
Hans langsung berlutut di hadapan Meera dengan segala penyesalannya, bahkan tanpa melewatkan kesempatan tangan Hans malah memegang paha mulus istrinya sambil sedikit mengelusnya.
Meera rasanya ingin sekali menudahi rasa kesalnya, cuman entah mengapa dia masih belum puas untuk menghukum suaminya.
Akankah malam ini mereka bisa melakukan hubungan suami istri layaknya pernikahan semestinya? Atau akan kembali gagal untuk kedua kalinya, setelah yang pertama Meera mencoba menghindari Hans. Sekarang malah Hans yang membuat mood Meera seketika hancur.
"Sayang, maaf. Aku refleks berbicara seperti itu, tapi aku enggak bermaksud begitu. Aku cuman kaget aja, kamu bilang kamu terjatuh. Pas kamu buka pintu penampilanmu sudah seperti ini, siapa yang enggak terkejut coba?" ucap Hans.
"Hem, udahlah aku mau tidur capek. Percuma juga aku pakai baju seperti ini kalau hasilnya enggak ada, mending aku ganti ajalah. Lagi pula bisa-bisa aku masuk an*jing kalau pakai baju tipis begini, huhh!" dengkusnya.
Meera pun berdiri dari ranjang, kemudian meninggalkan Hans yang masih terdiam mematung. Hans seperti itu bukan berarti dia pasrah, melainkan dia memikirkan cara bagaimana mengambil bisa nengambil perhatian istrinya agar mengurungkan niatnya untuk mengganti baju.
Saat Meera baru saja ingin memegang pegangan pintu kamar mandi, tiba-tiba dia di kejutkan oleh sesuatu yang membuatnya langsung menoleh ke arah belakang.
"Sa-sayang, hahh, hahh, to-tolong ... Hahh a-aku, hah, hahh!" pintanya. Hans tergeletak di lantai dalam keadaan memegangi dadanya layaknya orang yang mengalami sesak napas.
"Ha-hans? Ka-kamu kenapa!" pekiknya. Meera segera berlari lalu duduk dalam posisi layaknya seorang sinden yang anggun.
"Kamu kenapa, Hans? Apa yang terjadi, katakan! Jangan bikin aku panik seperti ini hiks ...." ucapnya lagi. Meera benar-benar tidak tega melihat suaminya seperti kesusahan dalam bernapas.
"Na-napasku, Sa-sayang. Napasku! To-tolong be-berikan aku napas buatan, hahh, hahh ...." ucap Hans.
Wajahnya terlihat begitu meyakinkan, padahal matanya sedikit bermain untuk mengintip wajah istrinya yang begitu menggemaskan ketika dalam keadaan panik.
__ADS_1
"Na-napas buatan? A-aku tidak tahu bagaimana caranya, Hans? Apa aku telpon ambulans aja ya, biar kamu segera di bawa ke rumah sakit, atau aku panggilkan Bram untuk menolongmu!" sahutnya.
Kali ini Meera benar-benar menangis merasa kasihan terhadap suaminya, akan tetapi dia bingung harus melakukan apa demi menyelamatkannya.
"Be-berikan napasmu seolah-olah kita sedang berci-ciuman, atau ak-aku akan tiada hari ini!" pintanya.
Meera menggelengkan kepalanya dengan cepat, lalu langsung melakukannya sesuai perintah dari suaminya. Meski Meera tidak tahu bagaimana caranya, cuman dia hanya melakukannya sebisanya.
Hans yang mendapatkan ciuman tersebut begitu bahagia, karena idenya telah berhasil membawa istrinya kedalam pelukannya.
Tanpa sadar napas buatan itu memang tidakmm tidak ada, yang ada hanya luma*tan dan juga permainan lidah mereka. Sampai akhirnya tangan Hans memegang tengkluk Meera untuk lebih mendekatkannya.
Perlahan Hans mulai bangkit hingga terduduk tepat di depan Meera dalam posisi miring, dengan ciuman yang semakin mendalam.
"Hans, ka-kamu bohongi aku?" tanyanya. Mata Meera melotot hebat menatap suaminya, dimana Hans hanya cengengesan saat Meera sudah mengetahui semuanya.
"Ishhh, kamu itu menyebalkan banget sih! Aku ini udah panik loh, aku kira kamu itu ... Hemp."
Sebelum Meera kembali marah padanya, Hans kembali me****** bibir istrinya semakin mendalam. Gigitan kecil mulai Hans berikan agar menambah kesan kegemasan didalam ciuman mereka.
Tanpa sadar, kini Meera udah berada di dalam dekapan suaminya. Kemudian menggendongnya serta menaruh Meera diatas ranjang secara perlahan.
Hampir 5 menit mereka melakukan adegan permainan bibir diatas ranjang, tepat posisi Hans berada diatas Meera.
__ADS_1
Tangan jahil mulai beredar menelusuri setiap lekukkan tubuh istrinya yang sangat mulus dan begitu menggiurkan. Meera yang merasakan akan sesuatu membuat tubuhnya sedikit bereaksi menggeliat bagaikan ulet sagu.
Hans melepaskan bibirnya lalu menempelkan dahinya kepada istrinya, dimana napas mereka berdua terdengar sangat tersenggal-senggal. Semua akibat ciuman mereka yang membawa aliran listrik bertegangan rendah.
"Apakah malam ini kamu sudah siap, untuk memberikan hakku?" tanyanya. Mata mereka terlihat begitu sayu, bahkan suara Hans pun terdengar sangat lirih.
Tak.berhenti dari situ, tangan Hans mulai menerobos masuk melalui sela-sela dada Meera dan berhasil menggenggam buah mangga yang terbilang sangat segal itu.
"Hem, sshh. A-aku siap, Hans. Lakukan apa yang akan membuatmu merasa puas, karena malam ini aku akan menjadi milikmu seutuhnya." jawabnya. Meera tersenyum menatap suaminya yang saat ini terlihat begitu tampan.
"Terima kasih, dan maaf bila permainanku nanti tidak selihai Daddyku. Cuman aku akan melakukannya dengan hati-hati agar membuatmu nyaman dan tidak akan menyakitimu." ucapnya.
Hans tersenyum terus memijit buah mangga tersebut membuat Meera kesulitan untuk berkata lagi. Meera tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini, tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Cuman dengan sentuhan tangan Bram sudah berhasil membuat tubuh Meera seperti ulet sagu yang uget-uget kesana-kemari.
Hans yang melihat reaksi istrinya merem-melek hanya karena sentuhan tangannya, membuat Hans sendiri merasa puas. Ternyata apa yang dia pikirkan tentang ketakutan tidak akan bisa memuaskan Fayra ternyata salah, dar sinilah hasrat Hans semakin meningkat.
Tanpa basa-basi lagi, Hans yang sudah tidak tahan langsung merobek ringeri tersebut.
Meera sedikit terkejut sama perlakuan suaminya, baru saja mau berkata satu kata saja tidak bisa, karena suaminya kini sudah berhasil menggapai buah mangga kembar miliknya.
Hans menyusu kuat sesekali tangan satunya memainkan mangga tersebut membuat Meera merasakan tubuhnya mulai tersengat listrik lebih tinggi dari yang awal.
__ADS_1
...***Bersambung***...