
Perlahan nasihat dari Hans berhasil membuat Meera sedikit tenang, walaupun perasaannya masih sangat mengkhawatirkan keadaan Alice. Cuman, berkat Hans dia sudah jauh lebih baik.
Meera duduk sambil menggenggam tangan suaminya dan menyandar di pundak serta dadanya. Dimana mata mereka menatap lurus ke arah pintu, menunggu Bram keluar untuk membawakan kabar baik mengenai anaknya yang sudah lahir.
...*...
...*...
Di dalam ruangan persalinan, Bram sedang berusaha untuk menyemangati istrinya yang lagi berjuang demi melahirkan anaknya.
"Kamu pasti kuat, Sayang. Aku mohon, percayalah! Kamu dan anak kita pasti akan baik-baik aja. Lihat, ada aku di sini. Jadi kamu tidak perlu takut, aku akan selalu menemanimu sampai kapanpun dan dalam keadaan apapun."
"Ingat! Ini semua merupakan impian kita bersama, Sayang. Aku mohon, jangan lagi-lagi kamu mengatakan semua itu. Karena aku yakin, kamu dan anak kita adalah orang hebat, orang yang kuat dan juga penuh semangat. Jadi, ayo semangat demi anak kita aku mohon hiks ...."
Bram menggenggam tangan Alice sambil menguatkannya. Ya, walaupun terdapat tangisan, akan tetapi itu tidak membuat mereka menjadi lemah.
Beberapa kali, Alice selalu ingin menyerah karena ini merupakan pertama kali dia melahirkan seorang anak. Sehingga, masih ada perasaan terkejut saat merasakan nikmatnya menjadi seorang Ibu baru yang terbilang masih muda.
Maka dari itu, Bram selaku suaminya tiada henti untuk terus menyemangatinya dengan perkataan-perkataan yang baik dan juga pikiran yang positif.
"Hiks ... A-aku ti-tidak kuat Bram, ra-rasanya sakit banget. Arrghh!" pekik Alice mencekram kuat tangan suaminya.
"Ya, gapapa Sayang. Kamu boleh pukul aku, kamu boleh jambak aku, apapun yang mau kamu lakukan sama aku silakan!"
"Asalkan itu bisa mengurangi rasa sakitmu aku tidak masalah, yang penting kamu tetap semangat berjuang demi anak kita. Aku mohon hiks ...."
Melihat air mata yang menetes dari wajah Bram, membuat Alice menatapnya begitu sendu. Baru kali ini, Alice melihat Bram menangis serta memohon padanya hanya untuk memberikan semangat.
Yang tadinya Alice sudah mau menyerah sama apa yang dia rasakan, bahkan dokter pun mengatakan bahwa kelahiran Alice tidak bisa di paksakan secara normal. Lantaran, kondisi fisik Alice yang tidak memungkinkan untuknya melahirkan secara normal.
Hanya saja, ketika dokter baru ingin menyiapkan ruangan operasi caesar, tiba-tiba saja Alice langsung pembukaan 9. Dimana jalan keluar untuk bayi sudah mulai terbuka, hanya membutuhkan sedikit dorongan. Maka sudah dipastikan anak mereka akan segera lahir ke dunia.
__ADS_1
"Huhh, huhh, arghh hiks ... Ha-hans, a-aku mau pups. Cu-cuman sakit banget, bantu aku ke kamar mandi. A-aku enggak kuat jalan sendirian, please. Arghh!"
"Pu-pups? Astaga, Sayang. Kamu ini mau melahirkan, kenapa malah mau pups segala sih!"
Mendengar perkataan Alice, dokter langsung mengecek pembukaan. Betapa terkejutnya dia, saat melihat kepala sang bayi hampir saja keluar.
"Wah, ini benar-benar ajaib. Kepala bayi sudah hampir terlihat, Tuan. Jadi, pups yang Nyonya rasakan itu sebenarnya bukan pups seperti biasanya. Melainkan anak kalian sudah tidak sabar mau bertemu dengan kedua orang tuanya!"
Suara antusias sang dokter, cukup mengebohkan. Dia langsung memanggil beberapa suster lainnya, untuk menyiapkan semuanya karena bayi mereka akan segera keluar.
"Bagus, Nyonya. Puji Tuhan, bayi Nyonya sudah mau keluar. Sekarang, Nyonya tarik napas dalam-dalam dan hempuskan melalui mulut berulang kali. Setelah itu, nanti aba-aba dari saya ya. Siap?"
Alice menganggukan kepalanya, begitu juga Bram. Kemudian, sang dokter pun tersenyum melihat reaksi mereka. Lalu, dia segera bersiap-siap sambil beberapa kali mengintip ke arah sela-sela kedua kaki Alice, untuk memastikan keadaan bayinya.
Bram membantu Alice untuk belajar menarik napas seperti apa yang sudah diajarkan, ketika Alice dan Meera melakukan kegiatan sekolah kehamilan.
"Baiklah, Nyonya. Sekarang sudah waktunya! Nyonya ikuti aba-aba dari saya, sekarang tarik napas dalam-dalam lalu keluarkan melalui mulut berulah kali. Kemudian, dalam hitungan ketiga. Nyonya bantu dorong dedeknya dari dalam tanpa mengangkat bokong, mengerti?"
Terlihat jelas, bahwa Bram sudah mulai memberanikan diri agar dia bisa menyambut kelahiran anaknya.
Ya, meski ada keraguan dan juga ketakutan di dalam hatinya. Cuman itu wajar saja, akan tetapi kembali lagi. Bram harus percaya sama kekuatan seorang Ibu, bahwa dia akan bisa membawa anaknya lahir ke dunia.
"Huhh, huhh ...."
"Nah, ini udah kelihatan Nyonya. Dalam hitungan ke tiga, langsung dorong ya. Satu ... Dua ... Tiga ...."
"Aaargghhhhhhh ...."
Teriakan panjang disertai dorongan yang cukup kuat, berhasil membawa anak mereka lahir ke dunia tanpa hambatan apapun.
Oeekk ... Oeekk ... Oeekk ...
__ADS_1
Suara merdu tangisan anak mereka, berhasil menggentarkan hati Alice dan juga Bram. Mereka tidak menyangka, bila hari ini mereka sudah benar-benar resmi menjadi kedua orang tua.
"Hiks, a-aku berhasil, Bram. Aku berhasil, anakkj selamat, Bram. Anakku selamat hiks ...."
Alice menangis bahagia setelah dia berhasil membuat Bram menjadi seorang Ayah. Dimana tangisan mereka benar-benar pecah dan saling memeluk satu sama lain, menumpahkan perasaan terharu atas kelahiran anak pertama mereka.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah kuat demi anak kita, terima kasih juga karena kamu telah menjadikanku seorang Papah. Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, dan mau mengungkapkannya dengan apa. Yang jelas, satu kata untukmu. Selamat!"
"Selamat sekarang kamu sudah menjadi seorang Mamah, dan juga telah menjadi orang tua yang berhasil membawa anak kita untuk melangkah ke kehidupan barunya. Thank you so much, Sayang. I love you more, Mamah."
Bram mengatakan semua itu sambil menempelkan keningnya di kening istrinya. Yang mana kedua mata mereka saling menatap satu sama lain, hingga air mata kesedihan kini telah terganti oleh air mata kebahagiaan.
Sama seperti Alice, dia juga mengucapkan terima kasih kepada Bram. Karena dia sudah menjadi suami yang terbaik, dan juga belajar menjadi seorang Papah yang kelak akan menjadi contoh baik bagi anaknya.
"Selamat atas kelahiran anak kalian, Nyonya, Tuan. Anak yang baru saja Nyonya Alice lahirkan anak perempuan. Dia cantik persis seperti Mamahnya, bahkan hidungnya pun mengambil dari Papahnya. Sekali lagi, selamat sudah menjadi orang tua baru untuk si kecil yang cantik ini."
Sang dokter tersenyum lalu, menaruh anak mereka di atas dada Alice agar si Baby bisa merasakan hangatnya tubuh seorang Ibu yang baru saja melahirkannya.
Selama ini sang Baby hanya bisa mendengar perkataan kedua orang tuanya ketika sedang menyapanya. Cuman kali ini, dia sudah bisa merasakan sentuhan seorang Ibu dan juga Ayahnya.
Betapa bahagianya mereka berdua saat melihat wajah anaknya yang sangat comel dan juga menggemaskan. Apa lagi saat anaknya sedang belajar untuk mencari sumber makanannya. Terlihat sekali mulutnya yang seperti ikan Mas Koi ketika berada di daratan.
"Aaa, anak kita cantik banget, Sayang. Gemes banget, rasanya aku ingin sekali menggendong serta memeluknya sama seperti kamu." ucap Bram, sedikit iri.
"Nanti ya, Tuan. Biarkan si kecil merasakan detak jantung Ibunya terlebih dahulu. Setelah kembali di bersihkan barulah, Tuan bisa memeluknya sampai kapanpun. Prosesnya tidak lama kok, hanya sekitar 10 menit saja. Setelah itu kami akan membersihkan Ibu dan bayinya, supaya bisa segera di pindahkan ke ruangan inap lainnya. "
Penjelasan dokter membuat Bram sedikit kecewa, cuman dia tetap tersenyum. Walau sekarang dia belum bisa memeluk anaknya, tetapi dia senang. Bisa melihat anaknya yang sekarang sudah ada bersama mereka.
Setelah kurang lebih 10 menit, Bram pun keluar dari ruangan dalam keadaan wajah bahagia. Sementara anak dan istrinya akan di bersihkan terlebih dahulu, sekalian untuk membawanya ke kamar yang baru.
...***Bersambung***...
__ADS_1