Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Perkembangan Meera & Anaknya


__ADS_3

Saat sang dokter ingin kembali masuk ke dalam ruangan untuk mengurus semuanya, langkahnya segera di hentikan oleh Hans dengan suara lantangnya.


"Pindahkan istriku ke ruangan VVIP, berikan perawatan yang sangat terbaik di sini. Dan satukan ruangannya dengan anakku, mengerti!"


"Ta-tapi, Tu--"


"Tidak ada tapi-tapian. Cepat lakukan, atau aku akan membuat rumah sakit ini menjadi bangunan kosong!"


Degh!


Ancaman Hans langsung berhasil menampar hati sang dokter begitu keras, dia hanya bisa mengangguk dalam kondisi tubuh bergetar. Kemudian langsung masuk ke dalam ruangan, dimana tubuh Hans kembali terjatuh di lantai meratapi kondisi istrinya.


...*...


...*...


Sudah 1 Minggu berjalan, keadaan Meera masih tetap sama. Dia masih tertidir pulas tanpa sedikitpun memberikan respon yang lebih, untuk menunjukkan perkembangannya.


Berbeda sama anaknya yang sekarang masih di dalam inkubator tepat di sebelah Meera. Semakin hari anak Meera dan Hans semakin menunjukkan kemajuannya. Terlihat dari hasil perkembangannya yang sudah mulai membaik.


Saat ini Hans baru saja kembali dari kantin setelah dia mengisi perutnya di pagi hari. Hans sengaja mengisi perut sangat pagi supaya ketika nanti saat dokter datang, Hans sudah tidak lagi memikirkan perutnya.


Sebab dia akan fokus untuk mengurusi istrinya, dari mulai membersihkan tubuhnya dan juga merawatnya. Benar-benar terlihat seperti suster yang siap siaga menjaga pasiennya selama 24 jam.


Benar saja, tidak lama dari Hans datang sang dokter pun datang. Dia meminta izin untuk mengecek keadaan Meera dan juga anaknya, agar bisa mengetahui ada perkembangan apa lagi di setiap harinya.


Kurang lebih 15 menit, akhirnya sang dokter telah selesai mengecek semua keadaan Meera dan juga anaknya.

__ADS_1


Senyuman sang dokter membuat hati Hans langsung bergejolak. Bukan berarti Hans menyukainya, melainkan dia sangat gugup mendengar setiap hari hasil laporan yang akan di sampaikan.


"Bagaimana, Dok?" tanya Hans, dipenuhi keseriusan.


"Bila kita berbicara mengenai kondisi Nyonya Meera, maka jawabannya masih tetap sama. Dia belum memberikan respon yang lebih, untuk menunjukkan kalau dia bisa kembali tersadar dari komanya." jawabnya, dengan suara yang terdengar sangat sedih.


"Terus apa yang harus kita lakukan agar istri saya cepat sadar dari tidurnya yang cukup panjang ini?" tanya Hans, kembali.


"Untuk saat ini kita hanya bisa mengandalkan semua alat itu saja, supaya kita selalu bisa melihat perkembangan organ dalam Nyonya Meera. Dan jangan lupa untuk selalu berdoa, serta saya mohon untuk sering-sering mengajaknya berbicara."


"Semua itu akan membantunya untuk cepat tersadae, karena orang yang koma hanya tidak bisa bangun dan membuka matanya. Akan tetapi, dia bisa mendengar serta merasakan sangat jelas apa yang akan kita sampaikan."


"Dengan begitu, Nyonya Meera akan tahu siapa saja orang yang masih mengharapkannya kembali dan juga sebesar apa rasa cinta yang kalian berikan untuknya. Bila itu sangat besar, maka sudah bisa di pastikan kalau Nyonya Meera akan kembali."


"Namun, bila tidak ada ataupun cuek. Nyonya Meera pasti akan memilih untuk tetap seperti ini, dia malah akan semakin nyaman dengan keadaannya yang sekarang."


Semua penjelasan yang dokter katakan benar-benar membuat Hans bingung, tidak ada cara lain untuk membangunkan Meera selain doa dan juga kesabaran. Sebab, apa yang dialami saat ini merupakan sebuah takdir bukanlah penyakit.


"Siap, Tuan. Tanpa Tuan minta kami akan memberikan pelayanan terbaik, yang terpenting keadaan Nyonya Meera saat ini masih stabil itu yang kami inginkan. Bila keadaannya naik-turun itulah yang bahaya." jelasnya, yang hanya mendapatkan anggukan kepada dari Hans sambil menatap istrinya.


Beberapa detik Hans menatap wajah istrinya, kemudian kembali menatap sang dokter dengan wajah datar.


"Terus, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Hans, melirik ke arah anaknya yang masih ada di dalam inkubator.


"Untuk anak Tuan, puji Tuhan. Dia sudah membaik, hari ini pun dia sudah bisa di keluarkan dari inkubator seperti anak lainnya." ucap sang dokter tersenyum melihat bayi mungil tersebut.


"Syukurlah, tapi tunggu dulu. Dokter bilang anak saya harus dirawat di inkubator selama 1 bulan. Lantas kenapa baru 1 Minggu sudah boleh keluar?" tanya Hans, penasaran.

__ADS_1


Hans sedikit terkejut mendengar perkataan dokter yang tidak sesuai dengan perkataannya diawal. Ketika anaknya harus dimasukan ke dalam inkubator.


"Semua itu berkat doa, Tuan. Dan juga kasih sayang yang Tuan selalu curahkan untuknya. Maka, dia telah menunjukkan kemajuannya yang sangat pesat. Setelah saya cek, kondisi tubuhnya mau luar maupun di dalam. Semuanya baik-baik saja, inilah keajaiban Tuhan. Maka dari itu teruslah berdoa demi istri Tuan yang sedang berjuang melawan takdirnya sendiri."


Hans meneteskan air matanya disaat putranya sudah benar-benar di nyatakan sehat dari semua hal buruk yang akan menimpanya. Inilah perasaan yang begitu lega dari seorang Daddy yang selalu menjaganya setiap detik.


Hanya saja Hans belum bisa untuk sepenuhnya bahagia, ketika dia kembali menatap istrinya yang terbujur kaku di atas bangkarnya.


"Syukurlah, Sayang. Ternyata kamu sudah jauh lebih sehat dari Mommy. Daddy senang mendengarnya, jadi sekarang Daddy sudah punya teman. Boy mau 'kan bantu Daddy, nanti kita bangunkan Mommy sama-sama ya. Biar Mommy tidak tidur terus, 'kan Mommy juga harus melihat kamu. Jadi, kita harus semangat buat bangunin Mommy. Oke, Sayang?"


Hans berbicara sambil tersenyum dan menangis saat jari telunjuknya mulai masuk ke dalam lubang kecil untuk digenggam oleh tangan putranya yang sangat kecil.


Tangisan kebahagiaan itu ternyata tanpa mereka semua sadari menular ke Meera, sudut matanya sebelah kanan mengeluarkan air mata persis seperti orang yang menangis tanpa suara.


"Baiklah, Tuan. Saya izin untuk membawa anak Tuan, agar bisa segera saya keluarkan dari inkubator dan merapikan penampilannya supaya dia terlihat lebih tampan ketika bertemu dengan Mommynya untuk pertama kali secara langsung."


Hans menoleh ke arah dokter dan asisten susternya, sambil menghapus air matanya lalu mengangguk kecil. Rasa bahagia itu tidak bisa di tutupi dari wajaj Hans yang terlihat sumringah dari biasanya.


Hanya saja, dokter juga paham. Kebahagiaan ini belum sepenuhnya lengkap, jika Meera belum tersadar dari tidur panjangnya.


Perlahan sang dokter dan asistennya langsung mengambil alih semuanya, dan mendorong inkubator untuk membawanya keluar dari kamar Meera. Kemudian akan di gantikan dengan tempat tidur bayi yang seharusnya.


Sebenarnya anak yang baru lahir tidak boleh di satukan kamarnya dengan Ibunya yang masih koma, cuman ini permintaan Hans dari awal, agar tidak memberikan jarak antara anak dan Mommynya.


Hans sangat percaya kalau kekuatan ikatan batin antara anak sama Mommy itu sangatlah kuat. Jadi, Hans tidak akan memisahkan mereka. Baginya cara inilah yang akan membuat Meera segera bangkit lagi dari zona nyamannya.


Sang dokter dan asistennya keluar membawa anak mereka, lalu meninggalkan Hans di dalam ruangan bersama Meera. Hans langsung memeluk Meera sekilas, lalu mencium keningnya beberapa kali, sebagai rasa bahagianya yang dia tularkan untuk istrinya.

__ADS_1


Setelah itu, Hans duduk di samping Meera dan kembali mengajaknya berbicara mengenai suasana hatinya yang lagi senang. Cuman Hans yang tidak begitu memperhatikan wajah istrinya, jadi dia melewatkan kesempatan untuk menyaksikan bila Meera sedikit memberikan senyuman samar kepadanya.


...***Bersambung***...


__ADS_2