
Unek-unek didalam batin Hans dia utarakan sambil menatap wajah adiknya serta mengelusnya. Sampai tidak terasa air mata menetes di pipi Hans ketika masa kecil yang indah kembali terbayang di dalam ingatannya.
Hampir kurang lebih setengah jam lewat mendekati 1 jam, Hans masih berada di dalam kamar Bram.
Namun, dia sepeti mendengar suara isak tangis seseorang. Yang mana dia baru ingat sudah meninggalkan istrinya terlalu lama.
"Me-meera? Itu suara Meera kan? Ahya, Meera!"
Mendengar suara itu Hans langsung meninggalkan Bram dari kamarnya dan pergi menuju kamarnya sendiri dalam keadaan panik.
Pintu tertutup bersamaan dengan mata Bram yang sedikit terbuka. Air matanya mulai menetes setelah dia sedikit tersadar atas perbuatannya pada wanita yang dia cintai.
"Ma-maafkan aku, Kak. Aku udah nyakitin Kakak, tapi itu bukan kemauanku. Semua itu karena aku tidak terima apa yang Kakak miliki sekarang, seharusnya menjadi milikku bukan Kakak!"
"Wanita yang Kakak cintai, adalah wanita yang berhasil merubahku menjadi lebih baik. Dia satu-satunya wanita yang aku pilih untuk menemaniku sampai akhir hayat, tetapi Kakak malah merebutnya dalam sekejap. Sakit, Kak. Sakit!"
"Aku tidak rela, Kakak dan Meera bahagia. Pokoknya selama aku masih hidup, aku akan berusaha untuk merebut setiap kebahagiaan demi kebahagiaan yang kalian ciptakan nanti. Aku janji itu, Kak!"
"Semua akan aku lakukan, agar kita sama-sama mengerti bagaimana rasanya kehilangan dan bagaimana rasanya sakit hati!"
Bram mengoceh didalam batinnya saat dia merasakan tubuhnya sudah terbujur kaku, dia hanya bisa menangis dan menangis saat hati dan pikirannya saling bertolak belakang.
Satu sisi dia memikirkan kondisi Meera yang sudah hampir dia le*cehkan, dan satu sisi dia merasa senang karena dengan begini mereka bisa merasakan hidup tidak tenang. Semua berkat apa yang mereka dapatkan bukanlah dari cara baik.
2 pasang mata yang menyaksikan semua kejadian dari tempat lain hanya bisa tersenyum bangga, pertengkaran yang terjadi seperti sebuah film yang mereka bisa tonton dengan gratis.
"Haha, syukurin. Uruslah istrimu yang sudah mulai gila itu, pasti bayangan Bram akan selalu membuat hidupnya tidak tenang!" gumam kecil, seorang wanita yang tidak lain adalah Atun.
__ADS_1
"Kita tidak perlu selalu bertindak ya, Bu. Karena tanpa sadar tindakan Bram seperti ikut serta mewakilkan permainan kita. Jadi, kita tidak perlu selalu mengotori tangan ini untuk menghancurkan Hans." ucap suaminya, Jaka.
"Gimana, Pak? Semakin seru bukan permainan kita. Setelah kejadian itu menimpa mereka maka, kehancuran mereka akan semakin dekat. Terutama Hans, pria yang terlihat baik ternyata memiliki sifat jahat yang tidak semua orang ketahui!" tegas Atun, dengan mata menatap tajam lurus kedepan.
"Ya benar, Bu. Seakan-akan takdir selalu berpihak pada kita ya, dengan kita hanya menonton saja itu sudah membuat kehancuran Hans ada didepan mata kita." jawab Jaka, tersenyum bahagia.
Kedua sejoli itu terus berbisik satu sama lain, dengan bersembunyi didekat tangga. Sementara tanpa mereka sadari Bi Neng yang mau mengambil sesuatu, terus melihat dari jarak jauh dengan mata sedikit ngeblur membuat dia penasaran.
"Siapa itu? Kenapa seperti Atun dan Jaka? Cuman ada apa mereka bersembunyi di situ? Apa jangan-jangan ada perampok?" gumam Bi Neng yang langsung berjalan mendekati Atun dan Jaka.
"Bu, sepertinya ada orang yang akan ke sini. Coba dengar suara langkah itu, kita harus gimana?" ujar Jaka, panik dengan tubuh gemetar.
"Sstt, udah diam, Pak. Itu si Neng, wanita tua yang sangat menyebalkan. Udah kamu tenang aja, kalau dia tanya kita pura-pura ketakutan aja sama kejadian ini!" sahut Atun, diangguki oleh suaminya.
Mereka berdua masih pada posisinya masing-masing tanpa merubahnya, suapaya tidak akan membuat Bi Neng semakin curiga.
"Ti-tidak, a-aku dan suamiku disini karena kami melihat adanya berdebatan antaran Tuan Hans, Bram dan Nona Meera yang hampir di le*cehkan oleh Tuan Bram."
Degh!
Prang!
Gelas yang ada ditangan Bi Neng terjatuh sambil menutup mulutnya dalam keadaan syok berat. Dia tidak menyangka jika kejadian seperti ini bisa terjadi di keluarga Ivander yang terbilang sangat sempurna, sebelum meninggalnya kedua orang tua mereka.
Namun, setelah orang tua mereka meninggal maka keadaan isi rumah malah acak-acakan dan berantakan seperti ini.
Bi Neng meminta Atun dan Jaka untuk menjelaskan apa yang terjadi, sesuai dengan apa yang mereka lihat itulah yang mereka ceritakan. Walaupun ada beberapa kata yang mereka tambahin, agar semakin memicu untuk Bi Neng berpikir jelek mengenai Meera.
__ADS_1
Akan tetapi, tenang saja Bi Neng tidak kemakan demgan omongan mereka. Karena dia sangat mengenal keluarga ini sebelum mereka berdua hadir.
Penyakit Bi Neng seketika langsung sembuh dan segera berlari kecil ke kamar Bram untuk melihat keadaannya.
Sesampainya disana Bi Neng menangis meratapi anak atau cucunya sudah dalam kondisi seperti ini. Rasa sakit dan sedih menyelimuti hatinya.
Cuman mau bagaimana lagi, semua ini juga kesalahan Bram. Jadi Bi Neng hanya bisa menasihati Bram untuk tidak lagi mengikuti dendamnya agar hidupnya bisa kembali membaik seperti sebelumnya.
Bram hanya bisa tersenyum menatap Bi Neng, dan tangannya terakhir untuk mengusap air matanya saat melihat wanita yang sudah dianggap sebagai Neneknya menangis.
"Jangan nangis, Bi. Aku gapapa, kok? Bibi kan lagi sakit, Bibi rehat ya. Aku disini akan baik-baik aja, percayalah. Kesehatan Bibi jauh lebih penting dari apapun, jadi Bibi kembali ke paviliun ya." ucap Bram dengan suara yang sangat lirih.
"Tidak, Tuan. Bibi mau disini ngerawat, Tuan sampai sembuh. Titik!" tegas Bi Neng menggelengkan kepalanya.
"Tap--"
"Ssstt, udah jangan banyak berbicara. Pokoknya Bibi akan disini jagain Tuan Bram sampai sembuh dan wajahnya kembali tampan. Paham!"
Lagi-lagi Bi Neng tetap pda pendiriannya sendiri, dia pun kembali mengurusi Bram, sampai akhirnya Bram yang tidak tega dengan Bi Neng. Menyuruhnya untuk tidur disampingnya, berbagi kasur agar Bi Neng tidak sampai kembali jatuh sakit.
Apa lagi Bi Neng masih dalam keadaan kurang sehat, dengan paksaan Bi Neng pun naik ke ranjang dengan duduk berselonjor dan menyender. Dimana Bram pun tertidur diatas paham Bi Neng dengan perasaan yang sangat nyaman.
Posisi inilah yang Bram butuhkan dari Mommynya yang sudah lama tiada. Bram tidak merasa kesepian, Karena dia punya Bi Neng yang bisa menjadi apapun untuknya.
Sementara Bi Neng tersenyum dengan tingkah manja Bram yang memang tidak pernah hilang dengannya. Bi Neng mengusap kepala Bram membuat Bram semakin nyaman dan pada akhirnya mereka berdua pun tertidur dalam keadaan seperti itu.
...***Bersambung***...
__ADS_1