
Hans tersenyum menatap istrinya yang saat ini sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Sekilas Meera mengangguk membuat Hans langsung bangkit sambil mengelus kepala istrinya. Kemanapun Hans melangkah mata Meera tidak lepas dari tubuh suaminya.
Sampai akhirnya Hans membawa Meera untuk masuk kedalam kamar mandi. Setelah itu dia keluar dan meninggalkan Meera didalam, untuk segera mengganti bajunya. Walaupun rasa takut selalu ada, tetapi Meera harus bisa melawan semua itu sesuai dengan nasihat suaminya.
Setelah selesai, Meera pun keluar dari kamar mandi dalam keadaan tergesa-gesa dimana dia langsung memeluk Hans.
"Hiks, ja-jangan tinggalin aku lagi Hans. Aku mohon, aku takut!" ucap Meera memeluk Hans dari belakang.
Sementara Hans yang baru saja ingin mengambil pakaiannya, dibuat terkejut dengan aksi Meera yang tiba-tiba menempel sambil menangis.
Perlahan Hans mengurungkan niatannya untuk tidak mengambil pakaiannya, kemudian perlahan membalikan tubuhnya memeluk istrinya dengan sangat hangat.
"Sstt, aku disini kok. Aku enggak kemana-mana, aku janji. Udah ya jangan nangis lagi, ingat! Istri Hans itu wanita yang kuat, hebat dan juga ceria. Jadi, stop untuk menyerah, stop untuk melemah dan stop untuk menangis. Okay?"
Sekeras mungkin Hans berusaha menenangkan istrinya, meski beberapa kali dia selalu gagal. Sampai disatu titik, Hans mencoba membawa Meera agar mau merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Apa lagi saat ini tubuh Meera sedikit demam, akibat trauma yang dia rasakan langsung menyerang tubuhnya.
Disaat seperti ini, Hans harus ekstra bersabar menghadapi istrinya. Karena selama ini istrinya selalu sabar ngadapin sikapnya yang terkadang sangat dingin, kasar dan sebagainya. Sekarang giliran dia.
"Maafkan aku, Raa. Semua ini salahku, andaikan aku tidak meninggalkanmu. Mungkin semua ini tidak akan seperti ini."
"Kenapa aku bod*doh sekali, kenapa aku tidak ingat jika Bram itu masih sangat mencintaimu. Seharusnya kemanapun aku pergi, kamu ikut bersamaku. Sehingga kejadian seperti ini tidak akan membuatmu trauma."
"Maaf aku, Raa. Aku lalai dalam menjagamu, dan aku bukanlah suami yang baik untukmu. Maaf, ini semua salahku. Aku gagal dalam menjalankan tugasku untuk selalu menjagamu."
"Aku sadar, dari kejadian ini aku bisa pastikan. Jika aku sudah mulai mencintaimu, ya aku sangat mencintaimu, Sayang. Maaf, kalau waktu yang kurang tepat malah membuatku tersadar atas perasaan ini."
Hans bergumam didalam hatinya dengan perasaan bersalah atas semua kejadian yang terjadi hari ini. Dia tidak menyangka kalau sedikit celah saja, bisa membuat istrinya berada didalam bahaya.
__ADS_1
Perlahan Meera merebahkan tubuhnya dalam keadaan sedikit terisak, tak henti-hentinya Meera memeluk tubuh suaminya yang sangat nyaman baginya.
Posisi mereka dalam keadaan sedikit berbeda, dimana Hans duduk menyender sambil berselonjor sambil.mengelus kepala istrinya. Sementara Meera tiduran diatas ranjang dengan posisi memeluk pinggang suaminya.
Beberapa menit berlalu, Meera pun sudah terlelap dengan keadaan wajah yang cukup menyedihkan. Mata terlihat sembab sedikit bengkak membuat Hans semakin merasa bersalah.
Dengan segala kesulitannya, Hans perlahan bangkit untuk membenarkan posisi tidur istrinya agar tidak membuat badannya sakit.
Cup!
Satu ciuman telah mendarat di dahi Meera dari suaminya. Dia juga mengelus pelan pipi istrinya sambil menghapus sisa air mata.
"Maafkan aku, Sayang. Jika sebalumnya aku lalai dalam menjagamu, sekarang aku pastikan semua ini tidak akan lagi terulang. Apapun akan aku lakukan asalkan membuat wajah cantikmu ini, tetap bersinar bersamaan dengan ukiran senyum yang indah. Good night, my wife. I love you so much, muach!"
Satu ciuman lagi mendarat, tapi kali ini di bibir mungil Meera dari suaminya. Kemudian, Hans perlahan melangkahkan kakinya mengambil pakaian tidur dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
...*...
...*...
Dia tersenyum, ketika melihat wajah ketakutan sudah mulai menghilang dan tergantikan oleh wajah polos istrinya yang menyejukkan.
"Hem, gimana keadaan Bram? Apa dia sudah tidur dengan tenang?" gumam kecil Hans, didepan cermin sambil menyisir rambutnya dan sedikit mempoles wajahnya dengan vitamin.
Setelah itu, Hans yang merasa penasaran dengan kondisi sang adik, langsung menoleh menatap istrinya. Sekiranya Meera sudah sangat pulas dia perlahan meninggalkannya menuju kamar sebelah.
Ceklek!
Pintu terbuka bersamaan masuknya Bram, disana masih ada 1 security yang berjalan dikamar Bram sambil mengompres serta mengobati lukanya. Sedangkan temannya kembali bertugas di pos.
__ADS_1
"Tuan?" ucap security, langsung berdiri dan menunduk.
"Gimana keadannya?" tanya Hans menatap adiknya terbujur lemas dan tak berdaya.
"Sejauh ini sudah lebih baik, Tuan. Lukanya sudah saya obatin, dan Tuan Bram juga sudah tertidur. Apa enggak sebaiknya panggilkan dokter aja, Tuan? Agar tidak ada luka dalam dan sebagainya." jawab security.
"Kita lihat sampai besok pagi, apa yang dia rasakan. Ya sudah kembalilah bekerja, tinggalkan dia sendiri." ucap Hans.
"Tapi, Tuan. Kalau Tuan Bram butuh apa-apa saat tidak ada orang, bagaimana?" sahut security, cemas.
"Dia tidak akan membutuhkan apa-apa, minuman itu akan membuatnya tertidur lelap. Jadi saya bisa pastikan dia akan bangun saat cuaca gelap berganti terang." ucap Hans, menatap wajah adiknya.
"Baiklah, Tuan. Saya akan kembali ke pos, jika ada apa-apa segera hubungi saya. Permisi!" Security pun berpamitan sambil sedikit membungkuk dan pergi meninggalkan kamar Bram.
Mengetahui jika security sudah pergi, Hans melangkahkan kakinya menuju sisi tepi ranjang Bram. Kemudian dia duduk sambil memegang wajah adiknya yang sudah tidak sempurna lagi, banyak luka memar akibat pukulan yang telah diberikan Hans padanya.
"Kamu kenapa sih, Dek? Kenapa kamu bisa seperti ini. Aku tahu, aku salah udah merebut semua kebahagianmu dalam sekejap mata. Cuman, aku juga tidak tahu apa penyebabnya sampai aku dan Meera bisa berada dalam kondisi seoerti itu."
"Sekali lagi, maafkan aku, Dek. Aku tidak bisa menjadi Kakak yang baik untukmu, sehingga aku gagal untuk membuatmu menjadi pria yang jauh lebih baik lagi."
"Izinkan aku dan Meera bahagia, Dek. Karena saat ini aku sudah mulai mencintainya, begitu juga Meera. Di telah membuka hati untukmu, meskipun dia sendiri belum bisa menghilangkan semua tentangmu didalam hatinya."
"Cuman aku yakin, Dek. Kami akan bahagia, tapi bagaimana dengamu? Apakah kamu bisa menerima kenyataan, jika kami suatu saat nanti saling mencintai? Dan apakah kamu sudah siap menerima kalau Meera bukanlah takdirmu?"
"Mau bagaimana kamu bertingkah, senakal apapun kamu berulah. Bagiku kamu tetaplah adik kesayanganmu. Mungkin saat ini, aku harus lebih ekstra dalam menjagamu dan juga istriku. Karena Daddy pernah berkata, harta yang paling berharga didunia ini ialah keluarga. Itu sudah harga mati bagi Daddy, bukan tahta maupun harta."
"Daddy pun menitipkanmu kepadaku, sehingga apapun yang kamu lakuan aku akan selalu ada disampingmu. Meski hati ini rasanya sangat sakit ketika melihat kaejadian tapi, cuman tak apa itu tandanya aku harus lebih hati-hati. Percaya boleh asalkan jangan sepenuhnya."
Unek-unek didalam batin Hans dia utarakan sambil menatap wajah adiknya serta mengelusnya. Sampai tidak terasa air mata menetes di pipi Hans ketika masa kecil yang indah kembali terbayang di dalam ingatannya.
__ADS_1
.
...***Bersambung***...