
"Errr... Lama tak berjumpa juga?" Ucap Laila sambil memiringkan kepalanya.
"Kenapa kau bertingkah seperti itu?" Tanya Fea dengan nasa sedikit jengkel. "Kau seharusnya tahu bagaimana kekuatanku bekerja. Jadi kau tak perlu canggung."
Saat mengingat kembali kehidupannya sebagai Alice, Laila juga mengingat bagaimana karakter Fea. Dan tentu saja hubungan keduanya di kala itu.
"Ahaha.. kalau begitu aku tak perlu menahan diri lagi."
"Seperti itulah Ali- maaf. Kau sekarang Laila."
"Kau bisa memanggilku Alice seperti dulu. Laila juga tak masalah."
"Kalau begitu Alice saja. Aku lebih terbiasa dengan nama itu."
Keduanya lalu tertawa secara bersamaan dengan penuh keakraban.
"Um... Laila?"
Laila ingat kalau ada orang lain selain mereka berdua.
"Aku mengerti kenapa kau bingung tentang hubungan kami, Fila. Yah... Singkatnya, aku dan Fea memiliki hubungan seperti kakak dan adik. Tentu hubungan antara manusia dan High Elf tak mungkin bisa terjadi, tapi kau tahu berkat orang itu, hubungan kami begitu akrab."
"...begitu.."
Tak perlu banyak penjelasan, Fila bisa menebak apa yang terjadi saat Laila hidup sebagai Alice. Penjelasannya, karena Fea jatuh cinta pada Shiroyasha, Alice dan dan Fea menjadi akrab. Dengan kata lain, selain hubungan seperti saudara, mereka juga adalah saingan cinta.
Kenapa setiap kali orang seperti Shiroyasha muncul kejadian seperti ini selalu terjadi?
Tetapi meskipun begitu, Fila tetap menganggap ini suatu yang luar biasa. Sama seperti kaisar, High Elf adalah salah satu orang yang paling penting di negara elf. Membuat hubungan dengan orang seperti itu bisa dikatakan suatu yang hampir mustahil bagi orang biasa.
"Lalu bagaimana dengan yang dimaksud kekuatan Fea? Jujur saja aku penasaran."
Yang bertanya adalah Electra.
Bertanya tentang kekuatan orang penting negara lain sebenarnya cukup lancang. Apalagi kekuatan para elf sebenarnya cukup rahasia.
Tetapi Fea hanya tersenyum kecil dan tanpa ragu menjawab.
"Selain Spirit Art, Fea memiliki mata sihir. Benarkan?"
"Ya. Mata sihirku tak sekuat mata milik Shiro, tapi bisa dibilang salah satu yang terkuat, Spirit Eyes. Itulah mata sihir yang aku miliki. Untuk kekuatannya, bisa dibilang aku bisa melihat bentuk jiwa seseorang secara langsung. Selebihnya membuatku bisa melihat spirit."
Tentu masih banyak lagi kekuatan mata sihir milik Fea, tapi jika hanya itu yang diberitahu, maka selebihnya adalah sebuah kelancangan.
Tapi ada hal yang membuat Electra penasaran.
"Bentuk jiwa?"
"Kalian pasti mengenal sistem tekanan energi sihir atau pola energi sihir. Ini sama seperti itu, hanya saja ini berlaku pada jiwa seseorang. Sama seperti sidik jari, jiwa seseorang tak ada yang sama. Cara inilah yang aku gunakan untuk menemukan Alice dan Shiro meskipun mereka memiliki tubuh yang berbeda dari kehidupan mereka sebelumnya."
Apa yang diceritakan Fea merupakan versi sederhana sistem reinkarnasi. Mereka semua paham dan percaya karena saat ini ada bukti nyata di depan mereka.
Tetapi di saat yang sama mereka sadar. Dengan mata sihir Fea, maka dia bisa menemukan siapa saja yang bereinkarnasi meskipun mereka tak ingat kehidupan mereka sebelumnya.
"Kau belum menyerah terhadap Shiro huh?"
"Kenapa aku harus menyerah? Lagipula dialah yang melamar diriku."
"Itu hanyalah kesalah pahaman. Bagaimana kami tahu memberikan bunga pada elf adalah ritual melamar? Bagi kami, itu adalah tanda untuk membuat hubungan baik."
"Ya ya.. mana mungkin aku tak tahu tentang itu. Lupakan masalah itu, di mana Shiro?"
Fea melihat ke sekeliling mencari seseorang, tapi dia tak menemukan orang yang dia cari.
Laila mendesah.
"Aku tahu Kuro adalah keturunan Shiro, tapi dia bukan Shiro. Kau jangan membuat ulah pada suamiku."
Mendengar itu, Fea memiringkan kepalanya seolah tak mengerti.
"Apa kau lupa apa yang aku katakan. Aku bisa menemukan Alice dan Shiro dengan mataku. Mana mungkin aku tak bisa membedakan jiwa orang yang aku cintai?"
"........."
Semuanya langsung terdiam. Mereka saat ini bisa membayangkan apa yang ingin Fea katakan selanjutnya.
"Sama seperti dirimu, Alice. Shiro juga bereinkarnasi. Aku tak menyangka kalian bisa bersama lagi di kehidupan ini. Mungkin inilah yang dinamakan takdir."
Untuk alasan tertentu, mereka seolah mendengar sebuah rahasia besar Kuro.
✡️✡️✡️
Di sudut taman yang terletak jauh dari tempat Laila dan lainnya mengobrol, tak ada sesuatu yang spesial di sana. Pemandangan itulah yang terlihat di mata orang biasa.
Di tempat itu, dua orang gadis sedang berhadapan satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Kemudian, salah satunya tersenyum kecil dengan penuh godaan.
"Kita bertemu lagi..."
".....ya."
Gadis lainnya menjawab dengan nada lemah. Di kepalanya banyak hal yang ingin dia katakan, karena itulah dia tak bisa berpikir dengan tenang.
Tetapi saat melihat sosok gadis di depannya, dia tak bisa menyembunyikan perasaan senang, bahagia dan sekaligus bernostalgia. Dia benar benar masih sama seperti terakhir dia ingat.
Dia hampir tak bisa menahan diri untuk ingin memeluk tubuhnya dan merasakan kehangatan orang yang dia cintai. Hal itu juga menjadi salah satu bukti kalau apa yang dia lihat bukanlah ilusi semata.
"Sudah berapa lama....?"
"...entahlah..."
"..."
Seolah sudah menduga jawaban itu, Arisa hanya tersenyum kecil.
Dia lalu mendekat dan melepaskan topeng yang dikenakan Ruko. Saat melakukannya, tak ada perlawanan dari Ruko.
"....kau sungguh cantik."
"Aku tak tahu harus senang atau sedih mendengar itu darimu."
Ruko memegang tangan Arisa dan menempelkannya pada pipinya. Hangat dan begitu lembut.
"Jujur saja aku sedikit terkejut dan tak mengenalimu. Kau memang selalu berbuat hal yang tak bisa aku duga."
"Banyak hal yang terjadi. Aku tak tahu harus mulai dari mana."
Ruko menikmati sentuhan dan setiap kehangatan yang dia rasakan dari tubuh Arisa.
Melihat itu, Arisa sekali lagi tersenyum karena mengerti apa yang Ruko rasakan. Bagaimanapun juga dia juga merasakan hal yang sama.
Tetapi sekarang bukan saatnya. Dia harus bisa menahan diri sedikit lagi. Setelah itu dia bisa melakukan sepuasnya.
"Arisa... Kau sungguh cantik malam ini."
"Benarkah? Aku rasa gaun hitam tak cocok untukku."
Gaun hitam yang Arisa kenakan serasi dengan rambut hitamnya yang kelam segelap malam, tapi memang ada sesuatu yang membuat gaun itu tak begitu cocok. Sesuatu itu adalah aura yang dikeluarkan Arisa.
"Sama seperti dulu, aku rasa warna putih lebih cocok untukmu."
"Aku juga sependapat."
"Ari-"
Tak terduga, air mata menetes dari mata Ruko. Air mata itu begitu deras bagai sungai yang tak terbendung.
Sudah berapa lama dia tak menangis? Ruko mengira air matanya sudah lama mengering, tapi saat ini air itu seolah tak ingin berhenti.
"Arisa...A-Aku..."
Ada banyak hal yang ingin Ruko tanyakan. Ada banyak hal yang ingin dia ceritakan.
Tetapi dari semua itu, ada satu hal yang ingin Ruko katakan sejak tahu dia bisa bertemu dengan Arisa lagi.
"....aku senang ternyata kau masih hidup."
Mereka berpelukan. Sebuah pelukan hangat dan begitu mesra dari dua orang kekasih yang sudah lama terpisah.
"Ya. Jika bukan berkat dirimu, mungkin aku tak akan hidup hari ini. Dan mungkin karena sebuah keberuntungan, aku tiba di dunia ini dan bisa bertemu lagi denganmu."
"..."
Ruko tak menjawab dan hanya mengangguk.
Tak berapa lama kemudian Ruko melepaskan pelukannya.
"Aku tak menyangka penantianku di dunia ini selama 500 tahun tak sia sia."
"...maaf."
"Tidak. Kau tak perlu minta maaf. Justru aku yang minta maaf. Kau berada di dunia ini karena kelemahanku."
Ada legenda yang menyebutkan kalau Shiroyasha berasal dari dunia lain. Dan itu benar.
Kuro datang ke dunia ini 500 tahun yang lalu untuk menemukan Arisa yang dipindahkan oleh Kuro menggunakan Authority untuk menyelamatkannya dari kematian, tapi karena suatu masalah, ada perbedaan waktu kedatangan mereka berdua.
Kuro bisa saja pergi ke dunia lain atau melakukan perjalanan waktu di mana Arisa akan tiba, tapi dia tak melakukannya karena pertemuaannya dengan Aliciana (Laila).
Pertemuan setelah 500 tahun dalam situasi ini bagaikan sebuah lelucon dari takdir.
✡️✡️✡️
"Fea, aku tahu kekuatanmu dan kau masih belum menyerah tentang Shiro. Tapi jangan membuat candaan seperti itu. Itu hanya akan membuat senang orang yang tak suka dengan hubungan kami."
__ADS_1
"Ahaha.. jangan marah. Tapi bukankah itu lebih baik bagi kalian berdua?"
"Aku tak berpikir seperti itu. Kuro adalah Kuro. Meskipun dia reinkarnasi Shiro atau bukan, itu tak akan mengubah Kuro di mataku. Lupakan masalah itu, bagaimana dengan keadaan Felis?"
"Aku pikir kau harus berkunjung ke hutan elf kapan kapan. Kau bisa melihat dengan matamu sendiri. Tapi aku bisa mengatakan kalau banyak yang sudah memiliki keluarga seperti dirimu."
"....Itu ide yang bagus. Aku akan mengajak Kuro kapan kapan."
"..."
"..."
Sementara keduanya asik mengobrol, Fila dan Electra tak bisa begitu saja melupakan apa yang Fea katakan tentang Ruko (Kuro). Bagi keduanya, ini adalah informasi yang sangat berharga dan penting.
Tetapi apakah apa yang dikatakan Fea itu kenyataan atau sebuah candaan belaka?
Jika kenyataan, reaksi Laila begitu tenang seolah dia sudah mengetahuinya. Atau bisa juga dia tak begitu peduli karena itu tak akan mengubah perasaannya pada Ruko (Kuro). Bahkan mungkin cintanya akan bertambah besar.
Tetapi jika itu hanyalah sebuah candaan, maka itu bukan candaan yang bisa dikatakan dengan mudah dalam acara di mana banyak orang penting berkumpul. Bagaimana jika salah satu dari mereka mendengar hal itu?
(Yang paling penting, jika apa yang dikatakan tentang Kuro benar, berarti Fea adalah salah satu yang tahu rahasia tentang King)
Electra ingat kalau para elf mengakui hanya ada satu King saja. Mungkinkah itu ada hubungannya?
(Aku sama sekali tak mengerti. Ini terlalu rumit)
Electra lalu memperhatikan Laila dengan seksama. Ekspresinya masih belum berubah dan begitu tenang. Kau bisa menganggap ini hal yang wajar mengingat Laila adalah orang spesial.
Tetapi sikap yang dia tunjukan juga menunjukkan kalau dia sangat tak normal. Bahkan Laila lebih tak normal daripada Ruko.
"Aku senang mendengarnya. Tapi aku sedikit berharap kalau Riku memiliki teman seumuran dengannya. Walau di sini aku rasa dia cukup memiliki banyak teman."
"Hey.. kapan kapan pertemukan aku dengan anakmu. Aku ingin sekali melihatnya. Aku dengar dia sangat imut. Kenapa kau tak mengajaknya?"
"Dia masih kecil. Belum saatnya ikut acara seperti ini. Tapi jangan kawatir, aku akan mempertemukan kalian. Aku peringatkan, dia suka wanita berdada besar."
"Oh.. dia benar benar seperti Shiro."
"..."
Pada akhirnya Electra hanya bisa mendesah. Dia menganggap informasi yang dia dengar barusan suatu yang berharga. Reinkarnasi Shiroyasha atau bukan, itu tak akan bisa mengembalikan Ao padanya.
Di saat mereka mengobrol, tiba tiba suara pengumuman terdengar dari seorang Holy Knight.
"Yang mulia kaisar Sei Yamato dan tuan putri memasuki acara."
Semuanya langsung fokus ke arah pintu di mana kaisar Sei akan muncul. Laila dan lainnya juga tak mungkin ketinggalan.
Tak berapa lama kemudian sosok pria tua berambut putih muncul mengenakan pakaian mewah berwarna putih. Sebuah mahkota emas putih berhiaskan permata berada di atas kepalanya. Meskipun tua, tapi wibawa seorang pemimpin dan kaisar terpancar begitu jelas.
Lalu di belakangnya, 4 orang gadis cantik mengikutinya dari belakang. Banyak yang bersorak karena tak bisa menahan diri untuk melihat tuan putri kekaisaran.
Meskipun sebenarnya mereka tak memiliki hubungan darah dengan Sei, tapi semua tahu mereka berempat memang pantas mendapatkan gelar Tuan Putri.
Yang pertama kali terlihat adalah Victoria. Victoria Levt Vermilisst. Putri pertama kekaisaran dan dikatakan yang paling kuat di antara mereka semua.
Berbeda dengan biasanya yang terlihat tomboy dan tak bisa diam, Victoria terlihat begitu tenang dan anggun. Gaun putih yang dia kenakan juga menambah pesona wanita yang dia miliki.
Yang kedua adalah Norn Levt Vermilisst. Tak seperti lainnya, dia adalah satu satunya yang tak memiliki kemampuan bertarung. Tetapi dia dikenal sebagai yang paling cerdas di antara mereka semua.
Lalu yang paling mencolok adalah rambutnya yang pendek. Meskipun begitu, itu tak mengurangi pesonanya. Justru penampilannya yang berbeda membuatnya terlihat segar.
Sama seperti Victoria, dia mengenakan gaun putih. Hanya saja bagian perutnya terbuka dan mengenakan sebuah gelang.
Selanjutnya tentu saja putri ketiga kekaisaran, Riana Levt Vermilisst. Dari semuanya dia dikenal sebagai yang paling cantik. Tak hanya itu, dia juga dikenal sebagai yang paling baik. Bahkan ada yang memanggilnya Saint (orang suci) dan penerus Holy Maiden.
Dia mengenakan gaun yang tak jauh berbeda dari Victoria. Hanya saja rambutnya terikat oleh pita.
Yang terakhir, tentu saja tuan putri yang belum lama dilantik. Charlmilia Levt Vermilisst. Dia sudah mengganti namanya menjadi nama tuan putri kekaisaran dari nama keluarga asalnya.
Levt Vermilisst adalah bahasa kuno tanah Orladist. Nama itu memiliki arti Yang Terpilih, tapi juga bisa berarti Yang Tertinggi.
Berbeda dengan tuan putri lainnya, dia adalah satu satunya yang memiliki rambut pirang emas. Maklum saja, dia satu satunya tuan putri yang bukan penyihir elemen suci.
Karena dia baru diangkat, maka tak ada sebuah pencapaian mencolok selain alasan kenapa dia diangkat menjadi tuan putri. Untuk sekarang banyak yang menantikan apa yang dia lakukan dengan posisinya sekarang, termasuk dalam Battle War kali ini.
Sama dengan yang lainnya, dia juga mengenakan gaun putih.
Para tamu yang melihat rombongan kaisar merasa takjub dan sekaligus kagum. Hanya dengan aura saja, mereka bisa merasakan kewibawaan dari mereka semua.
"Ehem.. terima kasih pada tamu yang hadir dalam acara malam ini. Para tamu yang mewakili negara kalian, aku ucapkan terima kasih karena kalian bersedia datang jauh jauh dari negara asal kalian. Aku harap kalian tak bosan dengan undangan dari pria tua ini."
Sei membuka acara dengan alat pengeras suara. Itu bukan alat sihir karena alasan sihir Sei.
Sei melanjutkan.
"Karena setiap tahun seperti ini, aku rasa tak butuh penjelasan panjang kenapa aku mengumpulkan semua kalian malam ini."
"Malam ini aku akan mengenalkan peserta yang akan bertarung besok. Seperti yang kalian tahu, mereka adalah masa depan negeri ini. Aku harap kalian bisa akrab dengan mereka."
Dengan tepuk tangan meriah, Sei mulai menyebut nama peserta dari masing masing sekolah.
"Seperti biasa dia tak pandai bicara. Dia langsung ke inti acara tanpa melakukan pembukaan apapun."
"Aku sependapat, tapi aku rasa ini juga bagus karena setelah peserta disebutkan, para tamu bebas berkomunikasi dengan para peserta."
Bagi Fea dan orang orang yang sudah lama mengenal kaisar Sei, ini suatu yang biasa mereka lihat.
Tetapi dia dulu tidakah seperti ini. Dia membuka dengan selayaknya seorang kaisar atau pemimpin yang penuh dengan wibawa.
Banyak yang berpikir kaisar Sei berubah karena dia sudah tua. Maklum saja, dari segi usia dia sudah berusia 300 tahun lebih dan selama itu pula dia menjadi kaisar.
Sikapnya yang seperti ini membuat banyak yang berpendapat kalau sudah saatnya untuk kaisar Sei turun tahta dan mewariskan tahtanya pada penerus.
Yang menjadi masalah, kaisar Sei tak memiliki permaisuri. Apalagi seorang anak. Selama 300 tahun hidup, dia dikenal sebagai kaisar penyendiri dan seorang yang tak mengenal kasih cinta dari lawan jenis.
Ada yang berasumsi kalau dia penyuka sesama jenis, tapi semua itu terbantahkan dengan diungkapkannya alasan kenapa dia tak menikah.
Sei seorang pria normal yang menyukai dan memiliki perasaan pada wanita lainnya, tetapi dia tak dibolehkan untuk mencintai atau memilih seorang wanita.
Jika dia melakukannya, sudah pasti dia akan memiliki keturunan dari wanita itu. Di sinilah masalah yang paling besar.
Kekaisaran Houou merupakan sebuah negara yang terlahir dari pesona dan pencapaian Maria, sang pahlawan perang dan seorang Holy Maiden. Karena inilah wajar jika banyak yang berpikir penerus Kekaisaran pastilah seorang yang memiliki pesona yang sama atau setidaknya seorang penyihir elemen suci.
Berbeda dengan penyihir biasa, penyihir elemen suci tak tergantung oleh faktor keturunan. Dengan kata lain, meskipun memiliki permaisuri dan selir, belum tentu dia akan memiliki keturunan seorang penyihir elemen suci.
Mempertimbangkan masalah yang akan datang, Sei memutuskan untuk tak mencintai atau memiliki seorang permaisuri. Dia memendam semua hasrat dan keinginan untuk memiliki sebuah keluarga demi memimpin sebuah negeri yang tercipta dari darah dan keringat orang tuanya.
Kenyataan itu membuat banyak orang yang kagum padanya atas pengabdian yang dia dedikasikan pada kekaisaran Houou. Dia benar benar seorang pemimpin sejati.
Lagipula dia memiliki berkah ilahi dari Solaris. Dia bukanlah orang yang akan mati dengan mudah.
Semua itu tak berubah selama 300 tahun ini. Selama itu pula kekaisaran menjadi negara paling besar dan paling makmur di tanah Orladist.
Sayangnya, semua itu berubah saat kaisar Sei memutuskan untuk mengangkat penyihir elemen suci yang terlahir 17 tahun lalu menjadi tuan putri. Kejadian ini terus berulang hingga dia mengangkat Riana.
Hal ini tentu saja banyak yang berspekulasi kalau Sei mencari seorang pewaris. Banyak orang yang bertanya tanya, dari tiga tuan putri, siapakah yang dia angkat menjadi permaisuri kekaisaran Houou?
Pada akhirnya, pertanyaan itu belum terjawab. Lalu pengangkatan tuan putri keempat terjadi dan di saat yang sama itu menambah calon kandidat permaisuri.
"Ughh. Aku tak terlalu suka dengan politik, tapi aku rasa ini memang diperlukan."
"Kau pasti mengerti tujuan pertemuan seperti ini diadakan. Bukan hanya untuk mengenalkan pemimpin masa depan negeri ini, ini juga untuk memancing musuh yang mengincar negeri ini. Bagi mereka mungkin inilah adalah salah satu kesempatan untuk merekrut orang dalam. Tentu Sei sudah mengantisipasi hal itu jika terjadi."
"Dia benar benar memiliki hobi yang buruk. Yah.. buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya."
"Fea, apakah yang kau maksud itu Sei banyak mewarisi sifat Maria?"
Fila bertanya karena tak terlalu mengerti.
"Tidak. Kau salah. Meskipun Sei terlihat mewarisi sifat Maria, tapi dia lebih banyak mewarisi sifat ayahnya. Terutama sifat acuh, dan sikap yang tak jujur pada dirinya sendiri."
"Hm... ?"
"Fila, jangan berpikir terlalu keras. Sampai sekarang tak ada yang tahu siapa ayah kaisar Sei. Apa kau berpikir akan mudah menemukannya?"
Mendengar itu, Fea hanya tersenyum penuh dengan misteri.
Di saat itulah mereka mendengar nama mereka disebut. Selain Fila, Laila dan Charmilia. Nama peserta dari Kuryuu Academy disebutkan beserta beberapa pengenalan singkat.
Mereka tak begitu peduli. Tetapi saat giliran nama peserta perwakilan dari Seiryuu Academy disebutkan, Laila langsung melebarkan matanya karena merasa telinganya mendengar suatu yang salah.
"Laila, apa ada yang salah?"
"Apakah kau mengenal peserta itu?"
Tetapi Laila tak menjawab kedua pertanyaan itu dan langsung saja pergi meninggalkan mereka bertiga.
Dia melihat ke sekeliling untuk mencari sosok Ruko di berbagai tempat. Sayangnya, dia tak menemukan orang yang dia cari.
"Kuro... "
Dia akhirnya mengerti kenapa Ruko bertingkah aneh akhir akhir ini. Dia pasti sudah tahu kalau orang itu masih hidup.
"Kuro..?"
Di saat mencari, dia merasakan sebuah keanehan di salah satu sudut. Sebuah penghalang terpasang di sana dengan tujuan untuk mengalihkan perhatian orang orang dari tempat itu. Penghalang itu salah satu yang terkuat, tetapi itu tak cukup kuat untuk mengelabuhi Laila.
Dia merasakan keberadaan Kuro di tempat itu. Tetapi dia tak sendirian. Ada orang lain bersamanya.
Perasaannya langsung tahu siapa orang yang bersama Kuro.
"...."
__ADS_1
Perlahan dia mendekat, tapi dia ragu apakah masuk ke penghalang itu atau membiarkan mereka berbicara.
Untuk sesaat, hatinya merasa tertusuk.
Dia mengerti ini adalah perasaan cemburu. Perasaan yang sudah lama dia tak rasakan saat Kuro merayu wanita lain.
Tetapi dia tahu ini suatu yang berbeda. Dia sekarang berada di posisi yang sama dengan Charlmilia dan gadis lainnya saat merebutkan hati Kuro.
"....Jangan suruh aku untuk memilih huh... "
Dia ingat dengan perkataan Kuro setelah menceritakan masa lalunya.
Dia tak tahu apa yang keduanya lalui, tapi dia merasakan kalau ikatan yang terjadi di antara mereka begitu kuat.
"..."
Dengan berat hati Laila memutuskan untuk kembali dan membiarkan keduanya berbicara. Mengingat mereka adalah saingan dalam Battle War, ini pasti saat yang penting bagi keduanya.
"!?"
Tetapi di saat dia ingin pergi, tangannya dipegang oleh seseorang.
"Laila.. kau mau ke mana?"
"Kuro..."
"Apa aku membuatmu terkejut?"
Kuro berkata dengan penuh senyuman. Berbeda dengan senyuman licik yang selalu Kuro tunjukan, dia kini tersenyum dengan penuh ketulusan.
Itu mungkin bukan perubahan besar, tapi bagi Laila yang mengenal Kuro luar dan dalam, dia tahu ini adalah sebuah perubahan besar dan penuh arti.
"...kau sudah kembali, apakah pengaruh ramuan sihir sudah hilang?"
Selain perubahan itu, sosok Kuro kini berubah, lebih tepatnya kembali seperti semula. Seorang pemuda yang penuh dengan misteri.
Gaun yang dia kenakan berubah menjadi tuxedo berwarna hitam. Untuk topeng, dia masih membawanya.
"Semacam itulah. Syukurlah aku membawa pakaian ganti. Akan gawat jika jika aku berubah saat berpakaian wanita."
Laila hanya tersenyum kecut karena membayangkan jika kejadian itu benar benar terjadi. Di saat yang sama dia merasa jengkel karena harus kehilangan sosok Ruko.
(Kita bisa melakukan sesuatu untuk itu.)
"Laila, jangan pernah kau berpikir untuk meminumkan ramuan semacam itu lagi."
"...."
Kenapa kau membaca pikiranku? Laila ingin menanyakan itu, tapi dia menahan diri.
"Laila, bagaimana kalau kita berkumpul dengan lainnya? Aku pikir mereka sudah selesai memperkenalkan semua peserta."
"..."
Kuro saat ini sedang senang. Itu terlihat jelas dari senyumannya yang begitu tulus dan bahagia.
Sadar kebahagiaan Kuro bukan berasal dari dirinya, entah mengapa Laila timbul perasaan iri dan marah.
"Laila...?"
"Sebelum itu, apakah urusanmu dengan Arisa sudah selesai?"
"..."
Kuro tak langsung menjawab. Dia tahu kalau Laila berada di dekat penghalang dan sadar kalau dia bersama Arisa di dalam.
Dia tak begitu tahu imajinasi seperti apa yang muncul di kepala Laila, tapi itu menjadi salah satu alasan untuk menjelaskan kebenaran tentang hubungannya dengan Arisa.
"Tidak. Kami bahkan memulai hubungan baru."
"..."
Meskipun tahu apa yang akan Kuro katakan, tapi Laila tetap ingin mengharapkan kata lain keluar dari mulut Kuro.
"Satu hal yang pasti, aku merasa beban di pundakku kini berkurang banyak. Sudah 500 tahun lebih aku mencari tahu apakah dia masih hidup atau tidak. Usahaku berhasil atau tidak. Penyesalan yang aku miliki karena berpikir tak bisa menyelamatkan dia kini telah hilang."
"..."
Untuk sesaat waktu seolah berhenti bagi Laila. Apa yang Kuro ceritakan barusan adalah sebuah kenyataan yang sama sekali tak dia duga. Tentu ada hal yang sudah dia ketahui, tapi dalam hati dia ingin sekali tahu apa yang terjadi di antara keduanya.
Sadar apa yang Laila pikirkan, Kuro terus melanjutkan apa yang ingin dia katakan. Dia berpikir ini adalah saat yang paling tepat memberitahukan semuanya.
"Laila, aku rasa aku tak perlu menjelaskan karena kau sudah mendengar tentang diriku dari Fea. Tetapi izinkan aku memperkenalkan diriku sekali lagi padamu."
Kuro tersenyum dengan penuh percaya diri. Dia mundur satu langkah dan meletakan salah satu lututnya di tanah seperti seorang ksatria yang menghadap tuan putri.
"Namaku Kuro Kagami. Aku adalah reinkarnasi Shiroyasha. Tetapi sebelum menjadi Shiroyasha, aku adalah seorang yang bernama Shin Kagami. Dan kau pasti ingat apa yang aku katakan tentang asal usulku. Ya. Aku bukanlah manusia asli dunia ini. Dan bukan aku saja, Arisa adalah manusia dari dunia lain yang bernama Bumi."
"..."
"Karena sesuatu hal aku dan Arisa terlempar ke dunia ini. Tetapi karena perbedaan aliran waktu dan dimensi, kami terpisah. Untuk selanjutnya, aku pikir aku tak perlu memberitahumu karena kau sudah tahu."
Kuro berhenti dan menunggu reaksi Laila.
Seperti yang dia duga, Laila begitu terkejut dengan pengakuan yang baru saja Kuro utarakan.
Tetapi Kuro sama sekali tak menyesali apa yang dia katakan. Reaksi Laila adalah suatu yang wajar.
"....Laila, ....apakah ada yang ingin kau tanyakan?"
"...hmmm... "
Laila memiringkan kepalanya seperti orang bodoh.
"Laila?"
Laila mendesah. Melihat itu, Kuro tak tahu apa yang dipikirkan Laila.
"Tentang reinkarnasi Shiroyasha, aku sudah tahu tentang itu dari Solaris. Lagipula aku memiliki ingatanku sebagai Alice. Mana mungkin aku tak tahu kalau kalian sama sekali tak berubah?"
"!?"
Kali ini yang dikejutkan adalah Kuro.
Seolah menikmati apa yang Kuro rasakan, Laila tersenyum puas.
"Lagipula banyak hal ganjil tentang dirimu. Terutama tentang jumlah ratusan gadis yang kau goda, dan jumlah naga yang kau taklukan. Normalnya orang pasti berpikir itu adalah bohong, tapi bagaimana jika tidak?"
"..."
Kuro tak bisa berkata kata lagi. Apa yang Laila katakan sudah menjawab semuanya.
Tapi tak hanya itu, Laila juga mengatakan kalau selama ini dia percaya dengan semua yang dia katakan meskipun awalnya itu hanyalah niat untuk menggodanya.
Sungguh, Laila adalah orang yang sama sekali tak bisa dia duga. Bahkan sebelum ingatan kehidupannya sebagai Alice kembali, Laila memang seorang yang melebihi ekspektasinya.
"Apakah kau sudah puas? Kita memang dipertemukan kembali pada kehidupan ini. Aku merasa itu juga bagian dari takdir di antara kita, tetapi bukan karena itu kita harus fokus pada masa lalu. Yah.. meskipun aku masih menyimpan dendam pada saat kau memper*osaku. Aku masih tak percaya ada yang berani memper*osa tuan putri."
"....kau masih marah dengan itu? Selama ini kau tak pernah menceritakannya."
Wajah Laila langsung memerah padam.
"Jezz... Kau sama sekali tak mengerti apa yang dirasakan oleh seorang gadis. Lupakan tentang masa itu, sebaiknya kau jangan memberitahukan hal ini pada orang lain. Akan gawat jika semua tahu."
"Caramu mengalihkan perhatian sungguh luar biasa."
Entah mengapa Kuro merasa mengkhawatirkan suatu yang tak perlu.
Shiroyasha atau bukan, itu tak akan mengubah dirinya di mata Laila.
"Tetapi tetap saja aku ingin tahu seperti apa orang yang pernah menjadi kekasihmu. Arisa, bisakah kau keluar dari tempat persembunyianmu?"
Meskipun mengatakannya dengan penuh keceriaan, tapi ada tekanan berat pada perkataan Laila.
Lalu di salah satu sudut pohon yang gelap tanpa ada siapapun, sebuah bayangan muncul dan akhirnya membentuk sebuah sosok.
Sosok itu mendekat dan memperlihatkan wujudnya.
".....seperti yang aku duga. Kita pernah bertemu sebelumnya. Benarkan, Shadow?"
Laila langsung mengenali Arisa dari tekanan sihir yang dia keluarkan. Tekanan itu sama dengan orang yang dulu dia lawan dan juga merupakan seorang anggota kelompok *******.
Dia tak tahu bagaimana bisa orang seperti Arisa bisa ikut dalam Battle War, tapi melihat Kuro yang begitu tenang, pasti ada alasan logis kenapa bisa terjadi.
Lagipula mana mungkin pihak pemerintah tak mengetahui hal ini. Tidak, melihat ada orang yang bekerja pada pemerintahan, bukankah ini cukup mirip?
"Yeah... Sudah lama tak bertemu, Alice. Maaf karena aku menggunakan sosokmu untuk melaksanakan tugasku. Tapi tenang saja, aku bukanlah orang yang akan menggunakan sosok kucing garong berulang kali."
"Ahaha.. ini baru pertama kalinya ada yang memanggil tubuh cantikku dengan sebutan kucing garong. Kau tak usah kawatir, lagipula itu hanyalah sosok BEKAS milikku. Sangat cocok denganmu yang juga seorang BEKAS. Aku dengan senang hati meminjamkannya padamu. Bahkan aku akan dengan senang hati memberikannya. Lagipula itu hanya BEKAS."
"Ahaha... kau sungguh kucing garong."
"Ahaha... Kau juga."
Sebuah percikan besar terlihat di antara keduanya. Tak hanya itu saja, keduanya dengan jelas menunjukkan aura permusuhan dengan mengeluarkan tekanan sihir yang begitu besar.
Tekanan yang mereka keluarkan cukup kuat untuk membuat tanah sekitar mereka bergetar hebat dan perisai yang berada di seluruh tempat perlahan mulai retak seperti kaca yang rapuh. Semua kejadian itu tak lebih dari sebuah bukti seberapa besar kekuatan mereka.
"...entah mengapa aku tak terkejut ini akan terjadi."
Inilah salah satu alasan kenapa dia tak ingin keduanya bertemu secepat ini. Jika bisa dia ingin pergi dari tempat itu secepatnya, tapi itu tak mungkin terjadi.
"Seseorang, apakah ada yang tahu cara menghentikan perang dunia?"
__ADS_1