
Beberapa menit Hans sudah mulai merasa tenang, membuat Meera melepaskan tangannya dengan ekspresi wajah sedikit memerah.
Tanpa berlama-lama, Meera berpamitan pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Disaat semua sudah selesai, maka Meera akan segera pergi ke kamar suaminya untuk pertama kali.
Hans mengangguk kecil, lalu melangkahkan kedua kaki menuju kamarnya sendiri saat melihat Meera sudah mulai menjauh.
Tepat di jam 1 malam, Meera sudah selesai dengan semuanya. Kemudian dia perlahan melangkahkan kedua kakinya, bersamaan dengan detak jantungnya yang semakin cepat.
"Aduh, gimana ya? Apa aku balik aja ke kamar ya, terus pura-pura ketiduran. Jadi jika besok dia menanyakan kenapa aku enggak ke kamarnya aku bisa alasan."
"Tapi, masa iya sih bohong. Cuman kalau tidur dikamar Hans, apakah semua akan baik-baik aja?"
"Lantas kalau aku enggak ke kamarnya, apa dia percaya jika aku ketiduran? Terus, bagaimana jika dia marah? Dia kecewa? Bahkan sampai menganggapku pembohong?"
"Huaa, gini banget sih jadi istri Hans. Coba aja aku nikahnya sama Bram, mungkin aku tidak akan secanggung ini sama dia. Sumpah sih, ini mah benar-benar kaya waktu dulu saat aku baru menikah dengan Daddynya."
Beberapa kali Meera berjalan bolak-balik kesana-kemari dalam keadaan gelisah, dimana wajah Meera terlihat begitu pucat. Ditambah jantungnya terus berdetak tak beraturan, sehingga membuat Meera menjadi semakin gugup.
Meera menggigit jarinya terus memikirkan apakah dia harus masuk kedalam dan tidur bersama suaminya, ataukah dia harus kembali kekamarnya dengan berbagai alasan untuk menghindari suaminya.
Namun, disaat Meera ingin melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kamar Hans. Tiba-tiba pintu terbuka bersamaan dengan keluarnya Hans.
Dimana Meera menghentikan langkahnya, dalam kondisi kedua mata membola besar dan detak jantung yang kian memburu.
"Nahloh, ketahuan kan. Lagian sih kenapa bukannya dari tadi balik kekamar, ini malah ngoceh didepan kamarnya. Jadi panjangkan urusannya, huhh!" gumam batin Meera.
"Ekhem, kenapa masih disitu!" ucap Hans, cuek.
Meera berusaha menenangkan diri, dengan cara menarik napas beberapa kali. Sampai akhirnya dia berbalik menatap Hans, sambil cengengesan.
__ADS_1
"Eh, hehe ... Ma-maaf a-aku kira tadi ka-kamu sudah tidur, soalnya aku ketuk pintunya enggak ada jawaban. Jadi, dari pada aku mengganggu istirahatmu mending aku kembali ke kamar saja." jelas Meera, gugup.
"Perasaan saya tidak mendengar suara ketukan pintu." jawab Hans, bingung.
"Eee, a-anu. I-itu, mu-mungkin ka-kamu la-lagi dikamar mandi kali. Ja-jadi tidak kedengeran." sahut Meera, semakin gelisah hingga tanpa disadari pelipisnya mengeluarkan keringat.
"Hem, mungkin. Ya sudah, masuk." jawab Hans, memberikan jalan untuk Meera masuk. Sedangkan Meera sudah tidak memiliki alasan untuk menghindari Hans.
Meera hanya bisa pasrah dengan semua yang akan terjadi nantinya. Kemudian dengan perlahan Meera mulai melangkahkan kakinya memasuki kamar.
Dia menatap kagum sama semua isi kamar Hans. Apa lagi selama ini, Meera tidak pernah memasuki kamar tersebut, akibat Hans selalu mengunci kamarnya ketika dia ingin meninggalkannya.
Bukan berarti Hans tidak percaya dengan siapa pun yang tinggal didalam rumah. Cuman Hans terlalu menjaga ketat privasinya sehingga kamarnya, hanya boleh dimasuki olehnya bukan orang lain.
Namun, berbeda dengan malam ini. Seakan-akan Meera telah menjadi seseorang yang paling berharga didalam hidupnya, sehingga dia berhasil masuk dengan seizin pemilik kamarnya secara langsung.
Hans duduk di tepi ranjang, sambil mengetik pekerjaannya melalui laptop yang sudah berada di atas kedua kakinya.
"Kalau kamu sudah lelah, tidur duluan aja. Saya masih banyak pekerjaan." jawab Hans dingin, tanpa melihatnya.
"Memangnya boleh, jika aku tidur duluan?" tanya Meera, polos menatap wajah Hans.
"Memang ada yang melarangmu untuk tidur?" tanya balik Hans, melirik datar kearah Meera.
"Ya tidak ada sih. Tapi aku mau nunggu kamu aja deh, sambil main ponsel gitu. Takutnya jika nanti aku tidur, kamu pasi akan ngapa-ngapain aku, kan?" jawab Meera, spontan.
Mendengar perkataan Meera membuat Hans, menghentikan pekerjaannya. Lalu menatapnya tanpa ekspresi apa pun.
"Bukannya itu sudah kewajiban seorang istri untuk memu*askan suaminya? Lantas, kenapa kamu jadi takut. Bahkan kamu juga, pasti banyak pengalaman sama Daday, bukan?" jawab Hans, kembali mengetik.
__ADS_1
"Yakk, e-enggak begitu maksudnya! Kan kamu sendiri yang bilang, jika kita melakukannya harus sama-sama siap, sama-sama menginginkannya, dan juga saling mencintai. Apa kamu lupa?" ucap Meera mencoba mengjelaskannya kembali.
"Ya sudah sana tidur jangan banyak mengoceh. Lihat jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi, yang ada nanti kamu sakit, terus merepotkan banyak orang!" titah Hans, dingin.
"Enggak, aku tidak mau. Nanti aku tidur tiba-tiba kamu, ...." Meera menghentikan ucapannya, membuat Hans menoleh kearahnya hingga Meera cuman bisa cengengesan menatapnya kembali.
"Hehe, be-bercanda kok. Ya sudah aku tidurnya nanti aja nunggu kamu kelar kerja, lagi pula belum ngantuk kok." ucap Meera langsung menyalakan games ular di ponselnya.
Hans melihat kelakuan Meera sungguh menyebalkan cuman bisa menggelengkan kepalanya, dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Suara bising kegaduhan selalu terucap di bibir Meera ketika games yang dia mainkan beberapa kali mengalami kegagalan.
Tak terasa jam sudah berjalan kurang lebih selama 45 menit. Gendang telinga Hans yang awalnya berasa ingin pecah, seketika menjadi adem saat suara Meera tidak lagi membuatnya pusing.
Namun, Hans mencoba mengecek kearah sampingnya. Dimana Meera ternyata sudah tidur dengan posisi ponsel berda di atas dadanya.
Wajah cantik dan juga polos tersebut berhasil mengambil perhatian Hans. Baru kali ini Hans bisa memandang wajah seorang wanita yang sangat menyejukkan hatinya.
"Bilangnya mau nunggu saya selesai kerja baru tidur, tapi nyatanya dia sudah tidur lebih dulu. Bahkan terlihat begitu kelelahan, sampai-sampai games pun masih menyala."
"Huhh, ada-ada aja ini cewek. Tapi, tunggu deh. Kenapa setelah menikah saya baru tahu, jika Meera ternyata bukan gadis setegas yang saya lihat setiap harinya?"
"Bahkan dia malah terlihat bagaikan seorang wanita polos dan juga lugu, yang sedang memerankan perannya untuk menjadi dewasa sebelum usianya cuman demi menjaga keharmonisan keluarganya."
Hans berbicara kecil sambil tangannya terangkat untuk mengambil ponsel istrinya. Kemudian, dia mematikan games tersebut dan menaruhnya diatas meja kecil disamping Meera.
Setelah ponsel udah berada ditempat yang aman, perlahan Hans mulai menarik selimut lalu menyelimuti tubuh istrinya sampai sebatas dadanya.
Hans menatap wajah istrinya sampai berapa menit kedepan, tanpa berkedip. Entah perasaan apa yang ada didalam hatinya, seakan-akan saat menatap wajah Meera yang sedang tertidur pulas membuatnya ingin selalu menatapnya.
__ADS_1
Cuman, setelah tersadar Hans langsung menangkis semua pikiran yang ada didalam isi kepalanya. Kemudian merebahkan tubuhnya, lantaran mata sudah mulai mengantuk. Apa lagi pagi-pagi Hans harus ada meeting penting dengan salah satu kolega pentingnya.
...***Bersambung***...