Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Date, Again


__ADS_3

Keesokan harinya, Kuro akhirnya sudah pulih. Ini lebih cepat daripada yang dia kira.


Tapi ini cukup wajar, selain Yui menggunakan sihir penyembuh secara teratur, dia juga mendapatkan beberapa kali 'perawatan spesial' dari Laila.


Kuro dan Laila akhirnya bisa kembali bersekolah, tapi--


"Ya ampun, aku tak menyangka kau membuatku melakukannya. Lihat akibat perbuatanmu, kita terlambat kan?"


Sambil berlari di lorong, Laila menggerutu kepada Kuro yang berlari di belakangnya sambil membawa Lic di tangan kirinya.


"Apa itu masalah...?"


"Da-dasar mesum!!"


Kuro hanya tersenyum mengabaikan protes Laila.


Tapi di saat itulah Kuro tiba tiba berhenti.


"Ada apa?"


"Tunggu sebentar. Aku merasa kalau energi Ki dalam tubuhku masih sedikit kacau."


Kuro lalu pergi menuju bangku panjang yang berada di Yaman sekolah. Laila mengikuti dan duduk di sampingnya.


Setelah duduk, Kuro memejamkan matanya. Dia mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya secara teratur.


Laila melihat semacam uap keluar dari seluruh tubuh Kuro. Aura itu seperti api kecil yang begitu liat, tapi beberapa saat kemudian uap itu menjadi tenang.


"Begitu rupanya, kau seorang pengguna Ki. Pantas bisa sekuat itu."


Laila akhirnya mengerti rahasia di balik kekuatan Kuro.


Jika dibandingkan penyihir, jumlah pengguna Ki sangatlah langka. Biasanya orang yang bisa menggunakan Ki adalah seorang yang melatih tubuh mereka mencapai batas dan mereka bukanlah berasal dari kaum penyihir.


Ini bukan karena penyihir tak mau menggunakan energi Ki, tapi mereka tak bisa. Energi Ki dan energi sihir bagaikan sebuah sisi positif dan negatif, bisa bersama, tapi sulit disatukan.


"Energi Ki membuatku bisa meningkatkan kekuatan dan batas tubuh mencapai maksimal. Di saat tubuh dalam kondis sempurna aku bisa mengeksekusi Witch Reaper dengan resiko seminim mungkin."


Laila mengangguk tanda mengerti.


Meskipun terdengar sederhana, tapi Laila tahu Witch Reaper adalah teknik yang rumit dan membutuhkan kondisi tertentu.


"Yui juga bisa menggunakan ki, pantas saja tekanan mana-nya meningkat. Yang tak ku mengerti adalah kenapa Yui bisa menggabungkan ki dan mana?"


Laila mulai merasakan suatu yang ganjil, tapi luar biasa. Dia pernah mendengar menggabungkan mana dan ki seharusnya mustahil, karena itulah tak pernah ada yang seperti Yui sebelumnya, tetapi-


"Mengenai itu, Yui sebenarnya sedikit spesial."


"...Spesial?"


"Kau tahu, selain Healer, Yui bisa berkomunikasi dengan binatang dan monster. Tidak, kurasa lebih tepat mengerti bahasa monster dan binatang. Selain itu dia sudah belajar ki dariku sejak kecil. Mungkin hal itu menyebabkan mutasi sehingga membuat Yui bisa menggunakan mana dan ki atau menggabungkannya."


Mendengar itu, Laila kehabisan kata katanya. Dia kagum tapi disaat yang sama dia berkeringat dingin.


"Kurasa lain kali aku tak boleh membuat dia marah."


"Ya. Jika dia marah, hanya aku yang bisa menghentikannya karena dia juga bisa menggunakan Cursed Art."


Wajah Laila pucat pasi dan membiru mendengar fakta mengejutkan lainnya tentang Yui. Tubuh mungilnya sangat menipu.


Tapi Yui bisa sekuat itu mungkin disebabkan oleh Kuro.


Jika Alva dan Alvi bisa meningkatkan kekuatan mereka hanya dengan bersama Kuro selama kurang dari satu minggu, maka kekuatan Yui yang luar biasa tidaklah aneh mengingat Yui sudah bersama Kuro selama bertahun tahun.


"Haaa..."


Kuro menghembuskan nafas panjang, lalu membuka matanya.


"Kurasa aku akan baik baik saja sekarang. Maaf membuatmu khawatir."


"Disaat seperti inilah aku dibutuhkan, benarkan? Sudah kubilang aku akan melindungimu. fu fu."


Laila mengangkat kepalanya dari pundak Kuro, lalu berdiri.


"Ayo cepat ke kelas, kita sudah sangaaa-"


Laila tiba tiba berhenti. Matanya melebar karena terkejut.


"Laila?"


"Ahh... tidak. Bukan apa apa."


Untuk sesaat mata Kuro kembali berwarna putih. Tapi itu langsung kembali menjadi hitam kelam.


Laila ingat kalau satu satunya yang dia belum bahas adalah kenapa Kuro memiliki Eyes of Origin.


Sebuah mata yang seharusnya hanya dimiliki oleh orang 'itu'


Laila hanya bisa menganggap ada yang salah dengan pikirannya. Wajah Kuro sama dengan lelaki yang ada di mimpinya. Mungkin kenyataan dan mimpi mulai bercampur di pikiran Laila.


"Baiklah, ayo kita pergi kencan!"


"Huh?"


Pada saat itu, Laila tak mengerti apa yang ada di pikiran Kuro. Hal ini sama seperti dulu, tiba tiba Kuro mengajak Laila berkencan.


Tapi mengingat mungkin ini kesempatan yang baik untuk bertanya banyak hal mengenai Kuro (mengintrogasi), maka tak ada alasan Laila untuk menolak.


Di kelas 1-2, Otome sedang memberikan pelajaran teori sihir. Seharusnya mereka belajar latihan fisik hari ini, tapi karena pertarungan Kuro dan Charlmilia yang bisa dibilang langka, maka Otome memutuskan untuk mengajar teori.


Ada tiga bangku kosong di ruang kelas. Meja kosong itu milik Charlmilia, Laila dan Kuro. Charlmilia masih belum pulih sepenuhnya, sementara untuk Laila dan Kuro, pasti ada alasan kenapa mereka masih belum masuk.


"........ baiklah, itulah alasan kenapa Charl bisa menciptakan plasma. Bagi pengguna elemen angin, ini pasti sangat berguna, tapi seperti yang kalian tahu, untuk mencapai level seperti Charl, kalian harus berusaha keras."


Serangan Charlmilia merupakan salah satu sihir berlevel tinggi dengan daya hancur yang mengerikan. Untung saja berkat perisai sekolah tak hancur.


Tapi semua orang berpikiran sama, Kuro adalah monster karena sanggup selamat dari serangan semacam itu.


"?"


Otome dikejutkan oleh panggilan masuk, dia sedikit terkejut karena menerima panggilan orang tak dikenal, tapi dia tetap menerima panggilan itu.


Dia memilih tampilan 3D yang menampilkan gambar dan suara. Sekarang ini adalah fitur ponsel yang umum. Otome tak ragu karena jika penting dan rahasia, dia pasti akan dihubungi lewat sihir komunikasi.


Setelah beberapa saat, sebuah wajah orang yang dia kenal terpancar dari layar ponsel Otome. Orang itu adalah Kuro.


Karena 3D, maka semua murid di kelas langsung mengetahui kalau Kuro menghubungi Otome.


"Kuro?"


"(Ahh... aku hanya ingin memberi tahu kalau aku tak masuk hari ini, Otome)"


"Hm? Kenapa? Bukankah kau sudah sehat? Hari ini tak latihan, jadi tak perlu takut. Ibu tak akan menghukummu."


Siapapun pasti takut menghukum monster seperti Kuro.


"(Ya, aku memang sudah baikan.)"


"Lalu?"


"(Aku tak masuk karena ada urusan hari ini.)"


".........."


Mungkin Kuro akan melakukan misi lagi, itulah yang dipikirkan Otome, tapi-


"(Aku akan berkencan.)"


"Huh?"


Otome langsung membeku.

__ADS_1


"Kencan? Kencan dengan siapa?"


Bukankah dia baru putus dengan Laila? Atau dia sudah mendapat pacar baru?


"(Hei Kuro, bolehkah aku tahu kenapa kau tahu nomor Bu guru Otome?)"


Otome sedikit terkejut saat mendengar suara Laila. Laila pasti berada di dekat Kuro saat ini.


Dan dia sedang marah atau lebih tepatnya cemburu seperti kekasih yang mengetahui pacarnya berselingkuh.


"(Hei, kau tak usah terlalu berlebihan. Wajar kan kalau aku tahu nomor guru kita?)"


"(Ya, itu benar juga...)"


"(Ahaha, apa kau cemburu? Kau tak usah khawatir, aku tak tertarik kepada perawan tua.)"


Setelah itu, sambungan terputus.


".........................................."


Otome terdiam dan memutih. Otome bahkan tak bergerak sedikitpun. Dia sedang syok.


Semua murid kelas 1-2 tahu kalau perkataan Kuro adalah kata yang seharusnya tak dikatakan di depan Otome, tapi Kuro mengatakannya dengan blak blakan.


"Knox, apa aku sedang bermimpi?"


Jinn mendekat ke arah Knox. Seperti Otome, semua orang menunjukkan ekspresi terkejut dan syok.


"Tentu tidak karena aku juga bermimpi hal yang sama denganmu."


"Syukurlah. Berarti kau juga berpikiran sama denganku, benarkan?"


"Tak hanya aku, semua orang juga berpikiran sama."


"""""""APA YANG SEBENARNYA TERJADIIIIIII????????""""'""


Semua laki laki berteriak bersamaan membuat seisi kelas menjadi gaduh dalam hitungan detik.


Semua mata murid laki laki berubah merah seperti kerasukan iblis dan berkumpul membentuk lingkaran.


"Baiklah, apa rencana yang bagus untuk membunuh dia?"


"Tidak, kita harus menyiksa dan membuat dia menderita terlebih dahulu? Ku Ku Ku.. "


"Kita bisa pura pura akrab lalu memberinya racun. Tentu racun yang tak langsung membunuh."


"Ide bagus, tapi itu masih kurang."


"Jadi apa yang lebih kejam?"


"Kita harus membuat dia dibenci oleh semua gadis. Itu pasti adalah penderitaan yang paling membuat dia menderita."


Banyak yang mengangguk setuju dengan ide itu.


"Tapi bagaimana?"


"Bodoh, itu mudah. Apa yang membuat gadis membencimu? Kita cukup membuat dia terlihat orang mesum dan semacamnya."


"Aku setuju dengan itu."


"Itu ide yang bagus. Aku sangat setuju."


Mereka semua lalu menunjukkan senyuman yang menakutkan dan berbahaya, tapi mereka tak sadar kalau semua diskusi mereka terdengar oleh para gadis.


Para gadis hanya tersenyum pahit dan hanya bisa melihat dengan tatapan jijik, sementara Otome tak bisa diharapkan karena memojok di sudut ruangan.


"Eh, apa ini?"


"Apa ini?"


Para lelaki terkejut dan bingung saat melihat debu putih menaburi mereka. Mereka dapat merasakan hawa dingin dari setiap butir debu es.


""


"Alvi, terima kasih."


"Un"


"Sekarang ayo kita pergi."


Alvi mengangguk lalu berdiri dan keluar kelas bersama Alva. Tujuan mereka adalah membuntuti Kuro dan Laila.


____________


____


__


"Hei Kuro, aku tahu kau ingin mengajakku berkencan. Dan seharusnya sudah terlambat menanyakan hal ini, tapi aku tetap akan menanyakannya."


"?"


"Kenapa kita berkencan sambil menaiki Laiko?"


Laila saat ini menunggangi naga hitam bersama Kuro yang berada tepat di belakangnya. Ya. Mereka berdua berkeliling sambil menunggangi naga yang menyerang kota 2 minggu yang lalu.


Reaksi saat orang melihat mereka tentu bisa ditebak. Semua lari dan bersembunyi membuat jalanan menjadi sepi.


"Laila, kau tahu? Aku meskipun aku sudah pulih, bukan berarti aku sudah bisa bertarung, bahkan kekuatanku tak ada bedanya dengan orang normal, jadi aku mengajak Laiko untuk berjaga jaga."


Laila paham alasan Kuro, tapi dia tak menyangka kekuatan Kuro akan sampai turun sebanyak itu. Dengan mengajak Laiko, mereka pasti aman.


Tapi-


"Mooouu... Kita tak usah menaiki Laiko hanya untuk berkencan. Cepat kita turun atau aku kembali ke sekolah."


Laila terlihat kesal dan jengkel, tapi Kuro hanya tersenyum kecil.


"Baiklah, lagipula kau hanya ingin berduaan denganku saja kan?"


Wajah Laila memerah padam saat Kuro menyadari keinginannya.


"Te-tentu saja aku ingin berduaan denganmu. Bukankah itu yang dinamakan kencan?"


"Kau ingin melakukannya lagi?"


Laila terkejut dan hampir melompat.


"Dasar bodoh, aku tak berniat sejauh itu. Dasar mesum!"


Bodoh dan mesum. Itulah Kuro.


Kuro hanya tersenyum kecil. Dia lalu mengelus Laiko dan berkata:


"Maaf Laiko, kau boleh pergi mencari makan. Aku sebenarnya berharap kau bisa akrab dengan Laila."


"Guh!"


Laila bagai tertusuk setelah mendengar perkataan Kuro. Dia sadar kalau Laiko masih ingat dengan orang yang berusaha membunuhnya (Laila).


Laila ingat pelajaran beberapa hari yang lalu.


Naga adalah monster yang spesial dan unik. Naga memiliki kecerdasan bahkan bisa mengerti bahasa manusia. Serangan mereka (Dragon Breath/Laser Breath) dikatakan adalah sihir tingkat atas. Karena itulah naga kadang disebut monster yang bisa menggunakan sihir. Karena itu pula, penyihir yang melawan naga harus cukup kuat atau gila.


Dan Kuro adalah salah satu orang tersebut.


Tapi itu normal mengingat Kuro mempunyai kekuatan Accel Art.


Laiko meraung kecil setelah mendengar perkataan Kuro tanda mengerti.


Laila dan Kuro lalu turun dari Laiko, tapi sebelum Laiko pergi, Laila mendekati Laiko dan meminta maaf. Tak hanya itu, Laila bahkan mencium Laiko dekat mulutnya.

__ADS_1


Laila sanggup melakukan itu bukan karena dia sudah tak takut, apalagi taring Laiko yang besar dan banyak, tapi dia harus melakukannya karena itu adalah suatu kewajaran. Yang salah yang meminta maaf.


Setelah dicium Laila, entah mengapa ekspresi Laiko sedikit berubah. Laiko bahkan seperti malu.


Saat melihat itu, Kuro menunjukkan tatapan tak senang dan menyeramkan. Dia cemburu.


Laiko lalu terbang ke atas melewati perisai dan tak terlihat lagi.


"Laila, satu hal yang harus kau tahu, Laiko adalah naga jantan dan masih remaja."


"Huh?"


Laila tak terlalu mengerti, tapi setelah beberapa saat, dia sekarang paham kenapa Laiko bereaksi aneh setelah dia menciumnya.


"Fu fu, apa kau cemburu?"


"..Tidak juga, tapi aku sekarang tahu kau mungkin bisa cepat akrab dengan nagaku yang lain."


Setelah mengatakan itu, Kuro melangkah meninggalkan Laila.


Laila lalu berjalan di samping Kuro dan merangkul tangan kirinya dengan erat. Bahkan sampai menempelkan tangan Kuro ke dadanya.


Kuro sadar dari masa sensasi kenyal dan elastis itu, yang dia lakukan hanya bisa menikmatinya.


Mereka sekarang berjalan menelusuri daerah pertokoan. Jalanan yang sepi mulai ramai karena bahaya sudah pergi.


Tapi Kuro dan Laila langsung menjadi pusat perhatian dan tak ada yang berani mendekati mereka. Ini sangat normal.


"Ne ne... kau bilang kau punya naga yang lain, memangnya kau menaklukan berapa naga?"


Interograsi dimulai.


"Tidak banyak."


"........"


Tak ada yang perlu di khawatirkan Laila. Dia akan banyak bertanya tentang Kuro agar dia tahu dan mengenal lebih dekat calon suaminya.


"...aku hanya menaklukan 469 naga di seluruh dunia." jawabnya dengan nada datar.


"............................Ha?"


Laila membeku dan menunjukkan tatapan tak percaya.


Dia akhirnya menyadari kalau Kuro lebih luar biasa dan berbahaya daripada yang terlihat. Jika mau, Kuro bisa menghancurkan sebuah negara dengan pasukan naga.


Inikah yang dimaksud akan menderita jika bersama Kuro? Tidak, ini baru awal. Interograsi bahkan baru dimulai. Tampaknya Laila harus menyiapkan mental lebih banyak daripada yang dia duga.


"Yahh daripada disebut menaklukan, kurasa lebih tepat berteman dengan mereka semua."


"Huh? Bukankah kau bilang menaklukan?"


"Secara teknis iya. Aku mengalahkan mereka semua seperti Laiko, tapi aku tak mau mereka benar benar patuh kepadaku. Aku menyuruh mereka menganggap ku sebagai sahabat. Saling tolong menolong saat membutuhkan bantuan. Itu saja."


".............."


Laila senang ternyata meskipun mempunyai kekuatan yang luar biasa, dia tak menggunakannya untuk kepentingan pribadi.


Naga monster yang luar biasa. Jika menggunakan mereka dalam pertempuran, Kuro pasti akan menang, tapi Kuro tak pernah mengandalkan naga seperti saat melawan Charl.


Tapi yang lebih membuat Laila senang, Kuro tak menganggap naga adalah monster berbahaya yang harus dimusnahkan seperti kebanyakan orang. Itulah alasan kenapa dia marah saat Laiko diserang oleh Knight.


"Tapi jika ada yang membuatku marah, aku akan langsung menghancurkan mereka."


"Ug!"


Laila langsung menarik kesan sebelumnya, tapi begitulah Kuro. Tatapan Kuro tak menunjukkan dia bercanda.


"Kau ini...  Jangan menghancurkan kesan baikku. Apa kau tak ingin aku memujimu?"


"Tapi itulah kenyataannya. Aku tak ingin berusaha menjadi pahlawan yang membela kebenaran. Aku akan melindungi apa yang berharga bagiku. Itu saja. ......Dan itulah satu satunya alasan aku hidup."


"............."


Laila terdiam sesaat, tapi setelah itu tersenyum.


"Ya. Kau memang seperti itu, tapi kau sudah kuat, kenapa harus menaklukan naga sebanyak itu?"


"Hmmmm.... aku tak sengaja menaklukan sebanyak itu."


"Huh? Hey, jangan bercanda!"


"Aku sudah menaklukan naga saat berusia 6 tahun. Aku bahkan sudah menaklukan semua naga di hutan Rukia. Saat berkeliling dunia, aku menaklukan semua naga yang ada di daerah yang ku lewati. Karena itulah aku tak sadar kalau jumlah naga yang  kutakhlukan 400an lebih."


"Aku tak tahu harus berkomentar apa.."


Laila mendesah kecil. Dia kagum, tapi dia lebih terkejut saat mengetahui semuanya hanya karena..... iseng?


"Kau tahu, meskipun naga di seluruh dunia memiliki jenis yang sama, namun kekuatan naga akan berbeda dengan daerah lain. Salah satu yang menarik adalah Frera. Dia adalah naga berjenis Water Dragon Class, tapi karena dia hidup di Atlantia yang merupakan daerah es, Frera berevolusi menjadi naga es yang mampu mengeluarkan Crystal Breath."


".... itu luar biasa, tapi kau lebih luar biasa karena mampu selamat dari serangan semacam itu."


"Kau salah. Aku kalah lebih dari 10 kali."


Seberapa kuat naga yang bernama Frera? Laila penasaran, tapi ada yang membuat Laila lebih penasaran.


"Eh, tapi bukankah kalau kalah kau akan.."


Jika kalah, naga akan tanpa ragu memangsa orang yang menantangnya, tapi kenapa Kuro masih hidup? Bahkan setelah menantang 10 kali.


"Frera sedikit spesial. Mungkin dia ingin tahu apa aku menyerah atau terus berusaha, tapi jika aku menyerah, tentu saja dia akan langsung memakanku. Lagipula Frera adalah naga yang terlalu kuat untuk jenisnya, jadi aku berpikir mungkin naga itu menunggu orang yang menaklukkannya."


"......dan orang itu adalah kau?"


"Entahlah. Aku tak tahu, tapi aku tetap mengalahkannya."


Satu hal yang Laila pikirkan setelah mendengar cerita itu adalah...


"Aku sudah lama memikirkannya, Kuro mungkinkah kau ini sebenarnya Masokis?"


"Huh?!"


Kuro langsung berhenti berjalan dan memandang Laila dengan tatapan tak percaya.


Kuro lalu tersenyum tipis dan menyentil jidat Laila.


"Ouuchh.. Hey... itu sakit."


Laila memegangi jidatnya yang memerah.


Kuro melanjutkan berjalan dan meninggalkan Laila.


"Kuroo..."


Laila menyusul dan merangkul lengan Kuro lagi.


"Maaf..."


"Aha ha, aku tak terlalu memikirkannya karena sering dipanggil seperti itu, tapi jika kau bertanya kenapa aku terus bertarung meskipun tubuhku penuh luka, ..maka jawabannya adalah.."


"......."


"...aku benci dengan kekalahan.."


"......................................"


Laila terdiam setelah mendengar itu.


Laila tak berpikir apa yang dikatakan Kuro salah. Jika kalah, itu berarti Kuro gagal melindungi. Dan Kuro adalah orang yang lebih baik mati daripada gagal melindungi.


"Laila, kita akan berkencan, tapi akan kemana kita?"

__ADS_1


"Huh


__ADS_2