Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Silent Night


__ADS_3

Kota Panese. Sebuah kota di antara pegunungan dengan pemandangan yang indah dan menjadi salah satu tempat wisata yang paling dikunjungi di wilayah kekaisaran.


Tetapi salah jika berpikir kalau semua pemandangan itu adalah hasil dari alam. 39 tahun yang lalu, kaisar Sei kebetulan lewat daerah itu dan bergumam 'bukankah tempat ini bagus untuk berwisata?'


Dengan ucapan yang tak tahu apakah serius atau tidak, proyek kota Panese dimulai dan akhirnya selesai dalam 3 tahun. Jika melihat pemandangan yang ada, sulit dipercaya kalau semua ini buatan tangan manusia.


Sayangnya, bagi beberapa orang, kota Panese lebih dari sebuah kota yang indah. Kota ini merupakan salah satu fasilitas rahasia kekaisaran yang melakukan penelitian dan perlindungan terhadap beberapa orang dengan status penting.


Karena itulah, saat Adam pergi ke kota Panese, bisa ditebak kalau tujuannya bukanlah untuk berwisata, tapi meminta perlindungan.


Sebas mengakui hal ini dan dengan alasan itu pula Riku ikut ke tempat yang menjadi lokasi perlindungan. Bagaimanapun juga dia juga harus memastikan kalau misi kali ini berjalan dengan baik.


Syukurlah, meskipun awalnya terjadi kepanikan karena objek misi mereka menghilang dari kapal udara, saat tahu kalau Adam sudah sampai membuat Helen dan lainnya merasa lega.


Meskipun  banyak kejadian tak terduga, bisa dibilang misi kali ini berjalan dengan sempurna.


"Baiklah, karena misi kita sudah selesai dan berjalan dengan baik, kita bisa bersantai beberapa hari sampai kapal udara menuju ibukota datang."


Kapal udara umum menuju ibu kota akan datang tiga hari lagi. Mereka memiliki waktu untuk bersantai dan menikmati kota Panese.


Tak seperti yang diduga, Guy memilih pergi sendirian. Sepertinya dia sudah memiliki rencana tersendiri saat sampai di kota Panese.


Sementara itu, Helen dan Milia berencana mencari penginapan. Sebagai murid sekolah sihir, mereka akan mendapatkan diskon, jadi mereka tak begitu khawatir dengan anggaran yang seadanya.


Riku dan Lunaris berpisah dengan Helen dan lainnya. Meskipun mereka saat ini menjalankan misi bersama, mereka tak harus kembali bersama.


Helen sendiri tak cukup bodoh untuk tak tahu kalau Riku dan Lunaris memiliki hal yang penting untuk diselesaikan daripada berwisata. Selain itu dia juga menyadari kalau kota Panese sepertinya lebih dari sebuah kota wisata.


Karena statusnya, dia tak ingin begitu terlalu terlibat, hanya saja saat melihat ekspresi Riku setelah kembali dari pertarungan melawan naga angin, dia tahu kalau masalah ini lebih serius daripada yang dia kira.


"Apa kalian yakin tak ingin menginap di tempat keluarga kami?"


"Terima kasih tawarannya. Tapi tempat itu terlalu .... bagaimana mengatakannya?"


Helen tak tahu harus berkata apa. Saat tahu akan berpisah, Riku menawarkan mereka tempat menginap milik keluarga Kagami yang berada di kota Panese.


Mengingat latar belakang keluarga Kagami, bisa ditebak kalau penginapan itu adalah salah satu yang terbaik. Helen merasa kalau menginap di sana, dia justru tak tahu harus berbuat apa.


"Kalau begitu aku tak akan memaksa. Tapi jika butuh sesuatu, kalian bisa mencari kami di sana."


Riku lalu memberikan sebuah lencana kecil dengan simbol seekor naga yang melilit perisai. Itu adalah simbol keluarga Kagami.


Keluarga besar seperti Kagami memiliki lencana khusus untuk mengidentifikasi mereka. Biasanya lencana hanya diberikan pada orang kepercayaan karena memberikan lencana pada orang sembarangan bisa mencemari nama baik jika digunakan dengan salah.


Sadar beban dari lencana yang diberikan Riku, Helen ragu menerimanya, tapi Riku memberikannya secara tulus. Dia merasa tak nyaman jika menolaknya.


"Terima kasih. Aku tak akan mengecewakan ekspetasi kalian."


Kelompok keduanya lalu berpisah.


Setelah berpisah, Riku dan Lunaris tak langsung pergi ke penginapan, tapi mereka pergi ke salah rumah biasa yang ada di tengah kota.


Rumah itu merupakan bar kecil yang tak terlalu ramai. Tanpa banyak kata, Riku memberikan lencana simbol keluarga Kagami pada penjaga bar.


Penjaga bar itu hanya melirik tanpa memberikan komentar lebih. Sesaat kemudian, sebuah pintu terbuka di bagian lantai. Lunaris dan Riku tanpa ragu masuk.


Mereka berdua tahu kalau ada fasilitas khusus di kota Panese, tapi ini pertama kali mereka memasukinya. Setelah menuruni tangga dan melalui lorong yang cukup panjang, akhirnya mereka sampai di ruangan luas.


Luas ruangan yang mereka lihat memiliki luas hampir sama dengan luas lapangan sepak bola. Mengingat tak mungkin hanya ada ruangan itu saja, bisa ditebak kalau fasilitas itu benar benar luas. Bahkan mungkin lebih luas daripada kota Panese di atas permukaan.


Saat mereka tiba, seorang pria dengan jaket lab menyambut mereka.


"Selamat datang di fasilitas nomor 32. Namaku Gent, salah satu peneliti di tempat ini. Apakah benar anda tuan muda dari keluarga Kagami?"


"Namaku Riku dan dia tunanganku, Lunaris. Kami ke fasilitas ini karena memiliki urusan. Bisakah kami bertemu dengan orang yang berwenang dalam fasilitas ini?"


Gent tersenyum melihat Riku dan Lunaris. Setelah beberapa saat, dia berkata :


"Aku yakin kedatangan anda berkaitan dengan Trident. Kepala Queis pasti senang bertemu dengan anda. Mari saya antar."


Mereka mengikuti Gent dari belakang. Dalam perjalanan mereka melihat banyak barang menyerupai senjata dalam keadaan baik, tapi ada juga yang rusak. Semuanya memiliki kesamaan, ada beberapa orang yang melakukan penelitian di setiap senjata itu.


Mereka menjalankan tes seperti mencoba memotong dengan alat, membakar, dan bahkan ada yang memalu.


"Mungkinkah semua senjata itu Cursed Arm?"


Riku bertanya karena penasaran. Dia tahu kalau tempat itu merupakan fasilitas penelitian. Tapi penelitian apa?


Dari yang dia lihat, dia bisa merasakan kalau itu adalah senjata yang tak biasa dari auranya. Jika senjata sihir biasa, maka penelitian sedikit berlebihan.


"Anda bisa menyebutnya seperti itu. Tapi di tempat ini kami menyebut mereka sebagai Relic, bukan Cursed Arm."


"Relic?"


Riku tahu kalau Cursed Arm bisa merupakan senjata yang dibuat pada zaman dahulu dalam perang, tapi itu tak bisa dikatakan sebagai sebuah Relic.


"Maaf karena tak sopan, tapi Anda jangan terlalu percaya pada buku sejarah. Ada banyak hal yang sebaiknya tak disebutkan pada orang orang seperti kita."


Riku tak membantah. Dia tahu apa yang ingin disampaikan Gent.


"Sejarah memang menyebutkan kalau Relic merupakan senjata yang dibuat dalam masa perang Paladin. Tapi apakah anda pernah menanyakan bagaimana Relic dibuat? Jika bisa dibuat, kenapa sampai sekarang tak ada yang bisa membuat Relic lagi?"


Jika dipikirkan lagi, semua yang dikatakan Gent masuk akal.  Senjata yang digunakan dalam konflik di zaman sekarang lebih banyak melibatkan senjata sihir dengan teknologi maju daripada teknologi sihir kuno.


Memang senjata sihir sekarang memiliki kekuatan penghancur yang besar, tapi senjata kuno seperti Cursed Arm memiliki kemampuan yang lebih unik dan spesial. Bahkan tak ada teknologi baru yang bisa meniru keunikan itu.


Tentu saja anggapan itu tak begitu aneh karena adanya pelarangan pembuatan Cursed Arm lagi, tapi bagaimana jika pada kenyataannya, tak ada yang sanggup membuat Cursed Arm pada zaman sekarang?


Menyadari semua ini, Riku merasa kagum, tapi di saat yang sama juga khawatir karena keberadaan Cursed Arm.


"Awal pembuatan Relic sampai sekarang masih misteri. Terlalu banyak petunjuk yang hilang akibat perang 400 tahun yang lalu. Seolah semuanya sengaja dihapus dari sejarah. Fasilitas ini dibuat bertujuan untuk menguak misteri dari semua itu."


"Aku tak menyangka kekaisaran bertujuan menciptakan Cur-Relic kembali."

__ADS_1


Jika benar, dia akan bicara dengan kakaknya itu.


"Anda salah. Tujuan kami meneliti Relic bukanlah untuk membuat Relic baru, tapi meneliti bagaimana kami bisa menghancurkannya."


Riku sedikit merasa bersalah karena menduga terlalu awal.


"..Bukankah cukup dengan cara biasa?"


"Metode pembuatan Relic lebih maju daripada teknologi sekarang. Kami mungkin bisa menciptakan senjata dengan bahan dan komposisi yang sama dengan Relic, tapi jika ditanya lebih mudah mana menghancurkannya, maka Relic tak diragukan lagi menjadi salah satu benda tersulit yang dihancurkan di dunia ini."


Mereka memasuki sebuah lorong yang menuju bagian lain fasilitas.


"Kami pernah berhasil menghancurkan satu buah Relic berupa sebuah pisau kecil, itupun tak bisa disebut sebagai Relic yang kuat. Usaha yang kami lakukan terlalu lama dan boros. Biaya yang digunakan bahkan sanggup untuk membangun dua kapal perang baru. Hahaha..."


Riku tak tahu harus bersimpati atau merasa bangga karena berhasil menghancurkan sebuah pisau kecil.


Tapi jika dibutuhkan biaya dan waktu sebanyak itu, bagaimana cara menghancurkan Cursed Arm yang lebih kuat?


"Tuan Riku, menurutmu, apakah yang membedakan Relic dengan senjata sihir?"


"Ada banyak, tapi yang mencolok mungkin kemampuan mereka."


"Aku setuju dengan itu, tapi yang paling tepat adalah adanya sebuah jiwa pada Relic, sedangkan senjata sihir tidak. Keberadaan 'jiwa' ini juga menjadi teori kenapa Relic sulit sekali dihancurkan."


Sebuah senjata yang memiliki jiwa. Relic bisa disamakan sebuah sebuah Arm atau Beast yang merupakan perwujudan jiwa seorang penyihir.


Bagaimana jika Relic sebenarnya adalah Arm atau Beast?


"Aku tau apa yang anda pikirkan, tapi pengetahuan yang kita miliki saat ini masih dangkal. Dan entah mengapa, jika kita menguak lebih dalam, kita akan menyentuh hal tabu."


Bukan hanya Gent yang merasakan, tapi Riku juga merasakannya. Jika semua hal tentang Cursed Arm dihapus, bukan tak ada alasan mereka melakukannya.


"Apakah kalian tak pernah mencoba menghancurkan 'jiwa' pada Relic itu?"


Lunaris yang sejak tadi hanya diam tiba tiba ikut menyambung.


"Tentu saja kami pernah mencobanya. Tapi ada semacam mekanis pertahanan yang membuat kami sulit melakukannya. Bukan berarti kami gagal. Hanya saja kami sadar jika masih ada sedikit sisa dari 'jiwa' itu, 'jiwa' dalam Relic akan pulih kembali. Sungguh, kenapa kaisar tak memberikan sebuah perintah yang mudah?"


Kau terlihat senang, tapi sekarang mengeluh? Sepertinya orang orang di sini memilikinya masalah sendiri.


Mereka kemudian sampai di tempat kepala peneliti, Queis.


Seperti sudah menunggu, mereka langsung dipersilahkan masuk.


"Aku permisi dulu. Jika butuh sesuatu kalian bisa memanggil salah satu peneliti. Kami semua memiliki wewenang dan tujuan yang sama."


Gent pamit pergi dan meninggalkan keduanya di ruangan bersama dengan Queis.


Berbeda dengan yang Riku bayangkan, Quies terlihat seorang yang berumur 20 tahunan. Dia pasti seorang jenius karena menjadi kepala peneliti di usia yang begitu muda.


Tak ada yang mencolok darinya selain wajahnya yang tampan dengan rambut warna coklat tua.


"Perkenalkan, saya kepala peneliti di tempat ini,  Queis. Senang bertemu dengan anda, tuan muda Riku. Dan juga nona muda Lunaris. "


"Senang bertemu dengan anda, tuan Queis. "


Apa yang dia pikirkan?


Queis sendiri tak begitu peduli dengan reaksi Lunaris dan hanya tersenyum.  Itu membuat Riku sedikit tenang. Tampaknya Lunaris masih sama seperti dulu, masih belum mudah akrab dengan orang yang baru dia kenal.


"Mari silahkan duduk. Aku hanya punya teh murahan, aku harap anda tak begitu kecewa."


"Maaf merepotkan."


Riku dan Lunaris duduk.


Queis dengan begitu tenang menuangkan teh pada cangkir. Dia begitu normal seolah sudah menjadi kebiasaannya sehari hari.


Meskipun mengatakan murahan, tapi Riku bisa merasakan kalau teh itu sedikit memiliki rasa unik yang menyegarkan dan nikmat. Lunaris bahkan menyukainya setelah menyeruput sedikit.


"Ini sungguh rasa tak biasa."


"Haha.. hanya anda yang memberikan komentar seperti itu. Kebanyakan tak mengerti rasa teh spesial di tempat ini. Jangan kawatir, teh itu terbuat dari bahan bahan alami."


"...."


Riku tak memberikan komentar. Dia tahu Queis berkata seperti itu untuk menunjukkan kalau dia bisa dipercaya. Meskipun pada kenyataannya, ada benda berbahaya atau tidak, itu tak penting bagi Riku karena tubuhnya bisa mengolah racun dengan cepat.


Queis sepertinya juga memiliki maksud lain, tapi Riku memilih tak begitu peduli seolah tak tahu.


"Sebelumnya minta maaf karena datang tiba tiba dan menganggumu. Aku kemari karena ingin tahu tentang 'materi' yang baru datang ke tempat ini."


Menyebut Adam sebagai sebuah 'materi' terdengar kasar, tapi Riku sengaja menyebut seperti itu karena paham saat ini Adam menjadi bahan yang paling berharga di fasilitas itu.


"Aku mengerti dengan hal itu. Sebagai pemimpin tempat ini, aku akan memberikan semua hal yang anda butuhkan."


Riku paham Queis memberitahu bukan karena dia berasal dari keluarga Kagami, tapi karena belati yang dia miliki.


Queis tak memiliki pilihan. Belati itu membuat status Riku sama dengan kaisar. Jika Queis tak menghormati Riku, dia akan mendapatkan masalah yang tak akan bisa diselesaikan meskipun mempertaruhkan nyawanya.


Tetapi bukan berarti Queis tak bisa berbohong. Ini terserah Riku bagaimana bisa menggali informasi sebanyak mungkin.


"Kalau begitu langsung saja, ...apakah Adam memiliki waktu?"


"..."


Queis tak langsung menjawab dan termenung. Setelah beberapa saat, dia mendesah dalam.


"Anda tahu kalau nasib anak itu benar benar tidak beruntung. Menanyakan dia memiliki waktu atau tidak seolah mengatakan kalau dia akan mati. Bukankah itu sedikit kasar?"


"Dia tidak?"


"Bukan begitu. Jujur saja, ini adalah kasus yang pertama kali terjadi di dunia ini. Di mana sebuah Relic memilih seseorang menjadi wadahnya. Seperti kebanyakan orang lain yang terlibat dengan Relic, nasib mereka bisa dipastikan akan buruk, tapi kita masih belum tahu betul apakah tuan muda Adam akan memiliki nasib serupa."

__ADS_1


Mendengar itu Riku merasa sedikit lega.


"Kami memeriksa seluruh tubuhnya. Aliran sihir, nadi sihir, kondisi tubuh..  semuanya normal seperti anak kecil lainnya, tetapi semuanya berubah saat dia memanggil Arm miliknya. Tuan Riku, bisakah anda menebak nama Arm milik tuan Adam?"


Riku tak ingin menjawab.


"Begitulah. Normalnya, seorang penyihir mewujudkan Arm dan Beast dengan nama yang berasal dari dalam jiwa dan pikiran mereka. Inilah salah satu alasan kenapa Arm dan Beast disebut sebagai jelmaan jiwa penyihir, tapi tuan muda Adam menyebut nama sihir yang merupakan nama Relic. Hal ini bisa dibilang menindih jiwa penyihir dengan sesuatu yang lain. ....Tentu saja itu tak berjalan dengan lancar."


Queis lalu menunjukkan sebuah Crystal Age dan menunjukan isinya pada Riku dan Lunaris. Itu adalah data tentang kondisi tubuh Adam.


"Trident dikenal sebagai salah satu Relic terkuat, seberapapun cocoknya dengan tubuh tuan muda Adam, tubuh kecilnya tak akan sanggup menerima kekuatan yang begitu besar. Sejauh ini dia hanya mengalami sering demam tinggi, tapi itu adalah gejala awal. Jika terus dibiarkan, tubuhnya akan hancur dari dalam."


Meskipun mengatakan tentang nyawa, tapi tak ada rasa iba atau sedih dengan yang menimpa Adam.


Saat pertama kali melihat Queis, Riku bisa tahu kalau orang itu hanya peduli dengan tujuannya. Karena itulah dia tak peduli apakah Adam akan hidup atau mati. Yang terpenting adalah hasil penelitiannya.


Orang seperti ini cukup merepotkan.


"Jadi kau ingin mengatakan kalau Adam hanya memiliki dua pilihan?"


Hidup atau mati. Riku ingin mendengar pilihan lain, karena itulah dia mencaritahu keadaan Adam meskipun secara teknis dia tak memiliki hubungan dengannya.


"Tidak. Menurutku, sejak awal dia hanya memiliki satu pilihan. Dia harus bisa mengendalikan kekuatan Trident."


"Kenapa?"


"Aku tak mengatakan itu tanpa alasan. Selain aku meneliti kondisi tubuhnya, aku juga melakukan penelitian sebelum tuan Adam terlibat. Hasilnya cukup mengejutkan. Kini aku bisa mengatakan kalau tuan muda Adam sangatlah beruntung karena bisa memiliki sebuah Arm sekuat Trident. "


"Kau pasti bercanda?"


"Yah.. kita sering kali menemukan penyihir dengan nama sihir yang sama dengan makhluk atau benda legendaris. Aku yakin anda sangat mengerti tentang hal itu. Tapi sampai sekarang, kita masih belum tahu pasti apakah nama sihir itu benar benar mewujudkan makhluk atau benda legendaris itu dalam bentuk jelmaan sihir. Benarkan?"


"..."


Di keluarganya, ada beberapa yang memiliki nama sihir benda dan makhluk legendaris. Tetapi seperti yang Queis bilang, apakah wujud sihir mereka benar benar sama dengan dengan makhluk sihir itu?


Sampai sekarang itu masih menjadi misteri yang belum diketahui kebenarannya.


Tapi hal ini membuat Riku sekali lagi memikirkan tentang legenda legenda yang ada di dunia ini. Legenda merupakan sebuah kisah pada zaman dulu dengan bukti yang terlihat pada zaman sekarang.


Pandora, Byakko, Phoenix, Excaliburn. Itu hanyalah beberapa contoh dari ratusan, ribuan legenda yang terkenal di dunia ini. Tetapi anehnya, tak ada satupun bukti nyata dari keberadaan mereka.


Daripada legenda, bukankah lebih tepat disebut sebagai mitos atau kisah karangan?


Darimana semua kisah kisah itu berasal?


Lalu apa hubunganya dengan perwujudan sihir para penyihir?


"Maaf, sepertinya kita sudah terlalu jauh dari topik."


Riku tersadar. Dia juga paham kalau ini jauh dari apa yang dia inginkan.


"Meskipun ini baru tahap awal pemeriksaan, tapi aku yakin kalau kondisi tuan muda Adam tak akan dalam bahaya dalam waktu dekat. Tubuhnya saat ini masih beradaptasi dengan kekuatan barunya. Jika dia berhasil menguasai kekuatannya, dia akan menjadi salah satu penyihir terkuat di kekaisaran...  Tapi..."


Queis berhenti seolah tak ingin mengatakannya.


"Jika dia dikendalikan oleh kekuatannya, dia akan menjadi salah satu malapetaka besar seperti kebanyakan kasus yang melibatkan Relic."


Queis mengangguk membenarkan apa yang Riku katakan.


Sampai sekarang insiden 15 tahun yang lalu di ibukota masih menjadi ingatan segar. Di mana seorang penjahat menggunakan Cursed Arm untuk membuat sebuah labirin dan meratakan ibutoka dalam radius 15 kilometer lebih.


Jika saat itu pihak pemerintah terlambat sedikit saja mengambil tindakan, tak ada yang bisa membayangkan jumlah korban dari insiden itu.


Tapi berkat insiden itu pula sekarang ada sebuah labirin yang aktif di tengah ibukota untuk pelatihan penyihir. Pihak pemerintah bisa saja menghancurkan labirin untuk selamanya, tapi mereka mendapatkan ide lain dari insiden itu.


Riku harus mengakui kakaknya memang luar biasa.


--Setelah mendapatkan apa yang Riku inginkan, Riku dan Lunaris pergi. Mereka menuju penginapan milik keluarga Kagami.


Langit sudah mulai gelap dan ini adalah waktunya untuk beristirahat. Selain itu, mereka tak memiliki rencana lain.


Saat tiba di penginapan, mereka disambut dengan begitu hormat. Hubungan keduanya sudah bukan menjadi rahasia, jadi para staff tahu kalau keduanya akan berada dalam satu kamar.


Riku langsung menuju kamar mandi. Dia begitu lelah dan ingin segera istirahat. Tetapi bisa ditebak, Lunaris akhirnya menyusul dengan alasan ' ingin mandi bersama'. Riku sungguh pemuda yang beruntung. Sungguh beruntung.


Melihat tubuh Lunaris tanpa sehelai benang seperti saat baru lahir dan basah membuat rasa lelah Riku sedikit berkurang. Dia harus mengakui kalau Lunaris tahu betul bagaimana menghibur dirinya.


Di bak mandi air hangat, Lunaris duduk di pangkuan Riku. Dia mengalungkan tangan Riku padanya dengan penuh cinta.


Riku begitu menikmati suasana damai itu. Dia bahkan memejamkan mata seolah tak ingin waktu cepat berlalu.


"Riku.. jangan terlalu memaksakan diri."


"...mungkin..."


Tak ada yang bisa disembunyikan dari Lunaris.


Pergi ke fasilitas untuk mengetahui keadaan Adam hanyalah sebuah pelampiasan. Pada kenyataannya, dia bahkan tak begitu peduli dengan apa yang menimpa Adam. Dia memang bersimpati, tapi hanya sebatas itu.


"Kita akan mencari tahu siapa di balik semua ini. Jika dibiarkan, aku bisa merasakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi."


"Aku mengerti. Siapapun yang berani membuat naga menjadi seperti itu akan mendapatkan balasan yang setimpal."


Rasa marah yang Riku rasakan juga dirasakan oleh Lunaris.


Di kekaisaran ada aturan untuk tak mengganggu naga bukan hanya karena mereka akan mendapatkan balasan berupa amarah dari naga, tapi karena ada alasan yang lebih dalam dari itu.


Riku dan Lunaris adalah beberapa orang yang tahu kebenaran di balik semua itu.


Tapi ada alasan lain kenapa mereka berdua begitu marah.


Normalnya manusia jika diberikan sebuah pilihan antara naga atau manusia, mereka akan langsung memilih manusia. Tapi Riku dan Lunaris kebalikannya.

__ADS_1


Mereka akan memihak naga apapun yang terjadi. Bahkan tak peduli apakah naga itu salah atau tidak.


Malam ini begitu tenang seolah menjadi sebuah pertanda hal buruk akan segera terjadi.


__ADS_2