
Selang beberapa menit ternyata benar adanya, jika Hans sedang duduk di kursi panjang menatap ke arah langit sambil menangis tanpa suara. Perlahan Meera mendekati Hans, lalu duduk di sampingnya sambil menggenggam tangan suaminya dan menyandar di dadanya.
Hans sedikit terkejut lalu menoleh kearah istrinya dengan cepat, dimana mata mereka saling menatap satu sama lain. Meera tersenyum kecil menatap suaminya, tangannya perlahan terangkat untuk mengusap setiap bulir-bulir air mata yang menetes di pipi suaminya.
"Ada apa, hem? Ada masalah?" tanya Meera dengan suara lembutnya. Sedangkan Hans hanya menggelengkan kepalanya perlahan menatap istrinya.
"Kalau tidak ada masalah, kenapa kamu ke sini hem? Terus kenapa ruangan kerjamu berantakan seperti itu? Apa kamu habis mendapat kabar buruk? Atau---"
"Bram, dia masih tetap sama. Rasa bencinya bukan semakin berkurang, kini malah semakin bertambah padaku. Apa aku tidak berhak mendapatkan maaf darinya, karena sudah merebutmu?"
"Tapi kan semua itu bukan keinginanku, aku sendiri pun tidak tahu kenapa kita bisa berada disatu ranjang dalam keadaan seperti itu. Sampai detik ini pun, aku belum menemukan jawabannya,"
"Jika memang aku salah telah merebutmu. Aku rela, kalau aku harus melepaskanmu dan membalikannya pada Bram. Yang penting bagiku, hubungan antara aku dan Bram bisa kembali membaik. Tidak seperti sekarang!"
"Jujur, aku tidak bisa kehilangan adik kecilku yang sangat aku sayangi. Aku juga enggak mau, kehilangan orang yang aku cintai. Hanya saja, adikku adalah harta satu-satunya yang aku punya!"
"Aku rela kehilangan orang yang aku cintai, demi menyelamatkan keluargaku. Meski rasanya sangat menyakitkan, aku tidak peduli asalkan Bram mau menganggapku sebagai Kakaknya kembali."
"Aku tidak mau membuat Daddy sama Mommy sedih diatas sana, hanya karena aku tidak bisa menjaga dan menjadi Kakak yang baik untuk Bram, maafkan aku Mom, Dad, Bram. Maaf, hiks ...."
__ADS_1
Baru ini Meera melihat Hans begitu lemah, air mata yang tidak pernah runtuh sekarang telah membanjiri pundak Meera, akibat dia memeluknya begitu erat. Kini, pecahlah isak tangis seorang pria dingin yang terdengar sangat memilukan.
Namun, tanpa disangka dan di sadari tadi Hans sudah mengatakan kepada Meera bahwa dia telah mencintainya. Meski tidak sedetail Meera mengatakannya, akan tetapi dia sangat mengerti arti ucapan yang Hans katakan padanya.
Satu sisi Meera begitu senang bercampur syok di dalam pelukukan Hans, cuman satu sisi lagi Meera terlihat sedih karena Hans rela kehilangannya.
Tanpa sadar menyerahkanya kembali kepada pria yang pernah mencintainya, malah memberikan luka goresan dihatinya. Lantaran Meera tidak akan pernah melupakan kejadian Bram yang hampir saja mele*cehkannya.
Beberapa menit mereka terdiam sambil berpelukan, Meera tidak mau mengatakan satu katapun agar Hans bisa menumpahkan seluruh beban hidupnya di dalam pundak istrinya.
Setelah mulai mereda, Meera mulai melepaskan pelukan suaminya dan tangannya menempel di rahang suaminya, sambil mengarahkan wajahnya untuk menatapnya.
"Ssttt, Sayang. Dengarkan aku ya, kamu itu adalah Kakak yang baik. Karena kamu rela menjadi orang luar hanya demi menyelamatkan sesuatu daru adikmu, meski kamu sendiri tidak tahu kenapa dia melakukan smeua itu."
"Namun, tanpa kamu sadari, itu adalah suatu perbuatan yang sangat berharga untuk Bram. Aku yakin suatu saat nanti Bram akan tersadar jika kamu ini adalah Kakak terbaik yang dia miliki."
"Dan, tentang kejadian yang menimpa kita itu bukan kesalahanmu ataupun aku. Karena itu merupakan takdir yang tidak bisa di hindari, bahkan aku pun masih sempat bingung kenapa aku bisa ada di kamarmu,"
"Sementara pada waktu itu, sekitar jam10 malam aku meminta Bi Atun untuk membuatkanku minuman yang dingin, tetapi menyegarkan untuk menemaniku menonton drakor sekalian membawakan cemilan. Kamu tahulah aku kalau udah menonton drakor males banget untuk mengambil apa yang aku butuhkan,"
__ADS_1
"Nah, setelah itu aku tidak tahu lagi. Pas aku bangun itu keadaan sudah tidak bisa aku jelaskan, yang anehnya kenapa aku bisa ada dikamarmu? Cuman ya sudahlah, aku tidak lagi mempermasalahkan itu,"
"Kemungkin semua memang sudah takdir kisah kita, disaat aku mencintai Bram dan berharap dialah jodoh terakhirku. Melainkan aku salah, tenyata kamulah jodohku yang sebenarnya."
"Jika kamu melepaskanku, maka jawabanku hanya 1 aku tidak akan pernah meninggalkanmu walaupun kamu memintaku. Semua itu aku katakan karena aku sangat mencintaimu, melebihi aku mencintai almarhum Daddymu dan juga Bram."
"Aku tak masalah jika kamu keberatan mengungkapkan cinta padaku, yang penting aku bisa selalu ada disampingmu itu sudah membuatku bahagia."
"Dan, untuk masalah Bram, kita berjuang sama-sama ya. Tali yang sempat putus itu, bisa kita sambung kembali meskipun tidak seperti sebelumnya setidaknya persaudaraan kalian tidak sampai berubah menjadi musuh."
"Ingat, Sayang. Aku tidak melihat pria lemah, karena kamu tidak cocok menjadi seperti ini. Hans yang aku kenal itu seorang pria yang kuat, hebat, dan juga pantang menyerah untuk membuktikan jika kamu memang benar-benar menyayangi keluargamu melebih kamu menyayangi dirimu sendiri."
"Jadi, please! Aku mohon, jangan berbicara seperti itu. Karena itu sangat menyakitkan untukku, Sayang. Perkataanmu seolah-olah telah menjadikanku sebuah barang yang bisa dimiliki kapapun, direbut sesuka hati dan dikembalikan ketika tidak butuh."
"Jujur, itu sangat menyakitkan, tetapi tidak apa-apa. Mungkin kamu berbicara seperti itu akibat perasaanmu yang sedang dilema, ketika menghadapi sikap Bram semakin kesini semakin nakal."
"Cuman aku senang Sayang, karena tanpa disengaja kamu telah menyatakan cinta padaku tanpa kamu sadari. Meski itu hanyalah sebuah kode, cuman aku sangat bersyukur. Ternyata cintaku ini tidak---"
Perkataan Meera terhenti saat Bram yang dari tadi hanya menatapnya, mendengarkan semua yang Meera ucapkan membuat Hans begitu gemas. Dia sudah tidak bisa mengungkapkannya, dan malah melu*mat bibir Meera dengan sangai lihai dan cukup agresif.
__ADS_1
...***Bersambung***...