannya."
Knox mengangkat tangannya. Lalu perlahan tombak hitam terbentuk dari bubuk besi yang dia kumpulkan dari sekitarnya. Setelah beberapa saat, tombak hitam sepanjang 3 meter siap di tangannya.
""
Knox melempar tombak bagai peluru ke arah dinding. Lalu percikan kemerahan muncul seperti kembang api.
(Sekilas terlihat seperti tembok batu, tetapi terbuat dari besi kah..)
Knox tersenyum.
(Tetapi itu tak cukup menahan seranganku)
Perlahan, ujung tombak mulai menembus dinding. Tetapi apakah karena dinding yang terlalu kuat, dinding di depan mereka roboh seperti sebuah pintu yang didobrak.
"Lebih keras daripada yang kuduga. Tetapi aku benar benar tak menyangka ada tempat seperti ini di bawah kota."
Peralatan besar dan canggih terlihat di berbagai sudut. Tetapi yang lebih menarik perhatian adalah tabung tabung besar seperti sebuah pilar.
"Ini laboratorium. Sekarang kita tahu bagaimana mereka membuat pasukan homunculus itu."
"Aku juga berpikiran sama denganmu, Jinn."
Amira juga mengangguk.
Lalu tiba tiba alarm keras berbunyi bersamaan dengan lampu merah.
Tak berapa lama kemudian, satu persatu sosok manusia muncul mengepung mereka.
"Mereka meyambut kita."
"Dengan sangat meriah. Jinn, aku ingin memperingatkanmu agar tak berbuat ceroboh."
"Kau seolah berkata aku selalu melakukan itu. Aku tahu, mereka memiliki kekuatan anti sihir."
Pedang muncul di tangan Jinn.
"Mari kita lihat bagaimana mereka berhadapan dengan Knight Gear!"
__ADS_1
"Itulah kenapa aku menyebutmu ceroboh, Siscon kep*rat!"