
Setelah situasi canggung berlalu, Laila menutupi tubuhnya dengan bantal.
"........ini kamarku dan itu ranjangku, jadi terserah aku mau disini atau tidak. Bukankah kau yang seharusnya pergi?"
"....... aku memang akan pergi.."
"..........."
Laila kehabisan kata kata. Dia tak menyangka Kuro mengatakan akan benar benar pergi.
Kuro saat ini terbangun sepenuhnya. Kedua tangannya dijadikan bantal dan menatap langit langit kamar.
Sedangkan Laila, dia tak memandang langsung Kuro dan wajahnya memerah. Dia malu karena tak berani menatap Kuro yang kini mengekspos dadanya yang kurus tapi kekar.
Sulit dipercaya tubuh seperti Kuro mempunyai kekuatan yang luar biasa.
"..maaf."
"? Kenapa minta maaf, bukankah aku yang berniat memenggalmu?"
Kuro masih berkata kasar dan tak berani memandang Laila. Dia sebenarnya paham kenapa Laila minta maaf, tapi bagi Kuro inilah yang harus dilakukan.
Dia tak berani memandang Laila karena dia adalah lelaki normal. Laila yang selalu memakai piyama tipis dan transparan kadang membuat Kuro harus menahan dirinya. Dia sedang masa puber.
Alasan inilah yang membuat Kuro sering menggoda Laila. Dia sebenarnya memperingatkan Laila untuk memakai pakaian normal, tapi sepertinya Laila tak paham maksud Kuro.
Kuro hanya bisa mendesah dalam hati dan sekaligus bersyukur. Tak ada orang lain yang seberuntung dia.
"Itu benar, tapi aku tetap harus minta maaf. ...maaf aku telah membuatmu menjadi orang yang paling kau benci."
Mendengar kata yang tak terduga, Kuro melebarkan matanya dan sedikit terkejut.
"..... atau permintaan maafku belum cukup?"
"............Yui-kah..."
Ya. Hanya satu orang yang dapat memberi tahu Laila tentang dirinya.
Jika seperti itu, semua yang dilakukannya adalah sia sia. ...dan itu adalah hal yang tak bisa dibiarkan.
"Aku meminta Yui memberitahu semua tentangmu. Lagipula dia memberitahuku juga demi kau, jadi jangan marahi dia."
Mendengar itu, Kuro mendesah kecil lalu menatap Laila yang sedang tersipu.
"....aku tidak marah. Dia memang selalu seperti itu. Dia akan melakukan apapun demi diriku."
"Sama seperti dirimu, benarkan?"
Laila menoleh ke arah Kuro.
Pada saat itu, Kuro menyadari kalau Laila tampaknya sudah mengetahui semua tentang dirinya, tidak, Laila hanya tahu alasan kenapa dia bisa melakukan apapun demi orang yang berharga bagi dirinya.
Jika seperti itu, maka dia punya cara agar Laila menjauh darinya.
"Yeah. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menebus kebaikan mereka."
"....kenapa? Kenapa kau bisa berbuat sejauh itu? Jika kau seperti itu terus, kau akan mati dan jika kau mati, bukankah kau tak akan bisa melindungi mereka?"
"Kau benar. Tak ada satupun yang salah dari perkataanmu. Karena itulah aku akan menjadi kuat dan tak akan mati, tapi-.. lupakan saja. Tak ada gunanya membahas ini."
"............."
Meskipun tak mau membahasnya, Laila tahu betul apa yang Kuro maksud. Hal itu karena Laila dan Kuro sama.
Kekuatan. Tanpa kekuatan kau tak bisa melindungi. Tanpa kekuatan kau tak akan bisa menjadi pemenang. Tanpa kekuatan kau akan kalah, dan masih banyak lagi. Itu adalah paradox abadi yang sudah ada sejak dunia diciptakan.
".....aku memaafkanmu, Laila. Tidak, sejak awal kau tak perlu minta maaf. Lagipula aku adalah orang yang memutuskan untuk bertarung dan merebutkanmu. Itulah yang membuat aku menjadi sampah."
"Kau buk-"
"Tak ada bedanya. ...Aku tetaplah sampah, tapi karena kau mempercayaiku, jadi aku tak boleh kalah meskipun tubuhku hancur atau mati sekalipun."
Laila kehabisan kata katanya, tapi setelah beberapa saat, Laila tersenyum kecil.
Dia menyadari memang Kuro akan berbuat seperti itu, karena-
"Kau melakukan semua itu karena mencintaiku, ...benarkan?"
"......Y-ya. Kenapa kau membahas yang sudah jelas?"
Entah mengapa, Kuro tersipu. Wajahnya tiba tiba memerah dan menghindari pandangan Laila.
Inilah kesempatan Laila.
"Dan karena kau mencintaiku, maka kau memilih berpisah denganku karena ingin melindungiku, benarkan?"
"Y-Ya..., tunggu sebentar. Sejauh mana kau tahu?"
"Semuanya."
"............"
Kuro langsung terdiam. Dia terkejut. Awalnya dia mengira kalau Laila hanya tahu tentang masa lalunya dan alasan kenapa dia rela mengorbankan nyawanya demi orang lain.
Tapi jika Laila mengetahui semua alasan kenapa dia mengancam Laila dan memutuskan hubungan mereka, maka sekarang apa yang harus dia lakukan agar Laila menjauh dari dirinya?
"Laila."
"Ya, ada apa?"
"Bukankah kau gadis tidak sensitif?"
"............"
Lalia langsung membeku. Dia tak menyangka Kuro juga berpikiran sama seperti Alva dan Alvi.
Wajah Laila memerah karena marah, dia bahkan bersiap memukul Kuro, tapi ketika mengingat Kuro baru sembuh, maka Laila mengurungkan niatnya.
"Aku bukannya tidak sensitif, tapi tidak peka. Hanya itu saja."
".....bukankah itu sama saja?"
Ya. Itu sama saja. Menyadari itu, wajah Laila merah padam karena malu.
"Baiklah, aku memang tidak sensitif."
Dia mengakui itu. Kuro sedikit terkejut dan terkesan.
__ADS_1
"Tapi setelah kau memutuskan hubungan kita, entah mengapa aku menyadari kalau ada yang tak masuk akal. Itulah alasan kenapa aku tahu bahwa kau memutuskan hubungan kita demi melindungiku."
"..........."
"Kau adalah Witch Reaper. Kau akan mempunyai banyak musuh, aku tahu itu, tapi apa kau lupa kalau ayahku adalah Oaladin yang lebih kuat dan mempunyai banyak musuh daripada kau, Witch Reaper yang hanya membunuh 200 orang? Jangan sombong dulu!"
"Guh.."
Kata kata Laila benar benar menusuk Kuro.
Jika dibandingkan dengan ayah Laila, Witch Reaper hanyalah sebuah semut kecil. Karena itulah sejak dulu Laila sudah sering terancam bahaya seperti hampir diculik, bahkan hampir terbunuh. Tidak, dia sudah hampir mati.
"Jangan samakan aku dengan ayahmu. Aku masih lemah, itulah alasan kenapa ada saatnya aku tak bisa melindungimu."
"Tch. Itu hanya alasanmu saja kan? Kau tahu, aku sudah berencana putus denganmu, tapi kau memutuskanku, jujur saja baru pertama kalinya aku dipermalukan seperti ini."
Dengan nada keras, Laila menunjuk Kuro.
"Eh? Kenapa kau marah?"
Sayangnya, Laila mengabaikan Kuro dan terus mengatakan apa yang ada dipikirannya.
Dia harus melakukan itu. Jika dia tak memberitahu Kuro, maka Kuro tak akan tahu apa yang dirasakan Laila, dan begitupula sebaliknya.
Kesalahan dalam hubungan mereka bukanlah karena hubungan berlandaskan janji, tapi tak pernah ingin tahu apa yang dirasakan masing masing.
Laila sekarang tahu itu.
"Tentu aku marah. Seharusnya aku yang memutuskanmu. Kau pikir siapa dirimu?"
"........."
Kuro hanya terdiam seperti suami yang dimarahi istrinya. Disaat yang sama dia tahu apa yang dirasakan ayah Fila. Wanita itu menyeramkan.
"Lalu setelah kau mengatakan 'aku adalah milikmu dan jika ada yang ingin merebutku, maka kau akan memenggal kepalanya', apa kau tahu, setelah mengatakan itu, mana mungkin aku bisa menikah, dasar."
Jika dipikirkan lagi itu memang benar. Waktu itu Kuro hanya ingin mengatakan apa yang ada dipikirannya tanpa pikir panjang, tapi-
"Memang itulah tujuanku mengatakan itu."
"Ha..."
Laila sekarang tahu mungkin dia akan bernasib sama seperti Otome. Tak punya pacar seumur hidup.
Dia tak mau itu.
Tapi setelah itu, wajah Laila memerah karena jika Kuro mengatakan itu, bukankah Kuro ingin menjadi suami Laila?
Laila menggelengkan kepalanya untuk menjauhkan pikiran aneh itu.
"Tapi jika kau sudah mengetahui sebanyak itu, maka kurasa aku tak perlu menahan diri lagi."
"Eh?"
Laila terkejut saat Kuro tiba tiba memegang erat tangannya. Setelah itu, Kuro menarik Laila ke atas ranjang.
Kuro menyerang Laila. Tidak, dia hanya memeluk Laila dari belakang dalam posisi tertidur.
"Kuro, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"
Laila mencoba meronta, tapi Kuro terus mendekap tubuhnya dengan erat.
(Ternyata dia menggunakan semua tenaganya hanya untuk memelukku?)
Laila mendesah dalam dan tak harus berbuat apa. Dia akhirnya terdiam dan menuruti Kuro. Lagipula mereka pernah tidur bersama, malu sudah terlambat.
"Maaf, tapi setidaknya aku ingin memelukmu .......untuk pertama dan terakhir kalinya..."
"............."
Laila langsung terdiam.
Dia menyadari kalau Kuro ingin mengucapkan kata perpisahan.
"Jadi benar, ...kau akan pergi?"
"Ya. Sejak awal aku tak seharusnya berada di sekolah ini dan menjalani kehidupan normal."
Itulah takdir hidupnya. Kuro hanya bisa hidup di dalam kegelapan dan tak diizinkan untuk hidup di dalam cahaya.
Itulah alasan kenapa dia tak pernah ragu dalam menjalani kehidupan sebagai pembunuh.
"Kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu? Semua orang berhak menjalani hidup normal, bahkan Demon King sekalipun."
"...Ha ha. Mungkin kau benar, tapi kehidupan normal hanya dimiliki oleh orang yang memiliki cahaya di hidupnya. Apa kau tahu bagaimana rasanya saat aku membunuh seseorang?"
"..........."
"Aku tak merasakan apapun. Itulah diriku. Seorang yang kosong."
Laila terdiam sesaat, lalu berkata,
".......Tapi kau bertarung demi orang lain, mencintai orang lain, aku. Apa kau masih berpikir kalau kau kosong?"
"Aku bisa melakukan itu semua karena mereka adalah orang yang mampu mengisi hatiku. Kau juga orang yang mampu mengisi hatiku, tapi karena itulah kita harus berpisah."
Kuro adalah seseorang yang akan memilih satu nyawa daripada 1000 nyawa. Sekarang Laila mengerti kenapa Kuro bisa melakukan itu.
Satu orang yang berharga akan mampu mengisi lubang di hati, tapi 1000 atau bahkan 100.000 orang yang tak dikenal belum tentu mampu mengisi lubang di hati sedikitpun. Mereka hanya orang lain. Tak berwarna dan tak penting.
Tapi karena itupula, saat kehilangan ibu Yui, Kuro akan langsung kembali menjadi kosong.
Saat ini Laila adalah orang yang mengisi hati Kuro, karena itulah dia tak ingin kehilangan Laila.
Meskipun tak bersama, meskipun Laila akan memiliki pengganti dirinya, bagi Kuro itu sudah cukup selama Laila hidup bahagia.
Dan kebahagiaan Laila tak akan pernah terjadi jika terus bersama Kuro. Jadi apa yang harus Kuro lakukan agar Laila menjauhi dirinya?
"Tapi, jika aku mengatakan aku tak ingin berpisah denganmu, apa yang akan kau lakukan?"
".............."
"Bukankah kau adalah orang yang akan melakukan apapun demi orang yang berharga bagimu?"
"............"
"Sekarang aku adalah orang yang berharga bagimu, jadi turuti permintaanku. Jangan pergi! Tetaplah disisiku!"
__ADS_1
"..........."
Kuro hanya terdiam membisu. Tak bersuara bahkan tak bergerak.
Sedangkan Laila tersenyum kecil karena dia akhirnya menemukan jawaban agar Kuro tak pergi. Dia hanya perlu meminta. Jika tak berhasil, dia akan mencegah Kuro dengan paksa.
Kuro yang sekarang sedang tak berdaya, Laila pasti akan mudah mengalahkan Kuro dan mengikatnya agar tak pergi.
Dia mencintai Kuro, jadi dia ingin Kuro tetap disisinya. Hanya itu.
"....Kuro?"
Sedikit merasa aneh dengan Kuro yang tiba tiba terdiam dan tak bergerak, Laila mencoba menoleh ke belakang tepat ke arah Kuro.
Laila melihat Kuro masih belum tertidur, tapi matanya setengah terbuka dan .....kosong. Tak ada cahaya sedikitpun. Bahkan tak bisa dikatakan menyeramkan atau menakutkan. Kosong. Hanya itu.
Kuro seolah olah raga tanpa jiwa.
Hal ini sama seperti saat Kuro melawan Charlmilia, tapi tak ada hawa membunuh atau keinginan bertarung.
(Dia kembali ke dirinya yang lama? Tidak. Saat ini Kuro hanya ....kosong.)
Kuro bagaikan memiliki kepribadian ganda, tapi manakah kepribadian Kuro yang sebenarnya?
Hal itu membuat Laila bingung, tapi dia tahu, keduanya adalah Kuro.
Setiap orang memiliki sisi gelap dan sisi terang. Kuro saat ini berada di sisi gelap dan merasa tak bisa kembali ke sisi terang.
Itulah yang dirasakan Laila, karena itulah dia tak bisa membiarkan Kuro.
"?"
Tapi tatapan kosong Kuro tak berlangsung lama. Cahaya kembali ke matanya.
"Maaf, sepertinya aku tertidur."
"..."
Laila tahu kalau Kuro berbohong untuk tak membuatnya khawatir.
Yui sempat mengatakan kalau tubuh Kuro sudah baik baik saja. Tapi bukan berarti sudah pulih dari luka yang tak terlihat oleh mata.
Mungkin seminggu lagi baru Kuro bisa bergerak secara normal .
"Apa kau lelah? Sebaiknya cepat kembali istirahat."
"Aku akan melakukannya."
"Kita akan lanjutkan lagi pembicaraan hubungan antara kita. Jangan berusaha kabur tanpa pamit seperti dulu, Shiro."
"Ahaha... "
Laila mungkin akan melakukan sesuatu yang tak terpikirkan jika dia melakukan itu. Kuro juga merasa kalau hubungan di antara mereka harus jelas.
Saat itulah mata Kuro merasa mengantuk dan ingin tidur. Tubuhnya meminta kembali beristirahat.
Tapi Kuro sadar. Ini momen di mana 'sesuatu' akan mengambil alih tubuhnya.
"..."
Tanpa tahu apa yang terjadi dengan Kuro, Laila tersenyum dan setelah itu berniat tidur di tempat tidur milik Kuro.
(Jika dia berani kabur, aku akan menggunakan koneksi ayahku dan akan menyeretmu dengan rantai api)
Tak ada yang tahu isi kepala Laila sudah penuh dengan rencana mengerikan.
Dia sudah menyampaikan semuanya, jadi dia merasa begitu lega dan bahagia.
"!?"
Tapi saat ingin merebahkan tubuhnya, Laila merasakan sebuah sosok di belakangnya.
Saat ini Kuro masih tidur, siapa yang berani masuk kamar mereka?
Laila waspada dan bersiap memanggil Scarflare jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Kemudian dia berbalik badan untuk melihat siapa sosok itu.
Laila tak percaya. Ternyata sosok itu Kuro.
"Kuro, kenapa kau kembali bangun? Mungkinkah toilet?"
Itu suatu yang pertama kali muncul di benak Laila saat melihat Kuro bangun, tapi setelah beberapa saat akhirnya dia merasakan sebuah keganjilan.
Ada sesuatu yang berbeda dengan Kuro.
Sesuatu itu adalah warna matanya yang kembali berwarna putih seperti saat duel dengan Charlmilia.
Kenapa Kuro mengaktifkan Eyes of Origin?
Laila tak mengerti, tapi saat melihat langsung mata itu, seolah semua tentang dirinya terungkap. Tak ada yang bisa dia sembunyikan
Tak berapa lama kemudian, Kuro tersenyum. Dia menaruh tangannya di dagu dan mengangguk beberapa kali seperti menemukan sesuatu.
"Aku sekarang mengerti kenapa aku tak pernah bisa lari darimu dan kenapa orang yang sulit jatuh cinta seperti diriku ini langsung jatuh pada gadis berdada kecil sepertimu."
"Jangan bilang kecil. Aku masih dalam pertumbuhan!!!"
Laila dibuat jengkel.
Kuro mengaktifkan Eyes of Origin hanya untuk mengetahui ukuran dada Laila. Ini keterlaluan.
"Kau memang gadis nakal. Sepertinya aku harus memberikan pelajaran."
"!?"
Belum sempat tahu apa yang terjadi, Laila tiba tiba sudah berada di gendongan Kuro seperti tuan putri. Dan setelah itu dia membawa Laila ke tempat tidur yang digunakan Kuro sebelumnya.
Wajah Laila pucat pasi. Dia bisa melihat dengan jelas apa yang dipikirkan Kuro saat ini.
"Kuro, ini bukan saatnya bercanda!! Ini masih terlalu cepat untuk kita."
"Gadis nakal, kau sepertinya tak ingat, tapi tak masalah. Satu hal yang harus kau tahu, bahkan sebelum kau lahir, kau sudah menjadi milikku. Tak perlu memikirkan terlalu awal atau tidak."
Mengabadikan Laila, Kuro menaruh Laila di tempat tidur.
"Kurooooo!!!"
Laila ingin memberontak, tapi anehnya, tubuhnya seolah tak mau melakukan perintahnya.
__ADS_1
Justru apa yang terjadi membuat Laila bingung. Dia memeluk Kuro dan akhirnya menciumnya.
Ciuman itu menjadi sebuah awal dari malam mereka yang panjang.