
"Hihi, ya sudah ayo Sayang!"
"Hyaaakk, Hans!"
"Hahah, udah jangan banyak gerak nanti jatuh. Mending pegangan leherku saja!"
"Isshh, dasar menyebalkan. Bilang mau mandi, tapi malah pakai gendong-gedong segala. Ini namanya bukan mandi, tetapi menyelam 2 pulau terlampaui!"
"Bhahah ... Ya harus dong, kapan lagi 'kan haha ...."
Hans tertawa ketika melihat tingkah lucu istrinya yang saat ini berada di dalam pelukanya. Ya gimana orang tidak terkejut, tiba-tiba Hans menggendong Meera begitu saja membuat dia tersontak kaget. Untung saja dia tidak berteriak, layaknya orang yang berada di dalam bahaya.
Kedua pasangan itu sedang asyik memandikan big baby kesayangannya yang semakin hari semakin manja.
Dimana Bram mandi dengan tenang bersama istrinya, akan tetapi Hans mandi penuh kenikmatan sentuhan. Sehingga Meera harus 2 kali mandi bersama suaminya.
Beberapa menit telah berlalu, sampai akhirnya jam sudah menunjukkan kurang lebih pukul 9 malam.
Mereka segera pergi ke ruang makan, Bram yang sudah menunggu sekitar 15 menit lamanya cuman bisa memasang muka masam melihat Hans dan Meera yang baru datang.
"Jangan bilang kalian habis---"
"Memang kenapa? Kami sudah sah, kau pun sama. Jadi, tidak salah bukan kalau aku ngecas dulu, dengan begitu 'kan bateraiku bisa kembali penuh. Bukan begitu, Sayang?"
Hans berbicara menatap Bram dan sedikit melirik istrinya dengan memberikan kedipan mata. Sedangkan Meera cuman bisa menunduk malu di kursinya.
"Tuhkan, Sayang. Kakakku saja sudah di chas, masa aku enggak sih? Nanti kalau bateraiku low--"
"Chas aja tuh di listrik, biar burungmu langsung tersengat tegangan tinggi. 'Kan enak dia bangun terus tanpa harus tertidur lagi!"
Perkataan Alice mampu membuat senjaya Bram linu, sampai dia memeganginya dari bawah kolong meja. Berbeda sama Hans dan Meera yang tertawa ketika melihat wajah Bram begitu takut.
Beginilah Bumil satu ini, jika Meera terkesan manja, dan juga selalu siap siaga melayani suaminya tanpa bisa membantahnya. Yang lebih parahnya lagi, semenjak Meera hamil dia sedikit agresif. Berbeda sama Alice yang terkesan jutek, ngambekan, cengeng dan juga selalu moodyan tidak jelas.
"Udah, udah. Ayo makan dulu keburu malam, kasian anak di perut kalian pasti sudah sangat lapar." ucap Hans mencoba mengalihkan semuanya, agar Bram dan Alice tidak kembali bertengkar.
Mereka pun segera menyantap makanannya yang masih sedikit hangat karena sudah dipanaskan oleh Alice dan Bi Neng.
__ADS_1
Mereka makan dalam keadaan terdiam, untuk menikmati rasa masakan tersebut.
Kurang lebih 25 menit lamanya, makan malam mereka pun telah selesai. Hans dan Bram pergi lebih dulu ke ruang tengah, sedangkan istri mereka merapikan meja makan di temani oleh Bi Neng.
Di rasa semuanya sudah selesai, Alice bersama Meera pun perlahan pergi ke ruang tengah untuk menyusul suaminya.
Alice duduk di sofa sebelah kiri bersama suaminya dan Meera duduk di sofa panjang bersama suaminya.
Mereka tertawa ketika melihat film yang cukup lucu, sampai seketika suara yang cukup serius terdengar menegangkan di telinga mereka semua.
"Bram, ada sesuatu yang mau aku berikan padamu. Tunggu sebentar!" ucap Hans, langsung bangkit dan pergi begitu saja.
Bram dan Alice yang sedikit terkejut hanya bisa melihat kepergian Hans, serta mereka berdua menatap ke arah Meera seakan-akan meminta penjelasan.
"Ke-kenapa kalian menatapku? A-aku beneran ti-tidak tahu apa-apa, sumpah!" ucap Meera terbata-bata, dia takut dengan tatapan pasangan suami-istri tersebut.
"Seriusan Kakak enggak tahu? Masa iya Kakak enggak tahu sih Kak Hans mau ngasih apa sama suamiku, jangan bilang dia akan membelikan mobil baru lagi?" tanya Alice, tersenyum lebar.
"Astaga, Sayang. Baru juga bulan kemarin Kakak membelikannya padaku. Masa iya Kakak mau membelikannya lagi, rajin banget tiap bulan aku harus ganti mobil. Berasa kaya anak pejabat tinggi aja!" ucap Bram membuat istrinya terkekeh kecil.
"Apa jangan-jangan setiap bulan kamu akan mendapatkan hadiah dari suamiku? Ishhh, menyebalkan, aku saja tidak pernah di kasih apa-apa sama dia. Masa iya---"
"Ekhem, ekhem ...."
Deheman suara membuat Meera langsung menoleh dan tersenyum cengengesan menunjukkan sederetan giginya kecilnya berwarna putih bening.
"Eh, Sayang. Heheh ... Wahh, hadiah buat Bram banyak juga ya." ucap Meera berusaha menyindir halus suaminya.
"Biasa aja!" jawab Hans cuek, langsung duduk di sebelah istrinya.
"Ckk, menyebalkan. Adiknya aja dapat hadiah tiap bulan, kemarin mobil baru. Sekarang apa lagi? Rumah? Hotel, atau tiket liburan ke Korea? Huaaa, dasar suami ngeselin!" gerutu Meera di dalam hatinya sambil mengukir senyuman.
"I-ini semua buatku, Kak?" tanya Bram, wajahnya berbinar-binar seperti orang yang baru saja mendapatkan hadiah pertama kali seumur hidupnya.
"Enak aja, buat kamu cuman ini!" ucap Hans, memberikan 1 dokumen berbentuk file yang membuat Bram membolakan matanya.
"Hahh? Cu-cuman file ini saja? Terus 2 paper bag yang itu buat siapa?" tanya Bram, bingung.
__ADS_1
"Ini buat istrimu, dan ini buat istriku. Jadi adil bukan? Kau mendapatkan hadiah, begitu juga dengan mereka." jawab Hans, spontan sambil memberikan satu persatu paper bag kepada Alice dan juga Meera.
"Wahh, terima kasih banyak Kak. Kira-kira apa ya isinya? Jangan bilang ini juga dokumen? Haha ...." Alice tertawa sambil melirik suaminya yang kesal.
"Terima kasih, Sayang. Aku kira cuman Bram yang dapat aku--"
"Aku tidak akan pilih kasih, Sayang. Kamu, Alice ataupun Bram semuanya sama. Sama-sama orang yang ada di dalam hidupku. Jadi, jangan pernah berpikir jika aku tidak mengingatmu karena aku sering memberikan hadiah pada adikku sendiri." jelas Hans, tersenyum menatap istrinya.
Meera langsung memeluk suaminya cukup erat sambil mencium pipinya penuh kasih sayang. Dimana Hans, Meera dan Alice bahagia, di situlah ada Bram yang merasa menderita akibat hadiah yang dia dapat tidak sesuai ekspetasinya.
"Astaga, cantik banget berlian ini Kak. Wahh, sumpah aku suka banget. Terima kasih banyak Kak Hans, aku suka, suka, sukaa ... Banget!" ucap Alice wajahnya begitu merah saat mendapatkan 1 set perhiasan yang terbuat dari berlian asli.
Perlahan Meera pun membuka hadiahnya, yang mana hadiah Meera dan Alice adalah kembar membuat mereka berdua semakin bahagia.
"Wahh, ternyata punya kita kembar, Dek. Aaaa, suka banget desainnya. Makasih, Sayang. Muuach!" ucap Meera mencium bibir suaminya sekilas.
"Ya, itu sengaja aku desain kembar untuk kalian. Dan desain spesial itu memang hanya di khusus 'kan untuk kalian berdua. Jadi, tidak ada lagi yang memilikinya selain kalian berdua."
"Hanya saja disitu aku sedikit bedakan kode antara punya istriku dan dirimu, agar tidak tertukar. Paham maksudku?"
Meera dan Alice mengangguk dipenuhi perasaan bahagia, mereka tidak menyangka. Pria yang pendiam bisa menjadi romantis seperti ini.
"Tunggu. Kakak bilang tadi akan memberiku sesuatu, terus kenapa malah dokumen? Sedangkan mereka perhiasan?" tanya Bram, kesal.
"Memangnya kamu wanita aku berikan perhiasan, udah syukur aku kasih kamu hadiah itu. Bahkan hadiah yang kamu dapatkan jauh lebih besar dari mereka berdua." jawab Hans, cuek.
"Jauh lebih besar? Ya, lebih besar menyesalnya dari pada mereka!" sahut Bram, penuh emosi.
Bram benar-benar kesal dengan hadiah yang Kakaknya berikan, sampai akhirnya dia meletakan dokumen tersebut cukup keras diatas meja sambil menunjukkan wajah masamnya.
"Kalau begini caranya mah mending aku tidur, percuma juga kalau ujung-ujungnya hanya di kasih dokumen enggak penting!"
"Aku kira Kakak akan berikan kunci rumah, kunci hotel atau Perusahan sekalipun. Cuman nyatanya cuman sebuah dokumen yang enggak penting kaya gini, buat apaan!"
Hans berbicara dipenuhi oleh perasaan kesal, yang benar-benar kesal. Dia tidak menyangka ekspetasi-ekspetasi tinggi yang ada di dalam isi kepalanya, seketika hilang begitu saja dan tergantikan oleh pekerjaan yang semakin menumpuk di pikirannya.
...***Bersambung***...
__ADS_1