
"Tidak! Kalian tidak boleh membawa anakku, cukup kalian bawa Nenek pergi dariku. Tetapi, tidak dengan anakku. Karena dia harta satu-satunya yang aku punya saat ini, aku akan selalu menjaga anakku sampai dia lahir dengan sempurna dan tumbuh menjadi anak yang hebat, sehat, kuat serta cerdas."
Alice berteriak sekeras mungkin membuat Bram dan yang lainnya terdiam langsung menoleh ke segala arah ketika melihat tidak ada siapa-siapa.
Meera segera menyarani agar Bram segera membawa Alice masuk ke dalam mobil, dikarenakan Meera takut jika ada sesuatu hal buruk terjadi pada Alice yang sudah dianggap sebagai adiknya itu.
Bram segera membawa Alice masuk dan duduk di kursi belakang, sementara Hans dan Meera duduk di depan. Tanpa menunggu lama Hans langsung menancap gas mobilnya meninggalkan pemakaman tersebut.
...*...
...*...
1 Minggu menjelang hari pernikahan Bram dan Alice. Dimana surat undangan sudah tersebar ke seluruh rekan bisnis serta ke beberapa teman mereka yang terpilih.
Tidak semua teman mereka undang, kadang kala banyak musuh yang berkedok teman.
Ditambah tikus yang bersarang di dekat mereka masih berkeliaran dengan bebas, tanpa mau menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya.
Tepat di malam hari pukul 7, Alice merasa suntuk pergi ke luar duduk di kursi taman sambil menatap langit yang begitu indah. Bintang-bintang yang saling berkelap-kelip membuat hati Alice menjadi tenang.
Bahkan bayangan serta kesedihan atas kepergian mendiang Neneknya, tidak lagi membuat Alice berlarut. Dia sudah merelakan apa yang terjadi padanya, karena ini semua merupakan garis takdir yang tidak bisa di rubah.
Sementara Meera, dia berada di luar karena ada urusan yang harus dia selesaikan. Akan tetapi, Meera udah pesan jika setelah urusan selesai maka dia akan langsung ke kantor suaminya.
Alice tidak keberatan untuk berada dirumah seorang diri dan hanya di temani oleh penjaga rumah, Bibi dan sebagainya. Semua itu karena kehamilan Alice yang masih sangat muda membuat dia begitu malas-malasan bangun dari tempat tidur.
Dan baru sekaranglah Alice bisa keluar rumah, meski hanya sekedar duduk santai di taman samping rumahnya, sudah bisa bikin dia sangat senang.
"Entah mengapa aku merasa malam ini, adalah malam yang sangat indah. Cuman, kenapa perasaanku mengatakan malam ini merupakan malam yang akan sangat menyebalkan untukku?"
"Apa semua itu karena aku sedang tegang disaat beberapa hari lagi aku dan Bram akan melangsungkan pernikahan, dan Babyku ini, dia akan mendapatkan kasih sayang kedua orang tua yang lengkap."
__ADS_1
Awalnya Alice menatap langit, sampai akhirnya pandangannya menunduk menatap perutnya yang masih rata. Kemudian dia mengusapnya secara perlahan dan tersenyum.
"Sehat-sehat ya, Sayang. Mommy janji, Mommy akan selalu menjagamu dan berusaha untuk menjadi Mommy terbaik, sampai kamu tidak pernah merasa menyesal lahir dari rahim Mommy." ucapnya, dengan suara yang begitu lembut.
Saat Alice sedang asyik mengajak anaknya berbicara, tiba-tiba dia dikejutkan dengan kedatangan seorang security.
"Tenang ya, Sayang. Nanti Mommy akan--"
"Permisi, Nyonya Alice. Di depan ada seorang wanita hamil sedang mencari Tuan Bram." sambung security.
Pria itu memotong perkatan Alice dengan cepat. Membuat Alice langsung menoleh kearahnya, melihatnya menggunakan tatapan aneh bercampur bingung. Alisnya mulai mengerut sedikit menyipitkan matanya.
"Wanita hamil? Siapa, Pak? Ada apa dia mencari Bram? Apakah ada yang mau disampaikan?" tanya Alice.
"Saya kurang tahu, Nyonya. Dia bilang ingin bertemu dengan Tuan Bram, karena ada yang mau di omongin, penting. Gitu!" jawabnya, sedikit menunduk.
"Hem, baiklah. Antarkan aku untuk menemui dia." Alice bangkit dari tempat duduknya dan berjalan perlahan mengikuti arahan dari security tersebut.
Alice melangkahkan kakinya bersamaan dengan suara detak jantungnya yang berdetak tidak karuan, seolah-olah sebentar lagi akan ada sesuatu yang terjadi.
"Ekhem, permisi Nona. Ada keperluan apa ya ke sini?" tanya Alice berdiri tepat di belakangnya sambil menatap punggung wanita itu dengan rasa penasaran.
Wanita itu berbalik perlahan, sambil menatap Alice dari atas sampai bawah dengan tatapan penuh kesinisan.
Mata mereka berdua saling beradu satu sama lain, dimana tatapan Alice terlihat begitu bingung lantaran dia tidak mengenali wanita ini.
Sementara wanita itu malah menatap Alice dengan tatapan penuh arti. Tanpa di sadari dia tersenyum kecil sangat kecil, sehingga Alice tidak menyadarinya.
"Mbaknya siapa ya? Saya mau bertemu sama Bram, ada?" tanyanya. Tatapan dia terlihat begitu mencolok, seakan-akan ada yang ingin dia sampaikan padanya.
"Ada keperluan apa Mbaknya mau bertemu sama calon suami saya? Apakah ada yang penting? Atau Mbaknya bisa berbicara sama saya, nanti akan saya sampaikan. Kasihan juga Mbaknya lagi hamil besar, malam-malam harus berada di luar." sahut Alice.
__ADS_1
Seketika hati dan jantung Alice terasa begitu tidak enak, entah mengapa saat melihat tatapan wanita itu membuat Alice sedikit takut.
Sampai akhirnya jawaban dari wanita itu berhasil membuat Alice hamoir saja terjatuh lantaran syok mendengar apa yang dia ucapkan.
"Calon suami? Mbaknya ngaco ya, haha ... Jangan mimpi Mbak, saya ini adalah calon istrinya. Perkenalkan nama saya Windi, dan ini anaknya Bram. Kami akan menikah secara resmi setelah anak ini lahir. Karena pada waktu itu kami menikah hanya sekedar diatas kertas, semua akibat kejadian yang membuat kita harus melaksanakan pernikahan secara mendadak."
Degh!
Senyuman, tawaan serta tatapan remeh berhasil membuat Alice terkejut bukan main. Jika bukan karena security yang menolongnya, mungkin saat ini Alice sudah jatuh pingsan di dekat gerbang rumah.
"Nyonya, Nyonya gapapa? Mari saya bantu!" ucapnya.
Windi yang mengaku sebagai istri Bram, hanya bisa tersenyum sambil melipat tangannya di atas perut buncitnya. Lalu sedetik kemudian berubah menjadi begitu khawatir, segera menolong Alice.
"Astaga, Mbak gapapa 'kan? Ayo saya bantu!" ucapnya.
Bi Neng yang melihat Alice hampir terjatuh langsung sedikit berlari mendekati gerbang. Dimana pada saat itu Bi Neng ingin membuang sampah, tetap tidak jadi. Dia segera menolong Alice yang saat ini wajahnya begitu pucat dalam keadaan terdiam.
"Astaga, Non Alice! Non gapapa 'kan? Apa ada yang sakit?" tanya Bi Neng, penuh kecemasan.
Windi sedikit menggerser tubuhnya menjauhi Alice, dan membiarkan Bi Neng yang menolongnya.
Melihat Alice tidak mau menjawab, membuat Bi Neng bingung sambil merangkulnya. Lalu matanya menatap ke arah security dan Windi secara bergantian.
"Ada apa sebenarnya ini, Pak? Kenapa Non Alice terlihat syok begini? Apa yang terjadi, Pak?" tanya Bi Neng menatap security secara tajam.
"Dan, kamu siapa? Ada apa ke sini?" sambung Bi Neng, menatap Windi.
"Itu, Bi. Di-dia mengaku sebagai istri dari Tuan Bram, hanya saja dia bilang istri diatas kertas. Dan pernikahan akan di resmikan ketika anak yang ada di dalam perutnya lahir." jawab security sedikit gugup.
Bi Neng pun langsung terkejut bukan main, karena selama ini dia kenal Bram serta mengurusnya dari kecil tidak pernah ada satu pun sifat Bram yang seperti ini. Meski Bram adalah pria nakal, cuman dia tidak akan melakukan semua yang akan menyakiti hati wanita seperti ini.
Alice yang sudah mulai tersadar, dia melepaskan rangkulan Bi Neng. Lalu, melangkahkan kakinya mendekati Windi. Tatapan Alice benar-benar sangat marah, kesal, sedih, kecewa dan juga hancur. Semua terlihat dari kedua matanya yang mulai memerah, sekaligus air mata yang sudah menetes.
__ADS_1
...***Bersambung***...