Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Power Up


__ADS_3

"Sekarang kita harus kemana?"


"Terowongan paling kiri. Aku mendeteksi disana ada ruangan besar. Kurasa disanalah bos monster menunggu kita."


"Kalau begitu bukankah sebaiknya kita menghindarinya?"


"Jinn, kau tahu. Dalam menjelajahi labirin, ada musuh besar berarti itu jalan yang benar. Kita beruntung bisa mengetahui apa yang di depan kita. Sekarang, coba kau pikir, jika semua jalan lain adalah jebakan, bukankah itu artinya nanti kita tetap harus melawan monster itu?"


Aldest menambahkan. Sebagai yang paling tua dan berpengalaman dari mereka semua, mengarahkan dan memberikan nasihat adalah suatu yang penting. Apalagi mengingat situasi hidup dan mati.


"....aku tahu aku yang paling bodoh di sini, tetapi aku tetap ingin menyelesaikan semua ini tanpa harus bertarung. Aku tak mau menjadi masokis."


Ketiganya lalu memilih jalur yang paling kiri. Tak berapa lama kemudian mereka bisa melihat ujung lorong. Tetapi disaat itulah mereka mendengar suara pertempuran.


Ketiganya mengangguk dan mempercepat langkah mereka.


Saat tiba, apa yang menyambut mereka adalah pemandangan monster setengah manusia dan setengah robot sedang bertarung dengan seorang gadis.


Gadis itu bertarung menggunakan senjata api laras panjang, lebih tepatnya sebuah sniper besar. Sniper itu lebih besar daripada tubuh sang gadis dan terlihat berat, tetapi gadis itu menggerakan sniper itu seolah bagaikan terbuat dari kayu kering.


Tak diragukan lagi sniper itu adalah magic arm. Dan itu artinya gadis itu seorang penyihir. Penyihir yang kuat.


Semua itu terlihat dari gerakan lincah, cepat, dan tentu akurat. Bahkan gerakan monster yang terlihat bagaikan sebuah kilat bisa dihindarinya dengan mudah. Selain menghindar, gadis itu bertahan dengan menggunakan snipernya. Disaat ada kesempatan, gadis itu menekan pelatuk dan menembakan peluru sihir.


Pertarungan yang indah, tapi juga mematikan.


Sayangnya, meskipun gadis itu kuat, monster itu terlihat lebih kuat. Hanya tinggal menunggu siapa yang menjadi pemenangnya.


Mengetahui hal itu, Jinn langsung tak bisa berdiam diri begitu saja. Apalagi dia tahu siapa sebenarnya gadis itu.


"Apa yang dia lakukan di tempat ini."


Jinn memanggil pedang yang merupakan dulu bagian Knight Gear. Kemudian dia melesat ke arah depan monster itu dan menebasnya. Monster itu terlalu fokus menyerang gadis itu, karena itulah dia berhasil menyerang.


Tak menyia nyiakan kesempatan, sang gadis menambahkan serangan berupa tembakan tepat ke bagian tubuh yang tertebas. Musuh terpental dan tumbang. Menggunakan kesempatan itu, Jinn langsung memegang tangan sang gadis dan menyeretnya ke pinggir.


"Kenapa kau bertarung dengan cara seperti itu, Bodoh?! Apa kau ingin mati?"


Amira tak menjawab. Dia hanya menunduk tanpa banyak berkata kata lagi. Mungkin dia sadar apa yang dikatakan Jinn ada benarnya.


"Jangan membentaknya. Apa kau tahu membuatnya takut."


"Aku tak punya pilihan. Aku tak tahan jika melihat seorang gadis bertarung dengam ceroboh. Itu sama saja tak menghargai diri sendiri."


Benar. Bertarung menggunakan senjata yang khusus untuk jarak jauh tak cocok digunakan bertarung jarak dekat. Apalagi dengan musuh monster seperti itu, Amira bisa bertahan merupakan suatu keajaiban.


....atau tidak.


"Aku tahu kau marah. Tetapi jangan pikir dia bertarung asal asalan."


"Knox, kau seharusnya bisa melihat pertarungan tadi. Dia akan segera mati jika kita tak segera datang."


Mendengar itu, Knox mendesah dan tanpa ragu memukul Jinn tepat di bagian wajahnya.


"Kenapa kau memukulku, Brengsek?!"


"Kau yang brengsek, Sialan!"


Knox memukul Jinn lagi dan lagi. Tentu Jinn tak diam saja dan berusaha bertahan. Lalu dia berusaha membalas pukulan Knox, tetapi tak seperti dirinya, Knox menerima pukulan hingga dia tersungkur.


"K-kenapa kau tak mengelak? Apa kau juga ingin mati seperti dia?"


Knox bangkit. Wajahnya bengkak dan mulutnya berdarah. Tetapi dia tak terlihat kesakitan dan justru tersenyum.


"Kenapa..?"


"Tentu karena aku muak dengan sikap sok pahlawanmu itu, Siscon sialan!"


Knox sekali lagi memukul Jinn, tetapi dia berhenti sebelum menyentuh kepalanya.


Jinn tak mengerti dan hanya bisa mematung. Berpikir memang bukan keahliannya, tetapi dia tahu ada suatu yang berbeda dengan Knox.


Aldest yang biasanya melerai atau menjadi penengah hanya terdiam membiarkan mereka berdua.


"...hanya karena kau bertambah kuat, bukan berarti kau bisa menyelamatkan siapapun. Kau juga tak harus ikut campur dalam setiap pertarungan dan bersikap seperti pahlawan yang datang menolong. Jika kau bersikap seperti ini terus, kau tak akan pernah bisa menyelamatkan siapapun!"


Jinn mengepalkan tangannya dengan keras. Dia terlihat kesal.


Dia tahu apa yang dikatakan Knox ada benarnya, tapi tetap itu tak bisa mengubah pikirannya untuk membantu orang yang kesusahan. Apalagi itu terjadi di depan matanya.


"Kuh.. Jangan berkata hal bodoh. Bukankah karena kita memiliki kekuatan, kita bisa menyelamatkan orang lain? Apa ada yang salah menjadi kuat? Yang terpenting adalah menggunakan kekuatan bukan untuk merugikan orang lain, benarkan? Aku tak mengerti apa maksudmu dengan berkata seperti itu. Selain itu bukankah ada banyak contohnya?"


Knox mendesah seolah menduga jawaban Jinn.


"Kau benar benar bodoh. Kau memang kepala otot, tapi ini sudah keterlaluan."


"..."


"Jinn, saat ini kau tak ada bedanya dengan rakyat Dragonia yang bertarung dengan menggunakan Knight Gear. ...Aku tak akan menjelaskannya lagi, tetapi aku harap kau mengerti apa maksudku." Knox berjalan dan menepuk pundak Jinn. "Satu hal yang harus kau tahu, kau tak bertarung sendirian. Kami ada jika kau membutuhkan bantuan kami."


"..."


Jinn hanya terdiam. Dia berusaha mengerti apa maksud dari perkataan Knox, tetapi sekeras apapun dia mencoba, ..dia tak menemukan jawabannya.


Kemudian, Aldest memanggil Hall. Pertarungan belum selesai. Monster yang tumbang kini bangkit kembali. Meskipun darah mengalir dari lukanya, tak ada tanda monster itu akan menyerah atau mundur.


"Aku tak tahu kenapa kau ada di sini, tapi satu hal yang ingin ku tanyakan. Apa kau akan bertarung, atau hanya menjadi penonton?"


Amira terdiam, tetapi dia akhirnya bicara.


"...bertar..ung.. Demi... Te..man.."


Meskipun tak jelas, namun itu sudah cukup. Aldest tersenyum sambil melihat musuh mereka yang tak abnormal.


"Semangat yang bagus. Aku tak perlu menjelaskan bagaimana kita akan bertarung kan?"


Amira mengangguk tanda mengerti. Menganalisa kemampuan lawan dan kawan adalah hal dasar yang harus dikuasi seorang Illegal Knight. Bekerja sama dengan orang yang baru dia temui hal yang yang mudah baginya.


"Seperti itulah Illegal yang kukenal. Mari kita potong monster menjijikan itu dan menunjukkan di mana tempat seharusnya mereka berada."


Dimulai dengan tombak tanah yang dikeluarkan Knox, babak kedua pertarungan mereka telah dimulai. Tidak, lebih tepat babak terakhir.


Hanya dalam kurun waktu kurang satu menit, monster yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan sebuah kota hancur tak tersisa.


"...kita bertiga sepertinya memang cocok. Mari kita lanjutkan berburu, anak anak."


Dari mereka berempat, hanya satu orang yang tak bertarung.


Sejak perkataan Knox, Jinn terus berpikir tanpa sadar pertarungan telah usai tanpa dirinya.


Dia menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya. Dia marah. Tapi bukan marah karena dia ditinggalkan. Dia marah pada dirinya sendiri karena tak paham apa maksud Knox.


Kenapa dia berpikir keras seperti itu? Apakah perkataan Knox itu absolut sehingga dia harus tahu arti perkataannya?


Salah.


Dia tak harus mengerti, tetapi perkataan Knox membuat dirinya merasa ingat pada suatu yang telah dia lupakan.


Sesuatu yang sangat penting.

__ADS_1


Sesuatu yang terlupakan.


Sesuatu yang hilang.


"..."


---Tetapi pada akhirnya dia tak menemukan jawabannya.


💠💠💠


Waktu berlalu dan akhirnya kelompok Laila menjelajahi labirin dengan mulus. Mereka bertemu beberapa kali dengan bos demon, tetapi mereka tak perlu waktu satu menit untuk menghabisinya.


Bukan karena musuh terlalu lemah, tapi mereka terlalu kuat. Bahkan jika ada yang terluka, Yui dan Arthuria akan langsung mengobati mereka. Tetapi keduanya belum menggunakan kemampuan itu. Bisa dibilang itu tak dibutuhkan. Mereka bagaikan pasukan yang tak terkalahkan.


Dengan kekuatan seperti itu, mereka masih tak mengerti kenapa musuh utama belum menunjukkan sosoknya. Atau mungkin mereka sudah membunuhnya tanpa mereka sadari.


Tak tahu pasti apa yang dipikirkan musuh, mereka akhirnya tiba di pintu besar setinggi 10 meter.


"...Lic.."


"Laila, ada apa..?"


"Aku merasakan Lic, tetapi sangat lemah. Jangan bilang mereka melakukan sesuatu kepadanya."


Aura kuat terpancar dari Laila. Dia marah besar hanya dengan membayangkan apa yang dilakukan musuh pada Lic.


Laila begitu kuat bukan karena dia adalah putri paladin atau latihan keras yang dia lalui, tetapi karena suatu yang lebih sederhana, yaitu kemarahan seorang ibu yang anaknya telah direnggut.


"Tenang, Laila. Mereka mungkin melakukan sesuatu, tapi itu tak cukup untuk membuat Lic terluka. Masalah saat ini adalah aku merasakan energi yang sangat besar berasal dari balik pintu ini."


"Aku juga merasakannya. Tetapi apa ini..? Ini terlalu besar untuk ukuran manusia."


Yui ikut mengatakan apa yang dia rasakan.


"Yah.. Apapun itu, bukankah kita akan tahu setelah membuka pintu ini?"


Arthuria maju dan menyentuh pintu besar yang terlihat kuat dan kokoh. Tetapi hanya dalam hitungan detik pintu itu perlahan meleleh hingga sebuah kereta bisa masuk ke dalamnya.


"Hehe.. Bukankah ini luar biasa? Laila, tolong puji aku!"


"Kuro, Yui, ayo kita masuk."


"Ah.. Kau memang pemalu. Jangan kawatir dengan pacarmu, dia tak akan cemburu. Hey.. Tunggu aku."


Ketiganya hanya mendesah. Mereka tak percaya seorang yang dikenal sebagai calon paladin adalah seorang super siscon.


Setelah masuk, yang menyambut mereka adalah seorang gadis yang duduk di sebuah kursi mewah. Rambutnya berwarna putih dan mengenakan sebuah gaun menyerupai gaun pengantin, tetapi bisa dibilang terlalu terbuka. Bahkan hanya ada sebuah kain selebar pita menyilang yang menutupi bagian dadanya.


Sang gadis membuka matanya.


Mata putih memantulkan cahaya seolah cermin tanpa noda.


"...aku sudah lama menunggu kalian, King dan Queen."


Meskipun berempat, tampaknya gadis itu tak menganggap penting orang lain selain Kuro dan Laila.


Gadis itu berdiri, tetapi dia seolah tak bisa bergerak leluasa seperti sebuah boneka. Nada bicaranya juga hampir sama menyerupai boneka.


"Ini pertemuan kita yang kedua kalinya, aku minta maaf karena tak bisa menyambut kalian dengan... baik. Tubuh ini lebih sulit daripada yang kami duga."


Sang gadis akhirnya bisa berdiri tegak.


"Siapa kau?"


Yui bertanya.


"Aku bukan siapa siapa. Hanya pelayan tuan Itsuki. Dengan tubuh baru ini, aku sekarang bisa memuaskannya di atas ranjang dan di dalam pertempuran. Sebagai pelayan tuan Itsuki, aku akan menghentikan kalian."


Gadis itu merentangkan dua tangannya ke samping dan membuka lebar jari jarinya. Perlahan tubuh gadis itu melayang ke tengah ruangan.


"Kita abaikan saja dia." ucap Laila. "Kita tak perlu mengikuti permainan wanita itu."


"Aku mengerti, tetapi sepertinya kita harus mengikuti permainannya. Kau lihat tak ada terowongan lain disini."


Apa yang dikatakan Kuro benar.


Meskipun mereka ingin melewatinya, namun jika tak ada jalan yang dilewati, maka mereka tak memiliki pilihan lain. Lagipula menjadi pengetahuan umum tak bisa melewati ruangan sebelum mengalahkan penghuninya.


"Tch.. Kalau begitu hanya ada satu cara. Benarkan?"


Ketiga lainnya tersenyum. Lalu perlahan mereka mengambil senjata masing masing kecuali Arthuria, dia memanggil burung kecilnya.


"Kalau begitu, aku maju dulu!"


"Yui, hentikan!"


Tapi sudah terlambat. Peringatan Kuro tak dianggap.


Yui melesat maju dan melompat untuk menebas tubuh wanita itu. Kedua belatinya memantulkan cahaya seolah sudah haus oleh darah wanita itu, lalu dikombinasikan dengan kecepatan dan teknik, memotong baja tebal bukanlah hal sulit bagi Yui, sayangnya-


"?!"


Belati Yui terhenti tepat beberapa mili dari kulit mulus wanita itu.


Dia tak tahu kenapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi. Dia lalu mengalirkan tenaganya untuk memperkuat serangannya, tetapi semua percuma. Lalu dia sadar, selain serangannya percuma, tubuhnya tak bisa bergerak.


Dia melirik ke wajah gadis itu. Wajah kosong tanpa emosi seolah membuat gadis itu bukanlah manusia.


Lalu gadis itu tersenyum. Senyumannya tak indah, namun sangat lebar seolah mulutnya bisa sobek. Memang, mulutnya tiba tiba sobek.


Pemandangan itu bagaikan film horror yang terjadi di depan mata, namun tak ada darah setetespun yang mengalir.


Keanehan terus berlanjut. Tubuh gadis itu terjatuh, tetapi ada suatu yang menahannya. Dia terlentang, dan kemudian kedua tangan dan kakinya bergerak membentuk seperti sebuah serangga.


Kemudian, itupun terjadi. Aura hitam mengelilinginya, tak berapa lama kemudian tubuh gadis itu membesar dan terus membesar. Dari tubuh gadis itu muncul dua tangan dan dua kaki lainnya. Kulitnya yang mulus tiba tiba berubah menjadi hitam kelam dan penuh dengan bulu halus.


Sosok gadis cantik kini berubah menjadi monster menyerupai laba laba. Hanya saja kepalanya masih terlihat seperti manusia dan memiliki taring besar dan enam pasang mata.


"Sial!"


Sadar Yui dalam bahaya jika terus dibiarkan, Kuro langsung bersiap menebas monster itu. Tetapi sama seperti Yui, serangannya tertahan oleh sesuatu.


Kuro tak tahu benda apa yang mampu menahan pedang yang terbuat dari taring naga, tetapi dengan kemampuan matanya, dia akhirnya bisa melihat benda tipis menyerupai benang telah menahan dirinya.


(Benang mana kah..)


Benang tipis, sangat tipis, namun lebih kuat dari baja. Meskipun begitu, benang tipis itu seharusnya tak mampu menahan pedang Kuro.


(Dengan kata lain ada alasan kenapa pedangku tertahan)


Setelah melihat lebih teliti, dia akhirnya paham. Satu benang tipis yang menahan pedangnya ternyata tersusun dari ratusan benang. Dengan kata lain, benang benang dengan level microskopik telah bersatu menjadi seutas benang kecil yang tak melebihi sebuah rambut.


Lalu Kuro sadar, benang benang itu tak hanya ada di depannya, namun sudah tersebar luas hampir di seluruh tempat itu.


Alarm dalam pikiran Kuro berteriak dengan keras. Dan disaat itulah sang monster tersenyum dengan lebar.


"Cursed Magic Art, Eternal Cutter"


Benang benang yang menyebar digunakan untuk memotong segala apa yang ada di ruangan. Benang tipis tajam yang mampu menahan pedang Kuro, apa yang terjadi pada tubuh manusia yang terbuat dari darah dan daging?

__ADS_1


Tentu mereka semua akan terpotong menjadi bongkahan kecil. Normalnya itulah yang akan terjadi.


Tetapi-


-----Tak ada yang terjadi.


Justru Kuro dan Yui terbebas dari jeratan benang tipis. Setelah itu, mereka mundur untuk berkumpul kembali dengan Laila dan Arthuria.


"Terima kasih, Sayang. Kau telah menyelamatkan kami."


"Dengan senang hati."


Serangan gadis(?) itu memang tiba tiba dan mematikan, mereka bisa mati jika terkena. Sayangnya, sebelum itu terjadi, Kuro menggunakan cursed art untuk meloloskan diri.


Benang musuh mungkin tak mudah dipotong karena terbuat dari mana yang dibentuk secara khusus, tetapi itu tak cukup untuk menghentikan Kuro yang mampu menggunakan ki dengan bebas.


Untuk memotongnya, Kuro menggunakan cara yang sama seperti saat memotong perisai Charlmilia. Dia memanfaatkan kedua sifat ki dan mana yang saling menyeimbangkan, tetapi bukan berarti menjadi satu.


"Monster yang merepotkan. Beraninya mencoba membunuh adikku!"


Arthuria mencoba menyerang. Suzaku terbang mendekat dan menyemburkan api bagai naga, tetapi serangan itu ditahan oleh semacam dinding transparan.


"Tch.. Dia bisa menggunakan untuk menyerang dan bertahan kah."


"Masalahnya adalah benang tipis yang digunakan untuk menyerang. Jika tak bisa melihatnya, kalian akan dalam masalah besar."


"Aku tahu, Kuro. Tetapi berkat kau, sekarang aku sudah melihatnya. Ini saatnya untuk menyerang balik."


Kuro tak terlalu terkejut.


"Magic Perception huh.. Kau bisa menggunakannya?"


"Aku berlatih bukan untuk main main, kau tahu? Meskipun aku mempelajari magic art itu bukan demi tujuan menyerang, namun menghindar.. Tetapi sekarang aku merasa tak ada yang bisa mengalahkan aku."


"Semangat yang bagus."


Laila dan Kuro mulai menyerang. Mereka berlari menuju ke arah musuh dengan pedang putih dan merah membara seolah menari.


Tentu musuh tak diam saja. Beberapa kilatan terlihat di udara, disaat yang sama keduanya bergerak menghindar dengan gerakan seminimal mungkin. Dari tempat mereka menghindar, lantai terbelah seolah terkena benda tajam.


Tak hanya menghindar, Kuro dan Laila juga menyerang. Mereka bergantian memotong benang musuh yang menghalangi mereka. Berbeda dengan Kuro yang memotong benang menggunakan ki, Laila menggunakan panas dari pedang merahnya yang kini bercahaya bagaikan logam meleleh.


Setelah dekat, mereka melompat untuk menebas musuh.


Untuk menghadapi Kuro dan Laila, gadis laba laba membuat pedang dan perisai dari benangnya.


Serangan Kuro ditahan oleh pedang, sedangkan Laila ditahan menggunakan perisai. Gelombang kejut menyebar luas, benang benang yang menjadi pijakan gadis laba laba bahkan terputus.


Kekuatan yang seimbang membuat sulit untuk menentukan pemenang, tetapi pemenang sudah ditentukan sejak keduanya berhasil mendekati gadis laba laba.


""


Laila menciptakan puluhan Scarflare di udara dan mengendalikan mereka untuk menyerang titik buta gadis laba laba. Jika dibandingkan dengan kecepatannya dulu, serangan Laila kini lebih cepat. Normalnya serangan Laila tak akan bisa ditahan atau dihindari karena gadis laba laba sedang bertahan dari serangan Kuro dan Laila.


Tetapi, kenyataan berkata lain.


Scarflare memang akan menembus tubuh gadis laba laba, tetapi dalam sekejap kulit laba laba muncul garis merah mengancam dan terlihat lebih keras. Scarflare terpental dan serangan Laila gagal.


"Kuro!"


Situasi berubah lagi.


Keduanya melompat mundur untuk menjaga jarak dari gadis laba laba, tidak. Setelah berubah, kini gadis laba laba itu berubah menjadi monster sepenuhnya. Bahkan tak ada sisa dari bagian tubuh atau bahkan kecerdasannya.


Yang terlihat hanyalah monster buas dengan penuh nafsu membunuh.


"Magic arm biasa tak akan menembus kulit kerasnya. Apa kau punya sesuatu untuk menembasnya?"


"Tentu aku punya, tetapi sepertinya dia tak akan membiarkanku melakukannya."


Seperti kata Laila, monster itu tak hanya berubah menjadi hitam, namun juga bertambah besar hingga dua kali lipat.


Kemudian monster itu turun ke lantai. Di saat bersamaan, senjata muncul dari udara tipis.


"Hati hati."


"Aku tahu."


Tak hanya banyak, namun juga kuat karena terbuat dari benang benang mana.


Musuh menyerang. Senjata yang diciptakan ditembakan bagaikan peluru dengan kecepatan melebihi suara.


Cepat. Tetapi Laila dan Kuro lebih cepat. Mereka menghindar dengan mudah. Bahkan mereka menggunakan kesempatan itu untuk mendekati musuh.


"!?"


Sesuatu yang tak disangka terjadi. Senjata yang berhasil dihindari tiba tiba kembali menyerang seolah dikendalikan. Salah satu senjata berhasil mengenai pipi Kuro, tetapi hanya itu saja luka yang berhasil mengenai Kuro.


Setelah itu, Kuro tak membiarkan satu pedang pun menyentuhnya.


"Aku rasa sudah cukup main mainnya."


Kuro tersenyum tipis, kemudian dia tiba tiba menghilang. Dia menggunakan Burst Art. Dengan kecepatan berkali kali lipat dari kecepatan biasa, dia memotong semua bagian tangan dan kaki.


Monster itu terkejut. Monster itu bahkan tak sempat merasakan sakit dan pada akhirnya tubuhnya terjatuh ke lantai tanpa berbuat apapun.


Darah hijau mengalir dari tubuhnya. Monster itu berteriak dengan keras hingga seluruh tempat. Sungguh pemandangan yang menyedihkan, namun tak ada rasa iba atau rasa kasihan.


Tiba tiba ruangan dihiasi cahaya di langit. Cahaya yang terlihat bagaikan matahari kedua itu berubah wujud menjadi pedang besar dengan api membara yang sanggup melelehkan benda apapun.


Sang pemegang pedang merah membara itu adalah seorang gadis cantik bagaikan dewi perang yang menuntun semua kepada kemenangan.


"Aku tak dendam padamu, hanya saja kau telah mengambil suatu yang tak seharusnya kau ambil."


Pedang berukuran lebih dari tubuh orang dewasa itu seringan sebuah sapu lidi di tangan Laila. Kemudian, dengan pedang itu dia menebas tubuh monster menjadi dua bagian tanpa ada halangan.


Monster itu akhirnya mati dan menjadi partikel cahaya. Tetapi, anehnya tak ada batu sihir yang muncul.


Kuro lalu mendekat.


"Sepertinya peningkatanmu lebih dari yang kuperkirakan. Aku harap bukan hanya ini saja aku melihat kejutan darimu?"


Mungkin terdengar seperti sarkasme, tetapi Laila menganggap itu sebagai pujian.


"Tentu bukan hanya ini saja. Ascaflare hanyalah salah satu variasi Scarflare yang kubuat. Kau tahu, ini bahkan bisa dibilang salah satu yang terlemah."


Kuro tersenyum kecut mendengar itu. Bagaimanapun juga setelah melihat kemampuan pedang yang mampu menebas tubuh monster yang keras dengan mudah, siapapun tak akan berpikir pedang itu adalah salah satu yang terlemah.


Tampaknya potensi bertarung Laila lebih besar daripada yang diperkirakan semua orang.


Jika peringkat miliknya diperbarui, dia akan mendapat peringkat apa? Mengetahuinya akan sangat menarik, tetapi saat ini mereka tak punya waktu memikirkan itu.


"Kalau begitu kita akan mendapatkan Lic dengan mudah. Lihat, sepertinya pintu selanjutnya sudah terbuka."


"Aku bisa merasakan Lic. Dia sudah dekat."


Tanpa menunggu Yui dan Arthuria, keduanya berlari menuju pintu yang mengantar mereka ke pertarungan selanjutnya.


3 jam berlalu sejak mereka memasuki labirin. 8 jam tersisa hingga Ringblood Moon terjadi.

__ADS_1


Jika dilihat dari sudut pandang orang lain, pertarungan mungkin akan berjalan mulus, tetapi itu hanyalah pemikiran naif.


__ADS_2