
"Sacred magic art, Blade Meteor!!"
"Sacred magic art, Spear Blast!"
"Killer Death!!"
"Luminus Spear!"
"Sonic Blade!!"
"Byakkura, Electroplasma Slash!"
Setiap orang mengeluarkan serangan sihir terbaik mereka.
Dengan kekuatan yang didapatkan dari Knight Gear yang dia kenakan dan menyatu dengan magic arm miliknya, Jinn sekarang mempunyai sebuah pedang perak yang kini menjadi senjata tambahan selain armor lengannya, Armi.
Dengan pedang itulah dia menebas dan menghancurkan Hell Beast yang berada di sekitar Lucifer. Dia menebas mereka secara membabi buta dan terlihat seperti pemain pedang amatir yang hanya melakukan tebasan secara asal asalan. ...tapi ini wajar karena dia baru mulai menggunakan pedang beberapa jam yang lalu.
Tatapan Jinn seolah dipenuhi oleh kebencian, tapi tak ada yang berusaha menghentikannya. Selama dirinya masih mengikuti rencana dan tugas yang ditentukan, itu sudah cukup.
Knox bertarung tak jauh dari Jinn dengan sebuah tombak hitam. Dia juga bertarung melawan Hell Beast dengan sengit sambil mengendalikan magic beast-nya, Legion.
Ukuran Legion yang cukup besar membuatnya mudah menghadapi demon beast, tapi jumlah Hell Beast yang cukup banyak membuat Knox dan Legion sedikit kerepotan.
Disaat itulah Lairo membantunya dengan golok besarnya yang mengeluarkan sayatan gelombang ultrasonik yang menebas Hell Beast.
Sementara itu, Charlmilia atau bisa dibilang Byakkura dan Diana sekarang bertarung sengit melawan Lucifer. Byakkura dan Diana bertarung karena hanya mereka yang mempunyai kecepatan yang sama dengan Kuro atau mempunyai kecepatan yang setara Lucifer.
Byakkura menggunakan belati yang mengeluarkan pisau plasma bercampur petir, sementara itu Diana menyerang dengan menggunakan tombaknya.
Mereka bertarung di atas langit dengan kecepatan tinggi tanpa mempedulikan apapun di sekitar mereka bertiga. Meskipun Lucifer kini diserang oleh dua orang, dia terlihat biasa saja dan justru terlihat bermain main.
Itulah kekuatan Lucifer yang dikatakan memiliki kekuatan setara tujuh Paladin, karena itulah mereka tak terkejut jika Diana dan Byakkura kesulitan menghadapinya.
Sementara pertarungan terjadi di berbagai sudut, bahkan Ruby juga ikut bertarung dengan Hell Beast yang berukuran besar. Laila, Aldest, Charlmilia dan Shapira justru berdiam di tempat membentuk sebuah formasi lingkaran. Di tengah mereka Kuro terlihat sedang berdiri dan memejamkan matanya.
Magic beast Aldest terbang dan bertarung ke berbagai sudut sambil menjaga jarak agar tak sampai jauh dari formasi mereka.
Jumlah Hell Beast yang banyak membuat Charlmilia dan lainnya kewalahan. Tapi karena kekuatan mereka bervariasi tergantung jenisnya dan tipe mereka, maka Charlmilia dan lainnya cukup membaginya saja.
Salah satu Hell Beast berbentuk burung terbang di dekat mereka dan menyerang dengan semburan api hitam.
Tapi formasi pedang merah membara menepis serangan dan disaat yang sama, pedang api menembus tubuh demon beast dan membunuhnya.
"Tak akan kubiarkan kalian menyentuh Kuro!"
Puluhan Scarflare Laila kembali membentuk formasi melingkar di sekitar Laila dan Kuro.
Tak jauh darinya, Charlmilia menebas salah satu Hell beast dan lalu menyerangnya dengan bola plasma. Setelah membunuhnya, Charlmilia melompat mundur ke dekat Laila dengan nafas terengah engah.
Charlmilia saat ini berkonsentrasi dan menggunakan hampir semua kekuatan yang dia miliki untuk mengendalikan Byakkura, karena itulah dia tak bisa bertarung maksimal.
"Ha... apakah Kuro masih belum selesai? Kita sudah hampir tak bisa menahan mereka lebih lama lagi."
Rencana mereka adalah mengalahkan Lucifer secepat mungkin sebelum Hell Gate of Flame terbuka sepenuhnya. Mereka hanya punya waktu selama 13 menit, dan sekarang 10 menit telah berlalu. Gerbang dimensi sudah hampir terbuka sepenuhnya. Laila dan semuanya bahkan sudah melihat api yang panas membara.
Selama itupula mereka berempat terus melindungi Kuro. Alasan kenapa mereka melakukannya karena hanya Kuro yang mampu mengalahkan Lucifer dengan tekhnik terkuat yang dia miliki.
Rencana ini mereka sudah persiapkan saat beristirahat di hutan, tapi ini adalah rencana yang hanya digunakan jika kejadian terburuk telah terjadi, yaitu kebangkitan Lucifer.
Tak ada yang tahu pasti serangan seperti apa yang Kuro miliki, selain itu, tingkat keberhasilan yang sangat kecil bisa dibilang ini adalah rencana yang sangat buruk.
Tapi mereka saat ini tak punya pilihan. Mereka harus melakukannya atau semua berakhir.
Laila menoleh ke arah Kuro.
"Aku tak tahu pasti kapan Kuro selesai, aku belum pernah melihat teknik ini..."
Kuro saat ini terdiam, tapi dia dalam posisi bersiap menebas lawannya. Selain itu, Kuro terlihat seolah mengabaikan semua yang terjadi di sekitarnya.
"Aku tahu kalian cemas, tapi sekarang kita harus melakukan apa yang kita bisa."
Aldest berteriak cukup keras sambil menyerang salah satu Hell Beast dengan tembakan cahaya. Hell beast yang terkena langsung hancur menjadi ribuan keping.
"Selain itu, apa kalian tak percaya dengannya?"
""?!""
Perkataan Aldest menyadarkan keduanya. Karena percaya dengan Kuro, maka mereka menyerahkan serangan kepada Kuro dan begitu pula sebaliknya.
Ekspresi Kuro yang begitu tenang bisa terlihat karena Kuro saat ini percaya kepada mereka semua. Kuro percaya mereka akan memberikan waktu kepadanya untuk bersiap.
"Mana mungkin kami tak percaya."
"Ya. Tentu kam- ughh!!!"
Tiba tiba Charlmilia mengerang kesakitan dan langsung memegangi bahunya.
"Charlmilia, apa yang terjadi?"
Laila langsung berniat membantu, tapi Charlmilia langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku baik baik saja, yang terpenting kau harus fokus untuk melindungi Kuro!"
"Ta-tapi.."
"Aku bilang fokus saja lindungi Kuro!"
Laila akhirnya menggertakan giginya dan kembali berkonsentrasi melindungi Kuro dari Hell Beast yang datang menyerang.
Puluhan Scarflare membentuk formasi perisai, sedangkan puluhan lainnya Laila gunakan untuk menyerang.
Magic arm Laila yang unik membuatnya mampu mengendalikan pedangnya bagai burung atau menggerakkannya sesuai dengan keinginannya. Hal ini sangat berbeda dengan magic arm lainnya yang harus dipegang pemiliknya secara langsung.
Seekor Hell Beast berukuran cukup besar datang dengan kecepatan tinggi dari arah depan. Hell Beast itu berbentuk menyerupai banteng, tapi hanya mempunyai satu tanduk spiral.
Mengalahkan Hell Beast berukuran besar adalah tugas Legion (Knox) dan Ruby, pasti Hell Beast itu lolos dari mereka. Sedangkan Shapira, dia seperti Kuro terdiam dan seolah berkonsentrasi menyiapkan sihir tertentu.
"Tch!"
Laila langsung bersiap dengan membuat sihir pertahanan. Puluhan pedang membentuk perisai, sementara itu beberapa pedang bersiap menusuk Hell Beast.
Tapi kejadian tak terduga terjadi. Hell Beast itu menghancurkan perisai Laila dengan mudah seperti menghancurkan kaca tipis. Tak hanya itu, serangan Laila juga berhasil dihindari.
"Apa?"
Laila terkejut dan langsung menggunakan formasi pedang sekali lagi, tapi sekali lagi Hell Beast itu berhasil menghancurkannya dengan mudah. Jarak Hell Beast semakin mendekat dan Laila tak punya kekuatan untuk menghentikanya.
Hell Beast itu juga bersiap melakukan sesuatu. Tanduknya mengeluarkan cahaya yang semakin lama semakin bersinar dengan terang. Laila sadar Hell Beast juga bersiap dengan sebuah sihir serangan.
Hell Beast yang Laila hadapi tampaknya berbeda dengan Hell Beast lainnya.
"Khh!!"
Laila hanya bisa menggertakan giginya.
Laila tanpa pikir panjang langsung menggunakan semua Scarflare membentuk sebuah perisai berlapis lapis. Tapi Hell Beast itu masih bisa menembusnya.
"Jangan meremehkan aku!"
Laila langsung membuat sebuah meriam di depannya. Formasi perisai yang digunakan untuk menahan Hell Beast berubah menjadi sebuah formasi seperti lingkaran sihir yang berfungsi seperti sihir peningkat.
Cahaya terlihat dari ujung moncong meriam. Lalu tanpa ragu Laila menembakan meriam itu tepat ke arah Hell Beast yang datang.
"Haaaaaaaaaa!!"
Bersamaan dengan teriakan, cahaya melesat tepat ke arah Hell Beast. Semakin dekat dan dekat, cahaya semakin besar dan besar.
Hell Beast menyadari serangan dan tak tinggal diam. Dengan tanduknya yang bersinar, Hell Beast itu menghantam serangan Laila.
Dua sihir beradu dan gelombang kejut menyebar ke segala arah. Hell Beast yang berada di sekitar mereka terpental karena kekuatan serangan itu.
(Apakah kejadian itu akan terulang kembali?)
Hell Beast mulai berhasil memukul mundur serangan Laila, disaat yang sama, Laila teringat kejadian saat berada di atap Sirei mall.
Dia menggunakan serangan terkuatnya, tapi dia gagal dan bahkan hampir mati. Insiden itu telah membuat Laila sadar bahwa kekuatan yang dia miliki masih sangatlah kurang.
Berkat Kuro dia sadar bahwa di dunia ini banyak orang yang lebih kuat dari dirinya. Berkat Kuro pula dia bertemu dengan banyak orang yang berbeda beda.
Disaat yang sama, dia sadar bahwa orang orang yang memiliki status lebih rendah darinya, bukan berarti mereka lebih lemah darinya. Contoh yang paling mudah adalah Knox dan Jinn, sedangkan Kuro adalah pengecualian.
Mereka berdua telah bertarung dengan keras dan menunjukkan peringkat yang mereka miliki tak mempengaruhi bahwa mereka lebih lemah. Hal ini membuat dirinya entah mengapa justru merasa yang paling lemah di antara semuanya.
(Tidak. ..aku tak ingin hal itu terus terjadi. Aku sudah bersumpah untuk tak mengulangi kesalahan yang sama!!)
Bersamaan dengan tekad yang membara bagai api yang berkorbar, aura merah terpancar dari tubuh Laila.
6 Scarflare muncul di sekitar Laila. 6 Scarflare itu membentuk formasi dan langsung menyatu dengan meriam.
"Burn Boost Burst!!"
Tembakan Laila langsung membesar berkali kali lipat dan akhirnya berhasil memukul mundur Hell Beast, tapi Hell Beast dapat bertahan.
"Tidak mungkin!"
Apakah aku masih kurang? Pertanyaan itu langsung muncul saat menyadari meskipun dia sudah memperkuat serangannya, tapi itu masih belum cukup mengalahkan Hell Beast itu.
Saat itulah sebuah cahaya lurus dari atas menyerang Hell Beast dan menghancurkannya. Laila mengenal serangan itu.
"Laser Breath?"
Laila menoleh ke atas dan akhirnya menemukan naga yang menyerang dengan menggunakan Laser Breath itu. Naga hitam yang sudah hampir membunuhnya.
"Laiko!"
Laiko meraung dengan keras seolah menunjukkan kekuatannya. Setelah itu Laiko terbang ke sisi Laila dan entah mengapa langsung menempelkan kepalanya yang besar ke tubuh Laila seolah bertingkah manja.
Laila menatap mata Laiko. Dia bisa melihat bayangannya sendiri dari kedua mata Laiko yang tajam, tapi bukan itu saja yang Laila lihat dari mata Laiko.
Laila lalu mengangguk tanda mengerti.
"Baiklah, kau juga ingin melindungi Kuro, Laiko? Aku mengerti, tapi bagaimana dengan lukamu?"
Laiko terluka akibat pertempuran sebelumnya. Sayap dan kakinya masih terlihat bekas luka sayatan cakar dan benda tajam. Sedangkan tubuhnya masih mengeluarkan darah di beberapa tempat akibat bekas terkaman.
Laiko meraung kecil dan berbalik menuju Hell Beast yang datang mendekat. Melihat itu Laila langsung tersenyum senang.
"Kau dan Kuro memang keras kepala, ..tapi aku menyukainya."
Dengan Scarflare di tangannya dan Laiko di sampingnya, Laila bersiap bertarung.
Tapi disaat yang sama, gerbang dimensi semakin melebar, sementara itu Kuro masih belum menunjukkan perubahan berarti.
Waktu yang tersisa tinggal dua menit lagi, pertarungan sengit terus terjadi dan di sisi Kuro dan lainnya sudah hampir mencapai tujuan karena kewalahan dengan jumlah musuh yang hampir tak berkurang.
Hell Beast yang mendekati Kuro juga semakin bertambah. Tapi berkat Laila dan lainnya tak ada satupun Hell Beast yang menyentuh Kuro.
"Gu..ah..!"
Tiba tiba Charlmilia mengerang kesakitan lagi. Kali ini lebih keras daripada sebelumnya dan tersungkur ke tanah.
Laila langsung berusaha mendekat, tapi Charlmilia menggunakan telepati untuk melarang Laila. Tapi sebagai gantinya, Aldest mendekat sedangkan posisi Aldest digantikan oleh magic beast miliknya, Hall.
Setibanya di dekat Charlmilia, Aldest langsung menggunakan sihir pemulih. Sedangkan Laila hanya bisa melirik.
[Apa yang terjadi kepadanya?]
__ADS_1
Laila menggunakan telepati untuk bertanya.
[..ini buruk.]
Aldest melihat luka Charlmilia, dia sadar Charlmilia mengalami luka serius.
[Dia terkena cursed magic art, Link Pain]
[link Pain?]
[Ini adalah sihir yang menghubungkan luka yang diterima magic beast dengan penyihirnya melalui Link.]
Link adalah sebutan kepada penghubung khusus yang menghubungkan magic beast dengan penyihir tipe Contractor. Hal yang sama juga dimiliki penyihir tipe user, tapi Link lebih dipakai kepada Contractor.
Link juga berperan penting dengan seberapa besar kekuatan atau tingkatan sihir magic beast. Semakin besar dan kuat Link, maka semakin besar dan kuat pula sang penyihir. Link juga berperan besar dalam evolusi magic beast seperti yang berlaku kepada Byakko.
[Tunggu, aku pernah membaca sihir itu.]
Laila langsung melebarkan mata saat menyadari kekuatan lain dari sihir itu. Sayangnya Aldest tak membantahnya atau berusaha menutupinya.
Laila langsung menggetarkan giginya dan melihat pertarungan Diana, Byakkura dan Lucifer di langit.
Pertarungan ketiganya hampir tak bisa dilihat dengan telanjang mata, kecuali serangan mereka yang gagal karena meleset dari target.
Lucifer tersenyum senang dan beradu pedang dengan Diana. Percikan orange muncul dan kemarahan terlihat di mata Diana.
"Aku tak menyangka bisa bertarung dengan penyihir muda yang kuat di zaman ini."
"Khhh!!"
Diana mencoba mendorong Lucifer dengan menggunakan seluruh kekuatannya, tapi Diana tak berhasil. Sedangkan Byakkura entah mengapa tak melakukan serangan dan tak bergerak seperti orang mati.
Diana sadar telah terjdi sesuatu kepada Byakkura, atau telah terjadi sesuatu kepada Charlmilia. Diana tak tahu pasti, tapi itu tak mengubah fakta kini dia bertarung sendirian.
"Kalian pasti juga telah menyelidiki apa yang bisa kulakukan dan yang tidak, karena itulah kalian semua masih bisa selamat, ...tapi.."
"!?"
Diana terkejut saat tubuhnya tiba tiba terdorong dengan keras ke belakang. Kemudian di waktu yang hampir sekejap mata, Diana menerima sebuah tendangan keras tepat di perutnya.
Diana melesat ke tanah bagai sebuah meteor yang menghancurkan segalanya. Sementara itu, Lucifer hanya tersenyum kecil dengan tatapan dingin.
"Jangan pikir aku tak bisa mengalahkan kalian dengan mudah. Asal kalian tahu, sebenarnya aku bisa membunuh kalian kapan saja."
Dianapun akhirnya tak terlihat lagi di antara debu asap yang mengepul.
Setelah mengalahkan Diana, Lucifer menatap ke arah kelompok Kuro sambil tersenyum kecil.
Laila dan yang lainnya sadar Lucifer sedang menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian. Disaat yang sama, waktu semakin menipis dan retakan Hell Gate of Flame semakin terbuka lebar.
"Aku sebenarnya mengharapkan pertarungan yang menarik denganmu, King. Tapi kau sungguh mengecewakannku."
Byakkura yang tak jauh darinya akhirnya menghilang menjadi partikel, tapi Charlmilia masih terlihat kesakitan.
"Jika dibandingkan dengan Demon King, kau sungguh lemah, apa kau benar keturunannya?"
Mendengar itu Kuro tak bergeming dan masih di posisinya.
"Haa... kurasa aku terlalu berharap karena kau tahu adalah keturunannya, tapi tampaknya aku sedang sial..., tapi kurasa ini saat yang tepat untuk mengak-"
Tiba tiba Laser Breath menerjang dan menelan tubuh Lucifer. Laser Breath itu berasal dari Ruby. Semua mengira Lucifer akan mendapatkan luka, tapi Lucifer hanya berasap.
"Ruby..kah, aku belum sempat menyapamu."
Lucifer melirik Ruby yang terbang ke arahnya.
"Kau memang bisa mengalahkanku, tapi tidak dengan wujud itu. Sepertinya King belum bisa menggunakan kekuatanmu yang sesungguhnya. Maaf, tapi kau pergi saja. Hellflame!"
Lucifer meyerang Ruby dengan api hitam yang langsung memukul mundur Ruby hingga terjatuh dan membentur tanah dengan keras. Semua mata melebar karena melihat Ruby dikalahkan dengan mudahnya.
Lucifer kembali menatap Laila dan lainnya.
"Kurasa aku memang harus mengakhiri ini dengan tanganku sendiri. ..King, tampaknya kau memang ditakdirkan tak bisa melindungi orang yang berharga bagimu, ...kau sama seperti King sahabat lamaku. ...sungguh kasihan.."
Ribuan lingkaran sihir muncul di langit Drageass. Laila dan lainnya langsung berkeringat dingin karena tahu jumlah Hell Beast akan bertambah lagi, tapi dugaan mereka salah. Yang muncul dari lingkaran sihir adalah senjata.
"Tidak mungkin!!"
Pedang, tombak, panah dan semua senjata muncul dan mengarah ke bawah seperti air hujan yang bisa turun kapan saja. Dan mereka semua tahu senjata senjata itu bukan senjata biasa, tapi magic arm.
Itu adalah sihir yang sama digunakan oleh Cross, tapi puluhan kali lebih kuat.
"...apakah ini kenyataan?"
Knox terdiam mematung saat melihat jutaan senjata yang kini telah mengarah kepada mereka. Hal yang sama juga terjadi kepada semuanya. Mereka hanya bisa terbengong tanpa berbuat apapun.
Mereka tahu jika Hell Gate of Flame sudah terbuka, maka semua akan berakhir, tapi semuanya berakhir lebih cepat dari yang mereka perkirakan.
"Aku tak menyangka bisa melihat salah satu sihir paling kuat yang tercatat dalam sejarah, Sword of the End."
Dalam situasi yang tak memungkinkan untuk selamat, Aldest justru tersenyum lebar.
Semua berpikir ada yang salah dengan pikiran Aldest, tapi tak ada yang berpikir dia gila. Bahkan mungkin itu adalah tindakan yang tepat.
Saat semua sedang dikejutkan oleh jutaan pedang yang mengarah ke bumi, sebuah cahaya dengan kecepatan tinggi terbang menuju ke arah Lucifer.
"Bodoh, apa yang kau lakukan!!"
Knox tak tahu apa yang dipikirkan Jinn kenapa dia menerjang pedang tanpa rasa takut.
Dengan pedangnya Jinn terbang dan bersiap menebas Lucifer. Tak ada rasa takut atau ragu dari tatapannya. Tatapannya hanya menunjukkan kebencian dan amarah.
"Sial!"
Knox akhirnya hanya bisa mengutuk tanpa berbuat apapun, tapi dia menyadari satu hal. Tak berbuat apapun justru hanya menanti kematian.
Tingkatan mana Knox meningkat dengan pesat. Disaat yang sama seluruh tubuh Legion muncul huruf sihir yang menjalar seluruh tubuhnya. Huruf itu kemudian berkumpul di tombak Legion dan kemudian retakan muncul di ujung tombak. Kemudian retakan melebar dan menunjukkan sosok tombak yang terbuka menjadi sosok mirip bunga. Dari pusat bunga itu cahaya berkumpul dan tingkatan mana yang luar biasa.
"[Cannon Bloom!!]"
Cayaha besar ditembakkan tepat ke arah Jinn, tapi tak mengenai dan justru mengenai bagian depan Jinn yang berupa kumpulan pedang dan menghancurkannya.
Jinn langsung tak menyia nyiakan kesempatan yang diberikan Knox dan langsung bersiap menebas sosok Lucifer yang berada tepat di depannya.
"Haaaaaaa!!!! Terimalah ini, .."
Magic arm Jinn bercahaya, cahaya itu merambat ke pedang Jinn, lalu dengan pedang itu, Jinn menebas Lucifer tepat di bagian leher.
Lucifer tak berusaha menghindar atau mengelak. Dia justru terlihat menunggu serangan Jinn.
"[Silver Slash]."
Serangan terkuat Jinn saat ini setelah menyatu dengan Knight Gear. Dengan kekuatannya saat ini, dia bahkan mampu melawan Ultimate Necrodra sendirian.
"?!"
Jinn hanya bisa melebarkan matanya saat melihat tebasannya hanya ditahan dengan menggunakan ujung jarinya.
"..dasar serangga. Seranganmu bahkan tak lebih baik dari gigitan nyamuk."
"Khhh!!"
"Sekarang kembalilah ke tempat asalmu!"
Pedang pedang langsung mengarah kepada Jinn. Dan dia langsung menyadari dalam masalah besar.
Dalam sekejap mata seluruh tubuh Jinn tertusuk oleh pedang yang mengincarnya tadi. Knight gear dengan mudahnya ditembus oleh pedang Lucifer.
"Jangan kawatir, aku tak mengincar bagian vital, kau tak akan mati, tapi sebagai gantinya kau akan merasakan penderitaan."
"...."
Tatapan mata Jinn langsung kosong dan tak sadarkan diri. Knight Gear yang dia kenakan menghilang bersamaan dengan pedang yang menusuknya.
"Jika kau pikir itu menyakitkan, penderitaan itu tak seberapa jika dibandingkan dengan orang yang kukenal dulu."
Jinn tak berdaya dan akhirnya jatuh. Knox yang tak jauh darinya berusaha menolongnya, tapi dia tak bisa bergerak setelah menggunakan sacred magic art.
Knox tahu jika dibiarkan Jinn akan mati karena jatuh dari ketinggian. Disaat situasi genting itu, Lairo muncul menangkap tubuh Jinn dan langsung meminumkan botol kecil ke mulut Jinn. Luka Jinn langsung pulih dan kembali sembuh, tapi Jinn masih tak sadarkan diri.
Setelah melihat keadaan Jinn yang sudah kembali seperti semula, Lairo membawa tubuh Jinn ke dekat Knox, tapi disaat itupula Lairo langsung memapah tubuh Knox dengan tangannya yang bebas.
Lairo kemudian membawa keduanya ke tempat Laila dan lainnya berada.
"Terima kasih, tapi aku pikir kita sudah tak memiliki air mata Phoenix." kata Knox.
"Itu tidak benar, aku masih mempunyai satu yang kudapat dari Aldest."
"Kau pembohong yang buruk, Lairo." tiba tiba Aldest menyela. "Dia membelinya saat kita beristirahat di kota Seraf."
Knox ingat mereka memang sempat beristirahat di kota yang penuh dengan benda sihir langka. Disana air mata phoenix bukanlah suatu yang sulit didapatkan di tempat itu.
(Tapi bukankah air mata phoenix sangat mahal?)
Knox tak tahu pasti, tapi yang terpenting nyawa Jinn tak dalam bahaya lagi.
Knox lalu melihat Charlmilia yang tak berdaya lagi. Charlmilia tertidur dengan wajah kesakitan. Sementara itu, Laila masih berjuang keras menahan Hell Beast yang masih tersisa.
Tapi hal itu tetap membuat Knox tak lupa bahwa mereka masih belum selamat. Selain gerbang dimensi akan segera terbuka, jutaan pedang kini mengincar mereka.
(Sebenarnya apa rencana dia? Kenapa dia masih menyerang kami menggunakan Sword of the End? Bukankah dengan gerbang dimensi terbuka sudah mampu membunuh kami semua?)
Pertanyaan muncul saat menyadari keanehan yang terjadi. Knox langsung berpikir dan memutar otaknya untuk memikirkan segala kemungkinan yang ada.
Tak lupa Knox memikirkan faktor terbesar dalam semua kejadian ini, yaitu Kuro.
"?!"
Knox langsung melebarkan matanya saat mengetahui apa rencana Lucifer yang sebenarnya.
(Sial, inikah akhir dari kami? Meskipun Kuro berhasil, tapi kami tak akan bisa selamat dari semua ini..)
Disaat Knox sudah menyerah, disaat yang sama satu persatu pedang mulai melesat ke arah mereka. Mustahil menghindari serangan sedahsyat itu, tapi ada satu yang tak menyerah.
"Aku tak akan membiarkan kau berbuat seenaknya!"
Laila langsung berdiri di garis depan bersama Laiko. Tatapan tajam tanpa takut dan ragu terlihat. Disaaat yang sama tekanan mana Laila meningkat dengan pesat.
Kemudian dari berbagai sudut munculah Scarflare dengan jumlah yang tak terduga. Puluhan, ratusan Scarflare langsung saja melesat ke arah pedang Lucifer.
Pedang Lucifer dan Scarflare beradu di udara dan membatalkan serangan masing masing, tapi dalam jumlah pedang, Lucifer lebih unggul.
Pedang kembali mengarah ke arah mereka dengan jumlah dua kali lebih banyak daripada sebelumnya.
"Haaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!"
Laila mengerahkan semua pedangnya dibantu oleh Laiko dengan Laser Breath, tapi jumlah pedang Laila tak cukup banyak dan puluhan pedang berhasil lolos dan mengenai Knox dan lainnya. Berkat Aldest dan Lairo, mereka sanggup menghalau pedang, tapi mereka juga kewalahan.
''KH!!"
(Masih belum. Aku tak akan menyerah. Aku tak akan membiarkan kalian menyentuh Kuro walau hanya sehelai rambutnya. Kali ini giliranku untuk melindunginya.)
"Scarflare, terimalah semua perasaanku dan tekadku, berikan aku kekuatan untuk melindungi Kuro dan semua orang yang berharga bagiku!!"
Seolah menjawab permintaan Laila, semua Scarflare bersinar terang dan memancarkan api yang membara. Jumlah Scarflare juga semakin bertambah, tapi tiba tiba cincin yang Laila juga memancarkan cahaya yang sama.
Laila sedikit terkejut karena cincin Dragonblood Gear miliknya tiba tiba bercahaya. Dia tak terlalu mengerti apa yang terjadi, tapi dia tahu apa yang harus dia lakukan.
__ADS_1
"Synchronization Complete! Connecting to Gear of Flame. ....Rebooting.. complete. ...tunjukanlah wujudmu yang telah terlahir kembali, Scarflare of Azure!"
Api yang berada di Scarflare langsung berubah menjadi biru dan memancarkan panas yang luar biasa. Tak hanya itu, pola sihir yang berada di Scarflare berubah wujud, disaat yang sama salah satu Scarflare terpecah menjadi beberapa bagian dan menjadi pedang baru. Hal ini diikuti oleh Scarflare yang lain dan jumlah Scarflare kini hampir menyamai jumlah pedang yang dimiliki Lucifer.
"Majuuuuu!!!!"
Ribuan Scarflare melesat dan terbang ke arah pedang yang mengarah ke arah mereka. Meskipun ukuran Scarflare lebih kecil bahkan sama dengan seukuran pisau makan, namun Scarflare itu dapat memukur mundur pedang dan tombak yang berukuran puluhan kali lebih besar.
"Haaaaa!!!!!"
Knox dan lainnya hanya bisa melihat dan terbengong dengan apa yang terjadi di depan mata mereka. Mereka seolah melihat suatu yang mustahil, terutama kekuatan Laila yang dia tunjukkan hari ini sungguh berbeda dengan yang dia tunjukkan selama ini.
"?!"
Tapi salah satu pedang tiba tiba menembus pertahanan Scarflare dan hampir mengenai kaki Laila.
Hal itu terulang kembali dan terus terjadi. Laila sadar jumlah ternyata Scarflare miliknya perlahan mulai berkurang sehingga pedang Lucifer bisa menembusnya.
(Sial, bahkan Laila mulai kehabisan mana.)
Knox menggigit bibirnya karena tahu tak ada perubahan berarti meskipun Laila sudah menggunakan semua yang dia miliki. Selain itu gerbang dimensi beberapa detik lagi akan terbuka dan mereka akan mati.
(Pada akhirnya kita akan mati kah...)
Entah mengapa di situasi yang tak memiliki jalan keluar itu Knox justru tertawa kecil. Dia tak merasakan penyesalan setelah semua yang terjadi.
"?!"
Tiba tiba Knox merasakan tekanan mana yang tak biasa dari belakangnya. Semuanya juga menyadari dan langsung menoleh ke arah sumber tekanan mana itu.
Mata mereka semua melebar saat mengetahui sumber mana yang tak normal dan tak biasa itu, yaitu Kuro yang matanya kini sudah terbuka dan menunjukkan mata putihnya. Tapi mata putih itu berbeda dengan yang mereka lihat sebelumnya. Kini mata itu berubah menjadi mata naga berwarna putih.
Tapi dari semua itu, mereka tahu satu hal yang sangat berbeda dengan Kuro sebelumnya. Jika Kuro memancarkan tekanan mana, maka mereka tahu apa yang bisa Kuro lakukan saat ini.
"...maaf, membuat kalian menunggu."
"Kuro, jangan bilang kau..."
Tekanan mana yang besar terpancar dari Kuro. Bahkan bagi Knox, dan semuanya, ini adalah pertama kalinya merasakan tekanan mana seperti itu. Yang menjadi pertanyaan adalah sihir seperti apa yang akan Kuro perlihatkan.
"Laila, kau bisa beristirahat, serahkan sisanya padaku."
Saat itu, Lucifer langsung menyipitkan matanya. Dia tahu apa yang sedang terjadi kepada Kuro sekarang ini.
Lucifer ingat saat Shiroyasha menggunakan tekhnik itu. Tekhnik terlarang yang dapat merusak keseimbangan sihir dan keseimbangan dunia, Assimilate
"Tidak, aku akan membantumu."
"..."
"Aku tahu kau tak bisa menggunakan teknik mu jika ada pengganggukan?"
Kuro langsung tersenyum.
"Aku senang mendapat calon istri yang pengertian sepertimu, Laila."
Kuro langsung memperkuat posisi kuda kudanya. Disaat yang sama tekanan mana yang besar terpancar darinya. Saking kuatnya semua yang berada di dekatnya terpental dan hancur berkeping keping.
Aldest dan Knox tak punya pilihan lain selain menggunakan sihir pertahanan agar tak ikut hancur.
(Sungguh kekuatan yang luar biasa, inikah kekuatan Kuro yang sebenarnya? ...tapi bagaimana bisa dia menggunakan sihir?)
Knox menganalisa apa yang terjadi dengan Kuro. Kuro menggunakan sihir adalah suatu keganjilan, tapi setelah berpikir apa yang Kuro miliki, yaitu Eyes of Origin, maka hal ini tak mustahil terjadi.
(Begitu rupanya, karena itulah Shapira ikut terdiam. Dia pasti menyinkronkan mana Shapira dengan menggunakan Eyes of Origin. Kemampuan mata yang mengerikan.)
Dugaan Knox diperkuat oleh elemen yang terasa adalah elemen angin.
(Tapi aku tak menyangka tekanan mana akan sebesar ini, tidak, itu bukan masalahnya.)
Knox langsung menatap Lucifer dan gerbang yang beberapa detik lagi akan terbuka sepenuhnya.
(Bisakah Kuro sanggup mengalahkan Lucifer dalam waktu yang sangat singkat dengan kekuatannya ini?)
Pertanyaan itu sangat wajar karena kekuatan Lucifer yang begitu besar. Bahkan lebih besar daripada yang mereka perkirakan.
Sementara itu, tekanan mana Kuro semakin besar dan bertambah besar. Lingkaran sihir muncul di bawah kaki Kuro dengan simbol dan huruf yang berbeda dengan sihir yang pernah ada selama ini. Lingkaran itu semakin membesar dan membesar, tapi tiba tiba semua itu menghilang seolah kekuatan yang Kuro tunjukan tak pernah ada sebelumnya.
"""EH?"""
Semua menunjukkan keherannya. Mereka semua menoleh ke arah Kuro dengan tatapan bengong dan bertanya tanya. Sedangkan Kuro hanya mendesah seolah tak ada masalah.
Knox tak begitu mengerti dan langsung menuju ke arah Kuro dengan tatapan penuh amarah.
"Keparat! Apa kau bercanda? Mana kekuatanmu yang baru saja kau tunjukkan? Apa kau sedang main main dengan nyawa kami semua?"
Semua juga menunjukkan tatapan yang sama dengan Knox. Mereka tak tahu harus bereaksi seperti apa.
"....."
Kuro justru tersenyum kecil, tapi perlahan darah keluar dari mulutnya. Matanya juga langsung kembali menjadi hitam kelam.
"Hey lihat, sesuatu yang aneh terjadi!"
Mereka langsung menoleh ke arah langit. Dan seperti yang Laila katakan, ada suatu yang aneh telah terjadi.
Jutaan pedang yang mengarah ke arah mereka berhenti dan terdiam di tempat. Hal yang sama juga terjadi kepada Lucifer. Tapi yang lebih mengejutkan adalah gerbang dimensi yang berhenti terbuka.
"A-apa yang sebenarnya terja- um?"
Laila terkejut saat jutaan pedang itu perlahan hancur menjadi potongan kecil dan perlahan jatuh ke bumi bagai hujan logam. Tapi sebelum membentur tanah, potongan logam itu menghilang menjadi partikel.
Lucifer juga perlahan terpotong han hancur menjadi ribuan keping. Dari pedangnya, terpancar cahaya putih yang menyilaukan.
Semua bingung dengan apa yang terjadi, tapi mereka langsung tahu siapa yang telah melakukan semua hal itu.
"Aha ha... aku tak menyangka kau sudah mempersiapkan sihir mengerikan seperti itu, King."
Sedikit demi sedikit tubuh Lucifer hancur dan menghilang.
"Tapi menggunakan sihir pemurni untuk mencegahku kembali menjadi Cursed Arm, bukankah itu sedikit curang?"
Setelah melihat dengan teliti, Knox menyadari cahaya putih itu pernah dia lihat sebelumnya.
"Kuro, mungkinkah..."
Kuro mengusap darah yang keluar dari mulutnya dan berkata:
"Itu adalah jarum Holy Crystal, seperti yang kau tahu Holy Crystal mampu menyimpan energi sihir berelemen suci."
Knox langsung ingat saat mereka akan berangkat dari kota Areshia.
"Waktu itu kah..."
Kuro mengangguk.
Benda yang diberikan Riana sebelum berangkat menuju Dragonia adalah jarum yang berisi elemen suci. Seperti yang diketahui, elemen suci mampu menghancurkan kegelapan dan apapun yang terbuat dari mana.
Tujuan sebenarnya bukan hanya mengalahkan Lucifer, tapi juga mencegahnya kembali menjadi Cursed Arm. Jika Lucifer bangkit kembali, maka tak ada yang tahu kerusakan yang bisa terjadi. Apalagi jika musuh menggunakan kekuatan Lucifer seperti sekarang ini.
Disaat menyadari itu, Knox juga menyadari suatu yang ganjil.
"Tapi bagaimana bisa? Bukankah itu juga akan menetralkan kekuatanmu?"
"Tidak. Aku juga bisa menggunakan Ki, jadi aku menggunakan Ki untuk menahan agar kekuatan sihir elemen suci tak menetralkan sihirku."
Disaat itulah Knox sadar kalau tekanan mana yang begitu besar ternyata bukan hanya terdiri dari mana, tapi juga Ki.
"..begitu rupanya."
Knox merasa kagum, tapi juga langsung sadar bahwa Kuro bukan manusia karena bisa melakukan semua itu. Dia sekarang mengerti kekuatan Demon King yang dikatakan menyamai 72 Paladin.
Dia seolah melihat legenda hidup jika melihat Kuro.
"Kurasa ini bukan masalah, ...kau pemenangnya, King."
Tubuh Lucifer akhirnya menghilang sepenuhnya bersamaan dengan pedang yang berisi Cursed Arm.
"Aku akan menantikan saat bisa bermain denganmu lagi, King."
Suara Lucifer masih terdengar meskipun wujudnya sudah tak ada lagi.
"Ah.... aku juga dengan senang hati bermain denganmu."
Gerbang dimensi juga terpotong dan akhirnya hancur lalu menghilang. Cahaya mentari mulai terlihat dan itu adalah pertanda pagi akan segera tiba.
Knox, Aldest dan Lairo langsung merebahkan tubuh mereka di tanah. Mereka akhirnya bisa bernafas lega karena semuanya telah berakhir. Senyuman muncul di bibir mereka karena mereka bersyukur masih hidup setelah mengalami pertempuran yang luar biasa. Mereka masih selamat bagaikan sebuah mimpi belaka mengingat mereka hanyalah murid sekolah.
Tiba tiba mereka mendengar suara benda terjatuh. Mereka langsung menoleh ke arah sumber suara dan menemukan Kuro sudah tak sadarkan diri.
"Kuro!"
Laila langsung menuju ke arah Kuro, tapi tiba tiba kepalanya pusing dan pandangannya menjadi kabur. Setelah itu, yang dia lihat hanyalah kegelapan.
♦️♦️♦️
Tak jauh dari ibukota, tepatnya di pohon tua yang sempat dikunjungi Kuro sebelum pertempuran, dua sosok sedang bersandar dengan santai sambil menikmati buah apel.
"Alice, kau sudah mengetahui hal ini kan?"
"Hm?"
"Yang kumaksud tekhnik terakhir orang yang merupakan keturunan Demon King. Aku tak terlalu mengerti bagaimana bisa dia menghancurkan semuanya tanpa ada orang yang menyadarinya. Pasti itu sihir yang luar biasa, benarkan?"
Mendengar pertanyaan itu, Alice tersenyum kecil sambil menggigit apel merah yang lezat dan manis itu.
"Rim, itulah kekuatannya yang sebenarnya, tidak, kurasa lebih tepat jika kusebut salah satu kekuatan Eyes of Origin."
Rim menunjukkan ketertarikannya dan langsung mendekat seperti anak kecil yang mendengar dongeng sebelum tidur.
"Eyes of Origin adalah mata yang bisa melihat kebenaran dunia ini, dengan kata lain dengan mata itu dia bisa melihat suatu yang tak bisa dilihat bahkan oleh Paladin sekalipun."
"..aku masih tak terlalu mengerti.."
"Ya, aku tak menyalahkanmu. Aku yang sudah hidup ratusan tahun bahkan tak mengerti tentang Eyes of Origin. ..mata itu bisa disebut anugrah, tapi juga bisa disebut sebagai kutukan bagi pemiliknya."
"Mungkinkah itu alasan kita tak mengambil mata itu dari dia?"
"Tidak juga. Alasan kita tak berusaha mengambilnya karena mata itu hanya bisa dipakai oleh pemiliknya.... sudahlah, tapi yang terpenting semua rencana tahap kedua kita telah berhasil."
"Hn hnn.."
Rim tertawa dengan senangnya.
"Sekarang kita akan melakukan rencana selanjutnya. Kurasa kita harus mempersiapkannya segera mungkin."
Keduanya langsung berdiri. Disaat yang sama Rim langsung menggunakan sihir teleportasinya.
"Kau mengerti apa yang harus kau lakukan selanjutnya kan?"
Alice melirik bayangan yang bersembunyi dibalik bayangan pohon. Bayangan itu tak menunjukkan reaksi dan hanya tersenyum tipis.
Kemudian Alice dan Rim menghilang dari tempat itu tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.
Setelah keduanya pergi, bayangan itu keluar dari tempat asalnya dan menunjukan sosoknya. Pangeran tampan yang memiliki otak cerdas sehingga dia dikenal sebagai ahli taktik dan rencana.
Louis lalu menggunakan sihirnya dan menghilang bagai bunglon. Itu adalah salah satu sihir khusus yang dimilikinya. Dia kembali menuju istana Fafnir dengan ekspresi senang, tapi kekecewaan juga terpancar. Hal itu karena meskipun rencana yang telah dia susun sebagian besar berhasil, tapi ada juga rencana yang gagal. Dan orang yang menggagalkan rencananya adalah orang yang tak pernah dia duga.
__ADS_1
"Baiklah, akan kuturuti permainan kalian, True Queen."