Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Mengajak Diner


__ADS_3

Awalnya dia juga senang saat memiliki ide untuk mempersatukan Bram sama Hans kembali, tetapi kesenangan itu memudar setelah Meera tahu jika Bram memutuskan hubungannya sama Bella hanya demi dirinya.


Sementara Bella langsung membereskan ponselnya, dan membayar semuanya lalu setelah selesai Bella pun pergi dalam keadaan wajah yang sangat senang.


Bella tidak menyangka keisengannya saat pergi seorang diri ke Mall untuk menghilangkan rasa jenuhnya, seketika malah mendapatkan hadiah besar yaitu seorang teman ataupun sahabat baru.


...*...


...*...


Sesampainya di rumah, Meera .langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah itu dia akan mulai memasak makan malam untuk kedua pria tampan yang berhasil membuat perasaannya tidak karuan.


Semua belanjaan yang sudah mereka borong, dibawa oleh Bi Neng dengan bantuan sang supir ke arah dapur melewati pintu belakang.


Dimana tanpa disengaja Bi Neng melihat dari arah kejauhan, Atun dan suaminya Jaka sedang berbincang sambil duduk santai di sore hari. Bi Neng cuman bisa menggelengkan kepalanya dan meliriknya sekilas lalu kembali menata semua belanjaannya di meja dapur.


Sang supir bergegas kembali ke tempatnya, sedangkan Bi Neng pergi ke kamarnya terlebih dulu untuk menaruh hadiah yang Meera belikan supaya bisa berada ditempat yang aman.


...*...


...*...


Kurang lebih 1 jam berlalu, Meera baru saja selesai mandi dalam keadaan masih menggunakan handuk kecil melilit rambut diatas kepalanya dan tubuh polosnya tertutup oleh bath robe.


Perlahan Meera melangkahkan kedua kakinya, membuka pintu kamar mandi sambil sedikit bersenandung.


Namun, ketika Meera berbalik setelah menutup pintu kamar mandi dia dikejutkan dengan penampakan seseorang. Sementara orang itu tidak melihat Meera, akibat kefokusannya sedang menggulung pergelangan kemejanya sebatas siku.


"Ha-hans, ka-kamu udah pulang?" tanya Meera, wajahnya sangat terkejut menatap suaminya.


Hans mendengar suara Meera langsung menoleh, menatap tubuhnya hingga berhasil membuat kedua matanya tak berkedip sama sekali.

__ADS_1


"Kenapa? Ada yang salah denganku?" tanya Meera lagi, sambil menatap tubuhnya sendiri.


"Ca-cantik," ucap Hans sangat pelan bahkan hampir tidak terdengar oleh Meera.


"Hahh? A-apa yang kamu katakan tadi, aku tidak dengar," ucap Meera, bingung.


"A-aaa, e-enggak. Bukan apa-apa, saya mau mandi dulu!"


Hans segera bangit dan pergi kearah kamar mandi, wajahnya terlihat sedikit memerah dengan perasaan gugup. Sementara Meera, dia malah menatap aneh kearah Hans karena sikapnya yang sedikit aneh.


Setelah Hans masuk kedalam kamar mandi, Meera bergegas pergi ke ruangan ganti untuk segera memakai pakaiannya.


Dia bersiap-siap langsung turun ke bawah dan membuatkan menu makan malam untuk suami serta anak tiri bontotnya yang sudah menjadi adik iparnya.


Tak lama Hans keluar dari kamar mandinya, matanya langsjnb menatap Meera yang sedang merias wajahnya sesimple mungkin, tetapi Hans bisa melihat jika Meera seperti sedang terburu-buru.


"Ada apa? Kenapa kamu kelihatannya terburu-buru banget?" ujar Hans, penasaran.


"Aku belum masak makan malam hari ini, karena---"


Meera yang mendengar itu langsung menoleh dalam keadaan noda lipstik merah sudah berada dipipinya.


"A-apa tadi yang di-dia bilang? Di-dia mau me-mengajakku ke-ke luar? Ma-maksudnya di-diner berdua gitu?" gumam Meera kecil, melihat kearah pintu ruangan ganti yang sudah tertutup.


Sedangkan di dalam ruangan walk in closed Hans segera berganti pakaian karena akan kerluar bersama sang istri, dia mengenakan kemeja putih di balut dengan jas berwarna hitam.


Tidak lupa sapu tangan yang dia bentuk dan di masukkan ke dalam saku jas agar terlihat bagus, mengenakan aksesoris penjepit dasi dan sentuhan terakir jam tangan dan sepatu pantofel berwarna hitam senada dengan jasnya.


Hans segera keluar, pandangannya terkunci pada sosok wanita cantik yang tengah memperbaiki make upnya. Jika di lihat semakin lama semakin cantik, Meera yang melihat Hans berjalan mendekat dari pantulan kaca sontak berkedip cepat.


“Kamu sudah selesai?” tanya Meera yang berdiri dari duduknya.

__ADS_1


“Sudah, kamu segeralah berganti pakaian. Gunakan gaun yang cantik malam ini.” jawab Hans dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Meera mengangguk dan segera berlalu dari hadapan Hans, entah lah jantung Meera seakan meledak saat ini.


Perasaan ini, perasaan yang pernah dia rasakan saat bersama pria lain yang sampai saat ini masih sering dia rindukan.


Meera mengunci pintu ruangan walk in closed dan berjalan ke deretan lemari pakaian miliknya, dia membuka bagian paling pojok kanan di mana gaun malam di simpan di lemari tersebut. Suara gesekan lemari terdengar tampak isi yang sangat banyak dan hampir penuh.


Meera mengambil satu per satu gaun yang akan dia kenakan malam ini, “Hem, tidak mungkin aku memakai warna hitam di kira kepemakaman … aku pilih ini saja.” ucap Meera pada dirinya sendiri.


Meera memutuskan memakai gaun berwarna merah darah dengan model sabrina sehingga menampakkan leher jenjang dan pundak yang mulus nan putih seperti susu. Meera mengenakan satu set perhiasan untuk mempercantik dirinya mala mini tidak lupa sepatu hak tinggi dengan warna sedana.


“Perfect.” ucapnya.


Meera berjalan ke luar walk in closed dengan menyambar tas di dalam etalase, Hans yang duduk di sofa kamarnya sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya. Menunggu Meera yang cukup lama membuat Hans mende*sah kasar hingga suara kunci membuayarkan Hans.


“Maaf lama.” ucap Meera.


“Ayo, kita sudah terlambat.” jawab Hans.


Meera mengangguk tetapi dia juga tengah bingung, apkaah Hans sudah memesan restoran untuk mereka makan malam hari ini. Memikirkan hal itu membuat wajah Meera memerah seperti anak ABG saat di ajak crush makan cilok.


Hans dan Meera masuk ke dalam mobil berwarna putih, hari ini Hans menyetir sendiri tidak di temani oleh sopir. Perlahan mobil tersebut meninggalkan mansion dan menuju tempat di mana hanya Hans yang tahu.


Selama di perjalanan keduanya hanya diam, Meera memandangi jalanan malami ni sedangkan Hans fokus menyetir sesekali mengebut membuat Meera penasaran “Hans tidak perlu mengebut, jika restorannya tutup kita bisa makan di tempat lain.” ucap Meera mengingatkan suaminya.


“Restoran?” beo Hans bingung.


“Iya, bukankah kamu mengajakku makan malam di luar karena itu kamu melarangku memasak?” tanya Meera.


Hans hanya tersenyum kecil, “Maaf saya tidak menjawab dengan benar, hari ini tidak perlu memasak karena ada acara kolega penting. Jika menunggumu memasak kita akan terlambat datang.” jawab Hans yang menatap Meera sekilas.

__ADS_1


Meera sejenak tertegun saat Hans mengatakan menghadiri acara kolega, apakah Hans sudah mulai nyaman dengannya dan mulai mengenalkan dirinya kepada rekan-rekan kerjanya.


...***Bersambung***...


__ADS_2