Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Membahagiakan 2 Bumil


__ADS_3

Jadi, dia pun tidak bisa ikut meskipun tanpa disengaja Meera mengajaknya untuk pergi berjalan-jalan. Cuman tanpa di sadari, Alice seakan menolak itu semua karena dia tidak mau harinya yang akan quality time couple terganggu adanya Bella.


Untungnya Bella tidak merasakan kesal atas perkataan Alice, dia sangat memaklumi Alice karena mungkin bawaan bayi. Apa lagi Bella juga berasal dari masa lalu Bram, jadi pasti akan sangat sensitif jika dipersatukan antara masa depan dan masa lalu.


Seperginya Bella, mereka berempat pun segera pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian supaya bisa segera pergi berjalan-jalan sesuai dengan permintaan Alice.


...*...


...*...


Kurang lebih, tepatnya jam 11 siang. Mereka baru saja pergi dari rumah menuju Mall. Dimana mereka memakai 1 mobil yang cukup luas, agar bisa membuat 2 Bumil lebih nyaman lagi.


Tak lupa, Hans dan Bram sudah mewanti-wanti semuanya untuk berjaga di sekitaran mereka. Jika nanti ada yang sedikit saja mencurigakan, maka bodyguar tersebut segera mengamankannya agar tidak membuat salah satu dari majikannya berada di dalam bahaya.


"Aakhh, rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera pergi ke Mall lalu aku mencicipi semua makanan yang ada disana. Terutama es krim, huaa ... rasanya aku ingin sekali langsung terbang agar bisa sampai dengan cepat tanpa melewati jalanan yang macet seperti ini. Huhh, meyebalkan!"


Alice selalu saja menggerutu sepanjang jalan, ketika mereka terjebak di dalam mobil di tengah-tengah keramaian. Mau maju tidak bisa, mundur apa lagi. Sebab mobil mereka di himpit kendaraan lainnya.


Ya, namanya juga macet pasti akan membuat seseorang di dalam kendaraannya merasa kesal. Cuman, tenang saja. Ini semua tidak berlangsung lama kok, hanya kurang lebih 10 sampai 15 menit saja. Selebihnya jalanan menuju Mall lancar tanpa hambatan apapun.


Kurang lebih 45 menit, mereka telah sampai di lobby Mall. Pertama Hans turun dengan membantu istrinya, kemudian Bram dan juga istrinya. Mereka pun jalan berbarengan memasuki Mall dalam keadaan saling menggandeng pasangannya masing-masing.


Terlihat sekali wajah Alice begitu ceria ketika keinginannya telah tercapai. Satu persatu tempat mereka jelajahi sambil mencuci mata. Akan tetapi, sebenarnya tujuan Alice ke sana hanya untuk makan, makan dan hanya makan.


Entah mengapa, bayi yang ada di dalam perut Alice benar-benar sangat ingin merasakan semua masakan yang ada di Mall tersebut tanpa terkecuali. Mau kuat atau tidaknya, yang penting Alice sudah merasakan makanan apa saja yang ada di dalam Mall tersebut.


"Kita mau kemana dulu nih?" tanya Bram, sambil melihat keadaan Mall.

__ADS_1


"Aku sih ngikut saja, Alice kemana. 'Kan yang lagi ngidam istrimu." jawab Meera, diangguki oleh Hans yang sesekali mewaspadai situasi di tengah ke ramaian.


"Sebenarnya sih aku ke sini cuman mau makan hehe ... Cuman, nanti aja deh. Lebih baik kita lihat-lihat pakaian bayi aja yuk, siapa tahu ada yang lucu!" ajak Alice, menunjukkan sederetan gigi rapinya.


"Mau ngapain? 'Kan kita udah punya canel toko bayi sendiri yang bagus, bagaimana kalau anak kita tidak nyaman memakai baju yang kita beli dari sini?" sahut Bram, khawatir.


"Ishhh, memangnya kenapa sih. Satu atau dua setel pakaian juga tidak membuatmu bangkrut, bukan? Toh kamu juga udah ada 2 pekerjaan, satunya Restoran satunya Perusahaan. Jadi, gajimu pasti double 'kan? Nah, maka dari itu jangan pelit-pelit sama istri. Mau kuburannya sempit, terus tanahnya banyak cacingnya. Ihhh, serem!"


Perkataan Alice mampu mengundang tawa Meera dan Hans saat melihat ekspresi syok di wajah Bram. Beginilah Alice, ketika tidak di turuti maka dia akan mencari cara supaya semua keinginan anaknya akan terpenuhi.


"Hyaakk, coycoycoy! Amit-amit dah, ya kali aku masih hidup udah ngomongin ma*ti aja. Ngeselin banget sih, seakan-akan kamu tuh doain aku tahu enggak!" pekik Bram, mengetuk-ngetukkan tangannya ke pegangan eskalator.


"Haha, bercanda Sayang. Lagi pula enggak mungkinlah aku mendoakan seperti itu buat suamiku, pasti setiap istri akan mendoakan yang terbaik buat suami, anak dan juga keluarganya."


"Uhh, tutututu tayang-tayangku. Cini-cini peyuk dulu, hem Sayang. Udah ya jangan ngambek lagi, mending kita happy-happy sampai Dedek senang bisa makan apa yang akan dia inginkan."


Bram begitu bahagia, karena semakin ke sini semakin terlihat bahwa sifat Alice mulai hangat padanya. Tidak seperti kemarin-kemarin yang selalu berubah-ubah sesuai mood Bumil.


Mereka pergi ke arah pakaian bayi, dimana kedua mata Bumil di manjakan dengan berbagai macam motif pakaian baju yang sangat lucu dan juga menggemaskan.


Rasanya Meera dan Alice ingin sekali memborong semua yang ada di sana tanpa terkecuali, akan tetapi mereka juga tidak bisa asal memborong.


Apa lagi, mereka masih belum tahu apa gender anak mereka. Apakah aki-laki atau perempuan? Semua itu, mereka sembunyikan dengan tujuan agar tidak membuat salah satu dari mereka kecewa, jika tidak sesuai sama apa yang diinginkannya. Dan mereka mau menjadikan semua itu sebagai kejutan, setelah bertemu anak mereka untuk pertama kalinya.


Kurang lebih 1 jam mereka berada di toko pakaian anak bayi, Meera dan Alice hanya membeli 2 pasang pakaian yang bisa di gunakan baik bayi perempuan maupun laki-laki. Supaya tidak mubajir ketika nanti anak mereka lahir ke dunia.


Setelah selesai, mereka pun pergi ke arah lantai atas untuk menonton film bioskop sesuai permintaan Meera. Tiba-tiba da ingin sekali melihat film yang sedikit mengerikan, sesuai permintaan anaknya.

__ADS_1


Awalnya Alice tidak mau karena dia takut jika harus melihat film berbau pembu*nuhan. Akan tetapi, mau tidak mau mereka harus menemani Meera.


Jika tidak maka Bumil itu bisa mengambek, hingga mengobrak-abrik seisi Mall yang besar ini.


Tepatnya jam 3 sore, mereka telah selesai menonton film dimana selama film berlangsung, Alice malah tertidur akibat dia tidak kuat melihat kejadian menyeramkan itu. Sementara Hans, Bram dan Meera. Mereka bertiga menonton film penuh keseriusan.


Saat ini giliran Alice lagi, yang mengajak mereka untuk mencicipi makanan yang ada di dalam Mall. Dari mulai masakan Jepang, Korea atau yang lainnya.


"Astaga, Dek. Perutmu apa enggak begah makan sebanyak itu? Kasian loh Dedeknya kalau kekenyangan, nanti dia tidak nyaman di dalam sana." ucap Meera saat melihat Alice selalu menikmati makanannya.


Berbeda sama mereka bertiga yang cukup makan sekedarnya saja, saat di rasa sudah kenyang ya mereka hanya berdiam diri melihat cara makan Alice yang benar-benar sangat lahap.


"Justru ini yang dia mau, Kak. Entahlah apa jadinya nanti, pasti anakku saat keluar akan gemoy banget. Toh dia kuat sekali makannya, mulutku aja sampai sedikit keram ngunyah mulu. Cuman gimana, perutku belum kenyang." jawab Alice sambil meneruskan makannya.


"Sudah biarkan saja, yang penting Ibu dan anaknya sehat. Toh, dia mau makan banyak juga tidak akan membuat Adikku bangkut. Ya 'kan, Bram?" ucap Hans, melirik ke arah adiknya yang tercenga melihat cara makan istrinya.


"Ya, benar itu Kak. Tapi, sudahlah biarkan saja. Yang penting anak dan istriku bahagia itu sudah lebih cukup." jawab Bram, tersenyum sambil minum.


"Ya, itulah kunci kesuksesan seorang suami. Semakin sering dia menyenangkan istri, maka semakin banyak pula rezeki yang akan datang bagaikan magnet." ucap Hans, tersenyum menatap istrinya.


Dirasa sudah mulai kenyang, Alice pun menyudahi makannya agar tidak membuat perutnya menjadi sakit.


Kemudian mereka kembali bersenang-senang berjalan melihat apapun yang terlihat oleh mata, tak lupa tujuan terakhir adalah toko es krim.


Disana Meera dan Alice seperti berlomba-lomba untuk menyantap beberbagai macam rasa es krim yang ada, hingga berhasil membuat kedua suaminya cuman bisa menelan air liur secara kasar.


Hans dan Bram tidak percaya kalau kedua istrinya ini benar-benar kuat untuk memakan es krim 20 sampai 50 cup kecil, dengan variasi rasa serta toping yang berbeda-beda.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2