
Hans menatap wajah istrinya sampai berapa menit kedepan, tanpa berkedip. Entah perasaan apa yang ada didalam hatinya, seakan-akan saat menatap wajah Meera yang sedang tertidur pulas membuatnya ingin selalu menatapnya.
Cuman, setelah tersadar Hans langsung menangkis semua pikiran yang ada didalam isi kepalanya. Kemudian merebahkan tubuhnya, lantaran mata sudah mulai mengantuk. Apa lagi pagi-pagi Hans harus ada meeting penting dengan salah satu kolega pentingnya.
...*...
...*...
Pagi hari, tepatnya pukul setengah 6. Meera terbangun lebih dulu dan sedikit terkejut, ketika dia baru membuka kedua matanya dan langsung disuguhkan oleh pemandangan wajah tampan suaminya tepat di depannya.
Meera sedikit tersenyum, lalu bangkit dari ranjang untuk pergi ke kamarnya. Tetapi tidak lupa sebelum dia keluar kamar, Meera menyiapkan pakaian kerja suaminya lebih dulu. Lalu menaruhnya diatas sofa panjang.
Setelah selesai dia keluar dari kamar Hans menuju kamarnya. Kurang lebih 1 jam lamanya, Meera sudah siap dengan penampilan barunya. Kemudian dia keluar dari kamarnya menuju dapur.
"Pagi, Bi Neng. Maaf ya Meera bangunnya kesiangan." sapa Meera saat melihat Bi Neng, sedang memasak nasi goreng.
"Loh, Non. Kenapa masih pagi sudah bangun? Ini kan hari yang panjang untuk Non Meera sama Den Hans. Jadi lebih baik Non Meera temani Den Hans saja, nanti jika sarapan sudah jadi Bibi akan memanggilnya." ucap Bi Neng, sambil tersenyum.
Neneng Markoneng adalah asisten rumah tangga yang sudah lama, bekerja di rumah keluarga Ivander dengan usia 50 tahun.
Bi Neng bekerja lebih dulu dari pada Jaka dan juga Atun, bahkan Bi Neng yang telah merawat Hans serta Bram semenjak Mommynya meninggal akibat penyakit yang di deritanya.
__ADS_1
"Tidak usah, Bi. Ini saja Meera kesiangan bangunnya, aturan kan Bi Neng tahu jika Meera biasa membuatkan mereka sarapan. Tapi, kali ini malah Bibi yang repot-repot membuatkannya." jawab Meera, tidak enak.
"Ini sudah tugas Bibi, Non. Jadi jangan berbicara seperti itu, meskipun Bibi sudah tua tetapi daya ingat Bibi masih aman kok. Jadi garam dan gula tidak akan pernah tertukar heheh ...." canda Bi Neng, sambil mengaduk nasi gorengnya.
"Astaga, Bibi. Kenapa berbicara seperti itu, kan Meera jadi malu." Meera menutup wajahnya, ketika dia mengingat saat-saat bersama mendingan suaminya.
"Hehe, bercanda ya Non. Maklum saja, dulu kan usia Non masih sangat muda ketika menikah dengan Tuan. Jadi itu hal yang wajar, Bibi pun pernah Non seperti itu."
"Cuman apa yang Non alami itu masih dalam batas wajar, karena sebagian orang banyak yang masih belum bisa membedakan antara gula dan garam."
"Berbeda saat jaman Bibi. Dimana pada saat itu Bibi belum paham cara menggoreng ikan atau ayam dengan baik. Pertama Bibi percaya diri karena cuman disuruh menggoreng saja, bukan untuk memasak."
"Bibi kira kan kalau apinya kecil akan lama matangnya, jadi Bibi inisiatif memfullkan api kompornya. Eh, hal hasil ayam yang Bibi goreng langsung terbang kemana-mana hehe ...."
Meera yang mendengar cerita masa muda Bi Neng hanya bisa tertawa, membayangkan betapa lucunya Bi Neng pada saat itu harus menghadapi ayam terbang tanpa sayap.
"Sama halnya Non, dengan ikan. Padahal Bibi sudah diingatkan untuk menggoreng ikan dengan api kecil dan posisi kepala ikan harus saling berlawanan agar tidak berantem saat digoreng."
"Namun, Bibi enggak percaya dong. Masa iya sih ikan mati terus di goreng dalam posisi kepala saling berhadapan, bisa membuat ikan menjadi berantem didalam penggorengan. Kan enggak masuk akal, Non."
"Akhirnya Bibi coba dong, karena penasaran kan. Eh, nyatanya benar Non. Ikan itu malah pada berantem di dalam wajan, saking paniknya Bibi langsung mengganti posisi kepala mereka agar saling berlawanan. Eh benar, akhirnya mereka jadi akur dong. Haha ...."
__ADS_1
Kisah Bi Neng di masa mudanya, berhasil membuat Meera tertawa lepas sambil duduk di salah satu kursi yang ada di meja dapur.
Bi Neng pun ikut terkekeh, ketika mengingat masa-masa yang tidak bisa dia lupakan. Karena itu merupakan kenangan yang tidak akan pernah dia lupakan.
Disela tawa mereka, seseorang masuk ke dapur dalam keadaan wajah tersenyum miring. Kemudian orang itu berjalan perlahan, dan menyapa Bi Neng dan juga Meera.
"Pagi Bi Neng, Non Meera. Maaf saya terlambat, soalnya habis pulang dari pasar. Ini Bi, belanjaan yang Bibi minta. Coba di cek dulu, takut ada yang tertinggal." ucap Atun, pembantu rumah tangga.
"Ohya, Tun. Makasih ya, ya sudah nanti saya cek semuanya." ucap Bi Neng, sambil menempati nasi goreng ke dalam mangkuk besar.
"Sudah Bi, biar saya saja yang menggoreng telurnya, Bi Atun bisa mengerjakan pekerjaan lainnya aja." ucap Meera sambil mengambil alih telur ditangannya
"Baik, Non. Saya permisi mau mencuci pakaian dulu, mumpung cuacanya lagi panas." sahut Bi Atun tersenyum, lalu dia melangkahkan kakinya pergi dari dapur.
"Enaknya jadi mereka, cuman bisanya nyuruh ini, nyuruh itu, nyuruh ono. Cihh, lihat aja kalian. Satu persatu akan gua balas, terutama dia!"
"Coba aja kalau tujuan gua udah tercapai semuanya, pasti gua bakalan pergi dari rumah ini. Dan hidup tenang bersama Jaka!"
Gumam batin Atun, sambil berjalan kearah belakang. Dimana dia harus menyelesaikan tugasnya cuman demi tercapainya sebuah impian yang belum terlaksana.
...***Bersambung****...
__ADS_1