Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Nenek Alice Tertidur Selamanya


__ADS_3

"Cu-cucuku yang ca-cantik, baik dan ju-juga ceria. Ne-nenek minta kamu harus tetap tersenyum dan ba-bahagia bersama suamimu kelak. Ja-jaga ci-cicitku yang ada di-dalam pe-perutmu itu, be-berikan di-dia kasih sayang yang melimpah, a-agar dia ti-tidak merasakan kekurangan sepertimu dulu."


"Po-pokoknya apapun yang terjadi, Ne-nenek akan selalu mendukung kalian. Ne-nenek doakan agar ka-kalian bisa hidup bahagia bersama-sama, ta-tanpa adanya pengganggu."


"Da-dan Ne-nenek sudah merestui hubungan ka-kalian, u-untuk itu a-aku ti-titip cucu ke-kesayanganku ini. Ja-jangan biarkan dia kembali menangis, a-atau a-aku akan menagih semua ucapanmu itu. Paham!"


Bram menganggukkan kepalanya, tak terasa air matanya mengucur bersamaan dengan Alice yang juga sudah menangis deras.


Sampai akhirnya 1 permintaan Neneknya membuat Alice terdiam sejanak, kemudian dia melakukan apa yang diminta oleh sang Nenek, meskipun hatinya terasa begitu menyakitkan.


"Ne-nenek ka-kangen sama A-alice, bo-bolehkah Ne-nenek minta peluk!? Se-sekali saja, janjinti-tidak minta lagi. Ne-nenek hanya mau merasakan pe-pelukan yang sudah la-lama Ne-nenek rindukan." pintanya, napasnya semakin terdengar begitu terbata-bata.


Awalnya Alice tidak mau karena dia sudah memiliki pirasat buruk mengenai permintaan sang Nenek. Akan tetapi dia juga tidak mau, jika Neneknya merasa bersedih kalau Alice tidak mau menuruti permintaannya.


Perlahan Alice menatap Bram, kemudian dia memeluk sang Nenek dengan begitu erat. Dimana isak tangis yang sedang berusaha kuat Alice tahan, seketika runtuh di dalam pelukan Neneknya.


Selang beberapa detik, sang Nenek menutup matanya perlahan dalam kondisi tersenyum. Bersamaan dengan itu mesin yang awalnya berbunyi stabil, kini berubah menjadi bunyi lengkingan yang sangat nyaring.


Mendengar suara itu berhasil membuat jantung Alice hampir ikut terhenti, saat matanya melirik ke arah monitor pendeteksi detak jantung milik Neneknya.


Monitor yang harusnya memunculkan garis bergelombang atau naik turun, kini telah berubah menjadi sangat datar dan juga lurus.


Artinya sang Nenek yang hampir kurang lebih 1 tahun lamanya tertidur, sekalinya terbangun maka dia harus kembali menutup matanya untuk selamanya.


Seakan bangunnya sang Nenek hanya ingin menyampaikan sebuah pesan dan juga keinginan terakhirnya. Lantaran dia mau tertidur selamanya di dalam pelukan cucu kesayangannya, sebagai pengantarnya untuk bertemu dengan ajalnya.


Tangis Alice pecah, dia memeluk sang Nenek begitu erat sehingga sedikit menggoyang-goyangkan tubuhnya yang sudah terbujur kaku.


Bram melihat itu langsung mengambil alih Alice, membawanya ke dalam pelukan hangat. Bram tahu saat ini Alice pasti sangat terpukul, tetapi dia juga tidak akan pernah membiarkan Alice merasakan kesedihannya sendiri.

__ADS_1


"Hiks, Nenek kenapa ninggalin Alice, Nek. Kenapa! Apa salah Alice sama Nenek, sampai-sampai Nenek ninggalin Alice sendirian. Alice sudah berjuang keras demi kesembuhan Nenek dengan cara apapun, tetapi Nenek malah meninggalkan Alice seperti ini!"


"Alice kecewa sama Nenek, Alice marah sama Nenek! Pokoknya Alice enggak terima Nenek pergi sekarang, titik! Alice mau Nenek bangun lagi, karena bentar lagi Alice akan menikah dan kita bisa pergi berobat, Nek. Please, bangun Nek bangun!"


"Sudah lama Alice tidak melihat Nenek bangun, sekalinya Nenek bangun Nenek hanya berpamitan kepada Alice. Tahu gitu Alice tidak mau memeluk Nenek supaya Nenek tidak pergi secepat ini, pokoknya Alice mau Nenek kembali. Agghh, hiks ...."


Tubuh Alice melemah dan hampir terjatuh, ketika dia menangis meraung-raung saat semua alat yang ada di tubuh sang Nenek telah di lepas oleh sang suster.


Semua itu atas izin dari sang dokter yang sudah memeriksanya, lalu mengatakan bahwa sang Nenek memang sudah tiada beberapa detik lalu.


Tak lama Alice pun pingsan membuat Bram segera menggendong dan menaruhnya di atas soda panjang, kemudian sang dokter segera memeriksanya.


Namun, sayangnya karena dokter itu bukan dokter kandungan jadi suster tersebut langsung di minta untuk memanggilkan dokter agar bisa mengecek kondisi Alice.


Meera dan Hans yang dari tadi hanya menunggu di luar dalam keadaan cemas dan gelisah, bergegas masuk ke dalam ruangan saat mendengar kabar bahwa Alice jatuh pingsan.


...*...


...*...


Sementara Bram dan Hans mereka sibuk mengurus semuanya agar mendiang Neneknya Alice bisa segera di makamkan.


Selang beberapa jam, semua urusan pemakaman pun telah selesai. Kini, saatnya Alice melihat bagaimana Neneknya akan di kubur di dalam tanah bersama peti besar.


Alice yang tidak kuat melihatnya memalingkan wajahnya di dalam pelukan Meera, meski sesekali dia melihat tanah merah itu perlahan mulai menutupi peti. Hingga pada akhirnya lubang besar itu, sekarang telah menjadi sebuah gundukan tanah dan di berikan papan salib dikepalanya.


Melihat Neneknya sudah ditelan tanah, lagi-lagi Alice memeluk papan tersebut, lalu menangis cukup kuat.


Bram yang tidak kuat melihat Alice bergegas mencoba memberikan pengertian padanya, walaupun dia sendiri juga ketika kehilangan kedua orang tuanya hampir sama kurang lebih seperti Alice saat ini. Akan tetapi, Bram tidak mau melihat orang yang dia cintai merasakn sendirian.

__ADS_1


Begitu juga Hans yang selalu mendampingi istrinya sambil memeluknya.


Selesai pemakaman, mereka pun kembali pulang ke rumah. Dimana saat Alice mau memasuki mobil, tiba-tiba dia menoleh dan menatap lurus ke arah depan.


Mata Alice melihat seorang wanita paruh baya berada ditengah-tengah pasangan suami istri sambil tersenyum.


"Hai, cucuku. Ini Nenek, Sayang. Dan lihatlah, sekarang Nenek sudah tidak sakit lagi loh, bahkan Nenek juga sudah bertemu dengan kedua orang tuamu. Jadi Nenek mau, kamu jangan sedih lagi ya. Nenek akan tetap selalu ada di dalam hati kecilmu, karena Nenek tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi."


Sang Nenek tersenyum lebar dihiasi oleh cahaya putih yang mengeliling mereka, sehingga tubuh mereka sama sekali begitu samar di dalam pengelihatan Alice.


"Hai, Sayang. Ini Ibu, apa kamu masih ingat? Selama ini Ibu selalu ada di sampingmu, menjagamu dan juga melindungimu."


"Cuman, maaf jika Ibu tidak bisa membantumu ketika kamu berada di dalam keadaan terpuruk. Namun, Ibu bangga sama kamu, karena kamu adalah anak Ibu yang paling hebat. Terima kasih, Sayang. Kamu sudah menjaga Nenekmu dengan baik."


Sang Ibu pun ikut tersenyum menatap Alice yang saat ini menatap mereka dari jarak kurang lebih 5 meter. Dimana air mata Alice kembali runtuh, rasa rindu yang dia pendam selama ini perlahan mulai terobati.


"Hai, peri kecil Ayah. Apa kabar, cantik? Sebentar lagi Alice akan menikah ya, Ayah cuman mau bilang selamat, Sayang. Semoga pernikahan kalian bisa langgeng sampai akhir hayat, Ayah hanya pesen jangan terus berlarut atas kesedihanmu itu. Kasihan cucuku, nanti dia bisa kesakitan. Nah, ketika cucuku sakit, apakah kami harus menjemputnya?"


Perkataan sang Ayah berhasil membuat Alice menggelengkan kepalanya cepat, sambil meneteskan air matanya. Dengan refleks, Alice langsung memegangi perutnya sendiri.


Seakan-akan dia tidak mau kembali merasakan kehilangan. Sudah cukup dia hidup sebatang kara tanpa keluarga, jadi dia tidak mau sampai anaknya menjadi korban kesedihannya sendiri.


"Tidak! Kalian tidak boleh membawa anakku, cukup kalian bawa Nenek pergi dariku. Tetapi, tidak dengan anakku. Karena dia harta satu-satunya yang aku punya saat ini, aku akan selalu menjaga anakku sampai dia lahir dengan sempurna dan tumbuh menjadi anak yang hebat, sehat, kuat serta cerdas."


Alice berteriak sekeras mungkin membuat Bram dan yang lainnya terdiam langsung menoleh ke segala arah ketika melihat tidak ada siapa-siapa.


Meera segera menyarani agar Bram segera membawa Alice masuk ke dalam mobil, dikarenakan Meera takut jika ada sesuatu hal buruk terjadi pada Alice yang sudah dianggap sebagai adiknya itu.


Bram segera membawa Alice masuk dan duduk di kursi belakang, sementara Hans dan Meera duduk di depan. Tanpa menunggu lama Hans langsung menancap gas mobilnya meninggalkan pemakaman tersebut.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2