Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Small House


__ADS_3

Panas bara api merah membara menggambarkan semangat mereka dalam mengerjakan pekerjaan mereka. Meskipun lelah terasa dan keringat membasahi tubuh mereka, tapi tatapan mereka menunjukkan tak akan berhenti menempa besi membara dengan palu.


Suara lirih lonceng di dekat pintu toko berbunyi menandakan mereka kedatangan seorang pelanggan.


Keduanya menghentikan pekerjaan mereka sejenak untuk beristirahat sekaligus menyambut pelanggan yang ingin membeli barang atau mengambil pesanan dari toko mereka. Keheningan terjadi setelah suara palu mulai berhenti memukul besi panas.


"Ayah, minumlah."


"Terima kasih..."


Irho menaruh palu besar dan meneguk air yang menyegarkan. Dia memandangi pekerjaan yang dia lakukan tanpa henti selama lebih dari satu minggu.


Dia sedang membuat pedang, tapi bukan pedang yang biasa mereka buat.


(Aku pasti sudah gila menerima pekerjaan ini..)


Dia tak tahu apa yang terjadi dengannya, namun mungkin harga dirinya sebagai seorang pandai besi dan penyihir yang tak mengizinkannya untuk menyerah. Apalagi putrinya sudah bertekad. Bagi seorang ayah, itu lebih dari cukup untuk memberikan kekuatan agar dia bisa menempa besi dalam bara api panas.


Putrinya, Fila menuju ke depan toko untuk menyambut pelanggan. Setelah beberapa saat, Fila kembali.


"Fila mungkinkah kita mendapatkan pelanggan yang merepotkan?"


Mereka dikenal sebagai tukang besi terbaik di kota Areshia. Dan karena ketenaran mereka itu tak mengherankan jika mereka cukup sering menerima pesanan yang aneh dan merepotkan.


Tapi sejauh ini hanya satu orang saja yang memiliki pesanan paling aneh.


"Tidak ayah. Kita tak kedatangan pelanggan, namun tamu."


"Tamu?"


"Bukan untukmu, tapi untukku. Kurasa aku ingin berjalan jalan sebentar untuk mengambil udara segar. Kita bisa melanjutkan membuat pedang Kuro nanti."


Fila ingin mengatakan kalau dia akan pergi dengan tamunya. Dari tekanan mana yang familiar, Irho dapat menebak siapa tamu Fila.


Membuat pedang membutuhkan waktu yang lama. Dan untuk membuat pedang dengan kualitas bagus, maka sekali memulai, maka mereka tak bisa berhenti di tengah jalan.


Tapi saat ini mereka membuat pedang yang tak biasa dan dibuat dengan cara yang tak biasa pula. Menunda pekerjaan sementara tak akan mempengaruhi kualitas pedang yang mereka buat. Justru jika tak melakukannya, mungkin pedang mereka akan hancur seperti sebelumnya.


"Baiklah.., aku juga butuh istirahat. Tapi Fila, aku tahu pedang ini sangat berarti untukmu, tapi aku harap kau tak memaksakan diri. Kau yang paling tahu apa yang terjadi jika hal itu sampai terjadi."


"........."


Fila hanya mengangguk pelan. Dia sudah mendengar hal itu berkali kali seperti sebuah ceramah rutin. Bukan berarti dia membenci saat ayahnya melakukan itu. Dia justru senang karena ayahnya mencemaskan dirinya.


Sayangnya, setiap kali ayahnya melakukan itu, disaat yang sama dia teringat kembali hal yang tak ingin dia ingat.


Setelah mandi dan berganti baju, Fila pergi. Suara lonceng kembali berbunyi tanda Fila telah keluar dari toko mereka.


"Maaf membuatmu menunggu, Charl."


Charlmilia bersandar di dinding seperti kekasih yang menunggu untuk berkencan. Sayangnya, saat ini dia seorang wanita cantik jelita.


"Seharusnya aku yang meminta maaf karena mengganggu pekerjaanmu. Bukankah kau sedang sibuk membuatkan pedang untuk Kuro?"


"Aha ha... jadi kau mengetahuinya ya?"


"Tentu saja. Jangan remehkan sumber informasiku."


Keduanya tersenyum kecil. Sayangnya itu bukanlah senyuman yang mengatakan ingin beramah tamah.


"Jadi... apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Fila.


"Kurasa kau sudah tahu apa yang ingin kubicarakan. Aneh kalau kau menanyakan hal itu."


"..bagaimana kalau kita mencari tempat yang lebih cocok untuk mengobrol? Dan kurasa aku tahu tempat yang cocok."


Keduanya tersenyum sekali lagi dan pergi bersama.


Keduanya lalu melangkahkan kaki mereka keluar dari kota Areshia. Mereka bertemu dengan penjaga yang ramah dan mengenal baik keduanya. Setelah meminta izin, merekapun pergi ke luar kota yang penuh dengan bahaya.


Setibanya di luar, Fila tiba tiba bersiul. Dan tak butuh waktu lama menunggu hingga mereka kedatangan sosok naga hitam yang kini sudah semakin besar daripada saat terakhir mereka bertemu.


"Aku tak tahu kalau kau bisa memanggil Laiko."


"Kuro memerintahkan Laiko untuk membantuku jika aku butuh bantuan. Kadang aku pergi mencari bahan dengan menungganginya. Mungkin karena sering bersama, kami sekarang cukup akrab."


Laiko meraung kecil seperti memberi tanda kalau semua yang dikatakan benar.


"Ayo, bukankah kau juga ingin merasakan menunggangi naga kesayangan Kuro?"


"......Apa yang sebenarnya kulewatkan?"


💠💠💠


Mentari senja telah tiba. Langit mulai berwarna hitam dan bintang bintang mulai menunjukkan cahaya yang menerangi kegelapan.


Malam yang romantis. Jika keduanya bukan perempuan, ini malam yang indah bagi keduanya.


Keduanya menunggangi Laiko menuju sebuah bukit yang cukup jauh dari kota Areshia. Mereka mendarat di bagian puncak yang merupakan tebing yang cukup curam.


Fila turun dengan melompat. Charlmilia mengikutinya.


Setelah tugasnya selesai, Laiko melangkah ke sudut dan melingkarkan tubuhnya seperti ular.


"Laiko pasti kesepian karena Kuro dan Laila meninggalkan dia sendirian."


"Aku tak tahu kau sudah tahu Kuro akan pergi. Bisakah kau memberi tahu mereka kemana?"


"Sayang sekali aku hanya diberi tahu mereka akan pergi. Mengenai tujuan dan kapan mereka akan kembali aku sama sekali tak tahu. Tapi satu hal yang pasti, aku tahu mereka akan kembali dan apa yang mereka lakukan selama kita tak melihat mereka."


"....kenapa kau bisa mengatakan hal semacam itu dengan mudahnya? Bukankah kau menyukai Kuro sama seperti diriku?"


Fila tersenyum kecil. Dia melangkahkan kakinya ke tepi tebing lalu dia duduk dengan tenang. Dia melirik ke arah langit dengan tatapan nostalgia.


"Charl, apakah cuma itu yang kau ingin bicarakan?"


"...."


"Aku tahu kau ingin membicarakan tentang Kuro, tapi aku tak mengerti bagian apa yang ingin kau bahas. Bukankah kau satu kelas dengannya? Berbeda denganmu yang bisa setiap hari melihatnya, aku hanya bisa melihat mereka dari kejauhan. Bukankah seharusnya kau lebih mengenalnya daripada aku?"


"...."


"Jadi kurasa meminta saran kepadaku adalah sebuah kesalahan. Aku salah?"


Charlmilia tak bisa menjawab karena memang dia tak tahu jawabannya.


Kuro memang selalu di dekatnya, namun selalu berada di sisi orang lain. Mendekati dua orang yang saling mencintai bukanlah tindakan yang dibenarkan. Tapi dia tak bisa membohongi perasaannya. Karena itulah Charlmilia harus menyelesaikan semua ini.


Dia lalu duduk di samping Fila sambil sesekali menikmati pemandangan kota Areshia di malam hari.


"Haaa.... kurasa aku hanya ingin melampiaskan amarahku saja. Maaf, tapi aku tak tahu harus berbicara kepada siapa lagi. Aku tak mengerti kenapa aku bisa tiba di rumahmu. Semua terjadi begitu saja tanpa aku sadari. Mungkin karena aku tahu kita adalah seseorang yang mempunyai nasib yang sama."


Keduanya menyukai Kuro dan menjadi orang yang hanya melihat kemesraan Kuro dan Laila dari jauh. Mereka bisa dikatakan saingan, tapi mereka sudah kalah terlebih dulu sebelum bertanding.


"...kurasa kau bukanlah tipe orang yang suka memperhatikan sekitarmu kecuali kau benar benar tertarik."


"Kau tidak salah. Aku bahkan sering dipanggil seperti itu. Mungkin karena aku sejak kecil sedikit tomboy, jadi aku tak tertarik dengan suatu yang tak kuanggap menarik."


"Lalu apakah karena Kuro menarik, maka kau selalu memperhatikannya dan lalu menganggap itu cinta?"


"....apa ....maksudmu?"


"Kau sudah tahu apa yang aku maksud. Kau selalu berpikir kenapa Laila lah yang dipilih Kuro? Kenapa hanya Laila yang mendapatkan semua cinta Kuro? Dan kenapa Laila begitu spesial padahal dirimu lebih baik dalam segala hal?"


"....."


Dalam hal kekuatan, kecantikan, status keluarga, uang. Jika dibandingkan dengan Laila, Charmilia lebih baik dalam semua hal. Bahkan tak harus Charlmilia, Fila juga sama. Selain keduanya, masih ada banyak lagi yang lebih baik daripada mereka.


Kuro adalah seseorang yang bisa dengan mudah menarik hati perhatian siapapun tak peduli status mereka. Tak akan mengherankan jika Kuro suatu saat bisa menikah dengan seorang putri raja.


Tapi Kuro tak memilih jalan itu.


"Jujur saja aku mengerti semua hal itu. Kenapa Kuro memilih Laila dan bukannya aku? Jika aku bertemu dengan Kuro lebih awal, mungkin saat inilah aku yang akan berada di posisi Laila saat ini. Itulah pemikiran yang muncul setiap kali melihat mereka berdua."


Tatapan mata Fila menunjukkan sebuah keseriusan dan kesedihan.


"....."


"Charl, ....semua pertanyaan di dalan hatimu adalah sebuah kesalahan. Kau seharusnya sudah tahu kenapa Kuro memilih Laila. Saat ini aku melihat kau hanya ragu dengan apa yang kau rasakan. Cinta atau kagum. Kau hanya tak mengetahui isi hatimu sendiri. Charl, adakah alasan lain kenapa kau menolak isi hatimu sendiri?"


"......."


💠💠💠


Sementara itu, Kuro dan Laila perlahan menelusuri daerah elit dengan kereta kuda yang nyaman. Tak seperti wilayah kota yang ramai, wilayah elit begitu sepi dan jarang orang terlihat. Meskipun ada, itu adalah kereta kuda mewah seperti yang mereka naiki.

__ADS_1


"Aku tahu kau bisa mendapatkan uang banyak dengan mudah, tapi uang yang cukup untuk membeli sebuah negara... ya ampun, apakah kau ingin menguasai dunia dengan uang sebanyak itu?"


"Aha ha.. hanya karena aku memiliki hubungan dengan Demon King, bukan berarti setiap yang kulakukan memiliki tujuan untuk menguasai atau menghancurkan dunia. Dan kurasa itu bukanlah kata yang tepat untuk kau katakan kepada calon suamimu."


"Kau tahu aku bercanda kan? Tapi bagaimanapun juga aku penasaran untuk apa uang sebanyak itu?"


Kuro menunjukkan ekspresi rumit. Dia seperti berusaha mengingat sesuatu.


"Hmm.. coba lihat, jika ditanya untuk apa uang sebanyak itu, jujur saja aku tak tahu." Ucap Kuro dengan senyuman bercanda.


"Berhentilah bercanda dan katakan yang sebenarnya. Kalau tidak, kau tahu apa akibatnya kan?"


"Hey.. itu tak adil. Kenapa kau melarangku bercinta denganmu hanya karena masalah sepele? Kenapa kau selalu menggunakan ancaman seperti itu?"


Kuro lebih takut tak bisa bermesraan dengan Laila daripada kehilangan nyawanya. Dan Laila tahu betul cara menggunakan senjatanya. Senjata wanitanya.


"...."


"Uh... baiklah, tapi hentikan tatapan itu. Itu membuatku sakit."


Laila akhirnya bisa tersenyum kecil.


"Ehem... pertama kau tahu aku bukanlah tipe orang yang mementingkan uang, jadi untuk apa aku mencari uang? Kurasa kau bisa menebaknya."


Laila mengangguk setelah mengingat kembali siapa sosok yang dia cintai.


Kuro bisa tidur di tempat terburuk dan aneh. Dia juga bukanlah tipe orang yang suka pilih pilih makanan. Apa yang ada akan dia makan, bahkan termasuk monster ganas sekalipun.


Bisa dikatakan dia adalah orang yang bebas dan tak terikat oleh aturan.


Tapi dia tak hidup sendiri. Dia memiliki orang yang berharga bagi dirinya dan demi orang itu dia akan melakukan apapun. Dia bahkan rela menghancurkan dunia demi orang itu. Jadi mengumpulkan uang dalam jumlah besar adalah hal kecil baginya.


"Aku mengumpulkan uang untuk berjaga jaga jika suatu saat klan Blad mengalami masa krisis. Kau tahu kami tak bisa selalu mengandalkan buruan, jadi ada kalanya kami mengalami masa sulit yang membuat kami memilih mati. Untuk mengatasi itu, kami harus memiliki sebuah tabungan."


Laila mengerti garis besar tujuan Kuro.


"....Dengan uang, maka kalian bisa membeli makanan tanpa harus mengorbankan nyawa....?" Sambung Laila.


Kuro mengangguk membenarkan.


"Benar sekali. Karena itulah aku mengumpulkan uang yang kudapat dari mengelilingi dunia, misi yang kujalankan sebagai Shadow Knight, Roku Mikaga dan Akashi. Aku lalu mengivestasikannya ke banyak perusahaan. Kadang aku rugi banyak, tapi sekarang aku tinggal menikmati semuanya. Sayangnya aku tak sadar kalau aku telah mengumpulkan uang yang terlalu banyak. Ah aha.. Dulu aku hampir melompat saat mengetahui jumlah uang di rekeningku."


"...Ugh.. aku tak percaya dengan apa yang kudengar."


"Karena aku bingung harus kuapakan uang sebanyak itu, jadi kenapa tak aku membuat rumah untuk ayah dan Yui? Aku membeli rumah di wilayah ini dan membangun yang baru. Sayangnya, apa kau tahu reaksi mereka saat kukatakan aku membuatkan rumah untuk mereka di tempat ini?"


"....."


"Mereka terkejut, tapi anehnya mereka mengatakan tak akan pernah mau tinggal di rumah itu. Jujur saja sampai sekarang aku tak mengerti kenapa mereka menolak. Karena aku tak mengerti, jadi aku bilang kepada mereka 'kenapa tak membeli semua rumah di wilayah ini untuk semua anggota klan Blad?' Dan apa kau tahu apa yang kudapat? Aku mendapatkan pukulan dan tendangan dari mereka berdua."


"...."


Laila mengerti kenapa mereka melakukannya.


"Laila, apa aku melakukan hal yang salah?" tanya Kuro dengan tatapan serius.


Setelah menjelaskan semuanya, Kuro bukannya mendapatkan ciuman mesra, tapi sebuah pukulan keras di wajahnya.


Laila memutuskan untuk tak ingin membahas masalah uang yang memusingkan kepalanya lagi.


"Hm?"


"Apa ada yang salah?"


Laila terus melirik ke jendela tanpa alasan yang jelas.


"Tidak. Hanya saja aku merasa mengenal jalanan ini."


"Kurasa itu karena jalanan di wilayah ini sebagian besar mirip, jadi tak heran kalau kau merasakan hal itu. Daripada membahas itu, apa kau yakin tak ingin pulang terlebih dahulu? Kita dekat dengan rumahmu, jadi tak ada salahnya kan?"


Sayangnya Laila justru memasang wajah rumit.


Dia sudah hampir satu tahun tak pernah pulang. Meskipun dia secara rutin memberi kabar kepada orang tuanya, namun pasti ada rasa rindu karena tak bertemu secara langsung.


"Aku senang kau perhatian, tapi kau tak mengenal keluargaku. Sejak kepergian kakakku, mereka semua lebih perhatian kepadaku dan adikku. Bukankah aku pernah bilang kalau mereka overprotektif? Jadi meskipun aku dekat dengan rumah, kurasa sebaiknya tak pulang dulu. Selain itu aku tak ingin mereka terlibat dengan masalah ini."


Mendengar jawaban Laila, Kuro hanya bisa mendesah kecil. Dia juga terihat kecewa.


"Kau tahu Laila. Aku justru berpikir kalau ini adalah saat yang tepat untuk dirimu dan keluargamu saling bertemu. Kita saat ini sedang mencari Lic dan mungkin akan bertemu dengan bahaya yang tak mungkin kita perkirakan. Jadi bisakah kau berpikir sekali lagi untuk menemui mereka?"


Sebagai seorang anak, Laila tak ingin melibatkan orang tuanya. Tapi hal ini juga berlaku sebaliknya.


Setiap orang tua akan cemas jika mengetahui anak mereka dalam bahaya. Laila ingat saat memberitahu keluarganya kalau dia akan ke Dragonia bersama Kuro. Saat itu orang tuanya mendoakan agar dia bisa kembali, dan disaat itulah Laila tahu kalau keluarganya benar benar mengkhawatirkan dirinya.


(Kuro benar. Jika aku tak memberi tahu mereka, mungkin aku akan menyesal.)


Laila sudah membuat keputusan.


"Baiklah. Aku mengerti. Besok aku akan pulang dan menyampaikan tujuan kita kemari. Aku tak ingin membuat mereka cemas."


Kuro akhirnya bisa tersenyum. Tapi senyuman itu langsung menghilang karena-


"Kau juga harus menemaniku. Bagaimanapun juga kau calon menantu mereka."


"......bolehkah kau menundanya beberapa hari?"


Kuro pucat pasi, tapi hal itu justru membuat Laila berpikir ini adalah kesempatan yang bagus untuk membalas perbuatan Kuro yang sering mempermainkannya.


"Kau tak takut dengan ayahku kan? Bukankah kau dulu bilang ingin melamarku secara langsung? Jadi bukankah ini juga kesempatan yang bagus untuk melakukannya?"


Kuro semakin pucat pasi. Dia terlihat panik dan semakin berkeringat dingin.


"...............................beri aku istirahat untuk memikirkannya."


Untuk pertama kalinya, Laila merasa menang besar terhadap calon suaminya itu. Dia akhirnya menemukan kelemahan Kuro.


Setelah itu, sepanjang perjalanan Kuro terus terdiam. Dia terlihat terus memikirkan sesuatu yang rumit. Ini pemandangan langka bagi Laila.


Meskipun begitu, hal ini membuat Laila senang. Dia tahu Kuro memikirkan masa depan mereka dengan serius.


Tak berapa lama kemudian, kereta mereka berhenti. Suara pintu gerbang terbuka terdengar lembut di telinga mereka.


Akhirnya mereka tiba.


Dan setelah sedikit bersabar, Laila akhirnya bisa turun dari kereta. Dalam hati dia tak sabar ingin melihat seperti apa rumah yang dibangun Kuro untuk ayahnya dan Yui. Disaat yang sama dia penasaran kenapa keduanya tak ingin menempatinya.


Rumah mewah berlantai 5. Dari luar sudah terlihat seperti istana megah yang ditinggali oleh keturunan raja. Jika dibandingkan dengan rumah Laila, rumah itu memiliki luas dua sampai 3 kali lipat. Entah mengapa, rumah itu terasa familiar.


"..."


Tak ada kata yang keluar dari mulut Laila setelah melihat rumah yang akan dia tinggali. Dia tahu rumah besar di wilayah itu merupakan hal yang umum, tapi bagi Laila rumah itu sedikit spesial.


Kuro mendekat setelah memerintahkan Boris untuk menyiapkan beberapa hal untuknya dan Laila.


"Bagaimana? Bukankah ini rumah kecil? Aku sebenarnya ingin membuat dua kali lipat dari ini, tapi mereka tak mau menjual tanah mereka kepadaku aha ha..."


Laila masih terdiam.


"...Apa ada yang salah?"


"Tidak. Tidak ada masalah. Tapi, tapi bolehkah aku menanyakan satu hal yang sangat penting?"


Tatapan Laila benar benar serius.


"Kenapa kau membangun rumah di depan rumahku?"


Laila melirik ke belakang. Dia bisa melihat rumahnya berdiri kokoh di jarak yang cukup jauh.


"......errrr....apa kau ingin mengatakan kalau rumah kecil itu adalah rumahmu?" ucap Kuro sambil ikut melirik ke belakang.


***


"Alasan kenapa kau ragu dengan perasaanmu. Kau pasti mengerti apa yang ku maksud, Charl."


"...."


"Kurasa sampai kau menyelesaikan masalah itu, kau tak akan pernah bisa mencintai Kuro dengan tulus seperti Laila. Inilah perbedaan kita berdua dengannya. Dan kurasa inilah yang membuat Kuro memilih Laila daripada kita."


Itu benar.


Charlmilia mengenal Kuro bukan demi cinta. Pertemuan mereka yang pertama kali dikarenakan orang tuanya, dan itupun demi sebuah bisnis.


Selain salah satu jendral, ayah Charlmilia merupakan seorang pengusaha yang menjalankan bisnis perdagangan. Usaha keluarga mereka bisa dikatakan sukses sehingga dalam kekayaaan, keluarga Charlmilia lebih baik daripada keluarga Laila.


Karena status yang cukup tinggi, maka tak mengherankan jika Charlmilia menjadi incaran bangsawan yang menginginkan status atau uang. Tumbuh di lingkungan seperti itu membuat Charlmilia sulit percaya dengan orang lain. Tak hanya itu, sifat tomboy yang dia miliki juga berasal dari sumber yang sama.

__ADS_1


Pada suatu hari, ayahnya menyuruh dirinya untuk menemui salah satu seorang yang memiliki peran penting dalam bisnis keluarganya.


Ah... kali ini apa yang diinginkan ayah? Pikirnya.


Jika orang itu penting dalam bisnis keluarganya, itu artinya ayahnya ingin menggunakan dirinya sebagai alat untuk mendapatkan apa yang ayahnya inginkan dari orang itu. Pada akhirnya, dirinya tak lebih dari sebuah alat.


Dengan berat hati Charlmilia menemui orang itu. Dia memakai pakaian yang membuat dirinya terlihat seperti wanita pada umumnya. Pakaian mahal yang lembut dan indah. Meskipun nyaman, Charlmilia merasa memakai pakaian yang terbuat dari karung.


Hari itu dia begitu cantik dan bahkan banyak membuat iri gadis lainnya. Sayangnya, kecantikan itu dia tunjukan bukan demi dirinya sendiri.


(Jika itu yang diinginkan ayah, maka aku akan dengan senang hati menurutinya. Aku akan membuat orang itu jatuh ke pelukanku.)


Dia membuat keputusan. Dia sudah lelah menjalani hidupnya yang tak jelas dan tak memiliki arti. Setidaknya dengan apa yang dia lakukan, keluarganya akan bahagia. Mengorbankan kebahagiaannya demi kebahagiaan orang lain. Inilah kehidupan yang selalu dilalui sebagai seorang yang memiliki darah biru.


Dengan tekad yang kuat, dia memutuskan mendapatkan hati orang itu, namun-


Sesuatu yang tak dia sangka telah terjadi-.


Dan di hari itulah dia menyadari kesalahan besar yang telah dia perbuat.


"....."


Saat mengingat kembali semua itu, Charlmilia mengerti kenapa dia memiliki perasaan ragu di hatinya.


Charlmilia mengungkapkan emosinya dengan cengkraman erat. Ekspresinya begitu rumit, tapi dia menunjukkan tatapan yang berbeda dari sebelumnya.


Diapun menatap ke langit malam. Dua bulan purnama terlihat mulai saling mendekat. Lebih dekat dari biasanya karena sebuah kejadian langka tak lama lagi akan segera terjadi.


Ring Bloodmoon. Fenomena alam itu melambangkan dua hati yang menyatu. Ada legenda yang mengatakan kalau menyatakan cinta pada hari itu dan diterima, maka pasangan itu akan bahagia selamanya.


"...ah aha.."


Itu hanyalah sebuah mitos yang terlahir dari sebuah kepercayaan. Charlmilia tak mempercayai hal semacam mitos dan sesuatu yang berbau mistis.


(Tapi tak ada salahnya mencobanya kan?)


"Fila, terima kasih. Berbicara denganmu merupakan hal yang benar."


"Jadi kau sudah memutuskannya?"


"Ya. Aku akan menyatakan perasaanku. Jika dipikirkan lagi, aku belum pernah melakukannya."


"Aku juga sama. Mungkin jika saatnya sudah tepat, aku juga akan melakukannya."


Keduanya lalu tersenyum. Mereka menunjukkan senyuman yang saling mengerti satu sama lain. Sebagai seorang gadis. Dan sebagai seorang yang telah jatuh cinta kepada pemuda yang bernama Kuro Kagami.


"...Uh.. kurasa sebaiknya aku harus mencari tahu kemana mereka pergi terlebih dahulu. Kurasa ini akan memakan waktu lebih lama daripada yang kupikirkan."


***


"Ha...."


Malam yang indah dan romantis. Bermesraan dengan sang kekasih di malam yang indah merupakan kebahagiaan yang tiada tara.


Tapi wajah Laila tak menunjukkan kebahagiaan itu.


Dia tak bisa. Bagaimana bisa dia merasakan bahagia sedangkan dia tak mengetahui apa yang terjadi dengan orang yang berharga baginya?


Dia berdiri di beranda sambil menatap langit malam. Angin dingin berhembus membuat sebagian besar orang akan memakai pakaian hangat, tapi Laila seperti biasa hanya memakai piyama berbahan tipis yang membuat kulitnya terlihat dengan mata telanjang.


"...Lic, apa kau baik baik saja? ..Dimana kau? Apa kau bisa merasakan Mama telah datang?"


Laila melihat gelang yang berada di tangannya. Gelang itu adalah satu satunya benda yang menghubungkan dirinya dengan Lic.


Rumah besar yang kini dia tinggali tak bisa membuatnya melupakan kesedihannya. Sekarang dia mengerti uang dan status tak akan membuat orang bahagia. Hanya senyumanlah yang membuat manusia bisa disebut berbahagia.


Dan senyuman yang membuat dirinya bahagia, telah menghilang. Pergi. Tidak, lebih tepat jika dirinya membiarkan senyuman itu pergi karena kelemahannya.


Tiba tiba tangannya disentuh oleh tangan kekasihnya, Kuro. Dia bisa merasakan kehangatan mengalir dari tangan besar itu.


Hanya saat bersama Kurolah untuk sejenak Laila bisa melupakan kesedihannya.


"Jangan kawatir. Kita akan menemukannya. Bahkan jika itu berarti harus menggunakan semua uangku untuk melakukannya."


Mendengar itu, Laila tertawa kecil.


"Aku percaya kita bisa melakukannya."


"Ya. Lic sudah menunggu kita. Dan karena kita sudah sampai di tempat ini, maka kita harus segera menemukannya."


Laila mengangguk pelan. Perlahan, Laila menyandarkan kepalanya di pelukan Kuro. Kehangatan yang dia rasakan tak terasa lengkap jika salah satu keluarga mereka masih belum kembali.


"...Lic..."


Mata Laila tertutup. Dia pergi ke dunia mimpi untuk melupakan sejenak semua kesedihan dan masalahnya.


"Beristirahatlah..., Laila."


Mengetahui Laila sudah tertidur di pelukannya, Kuro tersenyum tipis. Sesekali dia mengelus rambut Laila yang halus dan begitu lembut.


Tapi senyuman itu itu menghilang tergantikan oleh senyuman menakutkan.


"Boris!!"


Sosok pelayan yang selalu siap menerima perintah telah datang.


"Siap melayani anda, Tuan Muda."


Boris menunduk memberikan hormat. Wajahnya terlihat serius dan tatapannya menunjukkan seorang petarung yang kuat.


Dirinya sebenarnya merupakan penjahat yang telah melakukan kejahatan besar. Menurut catatan dia sudah mati, tapi saat ini dia hanyalah seorang pelayan di rumah Kuro.


"Apa aku bisa mengandalkanmu dalam masalah ini?"


Boris menunjukkan senyuman percaya diri bersamaan dengan aura kuat yang menakutkan. Orang biasa akan bergetar dan segera lari, tapi Kuro sudah terbiasa dengan itu.


"Aku tahu anda tak pernah meragukan kekuatanku, tapi jika menanyakan itu, berarti anda memberikan tugas berat untukku."


"Apa kau menolak?"


"...."


Tatapan Boris sudah menunjukkan jawabannya.


"Cari tahu organisasi yang telah menculik Izriva. Tidak, jika kau mau kau bisa menghancurkannya. Kau tak perlu menahan diri."


"Tapi-"


"Aku tahu. Mengenai masalah itu biarkan aku yang mengurusnya. Kita memang belum mengetahui siapa musuh kita, tapi kita juga belum tahu siapa yang berada di pihak kita. Jika putri rakus itu atau pihak kekaisaran ingin menjadi musuhku, dengan senang hati aku akan menghancurkannya dengan tanganku sendiri."


Tak ada keraguan dalam tatapan Kuro. Dia sudah membuat keputusan dan dia tak akan pernah menarik keputusan itu.


Teman atau musuh.


Jika ingin menjadi teman, maka Kuro akan memperlakukan mereka lebih dari teman. Tapi jika musuh, kehancuranlah yang menanti mereka.


Boris tersenyum puas.


"Aku memang tak salah mengabdikan diriku kepadamu, Tuan Muda. Anggap saja perintahmu sudah terlaksana."


"Berhati hatilah. Kita masih belum tahu siapa saja yang terlibat."


"Aku akan mengingatnya, Tuan Muda. Baiklah, sekarang aku permisi."


Boris kembali menunduk dan mundur sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.


"...."


Kuro menatap kembali wajah Laila yang tertidur pulas. Hari ini banyak hal terjadi, wajar jika Laila kelelahan.


Hembusan nafas yang teratur dan wajah yang begitu polos seperti anak kecil. Sekilas Laila menunjukkan kalau dia tak bersedih. Dia memang ahli menyembunyikan hal seperti itu, tapi Kuro tak akan pernah tertipu.


"Laila, kau tahu? Demi dirimu, demi kebahagiaanmu aku akan melakukan apapun. Tak peduli apakah apa yang kulakukan nanti akan membuat diriku menjadi musuh dunia, asalkan kau bisa tersenyum, aku akan dengan senang hati menjadi Demon King."


Sekali lagi Kuro tersenyum. Dia mencium kening Laila dengan lembut dan berusaha tak membangunkannya.


Dia lalu menggendong Laila seperti tuan putri dan membawanya ke tempat tidur besar di tengah kamar mereka.


Malam yang begitu romantis, tapi keduanya tak memiliki kesempatan menikmati malam itu.


(Kurasa aku seharusnya yang menghancurkan mereka dengan tanganku sendiri. Uh sial! Boris, sebaiknya kau menyisakan satu untukku. Bagaimanapun juga aku ingin menghukum orang yang telah membuatku kehilangan kesempatan bercinta dengan Laila.)


"...ha...."


Kuro mendesah berat bersamaan dengan pikiran kotornya.

__ADS_1


Untuk saat itu, Kuro memutuskan untuk secepatnya tidur karena besok dia akan menemui ayah paling menyeramkan di dunia.


__ADS_2