Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Membawa Meera Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Tanpa menghiraukan kicauan suara Keke, Bram tetap mencoba untuk menggendong Meera dan membawanya pergi. Semua itu berkat pertolongan dari para pengunjung yang ada disana, mereka berbondong-bondong membantu Bram untuk menjauhi Keke.


Selepas perginya Bram dan Meera, Keke langsung mengamuk tanpa henti membuat Caffe menjadi berantakan. Semua pengunjung menganggap Keke seperti orang yang sangat setres, gila maupun wanita tak berperasaan. Semua itu bisa mereka lihat, dari cara Keke yang tadi terus menghalangi Meera.


Suasana di dalam Caffe mulai tidak kondusif, sehingga pelayan di Caffe memanggil security untuk mengamani serta membawa Keke pergi keluar dari Caffe. Supaya dia tidak lagi mengacaukan isi Caffe, karena itu akan semakin membuat Caffe menjadi rugi.


...*...


...*...


Bram membawa Meera ke dalam mobilnya menuju rumah sakit terdekat, tak lupa dia meminta supir Meera untuk pulang ke rumah. Kemudian Bram menitipkan kabar tentang Meera pada orang rumah, mellui sang supir jika Meera sudah berhasil di temukan olehnya.


Di sela perjalanan, tanpa di sengaja Hans bertemu dengan mobil Bram. Dia langsung membunyikan klaksonnya yang membuat Bram membuka kaca mobilnya.


"Ba ... Me-meera? Ada apa dengan istriku, Bram? Katakan!" teriak Hans dari dalam mobil, saat melihat Meera seperti kesakitan duduk di kursi depan sambing adiknya.


Bram sedikit menoleh dan kembali fokus pada laju mobilnya, karena bila Bram menghentikan mobilnya itu hanya akan membuang waktu dan bisa membahayakan nyawa Meera serta anaknya. Jadi mau tidak mau, Bram cuman bisa memberikan isyarat pada Hans.


"Ceritanya panjang, aku harus segera membawa istrimu ke rumah sakit. Jadi bantu aku bukakan jalan, agar istri dan anakmu bisa segera di tangani oleh dokter!" teriak Bram, wajahnya terlihat begitu panik ketika mendengar Meera terus menangis dan meringis.


Tanpa banyak obrolan lagi, Hans langsung melajukan mobilnya di depan mobil Bram. Mobil mereka saling beriringan tak lupa untuk menyalakan lampu darurat mobilnya.


Banyak pengguna jalan yang memberikan jalan pada mobil Hans dan Bram yang sedang membawa Meera, cuman ada pula yang tidak mau mengalah. Sehingga Hans harus turun tangan untuk sedikit memberikan peringatan pada orang tersebut.

__ADS_1


Sampai akhirnya mereka semua sampai di rumah sakit yang cukup besar, lalu Hans turun memanggil perawat untuk membawakan bangkar. Setelah itu Hans, menggendong Meera dan meletakannya sangat hati-hati di atas bangkar.


Kemudian bangkar tersebut berjalan cepat akibat dorongan dari mereka semua untuk membawa Meera ke ruangan UGD.


Setibanya disana, Hans di hadang oleh beberapa suster untuk tidak masuk ke dalam ruangan. Lantaran suster itu tidak mau sampai kehadiran Hans malah memecahkan konsentrasi sang dokter yang akan memeriksa keadaannya.


"Tunggu, Tuan! Saya harap Tuan bisa kerja sama, kalaupun ada kabar mengenai istri Tuan, kami pasti akan segera memberitahukannya. Jadi, saya mohon Tuan keluar dulu dari sini. Jika tidak, maka dokter tidak akan menangani istri Tuan!"


Suster itu berusah untuk menahan serta mendorong Hans agar tidak sampai masuk ke dalam, sebab ruangan ini khusus untuk para perawat dan dokter saja yang boleh masuk. Bila tidak ada izin, maka keluarga pasien tidak ada yang boleh masuk.


"Tidak, Sus. Saya mau menemani istri saya di dalam, kasian dia, Sus. Saya mohon, saya mohon!" sahut Hans. Dia terus memohon hingga membuat Bram langsung turun tangan, membantu sang suster agar bisa menutup pintu ruangannya.


"Tenang, Kak. Serahkan semuanya pada dokter, kau tidak boleh egois seperti ini. Biarkan mereka bekerja sesuai dengan pekerjaannya. Jangan sampai kau menghambatnya, itu sangat berbahaya untuk nyawa anak serta istrimu di dalam. Mengerti!"


Sang suster buru-buru menutup pintu dan menguncinya, saat melihat celah. Sementara Hans dia menangis mengkhawatirkan tentang kondisi anak serta istrinya.


Beberapa kali Hans menyalahkan dirinya atas semua kecerobohannya, lantaran Hans tidak pernah menceritakan tentang masa lalunya pada Meera. Sampai Meera harus menjadi salah paham, lalu berakibat fatal bagi nyawanya dan juga anaknya. .


"Aarrgh, dasar Hans bo*doh! Kenapa sih, kenapa bukan dari kemarin-kemarin aja kau jujur tentang masa lalumu. Padahal Meera selalu jujur tentang hiduonya, terus bila sudah begini bagaimana? Semuanya malah jadi kacau, 'kan!"


Hans berteriak di dekat pintu UGD sambil menyandar dinding dan mencekram kuat rambutnya. Perlahan tubuhnha mulai merosot hingga terduduk di lantai, dalam keadan kedua kaki di tekuk sedada dan matanya sangat merah.


Terlihat sekali wajah frustasi Hans, saat dia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menghadapin semua ini. Hans sangat takut bila harus kehilangan salah satu dari mereka. Hans tidak mau, dan Hans juga tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri bila semua itu benar-benar terjadi.

__ADS_1


Bram yang melihat sang Kakak begitu lemah di hadapannya membuat dia sangat-sangat terkejut. Selama ini ketika mereka ada masalah, Hans tidak pernah serapuh ini. Cuma kali ini berbeda, terlihat jelas dari sorotan matanya kalau Hans tidak mau sampai anak serta istrinya kenapa-kenapa.


Perlahan Bram berjongkok sambil menepuk-nepuk pundak Hans beberapa kali. Lalu mata mereka saling menatap satu sama lain. Kini pecahlah tangisan Hans ketika dia berhambur memeluk sang adik.


Inilah sifat mereka yang sebenarnya, disaat salah satunya sedang rapuh maka satunya akan selalu menguatkannya. Bukan seperti beberapa saat lalu, dimana mereka malah saling menjauh akibat hatinya di selimuti oleh kebencian.


"Hiks, a-aku gagal Bram, aku gagal! Aku udah membuat Meera kecewa, aku yakin pasti saat ini dia sangat sakit hati padaku sebab aku tidak mau jujur padanya. Aku bingung, Bram. Aku bingung, hiks ...."


"Bagaimana jika nanti mereka meninggalkanku? Bagaimana! Po-pokoknya aku tidak mau sampai itu terjadi. Aku tidak mau!"


Hans menangis dihiasi oleh suara rengekan yang terasa begitu menggentarkan hati Bram. Dia sendiri juga bingung harus seperti apa, karena disini Hans pun juga salah. Dia tidak berani jujur mengenai masa lalunya, sampai akhirnya semua itu terbongkar dengan sendirinya.


"Tenang, Kak. Aku yakin mereka baik-baik saja, apa Kakak lupa kalau Meera itu wanita yang kuat. Pasti dia dan anaknya akan terus bertahan, jadi Kakak tidak usah khawatir. Lebih baik kita doakan anak serta istrimu, supaya tidak ada hal buruk yang terjadi pada mereka. Aamin ...."


Bram terus menguatkan sang Kakak, walaupun hatinya sangat mengkhawatirkan tentang kondisi Meera di dalam. Susah payah Bram terus membujuk Hans, agar dia mau duduk di tempat yang seharusnya.


Disaat Hans sudah mau duduk di sana sambil terus menatap kearah pintu, tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya. Tiba-tiba Bram mendapatkan panggilan telepon dari istrinya yang sudah sangat mencemaskan keadaan Meera.


Bram sedikit menjauh dari Hans, agar tidak membuat Hans kembali merasakan rasa bersalah. Semua itu karena Bram belum menceritakan apa penyebab Meera menjadi seperti ini.


Bram hanya menceritakan semuanya pada istrinya dengan suara kecil, membuat Alice benar-benar syok. Dia tidak menyangka bahwa ternyata Hans memiliki masa lalu yang cukup menyakitkan. Itu sebabnya Hans tidak mau menceritakan tentang cinta pertamanya pada siapapun, bagi Hans cinta pertamanya adalah Meera.


Setelah beberapa menit, pintu ruangan UGD pun terbuka membuat Bram segera mematikan sambungan teleponnya. Lalu, Hans pun langsung berlari mendekati dokter tersebut untuk menanyakan bagaimana kondisi istri serta anaknya saat ini.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2