Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Aku Rindu, Peluk Boleh?


__ADS_3

Awal bahagia yang sebenarnya sudah berada didepan mata, seketika kandas cuman karena uang. Ternyata benar uang adalah segalanya bagi manusia, dia rela melakukan apapun asalkan memiliki uang yang banyak.


Berbeda jika uang tersebut digunakan sebaik mungkin, pasti akan bermanfaat untuk seseorang yang membutuhkannya. Seperti Alice, dia wanita yang sudah hilang arah. Ketika dia ingin putar arah, sesuatu berhasil menahannya untuk tetap berada di tempat tersebut.


Alice meninggalkan ruangan Deo dalam keadaan Deo masih menatapnya dengan penuh kemenangan. Deo sangat percaya, jika Bram tidak akan pernah bisa merebut Alice dari tangannya dengan segala percobaan.


...*...


...*...


1 Minggu telah berlalu, dimana kondisi Hans sudah membaik dan juga telah kembali melakukan aktivitasnya tanpa gangguan alerginya.


Bi Neng yang menyaksikan kedekatan antara Meera dan Hans, semakin membuatnya bahagia. Ya walaupun ada juga yang membuat Bi Neng sedih, yaitu keadaan Bram.


Semenjak Alice tidak lagi tinggal bersamanya, prilaku Bram semakin tidak karuan. Sering kali dia mengamuk, marah, mabuk-mabukan dan masih banyak lagi. Semua akibat dia pusing bagaimana caranya untuk bisa membebaskan Alice dari dekapan Deo.


Akan tetapi, Bram tidak lupa dengan tujuannya yang pertama yaitu ingin menghancurkan hubungan antara Meera dan juga Hans.


Sudah hampir 3 hari 2 malam ini, Hans tidak pulang ke rumah lantaran dia sedang ada urusan di luar kota yang cukup penting.


Sehingga dia harus meninggalkan istrinya, walaupun dia sudah mengajaknya. Hanya saja Meera lebih memilih diam dirumah tanpa mau mengganggu pekerjaan suaminya.


Belum lagi Hans hanya akan pergi untuk beberapa hari saja, berbeda jika dia ada urusan di luar negeri pasti akan memakan waktu berbulan-bulan. Dan itu pun pernah Meera ketahui ketika hubungan mereka belum sejauh ini.


Malam hari yang sangat sunyi dengan hiasan rembulan serta cahaya bintang-bintang di Langit. Berhasil membuat Meera merasa sangat bahagia.


Entah mengapa, ketika dia membuka kaca yang menyambungkan kamarnya dengan balkon Meera seperti terbang bebas di ruang angkasa.


Meera merentangkan kedua tangannya kesamping memejamkan kedua matanya sambil tersenyum. Perlahan dia mulai menghirup udara demi udara yang rasanya benar-benar tidak bisa di jelaskan. Betapa sejuk, nikmat dan juga sedikit dingin.


"Arrghhh, sumpah demi apapun malam ini rasanya begitu indah. Langit yang cerah berhiaskan rembutan dan bintang membuatku rasanya ingin sekali menggapinya."

__ADS_1


"Namun, aku sadar semua itu tidak akan bisa. Bumi dan langit memiliki jarang yang sangat jauh. Yang membuatku hanya bisa menikmati pemandangan yang indah ini dari bawah sini."


Meera berbicara dengan terus tersenyum, saat ini moodnya benar-benar terlihat sangat bahagia hari ini. Jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam, dimana Meera masih menikmati udara tersebut sambil berselfie.


Jepretan demi jeprekan Meera lakukan untuk mengambil fose-fose yang cantik, supaya bisa mengambil momen indah untuk dijadikan walpeper atau pun status media sosialnya.


Namun, tanpa di sadari saat Meera mau menguplode fotonya di sosial media. Tiba-tiba seseorang memeluk Meera dari arah belakang dengan sangat erat.


"Ha-hans? Ka-kamu sudah pulangkah? Tu-tumben kamu bersikap seperti ini. Lantas kenapa pulang tanpa memberikan kabar apapun, padaku?"


Meera terkejut saat tubuhnya mulai bergetar merasakan sentuhan tangan orang itu, akan tetapi rasa nikmat yang Meera rasakan seketika hilang bersamaan dengan munculnya sebuat notif pesan dari ponsel yang ada ditangannya.


[Raa, apa kamu udah tidur? Aku cuman mau kasih kabar, bahwa saat ini aku lagi di jalan arah pulang dan sedikit terkena macet. Kemungkinan kurang lebih 30 menit lagi aku sampai rumah. Kamu tidur duluan aja jika ngantuk, aku tidak mau kamu sakit. Good night.]


Meera membaca pesan tersirat itu membuat hatinya sedikit senang, karena semakin ke sini suaminya semakin memperhatikannya. Begitupun sebaliknya.


Cuman, karena pesan itu pula Meera menjatuhkan ponselnya dalam keadaan mematung. Meera baru menyadari jika suaminya masih berada di jalan arah pulang, berarti pria yang ada belakang tubuhnya serta memeluknya siapa?


Mendengar suara tak asing ditelinganya seketia Meera tersadar jika itu adalah ...


Dengan cepat Meera berbalik disaat pria itu mulai lengah. Selepas berbalik, bukan main. Jika pria yang dahulu dia cintai sekarang berada di hadapannya dalam konsisi tidak bisa dijelaskan. Wajah terkejut membuat Meera memundurkan langkahnya hingga mentok di pembatas balkon.


"Bra-bram? Ka-kamu ngapain masuk ke dalam kamarku? Da-dan a-ada apa denganmu? Kenapa kamu tertawa menyengir seperti itu?"


"Hehe, Sayang. Aku rindu, peluk boleh hem ...." ucap Bram sempoyongan menatap Meera dengan pandangan mata sedikit kabur.


"Ja-jangan bilang kamu sedang mabuk?" sahut Meera wajahnya terlihat begitu panik.


Perlahan Meera terus memundurkan langkahnya seraya orang ketakutan. Bagaimana tidak, keadaan Bram yang seperti ini akan menjadi petaka bagi Meera sendiri.


Belum lagi suaminya pun masih berada dijalan, dan itu memakan waktu cukup lama. Meera tahu jika saat ini tubuh Bram sedang di kuasai oleh minuman keras yang sudah memberikan efek samping.

__ADS_1


"Bram, ka-kamu minum lagi? Sudah berapa kali aku katakan, stop berulah. Kamu harus fokus menentukan masa depanmu dengan Alice, jangan seperti ini. Berikan yang terbaik untuknya, dan sadarkan dia agar bisa menjadi wanita yang baik." jelas Meera, gelisah.


Kedua kaki Meera begitu bergetar ketika Bram semakin mendekatinya, beberapa kali Meera mencoba menghindar bahkan beberapa kali juga Bram terjatuh lalu bangun kembali.


Kesadaran Bram hanya tinggal 20 persen saja, sehingga 80 persen lagi sudah dipastikan bahwa ada kemungkinan Bram ingin menerkam Meera.


"Bra-bram, ja-jangan macam-macam ya. Ce-cepat menjauhlah!" tegas Meera, rasanya dia benar-benar ketakutan ketika Bram selalu berusaha ingin menggapai tubuhnya.


Hampir beberapa menit Meera dan Bram saling kejar mengejar dimana Meera sudah dalam keadaan berlinang air mata, ketakutan, gelisah dan juga panik.


Sementara Bram dia tertawa geli akibat efek minumannya yang sudah bereaksi, membuat Bram melambung tinggi dengan pikiran negatif.


"Mau kemana, Meera Sayang? Sudah lama aku tidak memelukmu menikmati aroma tubuhmu yang selalu membuatku candu, arrghhh ... Rasanya ingin sekali aku menciummu, ummmp."


Bram memoncongkan bibirnya membuat Meera semakin tertekan hingga ketakutan. Sampai disaat Meera berusaha menghindari, ternyata Bram berhasil menarik tubuhnya hingga menariknya kearah kasur dan membantingnya.


Kali ini Bram sudah tidak bisa lagi menahan sesuatu yang ada di dalam dirinya. Seakan-akan bayangan rasa sakit saat mengetahui kejadian itu, berhasil membuat amarah didalam diri Bram mulai keluar.


Rasanya Bram ingin sekali memberikan efek jera untuk Meera agar dia bisa selalu mengingat kejadian ini ketika ingin berhubungan dengan Hans. Padahal tanpa Bram sadari selama berbulan ini Meera dan Hans sama sekali tidak bersentuhan.


Meera menangis meminta tolong, tetapi Bi Neng yang sudah tertidur akibat kurang sehat di paviluin belakang, tidak mendengar teriakan Meera. Sementara Bi Atum sekilas mendengar suara itu hanya dia tidak memperdulikannya.


Mau Meera ada apa atau kenapa itu tidak akan penting untuknya. Walaupun dia tahu jika saat ini Meera berada didalam bahaya, akibat dia melihat Bram masuk ke dalam kamar Meera dengan kondisi mabuk.


"Mam*pus, rasa lu. Jadi cewek sok jual mahal begitulah. Selamat menikmati malam indah ini Nona Meeraku sayang!" gumam kecil Bi Atun, langsung kembali ke paviliun belakang dimana semua karyawan tinggal di sana.


Meera berusaha keras untuk bisa bebas, sampai akhirnya dia mendengar suara kelakson mobil. Pertanda bahwa suaminya sudah datang. Maka sebisa mungkin Meera memberontak, agar dia bisa berlari ke arah balkon untuk berteriak meminta tolong pada suaminya.


Karena pintunya terkunci rapat oleh Bram entah ditaruh mana kunci tersebut, yang penting bagi Meera dia bisa berteriak sekeras mungkin untuk mmeberi sinyal pada suaminya. Jika keadaannya di dalam bahaya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2